Pesta Kapitalis Dunia

Filed under: by: 3Mudilah





Image
Harits Abu Ulya
Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI
Piala Dunia 2010 tinggal hitungan hari. Akankah umat kembali terkena sindrom empat tahunan ini? Siapa di balik ini semua? Apa tujuannya? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Harits Abu Ulya di bawah ini.

Piala Dunia menyihir warga dunia termasuk kaum Muslimin?

Yup, World Cup menjadi buah bibir semua kalangan dari yang bocah hingga yang tua. Dari berbagai segmen lapisan masyarakat terjangkit  'sindrom piala dunia'. Bahkan para pejabatnya jika tidak menyelipkan perihal bola dalam sambutan-sambutannya terasa kurang up date.
Para dai juga latah, membuat mringis pendengarnya dengan cerita Piala Dunia. Ini buah dari materialisme. Masyarakat begitu mendewakan kesenangan dan kepuasan material. Pergeseran pola hidup kaum Muslimin yang  mengarah kepada pola hidup materialisme akibat menjadi korban permainan yang melenakan.

Kemaksiatan marak?

Permainan bola selalu identik dengan judi, mabuk-mabukan, hura-hura, dan tindakan melanggar  rambu-rambu agama seperti  perilaku  “holigan” para tifosi (pendukung klub). Jelang piala dunia, judi tumbuh subur bak cendawan di musim hujan.

Melalui koran, radio, telivisi, togel konvensional, sampai judi langsung (taruhan) di depan televisi hingga melalui jaringan internet dengan berbagai modus dan teknik. Mulai dari taruhan sebatang  rokok hingga duit milyaran rupiah. Tidak jarang perilaku jahiliyah mempertaruhkan pasangan (istri) di arena judi juga dilakukan.
Intinya, permainan yang terorganisir ini menjadi pintu munculnya kerusakan bagi kehidupan kaum Muslimin yang keimanan dan keteguhan memegang syariat dalam kondisi rentan.

Bagaimana cara mereka menyihir umat hingga demikian? 

Mereka mengendalikan media-media besar yang menjadi rujukan dan sumber trend setter dari sebuah produk yang ditawarkan ke dunia. Menjadikan permainan bola ini sebagai industri yang luar biasa, ada ikon (bintang), produser, sponsor, produk merchandises, pemuja dan penganut (fans) setia dari pemain dan klub.
Ada gaya hidup yang ditawarkan dan di industri permainan bola menjanjikan kantong-kantong dolar yang besar. Itulah  yang  menjadikan  sebagian besar masuk dalam pusaran ini. Tapi ingat bahwa rakyat (umat) awam kebanyakan mereka hanya penonton dan korban dan disisi terpisah dari para pelaku dan penikmat  industri permainan bola ini.
Uang berkelindan dalam industri permainan bola.

Secara ekonomi keuntungan apa saja yang diperoleh kaum kapitalis global? 

Jelas secara ekonomi, mereka bisa menyedot banyak uang dari negara-negara dunia. Contoh kecil, TV lokal untuk bisa menayangkan satu pertandingan maka harus membeli hak tayang dan ini merogoh kocek milyaran rupiah. Kalau dikalkulasi jumlah pertandingan dan jam tayang oleh sekian ribu TV yang ada di dunia, Anda bisa bayangkan berapa uang yang bisa dikeruk?

Dan apa yang didapat umat?


Cuma kesenangan yang melenakan. Bahkan banyak kasus kemudian terjerembab dalam berbagai kemaksiatan akibat even piala dunia ini. Dari judi, mabuk, tawuran hingga meninggalkan shalat dan kewajiban besar lainya.

Secara politis apa target yang diinginkan penjajah tersebut? 


Piala Dunia bisa  memalingkan umat Islam dari agenda-agenda besar yang melilit mereka. Umat Islam lupa imperialisme yang memporakporandakan kehidupan mereka dalam semua aspek. Dan umat Islam tetap tersekat dengan garis imajiner negara bangsanya, bangga dengan sikap primordial dan sektarian sempit, dalam bahasa baru yakni bangga nation-nya.

Berarti jelaslah Piala Dunia sudah terkategori lahwun nunadzdzamun (permainan yang melalaikan)? Padahal umat di berbagai belahan dunia masih menderita akibat penjajahan para penyelenggara Piala Dunia?

Yup, selain menyuburkan perjudian dan tidak jarang memicu permusuhan, sepakbola juga bisa melalaikan orang, baik pemain, pelatih, maupun penontonnya. Di Italia saja, kalau digelar Liga Calcio Serie A setiap pekannya banyak orang nongkrong di stadion dan di depan televisi ketimbang kebaktian di gereja.
Di negeri kita juga nggak kalah serem. Pertandingan di ajang Ligina (Liga Indonesia) saja, rasanya masih ragu ada pelatih, pemain, dan penonton Muslim yang inget dan melakukan shalat. Padahal, rata-rata pertandingan itu digelar pas jam empat sore.

Dan barangkali sebagian besar tentunya sudah stand by sejak jam dua siang. Shalat Ashar sih kayaknya lewat deh… Maghrib…, kemungkinan sudah capek teriak-teriak, jadi lewat juga. Isya? Wah, udah kecapekan di jalan, pas datang ke rumah langsung nyungsep. Shubuh? Walllahualam.
Tapi yang pasti kita prihatin, ternyata sepak bola, bagi teman-teman yang nggak bisa mengendalikan diri, bisa mengalahkan kewajiban agamanya. Ini celaka!

Dalam tataran yang lebih besar dan krusial, umat jadi obyek mainan negara kapitalis dan terlempar dari kesadaran utuhnya sebagai umat Islam yang harus  mengembalikan kehidupan Islami mereka dan melawan serta mengubur seluruh bentuk imperialisme dan semua produk turunannya dari kancah kehidupan kaum Muslimin.

Piala Dunia memperkokoh  penjajahan kapitalisme global?

Betul, dari sini kita bisa menangkap betapa permainan-permainan ini adalah cara halus mempertahankan eksistensi penjajahan global oleh nagara Barat terhadap dunia Islam. Ini terlihat dari efek yang ditimbulkan ketika dunia dilanda demam piala dunia, yaitu melenakan umat dan  menutup mata dunia Islam akan problem yang hakiki yang saat ini melingkupi mereka. Sekalipun ini sesaat, tapi secara periodik dan kontinyu.

Strategi ini telah direncanakan secara matang oleh zions dalam protokol Yahudi?

Ajang World Cup, jelas ini permainan yang terorganisir. Ini bagian perkara yang menjadi bidang garap dan sudah dirancang oleh orang-orang kafir (Zionis) untuk melenakan kaum Muslimin. Ini bisa disimak dalam Protocol of Zion poin ke-13 yang diterbitkan Prof. Sergyei Nilus di Rusia pada 1902.

Intinya, "Zionisme merencanakan hendak mengundang masyarakat melalui surat-surat kabar waktu itu, untuk mengikuti berbagai lomba yang sudah diprogram. Diharapkan kesenangan baru yang diciptakan itu secara perlahan akan melenakan kaum Muslimin dari konflik-konflik kaum Muslimin dengan bangsa Yahudi." Terlepas dari perdebatan atas keotentikan dokumen Protokol tersebut, fakta yang terjadi di dunia hari ini cukup kuat menunjukkan korelasinya.

Lantas umat harus bagaimana?

Bagi umat Islam, fisik kuat sehat adalah dianjurkan oleh syariah tapi saat ini pantas kiranya kita semua merenungkan dan menyerap nasihat Imam Asy Syathibi. Beliau menyatakan: "Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang. Namun demikian hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi."

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad shahih dalam kitab Al Muwaafaqaat, Jilid I, hlm 84: “Setiap permainan di dunia ini adalah bathil, kecuali tiga hal: memanah, menjinakan kuda, dan bermain dengan istri... Yang dimaksud bathil di sini, adalah sia-sia atau yang semisalnya, yang tidak berguna dan tidak menghasilkan buah yang dapat dipetik.” []

http://www.mediaumat.com/content/view/1520/69/


Cara Zionis Hancurkan Generasi Islam



Image
Herry Nurdi
Pengamat Zionisme Yahudi

Semua mata tertuju ke Afrika Selatan lantaran Piala Dunia 2010 berhelat di sana. Benarkah ini sekadar olah raga bola dunia? Atau ada misi lain di balik semua itu? Temukan jawabannya dalam petikan perbincangan wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Herry Nurdi, pengamat dan  penulis berbagai buku yang menelanjangi sepak terjang zionis Yahudi, di bawah ini.

Mengapa Afrika Selatan terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010?

Saya menduga memang anggota kelompok Zionis di Afrika yang melobi agar Piala Dunia 2010 bertempat di Afrika.

Indikasinya?

Sebenarnya dari banyak hal, Afrika belum siap. Faktor keamanan misalnya, penculikan, konflik horizontal, criminal rate (angka kejahatan), di Afrika masih sangat tinggi. Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut sebetulnya Afrika belum layak menjadi tuan rumah.

Tapi kita tahu bahwa lembaga-lembaga zionis dan organisasi-organisasi yang berafiliasi ke Israel sangat berkembang di Afrika. Mereka terutama menguasai sektor bisnis terutama agribisnis seperti suplai buah-buahan dan makanan, layanan jasa seperti  sektor perbankan dan keuangan. Jadi sangat wajar kalau mereka yang melakukan upaya dan lobi agar Afrika Selatan menjadi tuan rumah. Karena memang dalam pesta bola ini perputaran uangnya sangat besar, mulai dari industri makanan sampai industri perjudian.

Media berperan untuk menyukseskan pesta bola ini?

Media massa menjadi ujung tombak. Siaran langsung di televisi, nonton bareng, didiskusikan dalam berbagai media massa. Ada beberapa media yang tidak ikut mengetahui setting besarnya, tetapi ada beberapa media yang justru menjadi pemain utama dalam grand design (rencana besar) ini.

Apa grand design-nya?

Menghancurkan anak-anak muda Islam.  Tokoh Yahudi Samuel Zwemer dalam konferensi Missi Zionis di Yerusalem pada 1935, dalam pidatonya mengatakan:
Misi utama kita bukanlah menjadikan orang-orang Islam beralih agama menjadi orang Kristen atau Yahudi, tapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam…
Kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya, senang dengan segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya semata untuk memuaskan hawa nafsunya…

Itulah yang terjadi hari ini, memberikan hiburan kepada anak-anak muda Islam sehingga mereka menjauh dari nilai-nilai mulia yang seharusnya mereka pelajari sebagai agama.
Dalam konteks ini Yahudi itu menggunakan triple (tiga) F. Yakni,  fashions (pakaian);  foods (makanan); dan festival (pesta). Semua digunakan untuk merusak generasi Islam dengan cara berpakaian, makanan, dan pesta-pesta yang semuanya dibuat sedemikian rupa sehingga jauh dari nilai-nilai Islam.
Nah, Piala Dunia ini termasuk festival yang akan membuat generasi muda, tidak hanya Muslim, tetapi dari seluruh agama, menjadi terdistruksi dari tujuan-tujuan besar sebagai seorang pemuda.

Upaya Yahudi berhasil?


Lihat saja, bola jadi semacam 'agama' baru yang dirayakan oleh semua orang di seluruh penjuru dunia dan gegap gempita. Bahkan 'nabi-nabi'-nya sampai 'disembah'. 'Nabi-nabi'-nya itu ya para pemain yang menjadi bintang lapangan. Mereka menjadi panutan, bahkan gaya rambutnya, gaya pakaiannya, gaya hidupnya semua ditiru. Nah, ini menjadi semacam panduan bagi anak-anak muda.

Lihatlah kalau malam generasi muda Islam tidak suka bangun malam untuk shalat, tetapi kalau untuk jadwal bola tertentu mereka malah ngebela-belain bangun. Bukan hanya itu mereka pun mempersiapkan, membuat makanan, bahkan minum doping agar tidak ngantuk. Artinya, usaha untuk menonton bola itu jauh lebih besar daripada usaha untuk keshalihannya.

Ada beberapa kalangan yang mengatakan, “Oh itu cara pandang konspirasi” tetapi bagi saya memandang ini dalam konteks merusak generasi Muslim, terutama. Konteks tersebut  juga bisa dilihat sebagai salah satu sudut pandang. Memang harus ada yang mengingatkan. Jangan semua larut dalam suasana eforia bola ini.

Kan sekadar hiburan…


Dalam konteks hiburan kita masih punya banyak hiburan yang sehat. Kita main bola juga nggak, sehat nggak, masuk angin karena begadang malam di luar bisa-bisa. Malah tidak jarang tergoda main judi.
Putaran uang judi ini sangat besar, mulai dari tingkat RW, nasional, sampai internasional. Konsumsi miras dan pelacuran pun meningkat. Karena memang judi, mabuk, dan pelacuran itu satu paket hiburan dalam arena-arena ajang Piala Dunia.

Keberhasilan lainnya?


Banyaknya orang-orang Arab yang sudah membeli klub-klub besar di Eropa. Termasuk anak dan keluarga besar Raja Arab Saudi.

Apa sih yang mereka cari? 

Ya jelas keuntungan finansial. Karena berinvestasi ke dalam klub itu kan keuntungannya banyak, misalnya dari jualan merchandise bola di seluruh dunia, karcis di seluruh pertandingan, hak siar dan hak tayang di seluruh televisi, bursa pemain, dll.

Belum lagi keuntungan intangible  (tak terhitung dengan uang) seperti prestisiusnya bisa membeli klub bola. Punya siapa sih klub bola ini? Oh punya si ini, bangga banget kan si pemiliknya.

Meski dimiliki keluarga Saudi yang notebene agamanya Islam, tapi maksiat selalu mengiringi permainan bolanya?


Selalu ya, karena judi kan bukan hal terlarang di Eropa.

Pemerintah Arab sendiri tidak komentar mengapa anaknya begitu? 


Sejauh ini tidak ada berita tuh tentang itu. Karena penguasa Arab sendiri sudah menjadi bagian dari kapitalisme global. Lebih dari 50 persen angka kapital di Eropa dan Amerika itu adalah milik orang-orang Arab. Dengan begitu mereka satu paket kapitalisme. Mereka juga tidak mau dirugikan. Jadi mereka itu agamanya sudah bukan agama lagi tetapi agamanya itu adalah uang.

Bagaimana Yahudi menjaga agar target misi Zionis tetap berjalan? 


Dengan diselenggara-kannya Piala Dunia secara periodik. Negara-negara di dunia terus didorong untuk melakukan persaingan kapital, didorong untuk melakukan pembangunan material dan teknologi yang sifatnya sementara.

Indonesia sekarang sempat mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Itu kan di-push semua sehingga problem-problem yang lebih substansial di negara masing-masing teralihkan bahkan terlupakan.

Jelas dong Piala Dunia sebagai salah satu festival untuk melalaikan umat Islam?


Memang kerangka besarnya itu. Melalaikan umat Islam dari tujuan besar agamanya. Jangankan bola ya yang sebesar itu, kayak kasus Piala Uber dan Thomas. Bersamaan dengan even bulu tangkis tersebut kan kasus yang mencuat adalah Sri Mulyani dan Susno Duadji. Tapi kita semua beralih kepada Uber dan Thomas.
Jadi kita lebih tertarik menunjukkan nasionalisme dengan membela dan menonton Piala Uber dan Thomas daripada hal-hal yang lebih substansial seperti pengungkapan skandal-skandal di pemerintahan yang merugikan rakyat banyak.

Apalagi bola, Afrika Selatan itu problem sosialnya masih tinggi, tingkat kelaparannya masih tinggi, pengangguran masih tinggi, pelacuran masih tinggi. Lalu tiba-tiba jadi tuan rumah bola. Tiba-tiba orang jadi lupa dengan masalahnya.

Hasil dari Piala Dunia untuk menyejahterakan rakyat Afrika?


Tidak ada, kalau pun ada itu hanya kecil sekali untuk mengentaskan kemiskinan rakyat Afrika Selatan. Tidak sepadan dengan kerusakan moral dan sosial yang ditimbulkan akibat festival ini. Sebenarnya uang sebesar itu hanya berputar sementara,  keuntungannya jelas buat pemilik-pemilik industri yang bermain di bidang itu. Mereka tiada lain pemilik industri agribisnis, keuangan dan lainnya milik Yahudi dan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel.[]

http://www.mediaumat.com/content/view/1519/69/

0 comments: