Kelompok Kecil Militan Selalu Menjadi Pendobrak

Filed under: by: 3Mudilah

Godaan kekuasaan sangat besar. Akses terhadap harta, tahta dan wanita sangat mudah diperoleh. Surat al Baqarah menggambarkan hal ini. Dalam perjalanan menyerang Raja Jalut, tiba-tiba terik dan panas menyerang tentara Thalut.

Pasukan itu pun mengadu, “Kami kehausan.” Raja Samuel mengatakan, “Di depan ada sungai yang airnya jernih. Tapi awas, siapa yang minum bukan golongan kami, sedangkan yang tidak minum termasuk golongan kami kecuali minum sedikit saja.”

Sesampainya di sungai, empat ribu tentara Thalut terbagi empat kelompok. Pertama, tentara yang minum dan mandi. Kedua, minum banyak. Ketiga, minum sedikit. Keempat, sama sekali tak minum. Tentara yang minum sedikit jumlahnya 300 dan yang tidak minum 13 orang. Ketika saatnya menyerang, ternyata hanya 313 tentara yang bisa bertempur, sebagian besar lainnya lemas dan berbalik pulang. Yang paling tangguh justru 13 tentara yang sama sekali tidak minum, di dalamnya ada pemuda bernama Daud yang berhasil membunuh Raja Jalut.

Dalam konteks kekinian, tokoh-tokoh partai, termasuk partai Islam berkampanye meraup suara. Sepertinya, mereka anti uang dan membagikan uang pada konstituennya. Tapi, setelah mereka masuk ke sungai, sedikit sekali yang tidak minum. Baru saja menjadi anggota DPRD, DPR atau kepala daerah, langsung punya beberapa mobil mewah, rumah besar di kawasan elit dan kemewahan dunia lainnya. Mereka berdalih, ini fasilitas dan royalti resmi serta setumpuk argumen manis lainnya.

Pimpinan Pesantren Nurul Hidayah Leuwiliang Kabupaten Bogor KH Khodamul Quddus menilai, kader seperti ini tidak akan kuat meneruskan perjuangan. Jabatan yang sebenarnya mempunyai power untuk mengangkat rakyat dari jurang kemiskinan, kebodohan dan kemaksiatan tidak akan bisa dimanfaatkannya. Ia menjadi lemah karena memakan harta yang tak jelas halal haramnya. “Meski ia dan keluarganya hidup mewah, pada hakikatnya ia menjadi pecundang sebelum bertarung,” tegasnya.

Memang, kepemiminan politik harus direbut dan harus berada dalam genggaman umat Islam. Tapi proses ke arah itu menuntut pengorbanan yang berat. Kepada wartawan Sabili dalam perjalanan menuju Masjid Jami Al-Muhajirin PT Antam Unit Penambangan Emas Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, KH Khodamul Quddus menuturkan metode kaderisasi yang harus ditempuh partai-partai Islam dalam berjuang merebut kekuasaan negara. Berikut petikannya:

Bagaimana kiai menyikapi kian menderitanya rakyat tapi pejabat makin korup?

Pertama, ini merupakan ujian bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Kedua, sebagai uji coba ketangkasaan dan kehebatan pemerintah dalam mengurus negara. Bagaimana pemerintah menyelesaikan persoalan ini sehingga rakyat yang telah memilih menjadi presiden, gubernur, walikota/bupati, anggota DPR dan DPRD bisa melihat kualitas para pemimpinnya ini. Sanggup tidak mereka menyelesaikan persoalan bangsa dan mensejahterahkan rakyat? Bagi saya, dalam 24 sampai 72 jam pemerintah seharusnya bisa menyelesaikan sebagian besar persoalan bangsa.

Ketiga, menunjukkan bahwa Allah SWT mempunyai ”gerak”. Artinya, umat Islam, apa pun posisi dan perannya tidak boleh bergantung 100% pada kepemimpinan dan partai politik. Kita harus menggantungkan segalanya hanya pada Allah, Rabb Yang Mahakuasa.


Bukan pasrah, kan?

Pemimpin harus, pertama, berfikir dan berbuatlah untuk rakyat dan umat. Jangan untuk kepentingan pribadi. Pimpinan partai yang dulu dekat rakyat, ketika sudah meraih kedudukan, ia jauh dari rakyat dengan alasan, ada tugas dakwah di tempat lain. Kenapa meraih “kedudukan” lebih tinggi harus mengorbankan kepercayaan rakyat? Kenapa tidak elegan, raih kedudukan tinggi tapi makin dekat dengan rakyat. Jika turun ke bawah bukan sekadar kampanye.  Kedua, menyikapi dengan sabar, tabah dan tawakal. Datanganya rezeki itu karena Allah SWT. Ketiga, kemaksiatan. Dalam Surat al Ankabut: 40, diingatkan, akan datang tiga bencana jika manusia bergelimang maksiat. Allah akan menurunkan hujan kerikil panas dan suara mengguntur, ibarat gunung meletus atau angin puting beliung. Allah akan mengamblaskan bumi seperti gempa bumi. Dan Allah akan menenggelamkan manusia seperti tsunami, banjir atau tenggelamnya kapal. Ini semua bukan Allah yang zalim, tapi karena manusia yang zalim pada diri sendiri. Keempat, kita harus bersatu, paham dan mengerti bahwa ini masalah bangsa, sehingga tidak menimpakan kesalahan pada pemimpin saja. Kita harus menyelesaikannya bersama-sama, sesuai posisi masing-masing.


Rakyat cerminan pemimpinnya atau sebaliknya?

Ada hadist Rasulullah saw yang menegaskan, “Rakyat pasti akan baik, mana kala pemerintahnya betul-betul memberikan bimbingan.” Meski sejuta rakyat mengetuk palu di gedung DPR/MPR tapi ketukannya tidak akan berlaku. Tapi, seorang Ketua MPR, DPR, Presiden memutuskan sebuah peraturan, maka berlaku di seluruh Indonesia. Karenanya, kedudukan dan peran penguasa dalam upaya perbaikan bangsa sangat besar. Jika pemerintah tegas, persoalan harga bisa diselesaikan dengan cepat.

Tapi pemerintah seperti macan ompong? 

Bagaimana bisa tegas, jika para pejabat mengutak-atik kepentingannya sendiri. Misal, saat mencalonkan jadi walikota, bupati atau gubernur, ia dan partainya menerima sumbangan dana dari bandar narkoba, pejabat korup atau pengusaha hitam. Ketika berkuasa, ia pasti melindungi penyumbang dana itu.

Jika begitu umat Islam harus memegang kendali pemerintah?

Betul. Ada nasihat dari Hasan al Banna, ketika ia ditanya, “Amal apa yang paling baik pada saat ini?” Al Banna mengatakan, ”Merebut kekuasaan dan menempati posisi penting.”

Kenapa umat Islam harus menguasai negara? 

Jika umat Islam yang betul-betul beriman, jujur, berilmu, profesional dan berakhlak mulia, ditempatkan di Bank Indonesia tidak mungkin ada kasus BLBI. Untuk menempati jabatan strategis tak hanya perlu orang pintar dan profesional saja, tapi juga beriman, jujur dan berakhlak mulia. Orang sering mengolok-olok, bukankah pejabat BI banyak yang Muslim? Betul, tapi mereka Muslim yang tidak beriman, tidak jujur dan tidak benar dalam menjalankan amanah. Karenanya, Allah SWT pun melarang orang-orang beriman berperilaku khianat, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad saw) dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfaal: 27)



Apakah bisa partai politik di Indonesia memiliki pola kaderisasi seperti yang dijalankan Rasul?

Persoalannya, siap atau tidak moral pemimpin partai Islam melakukan kaderisasi seperti yang dijalankan Rasulullah saw? Jika material mungkin banyak yang siap, tapi secara moral hanya sedikit yang siap. Tapi prinsipnya, bisa dilakukan asal ada kesiapan moral dari pemimpin partai Islam dan generasi muda yang menerima pengkaderan. Caranya, tetapkan misi yang suci dan bersih, adakan halaqah, pembinaan yang teratur dan berkelanjutan. Seperti Rasul, kadang-kadang membina kadernya di malam hari sambil shalat tahajud, kadang-kadang dibawa ke gua atau tempat tersembunyi lainnya, agar orang-orang yang memang tidak berhak untuk mendengar sama sekali tidak mengetahuinya.

Persoalannya, masih banyak pemimpin partai Islam yang hanya ingin menduduki jabataan struktur dari Ketua DPC menjadi pengurus atau ketua DPD saja, ia harus setor sekian puluh juta rupiah pada partainya atau pada Ketua DPW. Ini jelas tidak islami dan tidak mungkin bisa melakukan kaderisasi sesuai pola yang dijalankan Rasulullah. Orang yang menyetor itu, suatu saat juga akan berperilaku sama dengan pimpinannya. Dan, fenomena ini merupakan nyanyian paling indah pada saat ini.


Memang ada partai Islam yang seperti itu kiai?

Saya tidak menuduh, tapi sepertinya ke arah itu sudah ada. Kedua, ada partai Islam yang punya basis massa besar dan memiliki tokoh yang banyak, tapi kepemimpinan dalam partai itu sangat tergantung pada figur sentral. Manakala sang figur mengatakan merah maka semuanya harus merah meski itu salah. Intervensi dari manapun tidak bisa mengubahnya. Padahal, Rasul tidak seperti ini. Dalam al Qur’an surat Ali Imran: 159 disebutkan, Rasul itu lintalahum (lemah lembut), fa’fu’anhum (menerima kritik dan masukkan), wasyawirrhum (adanya musyawarah). Sehingga, Rasul tidak membabi buta dalam memutuskan sesuatu.

Godaan kekuasaan itu sangat besar, akses uang, harta dan wanita sangat mudah didapat. Apakah masih ada partai Islam yang konsisten dengan pola perjuangan Nabi saw?

Insya Allah ada, meski hanya satu dua orang yang bak telur di ujung tanduk. Mudah-mudahan Allah masih menyisahkan orang-orang yang konsisten dengan perjuangan Rasul saw. Memang betul, godaan kekuasaan itu sangat besar. Surat al Baqarah menggambarkan, dalam perjalanan menyerang Raja Jalut, tiba-tiba panas terik menyerang tentara Thalut.

Saat ini bagaimana?

Ini terjadi pada saat tokoh-tokoh partai, termasuk partai Islam berkampanye merebut suara. Sepertinya, mereka anti uang dan membagikan uang pada masyarakat. Tapi, setelah mereka masuk sungai, setelah berkuasa, sedikit sekali yang tidak minum.    Akhirnya, kader seperti ini tidak kuat meneruskan perjuangan. Ia menjadi lemah, karena memakan harta yang tak jelas. Jadi, jika ditanya apakah masih ada kader yang konsisten, saya jawab masih, yakni 13 orang itu. Jika yang 300 orang dimasukkan juga maka jumahnya menjadi 313. Tapi, yang paling militan hanya 13 orang, al Qur’an menyebutnya sebagai kam min fiatin qalilatin (kelompok yang sangat sedikit sekali). Dalam sejarah peradaban Islam, kelompok kecil yang militan inilah yang selalu menjadi pendobrak.


Bagaimana cara memfilter godaan tiga “Ta” itu?

Pertama, kita harus memahami Islam. Kedua, istiqamah dalam iman dan ilmu. Ketiga, Rasulullah saw bersabda, “Beribadahlah pada Allah seolah-olah kamu melihat Allah SWT, jika tidak, kamu merasa dilihat oleh Allah.” Dengan meresapi hadist ini, Insya Allah kita akan merasa terkontrol. Keempat, kita harus menyadari bahwa hidup di dunia tidak lama, kita berjuang semata-mata hanya untuk umat dan masyarakat. Insya Allah dengan membentengi diri pada iman dan ilmu, godaan sebesar apapun akan bisa kita taklukkan. Jika iman dan ilmu yang dikedepankan, yang berbicara bukan lagi akal dan pikiran apalagi hawa nafsu, tapi qalbu dan iman kita. Jika perangkap maksiat dan godaan muncul, kalimat yang meluncur dari mulut kita adalah “Aku takut pada Allah.”

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2294:kelompok-kecil-militan-selalu-menjadi-pendobrak&catid=83:wawancara&Itemid=200

0 comments: