Jadikan al-Qur’an Standarnya

Filed under: by: 3Mudilah


“Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya,” (Riwayat Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari dalam shahihnya).


Belajar dan mengajarkan al-Qur’an dalam arti luas seharusnya memang menjadi rutinitas kita sehari-hari.

Meski kita awam, tapi ketika berbicara soal implementasi al-Qur’an dalam kehidupan, harus disadari bahwa tugas ini menjadi tanggung jawab semua orang yang mengaku beriman pada kebenaran al-Qur’an.

Karenanya, kaum Muslimin harus terus membaca, mengkaji dan mengamalkan al-Qur’an. Selain itu kaum Muslimin juga harus bersemangat menggali ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan ilmu-ilmu lain untuk kemaslahatan umat. Pada hakikatnya, penggalian ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan adalah proses pengejawantahan ayat-ayat Allah, sehingga akan bertambahlah hidayah dari Sang Khalik.

Persoalannya, dalam tataran praktis, masih terjadi kesenjangan pemahaman dalam memaknai proses belajar dan mengajarkan al-Qur’an. Sebagian masih berkutat bahwa mempelajari al-Qur’an hanya terbatas pada membaca, menghafal dan menggunakanya untuk melaksanakan ritual ibadah. Ketika diminta membantu memecahkan persoalan kehidupan yang kian kompleks, mereka mundur teratur.

Bahkan Rasul saw pernah mengadu pada Allah SWT akan sikap umatnya yang acuh tak acuh terhadap al-Qur’an. "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan.” (Qs al-Furqan: 30). Mungkin saja di rumahnya memiliki berpuluh-puluh al-Qur’an, tapi hanya dijadikan koleksi dan hiasan belaka. Bukan menjadi hiasan iman, akhlak, ilmu dan amal.

Bagaimana seharusnya sikap umat terhadap al-Qur’an? Proses belajar dan mengajarkan al-Qur’an seperti apa yang seharusnya dijalankan umat? Untuk menjawab ini, Wartawan Sabili mewawancarai Ustadz Abdul Azis Abdul Rauf Lc. Ketua Yayasan Markas Tahfidz al-Qur’an ini, dikenal sebagai pengajar al-Qur’an di beberapa lembaga Tahfidz dan mahad al-Qur’an di Jakarta. Berikut petikannya:


Belajar dan mengajarkan al-Qur’an yang seperti apa?

Hadist itu mengatakan khairukum (sebaik-baik kalian), ini merupakan sebuah karakteristik yang diberikan Allah kepada umat Islam sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat al-Imron ayat 104 yang artinya, “Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan kepada manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran …” Kata al-Qur’an juga bermakna khair yang berarti kebaikan. Apabila keduanya disatukan barulah menjadi kebaikan yang universal karena umatnya khair dan Qur’annya pun khair.

Apa yang dimaksud dengan aksi di sini ustadz? 

Belajar dan mengajar al-Qur’an yang kehendaki oleh hadits ini adalah belajar dan mengajar sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Yakni, tidak terbatas hanya pada sisi kemampuan membaca al-Qur’an saja tapi semua sisi yang terkait dengan al-Quran mereka pelajari dan mereka ajarkan. Ada yang mempelajari tilawah, menghafal, tafsir dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan umat. Ini yang seharusnya menjadi aksi kita bersama-sama.

Umat Islam memahami belajar al-Qur’an hanya sebatas membaca?

Minimal umat memiliki kesadaran bahwa al-Qur’an perlu diaplikasikan dalam kehidupan. Secara pemikiran, sebenarnya sangat mungkin setiap umat Islam memahami bahwa al-Qur’an bukan sekadar untuk dipelajari dan diajarkan saja, tapi semua sisi yang terkandung dalam al-Qur’an juga harus diaplikasikan dalam kehidupan.

Sedangkan siapa orang yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakan proses transformasi untuk mengaplikasikan al-Qur’an dalam kehidupan mereka adalah orang-orang tertentu pilihan Allah SWT. Misalnya, para pakar berbagai bidang ilmu pengetahuan dan para ulama yang menguasai bidang-bidang keilmuan tertentu. Jadi, pada tahap aplikasi untuk menerjemahkan al-Qur’an, tidak semua orang bisa mengejawantahkannya. Para pakar dan ulama saja terbagi-bagi dalam beberapa bidang misalnya, ada yang sebagai mufasir (ahli tafsir), faqih (ahli fiqih), muhadits (ahli hadits), mutakhalim (ahli ilmu kalam) atau menguasai beberapa bidang ilmu di atas.

Di Indonesia banyak lembaga Tahfidz al-Qur’an, apa pendapat Anda? 

Lembaga tahfidz, secara umum diibaratkan sebagai  sebuah bangunan besar yang seminimalnya berfungsi dalam upaya pemeliharaan bangunan itu agar tetap berfungsi dengan baik. Jadi, mereka yang menghafal al-Qur’an dengan interaksi yang dibangun di atas standar rata-rata umat Islam dalam berinteraksi dengan al-Qur’an, otomatis mereka memiliki ruhiyatul Qur’an yang berbeda dibanding umat Islam umumnya. Inilah yang kita harapkan dari mereka agar bisa memelihara al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat. Jika kemudian alumnus lembaga tahfidz diharuskan mengaplikasikan al-Qur’an dalam berbagai sektor kehidupan, perlu dilakukan kajian dan metode pendidikan lebih lanjut.

Jadi, tugas minimal lembaga tahfidz itu apa?

Yakni, mewujudkan sebuah penyadaran untuk mengembalikan umat Islam kepada fungsi al-Qur’an itu sendiri. Mereka yang berada di lembaga tahfidz, insya Allah pemikiranya jauh lebih baik, lurus dan dijaga dengan ruhiyatul Qur’an. Setelah keluar, mereka akan menjadi suri teladan dalam kehidupan umat seperti, Mush’ab bin Umar yang ditugaskan Nabi saw pergi ke Madinah untuk memperkenalkan dan mensosialisasikan al-Qur’an sebelum terjadinya peristiwa hijrah. Sementara Abu Bakar bin Siddiq dan Umar Bin Khatab, mempunyai peran besar dalam menerjemahkan al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Secara praktis, lulusan pesantren dan lembaga tahfidz memiliki kafaah dalam menghafal dan memahami al-Qur’an. Tapi lulusan universitas Islam seperti UIN dan IAIN umumnya lemah dalam memahami al-Qur’an tapi mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan. Bagaimana cara me-miss-kan mereka?

Kalau kita kembali pada Rasul saw dan para sahabat. miss (keselarasan) terjadi pada orang per orang. Jadi, pada masa itu, seorang sahabat sanggup mengemban peran sebagai hafidz (penghafal al-Qur’an), mufasir (ahli tafsir) dan mutakhalim, menguasai ilmu-ilmu pengetahuan yang digunakan untuk mengelola kehidupan di dunia ini seperti, ilmu ekonomi, bisnis, pemerintahan, teknik, kedokteran dan lainnya. Para sahabat dulu, mempunyai  kafaah begitu luas, sehingga miss ini ada dalam satu individu. Dan, jumlah sahabat yang memiliki kualifikasi seperti ini jumlahnya sangat banyak.

Tapi saat ini, kondisinya jauh sekali. Untuk itu, cara termudah yang bisa kita lakukan untuk menyambungkan terjadinya missing link (keterputusan atau kesenjangan) ini adalah saling melengkapi satu sama lainnya. Para alumnus universitas Islam baik yang berasal dari dalam maupun Timur Tengah berperan dalam hal transformasi pemikiran keislaman dan tetap bisa berinteraksi dengan al-Qur’an karena memiliki dasar pemahaman atau hafalan meski hanya sebatas juz 30 misalnya. Sedangkan para alumnus pesantren dan lembaga tahfidz, berperan dalam membangun ruhiyatul Qur’an. Jika kedua kutub ini disatukan dalam sebuah kelompok, diorganisir dengan baik, memiliki tujuan dan target terukur, insya Allah akan menghasilkan pemikiran dan karya nyata yang bermanfaat bagi umat. Hal seperti ini yang seharusnya digalakkan di negeri-negeri Islam.

Apa perbedaan metode pengajaran masa Rasulullah saw dengan saat ini sehingga menghasilkan output yang sangat berbeda? 

Kesatuan dalam memahami ilmu pengetahuan dan metode pembelajaran yang memang sangat berbeda. Pada masa Rasul saw, semua ilmu pengetahuan bermula dan bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Sehingga menghasilkan kader sekaliber Ali bin Abi Thalib yang menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan sekaligus sebagai seorang ulama. Ia mahir dalam bidang militer, strategi pembangunan dan politikus ulung.

Bagaimana dengan faktor lingkungan?

Manusia adalah anak lingkungannya. Ketika di suatu lingkungan banyak penghafal Qur’an, otomatis di lingkungan tersebut tidak akan kosong dari orang yang membaca dan menghafal Qur’an. Begitu juga dalam kehidupan umat saat ini, orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan dan menciptakan karya-karya baru yang bermanfaat bagi kehidupan sudah semakin berkurang, tidak seperti para masa Rasul saw dan sahabat, sehingga generasi berikutnya pun mengikuti trend ini.

Faktor lain Ustadz?

Banyak faktor yang menyebabkan orang enggan belajar dan mengajarkan al-Qur’an seperti, minimnya daya dukung masyarakat dan kurangnya para ulama yang berkualitas seperti pada masa Rasul saw dan sahabat.

Dalam kehidupan politik, apa komentar Anda?

Dalam urusan politik al-Qur’an sering memulai kalimatnya dengan yaa ayyuhalladziina aamanuu, wahai orang-orang yang beriman. Jadi, politikus atau pelaku politik yang dikehendaki oleh al-Qur’an adalah hamba Allah yang jelas keislaman dan keimanannya sesuai standar al-Qur’an itu sendiri, bukan sekadar sudah shalat dan zakat. Sehingga ketika aamanuu-nya (keimananya) sudah siap, otomatis nilai-nilai Islam mampu diterapkannya dalam kehidupan politik untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi apa pun standarnya al-Qur’an. Karenanya, jika setengah milyar umat Islam di seluruh dunia memiliki kriteria seperti yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 177 ini, umat Islam akan kuat gaungnya dalam menghidupkan al-Qur’an dalam bidang politik.


Bagaimana dengan partai politik Islam dan organisasi Islam? 

Harus kita yakini bahwa mereka adalah aset dalam memperjuangkan pelaksanaan al-Qur’an dalam bidang politik, praktik kenegaraan, membangun tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apabila fungsi minimal ini dapat kita pahami, insya Allah kita akan mudah bekerja sama dengan partai politik Islam manapun. Akhirnya, umat pun tidak saling mengklaim bahwa organisasi dan partai politiknyalah yang paling Qur’ani. Janganlah saling klaim seperti itu, karena yang diperlukan saat ini adalah bekerja sama menyatukan kekuatan. Al-Qur’an harus menjadi tujuan utama sedangkan organisasi dan partai politiknya hanya menjadi alat.

Dalam bidang ekonomi, upaya menerjemahkan ayat-ayat al-Qur’an dalam aplikasi ekonomi berdasarkan syariah kian gencar dilaksanakan. Kenapa krisis ekonomi masih saja terjadi? 

Dalam membahas krisis ekonomi, al-Qur’an selalu mengingatkan dua hal. Pertama, kesejahteraan ekonomi suatu masyarakat tidak terlepas dari ketaatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya dalam surat al-A’raf ayat 96. Jika ekonomi dibangun tidak sesuai dengan prinsip yang diridhai Allah maka tidak akan membaik keadaannya. Jika disisi Allah tidak baik, otomatis dalam kehidupan pun tidak akan baik. Kedua, kesejahteraan ekonomi dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang ada dalam sistem kenegaraan. Persoalannya, yang bisa menerapkan ekonomi sesuai prinsip al-Qur’an saat ini, masih terbatas, baru pada bank, asuransi dan beberapa lembaga ekonomi  syariah. Ini pun masih banyak umat Islam yang belum memahami sisi syariahnya, baru dipahami dari sisi bisnisnya saja. Karenanya, ketika melakukan transaksi di bank syariah misalnya, ketika bagi hasilnya lebih kecil dari bank konvensional, mereka langsung beralih ke lembaga lain yang tidak syariah. Hal-hal seperti ini masih banyak terjadi. Jadi masih perlu proses panjang untuk penyadaran.

 http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2346:jadikan-al-quran-standarnya&catid=83:wawancara&Itemid=200

0 comments: