Harta dan Sikap Kaum Beriman

Filed under: by: 3Mudilah

 



Harta dan Sikap Kaum Beriman (1)

Banyak kaum muslimin yang sulit untuk menerima kenyataan dimana orang-orang non muslim hidup dalam gemerlap harta benda dan bernasib lebih baik dalam soal kehidupan duniawi, sekalipun mereka kafir atau musyrik. Realita ini tidak hanya pada level individu, tapi juga pada level negara, dimana negara-negara kafir Barat identik dengan negara maju dan kaya. Sementara negara-negara Islam dikategorikan sebagai negara dunia ketiga yang miskin dan terbelakang. 

Tidak ada yang aneh dalam kondisi tersebut, sebab permasalahan itu akan menjadi sangat sederhana selama kita masih berpegang pada dua hal, Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW. Telah banyak terdapat dalam Al Qur`an dan As-Sunnah mengapa orang-orang kafir justru hidup kaya raya sekalipun mereka kufur atau menyekutukan Allah. Semua ini hanya dapat difahami oleh setiap orang yang mempunyai hati atau mau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.

Tidak aneh apabila masalah ini menjadi rumit bagi kaum muslimin yang memiliki pemahaman terbatas. Sebab sekelas sahabat ‘Umar bin Khaththab sebagai salah seorang terdekat dengan Rasulullah SAW saja pernah merasakan hal yang sama dimana ‘Umar menceritakan:

“Rasulullah SAW berbaring di atas selembar tikar sambil tersenyum. Tidak ada sesuatupun yang mengalasi antara Beliau dan tikar tersebut. Di bawah kepala beliau terdapat sebuah bantal terbuat dari kulit yang pinggirnya berjahitkan tali dari serabut. Pada kedua kakinya terdapat anyaman daun yang dibentuk dan pada kepalanya terdapat kulit yang tergantung. Lalu aku melihat bekas tikar pada lambung beliau dan akupun menangis. Maka beliau bertanya: “Apa yang membuat engkau menangis?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra dan Kaisar telah hidup dengan kemewahan yang mereka miliki, padahal engkau adalah utusan Allah.” Beliau lalu bertanya: “Tidakkah engkau rela jika dunia menjadi milik mereka berdua dan akhirat menjadi milik kita?” 

Dan dalam riwayat lain disebutkan, bahwa ‘Umar RA menceritakan: “Lalu aku masuk menemui Beliau dan aku dapati dalam keadaan berbaring di atas lantai berpasir. Tidak ada kasur antara lantai pasir tersebut dan beliau, hingga pasir tersebut membekas pada lambung beliau. Kepalanya beralaskan bantal kulit yang pinggirnya dijahit dengan tali serabut. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya……, lalu aku mengangkat pandanganku ke atas di dalam rumah beliau dan sungguh aku tidak menemukan sesuatu yang melindungi pandangan kecuali tiga lembar daun kelor. Maka aku berkata: “Berdo’alah kepada Allah agar melapangkan rezeki atas umatmu. Karena sesungguhnya raja Persia dan Kaisar Romawi telah dilapangkan rezeki atas mereka dan diberi kekayaan dunia, padahal mereka tidak menyembah Allah.” Sambil bersandar, beliau menjawab: “Apakah engkau masih ragu tentang aku wahai Ibn Al Khaththab? Mereka adalah kaum yang disegerakan kenikmatan hidup dunia.” Maka aku berkata: “Wahai Rasulullah, mintakanlah ampun untukku.” 

Jawaban Nabi SAW atas pertanyaan ‘Umar RA merupakan jawaban yang memuaskan dan sempurna bagi setiap orang yang bertanya, mengapa dirinya fakir dan miskin padahal dia beriman dan taat kepada Allah, sementara mengapa orang-orang kafir hidup bergelimang harta padahal mereka kufur atau menyekutukan atau durhaka kepada Allah SWT. Firman-Nya: “Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain.” (Al Furqaan : 20). Ayat ini berarti bahwa: “Kami menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, untuk mengetahui siapa yang ta’at dan siapa yang durhaka, siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur terhadap nikmat Allah SWT.”

Allah SWT telah menciptakan surga dan neraka, lalu menjadikan bagi keduanya penghuni yang berhak untuk hidup kekal di dalamnya. Adapun surga, hanya akan dihuni oleh orang-orang beriman yang bersaksi atas keesaan Allah SWT dan mengakui kenabian Muhammad SAW. Lalu mereka menyembah dan menta’ati Allah SWT, lalu mati dalam keadaan beriman dan ta’at kepada-Nya. Sedangkan neraka, akan dihuni oleh setiap manusia yang kufur dan durhaka kepada Allah SWT, lalu mati dalam keadaan tersebut. Akan tetapi, diantara wujud keadilan Allah SWT yang akan membalas perbuatan baik dengan sepuluh hingga ratusan kali lipat, bahwa Dia SWT juga akan membalas setiap manusia atas perbuatan baik yang dilakukannya, sekalipun dia seorang kafir.

Ada segolongan orang kafir yang selalu melakukan kebaikan dan memberikan sedekah kepada orang-orang fakir serta menggunakan harta mereka untuk hal-hal kebajikan. Hanya saja, karena surga telah diharamkan atas orang-orang kafir sehingga mereka tidak mungkin memasukinya untuk mendapatkan balasan atas kebaikannya, maka Allah SWT akan mensegerakan balasannya di kehidupan dunia yang merupakan surga bagi mereka. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Hingga di saat orang kafir telah memasuki kehidupan akhirat, maka dia tidak akan mendapatkan pahala apapun, sebagaimana firman Allah SWT: “Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” Ali Imran : 176 Ayat ini berarti, kebijaksanaan Allah SWT terhadap orang-orang kafir adalah, bahwa dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, Dia ingin untuk tidak memberikan bagi mereka sedikit bagian pun di kehidupan akhirat.




 

Harta dan Sikap Kaum Beriman (2)


Allah SWT telah melarang orang mukmin untuk selalu melihat kekayaan orang-orang kafir dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” Thaahaa : 131 

Atau, jangan engkau selalu memperhatikan orang-orang kafir yang kaya dan kenikmatan hidup mereka. Sebab sesungguhnya hal itu hanyalah gemerlap kehidupan yang bakal hilang, dalam rangka menguji mereka dengan kekayaan. Sesungguhnya karunia di sisi Allah SWT itu lebih baik dan lebih abadi. Harta bagi orang kafir juga merupakan cobaan dan ujian baginya. Kemudian, sesungguhnya Allah SWT melimpahkan harta yang banyak kepada orang kafir untuk menunjukkan atas rendahnya nilai dunia di sisi Allah SWT. Bahwa nilai kekayaan dunia seisinya disisi Allah tidak akan menyamai beratnya sehelai sayap seekor nyamuk. 

Nabi SAW berabda: “Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah seberat sayap nyamuk, tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun hanya seteguk air.” Hadits ini sebagai pengibaratan betapa sedikit dan rendahnya nilai dunia. Oleh karena itu jika nilai dunia itu sangat rendah di sisi Allah, maka kesenangan dunia yang selama ini dinikmati oleh orang kafir adalah kenikmatan yang sangat rendah dan hina. Sesungguhnya orang kafir adalah musuh Allah dan musuh tidak sekali-kali tidak akan diberi sesuatu yang berharga menurut si pemberi. Atas dasar ini, sesungguhnya Allah SWT terkadang memberi orang kafir harta yang banyak dan membiarkan mereka dalam kekayaan bukanlah sebagai wujud penghormatan atau kecintaan baginya. Akan tetapi semua itu Allah SWT lakukan sebagai pembiaran dan penangguhan sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: 

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” Al ‘Araaf : 182-183

Orang kafir sendiri juga merasa bangga dengan banyaknya harta. Dia mengira bahwa apa yang telah diberikan Allah SWT kepadanya merupakan kemuliaan dan kasih sayang baginya dari sisi Allah SWT. Bahkan mereka meyakini bahwa hal tersebut merupakan dalil atau bukti atas kecintaan dan perhatian Allah SWT kepadanya. Dan kelak Allah SWT tidak akan mengazabnya. Sebab, Dia SWT tidak mungkin memberinya kenikmatan di dunia, kemudian mengazabnya di akhirat. Keyakinan orang-orang kafir seperti ini telah disebutkan dalam firman-Nya:

“Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” Saba` : 35 

Kemudian Allah SWT membantah keyakinan mereka dengan firman-Nya: 

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” Al Mu`minuun : 55-56

Ini berarti bahwa, sungguh mereka telah keliru dan sia-sia harapan mereka. Sebab, kenyataannya tidaklah seperti apa yang mereka kira, bahwa mereka tidak akan diazab lantaran mereka memiliki banyak harta dan anak keturunan. Padahal, apa yang Kami lakukan terhadap mereka merupakan pembiaran dan penangguhan agar mereka tetap pada kekafiran dan kesesatan. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: 

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” At-Taubah : 55 

Dan Allah SWT juga berfirman: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” Ali Imraan : 178 

Dan firman-Nya:

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Qur'an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan.” Al Muddatstsir : 11-17

Bahkan terkadang Allah SWT membuka setiap pintu usaha orang kafir dalam meraih kekayaan. Hingga tatkala mereka bersenang-senang dengan kekayaan tersebut, tiba-tiba Allah SWT menyiksa mereka dalam keadaan lalai dan mereka dimusnahkan hingga ke akar-akarnya, seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya: 

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Al `An’aam : 44-45 

Qatadah pernah menyatakan: “Telah datang perintah Allah pada kaum tersebut dan sekali-kali Allah SWT tidak akan menyiksa suatu kaum kecuali di saat mereka sedang mabuk, terbuai dan tertipu dengan kenikmatan mereka. Maka janganlah sampai syaitan memperdaya kalian dalam menta’ati Allah. Sebab sesungguhnya hanya orang-orang fasik yang terpedaya dari menta’ati Allah SWT.”

bersambung...

di nukil dari Harta dan Kita,terbitan eramuslim 2010
www.pahami.com

0 comments: