Optimization in gaining the reward

Filed under: by: 3Mudilah

Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” 
(QS. Adz-Dzariyat: 56).

Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.

Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.

Dari titik tolak ini, kita harus mengingatkan tentang urgensi mengetahui cara-cara amaliah untuk meraih pahala dan kaidah-kaidah yang meng­antarkan untuk mendapatkan sebanyak mungkin kebajikan dalam syariat yang bijak ini guna memantapkan timbangan orang mukmin pada hari kiamat.

“Dan adapun orang-orang yang berat tim­bangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qari’ah: 6-7).

Berikut ini adalah sebagian dari cara-cara ideal untuk meraih tujuan yang besar ini bagi setiap muslim.

Cara Pertama: 
Komitmen dengan kewajiban dan fardhu.

Tidak ada yang lebih dicintai Allah daripada orang mukmin komitmen dengan fardhu dan kewajiban. Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman:


مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku fardhukan kepadanya.” (HR. al-Bukhari).

Jadi, istiqamah di atas amalan-amalan fardhu adalah jalan terbaik untuk meraih pahala, karena ini adalah amalan-amalan yang paling dicintai Allah, dan atas perkara inilah manusia akan dihisab di hadapan Allah pada hari kiamat.

Cara kedua: 
Memperbanyak niat baik dalam satu ketaatan.

Satu ketaatan bisa diniatkan dalam banyak keba­jikan, dan seseorang akan mendapatkan pahala dengan tiap-tiap niat itu.
Sebagai contoh, duduk di masjid. Ini satu ketaatan, tapi bisa diniatkan untuk banyak niat, di antaranya:
a) Berniat memasukinya untuk menunggu shalat.
b) Berniat i’tikaf dan menahan anggota tubuh.
c) Mengusir berbagai kesibukan yang memalingkan dari menaati Allah dengan memutuskan diri menuju ke masjid.
d) Dan untuk berdzikir kepada Allah di dalamnya, dan semisalnya..
Ini adalah jalan memperbanyak niat dalam satu ke­taatan—dan analogikanlah semua ketaatan dengan hal itu. Sebab tidak ada satu ketaatan pun melainkan mengandung banyak niat.

Berdasarkan contoh ini—wahai saudaraku yang ter­cinta—semestinya Anda menganalogikan semua ketaatan, lalu Anda mengadakan untuk tiap-tiap ketaatan sejumlah niat baik lagi shalih sehingga satu ketaatan menjadi banyak ketaatan yang menyebabkan pahalanya berlipat ganda karenanya.

Memperbanyak niat dalam satu ketaatan akan memenuhi hati dengan kebaikan, insya Allah.

Cara ketiga: 
Masyarakat “jama’ah” adalah “mihrab untuk beribadah”.


Hal ini masyarakat adalah lahan dakwah ilallah, mening­gikan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan menanamnya dalam jiwa secara baik yang kelak menghasilkan buahnya.

Di antara lahan beribadah di masyarakat ini, ialah sebagai berikut: Mengucapkan salam, Memberi nasihat, Kata-kata yang baik, Mencegah kemungkaran, Membuang gangguan dari jalan, Menjenguk orang sakit, Mencari orang yang tidak hadir, Turut serta dalam kegembiraan dan kesedihan, Memuliakan anak yatim… dan seterusnya.

Demikialah kita melihat masyarakat sebagai “mihrab” yang luas untuk ibadah terbaik dan amal terbaik yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Allah Ta’ala. Suatu hal yang tidak akan dijumpai seseorang manakala ia menyendiri lagi terpisah dari masyarakat.

Cara keempat: 
Memanfaatkan waktu-waktu harian yang utama.

Melaksanakan ibadah-ibadah pada waktu-waktu­nya yang utama yang dianjurkan oleh Syari’ (Penetap syariat) yang bijaksana supaya dilakukan di dalamnya menyebabkan sesorang mendapatkan pahala yang besar—yang tidak akan diperolehnya sekiranya ia melakukan ibadah tersebut di luar waktu yang utama itu. Ini adalah karunia Allah dan rahmatNya. Di antara waktu-waktu utama dalam sehari:

a) Berdzikir pada Allah setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari setinggi satu tombak.
b) Menjawab seruan muadzin untuk shalat lima waktu
c) Berdoa di antara adzan dan iqamah
d) Memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir dengan shalat, doa dan istighfar.
e) Tasbih, tahlil, tahmid dan takbir sepanjang hari.

Memperhatikan waktu-waktu yang utama ini dengan melakukan ketaatan, di dalamnya berisi­kan usaha besar untuk meraih pahala dari Allah Ta’ala.

Cara kelima: 
Berkeinginan untuk melakukan amalan-amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga setelah kematian.

Di antara karunia Allah yang besar atas umat ini yang pendek usianya, ialah Dia menunjukkan mereka kepada amalan-amalan yang pahalanya terus berkesinambungan hingga setelah kematian. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Di antara amalan dan kebajikan yang terus sampa kepada orang mukmin setelah kematiannya, ialah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya semasa sehatnya dan semasa hidupnya, maka itu sampai kepada­nya setelah kematiannya.”

Maka, saudaraku semuslim, hendaklah Anda meng­amalkan mana saja di antara amalan-amalan ini yang pahalanya akan mengalir setelah kematian, sehingga pahala Anda tidak terputus dengan terputus ajal Anda.
Syaikh as-Sa’di mengatakan—dikutip secara bebas—tentang firmanNya, 

“dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggal­kan.” (QS. Yasin: 12):
“Yaitu peninggalan-peninggalan kebaikan dan pening­galan-peninggalan keburukan yang mana mereka menjadi sebab peninggalan-peninggalan itu, baik semasa hidup maupun setelah kematian mereka….”

Semua kebaikan yang dilakukan seorang manusia karena sebab ilmu hamba, pengajarannya, nasihatnya, perintahnya kepada yang ma’ruf atau pencegahannya dari kemungkaran, ilmu yang ditinggalkannya di tengah kaum muslimin dalam buku-buku yang bermanfaat, baik semasa hidupnya maupun sesudah matinya, amal kebajikan berupa shalat, zakat atau sedekah, orang yang bisa diteladani orang lain, membangun masjid, atau salah satu tempat untuk pertemuan manusia, maka ini termasuk peninggalan-peninggalannya yang dituliskan untuknya. Demikian pula amalan kebajikan.

Berdirilah untuk mengunjungi salah satu kantor Lem­baga Bantuan Islam (Hai’ah al-Ighatsah al-Islamiyyah) atau Perhimpunan Pemuda Islam Internasional (an-Nadwah al-Alamiyyah li asy-Syabab al-Islami), atau organisasi-organisasi sosial terpercaya lainnya untuk melihat kegiatan mereka dalam berbagai proyek kerja yang mengalir paha­lanya hingga setelah kematian, seperti sedekah jariyah. Tujuannya, wahai saudaraku, ialah bagai­mana kita meraih kebajikan yang lebih banyak pada hari kiamat.

Bersambung, Insya Allah…
Dikutip dari kitab Tsalatsuna Thariqah Mitsaliyyah likasb al-Ajr wa ats-Tsawab 
 

(Bag. 2)

Cara keenam: Berkeinginan untuk menunjukkan orang lain.

Berdakwah (mengajak manusia) kepada agama Allah me­rupakan ibadah paling agung yang mendekatkan manusia kepada Allah, karena ini adalah tugas para Nabi dan Rasul—sebab berdakwah dan memberi petunjuk kepada manusia adalah jalan yang mengantarkan untuk meraih pahala dan kebaikan yang besar—sebagaimana sabda Rasulullah:


مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ
“Barangsiapa menyerukan kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya….” (HR. Muslim).

Jika Anda menunjukkan seseorang kepada agama Allah kemudian ia beristiqamah, maka Anda mendapatkan seperti shalat, tasbih dan semua amal shalihnya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Kemudian, jika ia menyeru banyak orang lalu mereka bertaubat, maka Anda mendapatkan seperti pahala mereka walaupun Anda berada dalam kubur Anda. Begitulah, dituliskan untuk Anda pahala banyak orang. Seakan-akan Anda dikaruniai umur yang panjang. Dan, orang yang menunjukkan kepada kebajikan adalah seperti orang yang melakukannya.

Letakkanlah seseorang di pelupuk mata Anda dan serulah ia kepada agama Allah. Jika Anda ikhlas dalam mendakwahinya dan Allah memberi taufik kepada Anda, maka Anda mendapatkan seperti pahala perbuatannya hingga hari kiamat.

Tidakkah Anda menyadari, saudaraku semuslim, bahwa lahan dakwah ilallah dan menunjukkan orang lain adalah lahan paling besar dan paling subur yang memungkinkan Anda meraih pahala dari Allah.

→ Cara ketujuh: Memanfaatkan satu waktu untuk ibadah lebih dari satu.

Seni meraih pahala dalam satu waktu untuk melakukan lebih dari satu ibadah, tidak diketahui kecuali oleh orang yang memiliki kemauan akhirat dan menginginkan kebaikan yang disediakan Allah di surga. Teladan mereka di bidang ini adalah Rasulullah. Dari Ibnu Umar, ia mengatakan, “Sesungguhnya kami benar-benar menghitung Rasulullah dalam satu majelis membaca:


رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Mene­rima taubat lagi Maha Pengampun.” sebanyak seratus kali.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Perhatikanlah, saudaraku, bagaimana al-Mushthafa (Rasulullah) memanfaatkan satu waktu untuk dua ibadah, yaitu:
-     Dzikrullah dan istighfar.
-     Duduk bersama para sahabat dan mengajarkan kepada mereka tentang urusan agama mereka, dan mendengarkan permasalahan yang mereka hadapi.

Contoh praktis dari cara ini: Jika seseorang pergi ke masjid dengan berjalan kaki, maka pergi ini dan langkah-langkah itu adalah ibadah itu sendiri yang karenanya hamba diberi pahala. Tetapi ia bisa juga memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak dzikrullah atau membaca al-Qur`an dengan hafalan. Ketika itulah ia memanfaatkan satu waktu untuk lebih dari satu ibadah.

→ Cara kedelapan: Memasukkan perasaan kepada orang-orang di sekeliling Anda bahwa Anda sangat berkeinginan untuk melakukan kebajikan.

Mengapa memasukkan perasaan ini?

1.   Agar ia menjadi teladan yang baik bagi yang lainnya lalu ia melakukan sebagaimana yang dilakukannya. Dengan demikian, ia men­dapatkan pahala karenanya. Barangsiapa merintis dalam Islam sunnah yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya.
2.   Agar itu menjadi tanda kebaikan yang dengannya ia dikenal—jika ia orang yang berharta misalnya, dan ia senantiasa berderma di jalan kebajikan, maka ini adalah tanda bagi banyak manusia karena ia mengabarkan tentang proyek-proyek kebajikan.—sehingga ini sebagai ladang baginya untuk mengais pahala. Tetapi semua ini harus dilakukan secara ikhlas karena Allah dan mencari ridhaNya.

→ Cara kesembilan: Amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda.

Di antara cara untuk mendapat pahala sebanyak mungkin dalam waktu paling singkat, ialah mela­kukan amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda. Di antara amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda adalah:

1.   Shalat di al-Haramain.
2.   Memelihara shalat berjamaah di masjid.
3.   Melakukan adab-adab Jum’at, di antaranya:
– Mandi
– Bersegera ke masjid.
– Berjalan ke masjid.
– Dekat dengan imam.
– Mendengar khatib dan tidak berbuat sia-sia.

Barangsiapa melakukan adab-adab ini, maka ia mendapatkan dengan tiap-tiap langkah amalan satu tahun: pahala puasa dan qiyamnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, dan ini hadits shahih.

4.   Menghadiri pengajian dan ceramah di masjid
Kehadiran Anda dalam setiap pengajian dan ceramah yang diadakan di masjid menye­babkan Anda mendapatkan pahala haji secara sempurna. Diriwa­yatkan dari Abu Umamah, dari Nabi, beliau bersabda:


مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ
“Barangsiapa pergi ke masjid, ia tidak meniatkan kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan seperti pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad la ba’sa bih [tidak mengapa]).

5.   Umrah di bulan Ramadhan.
6.   Shalat di masjid Quba’.
7.   Memberi buka orang yang berpuasa.
8.   Melaksanakan Qiyamul Lail pada saat Lailatul Qadar.
9.   Melakukan amal shalih di sepuluh hari Dzul Hijjah.
10. Dzikir mudha’af, yaitu:


سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةِ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
“Mahasuci Allah dan segala puji bagiNya seba­nyak jumlah makhlukNya, keridhaan diriNya, perhiasan ArsyNya, dan tinta kalimatNya.”

11. Memohonkan ampunan untuk kaum mukmin. Beliau bersabda:


مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةٌ
“Barangsiapa memohonkan ampunan untuk kaum mukmin laki-laki dan perempuan, maka Allah mencatat untuknya dengan tiap-tiap mukmin dan mukminah satu kebajikan.” (HR. Ath-Thabrani, dan dihasankan al-Albani).

→ Cara kesepuluh: Memanfaatkan momentum-momentum utama dalam setiap pekan.

Di antara rahmat Allah kepada para hambaNya ialah Dia menjadikan untuk mereka dalam sepekan waktu-waktu utama yang memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada waktu-waktu lainnya.

Di antara momentum utama yang terpenting dalam setiap pekan adalah: 

1.   Puasa hari Senin dan Kamis.
2.   Hari Jum’at—hari ini dimanfaatkan untuk perkara-perkara berikut:
      a. Membaca al-Qur`an.
      b. Memperbanyak shalawat pada Nabi.
      c. Mandi pada hari Jum’at.
      d. Memakai minyak wangi dan bersiwak.
      e. Bersungguh-sungguh dalam berdoa agar bisa menepati waktu saat terkabulnya doa.
      f.  Bersegera pergi dengan berjalan kaki ke tempat pelaksanaan shalat Jum’at.
 
→ Cara Kesebelas: Kiat Menundukkan (Taskhir).

Yang kami maksudkan dengan istilah taskhir ialah seorang mukmin menggunakan semua kemampuannya dan nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya untuk berkhidmat pada agama-Nya dan membantu saudara-saudaranya sesame kaum mukmin.
Dengan kata lain, setiap muslim menundukkan segala sesuatu di jalan Allah.
Bidang-bidang taskhir:
a) Taskhir khalqi (menundukkan anggota tubuh): pendengaran, penglihatan, hati, akal dan selainnya.
b) Taskhir Iktisabi, yaitu apa yang bisa dilakukan seseorang dan ditundukkannya untuk tujuan yang dibawa Islam. Seperti menundukkan peluang, momentum, ilmu, penemuan, dan waktu untuk berkhidmat pada Islam dan pemeluknya.
Dengan taskhir inilah akan tercapai kesempurnaan syukur, kesempurnaan pahala, dan sandaran taufik dan kemenangan.

→ Cara Kedua belas: Mengalihkan Kebiasaan Menjadi Ibadah dengan Niat yang Baik.

Semua perbuatan mubah yang dilakukan dilakukan seorang muslim bisa dirubah menjadi ketaatan dan ibadah yang menyebabkan seseorang mendapatkan ribuan pahala, dengan syarat “ketika melakukan perbuatan-perbuatan mubah ini seorang muslim meniatkannya sebagai taqarrub dan beribadah kepada Allah”. Tidak ada suatu pun dari kemubahan dan kebiasaan melainkan bisa diisi satu niat atau lebih yang menjadikannya sebagai ibadah dan pelakunya meraih derajat-derajat yang tinggi dari Rabb bumi dan langit.
Sebagian salaf mengatakan, “Sungguh aku benar-benar menyukai bila memiliki niat dalam segala sesuatu, hingga dalam makan, minum, tidur, dan saat aku masuk ke dalam kakus.” Semua itu bisa diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Contoh penerapan cara ini:

1. Ia memakai wewangian—dan ia meniatkannya untuk mengikuti Sunnah, menghormati masjid, dan menghilangkan bau tidak sedap yang bisa mengganggu temannya.

2. Ia meniatkan makan dan minumnya sebagai ketakwaan kepada Allah. Karenanya, seorang tidak boleh meremehkan langkah dan waktu, dan karunia Allah itu luas.

Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa yang senang amalannya disempurnakan untuknya, maka hendaklah ia menyempurnakan niatnya. Karena Allah memberi pahala kepada hamba bila niatnya baik, hingga suapan sekalipun.”

→ Cara Kedua belas: Memanfaatkan Momentum Utama Tahunan.

Ada beberapa momentum utama yang tidak berulang pada tahun itu kecuali hanya sekali. Karena itu, seorang muslimyang berkeinginan untuk meraih pahala hendaklah tidak membiarkannya luput darinya. Kerena bisa jadi ia tidak menjumpainya di tahun depan. Momentum-momentum tersebut di antaranya:
1. Bulan Ramadhan.
2. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
3. Bulan Muharram.
4. Hari Arafah.
5. Hari Asyura’.
6. Bulan Sya’ban.
7. Sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.
8. Melakukan Qiyamul Lail pada Lailatul Qadar.
Karenanya, saudaraku, buatlah program tersendiri untuk tiap-tiap momentum dari momentum-momentum tersebut dan manfaatkanlah untuk ketaatan pada Allah.
Ibadah itu menjadi utama bila dilaksanakan pada waktu yang utama.

Cara Keempat Belas: Menolong dan Membantu.

Misalnya, barangsiapa yang menolong seorang muslim untuk berjihad dengan menyiapkan apa yang dibutuhkannya dalam perjalanannya atau mengurusi keluarganya semasa kepergiannya, maka ia mendapatkan seperti pahalanya dan jihadnya. Seperti halnya orang yang membantu orang lain untuk berjihad, ialah setiap orang yang membantu dalam kebaikan.

Demikian pula orang yang menjadi sebab dalam ketaatan atau membantu atas perkara itu, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana ia mengerjakannya secara langsung.

Hal itu didasarkan pada sabda Nabi:
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barangsiapa menyiapkan seseorang untuk berperang di jalan Allah, maka sesungguhnya ia telah berperang. Barangsiapa yang mengurusi keluarga orang yang berperang, maka ia telah berperang.” (Muttafaq ‘alaih)
Imam an-Nawawi mengatakan tentang sabdanya, “Maka ia telah berperang,” yakni ia mendapatkan pahala karena sebab peperangan.”

Bentuk Pertolongan dan Bantuan:
a) Dengan harta, sebagaimana yang dilakukan Utsman bin Affan ketika menyiapkan sepuluh pasukan.
b) Dengan pikiran dan usulan, sebagaimana yang dilakukan Salman al-Farisi pada saat perang Khandak.
c) Dengan dakwah, menyebarkan ilmu dan mengajarkan kepada masyarakat, sebagaimana yang dilakukan Mush’ab bin Umair di Madinah.
Karen itu, saudaraku sesama muslim, jadilah Anda sebagai penolong dan pembela saudara-saudara Anda sesama kaum mukmin, sehingga Anda mendapatkan pahala yang besar dan banyak karenanya.

Cara Kelima Belas: Menganekaragamkan Bidang-bidang Ibadah.

Bidang-bidang kebaikan dan pintu-pintu ketaatan itu banyak dan beraneka macam. Keadaan mukmin yang benar ialah ia memiliki saham kebaikan dari tiap-tiap “harta rampasan” (yakni amalan) itu agar ia termasuk golongannya pada hari kiamat. Imam an-Nawawi mengatakan, “Ketahuilah bahwa siapa saja yang telah mendengar sesuatu dari keutamaan amal, maka sudah sepatutnya ia mengamalkannya walaupun sekali agar ia menjadi golongannya.”

Karena Islam yang lurus ini menginginkan setiap muslim agar mencapai kesempurnaan yang ditentukan untuknya secara rapi dan dalam semua urusannya. Ia tidak puas dengan satu aspek ibadah dan membiarkan yang lainnya. Bersasarkan hal inilah para sahabat memahami idealisme Islam. Mereka tidak puas hanya dengan satu ibadah, tapi mereka melakukan semua ibadah. Ketika shalat, mereka shalat di masjid. Dalam halqah ilmu, mereka duduk, baik untuk mengajarkannya maupun untuk belajar. Ketika berjihad, mereka berperang. Ketika dalam kesusahan dan musibah, mereka saling memberi dan membantu.
Demikianlah keadaan mereka dalam semua ihwal. Sejauh mana bidang-bidang ibadah beraneka macam, maka sejauh itu pulalah pahala yang akan mereka peroleh dari Allah.

Cara  keenam belas, memunculkan niat baik dan menyibukkan hati dengannya.[1]

Nabi bersabda dalam hadits qudsi yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً
“Sesungguhnya Allah mencatat kebajikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskan hal itu: Barangsiapa berniat kebaikan dan belum mengerjakannya, maka Allah mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna….” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits ini disebutkan bahwa siapa yang berniat baik, maka ditulis untuknya satu kebajikan meskipun belum melakukannya. Karena niat yang baik itu sebab pengamalannya, dan sebab kebaikan adalah kebaikan.
Barangsiapa benar yang benar dalam niatnya dan ikhlas karena Allah, maka derajatnya naik, pahalanya bertambah, pahalanya menjadi besar, dan kedudukannya menjadi tinggi.
Hal itu didasarkan pada sabda Nabi:

وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ
“…dan beribadah, maka Allah mengaruniakan ilmu kepadanya dan tidak mengaruniakan harta kepadanya, sedang ia jujur dalam niatnya, (sehingga) ia mengatakan, ‘Seandainya aku diberi harta, niscaya aku melakukan sebagaimana yang dilakukan fulan.’ Maka, dengan niatnya itu, pahala keduanya sama.” (HR. At-Tirmidzi)
Karena itu, sibukkanlah hati Anda dengan niat baik. Selagi Anda berrniat baik, maka Anda berada dalam kebajikan.

→ Cara Ketujuh Belas: Memilih Ibadah Paling Utama di Sisi Allah.

Tidak diragukan lagi tentang perbedaan keutamaan dari amal-amal shalih dari segi pahalanya. Kaidah tentang ibadah paling utama adalah sebagaimana yang dikatakan Ibnu al-Qayyim, “Ibadah paling utama ialah beramal karena mengharapkan ridha Allah dalam segala waktu dengan amalan yang dituntut dan diperintahkan pada waktu itu.”

Contoh-contoh berdasarkan kaidah tersebut:
1) Yang paling utama pada waktu-waktu shalat ialah melaksanakan shalat dengan sesempurna mungkin dan bersegera melakukannya di awal waktu.
2) Yang paling utama pada waktu-waktu adzan ialah sibuk menjawab mu’adzin.
3) Yang paling utama pada saat saudaramu sesama muslim sakit atau meninggal ialah menjenguknya, menghadiri jenazahnya dan mengantarkannya.
5. Yang paling utama pada waktu sahar (menjelang fajar) ialah menyibukkan diri dengan shalat, membaca al-Qur’an, dzikir dan istighfar.
* Karena itu, setiap muslim hendaklah berusaha mencari apa yang paling dicintai Allah dalam situasi dan kondisi apa pun, lalu bersegera melakukannya dan mendahulukannya daripada yang lainnya.

→ Cara Kedelapan Belas: Memberikan Manfaat Kepada Kaum Kerabat.

Bersedekah kepada kaum kerabat adalah lebih utama daripada sedekah kepada orang lain yang bukan kerabat, jika mereka membutuhkan, karena di dalamnya terdapat dua pahala: pahala sedekah dan pahala menyambung kerabat. Sebagaimana dalam kisah Maimunah ketika memerdekan budak wanita:

لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ
“Sendainya engkau memberikannya kepada paman-pamanmu (dari pihak ibu), maka itu lebih besar untuk pahalamu.” (HR. Muslim)
Beliau bersabda:
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
“Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah, dan kepada kerabat adalah sedekah sekaligus silaturrahim.” (HR. At-Tirmidzi)
Karena itu, setiap orang harus memilih jalan-jalan kebajikan yang paling banyak pahalanya. Sedekah kepada kaum kerabat pahalanya berlipat ganda, karena ini berisikan pahala sedekah dan pahala menyambung kerabat.

→ Cara Kesembilan Belas: Menyesal Karena Luput Mendapatkan Pahala.

Di antara tanda sehatnya hati mukmin, ialah jika ia terluput mengerjakan wiridnya atau salah satu ketaatan, maka ia menyesalinya karena luput mendapatkan pahala, sebagaimana dalam kisah Ibnu Umar ketika mendengar Abu Hurairah menuturkan hadits:

مَنْ خَرَجَ مَعَ جَنَازَةٍ مِنْ بَيْتِهَا وَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ تَبِعَهَا حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ مِنْ أَجْرٍ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُحُدٍ
“Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk mengikuti jenazah dan menshalatkannya, kemudian mengikutinya hingga dikuburkan, maka ia mendapatkan pahala dua qirath, setiap qirath seperti bukit Uhud. Barangsiapa menshalatkannya, kemudian pulang, maka ia mendapatkan pahala seperti bukit Uhud.”
Maka Ibnu Umar mengatakan sebagai bentuk penyesalan atas luputnya pahala, “Sungguh kami telah melewatkan banyak qirath.” (HR. Muslim)

An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini berisikan keinginan sahabat dalam melaksanakan ketaatan ketika hal itu terdengar oleh mereka, dan menyesali apa yang terluput dari mereka.”


[1] Faidah: Ada beberapa niat yang harus senantiasa menyertai diri seseorang:
1) Niat mencari akhirat. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan at-Tirmidzi, “Barangsiapa akhirat menjadi keinginannya, maka Allah memasukkan kecukupannya dalam hatinya, mengumpulkan keterserakannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan suka cita….” (Hadits)
2) Niat jihad fi sabilillah. Beliau bersabda, “Barangsiapa  mati dalam keadaan tidak pernah berperang dan tidak pula meniatkannya dalam hatinya, maka ia mati di atas cabang kemunafikan.” (HR. Muslim)
3) Niat Qiyamul Lail. Nabi bersabda, “Barangsiapa menempati tempat tidurnya dalam keadaan berniat untuk melakukan shalat malam, lalu kedua matanya terlelap hingga Shubuh, maka dicatat untuknya sebagaimana yang diniatkannya, dan tidurnya itu sebagai sedekah untuknya dari Rabbnya.” (HR. An-Nasa’i)
http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward-bag-3/
 

0 comments: