Kisah Kisah Sahabat Nabi SAW dalam Berinfak dan Mengorbankan Harta

Filed under: by: 3Mudilah

Setelah Rasulullah SAW, tidak ada sosok manusia lainnya yang layak dijadikan suri tauladan bagi kaum muslim dan umat manusia kecuali para sahabat.
Mereka adalah orang-orang hasil tempaan dan didikan Rasulullah SAW sendiri selama puluhan tahun.
Menampilkan iman yang dahsyat, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang sempurna, keteguhan hati yang sukar dicontoh. Pendek kata, dari sisi manapun kita melihatnya, sosok dan kepribadian sahabat-sahabat Nabi SAW bisa menjadi pelita bagi kita.
Kisah mengenai sosok manusia yang nyata dan pernah hidup didunia.
Untuk menjamin orisinalitas dan kebenaran kisah-kisah tersebut, digunakan metodologi pengambilan kisah berdasarkan metode yang biasa digunakan para ahli hadits.
Menggambarkan pengorbanan mereka terhadap harta, pandangan mereka terhadap kenikmatan dunia, dan keyakinannya terhadap janji Allah diakhirat kelak, yang bermuara pada kebahagian yang bersifat abadi.

==================================================
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(TQS. al-Hasyr[59]:18 )
“ Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu saja. Dan kamu telah Bersenang-senang dengannya”
(TQS. al-Ahqaf [46]:20 )
“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),”
(TQS. al-Ma’arij [70]:24-25 )
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.
(TQS. Ali-Imran [3]:92)
Di dalam harta itu berserikat tiga perkara :
          1. Musnah (berkurang)
          2. Kematian
          3. Waris (akan dibagi-bagikan)
Ketahuilah, yang paling indah adalah :
Aku mendahulukan(menyerahkan) dari diriku sendiri harta yang paling aku cintai
 ========================================
Sikap Zuhud Nabi Muhammad SAW Terhadap Dunia
Wahai Nabi Allah,
bagaiamana aku tidak menangis jika tikar itu menampakkan bekasnya pada punggungmu. Dan kepunyaanmu adalah hanya apa yang bisa dilihat ini, sementara Kisra dan Kaisar mempunyai (kebun) buah-buahan dan berbagai sungai. Padahal engkau adalah Nabi Allah dan orang terpilih, tapi cuma ini harta yang engkau miliki!
Nabi SAW berkata:
“Mereka itu disegerakan (dengan memperoleh kenikmatan dunia), dan hal itu akan segera sirna, sedangkan kita adalah kaum yang (kebahagian dan kenikmatannya) diakhirkan diakhirat kelak.
Aku tidak terlalu perduli dengan (kenikmatan) dunia. Pemisalanku diatas dunia bagaikan seseorang tengah menunggangi hewannya pada hari yang terik, kemudian berteduh dibawah pohon sejenak. Setelah beristirahat maka ia pun pergi lagi meninggalkannya.
Bagaimana denganmu wahai Ibnu Umar, terhadap suatu kaum yang suka menyimpan-nyimpan harta mereka (untuk persedian) selama satu tahun, bukankah itu menunjukkan lemahnya kenyakinan mereka ? ”
Tidak lama setelah itu Allah menurunkan ayat-Nya:
”Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(TQS. Al-Akabut[29]: 60 )

==========================================================================================
Abu Bakar Shiddiq
Mengembalikan Harta

Dulunya aku adalah seorang pedagang dan sibuk mengurusi (harta) dagangan. Tapi sejak aku mengurusi mereka (kaum Muslim), kesibukanku beralih dari mengurusi perniagaan menjadi mengurusi ( masyarakat).”
Tatkala Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah, para sahabat Rasulullah SAW berkata: ”Apakah kalian mau memberikan kepada Khalifah Rasulullah SAW (keperluan) hidupnya?
Mereka menjawab:
Ya. Yaitu pakaian untuk dua musim (panas dan dingin), jika sudah rusak bisa ditukar, hewan tunggangan dan nafkah untuk keluarganya, yang nilainya sama seperti keperluannya pada waktu belum menjabat sebagai Khalifah.
Abu Bakar berkata : ”Aku ridha.” Dituturkan : Abu Bakar diberi santunan untuk dua tahun sebesar delapan ribu dirham. Ketika Abu Bakar merasa ajalnya mendekat ia berkata:
”Aku pernah berkata kepada Umar : ”aku khawatir aku tidak mampu makan dari harta itu sedikitpun. Maka jika aku meninggal ambillah dari hartaku sebesar delapan ribu dirham lalu serahkan ke Baitul Mal!”
Ketika hal itu disampaikan kepada Umar, ia berkata: ”Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Bakar. Ia telah membuat sulit para Khalifah yang datang setelahnya.”
Abu Bakar ditanya mengapa ia membagi-bagikan harta secara sama rata. Ia menjawab:
Kelebihan satu diantara lainnya hanyalah disisi Allah. Adapun tentang masalah ini merupakan kehidupan (dunia), dan memperlakukan sama rata adalah hal baik.”

=================================================
Umar bin Khaththab
Takut dengan kesenangan dunia dan menangisinya
Seseorang berkata: Wahai Amirul Mukminin, lebih baik engkau sisakan harta ini untuk keperluan perang atau keperluan mendadak!”
Umar berkata: Semoga Allah membinasakanmu, karena ucapanmu itu disusupi setan. Dan semoga Allah melindungiku dari ucapanmu. Demi Allah, aku tidak ingin melakukan maksiat kepada Allah hanya karena menahan harta hari ini untuk keperluan esok.Aku tidak ingin menyisakan fitnah (berupa harta) kepada orang-orang sepeninggalku nanti.Apakah aku harus melakukan maksiat kepada Allah pada tahun ini hanya karena kekhawatiran terhadap masa (tahun) depan. Aku hanya mempersiapkan masyarakat agar bertakwa kepada Allah.”
Sebab Allah SWT berfirman:
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya
 ( TQS. At-Thalaq[65]: -3)
Bahwa Umar bin Khaththab melihat seorang perempuan yang badannya kurus. Ia bertanya: Anak perempuan Siapa itu?”
Abdullah menjawab: Itu adalah salah satu cucu perempuanmu.”
Umar bertanya: Lalu ia anak perempuan siapa?” Abdullah menjawab: Anak perempuanku.”
Umar bertanya lagi: Mengapa ia terlihat kurus?” Abdullah menjawab; Itu karena perlakuanmu, yang tidak memberikan santunan kepadanya.”
Umar berkata: Demi Allah, engkau tidak bisa merasa bangga (dan menguntungkan) dengan orang tuamu. Berusahalah wahai pria sejati.”
Umar pun menangis lalu berkata: Aku hanya berharap mati tanpa ada sisa (beban harta) sedikitpun.”
================================================== 
Utsman bin Affan
Infaknya & Sikap Zuhud

Dituturkan dalam perang Tabuk, Utsman bin Affan berkata:
Aku menyerahkan seratus ekor unta beserta perlengkapannya yang diulangi sebanyak tiga kali.
Hingga aku melihat Rasulullah membentangkan tangannya seperti orang takjub, seraya berkata: ”Tidak ada yang dilakukan seperti Utsman setelah hari ini.”
Dikesempatan lainnya, Utsman menyerahkan uang sepuluh ribu dinar untuk membantu pasukan yang diterima oleh Rasulullah seraya mendoakan Utsman:
”Semoga Allah mengampuni wahai Utsman, baik terhadap kesalahan-kesalahanmu yang dirahasiakan, yang tersembunyi maupun yang terlihat, dan seperti itu hingga tibanya Kiamat. Tidak ada perbuatan yang lebih baik lagi dari ini setelahnya.”
Dia itu Amirul Mukminin, dia itu Amirul Mukminin, bahwa Utsman berjalan kaki ke masjid dengan bertelanjang kaki. Kain yang dikenakannya adalah kain yang kasar, yang harganya empat atau lima dirham dan mengenakan ikat kepala yang murahan.
Rasulullah SAW berkata
“Juallah sumur itu kepadaku dengan mata air di surga”.
Berita itu didengar oleh Utsman  yang membeli sumur tersebut seharga tiga puluh lima ribu dirham. Setelah itu mendatangi Nabi SAW dan berkata:
“Wahai Rasulullah, apakah engkau tetap memberikan kepadaku mata air disurga, sebagaimana yang pernah dikatakan kepadanya jika aku menjualnya?”
“Ya” jawab Rasul. Dikatakan: ”Aku telah membeli sumur itu, dan aku berikan kepada kaum Muslim.”
================================================
Ali bin Abi Thalib
Sikap zuhud
Seorang pengemis berhenti di depan Amirul Mukminin Ali, maka Ali berkata kepada Hasan atau Husen. Pergilah kepada Ibumu, dan katakanlah kepadanya:
“Aku menyisakan padanya enam dirham, Ambilkan yang satu dirham.”
Segera saja berangkat, lalu segera kembali dan berkata: Fatimah berkata :
”Aku sisakan enam dirham itu untuk membeli tepung.” Ali berkata:
”Tidak dipercaya iman seseorang hamba kecuali apa yang ada ditangannya. Kalau begitu katakan kepada ibumu: Berikan padaku enam dirham.”
Maka yang enam dirham itu diberikan Fatimah kepada Ali, dan langsung diberikan kepada pengemis tadi.
Tidak lama kemudian seorang lelaki lewat dengan menuntun untanya untuk dijual. Ali bertanya: ”Berapa harga untamu?” Dijawabnya: ”Harganya seratus empat puluh dirham.” , ”Kalau begitu tambatkan unta itu, Aku akan membayarnya kemudian,” ujar Ali. Lelaki itu menambatkan unta kemudian berlalu.
Setelah itu seorang lelaki menghampiri dan bertanya: ”Milik siapakah unta ini?”
Ali menjawab: ”Unta itu milikku”, ”Apakah engkau hendak menjualnya?,” tanya lelaki itu. ”Ya,” jawab Ali. ”Berapa?,” tanya lelaki tersebut. Dijawab Ali: ”Dua ratus dirham.” Lelaki tersebut berkata: ”Aku beli unta itu.”
Dituturkan: Unta tersebut diambilnya dan Uang dua ratus dirham diserahkan. Ali kemudian menyerahkan uang seratus empat puluh dirham kepada Penjual unta yang pertama, dan sisanya enam puluh dirham diserahkan kepada Fatimah. Fatimah bertanya:”Uang dari mana ini?” Dijawab: ”Inilah yang dijanjikan Allah kepada kita melalui lisan Nabi-Nya SAW.”
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya (TQS. Al-An’am[6]: 160 )
=================================================
Ummul Mukminin

Kepada Aisyah datang uang sebanyak seratus ribu dirham. Ia segera membagi-bagikan uang itu hingga habis, padahal ia hari itu tengah berpuasa. Aku berkata kepadanya: ”Apa tidak lebih baik engkau sisakan satu dirham untuk membeli daging guna engkau berbuka nanti?” Ia menjawab: ”Kalau engkau (sebelumnya) mengingatkanku aku pasti akan lakukan.”
Bahwa Umar pernah mengirimkan kepada Saudah satu karung berisi uang dirham. Saudah bertanya: ”Apa ini?”
Mereka menjelaskan: (didalamnya ada) uang dirham. Saudah berkata: ”Apa yang ada di dalam karung ini seperti layaknya kurma.” Maka ia pun membagi-bagikan uang itu.
Zainab binti jahsy menerima uang setiap tahunnya sebanyak dua belas ribu dirham. Suatu saat ia menerima uang (pemberian) itu, lalu berdoa: ”Ya Allah, aku tidak ingin mendapatkan harta (uang) ini lagi pada tahun berikutnya, karena ini merupakan ujian.”
Setelah itu ia membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang miskin dan membutuhkan. Peristiwa itu sampai kepada Umar, seraya berkata: ”Wanita itu hanya menginginkan kebaikan dengan hartanya.”
“Orang yang lebih dahulu menyusulku (maksudnya meninggal) adalah orang yang paling panjang tangannya.”
Yang dimaksud oleh Rasulullah SAW adalah Zainab, ia orang  yang biasa bekerja dengan menggunakan kedua tangannya, memintal manik-manik, dan menginfakkan hasilnya fi sabilillah.
Aisyah senang mengumpulkan harta sedikit demi sedikit, dan jika sudah terkumpul maka ia bagi-bagikan.
Sedangkan Asma’, ia tidak pernah menyimpan-nyimpan (menahan) harta meskipun untuk esok hari
=================================================
Infaknya
Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf bin Harits bin Zuhrah, seorang sahabat asal Quraisy dari suku Zuhri adalah di antara orang yang masuk Islam dari sejak dini dan termasuk sepuluh orang yang diproyeksikan  oleh Rasulullah SAW serta termasuk enam orang konsultan Nabi. Beliau mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah termasuk perang Badar. Beliau meninggal di Madinah dan dimakamkan di Baqi`
”Di hadapan kami terhampar (kekayaan) dunia. Sungguh aku sangat khawatir jika kebaikan (pahala) kami itu disegerakan datangnya kepada kami (di dunia)!”
Bahwa Abdurrahman bin Auf mengunjungi Ummu Salamah, lalu berkata
”Wahai Ibu, aku khawatir aku binasa karena hartaku, sedangkan aku ini orang Quraisy yang paling banyak hartanya.” Ummu Salamah berkata:
”Wahai anakku, kalau begitu infakkan saja!”
Karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
”Sesungguhnya dari sebagian sahabatku ada yang tidak bisa melihatku setelah aku meninggal.”
Rasulullah SAW bersabda:
”Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan cara merangkak.”
Seandainya memungkinkan aku ingin masuk surga dengan berjalan.
Setelah itu ia menginfakkan seluruh unta-unta (yang baru datang tersebut) beserta dengan hasil perdagangan yang diangkutnya dijalan Allah.
Seluruh hartanya itu diperoleh dari hasil perdagangannya.
 ========================================
Sikap Zuhud
Abu Ubaidah Bin Jarrah

Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah. Sahabat asal Quraisy ini termasuk sepuluh sahabat yang diproyeksikan oleh Nabi SAW. Beliau ini dijuluki dengan pemegang amanat kaum Muslimin yang sempat mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah SAW. Dia termasuk komando dalam penaklukan Syam (Suriah, Libanon, Yordan dan Palestina sekarang). Ayahnya termasuk pasukan musyrikin yang berhasil ditumbangkan dan dibunuhnya.
Disebutkan bahwa ada seseorang mendatanginya, sedangkan Abu Ubaidah sedang menangis.
”Mengapa engkau menangis wahai Abu Ubaidah? ”
Dijawabnya: ”Sekarang aku lihat rumahku penuh dengan harta.Dan aku lihat dipekaranganku penuh dengan unta dan kuda. Maka bagimana aku bisa berjumpa dengan Rasulullah SAW setelah ini.”
Rasulullah SAW telah menasehati kami seraya berkata :
”Orang yang mencintaiku dan paling dekat denganku nanti adalah yang kondisinya sama tatkala berpisah denganku.”
Tatkala Umar tiba di daerah Syam, Umar bertanya:
Dimana gerangan saudaraku?
Orang-orang bertanya: Siapa?
Umar menjelaskan: Abu Ubaidah.
Ketika keduanya bertemu, mereka berpelukan. Setelah itu Umar masuk ke tempat tinggalnya.
Tidak ada sesuatu apa pun dirumahnya selain dari pedang, perisai dan kudanya
=================================================
Sikap Zuhud
Mush’ab bin Umair, Utsman bin Madh’un

Rasulullah SAW melihat kearah Mush’ab bin Umair. Ia mengenakan pakaian (yang terbuat dari kulit kasar)
Nabi SAW berkata:
”Perhatikan oleh kalian, orang yang telah Allah berikan cahaya dalam hatinya.”
”Aku pernah menyaksikannya (dulu) dirumahnya ia selalu makan makanan yang enak dan minum-minuman yang lezat .Aku pernah melihat ia mengenakan pakaian yang harganya dua ratus dirham.”
”Semua itu ia tinggalkan. Ia lebih suka (menyambut seruan) Allah dan lebih mencintai Rasul-Nya, sebagaimana kalian lihat.”
”Bagaimana menurut kalian bahwa kelak kalian akan (menjumpai suatu masa dimana kalian) bisa berganti Pakaian yang bagus-bagus, dihidangkan kehadapan kalian berbagai makanan lezat berganti-ganti, dan Rumah-rumah kalian akan berhiaskan kain sebagaimana Ka’bah?”
Mereka menjawab:
”Kami sangat menginginkannya wahai Rasulullah, karena kami dapat hidup tenang.”
Beliau SAW berkata:
”Keadaan itu pasti akan terjadi, tetapi kalian saat ini lebih baik dibandingkan mereka.”
”Karena jika kalian sudah mengenal dunia, kalian akan merasa terbuai dengan (kenikmatan)nya.”
=================================================
Sikap Zuhud
Salman Al Farisi

Salman Al Farisi yang dulunya penganut agama Majusi dari Persia ini berangkat meninggalkan kampung halamannya dengan suatu tujuan mencari agama yang benar.
Pertama sekali dia menganut agama Kristen, dia ditawan dan dijual dan berpindah-pindah tangan, terakhir sampai ke Madinah lalu dibeli dan dimerdekakan oleh Rasulullah SAW.
Beliau inilah yang mempunyai ide penggalian parit dalam perang Khandak. Beliau mengikuti semua peperangan termasuk penaklukan Irak, kemudian dia diangkat sebagai pemerintah di Madain
Aku mendengarnya ( Salman ) berkata:
 “Aku membeli daun kurma seharga satu dirham. Lalu aku anyam dan kujual seharga tiga dirham. Satu dirham untuk modal, satu dirham lagi untuk keluargaku, dan satu dirham sisanya untuk di sedekahkan.”
Seandainya Umar bin Khatathab melarangku untuk melakukan ini, maka aku tidak akan berhenti.
Sementara ia adalah seorang Amir (kepala Daerah) yang membawahi tiga puluh ribu kaum Muslim. Setiap tahunnya mendapatkan lima ribu dirham, setiap kali memperoleh maka saat itu juga habis dibagi-bagikan(kepada masyarakat), ia sendiri makan dari hasil usahanya sendiri.
Cukuplah, cukuplah. Karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“ Sesungguhnya orang yang sering kenyang di dunia maka di akhiratnya akan lapar berkepanjangan.”
”Wahai Salman, sesungguhnya dunia itu adalah penjara (bagi) orang mukmin, dan surga (bagi) orang kafir.”

 source :  Hayatu as-Shahabati   Pustaka Thariqul Izzah 2005

0 comments: