Kedahsyatan Memelihara Anak Yatim

Filed under: by: 3Mudilah


Oleh-oleh dari MaBIT Majlis Al-Kauny IX  (Bagian 2)

Pembicara lainnya pada MaBIT kali ini adalah Bapak Houtman Zainal Arifin dan Bayu Gawtama. Dalam pengantarnya Pak Houtman mengungkapkan pentingnya perhatian dan kasih sayang dalam mendidik anak. “Saat ini banyak anak yang menjadi yatim (sebelum masanya) karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya,” ujar ex Vice President Citibank ini. Karena kasih sayangnya itulah, ia rela menjadi pemulung selama dua puluh tahun lebih. 


Memulung? Ya, sejak 20-an tahun lalu, setiap jelang tengah malam beliau berkeliling Jakarta mendatangi hotel-hotel untuk mengumpulkan roti-roti sisa (yang oleh pihak hotel roti tersebut tak boleh lagi dihidangkan esok hari) lalu membawanya ke penampungan-penampungan dan yayasan-yayasan anak yatim yang tersebar di berbagai wilayah. 


Lalu, adakah kesulitan dalam mengasuh anak yatim? “Kalau kita punya kemauan, tidak ada yang mustahil, inysa Allah,” jawabnya singkat saat ditanya mengenai kesuksesannya dalam membina ratusan—bahkan ribuan—anak yatim. 


Dia mengisahkan, pada tahun 1984 lalu, Pak Houtman mengundang Muhammad Ali, sang petinju legendaris, bertandang ke rumahnya—dimana terdapat banyak anak yatim. Kala itu, Ali sedang ditimpa sakit parkinson: tidak dapat bergerak bebas dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat berjalan layaknya orang sehat. Namun, saat berkunjung ke rumah beliau, Ali tampak sangat sehat. Ia melangkah, berlari-lari dan bermain dengan bebasnya bersama anak-anak yatim layaknya orang sehat. Bahkan ia naik turun tangga antara lantai bawah dan lantai atas sembari menggendong anak yatim layaknya seorang yang segar bugar. 


Kisah lainnya, beliau pernah menemukan seorang bayi yang dibuang oleh ibunya. Punuknya memanjang hingga ke punggungnya. Kedua kakinya saling menyilang, demikian pula tangannya. Mungkin karena itulah sehingga orangtuanya membuangnya, hingga muka bayi tersebut sampai dikerumuni oleh semut. 


Merasa iba melihat bayi tersebut, setelah melalui diskusi dengan anggota keluarganya, beliau membawa bayi itu ke rumahnya. Saat sampai di rumah, beliau merasakan ada sesuatu yang berbeda; rumah yang tadinya terlihat dan terasa sempit tiba-tiba menjadi lapang dan luas. Luar biasa! “Setelah kejadian itu, keajaiban demi keajaiban terus terjadi mengiringi kami,” kenangnya.  


Namun, selang beberapa hari kemudian, bayi itu jatuh sakit. Beliau langsung membawanya ke rumah sakit di bilangan Pondok Indah. Entah karena kondisi bayi yang tak sempurna sehingga pihak rumah sakit menolaknya atau karena sebab lain, kendati kala itu beliau telah memperlihatkan segala bentuk kartu perbankan miliknya sebagai bukti kesungguhan dan kemampuannya untuk membayar seluruh tagihan perawatan.
Karena ditolak, beliau kemudian memacu mobilnya menuju sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Barat dengan harapan bayi itu segera mendapat pertolongan. Sesampainya di sana, ia disambut oleh suster penjaga. Selang beberapa menit kemudian, puluhan dokter berjejer sembari memperhatikan bayi mungil itu. “Mohon ditempatkan di ruang VIP. Saya tidak mau ‘anak saya’ menjadi tontonan orang banyak,” tegasnya kepada para dokter dengan menyebut bayi itu sebagai anaknya. Subhanallah!


Setiap hari beliau bolak balik antara rumah, kantor dan rumah sakit. Tak jarang beliau datang ke rumah sakit dengan pakaian kerja, jas dan dasi yang masih menggantung, karena sayangnya terhadap anak itu.
Waktu terus bergulir, menit demi menit, jam demi jam, dan hari demi hari, namun anak itu belum juga mengalami perubahan signifikan. Saat tenggelam dalam penantian akan kesembuhan “anaknya”, beliau tiba-tiba mendapat berita bahwa tantenya di Semarang meninggal dunia. Beliau langsung menuju bandara diantar oleh sopirnya. 


Namun, sesaat sebelum naik pesawat, ia mendapat telpon dari rumah bahwa “anaknya” meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. “Tante di sana pasti ada yang ngurus. Anak ini siapa yang akan mengurusnya selain saya?!” Pak Houtman membatin. Beliau mengurung niatnya berangkat ke Semarang, demi untuk mengurus anaknya yang baru saja dipanggil oleh SWT. 



Sesampai di rumah sakit, beliau langsung menuju ruang mayat. Subhanallah, di sana beliau mendapati bau yang sangat harum, belum pernah ia mencium bau yang sesejuk dan seharum itu. Bau harum istimewa itu tersebut terus menyertainya sepanjang jalan hingga sampai ke kuburan. 


Setelah anak itu dimasukkan ke laing lahad, salah seorang teman, sebut saja namanya Sukanto, meminta izin kepada beliau untuk turun mendoakannya. “Karena saya menilai niatnya baik, maka saya tak dapat melarangnya,” ujarnya. 


Namun, setelah puluhan menit Sukanto berdo’a, ia belum juga berdiri. Ia tak mau beranjak dari kuburan tersebut. Saat ditanyakan alasannya, Sukanto menjawab, “Saya melihat pemandangan yang indah sekali. Sebuah pemandangan yang tiada taranya,” jawabnya.


Setelah pemakaman usai saya berdiri mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan yang telah turut menyertai anak kami. “Satu hal yang sengaja saya tak lakukan adalah meminta maaf seperti yang lazim dilakukan banyak orang, karena saya yakin betul anak itu tak memiliki kesalahan apapun, sehingga saya tidak perlu memohon maaf,” tegasnya.



Kisah demi kisah terus mengalir dari lisan Pak Houtman, membuat para peserta MaBIT terharu, bahkan banyak di antara mereka yang meneteskan air mata. “Sayangilah anak-anak kalian. Jangan biarkan mereka yatim. Dunia ini sudah penuh dengan anak yatim,” tegasnya menutup kalimatnya sebelum tanya jawab.





http://www.kaunee.com/index.php?option=com_content&view=article&id=713:kedahsyatan-memelihara-anak-yatim&catid=103:majlis-al-kauny&Itemid=82


BUAH DARI BELAJAR & MEMBANTU

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

Sahabat, begitulah dahsyatnya orang-orang yang HAUS ILMU dan SUKA MEMBANTU, maka Maha benarlah apa yang difirmankan Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “ (Qs.Al-Mujaadilah : 11)



Menjadi Direktur atau VP tentu menjadi impian semua orang, karena dianggap pasti bahagia. Sebab itu berada dalam puncak sebuah kehidupan duniawi. Terlebih perjalanan menjadi VP itu diperoleh dari posisi paling bawah yaitu Office Boy. Dulu pernah dihinakan namun sekarang kehidupan berbalik 180 derajat, sangat dihormati dapat menikmati perjalanan keliling dunia dengan pesawat kelas paling mewah.

Dunia seakan sudah ada dalam gengamannya, namun ternyata itu semua belum berarti sama sekali. Masih ada kehampaan dari hidupnya. Sampai suatu malam bertemu dengan seorang anak kecil di sebuha Panti Asuhan di Bulan Ramadhan. 

Tiba-tiba sebuah panggilan menghentakan pikiran, “ hai siapa namamu nak? Tanyaku kepada anak kecil itu” “ nama saya nina om”  “oo Nina ya, sebuah nama yang cantik” ujarku. Mungkin anak ini menginginkan sesuatu dari ku benakku berkecamuk.
“Nina mau minta apa dari om?”  Hatiku ingin memberikan sesuatu malam itu buat Nina.
“ngak kok om, Nina hanya ingin mengantarkan om saja” Jawabnya polos.
“Benar Nina tidak minta apa-apa dari om?”
“Om jangan marah yah, memang Nina sebenarnya mau minta sesuatu dari Om, boleh yah”
“Ayo kata sayang apa permintaanmu itu om tidak marah”
Nina terdiam sebentar untuk meyakinkan diri “ Bolehkan Nina memanggil “ayah” kepada Om, maukah om jadi “ayah” Nina?”
Saya langsung terdiam dan tersungkur dihadapan Nina dan dipeluk erat dan cium Nina anaku, saya sangat terharu sekali malam itu. Sebuah permintaan yang tidak ada harganya di dunia ini.
Episode belum berakhir disini, malam kian larut saya pun pamit kepada Nina dan berjanji besok akan dating lagi dengan membawa hadiah yang diinginkan oleh Nina anakku itu.
“Nak, sekarang sudah larut malam Ayah pulang dulu, Nina mau minta apa tinggal bilang aja nak”
Nina menjawab “ Nga Ayah, … nina sudah senang sekali dengan sudah bisa memanggil Ayah”
“Tidak nak, ayah tidak akan pulang jika Nina tidak meminta sesuatu … lihat uang Ayah sangat banyak sekali, sambil ditunjukan isi dompetnya” “ Kalau Nina tidak minta sesuatu Ayah tidak akan dating lagi kesini” Ujarku
“Benar ayah tidak akan marah kalau Nina minta?
“benar nak ayah tidak akan marah, ayo Nina mau apa?
“Ayah, permintaan Nina hanya satu … ingin foto” ucap Nina
“Foto nak ?”
“Foto Siapa nak?
“Foto Ayah dan Ibu”
“Untuk apa foto itu nak?”
“Foto itu bisa ditunjukkan kepada teman-teman Nina bahwa sekarang sudah punya Ayah dan Ibu”

Kejadian malam itu mengubah pandangan saya selama ini, kehidupan yang saya bangun selama ini untuk kepentingan pribadi saja sehingga ada relung kosong yang belum terisi. Ini mengakibatkan kekosongan itu. Ada hal yang saya lupakan dalam hidup ini adalah memberi. Sukses untuk diri sendiri saja belum cukup. Kita harus dapat memberikan yang terbaik bagi kehidupan ini. 

Seperti yang diceritakan oleh Bp Huotman Zainal Arifin dalam seminar Kubik Leadership hari Ahad 3 Mei 2009 di gedung BDN lantai 25. Jabatan terakhir beliau adalah VP di Citibank Indonesia

0 comments: