AS Geram, Ribuan Dokumen Perang Afghanistan Bocor

Filed under: by: 3Mudilah

Wikileaks membocorkan ribuan dokumen yang menggambarkan buruknya kondisi perang Afghanistan. Korban sipil tak pernah disebut

Hidayatullah.com--Lebih dari 90.000 dokumen militer Amerika Serikat yang memuat detail-detail rahasia perang Afghanistan dipublikasikan di situs Wikileaks.

Ini adalah kebocoran dokumen rahasia terbesar sepanjang sejarah militer Amerika Serikat. Gedung Putih mengecam pembocoran dokumen ini sebagai perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

Dan tiga dokumen utama yang dipublikasikan itu memuat catatan yang berisi pembunuhan warga sipil Afghanistan yang ditutup-tutupi.

Laporan harian The Guardian, Inggris, New York Times dan surat kabar Jerman Der Spiegel mengatakan dokumen-dokumen yang bocor itu mengungkap keprihatinan NATO terhadap Pakistan dan Iran yang dianggap membantu pejuang Taliban di Afghanistan.

Duta besar Pakistan di Washington Hussain Haqqani menegaskan laporan-laporan dalam dokumen-dokumen itu tidak menunjukkan kenyataan di lapangan.

"Amerika Serikat, Afghanistan dan Pakistan adalah mitra strategis. Kami bekerja sama dalam upaya mengalahkan Al Qaida dan sekutunya Taliban baik secara militer dan politik," kata Dubes Husain Haqqani.

Intinya, dokumen-dokumen bocor itu memuat:

1.
Taliban memiliki akses untuk memperoleh misil pencari panas portabel untuk menembak pesawat-pesawat tempur.

2.
Sebuah pasukan khusus Angkatan Darat dan Laut AS terlibat dalam misi untuk menangkap atau membunuh para pimpinan pemberontak.

3. Banyak korban sipil tidak dilaporkan, baik yang merupakan korban bom Taliban atau misi NATO yang salah sasaran.

Wartawan masalah-masalah diplomatik BBC Bridget Kendall mengatakan meski dokumen itu tidak mengungkap laporan-laporan dramatis terbaru.

Namun dokumen-dokumen itu menggambarkan betapa sulit dan buruknya perang Afghanistan dan jumlah korban masyarakat sipil.

Dalam sebuah pernyataan resmi, penasihat keamanan nasional pemerintah AS, Jenderal James Jones mengecap publikasi dokumen-dokumen militer itu.

Jones mengatakan informasi rahasia seperti itu bisa membahayakan tidak hanya untuk nyawa para prajurit Amerika dan sekutunya tapi juga membayakan keamanan nasional AS.

Jones menambahkan dokumen-dokumen tersebut berasal dari tahun antara 2004-2009, sebelulm Presiden Barack Obama menyampaikan strategi baru perang Afghanistan yang diikuti penambahan personil militer di negeri itu.

Sementara itu, seorang pejabat tinggi AS mengatakan situs Wikileaks, yang mengkhususkan diri mempublikasikan materi-materi rahasia yang diperoleh dari para peniup peluit (whistleblower), bukanlah konsumsi pemberitaan.

Pejabat itu bahkan menyebut Wikileaks sebagai sebuah organisasi yang menentang kebijakan pemerintah AS di Afghanistan.

Situs Wikileaks mempublikasikan serangkaian dokumen dengan judul Buku harian Perang Afghanistan. Wikileaks mengatakan telah menunda publikasi sekitar 15.000 laporan dari arsip itu sebagai bagian dari proses mengurangi kerusakan yang diminta oleh beberapa 'sumber'.

Sedangkan The Guardian dan New York Times, yang mempublikasikan laporan Wikileaks itu, mengatakan tidak pernah berhubungan langsung dengan sumber pembocor dokumen itu. Namun, kedua surat kabar itu menghabiskan waktu beberapa pekan untuk melakukan konfirmasi soal kebenaran informasi itu.

Publikasi ribuan dokumen itu muncul ketika NATO tengah melakukan investigasi tewasnya 45 orang warga sipil Afghanistan akibat serangan udara NATO di Provinsi Helmand, Jumat pekan lalu.

Meski dalam ivestigasi awalnya NATO tidak menemukan bukti adanya kesalahan misi, namun seorang wartawan BBC yang sempat mewawancarai beberapa orang penduduk desa Regey menemukan pengakuan bahwa banyak warga yang menyaksikan insiden itu.

Mereka mengatakan serangan itu dilancarkan siang hari saat puluhan orang berlindung dari sengitnya pertempuran di desa tetangga, Joshani.

Juru bicara NATO Letkol Chris Hughes mengatakan pasukan multi nasional sudah melakukan kerja luar biasa untuk mencegah korban warga sipil.

"Pasukan Keamanan Internasional sangat mengutamakan keamanan warga sipil Afghanistan," kata Letkol Hughes dalam pernyataannya.[bbc/hidayatullah.com]


Bocornya Dokumen Perang Semakin Sudutkan Obama
Barack Obama
 
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Kebocoran dokumen rahasia mengenai perang di Afghanistan semakin meningkatkan keraguan keabsahan perang tersebut di kalangan rakyat Amerika Serikat (AS). Kemampuan Washington untuk melindungi rahasia militer pun menjadi bulan-bulanan publik dalam negeri.

Sementara Gedung Putih menyebutkan, pengungkapan rahasia tersebut sebagai hal yang mengkhawatirkan. Kebocoran 90 ribu lebih dokumen perang itu merupakan pengungkapan dokumen rahasia terbesar sepanjang sejarah.

Tekanan atas pemerintahan Presiden AS Barack Obama untuk membela strategi perangnya pun semakin besar, apalagi Kongres siap untuk mengutak-atik anggaran perang di Afghanistan. Para politisi AS meragukan kondisi keamanan Afghanistan yang belum juga dapat ditaklukan AS. Perang melawan Taliban ini menjadi salah satu perang terpanjang AS.

Kebocoran dokumen terjadi saat strategi perang Afghanistan dikecam kongres dan jajak pendapat menyebutkan bahwa mayoritas orang AS tidak lagi berpikir perang Afghanistan layak untuk diperjuangkan. Saat ini, Kongres tengah menyiapkan aturan untuk anggaran perang sebesar 60 miliar dolar AS.

Meskipun oposisi yang kuat di antara kaum liberal yang melihat Afghanistan sebagai pertarungan yang tak dapat dimenangkan, anggota parlemen dari Demokrat harus menyetujui RUU itu sebelum akhir pekan ini atau sebelum reses selama enam pekan.

Senator Joe Lieberman mengatakan, dokumen yang bocor sejauh ini mencerminkan realitas, yang diakui oleh semua orang. "Pemberontakan (Taliban) itu memperoleh momentum selama bertahun-tahun, sementara koalisi kami kehilangan dukungan," ujarnya.

Di tempat terpisah, anggota parlemen dari Partai Republik, Jane Harman, menyatakan, seseorang dengan sengaja ataupun tidak memberikan keuntungan bagi Taliban. Ia juga mengatakan Gedung Putih mengindikasikan kebocoran dokumen itu merupakan kompromi antara sejumlah sumber di Afghanistan.

Juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs menegaskan bahwa dokumen yang bocor adalah periode sebelum pemerintahan Obama. Pemerintah Obama juga membantah hal itu akan menyebabkan perubahan kebijakan dalam perang melawan Taliban.
Red: Endro Yuwanto
Rep:
Wulan Tanjung Palupi
Sumber:
ap
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/07/27/126870-bocornya-dokumen-perang-semakin-sudutkan-obama
 

0 comments: