Wartawan Gedung Putih Berhenti karena Kecam Israel

Filed under: by: 3Mudilah

Wartawati Helen Thomas, 89 tahun, dikecam minggu lalu karena mengatakan Israel harus “segera angkat kaki dari Palestina”.

Seorang wartawati kawakan Gedung Putih, Helen Thomas, pada hari Senin secara mengejutkan pensiun setelah membuat pernyataan yang kontroversial tentang Israel.

Thomas yang berusia 89 tahun bertugas di Gedung Putih sejak tahun 1960 dan telah meliput pemerintahan 10 presiden Amerika.

Perusahaan tempat Thomas bekerja, Hearst, mengumumkan hal itu hari Senin.

Minggu lalu, Thomas dikecam karena mengatakan Israel harus “segera angkat kaki dari Palestina” dan menambahkan warga Yahudi sebaiknya kembali ke kampung halaman mereka di Jerman, Polandia atau Amerika.

Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs menyebut pernyataan Thomas itu sebagai “menghina dan tercela." Persatuan Wartawan Gedung Putih mengatakan pernyataan Thomas tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Thomas mengatakan ia menyesali komentarnya dan menambahkan keyakinan sanubarinya bahwa perdamaian akan terwujud di Timur Tengah, apabila semua pihak memahami perlunya saling menghormati dan toleransi satu sama lain.

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2075:wartawan-gedung-putih-berhenti-karena-kecam-israel&catid=81:internasional&Itemid=198

Syaikh Raid Shalah, salah seorang pemimpin gerakan Islam di Palestina yang tergabung dalam ekspedisi kemanusiaan Mavi Marmara dan sempat ditahan oleh Israel memberikan pernyataan yang membuat negeri Zionis risau bukan kepalang. “Penjajahan Israel akan diakhiri dari Turki.

Gerakan Zionisme bermula dari Turki,  dan kematian Zionisme juga akan datang dari Turki,” tegas Syaikh Raid Shalah.

Setelah dibebaskan dari tahanan Israel, Syaikh Raid Shalah di kota Umm al-Fahm menegaskan bahwa penyerangan kapal kemanusiaan yang menuju Gaza adalah kejahatan perang dan pembajakan di laut internasional yang harus dihukum oleh masyarakat internasional.

“Apa yang dilakukan Israel sangatlah memalukan. Israel adalah entitas yang bodoh dan sombong,” ujar Syaikh Raid Shalah.

Syaikh Raid Shalah menerangkan, mereka yang menjadi syahid dalam ekspedisi Freedom Flotilla adalah orang-orang Turki yang berdarah Palestina yang telah dengan gagah menunjukkan bahwa Ankara memiliki hubungan dengan Jalur Gaza, Jerusalem memiliki hubungan dengan Istanbul dan Masjid Muhammad al Fatih di Turki memiliki hubungan dengan Masjid al Aqsha di Palestina.

Syaikh Raid Shalah juga menerangkan, menurutnya tentara Israel yang menyerbu ke kapal Mavi Marmara selain berusaha menguasai kapal juga menarget dirinya untuk ditembak mati. “Karena itu ketika saya masuk dan digiring ke kapal angkatan laut Israel,  mereka terkejut melihat saya hidup. Karena mereka berharap kematian saya,” terang Syaikh Raid Shalah.

Tokoh yang pernah mengekspose penggalian Masjid al Aqsha kepada dunia Islam ini menuturkan, tentara-tentara Israel sampai memeriksa paspornya berulang kali, karena merasa tidak yakin dengan apa yang mereka temui.

Bahkan, saking seriusnya mereka mengabarkan pada atasannya, Kepala Staff Militer Israel, Jenderal Gabi Ashkenazi datang langsung untuk memastikan bahwa yang di depan mereka adalah Syaikh Raid Shalah.
“Nyawa saya di tangan Allah, kapan dan dimana saya mati sudah ditentukan oleh Allah. Bukan ditangan Israel, apalagi ditentukan oleh seorang jenderal,” tandasr Syaikh Raid Shalah.

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2088:syaikh-raid-shalah-keruntuhan-zionis-akan-datang-dari-turki&catid=85:lintas-dunia&Itemid=284


28 Anak Menjadi Yatim Akibat Serangan Israel pada Freedom Flotilla



mediaumat.com- Dua puluh delapan anak-anak kehilangan ayah mereka akibat dari serangan Israel terhadap relawan Freedom Flotilla.

Sembilan orang ditembak mati pada tanggal 31 Mei oleh tentara Israel yang menyerang kapal laut Turki Mavi Marmara, karena mencoba untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Delapan dari mereka adalah seorang ayah yang anaknya sekarang menjadi yatim karena serangan biadab Israel pada relawan rombongan Freedom Flotilla.

Berikut adalah biografi singkat dari sembilan orang relawan yang tewas, seperti yang dilaporkan oleh Lawrenceofcyberia.blogs.com:

1. Ibrahim Bilgen
Ibrahim Bilgen, 61 tahun, adalah seorang insinyur listrik dari Siirt. Dia adalah anggota dari Ikatan Insinyur Listrik Turki. Dia merupakan calon dari Partai Saadet dalam pemilu Turki tahun 2007 dan pemilihan walikota Siirt tahun 2009. Ia telah menikah dan dikarunia 6 anak.

2. Ali Haydar Bengi
Ali Haydar Bengi, 39 tahun, mengelola sebuah toko  reparasi telepon di Diyarbakir. Dia adalah lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo (Departemen Sastra Arab). Ia menikah dengan Saniye Bengi dan memiliki empat anak - Mehunur (15), Semanur (10), dan si kembar Muhammad dan Semanur (5).

3. Cevdet Kiliçlar
Cevdet Kiliçlar, 38 tahun,berasal dari Kayseri. Dia lulusan dari Universitas Marmara Fakultas Komunikasi dan sebelumnya seorang wartawan surat kabar untuk Gazette Nasional dan Times Anatolia.
Tahun lalu, ia adalah seorang reporter dan webmaster untuk Kemanusiaan Relief Foundation (IHH). Ia menikah dengan Derya Kiliçlar, dan memiliki satu putri, Gülhan, dan satu putra, Erdem.

4. Cetin Topçuogl
Cetin Topçuoglu, 54 tahun, dari Adana. Dia adalah mantan pemain sepak bola amatir dan juara taekwondo yang melatih tim taekwondo nasional Turki. Ia menikah dan punya seorang putra, Aytek. Istrinya, Cigdem Topçuoglu, juga ikut di kapal Mavi Marmara, tapi selamat.

5. Necdet Yildirim
Necdet Yıldırım, 32 tahun, adalah petugas IHH dari Malatya. Ia menikah dengan Refika Yıldırım dan punya satu putri, Melek,yang baru berusia 3 tahun.

6. Fahri Yaldiz
Fahri Yaldiz, 43 tahun, adalah seorang petugas pemadam kebakaran yang bekerja di Kota Adıyaman. Ia menikah dan memiliki empat orang anak.

7. Cengiz Songür
Cengiz Songür, 47 tahun, berasal dari Izmir. Ia menikah dengan Nurcan Songür memiliki enam putri dan satu putra.

8. Cengiz Akyüz
Cengiz Akyüz, 41 tahun, berasal dari Iskenderun. Ia menikah dengan Nimet Akyüz dan memiliki tiga anak- Furkan (14), Beyza (12), dan Erva Kardelen (9).

9. Furkan Dogan
Furkan Dogan, 19 tahun, siswa tingkat akhir di Kayseri, dimana dia sedang menunggu hasil ujian masuk universitas. Ia berharap untuk menjadi dokter dan sangat menyukai catur. Ia adalah putra dari Dr Ahmet Dogan, profesor di Universitas Erciyes. Dia adalah seorang Turki-Amerika yang memiliki kewarganegaraan ganda dengan dua saudara kandung.

Militer Israel menyerang rombongan Freedom Flotilla di perairan internasional di Laut Mediterania pada tanggal 31 Mei, membunuh sembilan warga Turki yang berada di enam kapal dan melukai sekitar 50 orang lainnya.

Nasib tiga aktivis Freedom Flotilla lainnya masih belum diketahui. Israel juga menahan hampir 700 aktivis dari 42 negara yang ikut dalam rombongan Freedom Flotilla, yang berusaha mematahkan pengepungan Gaza dalam rangka untuk memberikan 10.000 ton bantuan kemanusiaan kepada orang-orang Gaza yang telah lama menderita. (prtv/kh)

http://www.mediaumat.com/content/view/1414/46/

0 comments: