Tak Ada Amal Besar Tanpa Ilmu Tinggi

Filed under: by: 3Mudilah

Fenomena tidak sabar, putus asa dan menyerah berhadapan dengan lawan, dalam meniti perjuangan di jalan Allah akhir-akhir ini kian menggejala di negeri ini. Tak hanya terjadi pada individu Muslim, tapi juga pada lembaga, organisasi, gerakan hingga partai politik Islam. Semuanya seakan kelelahan mengusung idealisme Islam.

Allah, Rabb Yang Maha Perkasa telah memperingatkan kejadian di atas akan dialami pada tiap kurun zaman. “Andaikan seruanmu itu menghasilkan keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan itu pendek pastilah mereka mengikutimu, akan tetapi perjalanan ini teramat jauh. Mereka akan bersumpah atas nama Allah: ‘Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersamamu ...,” (Qs at-Taubah: 42).

Di depan mereka betebaran umpan duniawi yang memukau dan ranjau kenikmatan yang membinasakan. Apalagi, jika mereka sendiri menyimpan ambisi-ambisi pribadi, akhirnya mereka pun rela melakukan apa saja. Melepas yang paling berharga, identitas keislamannya yang mereka punya.

Merujuk sejarah Rasul Saw, dalam perang Uhud, terdapat orang-orang yang tak sabar melihat umpan ghanimah. Mereka turun dan memperebutkannya. Sekarang, kelompok seperti ini bukan mengambil ghanimah, tapi menghalalkan praktik haram (risywah), menjual ideologi, menjadi broker politik, merayu beberapa pihak, menekan pihak lain, untuk mendapatkan keuntungan dunia sebanyak-banyaknya. Mereka pun layak disebut “pelacur ideologi.”

Apakah sudah separah itu perilaku aktivis Islam kekinian? Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Untuk menjawab semua ini Herry Nurdi melakukan obrolan dengan Pembantu Rektor III Institut Daarusalam Gontor Hamid Fahmy Zarkasyi dan Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), berikut petikannya:

Dalam mengadopsi nilai-nilai luar, gerakan Islam terkadang justru menurunkan standar keislaman yang selama ini diperjuangkan?

Secara konseptual ada di dalam al Qur’an. Tapi antara realitas dengan konsep ada gap, jurang yang panjang. Misalnya, ketika seorang Muslim mengembangkan politik, organisasi dan lainnya. Persoalannya, bagaimana ia mendedikasi konsep yang ada di al Qur’an ke dalam gerakan. Ini yang memerlukan diskursus panjang. Saya ingin mengatakan, al Qur’an itu mempunyai konsep yang universal dan menyeluruh dalam aspek kehidupan.
Persoalannya, apakah orang-orang dalam kelompok itu dapat menyerap keseluruhan kandungan al Qur’an itu. Kalau dia tidak mampu, ini akan menjadi background dia dalam menangkap ide-ide yang akan diaplikasikan di dalam organisasinya. Jika secara konseptual tidak memahami, bagimana ia bisa mengaplikasikan dalam bentuk kegiatan, moralitas individual, sosial, lembaga dan gerakan? Ini sangat fundamental dalam gerakan Islam, apakah bisa menyerap al Qur’an?

Bagaimana cara mengidentifikasinya?

Kita memahami penafsiran dari ayat itu menjadi sebuah konsep yang praktis, sehingga kita bisa melacak apakah seorang itu jujur atau tidak. Bisa dikembalikan kepada konsep-konsep dalam al Qur’an atau hadist. Para sahabat mengidentifikasikan, salah satu ciri orang yang jujur adalah shalat subuh. Itu standar ukurnya, jadi bisa terbukti. Jum’atan shalat, tapi Subuh tidak shalat. Dia layak dicurigai menyembunyikan sesuatu di masyarakat. Standarnya Subuh. Itulah standar kejujurannya.
Ketika Nabi mewanti-wanti jangan seperti orang yang khusyu dalam ibadah, tapi ketika melihat harta dia melonjak. Ini problem besar. Sekarang ini, kalau kita kaitkan dengan ayat mankana ghaniyan fal yas tasqib.....siapa yang kaya sebaiknya menahan diri, jangan foya-foya. barang siapa yang fakir, supaya makan dengan makaanan yang baik. Orang kaya kan biasa aja dalam Islam. Apa yang bisa dia lakukan dengan uang, semuanya itu untuk kepentingan ibadah. Punya uang 10 miliar, terus dia punya program yang nilainya hanya dua miliar, dia pasti akan mengada-ada. Orang tidak bisa melakukan amal yang besar kalau tidak punya ilmu yang tinggi. Ini yang perlu kita perhatikan.

Jadi selalu ada korelasi kuat antara ilmu dan amal?

Sebesar apa ilmu kita, setinggi itu amal kita. Sekarang, ilmu kita pas-pasan, tapi menangani sebuah negara yang besar. Apa yang kita lakukan? Itu akan mengada-ada. Tugas sebuah partai politik Islam banyak sekali, bagaimana menegakkan keadilan. Membuat konsep keadilan dalam konteks Indonesia. Bagaimana menciptakan konsep pemerataan sosial, meningkatkan konsep moralitas bangsa. Persoalannya begitu rumit dan tidak sederhana. Bagaimana memberantas korupsi dengan sebuah UU. Bagaimana mengkonsep hukum, peraturan dan kebijaksanaan. Saya tidak under estimate dengan seluruh tokoh umat Islam di Indonesia.

Saya merasa bahwa sistem yang kita jalani sudah merisaukan. Pendidikan yang mewariskan kolonialisme, berorientasi dalam lingkup yang sangat kapital. Bahkan ketika berjuang, demokrasi pun menjadi kepanjangan tangan dari penjajahan. Seolah-olah berjuang dalam jebakan?

Iya betul. Tapi sebenarnya bukan dalam jebakan. Dia sudah terhegemoni dalam pandangan hidup yang bukan Islam. Pandangan hidup menurut saya sama dengan paradigma science. Anda harus mempunyai metode yang jelas, nilai yang jelas, pendekatan yang jelas, dan asumsi yang jelas. Dalam Islam juga begitu. Konsep Anda tentang Tuhan, realitas dan manusia, akan Anda gunakan dalam bekerja. Kalau konsep Tuhan tidak jelas, moralitasnya tidak jelas juga. Jadi bagi dia, moralitas adalah sesuatu fenomena sosial.

Anda pernah mengeluarkan pernyataan, bahwa gugatan tentang negara Islam ini sebagai silly question, maksudnya?

Karena institusi di dalam Islam tidak mesti dicari dalam bentuk teknis. Kita tidak bisa mencari sebuah perintah untuk mencari apakah sebuah amal dalam Islam itu ada perintahnya secara langsung atau tidak. Berarti jika tidak ada perintah dari Allah, logikanya bertentangan. Apakah mengadakan shalat tarawih berjamaah itu bertentangan, perintah atau bukan? Ia bukan perintah. Berarti tidak boleh melakukan shalat tarawih berjamaah. Padahal, jika dilihat dari hukum syariah merupakan sebuah fadhilah (keutamaan) dan wasilah (perantara), untuk ukhuwah, jamaah dan lain-lain.

Ini bisa dikiaskan untuk membentuk negara Islam tadi. Tidak ada perintahnya memang, tapi perintah untuk membuat sebuah struktur kekuasaan di dalam Islam itu ada. Harus ada syura bainahum, harus ada amir. Jika ada amir berarti harus ada anggota. Jika ada anggota berarti harus ada peraturan. Jadi, hal ini adalah pertanyaan yang mengada-ada. Sama halnya dengan, apakah ada perintah langsung dari al Qur’an untuk mendirikan universitas? Tidak ada kan? Jadi ngapain mendirikan universitas? Ini kan dosa besar.
Tapi kita tidak bisa bersikap seperti itu. Dalam konteks peradaban Barat, mendirikan negara Islam itu bisa. Inilah yang saya sebut multy imposible yakni, masuknya pandangan hidup Barat secara hegemony ke dalam pola pikir kita. Lalu mengikat pikiran-pikiran kita sehingga kita mengutamakan yang asing dan mengesampingkan yang dari Islam itu sendiri.

Tapi bagaimana konsep ukhuwah Islamiyah ini bisa kompatibel dengan konsep ukhuwah insaniah. Ini harus ada kejelasan. Sikap kita terhadap orang Islam dan sikap kita kepada non Muslim kan berbeda. Bagaimana cara ber-ta ’awanu ’ala birri waa takwa (saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) dengan orang yang tidak bertakwa? Bagaimana kita bersanding dan bekerjasama dengan non Muslim?
Sekarang, pertanyaanya harus diajukan kepada para pemimpin dan intelektual kita yang bekerjasama dengan non-Muslim.  Motivasinya bekerjasama dengan non Muslim itu apa?

Ada ketidakjujuran motivasi di sini.

Iya, mereka tidak mau menyebutkannya secara terus terang. Ta ’awanu atas apa? Berarti, ada perbedaan antara Ukhuwah Islamiyah dengan Ukhuwah insaniah. Batas ini mesti harus dibuat. Tapi, malah sedang dicoba agar tidak ada batasnya lagi. Orang Islam sendiri yang justru menjustifikasi konsep-konsep yang berasal dari luar yang tidak islami, tapi mereka katakan islami.

Menurut Anda, apa motivasi mereka melakukan justifikasi terhadap konsep-konsep Barat itu?

Faktornya bisa banyak. Pertama, motivasi jangka pendek yang terkait dengan materi dan keduniaan. Kedua, terkait persoalan ilmu. Konsep-konsep dalam pandangan hidup mereka tidak sekuat dengan konsep asing yang masuk ke dalam pikirannya. Soal ilmu ini bukan sesuatu yang sifatnya emosional, tapi persoalan pure intelektual. Mereka tidak memahami secara utuh konsep-konsep Islam sehingga konsep-konsep Barat yang akhirnya diterima.

Jika kemudian Rasulullah melakukan hijrah ke Madina, kemudian berdiri sebuah sistem, sebenarnya apa yang ingin diajarkan pada umat Islam?

Yang jelas, ada perubahan tahapan pandangan hidup yang diberikan oleh al Qur’an pada umat manusia. Ketika di Makkah, masih dalam tahap penanaman ketuhanan, kenabian dan meninggalkan syirik. Kedua, meningkat  pada tahap penanaman ibadah dan memaknai ibadah secara individu. Sedangkan di Madinah, sudah memasuki pada tahap ibadah sosial. Ketika berbicara masalah jihad, ukhuwah Islamiyah, menjalin hubungan dengan bangsa lain dan non Muslim, ini sudah masuk dalam tahap ibadah sosial.
Kemudian, ketika sudah terlibat dan melaksanakan struktur pemerintahan dalam suatu negara, umat Islam sudah bersentuhan dengan komunitas lain. Orang Arab, Kristen, Yahudi dan suku-suku pedalaman di jazirah Arab. Dalam konteks inilah, kemudian dimaknai sebagai konsep pluralisme dalam Islam. Padahal, pada saat itu, Nabi Saw berada dalam posisi yang berkuasa, sebagai pemimpin sekaligus Rasul. Jika pada saat itu Nabi Saw bukan seorang Rasul dan tidak menggunakan kerasulannya, pada kenyataannya Nabi tetap memegang kendali kepemimpinan di Madina dan jazirah Arab.
Jadi, pada saat itu, tidak masalah jika orang-orang Nasrani dan Yahudi tidak mengakui Muhammad sebagai Rasulullah. Tapi mereka harus mengakui dan tunduk pada peraturan yang diciptakan oleh Nabi sebagai pemimpin negara. Jadi, Nabi berbicara bukan pada tingkat institusi atau simbol-simbol, tapi lebih kepada konsep. Dalam waktu bersamaan, konsep tentang ketuhanan juga sudah selesai dan tidak ada kerancuan lagi.
Inilah yang disebut sebagai Finalitas Karakteristik Teologi Islam. Tidak ada teologi di dunia ini yang final selain teologi dalam Islam. Bisa dikaji ini. Nama Tuhan dalam Islam sudah jelas, nama agamanya jelas, cara kita beribadah dan mendekatkan diri pada Tuhan juga jelas.

Muslim Indonesia ini seolah selalu dibenturkan antara ide, menjadi nasionalis atau religius. Jadi selalu berhadap-hadapan, antara jati dirinya dengan orientasi hidup.

Ada contoh yang harus kita kaji bersama, seperti fenomena Hizbut Tahrir Indonesia yang mengusung Khilafah Islamiyah. Saya melihatnya, sebagai sebuah gerakan peradaban yang sangat besar, dengan persiapan konsep yang sangat minim. Jika tidak dalam tingkat konsep, HTI akan terkendala pada tingkat SDM. Keduanya berkaitan. Mereka harus bertahan sebagai sebuah komunitas yang mempunyai kekuatan ilmu, bukan ideologi saja. Yakni, kekuatan ilmu yang bisa berhadapan dengan kekuatan asing yang sangat sistemik, sangat filosofis dan scientific. Saat ini sistem kapitalisme dan demokrasi sudah sangat terstruktur, sistematis dan rapi.
Tidak saja HTI, apakah gerakan-gerakan Islam saat ini sudah memiliki landasan konseptual dari sisi keilmuwan yang kuat? Jika memang sudah kuat, apakah sudah dimiliki secara merata oleh para kadernya. Dalam sejarah terbukti, ternyata orang-orang yang sekolah di madrasah itulah yang bisa mempertahankan peradaban Islam. Bukan sederhana itu. Orang yang sekolah di madrasah pada zaman Nizamiyah di Baghdad, kualifikasi keilmuwannya setara dengan doktor dan profesor pada zaman sekarang.
Orang-orang yang sekolah di Madrasah Nizamiyah inilah yang justru mempertahankan dan membela peradaban Islam, ketika Islam diserang dalam Perang Salib dan seragan orang-orang Hulaghul. Jadi, meski negara Islam sudah dihancurkan oleh orang-orang Hulaghul dan orang-orang Kristen, tapi peradaban Islam masih tetap bertahan hingga sekarang. Lantas apa yang membuat Islam bisa bertahan? Para ulamanya, SDM-nya. Dalam konteks Indonesia sekarang ini, ketika politik tidak lagi berdasarkan pada Islam, Partai Politik Islam yang ingin eksis seharusnya membawa kekuatan Islam seperti yang dikerjakan oleh Madrasah Nizamiyah itu. Dan, ini nothing wrong, jika mereka bisa membawa komunitas yang sangat besar, solid dan kuat yang tak terbantahkan. Nilai-nilai moralitas juga menjadi sebuah kekuatan. Jika ada partai Islam yang seperti ini, insya Allah akan eksis sepanjang zaman. Orang masih akan tetap menghargainya.

Tapi hal ini sering dikalahkan dengan argumentasi siyasah, tidak strategis untuk masa depan dakwah. Apa betul itu?

Dalam sejarah Rasulullah ada yang namanya, kebijakan-kebijakan Nabi yang tidak ada perintahnya dalam al Qur’an. Orang menyebutnya sebagai siyasahtul Rasul. Persoalannya, apakah ketika orang atau partai politik Islam melakukan diplomasi dan siyasah-siyasah ini, melanggar rambu-rambu konsep atau pandangan hidup Islam atau tidak.
Untuk menguji ini, mereka harus mengetahui apa pagar dan kriterianya sudah keluar atau masih di dalam koridor Islam. Ini kembali kepada kondisi SDM yang dimiliki, apakah pengambil keputusan dalam partai Islam misalnya,  mengerti atau tidak, ketika melangkah mengambil kebijakan politik akan melanggar prinsip-prinsip Islam atau tidak.

Bagaimana dengan dominasi materialistik dalam masyarakat kita, sehingga pertimbangannya cenderung mengalahkan aspek spiritual?

Mereka perlu diberi contoh. Sematerialistik apapun, masyarakat Indonesia ini masih bisa diarahkan. Sebajingan apapun seseorang, ketika ia melihat seorang ulama, ia masih tetap hormat. Kondisi masyarakat yang seperti ini yang sebenarnya harus dimanfaatkan. Gerakan Islam ini mestinya menjadi sebuah cermin masyarakat. Sehingga bisa menjadi stimulan agar orang berubah menuju kebaikan. Kadang-kadang, gerakan-gerakan Islam ini justru terkalahkan oleh situasi dan kondisi materialisme ini.

Apakah kekuatan untuk menjadi stimulan masih besar di kalangan gerakan Islam?

Masih besar. Mayoritas masyarakat awam sebenarnya masih terkait dengan kelompok atau lembaga Islam dan pesantren-pesantren. Mestinya kelompok ini yang harusnya menjadi stimulan gerakan perbaikan. Katakanlah, umat Islam Indonesia yang sekuler 50%, yang religius 50%. Yang religius ini mestinya bisa menjadi pembaharu dan memotivasi kelompok lainnya jika dibina dengan baik. Persoalannya, dari sisi institusional bermasalah. Dari sisi politik,  persatuan antar politik Islam bermasalah. Dari sisi pendidikan juga bermasalah. Sehingga sangat kompleks persoalannya.

 www.sabili.co.id

0 comments: