Abu Bakar Ba'asyir: Sasaran Penangkapan Adalah Saya

Filed under: by: 3Mudilah



SOLO (Berita SuaraMedia) - Selepas mengisi kajian rutin di masjid Pondok Al Mukmin Ngruki, ustad Abu Bakar Ba'asyir melakukan wawancara dengan beberapa wartawan masih terkait dengan penangkapan para anggota JAT di Jakarta serta pertanyaan mengenai Abu Tholut.

Ditanya apakah ustad Abu mengenal Abu Tholut secara pribadi, beliau menjawab bahwa dirinya kenal Abu Tholut di dalam penjara Cipinang saat sama-sama ditahan. Walaupun tidak satu sel namun kadang masih sempat bertemu khususnya pada hari Jum'at di masjid penjara Cipinang. Ustad Abu mengatakan menerima informasi bahwa sekarang Abu Tholut menjadi buronan. Beliau mengatakan tidak tahu dimana dia sekarang dan kasus apa yang menjadikan Abu Tholut menjadi DPO.

Ustad Abu mengatakan bertemu dengan Abu Tholut terakhir sekitar enam bulan lalu di pondok Ngruki. Abu Tholut mengisi kajian mengenai ilmu perang sesuai Qur'an dan Sunnah Nabi. Dikatakan beliau, "kami berdua berhubungan secara emosional sebagai sesama ulama saja". Abu Tholut pernah tinggal lama di Afghanistan dan mempelajari ilmu jihad. Ustad Abu mengatakan sosok Abu Tholut adalah seorang pejuang Islam yang tidak akan ceroboh.

Kelompok Bersenjata Aceh
Ditanya mengenai apakah mengenal para pemimpin kelompok bersenjata di Aceh? Beliau menjawab, "Saya hanya melihat wajah mereka di televisi-televisi. Saya malah bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mendapatkan senjata api dengan begitu mudah, mengingat mereka tidak memiliki jaringan. Tidaklah mudah bagi kelompok perlawanan untuk mendapatkan akses senjata dalam jumlah besar. Baik polisi atau tentara pasti ada dibelakang semua ini", ucap ustad sepuh ini.

Lalu apa pendapat ustad mengenai perjuangan mereka?

"Saya tidak dalam posisi untuk menanggapi arah perjuangan di Aceh. Polisi perlu membuktikan apakah mereka benar-benar mujahidin atau orang biasa. Biarlah polisi yang menjawab pertanyaan ini."

Ustad juga mengatakan bahwa akhir-akhir ini polisi dan tentara datang ke Ngruki untuk melakukan pencarian. Jika anggota JAT atau lulusan Ngruki melakukan tindak kekerasan itu adalah diluar kewenangan organisasi atau sekolah, jadi bukan tanggung jawab kami, kata ustad Abu.

Beliau juga mengatakan, saat ini selalu diawasi oleh polisi dan tentara. "Mereka mengikuti kemanapun saya pergi dan ketika saya mengisi ceramah di masjid-masjid. Mereka ingin mempersempit gerakan saya. Tapi mereka tidak sampai mengganggu keluarga saya".

Menanggapi semua penangkapan-penangkapan ini, ustad Abu mengatakan semua ini hanyalah sebuah agenda pemerintah untuk meningkatkan citranya karena Presiden Barrack Obama dijadwalkan akan berkunjung ke Indonesia. Pemerintah ingin terlihat baik dengan menangkap para tersangka teroris. Padahal sebenarnya sasarannya adalah saya. Bahkan Amerika menginginkan saya mati di dalam penjara, tandasnya. (sebagian isi wawancara dengan wartawan kantor berita The Jakarta Globe)

Dari Mako Brimob

Sementara itu, informasi yang kami terima dari Mako Brimob Kelapa Dua yang menjadi tempat tahanan orang-orang yang ditangkap dalam kasus kelompok bersenjata di Aceh. Bahwa orang-orang yang ditangkap baru-baru ini di wilayah Jakarta tepatnya di Pejaten, di Setu Bekasi, Menteng serta di Condet saat ini sedang diinterogasi. Mereka yang ditangkap mayoritas adalah para anggota JAT wilayah Jakarta. Ke 12 orang ini sedang diinterogasi mengenai keterlibatan ustad Abu Bakar Ba'asyir dalam pendanaan kelompok Aceh.

Sementara itu, Abu Bakar Ba'asyir urung mendatangi Mabes Polri terkait isu yang menyebutkan namanya terlibat terorisme pascapenangkapan anggota Jamaat Anshorut Tauhid (JAT) di Pejaten, Jakarta Selatan.

Menurut kuasa hukumnya, dari Tim Pengacara Muslim (TPM) Ahmad Mihdan, Ba'asyir batal ke Mabes Polri lantaran kendaraannya rusak. "Hari ini harusnya Ustd Abu datang tapi karena ada masalah kendaraan jadi tidak bisa datang," ungkap Ahmad Mihdan di Mabes Polri, Jakarta.

Saat disinggung tudingan polisi ada jamaah JAT yang ikut pelatihan militer di Aceh, dia mengatakan hal itu tengah didalami.

"Iya, itu yang menurut kita akan didalami. Dari pihak keluarga menyatakan tidak ada kaitannya dengan Aceh pelaku-pelaku yang dituduh sebagai teroris. Kita belum tahu siapa yang dinyatakan teroris, tapi dari ke-12 orang keluarga yang sudah memberikan laporan kepada kita mereka tidak terkait dengan itu," papar Mihdan.

Terkait rencana TPM akan melaporkan ke Komnas HAM menyusul penangkapan ke-12 jamaah JAT, dia mengatakan masih melakukan pendalaman terlebih dahulu. "Ya informasinya kita akan coba dalami. Klarifikasi ini dulu, karena kita minta juga tempat pendidikan itu segera dibuka," ungkap Mihdan.

Dia juga mengaku belum tahu apakah ke-12 orang tersebut mengenal orang-orang yang telah ditangkap sebelumnya. "Ini yang kita belum tahu. Kita minta kejelasan dari pihak Densus 88 untuk memberikan penjelasan itu," imbuhnya.

Kalau menurut keluarga bagaimana? "Kalau menurut keluarga tidak terkait. Mereka tidak terkait baik dengan Aceh maupun mereka yang dituduh teroris," tandas Mihdan.
Sejak penangkapan para teroris di Aceh beberapa waktu lalu, nama ustad Abubakar Ba’asyir sudah menjadi target aparat kepolisian. Penangkapan tujuh anggota pengajian  yang diduga teroris di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (6/5) semakin menguatkan Densus membidik pemilik Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah, itu.
“Feeling saya, ustadz Abu bisa saja ditangkap. Apalagi, sudah sejak lama beliau dikait-kaitkan terutama paskapenangkapan para teroris di Aceh beberapa waktu lalu,” kata seorang pengawal ustadz Abu, Hasyim Abdullah dalam perbincangan dengan Persda Network.
Menurut Hasyim, Jemaah Ansharut Tauhid yang didirikan Baasyir sudah selama dicurigai oleh aparat kepolisian. Terlebih, dalam penangkapan di Aceh, organisasi pengajian itu kerap dikait-kaitkan dengan jaringan teroris.
Dari 12 orang yang ditangkap Densus Antiteror 88 Mabes Polri, di tiga tempat yang berbeda, tujuh orang di antaranya di kantor Jemaah Ansharut Tauhid, Jl Pejaten Barat. Hasyim membenarkan ketujuh orang itu adalah jemaah dari Abu Bakar Baasyir.
Abu Bakar Ba’asyir mengaku tidak khawatir penangkapan tujuh orang jemaahnya di markas JAT, Pejaten. Bahkan, dia menyatakan tidak takut jika ditangkap kembali. “Oh nggak. Saya nggak khawatir,” ujar dia di Pondok Pesantren Al Islam, Solo.
Sebagai seorang Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Ba’asyir mengaku akan bertanggung jawab. Dia juga akan tetap melakukan dakwah seperti biasanya. “ Memang Menegakkan Islam itu sunatullah dan banyak halangan,” imbuhnya.
Paskapenangkapan sejumlah jemaah JAT di Pasar Minggu, sejumlah ulama dan habib dari berbagai tempat di Jawa Tengah, Jawa Timur, menggelar pertemuan di Solo. Para ustadz dan habib mengkhawatirkan jika penangkapan tujuh orang itu akan ikut pula menangkap Abu Bakar Ba’asyir.
Dalam pertemuan itu, Baasyir menegaskan bahwa tujuh jemaahnya itu bukan ditangkap melainkan diculik oleh Densus Antiteror. “Mereka semua itu mengaji, kenapa ditangkap. Ini jelas penculikan,” tandas mantan pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu.
Profesi Dokter
Dari 12 orang yang ditangkap Densus 88, Polri, satu di antaranya berprofesi dokter. Dokter Syarif ditangkap saat berada di Hotel Sofyan Menteng. “Dia ditangkap ketika bersama keluarganya di hotel itu,” ungkap Muannas, satu pengacara pendamping dari Tim Pengacara Muslim, di Mabes Polri.
Syarif ditangkap hanya beberapa saat setelah Densus 88 menciduk tujuh orang di sekretariat JAT di Pasar Minggu. Menurut Muannas, terhadap 12 orang itu oleh Densus 88 tidak berdasar. Karena penangkapan itu tidak disertai surat penangkapan dari kepolisian.
Para pengacara yang mendampingi para tersangka, ingin sekali bertemu 12 orang yang dibekuk. “Kalau Senin nanti kepala Densus tidak bisa memberikan penjelasan, kami akan melapor ke Komnas HAM,” kata dia.
Selain seorang dokter, Densus 88 juga menangkap sepasang suami istri. “Hariyadi Usman dan Hening Pujiati, mereka suami istri yang ditangkap di Setu, Bekasi,” ujar dia. (fn/md/ok/sp)www.suaramedia.com

0 comments: