Tiga Wasiat Agung Imam Ali ra.

Filed under: by: 3Mudilah

Sesungguhnya di antara sekian banyak nikmat itu, cukuplah bagimu Islam sebagai nikmat; di antara sekian banyak kesibukan itu, cukuplah ketaatan kepada Allah sebagai kesibukanmu; dan di antara sekian banyak pelajaran itu, cukuplah maut (kematian) sebagai pelajaran bagimu." Demikian salah satu wasiat agung Imam Ali ra dalam suatu riwayat.

Tentu, kenikmatan apapun sejatinya tak ada artinya jika seseorang tidak memeluk Islam, menjadi Muslim. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat banyak harta, nikmat memiliki anak-istri, nikmat jabatan, dll tak akan berarti tanpa adanya nikmat Islam. Sebab, semua nikmat tersebut sesungguhnya bersifat semu dan sementara. Semua itu akan meninggalkan atau ditinggalkan manusia. Saat ajal menjemput, tak akan lagi ada nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat banyak harta, nikmat memiliki anak-istri, nikmat jabatan dll. Semua berakhir. Yang tersisa jika seseorang itu Muslim tinggal nikmat Islam, yang akan terus mengiringi dirinya sampai ia menghadap kepada Allah SWT pada Hari Akhir nanti.

Karena itu, alangkah rugi manusia yang tak memeluk Islam. Alangkah rugi pula orang yang telah memeluk Islam tetapi menyia-nyiakan keberislamannya, tidak berusaha menjadi Muslim sejati, yakni Muslim yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT.

Selanjutnya, dari nasihat Imam Ali ra di atas, mengenai ketaatan kepada Allah SWT semestinya menjadi kesibukan kita setiap hari. Dengan itu, tak ada waktu lagi bagi kita untuk bermaksiat kepada-Nya. Sebab, setiap desah nafas kita, detak jantung kita, getar kalbu kita, pandangan mata kita, pendengaran telinga kita, kata yang meluncur dari lisan kita, gerak tangan kita dan ayunan langkah kita, semua itu benar-benar sarat dengan nuansa ketaatan kepada Allah; tak ada sedikit pun tersisa untuk bermaksiat kepada-Nya. Itulah sejatinya aktivitas yang selalu mengisi kesibukan kita.

Terakhir, dari wasiat Imam Ali ra di atas, bahwa pelajaran yang paling berharga dalam hidup ini adalah mengingat mati serta mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap kematian.

Betapapun banyak pelajaran (ilmu) yang kita pelajari hingga kita menjadi seorang ahli ilmu, tentu semua itu tak bermakna apa-apa jika membuat diri kita melupakan kematian yang menjadi pintu gerbang bagi kita menuju alam akhirat; Hari Akhir; Hari Perhitungan; Hari Penentuan apakah kita akan menjadi penduduk surga atau penduduk neraka.

Intinya, segala pelajaran yang kita reguk dari berbagai majelis ilmu semestinya selalu mengingatkan kita pada satu hal: kematian.

Makin banyak pelajaran yang kita reguk, makin membuat kita ingat akan mati.

Makin kita mengingat mati, makin zuhud kita terhadap dunia.

Sebab, kita amat memahami wasiat para salafush-shalih, "Siapa saja yang bertambah ilmu (pelajaran)-nya, tetapi tidak bertambah kezuhudannya terhadap dunia, maka ia tidak bertambah di sisi Allah SWT kecuali semakin jauh dari-Nya."

Jika kita makin zuhud terhadap dunia, orientasi hidup kita pun makin mengarah ke alam akhirat dengan selalu mempersiapkan bekal untuk meng-hadap-Nya. Sebab, kita pun tentu amat memahami kata-kata penuh hikmah dari Sayidina Abu Bakar ash-Shidiq ra dalam suatu riwayat, "Siapa saja yang masuk kubur tanpa bekal, dia seperti orang yang mengarungi lautan tanpa kapal."

Ungkapan ini bermakna, siapa saja yang meninggalkan alam dunia ini dan masuk ke alam barzakh, sementara dia tidak membawa amal-amal shalih, dia pasti akan 'tenggelam' dalam lautan azab-Nya.

Perumpamaan ini tentu tepat karena amal-amal shalih memang merupakan satu-satunya bekal yang bisa menyelamatkan setiap manusia dari lautan azab Allah SWT pada Hari Akhirat nanti.

Hari Akhirat sesungguhnya amat dekat, sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]: 18).

Terkait ayat di atas, di dalam tafsirnya Imam al-Qurthubi antara lain mengatakan:

Pertama, hari esok (al-ghad) maknanya adalah Hari Kiamat. Disebut demikian karena dekatnya waktu kedatangan hari tersebut sehingga seperti esok hari. Artinya, Hari Kiamat pasti tiba. Sesuatu yang pasti tiba adalah dekat (Kullu ât[in] qarîb).

Kedua, yang telah diperbuat (mâ qaddamat) maknanya mencakup semua amal baik maupun amal buruk. Maksudnya, setiap manusia hendaknya memperhatikan perbuatan baik atau perbuatan buruk yang telah dia lakukan, yang pasti akan mendatangkan konsekuensi di akhirat nanti: pahala atau siksa/surga atau neraka.

Wa mâ tawfîqî illâ billâh.[] arief b. Iskandar
http://www.mediaumat.com/content/view/1321/67/

0 comments: