SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!

Filed under: by: 3Mudilah

Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau
tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan
ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin
mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits
Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh
ustadz-ustadz salafy?

Sabar saudaraku, tenanglah aku tidak meragukan semua yang engkau
katakan. Engkau tidak pernah absen menghadiri majelis ilmu, penampilanmu
juga menunjukkan bahwa engkau berusaha untuk meneladani generasi salafus
sholeh.

Tapi, tahukah engkau saudaraku .. (Ahlus Sunnah sejati adalah orang yang
menjalankan islam dengan sempurna baik akidah maupun akhlak. Tidak
tepat, jika ada yang mengira bahwasanya seorang sunny atau salafy adalah
orang meyakini I'tiqod Ahlus Sunnah tanpa memperhatikan aspek perilaku
dan adab-adab islamiyah, serta tidak menunaikan hak-hak sesama kaum
muslimin.)[1].

Maafkan aku jika kata-kataku ini menyakitkan hatimu, tetapi hatiku tak
tahan lagi untuk tidak mengatakannya, karena aku mencintaimu karena
Allah, aku inginkan yang terbaik untukmu semoga Allah Ta'ala
memperlihatkan kepada kita kebenaran itu sebagai suatu kebenaran dan
membimbing kita untuk mengikutinya. Dan semoga Ia memperlihatkan kepada
kita kebatilan itu sebagai suatu kebatilan serta menganugerahkan kepada
kita taufik untuk menjauhinya.

Berapa banyak orang yang dibutakan dari kebenaran, dan tidak sedikit
pula yang melihat kebenaran tetapi enggan mengikutinya. Berapa banyak
pula orang yang mengira kebatilan adalah kebenaran dan tidak sedikit
pula orang yang mengetahui kebatilan tapi masih saja mengikutinya.

Ya Allah .. berilah kami petunjuk dan luruskanlah kami

Saudaraku,

Sikapmu yang kurang menghargai orang yang lebih tua darimu dan angkuh
terhadap orang yang lebih muda darimu, dari mana engkau pelajari?!

Lupakah engkau hadits yang pernah kita pelajari bersama,

ليس منا من لم يرحم صغيرنا و يوقر كبيرنا

Artinya, Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi yang
lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar. (HR. At-Tirmidzi
dari sahabat Anas rodhiyallahu 'anhu dan dishohihkan oleh Al Albany di
Shohih Al Jami' no. 5445)

aku teringat hari itu, walaupun setiap mengingatnya hati ini merasa
sedih dan resah. Ketika engkau dan beberapa orang lainnya menghadiri
undangan. Turut hadir ketika itu orang-orang awwam yang di antaranya
usia lebih tua dari kita. Ketika engkau masuk ke majelis lalu
mengucapkan salam dan menjabat tangan semua yang duduk kecuali bapak
itu, engkau menyalami orang yang duduk di samping dan belakang bapak
itu, lalu engkau duduk se-enaknya di depan bapak itu tanpa sedikit
senyuman apalagi menjabat tangannya!!

Owh ..jelas benar guratan sedih dan perasaan aneh yang menyemburat dari
wajah bapak tersebut. Sampai aku pun malu duduk di situ, kalau bisa
ingin rasanya aku untuk tidak hadir di situ dan saat itu..

Saudaraku, katakanlah kepadaku agar aku tidak berburuksangka kepadamu,

- Apa yang memberatkan bibirmu untuk memberikannya sedikit
senyuman walaupun hambar?! Padahal engkau tahu Nabi kita shollollahu
alaihi wa sallama bersabda,

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة

Senyumanmu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.(HR.
At-Tirmidzi, Bukhari di Adabul Mufrod dan Ibnu Hibban, Ash-Shohihah oleh
Al-Albany no. 572)

- Apa yang membuat lidahmu kelu untuk menyapa walau hanya
dengan tiga aksara Pak.

- Apa yang membuat tanganmu lumpuh untuk menjabat tangannya?!
Seperti engkau menjabat tangan yang lainnya?! Tidakkah engkau pernah
membaca atau mendengar bahwa salafunas sholeh menjabat tangan anak-anak
ketika bertemu, lantas bagaimana kalau dia lebih tua darimu?

عن سلمة بن وردان قال: رأيت أنس بن مالك يصافح الناس، فسألني: من أنت؟
فقلت: مولى لبني ليث، فمسح على رأسي ثلاثاً، وقال: “بارك الله فيك”

Dari Salamah bin Wardaan ia menuturkan, Aku melihat Anas bin Malik
menjabat tangan manusia, maka ia bertanya kepadaku, Engkau siapa?. Aku
menjawab, Maulaa Bani Laits. Lalu ia mengusap kepalaku tiga kali
seraya berkata, Semoga Allah memberkahimu.
(HR. Bukhari di Adabul
Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, Shohihul Isnad)

Dari Al-Barro bin Azib rodhiyallahu anhu ia berkata, Termasuk
kesempurnaan tahiyyah (salam) engkau menjabat tangan saudaramu. (HR.
Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, snadnya shohih
mauquf).

Jawablah saudaraku! Bukankah dia juga seorang muslim? Apakah karena dia
tidak berjenggot seperti dirimu dan celananya masih menutupi mata kaki??

Tidak saudaraku .. tidak! sejak kapan salam dan jabat tangan hanya
khusus untuk orang-orang yang penampilan sama sepertimu atau orang-orang
yang menghadiri majelis ilmu saja?!

Sikapmu inilah yang barangkali dapat menghambat dakwah salafiyah di
terima oleh kaum muslimin. Membuat mereka merasa dijauhi dan dipandang
sebelah mata.

Saudaraku .. ketika engkau mengaku seorang salafy tetapi dengan sikap
dan akhlakmu yang jauh dari akhlak salafus sholeh engkau telah ikut
menghalangi dan menghambat dakwah yang hak ini.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata di
akhir kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah setelah menyebutkan pokok-pokok
akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Kemudian mereka (Ahlus Sunnah wal
Jama'ah) disamping pokok-pokok ini, mereka mengajak kepada kebaikan dan
mencegah dari kemungkaran sesuai dengan apa yang diwajibkan syari'at.
Mereka memandang tetap menegakan haji, jihad, sholat jum'at dan hari
raya bersama para pemimpin yang baik maupun yang keji. Mereka menjaga
(sholat) jama'ah, dan melaksanakan nasehat untuk umat. dan mereka
meyakini makna perkataan Nabi shollallahu alaihi wa sallama,

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا وشبك بين أصابعه

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang kokok
saling menguatkan satu dengan lainnya. Lalu beliau menjalin di antara
jari-jemarinya.
(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa rodhiyallahu anhu)

Dan sabdanya,

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو
تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر

Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi dan
mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh
merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa
tidur.
(HR. Bukhari dan Muslim dari An Nu'man bin Basyir rodhiyallahu
anhu)

Mereka mengajak bersabar menghadapi ujian, bersyukur ketika lapang, dan
ridho dengan pahitnya qodho. Mereka mengajak kepada akhlak-akhlak yang
mulia dan perbuatan-perbuatan baik, dan meyakini makna perkataan Nabi
shollallahu alaihi wasallama,

أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا

Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik
akhlak-akhlaknya.
(HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Mereka mendorong untuk menyambung hubungan dengan orang yang memutus
hubungannya denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu, mema'afkan
orang yang menzalimimu, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua
orangtua, dan begitu juga mereka memerintahkan untuk menyambung
silaturrahim, bertetangga dengan baik, melarang sifat angkuh, sombong,
zalim dan merasa lebih tinggi dari makhluk dengan hak atau tidak dengan
hak. Mereka memerintahkan kepada budi pekerti yang tinggi dan melarang
dari akhlak yang tercela.

Dan seluruh apa yang mereka katakan dan kerjakan dari ini dan yang
lainnya, sesungguhnya mereka dalam hal itu mengikuti Al Kitab dan As
Sunnah. Jalan mereka adalah Dinul Islam yang Allah mengutus Muhamad
shollallahu alaihi wa sallama dengannya. (Al Akidah Al Wasithiyyah,
hal. 129-131).

Saudaraku, aku yakin engkau adalah seorang yang berjiwa besar dan bisa
berlapang dada menerima nasehat, karena itu marilah kita perbaiki
kekurangan-kekurangan kita dalam meneladani akhlak salaf sehingga
sempurna pula ittiba kita kepada Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama.

Semoga Allah Ta'ala membimbing kita untuk meniti jalan Nabi shollallahu alaihi wa sallama dan mengikuti jejak-jejak salafush sholeh baik dalam
akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan hubungan antara sesama, amin.

[1] An Nashiihah fiima Yajibu Muroatuhu indal Ikhtilaaf, oleh Syaikh
Ibrahim Ar-Ruhaily (13).

Oleh
Ustadz Abu Zubair Hawaary

0 comments: