HUKUM SEPUTAR NYANYIAN

Filed under: by: 3Mudilah

Mendengarkan Nyanyian

Menurut mayoritas fuqaha (ahli fiqih/juris) mendengarkan nyanyian adalah HARAM, yakni JIKA:

1. Jika dibarengi dengan hal yang munkar


2. Jika ditakuti mengantarkan kepada fitnah seperti terperangkap oleh wanita, atau remaja yang masih sangat muda, atau bangkitnya syahwat yang mengantarkannya pada zina


3. Jika membuat pendengarnya meninggalkan kewajiban agama seperti shalat, dan meninggalkan kewajiban dunia yang harus dilakukannya, ada pun jika sampai meninggalkan perbuatan sunah maka itu makruh, seperti meninggalkan shalat malam, doa di waktu sahur, dan semisalnya. (Ihya ‘Ulumuddin, 2/269. Sunan Al Baihaqi, 5/69, 97. Asna Al Mathalib, 4/44, terbitan Al Maktabah Al Islamiyah. Hasyiah Al Jumal, 5/380, terbitan Dar Ihya At Turats. Hasyiah Ibnu ‘Abidin, 4/384 dan 5/22, Hasyiah Ad Dasuqi, 4/166. Al Mughni, 9/175, Al Manar Ats Tsalitsah. ‘Umdatul Qari, 6/271, terbitan Al Muniriyah)

Nyanyian Untuk Menghibur Jiwa

Ada pun jika nyanyian dimaksudkan untuk mengistirahatkan jiwa yang bersih dari pengertian nyanyian sebelumnya, maka telah terjadi perselisihan atas hal itu. Segolongan ulama ada yang melarangnya dan yang lain membolehkannya.

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berpendapat hal itu haram, pendapat ini diikuti oleh mayoritas ulama Iraq, diantaranya Ibrahim An Nakha’i, ‘Amir Asy Sya’bi, Hammad bin Abi Sulaiman, Sufyan Ats Tsauri, Al Hasan Al Bashri, lalu kalangan Hanafiyah dan sebagian Hanabilah. (Sunan Al Baihaqi, 10/223. Al Mughni, 9/175. Al Muhalla, 9/59, terbitan Al Muniriyah. ‘Umdatul Qari, 6/271 . Mushannaf Abdurrazzaq, 11/4, 6, terbitan Al Maktab Al Islami. Ihya ‘Ulumuddin, 2/269, terbitan Mathba’ah Al Istiqamah. Fathul Qadir, 6/35. Bada’i Ash Shana’i, 6/2972)

Mereka yang mengharamkan berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Diantara manusia ada yang membeli lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.” Berkata Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud: “Lahwul Hadits adalah nyanyian.

Juga dengan hadits dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang menjual para budak wanita penyanyi (Al Mughanniyat), melarang membelinya, melarang mempekerjakannya, dan memakan harga penjualannya. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At Tirmidzi dan ini menurut lafaz At Tirmidzi dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, At Tirmidzi mengatakan: Kami mengetahui hadits ini hanya dari jalur ini. Sebagian ulama membincangkan Ali bin Yazid, dan mendhaifkannya, dia orang Syam. Al Bukhari mengatakan: munkarul hadits. An Nasa’i mengatakan: Laisa bi tsiqah (tidak bisa dipercaya). Abu Zur’ah mengatakan: Laisa biqawwi (tidak kuat). Ad Daruquthni mengatakan: matruk (ditinggalkan). Lihat Sunan Ibnu Majah dengan tahqiq Fuad Abdul Baqi, 2/733, terbitan Isa Al Halabi. Dan Tuhfah Al Ahwadzi, 4/502-504, terbitan Maktabah As Salafiyah)

Hadits lainnya dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Segala hiburan yang dimainkan oleh seseorang adalah batil, kecuali melatih kuda, memanah, dan bergurau dengan istrinya.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Al Hakim dari ‘Uqbah bin ‘Amir secara marfu’, dan lafaz Abu Daud: “Bukanlah termasuk hiburan (yakni boleh) melainkan pada tiga hal; seseorang yang melatih kudanya, bergurau dengan isteri, dan lempran panahnya …” At Tirmidzi mengatakan: hadits ini hasan. Perkataan yang terdapat di dalam tanda kurung merupakan perkataan si pensyarah hadits. Dan dalam bab ini, juga ada dari Ka’ab bin Murrah, ‘Amru bin ‘Abasah, dan Abdullah bin ‘Amru. Al Hakim mengatakan: sanadnya shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya, dan disepakati Adz Dzahabi. Tuhfah Al Ahwadzi, 5/365-367, Al Maktabah As Salafiyah. Mukhtashar Abi Daud oleh Al Mundziri, 3/370, Darul Ma’rifah. Jami’ Al Ushul, 5/41-42, Maktabah Al Hulwani, 1390H. Al Mustadrak, 2/95, Darul Kutub Al ‘Arabi)

Ada pun pendapat Syafi’iyah, Malikiyah, dan sebagian Hanabilah, bahwa hal itu (nyanyian untuk menghibur jiwa) adalah makruh. Jika mendengarkannya dari wanita ajnabiyah (bukan mahram) maka lebih makruh lagi. Kalangan Malikiyah menerangkan sebab kemakruhannya, karena mendengarkan nyanyian menghilangkan muru’ah (citra diri yang baik/wibawa). Sedangkan Syafi’iyah mengatakan; “ Di dalamnya terdapat hal yang melalaikan.” Sedangkan Imam Ahmad menjelaskan sebabnya: “Aku tidak menyukai nyanyian , karena nyanyian dapat menumbuhkan nifaq di hati.” (Hasyiah Ad Dasuqi, 4/166. Al Mughni, 9/175. Asna Al Mathalib, 4/344)

Sedangkan pendapat Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Az Zubair, Al Mughirah bin Syu’bah, Usamah bin Zaid, ‘Imran bin Hushain, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan selain mereka dari kalangan sahabat nabi, dan ‘Atha bin Abi Rabah (seorang tabi’in, pen), dan dari kalangan Hanabilah seperti Abu Bakar Al Khalal, dan sahabatnya Abu Bakar Abdil Aziz, dan Al Ghazali dari kalangan syafi’iyah, menyatakan hal itu boleh. (Al Mughni, 9/175. Mushannaf Abdurrazzaq, 11/5. Ihya ‘Ulumuddin, 2/269)

Dalil mereka yang membolehkan adalah dengan nash dan qiyas.

Dalil dari nash, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya: Masuk ke ruanganku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saya memiliki dua orang jariyah (budak wanita yang masih remaja) yang sedang bernyanyi dengan lagu Bu’ats, lalu dia berbaring di atas hamparan dan memalingkan wajahnya. Lalu datanglah Abu Bakar dan membentak saya, dan berkata: “Seruling syetan ada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu Rasulullah menoleh dan bersabda: “Biarkan mereka berdua.” Maka ketika dia lengah, aku memberikan isyarat kepada keduanya, lalu mereka berdua keluar. (Fathul Bari, 2/440, terbitan As Salafiyah. Shahih Muslim dengan tahqiq Fuad Abdul Baqi, 2/607. Terbitan ‘Isa Al Halabi)

Umar bin Al Khathab mengatakan: “Nyanyian merupakan perbekalan bagi musafir.” (Atsar dari Umar bin Al Khathab ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra, 5/68. Terbitan Majelis Da’iratul Ma’arif , India. 1352H)

Al Baihaqi meriwayatkan dalam Sunannya: “Bahwa Umar bin Al Khathab mendengarkan nyanyian Khawwat. Ketika masuk waktu sahur (waktu untuk berdzikir dan doa, pen) beliau berkata kepadanya: “Wahai Khawwat, hentikan lisanmu sekarang kita sudah masuk waktu sahur (yakni untuk berdzikir, pen).” (Atsar diriwayatkan oleh Al Baihaqi, dari Khawwat bin Jubeir dengan lafaz: Kami keluar bersama Umar bin Al Khathab, dan dia berkata: kami melakukan perjalanan dengan menaiki tunggangan, di antara mereka ada Abu Ubaidah bin Al Jarah dan Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu Khawwat berkata; Berkatalah segolongan kaum; “Bernyanyilah untuk kami wahai Khawwat,” maka kami bernyanyi untuk mereka. Mereka mengatakan: “Bernyanyilah kepada kami dengan syair Dhirar.” Lalu Umar berkata: “Biarkanlah dia bernyanyi sesuai dengan perasaannya.” Khawwat berkata: “Maka saya terus bernyanyi untuk mereka sampai datang waktu sahur . lalu Umar berkata: “Wahai Khawwat, hentikan lisanmu sekarang kita sudah masuk waktu sahur.” Ibnu Hajar telah menyebutkan penguatan terhadap riwayat ini dari Ibnu As Siraj, dan dia tidak memberikan komentar. Sunanul Kubra, 5/69. Al Ishabah, 1/457)

Sedangkan qiyasnya adalah bahwasanya nyanyian yang tidak dibarengi dengan hal yang diharamkan, di dalamnya terdapat pendengaran terhadap suara indah yang disyairkan. Dan mendengarkan suara yang indah, dari sisi memang itu indah, maka itu tidaklah diharamkan. Sebab, hal itu kembali kepada berlezat-lezat melalui indera pendengaran terhadap apa-apa yang menjadi kekhususan baginya, sama halnya dengan kelezatan yang dirasakan indera lain terhadap apa yang disediakan untuknya.

Ada pun suara al mauzun (yang sya’irkan), bukanlah suara yang diharamkan. Tidaklah anda melihat suara indah yang disyairkan yang berasal dari tenggorokan burung bulbul, tentu mendengarkannya tidak haram. Demikian pula suara manusia, karena tidak ada bedanya antara tenggorokan dengan tenggorokan. Termasuk yang difahami dari suara indah yang syairkan adalah tidaklah kebolehan itu bertambah kecuali dengan adanya penekanan.

Sedangkan nyanyian yang menggerakan hati dan melahirkan belas kasih, maka sesungguhnya jika belas kasih itu termasuk belas kasih yang mulia, justru dituntut untuk melahirkannya. Telah terjadi pada diri Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu bahwa dalam perjalanan hajinya dia mendengarkan nyanyian –sebagaimana disebutkan sebelumnya- dan para sahabat menyenandungkan nasyid rajaz untuk memberikan kesan kepada pasukan ketika berjumpa, dan tidak satu pun mereka menganggap yang demikian itu sebagai aib. Dan, syair rajaz-nya Abdullah bin Rawahah sangat masyhur. (Ihya ‘Ulumuddin, 2/270)

Nyanyian Untuk Perkara Yang Mubah


Jika nyanyian disenandungkan untuk perkara yang mubah seperti dalam pesta pernikahan, hari raya, khitan, kedatangan orang jauh, menambah kebahagiaan yang dibolehkan, ketika mengkhatamkan Al Quran untuk menguatkan rasa bahagia dengan hal itu, ketika perjalanan para mujahidin menuju peperangan jika hal itu mampu menyemangati jiwa mereka, atau bagi jamaah haji agar lahir kesan dalam jiwa mereka rasa rindu terhadap ka’bah al musyarrafah, atau nyanyian untuk unta sebagai penyemangat baginya dalam perjalanan –yaitu nyanyian Al Hida- atau untuk menggiatkan bekerja seperti nyanyian para pekerja ketika beraktifitas atau mengangkat beban berat, atau nyanyian untuk mendiamkan anak-anak dan menidurkannya seperti nyanyian seorang ibu untuk anak-anaknya, ini semua MUBAH sama sekali tidak dibenci menurut pandangan jumhur ulama. (Ihya ‘Ulumuddin, 2/276-277. Hasyiah Al Jumal, 5/380-381. Asna Al Mathalib, 4/344. Qalyubi, 4/220. Al Mughni, 9/176. Hasyiah Ad Dasuqi, 4/166. At Taj wal Iklil Limukhtashar Khalil dengan Hamisy (catatan pinggir) Mawahib Al Jalil, 4/4, Cet. 2. 1399H. Hasyiah Ibnu ‘Abidin, 5/222. Hasyiah Abis Sa’ud ‘Ala Malamiskin, 3/389)

Mereka berdalil dari hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha sebelumnya, tentang dua orang jariyah yang bernyanyi, ini merupakan nash kebolehan bernyanyi pada hari raya.

Hadits dari Buraidah: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada sebagian peperangan yang diikutinya. Ketika beliau pulang, datanglah seorang jariyah berkulit hitam. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, saya telah bernazar, jika Allah memulangkan Engkau dengan selamat saya bernazar akan memukul gendang dan bernyanyi di depanmu.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika kau sudah bernazar maka pukul-lah (gendang), jika tidak bernazar, tidak usah.” (HR. At Tirmidzi, katanya; hasan shahih gharib. Al Mubarakfuri mengatakan; hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad, dan Al Hafizh (Ibnu Hajar) menyebutkan hadits Buraidah ini dalam Fathul Bari, dan dia mendiamkannya. Lihat Tuhfah Al Ahwadzi ,10/179, Al Maktabah As Salafiyah. Jami’ Al ushul, 8/617, Maktabah Al Hulwani)

Hadits ini menunjukkan kebolehan bernyanyi ketika kedatangan orang yang bepergian jauh demi menambah kebahagiaan. Seandainya nyanyian diharamkan, tidaklah boleh bernazar dengannya, dan tentunya tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkan melakukannya.

Mereka juga berdalil dengan hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dia menikahkan kerabatnya dari kalangan Anshar, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang mengunjunginya dan berkata: “Apakah kau menghadiahinya sesuatu?” ‘Aisyah menjawab: “Ya.” Nabi bertanya: “Apakah kau sudah mengutus untuknya seorang untuk bernyanyi?” ‘Aisyah menjawab: “Tidak.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya orang Anshar adalah kaum suka dengan hiburan, alangkah baiknya kau kirim seseorang yang menyenandungkan;

Kami datang kami datang kepadamu, maka sambutlah kami dan kami akan sambut kalian? (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas dengan lafaz seperti ini. Al Hafizh Al Bushiri mengatakan dalam Az Zawaid: isnadnya diperselisihkan lantaran Al Ajlah dan Abu Az Zubair. Mereka mengatakan: dia tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Al Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah dengan lafaz: bahwa dia mempersembahkan seorang wanita untuk dinilahkan dengan seorang laki-laki Anshar. Lalu Nabi bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah kamu punya sesuatu untuk hiburan? Karena orang Asnhar itu senang hiburan. ” Lihat Sunan Ibnu Majah dengan tahqiq Fuad Abdul Baqi, 1/612, terbitan ‘Isa Al halabi. Fathul Bari, 9/225, terbitan As Salafiyah)

Nash ini menunjukkan kebolehan nyanyian ketika pesta pernikahan.

Hadits lain dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya: Saya dalam perjalanan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah Abdullah bin Rawahah orang yang bagus melantunkan Al Hida’, dia bersama kaum laki-laki sedangkan Anjasyah bersama kaum wanita. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Ibnu Rawahah: “Buatlah agar kaum itu bergerak (berangkat).” Maka Ibnu Rawahah berjalan dengan cepat sambil menyenandungkan syair rajaz, dan Anjasyah pun mengikutinya bersenandung dan mengendalikan untanya dengan keras. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Anjasyah: “Pelan-pelan saja, lembutlah terhadap al qawarir (kaum wanita).” (HR. Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik. Sedangkan lafaz dalam Shahih Muslim: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada dalam sebagian perjalannya, dia bersama seorang anak berkulit hitam yang dipanggil: Anjasyah si penggiring. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya: “Wahai Anjasyah, kau pelan-pelan saja dalam menggiring kaum wanita.” Lihat Fathul Bari, 10/538. Terbitan As Salafiyah. Shahih Muslim dengan tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, 4/811, terbitan ‘Isa Al Halabi, 1375H. Jami’ Al Ushul, 5/171-172, terbitan Maktabah Al Hulwani, 1390H)

Dari Saib bin Yazid Radhilallahu ‘Anhu, dia berkata; Kami dalam perjalanan haji bersama Abdurrahman bin ‘Auf, dan kami bermaksud menuju Mekkah, Abdurrahman memisahkan diri dari jalan, kemudian dia berkata kepada Ribah bin Al Mughtarif: “Bernyanyialh untuk kami wahai Abu Hassan –dia adalah seorang yang bagus nashabnya (nashab adalah termasuk jenis nyanyian)- maka ketika dia bernyanyi, Umar menemui mereka dan menentang lagu itu dan bertanya: “Apa ini?” Abdurrahman berkata: “Apa ada masalah dengan ini? Kita berhibur dan bernyanyi untuk mempersingkat perjalanan.” Umar berkata; “Kalau kau mau, nyanyikan saja syairnya Dhirar bin Al Khathab bin Mirdas, orang Parsinya Quraisy. “ (HR. Al Baihqi, Ibnu Hajar menyebutkannya dalam Al Ishabah. Lihat Sunan Al Baihaqi, 10/224, terbitan Majlis Dairatul Ma’arif, India, 1355H. Al Ishabah fi Tamyizis Shahabah, 1/502)

Umar pernah mengatakan nyanyian adalh perbekalannya musafir. (Sunan Al Baihaqi, 5/68. Al Mughni, 1/179) Dan ini menunjukkan kebolehan nyanyian untuk menghibur jiwa.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Umar bin Al Khathab memerintahkan untuk melantunkan Al Hida’. (Mushnnaf Ibnu Abi Syibah, 1/177, dengan khat Istambul)

(selesai dari Kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah)

(Ini adalah tulisan ke 4 yang bertema hukum nyanyian dan musik di situs ini. Tapi, yang ini hanya membahas hukum nyanyian, bukan music. Saya ambil dari kitab Ensiklopedi Fiqih Kuwait/ Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 4/90-94. Terbitan Departemen Urusan Agama dan Waqaf, Kuwait)

Teks Asli:

الاِسْتِمَاعُ إلَى الْغِنَاءِ :

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إلَى أَنَّ اسْتِمَاعَ الْغِنَاءِ يَكُونُ مُحَرَّمًا فِي الْحَالاَتِ التَّالِيَةِ :

أ - إِذَا صَاحَبَهُ مُنْكَرٌ .

ب - إِذَا خُشِيَ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى فِتْنَةٍ كَتَعَلُّقٍ بِامْرَأَةٍ ، أَوْ بِأَمْرَدَ ، أَوْ هَيَجَانِ شَهْوَةٍ مُؤَدِّيَةٍ إِلَى الزِّنَى .

ج - إِنْ كَانَ يُؤَدِّي إِلَى تَرْكِ وَاجِبٍ دِينِيٍّ كَالصَّلاَةِ ، أَوْ دُنْيَوِيٍّ كَأَدَاءِ عَمَلِهِ الْوَاجِبِ عَلَيْهِ ، أَمَّا إِذَا أَدَّى إِلَى تَرْكِ الْمَنْدُوبَاتِ فَيَكُونُ مَكْرُوهًا . كَقِيَامِ اللَّيْل ، وَالدُّعَاءِ فِي الأَْسْحَارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ .

الْغِنَاءُ لِلتَّرْوِيحِ عَنِ النَّفْسِ :

أَمَّا إِذَا كَانَ الْغِنَاءُ بِقَصْدِ التَّرْوِيحِ عَنِ النَّفْسِ ، وَكَانَ خَالِيًا عَنِ الْمَعَانِي السَّابِقَةِ فَقَدِ اُخْتُلِفَ فِيهِ ، فَمَنَعَهُ جَمَاعَةٌ وَأَجَازَهُ آخَرُونَ .

وَقَدْ ذَهَبَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ إلَى تَحْرِيمِهِ ، وَتَابَعَهُ عَلَى ذَلِكَ جُمْهُورُ عُلَمَاءِ أَهْل الْعِرَاقِ ، مِنْهُمْ إبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ ، وَعَامِرُ الشَّعْبِيُّ ، وَحَمَّادُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ ، وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ ، وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ ، وَالْحَنَفِيَّةُ ، وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ .

وَاسْتَدَل هَؤُلاَءِ عَلَى التَّحْرِيمِ : - بِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِل عَنْ سَبِيل اللَّهِ } قَال ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ مَسْعُودٍ : لَهْوُ الْحَدِيثِ هُوَ : الْغِنَاءُ .

وَبِحَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمُغَنِّيَاتِ ، وَعَنْ شِرَائِهِنَّ ، وَعَنْ كَسْبِهِنَّ ، وَعَنْ أَكْل أَثْمَانِهِنَّ .

وَبِحَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : كُل شَيْءٍ يَلْهُو بِهِ الرَّجُل فَهُوَ بَاطِلٌ ، إلاَّ تَأْدِيبَهُ فَرَسَهُ ، وَرَمْيَهُ بِقَوْسِهِ ، وَمُلاَعَبَتَهُ امْرَأَتَهُ .

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ ، وَالْمَالِكِيَّةُ ، وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ إلَى أَنَّهُ مَكْرُوهٌ ، فَإِنْ كَانَ سَمَاعُهُ مِنِ امْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ فَهُوَ أَشَدُّ كَرَاهَةً ، وَعَلَّل الْمَالِكِيَّةُ الْكَرَاهَةَ بِأَنَّ سَمَاعَهُ مُخِلٌّ بِالْمُرُوءَةِ ، وَعَلَّلَهَا الشَّافِعِيَّةُ بِقَوْلِهِمْ : لِمَا فِيهِ مِنَ اللَّهْوِ . وَعَلَّلَهَا الإِْمَامُ أَحْمَدُ بِقَوْلِهِ : لاَ يُعْجِبُنِي الْغِنَاءُ لأَِنَّهُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ .

وَذَهَبَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ ، وَالْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ ، وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ ، وَعِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ ، وَمُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ ، وَغَيْرُهُمْ مِنَ الصَّحَابَةِ ، وَعَطَاءٌ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ ، وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الْخَلاَّل ، وَصَاحِبُهُ أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ الْعَزِيزِ ، وَالْغَزَالِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ إلَى إبَاحَتِهِ .

وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِالنَّصِّ وَالْقِيَاسِ .

أَمَّا النَّصُّ : فَهُوَ مَا أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَل عَلَيَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثٍ ، فَاضْطَجَعَ عَلَى الْفِرَاشِ وَحَوَّل وَجْهَهُ ، وَدَخَل أَبُو بَكْرٍ فَانْتَهَرَنِي وَقَال : مِزْمَارَةُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَل عَلَيْهِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال : دَعْهُمَا ، فَلَمَّا غَفَل غَمَزْتُهُمَا فَخَرَجَتَا

وَيَقُول عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : الْغِنَاءُ زَادُ الرَّاكِبِ

فَقَدْ رَوَى الْبَيْهَقِيُّ فِي سُنَنِهِ : أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْتَمِعُ إلَى غِنَاءِ خَوَّاتٍ ، فَلَمَّا كَانَ السَّحَرُ قَال لَهُ : ارْفَعْ لِسَانَكَ يَا خَوَّاتُ ، فَقَدْ أَسَحَرَنَا

وَأَمَّا الْقِيَاسُ : فَإِنَّ الْغِنَاءَ الَّذِي لاَ يُصَاحِبُهُ مُحَرَّمٌ ، فِيهِ سَمَاعُ صَوْتٍ طَيِّبٍ مَوْزُونٍ ، وَسَمَاعُ الصَّوْتِ الطَّيِّبِ مِنْ حَيْثُ إنَّهُ طَيِّبٌ لاَ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرُمَ ، لأَِنَّهُ يَرْجِعُ إلَى تَلَذُّذِ حَاسَّةِ السَّمْعِ بِإِدْرَاكِ مَا هُوَ مَخْصُوصٌ بِهِ ، كَتَلَذُّذِ الْحَوَاسِّ الأُْخْرَى بِمَا خُلِقَتْ لَهُ .

وَأَمَّا الْوَزْنُ فَإِنَّهُ لاَ يُحَرِّمُ الصَّوْتَ ، أَلاَ تَرَى أَنَّ الصَّوْتَ الْمَوْزُونَ الَّذِي يَخْرُجُ مِنْ حَنْجَرَةِ الْعَنْدَلِيبِ لاَ يَحْرُمُ سَمَاعُهُ ، فَكَذَلِكَ صَوْتُ الإِْنْسَانِ ، لأَِنَّهُ لاَ فَرْقَ بَيْنَ حَنْجَرَةٍ وَحَنْجَرَةٍ .

وَإِذَا انْضَمَّ الْفَهْمُ إلَى الصَّوْتِ الطَّيِّبِ الْمَوْزُونِ ، لَمْ يَزِدِ الإِْبَاحَةَ فِيهِ إلاَّ تَأْكِيدًا .

أَمَّا تَحْرِيكُ الْغِنَاءِ الْقُلُوبَ ، وَتَحْرِيكُهُ الْعَوَاطِفَ ، فَإِنَّ هَذِهِ الْعَوَاطِفَ إنْ كَانَتْ عَوَاطِفَ نَبِيلَةً فَمِنَ الْمَطْلُوبِ تَحْرِيكُهَا ، وَقَدْ وَقَعَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنِ اسْتَمَعَ إلَى الْغِنَاءِ فِي طَرِيقِهِ لِلْحَجِّ - كَمَا تَقَدَّمَ - وَكَانَ الصَّحَابَةُ يُنْشِدُونَ الرَّجَزِيَّاتِ لإِِثَارَةِ الْجُنْدِ عِنْدَ اللِّقَاءِ ، وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ يَعِيبُ عَلَيْهِمْ ذَلِكَ ، وَرَجَزِيَّاتُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ وَغَيْرِهِ مَعْرُوفَةٌ مَشْهُورَةٌ .

الْغِنَاءُ لأَِمْرٍ مُبَاحٍ :

إِذَا كَانَ الْغِنَاءُ لأَِمْرٍ مُبَاحٍ ، كَالْغِنَاءِ فِي الْعُرْسِ ، وَالْعِيدِ ، وَالْخِتَانِ ، وَقُدُومِ الْغَائِبِ ، تَأْكِيدًا لِلسُّرُورِ الْمُبَاحِ ، وَعِنْدَ خَتْمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ تَأْكِيدًا لِلسُّرُورِ كَذَلِكَ ، وَعِنْدَ سَيْرِ الْمُجَاهِدِينَ لِلْحَرْبِ إِذَا كَانَ لِلْحَمَاسِ فِي نُفُوسِهِمْ ، أَوْ لِلْحُجَّاجِ لإِِثَارَةِ الأَْشْوَاقِ فِي نُفُوسِهِمْ إلَى الْكَعْبَةِ الْمُشَرَّفَةِ ، أَوْ لِلإِْبِل لِحَثِّهَا

عَلَى السَّيْرِ - وَهُوَ الْحُدَاءُ - أَوْ لِلتَّنْشِيطِ عَلَى الْعَمَل كَغِنَاءِ الْعُمَّال عِنْدَ مُحَاوَلَةِ عَمَلٍ أَوْ حَمْل ثَقِيلٍ ، أَوْ لِتَسْكِيتِ الطِّفْل وَتَنْوِيمِهِ كَغِنَاءِ الأُْمِّ لِطِفْلِهَا ، فَإِنَّهُ مُبَاحٌ كُلُّهُ بِلاَ كَرَاهَةٍ عِنْدَ الْجُمْهُورِ .

وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِمَا ذُكِرَ سَابِقًا مِنْ حَدِيثِ الْجَارِيَتَيْنِ الَّذِي رَوَتْهُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا (2) وَهَذَا نَصٌّ فِي إبَاحَةِ الْغِنَاءِ فِي الْعِيدِ .

وَبِحَدِيثِ بُرَيْدَةَ قَال : خَرَجَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ جَاءَتْ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ : يَا رَسُول اللَّهِ إنِّي كُنْتُ نَذَرْتُ - إِنْ رَدَّكَ اللَّهُ سَالِمًا - أَنْ أَضْرِبَ بَيْنَ يَدَيْكَ بِالدُّفِّ وَأَتَغَنَّى ، فَقَال لَهَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنْ كُنْتِ نَذَرْتِ فَاضْرِبِي وَإِلاَّ فَلاَ .

وَهَذَا نَصٌّ فِي إبَاحَةِ الْغِنَاءِ عِنْدَ قُدُومِ الْغَائِبِ تَأْكِيدًا لِلسُّرُورِ ، وَلَوْ كَانَ الْغِنَاءُ حَرَامًا لَمَا جَازَ نَذْرُهُ ، وَلَمَا أَبَاحَ لَهَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِعْلَهُ .

وَبِحَدِيثِ عَائِشَةَ : أَنَّهَا أَنْكَحَتْ ذَاتَ قَرَابَةٍ لَهَا

مِنَ الأَْنْصَارِ ، فَجَاءَ رَسُول اللَّهِ فَقَال : أَهْدَيْتُمُ الْفَتَاةَ ؟ قَالُوا : نَعَمْ ، قَال : أَرْسَلْتُمْ مَعَهَا مَنْ يُغَنِّي ؟ قَالَتْ : لاَ ، فَقَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ الأَْنْصَارَ قَوْمٌ فِيهِمْ غَزَلٌ ، فَلَوْ بَعَثْتُمْ مَعَهَا مَنْ يَقُول : أَتَيْنَاكُمْ أَتَيْنَاكُمْ ، فَحَيَّانَا وَحَيَّاكُمْ . وَهَذَا نَصٌّ فِي إبَاحَةِ الْغِنَاءِ فِي الْعُرْسِ .

وَبِحَدِيثِ عَائِشَةَ قَالَتْ : كُنْتُ مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ . وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ جَيِّدَ الْحُدَاءِ ، وَكَانَ مَعَ الرِّجَال ، وَكَانَ أَنْجَشَةُ مَعَ النِّسَاءِ ، فَقَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاِبْنِ رَوَاحَةَ : حَرِّكِ الْقَوْمَ ، فَانْدَفَعَ يَرْتَجِزُ ، فَتَبِعَهُ أَنْجَشَةُ ، فَأَعْنَفَتِ الإِْبِل ، فَقَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَِنْجَشَةَ رُوَيْدَكَ ، رِفْقًا بِالْقَوَارِيرِ . يَعْنِي النِّسَاءَ .

وَعَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَال : كُنَّا مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ ، وَنَحْنُ نَؤُمُّ

مَكَّةَ ، اعْتَزَل عَبْدُ الرَّحْمَنِ الطَّرِيقَ ، ثُمَّ قَال لِرَبَاحِ بْنِ الْمُغْتَرِفِ : غَنِّنَا يَا أَبَا حَسَّانَ ، وَكَانَ يُحْسِنُ النَّصْبَ - وَالنَّصْبُ ضَرْبٌ مِنَ الْغِنَاءِ - فَبَيْنَا رَبَاحٌ يُغَنِّيهِ أَدْرَكَهُمْ عُمَرُ فِي خِلاَفَتِهِ فَقَال : مَا هَذَا ؟ فَقَال عَبْدُ الرَّحْمَنِ : مَا بَأْسٌ بِهَذَا ؟ نَلْهُو وَنُقَصِّرُ عَنَّا السَّفَرَ ، فَقَال عُمَرُ : فَإِنْ كُنْتَ آخِذًا فَعَلَيْكَ بِشِعْرِ ضِرَارِ بْنِ الْخَطَّابِ بْنِ مِرْدَاسٍ فَارِسِ قُرَيْشٍ .

وَكَانَ عُمَرُ يَقُول . الْغِنَاءُ مِنْ زَادِ الرَّاكِبِ ، وَهَذَا يَدُل عَلَى إبَاحَةِ الْغِنَاءِ لِتَرْوِيحِ النَّفْسِ .

وَرَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَأْمُرُ بِالْحُدَاءِ

0 comments: