Nabi Yusuf dan Istri Pembesar

Filed under: by: 3Mudilah

Surat Yusuf termasuk di antara surat-surat yang nyata-nyata mengandung sejumlah kisah ujian dan cobaan. Di dalam surat ini pula kita melihat sejelas-jelasnya bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di dalam perjalanan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam terdapat pula berbagai pelajaran dan tanda-tanda keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagi mereka yang mau bertanya serta mencari petunjuk dan bimbingan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ ءَايَاتٌ لِلسَّائِلِينَ

Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)

Awal kisah ini bermula dari sejak Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjejakkan kakinya di bumi Mesir, jauh dari kampung halamannya, jauh dari ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Diperjualbelikan sebagai budak belian, hingga jatuh ke tangan seorang pembesar Mesir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ. وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ. وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ. وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ. وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ. فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ. يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ. وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ. قَالَتْ فَذَلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا ءَامُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونَنْ مِنَ الصَّاغِرِينَ. قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ. فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Rabbnya. Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.” Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu.”
Sebagian ulama menceritakan bahwa pembesar itu adalah salah seorang menteri raja yang tidak mempunyai anak. Sebagian lagi mengatakan bahwa dia seorang kebiri (kasim, sida-sida), tidak menyentuh wanita. Pembesar tersebut membeli Nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk istrinya agar menjadi pelayannya. Inilah salah satu alasan dia membeli Nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk istrinya. Adapun alasan lainnya, karena ketika itu usia Nabi Yusuf ‘alaihissalam masih kecil, sehingga perlu perhatian. Sementara tidak ada yang dapat memberi perhatian dan asuhan selayaknya untuk anak seusia itu kecuali seorang wanita (ibu).
Sesungguhnya godaan wanita yang dialami Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah cobaan paling besar yang beliau hadapi dalam hidup beliau. Hal itu karena banyaknya faktor yang mendukung untuk terjadinya kekejian antara seorang laki-laki dengan perempuan. Padahal satu saja dari beberapa faktor tersebut sudah cukup untuk menjerumuskan sepasang pria dan wanita ke dalam kehinaan tersebut. Sementara faktor yang ada di sekitar Nabi Yusuf dan istri pembesar itu sendiri justru sangat banyak.
Semua itu, berangkat dari ketertarikan kepada rupa atau bentuk (shuurah). Sementara di dalamnya terdapat berbagai kerusakan yang dapat terjadi saat itu juga atau pada suatu ketika. Karena sesungguhnya ketertarikan kepada rupa atau bentuk itu dapat merusak hati. Dan apabila hati sudah rusak, maka rusak pula kehendak (niat), ucapan dan perbuatan. Selanjutnya, rusak pula pos-pos tauhid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kepada kita tentang ketertarikan istri pembesar itu kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam, rayuan berikut tipu dayanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan tentang keadaan yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam karena sifat ‘iffah, kesabaran, dan ketakwaannya. Padahal cobaan yang dihadapi oleh beliau ini, adalah keadaan yang tidak seorang pun dapat bersabar menghadapinya kecuali orang yang diberi kesabaran oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apalagi terjadinya sebuah perbuatan sesuai dengan kuatnya dorongan dan tidak adanya penghalang untuk bertindak. Sedangkan keadaan yang dialami beliau sangat kuat pendorongnya, yaitu:

1. Naluri laki-laki yang suka kepada wanita, seperti orang yang sedang kehausan membutuhkan air dan orang kelaparan yang ingin makan. Bahkan kebanyakan laki-laki, mampu bersabar untuk tidak makan dan minum, tetapi tidak sabar dari kaum wanita. Namun, naluri ini tidaklah tercela, apabila diletakkan pada tempat yang halal, bahkan dipuji.

2. Kondisi Nabi Yusuf ‘alaihissalam sebagai seorang pemuda gagah yang rupawan, sedangkan syahwat seorang pemuda sangat kuat.

3. Keadaan beliau yang masih jejaka, belum pernah menikah, dan tidak pula mempunyai budak perempuan untuk menyalurkan hasratnya.

4. Beliau berada di negeri asing, yang memungkinkan seseorang yang jauh dari negeri asalnya melampiaskan sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya di tanah kelahirannya, di antara sanak keluarganya dan orang-orang yang mengenalnya.

5. Wanita yang merayunya itu memiliki kedudukan dan kecantikan. Padahal salah satunya saja, sudah cukup mengundang laki-laki untuk menggaulinya.

6. Wanita itu tidak mencegah dan menolak. Biasanya, banyak laki-laki yang padam keinginannya karena ada penolakan dan ketidaksukaan dari si wanita, karena dia merasa hina dan tunduk serta mengemis kepada wanita itu. Meski banyak pula dengan adanya ketidaksukaan dan penolakan dari wanita itu justru semakin menambah syahwat dan keinginannya. Seperti diungkapkan:

وَزَادَنِي كَلَفًا فِي الْحُبِّ إِن ْمُنِعْتُ
أَحَبُّ شَيْءٍ إِلَى الْإِنْسَانِ مَا مُنِعَا

Semakin besar cintaku kalau aku dihalangi
Yang paling dicintai seseorang adalah apa yang terhalang

7. Wanita itu meminta, menginginkan, dan membujuk serta mengusahakan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Nabi Yusuf ‘alaihissalam tidak demikian. Beliau justru dalam keadaan mulia serta diharapkan.

8. Nabi Yusuf ‘alaihissalam tinggal di rumah wanita itu, di bawah kekuasaannya dan ada kekhawatiran akan disiksa bila tidak menuruti kemauannya. Sehingga terkumpullah pada beliau dorongan keinginan sekaligus adanya rasa takut.

9. Beliau tidak khawatir wanita itu akan menceritakan perbuatannya, bahkan tidak satu pun dari pihak wanita itu, sebab wanita itulah yang memiliki keinginan dan tuntutan. Bahkan dia telah mengunci semua pintu, serta pengawas pun tidak ada.

10. Secara lahiriah Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah budak yang dimiliki oleh wanita itu. Beliau keluar-masuk rumah bersama wanita itu, tak seorang pun mengingkarinya. Apalagi kedekatan serta kebersamaan adalah awal sebuah keinginan, dan ini termasuk pendorong yang sangat kuat.
Sebagaimana pernah ditanyakan kepada seorang wanita Arab bangsawan, mengapa dia berzina? Kata wanita itu: “Dekatnya jarak dan panjangnya malam.” Artinya, karena dekatnya laki-laki itu kepadaku dan panjangnya malam yang kami lalui.

11. Wanita itu mengancam Nabi Yusuf ‘alaihissalam akan dipenjarakan dan dihinakan. Ini termasuk pemaksaan. Karena hal tersebut adalah ancaman dari orang yang besar kemungkinannya melaksanakan ancaman tersebut, sehingga menyatu dalam diri Nabi Yusuf ‘alaihissalam dorongan syahwat dan keinginan selamat dari penjara serta kehinaan.

12. Suami wanita itu tidak menampakkan rasa cemburu dan kejantanan yang mendorongnya memisahkan wanita itu dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Bahkan perkataannya yang paling tinggi ditujukan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam hanyalah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَعْرِضْ عَنْ هَذَا

Berpalinglah dari ini.
Sedangkan kepada istrinya dia mengatakan sebagaimana dalam ayat:

وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ

Dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.

Padahal, besarnya kecemburuan seorang suami termasuk penghalang paling besar terjadinya penyelewengan seorang istri, namun ternyata hal itu tidak terlihat dari suami wanita tersebut.

Akan tetapi, dengan segala faktor pendorong ini, ternyata Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih mengutamakan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasa takut kepada-Nya. Cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendorong beliau untuk memilih penjara daripada zina. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.

Semua ini mendekatkan kepada kita bentuk kesabaran yang dijalani oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan memberikan bekal serta pelajaran dasar kepada kita dimana beliau terdidik di atasnya. Bahkan itu semua menjadi salah satu alasan ketegaran beliau.

Sebab, tidak mungkin akan dapat menahan diri dalam situasi seperti ini mereka yang terbiasa membiarkan dirinya berkecimpung di mana saja dia mau lalu baru berangan-angan untuk tabah (menahan diri).

Dengan semua faktor tersebut, Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih memilih kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar sehingga beliau memperoleh kebahagiaan, kemuliaan di dunia dan surga di akhirat. Kesabaran yang beliau rasakan menghadapi godaan wanita ini jauh lebih berat daripada kesabaran yang beliau alami ketika berada dalam sumur. Beliau lebih memilih penjara daripada menuruti keinginan istri pembesar itu demi mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takut akan siksa-Nya.

Karena itu pula betapa agung kedudukan mereka yang mampu menahan dirinya dari kehinaan karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang salah satu dari tujuh golongan yang dinaungi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam naungan yang tidak ada lagi naungan pada hari itu selain naungan-Nya:

رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتَ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافَ اللهُ

Laki-laki yang diajak oleh seorang wanita bangsawan dan cantik, tapi dia berkata: ‘Aku takut kepada Allah’.

Akhirnya beliau menjadi pembesar negara, sedangkan istri pembesar itu menjadi seperti budak di sisi beliau. Karena itu, orang yang cerdik hendaknya jeli memandang setiap persoalan dan tidak mengedepankan kesenangan sesaat daripada kesenangan abadi.
Siapa yang sabar memelihara farji-nya, niscaya tidak akan digunakannya kecuali pada tempat-tempat yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (Al-Mu’minun: 5-6)

Karena dengan cara itu dia akan selamat dari zina dan liwath (homo) serta terjamin pula selamatnya kehormatan dirinya dari kesia-siaan.

Dalam kisah ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam sama sekali tidak melakukan dosa apapun. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menyebutkan satu dosa dari salah seorang Nabi-Nya melainkan Dia sertakan pula istighfar Nabi tersebut. Dalam surat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan adanya istighfar dari Nabi Yusuf ‘alaihissalam, tidak pula menceritakannya di awal terjadinya peristiwa tersebut bersama istri pembesar. Dari sini jelaslah bahwa beliau tidak pernah berbuat dosa. Bahkan yang ada hanyalah sekadar keinginan yang beliau tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga beliau memperoleh pahala karenanya.

Di dalam kisah istri pembesar ini terdapat pelajaran berharga, di antaranya:

1. Apabila cinta melampaui batasan syariat, niscaya menimbulkan mudharat, baik terhadap yang mencinta maupun yang dicintai.

2. Bagi yang mencinta, maka cinta seperti itu akan menghilangkan akalnya sehingga muncul berbagai tindakan yang tidak benar; resah, gelisah, lalai, seolah-olah dia tidak hidup di atas dunia ini. Demikianlah yang pernah dinukil, bahwa cinta itu kalau bukan sihir maka dia adalah sekelumit kegilaan. Sementara kegilaan itu beraneka ragam bentuknya. Wallahul musta’an.

Dalam sebuah hadits disebutkan pula:

أحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْماً مَا. وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْماً مَا

Cintailah orang yang kau cintai sedang-sedang saja, boleh jadi suatu ketika dia menjadi yang paling kau benci. Bencilah orang yang kau benci sedang-sedang saja, karena bisa jadi suatu ketika dia menjadi yang paling kau cintai.”1

3. Di dalam kisah ini kita lihat betapa berbahayanya berduaan (khalwat) dengan wanita yang bukan mahram. Karena itu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Janganlah kamu masuk kepada kaum wanita (yang bukan mahram/istri). Seorang sahabat Anshar bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang al-hamwu (kerabat suami, anak paman, dan sebagainya).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-Hamwu adalah maut (kematian).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu ketika menukil keterangan tentang hadits ini, mengatakan: “Yang dimaksud adalah bahwa berdua dengan al-hamwu ini, akan menggiring pada kehancuran agama kalau terjadi maksiat. Dan membawa kepada kematian kalau terjadi maksiat yang mengharuskan adanya rajam. Atau kehancuran bagi si wanita karena dicerai oleh suaminya, apabila dia terdorong oleh kecemburuannya.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, “Sebenarnya yang dimaksud adalah bahwa berduaan dengan kerabat suami lebih sering terjadi daripada dengan yang lainnya, dan kejahatan yang mungkin terjadi pun lebih sering daripada dengan yang lain. Bahkan fitnah juga demikian. Semua itu karena adanya kesempatan dan kemungkinan dia berhubungan dan berduaan dengan wanita tersebut tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Berbeda halnya dengan ajnabi (bukan mahram, bukan suami).” Wallahu a’lam.

Keadaan seperti inilah yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Tidak ada orang yang mengingkari, karena status beliau adalah budak bagi keluarga tersebut. Atau anak angkat mereka. Sehingga apa yang hendak dilakukan wanita itu kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam, juga tidak dipedulikan orang. Namun, keimanan dan ketakwaan yang ada di dalam diri Nabi Yusuf ‘alaihissalam, memelihara beliau untuk tidak menuruti keinginan wanita tersebut.

Lantas, setelah Nabi Yusuf ‘alaihissalam siapakah lagi yang selamat dari fitnah wanita dan mampu menahan diri (bersabar) dari perbuatan keji (zina)? Apalagi dengan kondisi seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam? Terlebih di zaman yang banyak terjadi perbuatan keji yang dikemas dengan label agama? Wallahul Musta’an.

Berbagai buku cerita tentang kisah “kasih” sepasang anak manusia begitu laris digelar. Dengan berbagai versi, lakon, dan latar belakang. Bahkan tidak segan-segan pula dipenuhi dengan berbagai dalil dari ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, tertipulah orang-orang yang tertipu dan senantiasa mementingkan syahwat dunianya. Mereka anggap itulah ajaran Islam. Wallahul Musta’an.
(Insya Allah bersambung)

1 HR. At-Tirmidzi dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 178 dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=908

Nabi Yusuf dan Istri Pembesar (Sebuah Renungan), bag 2

Dunia adalah tempat ujian dan cobaan

Sesungguhnya dunia adalah negeri tempat berbagai macam ujian dan cobaan serta amalan. Di dunia ini kita mengalami berbagai musibah, penyakit, dan semua yang mengeruhkan pikiran kita. Semua itu sesuai dengan takdir Allah Yang Maha Hakim (Menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya) lagi Maha mengetahui. Musibah dan kesulitan-kesulitan tersebut umumnya disebabkan oleh dosa yang kita lakukan.

Sehingga berbagai petaka dan musibah itu mungkin berfungsi sebagai penghapus dosa dan kesalahan seorang manusia, atau mengangkat derajat dan kedudukannya di sisi Rabb semesta alam, sebagaimana ujian dan musibah yang dialami oleh para Nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً ْالأَنْبِيَاءُ ثُمَّ ْالأَمْثَلُ فَْالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian yang semisal mereka, kemudian yang semisal mereka. Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka apabila dia teguh dan kokoh dalam agamanya, semakin keras pula ujian yang diterimanya. Kalau dalam agamanya ada kelembekan, maka dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Dan senantiasa seseorang menerima ujian, hingga dia dibiarkan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak menanggung dosa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya balasan seiring dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah, jika Dia mencintai suatu kaum, niscaya Dia uji mereka. Sehingga siapa yang ridha (menerima ujian itu) maka dia akan memperoleh keridhaan dan siapa yang marah (tidak rela menerima ujian itu) maka dia tentu menerima kemarahan.”

Adapun fitnah atau ujian paling membahayakan seorang laki-laki adalah fitnah wanita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku satu fitnah yang lebih membahayakan terhadap kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.

Hal ini adalah karena manusia itu sebagaimana dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang.” (Ali ‘Imran: 14)

Semua ini merupakan hal-hal yang jika manusia memandangnya begitu indah dalam kehidupan dunia mereka. Bahkan menjadi salah satu sebab ujian bagi mereka. Namun yang paling beratnya adalah fitnah wanita. Sedangkan berita dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kenyataan ini adalah agar waspada terhadap fitnah wanita.

Melalui hadits ini pula kita dapatkan faedah adanya upaya menutup segala pintu yang membawa kepada fitnah wanita. Sebab itu pula wajib bagi kaum wanita untuk berhijab, tidak menampakkan perhiasannya di hadapan pria yang bukan mahram atau suaminya.

Wajib pula kaum wanita menjauhkan dirinya dari tempat-tempat yang penuh dengan ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan perempuan. Dan demi menjaga hal ini pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan dan paling jeleknya adalah yang paling belakang. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling jeleknya adalah yang paling depan.

Semua itu adalah agar menjauhkan wanita dari barisan laki-laki. Bahkan dalam sebagian riwayat, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja duduk beberapa saat, tidak berbalik menghadapi para sahabatnya seusai shalat agar memberi kesempatan kaum wanita keluar lebih dahulu, tidak berebut pintu dengan kaum laki-laki.

Menundukkan pandangan


Untuk menjaga dan menutup semua jalan yang dapat membawa seseorang kepada perbuatan keji inilah, adanya perintah kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan agar menundukkan pandangannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, serta janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya..
” (An-Nur: 30-31)

Ibnul Qayyim rahimahullahu menerangkan bahwa dalam ghadhdhul bashar (menundukkan pandangan) ini terdapat sejumlah faedah:1

Faedah pertama, menahan pandangan akan melepaskan jiwa dari pedihnya kekecewaan/penyesalan. Karena orang yang mengumbar pandangan matanya, semakin panjang kekecewaannya. Dia melihat sesuatu yang memperbesar keinginannya tetapi dia tidak mampu bersabar menahannya, namun juga tidak mampu meraih seluruhnya. Itulah penderitaan. Sebagaimana dikatakan:

وَكُنْتَ مَتَى أَرْسَلْتَ طَرْفَكَ رَائِدًا
لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ
رَأَيْتَ الَّذِي لاَ كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ
عَلَيْهِ وَلاَ عَن بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ

Jika engkau lepaskan pandanganmu sebagai duta
Bagi hatimu, niscaya kelak pemandangan itu akan memayahkanmu
Kau lihat apa yang tidak semuanya dapat kau raih
Tidak pula terhadap sebagiannya kau dapat bersabar

Pandangan itu menembus ke dalam jantung seperti panah menembus. Kalau panah itu tidak membunuhmu, maka dia pasti melukai. Seperti api yang dilemparkan ke rerumputan kering, kalau tidak melalap habis seluruhnya, dia tentu membakar sebagiannya. Benarlah ungkapannya:

كُلُّ الْحَوَادِثِ مَبْدَاهَا مِنَ النَّظَرِ
وَمَعْظَمُ النَّارِ مِن مُسْتَصْغَرِ الشَّرَرِ
كَمْ نَظْرَةً بَلَغَتْ فِى قَلْبِ صَاحِبِهَا
كَمَبْلَغِ السَّهْمِ بَيْنَ الْقَوْسِ وَالْوَتَرِ

Semua kejadian awalnya dari pandangan
Api yang besar asalnya adalah percikan yang kecil
Betapa banyak pandangan yang melukai hati pemiliknya
Bagai serbuan panah di antara busur dan senarnya

Faedah kedua, menahan pandangan mewariskan cahaya dalam hati, kecemerlangan yang nampak pada mata dan wajah serta anggota tubuh. Sebagaimana halnya melepaskan pandangan mata menyebabkan kegelapan yang terlihat pada wajah dan anggota tubuh pelakunya. Sebab itulah –wallahu a’lam– Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ayat surat An-Nur:

اللهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi,” sesudah firman-Nya:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya.

Faedah ketiga, menahan pandangan mewariskan firasat yang sehat. Karena firasat yang benar merupakan bagian dari cahaya sekaligus buahnya. Apabila hati itu bersinar terang, niscaya firasat itu benar, karena hati bagai cermin yang bening, menampakkan semua obyek yang diketahui sebagaimana adanya. Sedangkan lepasnya pandangan, seperti embusan nafas di kaca tersebut. Sehingga jika seseorang melepaskan pandangannya, maka nafasnya naik menyelimuti cermin hatinya sehingga memudarkan cahaya hati tersebut.

Syuja’ Al-Karmani mengatakan: “Siapa yang memenuhi lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan senantiasa muraqabah dan menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, menahan nafsunya dari syahwat, serta memakan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan meleset.” Dan firasat Syuja’ rahimahullahu tidak pernah meleset.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi balasan kepada hamba-Nya sesuai dengan jenis amalannya. Sehingga, siapa yang menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala gantikan untuknya berupa tajamnya cahaya bashirah (mata hatinya). Maka ketika dia menahan pandangannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lepaskan cahaya bashirahnya. Sebaliknya, siapa yang melepaskan pandangannya kepada yang diharamkan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tahan bashirahnya.

Faedah keempat, menahan pandangan membukakan untuknya jalan-jalan dan pintu-pintu ilmu, memudahkan baginya segala sebab meraih ilmu tersebut. Hal itu karena adanya cahaya hati. Sehingga, jika hati itu bercahaya, tampaklah semua hakikat ma’lumat (yang diketahui), tersingkaplah semua hakikat itu dengan segera baginya dan menembus kepada yang lainnya. Sebaliknya, siapa yang melepaskan pandangannya, niscaya perbuatan itu mengeruhkan hatinya, menggelapinya serta menghalanginya dari pintu dan jalan-jalan ilmu.

Faedah kelima, menahan pandangan menyebabkan kekuatan, keteguhan, dan keberanian hati hingga memberinya kekuasaan bashirah kepadanya disertai kekuatan hujjah. Dalam sebuah atsar disebutkan: “Sesungguhnya orang yang menyelisihi hawa nafsunya, setan pun akan takut kepada bayangan orang tersebut.

Sebab itulah didapati pada mereka yang menuruti hawa nafsunya, kehinaan dan kelemahan hati serta kerendahan jiwa, yang memang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka yang lebih mementingkan hawa nafsunya daripada keridhaan-Nya.
Al-Hasan (Al-Bashri rahimahullahu) pernah mengatakan: “Sesungguhnya mereka, meski (suara derap) bighal (peranakan kuda dan keledai, red.) berjalan mengiringi mereka dan keledai-keledai berbaris di belakang mereka, kehinaan maksiat ada dalam hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak suka kecuali menghinakan orang-orang yang mendurhakai-Nya.

Faedah keenam, menahan pandangan menyebabkan kegembiraan, kebahagiaan, dan kelapangan hati yang lebih hebat daripada kelezatan, kesenangan yang diperoleh karena memandang (sesuatu yang diharamkan). Tidak diragukan lagi, bahwa jiwa kita, bila dia menyelisihi hawanya, niscaya menimbulkan kebahagiaan dan kegembiraan serta kelezatan yang lebih sempurna daripada kelezatan karena menuruti hawa dalam hal-hal yang tidak ada kecocokan di antara keduanya. Di sinilah letak keistimewaan akal daripada hawa nafsu.

Faedah ketujuh, menahan pandangan akan melepaskan hati dari tawanan syahwat. Karena yang dikatakan tawanan adalah orang yang ditawan oleh syahwat dan hawa nafsunya. Seperti burung pipit di tangan seorang balita yang mempermainkan si pipit kecil itu tanpa daya untuk terbang.

Faedah kedelapan, menahan pandangan akan menutup pintu jahannam darinya.

Faedah kesembilan, menahan pandangan akan memperkuat akal, menambah dan meneguhkannya. Sedangkan kebiasaan mengumbar pandangan tidak terjadi melainkan karena kurangnya akal dan tidak memiliki perhatian terhadap akibat yang terjadi.

Faedah kesepuluh, menahan pandangan akan membersihkan hati dari mabuk syahwat dan lelapnya kelalaian. Karena mengumbar pandangan menyebabkan kuatnya kelalaian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan negeri akhirat bahkan menjerumuskan pelakunya ke dalam perasaan dimabuk asmara. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang dimabuk cinta terhadap wajah yang rupawan:

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

(Allah berfirman): ‘Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)’.” (Al-Hijr: 72)

Karena itu, mengumbar pandangan bagai secangkir arak (tuak, minuman keras) dan ‘isyq adalah rasa mabuk akibat minuman tersebut. Sementara, mabuk karena ‘isyq lebih hebat daripada mabuk karena khamr. Sebab, orang mabuk karena minuman keras mungkin akan sadar, tetapi mabuk karena ‘isyq amat jarang menjadi sadar kecuali ketika dia di ambang kematian.

Kisah ‘Atha’ bin Yasar rahimahullahu


Pernah pula di kalangan tabi’in yang mengalami ujian seperti ini. ‘Atha’ bin Yasar, saudara Sulaiman bin Yasar. Dalam riwayat hidup beliau, diceritakan:

Suatu hari dia berangkat dari Madinah bersama saudaranya Sulaiman dan beberapa sahabat mereka. Kemudian mereka singgah di Abwa’ dan membuat kemah. Di daerah itu ada seorang wanita badui yang cantik jelita yang ingin menimbulkan fitnah pada ‘Atha’ bin Yasar. Maka masuklah wanita itu ke dalam tenda di saat ‘Atha’ tinggal sendirian. Ketika itu beliau sedang shalat, maka beliau pun mempercepatnya karena mengira wanita itu sedang dalam keperluan.
Setelah itu beliau bertanya kepada wanita itu: “Engkau ada keperluan?”
“Ya,” kata wanita itu.
“Apa itu?”tanya ‘Atha’.
“Bangun dan gauli saya. Saya tidak bersuami,” jawab wanita itu.
“Pergilah dari sini. Jangan kau bakar aku dan dirimu dengan api neraka,” kata ‘Atha’. Lalu mulailah beliau menangis sampai tersedu-sedu.
Melihat ‘Atha’ menangis, wanita itu tersentuh, lalu ikut pula menangis mendengar nasihat yang diucapkan ‘Atha’ tadi. Akhirnya wanita itu pun duduk menangis. Dua orang laki-laki dan perempuan itu menangis hebat. Kemudian datanglah Sulaiman bin Yasar dan melihat dua orang ini sedang menangis. Dia tidak tahu apa yang tadi terjadi. Tapi jiwanya ikut terdorong untuk menangis menyaksikan keadaan mereka berdua. Tak lama datang pula sahabat mereka lalu masuk ke dalam tenda. Mereka melihat ada seorang wanita menangis bersama ‘Atha’ dan Sulaiman yang juga menangis. Mereka pun terpengaruh, lalu ikut menangis tanpa tahu ada kejadian apa sebelum ini.
Akhirnya, semua terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Setelah tenang, wanita itu bangkit dan pergi. Kemudian yang lain pun berdiri dan beranjak dari tempat itu. Semuanya pergi ke tempat tidurnya. Sementara Sulaiman merasa segan bertanya kepada saudaranya ada yang terjadi?

Hari-hari berlalu. Suatu ketika mereka safar ke Mesir.
Pada malam harinya, di sebuah kamar, ‘Atha’ terbangun sambil menangis. Mendengar isak tangis saudaranya, Sulaiman tergugah dari tidurnya. Beliau bertanya kepada ‘Atha’: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?
Tangis ‘Atha’ semakin keras. Sulaiman kembali bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?”
“Mimpi yang baru saja kulihat malam ini,” kata ‘Atha’.
“Mimpi apa?” tanya Sulaiman. Lalu beliau terus mendesak agar ‘Atha’ menceritakannya. Maka ‘Atha’ meminta kesepakatan dan janji saudaranya untuk tidak menceritakannya selama dia masih hidup.

Kata ‘Atha’: “Aku melihat Nabi Yusuf q dalam mimpiku. Mulailah aku memandang beliau. Ketika aku melihat eloknya rupa beliau, aku menangis –dalam mimpi–. Beliau pun memandangku dan berkata: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai fulan?
Aku berkata: ‘Demi bapak dan ibuku tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat engkau dan istri pembesar itu serta ujian yang engkau alami dengannya. Penjara yang engkau rasakan, perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub q, maka aku pun menangis karenanya’.
Aku merasa takjub kepada beliau.

Beliau pun berkata: ‘Akulah yang mestinya takjub dengan lawan wanita badui di Abwa’ itu?’ Aku tahu apa yang beliau maksud, maka aku pun menangis dan terbangun sambil terus menangis. Kemudian ‘Atha’ rahimahullahu menceritakan pula kisahnya dengan wanita badui di Abwa.

Kisah ini disimpan oleh Sulaiman bin Yasar sampai ‘Atha’ meninggal dunia. Setelah ‘Atha’ meninggal dunia, dia pun menceritakan kisah ini hingga menjadi terkenal di Madinah.

Sulaiman bin Yasar sendiri adalah seorang yang gagah dan rupawan. Suatu hari, seorang wanita masuk ke dalam rumahnya dan merayunya agar menggauli dirinya. Tapi Sulaiman menolak. Wanita itu berkata kepadanya: “Kalau begitu aku akan mempermalukanmu.
Akhirnya, Sulaiman melarikan diri keluar dari rumahnya, dia biarkan rumah itu untuk si wanita.

Kisah Abu Bakr Al-Miski rahimahullahu


Lain lagi dengan Abu Bakr Al-Miski.
Dia digelari Al-Miski (berbau misik/minyak wangi) karena sebuah kejadian. Ada seorang wanita meminta agar Abu Bakr masuk ke dalam rumahnya. Abu Bakr adalah seorang pedagang. Maka beliau pun masuk. Ternyata wanita itu menginginkan perbuatan yang haram. Untuk itu, dia (wanita tersebut) tutup pintu rumahnya. Lalu apa yang dilakukan Abu Bakr?
Dia bekata: “Saya ingin ke kamar kecil.” Kemudian di dalam kamar mandi (WC) dia melaburi tubuhnya dengan kotoran dan keluar dari kamar mandi. Wanita itu menjauh darinya lalu membuka pintu rumahnya, akhirnya Abu Bakr pun keluar meninggalkan wanita itu. Sejak saat itulah tubuhnya berbau misik (meskipun tidak menggunakan minyak wangi). Wallahu a’lam.

Yang terakhir, jatuh cinta karena semata rupa yang elok termasuk hal-hal yang disebabkan oleh unsur kesyirikan. Semakin jauh seseorang dari keikhlasan, semakin dekat kepada kesyirikan, maka cintanya kepada rupa yang elok semakin kuat. Semakin kuat tauhid dan keikhlasan seseorang semakin jauh dia dari godaan rupa yang elok. Kenyataan inilah yang menjerumuskan istri pembesar kepada apa yang diceritakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu syirik yang ada padanya. Sedangkan Nabi Yusuf q selamat dari perbuatan tersebut karena keikhlasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)

Kata السُّوءَ (kemungkaran) di sini bermakna al-’isyq (cinta) sedangkan الْفَحْشَاءَ (kekejian) adalah perbuatan zina. Orang yang mukhlash ialah orang yang memurnikan cintanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membersihkannya dari fitnah ‘isyq terhadap rupa. Dan orang yang musyrik, hatinya terpaut kepada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak membersihkan tauhid dan cintanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahul Muwaffiq.

Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harist
1 Raudhatul Muhibbin hal. 97 dengan ringkas.

http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=935

0 comments: