LM3: Aneh Jika Ada Umat Islam Menolak Fatwa Haram Merokok

Filed under: by: 3Mudilah


Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) menilai, fatwa haram rokok bisa selamatkan umat

Hidayatullah.com--Arus dukungan terhadap fatwa haram merokok yang dikeluarkan Majelis Tarjih Muhammadiyah terus mengalir. Kali ini dari Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Fuad Baradja.

Menurut Fuad Baraja, fatwa haram merokok bisa menyelamatkan umat manusia.

“Fatwa haram merokok yang dikeluarkan Muhammadiyah sangat bagus. Bentuk lompatan ke depan yang luar biasa,” terangnya.

Kepada hidayatullah.com ketika ditemui di Surabaya, dia mengatakan, fatwa haram merokok setidaknya bisa menyadarkan masyarakat akan bahaya rokok. Sebab, dengan fatwa setidaknya bisa menyelamatkan umat. Untuk itu dia menyayangkan adanya pihak yang merespon negatif, bahkan cenderung menentang fatwa tersebut. Apalagi, yang melakukan itu umat Islam.

“Jika ada dari umat Islam sendiri yang tidak terima fatwa tersebut justru aneh. Masa menyelamatkan umat Islam kok ditentang,” tegasnya.

Lebih jelas dia mengatakan, setidaknya ada dua kemungkinan alasan bagi yang tidak setuju fatwa haram merokok.

“Bisa karena tidak paham atau karena memiliki keuntungan dari rokok tersebut,” ujarnya.

Dia mengatakan, Indonesia termasuk negara aneh dalam masalah rokok. Betapa tidak, dari sekitar 168 negara yang menolak rokok, justru Indonesia sebagai negara miskin yang menerima. Tidak hanya itu, pemerintah seolah membodohi rakyat.

“Di satu sisi iklan rokok massif, namun edukasi dan informasi bahaya merokok sangat jarang, bahkan bisa dikatakan tidak ada,” ujarnya.

Hal itu sangat bertolak belakang di negara maju. Di Australia, setiap bungkus rokok ada gambar mengerikan akibat rokok. Tak hanya itu, agar tidak terjangkau masyarakat, harganya dinaikkan hingga mencapai Rp 100 ribu.

“Indonesia menjadi serbuan industri rokok karena belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control atau FCTC,” katanya.

“Jadi, jangan bangga jika banyak investor rokok ke Indonesia. Sebab, tidak ada lagi yang mau, kecuali Indonesia,” tegasnya.

Dia juga mengimbau agar petani tembakau tidak khawatir dengan fatwa tersebut. “Para petani tembakau seharusnya mengganti dengan jenis tanaman lain yang lebih menguntungkan,” ujarnya.

Apalagi selama ini harga tembakau ditentukan oleh pihak industri rokok. Itu pun grade kualitasnya ditentukan pihak mereka. [ans/www.hidayatullah.com]
http://hidayatullah.com/berita/lokal/11139-lm3-aneh-jika-ada-umat-islam-menolak-fatwa-haram-merokok

Mayoritas Perokok Umat Islam Dan Orang Miskin


Lembaga penanggulangan masalah rokok menengarai, mayoritas perokok adalah orang Islam dan orang miskin

Hidayatullah.com—Meski rokok sudah jelas-jelas membahayakan kesehatan, masih saja banyak orang yang tidak menyadarinya. Yang tak kalah mengejutkan, umumnya pengguna rokok di Indonesia, adalah umat Islam dan orang Miskin. Pernyataan ini disampaikan Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan pada Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Fuad Baradja, Senin (22/3).

“Kebanyakan mereka tukang becak, kuli bangunan, nelayan dan buruh serabutan lainnya sebagai perokok,” tegasnya kepada hidayatullah.com di Surabaya.

Karena itu, demi memberikan edukasi dan penyuluhan pada perokok, Fuad demikian biasa disapa rela meninggalkan dunia intertainment. Kini, pria keturunan Yaman ini secara total terjun ke LM3.

Bukan saja karena banyaknya angka perokok alasan Fuad bergelut dalam bidang tersebut, melainkan kebanyakan dari perokok adalah umat Islam yang notabene miskin.

Menurut mantan artis yang sangat dikenal lewat perannya di sinetron "Jin dan Jun" ini yang sekarang lebih dikenal sebagai aktivis anti rokok ini, selama dalam kegiatannya roadshow penyuluhan bahaya rokok di sejumlah daerah, dia mengaku selalu mendapatkan orang miskin pengguna berat rokok.

Pernah ada seorang miskin yang disuruh Fuad berhenti merokok malah berkata, “lah saya ini orang miskin. Kebahagiaan saya hanya rokok,” jawabnya. Menurut Fuad, fenomena seperti itu sangat banyak di masyarakat.

Lebih jelas dia mengatakan, rokok mengandung nikotin dan zat adiktif berbahaya. Seperti halnya oksigen (H2O) yang dihisap ke paru-paru, kemudian dialirkan ke seluruh tubuh.

Sedang, jika merokok, yang dihisap adalah racun (nikotin). Menurutnya, nikotin diterima reseptor kemudian mengaktifkan dopamin. Dopamin itulah yang menimbulkan perasaan senang dan sebagainya. Dan, jika tidak merokok, maka dopamin tidak muncul dan pasti ingin merokok. Itulah kemudian rokok mencandi candu. Karena itu, menurutnya, jangan heran jika banyak perokok yang sulit berhenti.

Dia mengatakan, seperti dalam sebuah keluarga, jika ada seorang ayah merokok, yang akan kena imbas adalah seluruh keluarga.

“Bapak asik merokok, padahal, di dekatnya ada istri yang sedang menyusui dan anak yang sedang bermain, bukannya itu berbahaya” tegasnya. [ans/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/berita/lokal/11136-mayoritas-perokok-umat-islam-dan-orang-miskin

Rakyat Miskin Ikut Sumbang Cukai Rokok

Cukai rokok yang dibayar, bukan berasal dari pengusaha rokok. Tapi, berasal para perokok yang ternyata rakyat miskin



Hidayatullah.com--Cukai rokok yang mengalir ke APBN tahun 2010 ini, tercatat Rp 59 Triliun. Tapi, dana yang dikeluarkan pemerintah dalam APBN untuk penanggulangan penyakit yang ditimbulkan akibat merokok, mencapai Rp150 Triliun. Demikian dikatakan DR. Rohani Budi Prihatin dari Pusat Penelitian Pengembangan Info DPR-RI, saat berkunjung ke Payakumbuh beberapa waktu lalu.

Menurut Rohani, teramat ironis, jika masih ada kelompok yang menentang lahirnya Perda Kawasan Tanpa Rokok atau fatwa MUI dan Muhammadiyah yang menyatakan merokok haram.

Pasalnya, dampak yang ditimbulkan rokok, bukan saja kepada pribadi yang merokok, tapi kepada publik yang berada di seputar orang merokok.

"Bayangkan, dalam sebuah ruangan pertemuan ada 200 orang, akibat satu dan dua orang yang merokok, semuanya terancam bahaya rokok," tegasnya.

Dikatakannya, cukai rokok yang dibayar, bukan berasal dari pengusaha rokok. Tapi, berasal dari orang yang merokok. Malahan, orang miskin yang merokok pun ikut membayar cukai ini.

"Jadi jangan dikira pengusaha rokok bersangkutan yang bayar cukai. Saatnya, masyarakat jangan mau dibodohi dalam persoalan pendapatan dari cukai rokok ini," katanya. [pdtd/www.hidayatullah.com]

0 comments: