Hadits Bukan Wahyu?

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan

Assalamualaikum.

Ustadz, ada salah satu kelompok pengajian di tempat saya (Sidoarjo) yang mengatakan bahwa hadits bukan wahyu, karena banyaknya pertentangan yang terjadi seputar hadits. Bahkan ustadznya bilang hadits itu buatan orientalis.

Saya secara pribadi tidak sepakat dengan pendapat tersebut, karena setelah dialog beberapa kali, ustadz tersebut tidak bisa membuktikannya.

Pertanyaan saya bagaimana hukum masjid yang mengadakan pengajian seperti ini, dan bagaimana ketentuan bermakmum di belakang imam yang berkeyakinan seperti itu?

Choir1777

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahamatullahi wabarakatuh,

Ini merupakan fenomena betapa negeri kita kekurangan ulama. Jangan dulu bicara ulama yang khusus di bidang ilmu hadits, bahkan ulama yang biasa-biasa saja, kita pun tetap kekurangan.

Akibatnya, orang-orang yang bukan berkapasitas ulama pun dijadikan rujukan. Ibarat peribahasa, tidak ada rotan akar pun jadi.

Cobalah nyalakan pesawat televisi Anda, lalu carilah acara ceramah agama Islam, maka anda akan bertemu dengan sekian banyak penceramah dengan berbagai aksi panggungnya. Tapi sayangnya, kalau kita kumpulkan semua wajah yang sering tampil di TV itu, dan kita lihat biodata mereka, maka kita baru akan sadar bahwa kebanyakan mereka belum memenuhi syarat sebagai ulama.

Keadaan ini agak berbeda kalau kita berada di negeri muslim lainnya. Misalnya saja Mesir. Di sana tidak mungkin ada seorang bisa tampil di mimbar khutbah Jumat di masjid yang kecil, kecuali beliau adalah seorang ahli syariah yang paham dan mengerti berbagai masalah keagamaan secara mendalam, serta sudah melahap habis yang namanya ilmu Tafsir, Hadits dan berbagai macam cabang ilmu Fiqih.

Apalagi bila sudah sampai tampil di TV, maka sudah bisa dipastikan hanya ulama yang benar-benar mendalam ilmu agamanya yang bisa tampil.

Ustadz Tidak Mengerti Ilmu Hadits

Di negeri kita, orang-orang yang tidak mengerti ilmu hadits masih bisa punya jamaah pengajian. Ini seringkali memprihatinkan. Masak sih, cuma membedakan mana hadits palsu buatan orientalis dan mana hadits shahih yang sudah dikritisi muhaddits tidak bisa? Apalagi kalau sampai harus menggeneralisir bahwa semua hadits adalah buatan para orientalis.

Bahwa ada hadits palsu yang dibuat oleh orientalis, kita memang tidak bisa menafikan. Misalnya lafadz hubbul wathani minal iman, cinta kepada negara termasuk sebagian dari iman. Ini jelas bukan hadits nabi, tetapi buatan orientalis yang ingin memecah-belah umat Islam dan menghidupkan nasionalisme sempit. Lafadz diatas adalah Hadits Maudu' (palsu) yang bukan perkataan Nabi SAW.

Tetapi kalau dengan alasan itu lantas kufur terhadap SEMUA hadits nabawi yang shahih, jelas sebuah kekeliruan yang fatal. Sebab hadits nabi yang kita miliki sudah melewati kritik yang sangat dahsyat.

Syarat-syarat yang diajukan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim atas sebuah hadits shahih, sebenarnya sudah sangat berat. Tetapi ada ribuan bahkan puluhan ribu hadits yang shahih, baik yang dishahihkan oleh kedua muhaddits itu atau pun oleh muhaddits lainnya.

Bahkan seandainya orang non muslim mengetahui dengan pasti bagaimana canggihnya para muhaddits melakukan screening terhadap keshahihan suatu hadits, pastilah dia akan masuk Islam. Sebab proses pemurnian hadits itu merupakan salah satu darikeajabiandunia. Tidak pernah ada di dalam agama manapun. Setidaknya, kalau pun mereka tidak masuk Islam, mereka akan angkat topi dan memberikan penghormatan yang tinggi.

Bermakmum di Belakang Orang Seperti Ini

Sebenarnya untuk menilai apakah kita sah shalat di belakang seorang yang bermasalah dalam agama, cukup sederhana. Prinsipnya, selama seorang masih sah melakukan shalat, maka hukumnya juga sah kalau kita bermakmum di belakangnya. Ini logika fiqihnya.

Seorang yang ingkar terhadap hadits nabi, secara aqidah sebenarnya sudah menyimpang dari agama Islam. Namun kalau dia mendapat informasi yang bias karena kelangkaan ulama, apa boleh buat.

Dalam pandangan kami, ketimbang kita memusuhi dan mencela orang seperti ini, bahkan melakukan punnishment dengan berfatwa tidak mau bermakmum di belakangnya, mungkin ada jalan yang lebih bijak.

Misalnya, kita pertemukan beliau dengan ulama ahli hadits yang memang benar-benar punya kharisma dan keilmuannya diakui semua pihak. Barangkali kalau hanya kita sendiri yang menghadapinya, boleh jadi dia masih memandang sebelah mata.

Upayakan biar terjadi tukar informasi yang lancar. Agar tidak menimbulkan rasa malu, buatlah dialog itu tertutup dengan yang bersangkutan langsung. Agar pesan dan ishlah bisa sampai tanpa harus mempermalukan wibawa seseorang.

Pendeknya, utamakan perbaikan dan jauhi permusuhan. Dakwah adalah mengajak dan memberi informasi, bukan mengejek dan mencaci.

Wallahua'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahamatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
www.warnaislam.com

0 comments: