Yahya Waloni: Merasa Indah Saat Menjadi Muslim

Filed under: by: 3Mudilah

Mantan pendeta yang telah mengislamkan sekitar 97 ribu Kristen ini menyatakan dirinya berislam setelah merenungi isi Al-Quran




Hidayatullah.com--Al-Quran adalah petunjuk (alhuda) bagi setiap orang. Bahkan untuk seorang pendeta sekalipun. Akhir Oktober 2006, kebenaran Al-Quran itu telah meruntuhkan iman sang pendeta bergelar doktor sekaligus mantan Rektor STT Calvinis Ebenhaezer Sorong, Yopie Waloni.

Hari Ahad (13/12), di masjid Al-Falah Surabaya, Waloni berkesempatan berceramah di hadapan ratusan jamaah. Mantan pendeta yang telah mengislamkan sekitar 97 ribu Kristen ini menyatakan dirinya berislam setelah merenungi isi Al-Quran. Setelah itu, nama Yopie Waloni diganti menjadi Muhammad Yahya Waloni.

Menurut Yahya, Al-Quran adalah firman Allah yang berisi sumber keselamatan dunia dan akhirat. “Al-Quran adalah kitab suci Allah yang mengandung sumber kehidupan dan keselamatan dunia dan akhirat,” tegasnya.

Hal itu sangat berbeda di teologi Kristen. Dia mengatakan, dalam Kristen ada 66 kitab, 39 perjanjian lama dan 27 perjanjian baru. Dan semua alkitab itu, telah diubah sesuai kepentingan.

Seperti 27 alkitab perjanjian baru itu, 95 persen takhayul dan omong kosong. Sedang hanya 5 persen yang sesuai Al-Quran,” tegasnya.

Dari situlah dia melihat, content alkitab diubah-ubah sesuai kepentingan politis. Dan baginya hal itu sangat ironis, mengingat alkitab merupakan firman tuhan.

“Masa al-kitab kok diubah-ubah,
” ujarnya. Karena faktor itulah, dia berani mengambil kesimpulan jika orang Kristen sesat dan masuk neraka. “Karena al-kitab mereka itulah, mereka sesat, dan masuk neraka,” tegasnya.

Tak tanggung-tanggung, kesimpulan yang terkesan provokatif itu dia bukukan. Judulnya “Surga bagi Islam, Neraka bagi Kristen” dan buku tersebut merupakan yang ketiga dari dua buku tentang alasan memilih Islam.

Meski terkesan provokatif, menurut ia, tak takut menyinggung atau kena intimidasi orang Kristen.

Jika mereka tak terima silakan complain, mari kita berdebat,” tegasnya. Meski demikian, hingga kini belum ada pendeta yang mau berdebat dengannya.

Menjadi Muslim merupakan hal paling indah bagi suami Muthmainnah ini, meski secara ekonomi sangat jauh ketika dulu menjadi pendeta.

Dia mengatakan, ketika menjadi pendeta kenikmatan apapun pernah dirasakan. Terlebih uang, tak terhitung jumlahnya. Namun itu semua tak membuatnya bahagia. Justru waswas dan merasa ada yang salah.

Sekarang, meski hidup seadanya, bahkan di awal sempat beberapa bulan menjadi pemulung di daerah Jakarta, justru kebahagiaan yang dirasa.

“Sungguh saya merasa sangat bahagia menjadi muslim,” ungkapnya, yang disambut takbir para jamaah. [ans/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10110:yahya-waloni-merasa-indah-saat-menjadi-muslim&catid=1:nasional&Itemid=54

0 comments: