Mengangkat Tangan Saat Berdo’a: Antara Pengagum dan Pencela

Filed under: by: 3Mudilah


Mengangkat Tangan Saat Berdo’a: Antara Pengagum dan Pencela (Bag. 1)


Pernah suatu ketika saya menyampaikan sebuah khutbah jum’at tentang adab-adab berdo’a dan bagaimana caranya agar do’a tersebut dikabulkan oleh Alloh Ta’ala. Di antara yang saya sebutkan saat itu adalah bahwasannya mengangkat tangan saat berdo’a adalah salah satu sebab terkabulnya do’a, lalu saya menyebutkan beberapa hadits shohih yang berhubungan dengan masalah ini yang dalam perkiraan saya insya Alloh diterima oleh orang-orang yang ingin mencari kebenaran. Namun ternyata buntutnya melenceng dari yang saya bayangkan sebelumnya. Hujatan, celaan, sindiran atau lainnya yang semisal banyak berdatangan.

Sebagian dari mereka mengatakan : “Khutbah tadi akan membuat organisasi lain bertepuk tangan kegirangan.” Ada lagi yang mengatakan : “Kalau memang itu benar, lalu kenapa para kyai-kyai warok (besar) itu tidak pernah mengajarkannya ?” Ada lagi yang lebih lucu mengatakan : “Kalau ingin menyampaikan masalah seperti itu harus dimusyawarahkan terlebih dahulu.” dan masih banyak lagi.

Itu mungkin hanya salah satu contoh kasus yang berhubungan dengan masalah mengangkat tangan yang ada ditengah masyarakat kita. Yang paling tidak menunjukkan adanya dua kutub yang saling bersebrangan. Yang satu sangat mengkultuskan angkat tangan dalam berdo’a, sehingga semua do’a dalam semua keadaan harus dengan mengangkat tangan. Disisi lainnya ada yang sangat apriori dengan angkat tangan seakan-akan itu bukan merupakan bagian dari ajaran islam, dengan sedikit berkilah : “Apakah Alloh Ta’ala tidak tahu permintaan kita, sehingga butuh angkat tangan ?

Dalam perkiraan saya bahwa kejadian semacam ini bukan didaerah saya saja, tapi juga terjadi pada daerah-daerah lainnya di bumi nusantara ini, oleh karena itu di dorong untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran serta mendudukkan masalah pada tempat yang sebenarnya, maka saya kemukakan hal ini tanpa ada tendensi untuk membela atau mencela golongan tertentu, namun semuanya berdasar pada Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman para ulama’ salaf kita. Karena memang kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa ahlus sunnah adalah orang yang paling mengetahui kebenaran dan yang paling kasih sayang pada sesama.

Dan saya mengajak kepada segenap kaum muslimin agar memahami masalah ini dengan kepala dingin, tinggalkan semua ta’ashub dan fanatik madzhab, golongan, tokoh dan lainnya. Kembalilah pada firman Alloh Ta’ala (yang artinya) :

Hai orang-orang yang beriman, Ta’atilah Alloh dan ta’atilah rosul Nya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.

Wallohul Muwaffiq


Do’a adalah ibadah

Tanpa ada keraguan lagi bagi segenap ummat islam bahwa berdoa’ adalah ibadah, bahkan ini adalah nash dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam . beliau bersabda :

عن النعمان بن بشير قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الدعاء هو العبادة

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rosululloh bersabda : “Berdo’a adalah ibadah.

Bahkan berdoa’ ini adalah sebuah ibadah yang sangat mulia, yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul Nya pada ummat islam. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

Berdoalah kalian kepada Ku, niscaya akan Aku kabulkan.

Syarat diterimanya ibadah

Kalau sudah diketahui bahwa berdo’a adalah ibadah, maka harus terpenuhi dua syarat diterimanya ibadah, yaitu :

1. Ikhlash hanya kepada Alloh Ta’ala sajaAlloh Ta’la berfirman :

Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Ku dengan ikhlas.

(QS. Al Bayyinah : 5)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.

(HR. Bukhori Muslim)

2. Mengikuti sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamAlloh Ta’ala berfirman :

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh maka ikutilah aku, niscaya Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.

(QS. Ali Imron : 31)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa yang mengamalkan suatu perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.

(HR. Muslim 1718)

Kedua syarat ini terangkum dalam firman Alloh :

Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan jangan ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah pada Tuhannya.

(QS. Al Kahfi : 110)

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah :

Maksud firman Alloh Ta’ala : “Maka hendaklah dia mengerjakan amal sholih.” adalah amal perbuatan yang sesuai dengan sunnah, adapun maksud firman Nya : “Dan jangan ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah.” Yaitu hanya mengharapkan wajah Alloh tiada sekutu bagi Nya. Dua hal ini adalah syarat diterimanya sebuah amal perbuatan, yaitu harus ikhlash dan sesuai dengan ajaran Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam .

(Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/133)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :

Tidak ragu lagi bahwa dzikir dan do’a termasuk ibadah yang mulia, tetapi ibadah itu harus didasarkan dalil dan ittiba’ (mengikuti sunnah) bukan didasari dengan hawa nafsu dan ibtida’ (mengada-adakan sesuatu yang baru). Do’a dan dzikir yang di contohkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang seharusnya diamalkan. Sebab orang yang mengamalkannya akan memperoleh keamanan dan keselamatan. Sedang dzkir dan do’a selainnya bisa jadi diharamkan, makruh atau bisa jadi terkotori syirik yang sering kali orang tidak memahaminya. Dan tidak boleh bagi seseorang untuk membuat dzikir atau do’a-doa yang tidak di contohkan lalu dijadikannya sebagai ibadah yang diamalkan, seperti halnya sholat. Orang yang mengamalkan dzikir dan do’a bid’ah tersebut tiada lain kecuali orang-orang bodoh, meremehkan atau orang yang berlebih-lebihan.

(Lihat Majmu’ Fatawa 22/510-511)

Dalil tentang mengangkat tangan dalam berdo’a


Sangat banyak hadits yang menunjukkan tentang sunnahnya mengangkat tangan saat berdo’a, bahkan sebagian para ulama ada yang mengatakan bahwa haditsnya mencapai derajat mutawatir maknawi. Berkata Imam As Suyuthi :

Ada sekitar seratus hadits dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau mengangkat tangan saat berdo’a, saya telah mengumpulkannya dalam sebuah kitab tersendiri, namun hal itu dalam keadaan yang berbeda-beda. Setiap keadaannya tidaklah mencapai derajat mutawatir, namun titik persamaan antara semuanya yaitu mengangkat tangan saat berdo’a mencapai derajat mutawatir.

(Tadribur Rowi 2/180)

Namun karena hadist-hadist tersebut banyak yang panjang, maka cukup disini disebutkan letak permaslahan mengenai mengangkat tangannya Rosululloh saat berdoa’. Hadits-hadits tersebut diantaranya adalah :

Imam Bukhori mencantumkan sebuah bab dalam kitab shohih beliau : “Bab mengangkat tanga saat berdo’a.” lalu beliau meriwayatkan beberapa hadits yaitu :

عن أبي موسى الأشعري : دعا النبي صلى الله عليه وسلم ثم رفع يديه ورأيت بياض إبطيه
وقال بن عمر: رفع النبي صلى الله عليه وسلم وقال : اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد
عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه رفع يديه حتى رأيت بياض إبطيه

Dari Abu Musa Al Asy’ari berkata : “Rosululloh berdo’a kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, dan saya melihat putih kedua ketiak beliau.
Dari Ibnu Umar berkata : “Rosululloh mengangkat kedua tangan beliau, lalu beliau berdo’a : “Ya Alloh, saya berlindung darimu atas apa yang diperbuat Kholid.

(Shohih Bukhori 7/189 secara mu’alllaq)

Dari Anas dari Rosululloh bahwasannya beliau mengangkat tangan beliau sehingga saya melihat putih kedua ketiaknya.


(Shohih Bukhori no : 6341)

Al Hafidl Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/142 mengisyaratkan kepada beberapa hadits mengenai hal ini diantaranya :

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu berkata : “Thufail bin Amr datang kepada Rosululloh lalu berkata : “Sesungguhnya Bani Daus telah durhaka, maka berdo’alah kepada Alloh untuk kehancuran mereka.” Maka Rosululloh menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya lalu berkata : “Ya Alloh, berilah hidayah kepada Bani Daus.

(Adab Mufrod no : 611, hadits ini dalam shohihain tanpa tambahan : “Mengangkat kedua tangannya”)

Dari Jabir bin Abdillah berkata : “Sesungguhnya Thufail bin Amr pergi hijroh…” lalu beliau menyebutkan kisah hijroh beliau bersama seseorang yang bersamanya. Dalam hadits ini terdapat lafadl : “Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : “Ya Alloh, Ampunilah kedua orang tuanya.” Dan beliau mengangkat kedua tangan beliau.

(Adabul Mufrod : 614 dengan sanad shohih, Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim : 116 tanpa tambahan : “Mengangkat kedua tangannya.”)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Sesungguhnya beliau melihat Rosululloh berdo’a sambil mengangkat tangan dan berkata : “Ya Alloh, sesungguhnya saya hanyalah seorang manusia …

(Adab Mufrod 613, berkata Al Hafidl : “Sanadnya shohih.”)

Al Hafidl Ibnu Hajar juga berkata :

“Diantara hadits-hadits shohih tentang masalah mengangkat tangan dalam berdo’a adalah :

Apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab “Rof’ul Yadain.” 157 : “Saya melihat Rosululloh mengangkat kedua tangan beliau mendo’akan Utsman.

Imam Muslim 913 meriwayatkan dari Abdur Rohman bin Samuroh tentang kisah sholat gerhana matahari, beliau berkata : “Saya sampai pada Rosululloh , dan saat itu beliau sedang mengangkat tangan berdo’a.”

Juga dari hadits Aisyah tentang sholat gerhana : “Bahwasannya Rosululloh mengangkat tangan saat berdo’a.”

(Shohih Muslim 901)

Juga hadits Aisyah tentang do’a beliau untuk ahli kubur baqi’, beliau berkata : “Rosululloh mengangkat tangannya tiga kali.”

(Shohih Muslim : 973)

Dalam sebuah hadits panjang tentang pembebasan kota Makkah dari Abu Huroiroh bahwasannya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya dan berdo’a

(Shohih Muslim : 1780)

Juga hadits tentang kisah Ibnul Lutbiyyah terdapat kisah : “Kemudian Rosululloh mengangkat kedua tangan beliau sehingga saya melihat putih kedua ketiak beliau. Beliau berkata : “Ya Alloh, bukankah sudah saya sampaikan.”

(Bukhori : 2597, Muslim : 1832)

Hadits Amr bin Ash : “Bahwasannya Rosululloh menyebutkan kisah Nabi Ibrohim dan Isa, maka beliau mengangkat tangannya dan berkata : “Ya Alloh, selamatkanlah ummatku.”

(Muslim : 202)

Dari Usamah bin Zaid berkata : “Saya membonceng Rosululloh di Arafah, lalu beliau mengangkat tangannya berdo’a, lalu unta beliau itu agak miring sehingga jatuh tali pelananya, maka beliau mengambilnya dengan satu tangan sementara beliau masih mengangkat tangan lainnya.” (HR. Nasa’i 5/254 dengan sanad shohih).”

(Lihat Fathul Bari 11/142)

Diantara hadits shohih yang menunjukan masyru’nya mengangkat tangan adalah apa yang diriwayatkan oleh Salman Al Farisi bahwasannya Rosululloh n/ bersabda :

“Sesungghnya Alloh itu Maha Pemalu dan Pemurah, Dia malu terhadap hamba Nya apabila mengangkat tangan berdo’a lalu mengembalikan dengan tangan hampa.”

(HR. Abu Dawud 1488, Turmudli 3556 dengan sanad shohih, lihat Shohihul Jami’ 1753)

Dan masih banyak hadits lainnya, Namun yang disebutkan diatas insya Alloh sudah mencukupi.

Semua hadits tersebut yang mencapai derajat mutawatir maknawi menunjukan bahwa termasuk adab berdo’a adalah mengangkat tangan, bahkan juga termasuk hal-hal yang bisa membuat do’a tersebut dikabulkan oleh Alloh Ta’ala. (Lihat Fiqh Al Ad’iyah wal Adzkar Oleh Syaikh Abdur Rozzaq Al Abbad 2/175)

Berkata Imam Syaukani rahimahullah :

“Yang menunjukkan atas di syariatkannya mengangkat tangan saat berdo’a adalah apa yang dilakukan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar tiga puluh tempat dalam berbagai macam do’a bahwa beliau mengangkat tangan.”

(Lihat Tuhfatudz Dzakirin hal : 36)

Berkata Imam Ibnu Rojab rahimahullah :

“Mengangkat tangan adalah termasuk salah satu adab dalam berdo’a, yang itu bisa membuat do’a mustajabah.”

(Lihat Jami’ Ulum Wal Hikam 1/253)

Dalam Kitab Ad Duror As Sunniyah fil Ajwibah An Najdiyah 4/158 disebutkan bahwa Syaikh Sa’id bin Haji tatkala ditanya tentang mengangkat tangan dalam berdo’a beliau menjawab :

“Banyak hadits yang menunjukkan disunnahkannya mengangkat tangan saat berdo’a, tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali orang yang bodoh.”

Cara mengangkat tangan saat berdo’a

Setelah kita memahami bahwa mengangkat tangan saat berdo’a itu sunnah Rosululloh, maka sekarang bagaimana cara mengangkat tangan tersebut ?

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dengan sanad yang shohih baik secara marfu’ maupun mauquf berkata :

“Berdo’a untuk meminta sesuatu adalah dengan cara engkau mengangkat kedua tanganmu sejajar dengan pundak, adapun kalau saat beristighfar maka engkau mengisyaratkan dengan satu jari, adapun kalau meminta sesuatu dalam keadaan sangat kepepet maka engkau angkat semua tanganmu keatas.”

(HR. Abu Dawud : 1489, Thobroni dalam kitab du’a : 208, dishohihkan oleh Imam Al Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud : 1321)

Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid mengomentari hadits Ibnu Abbas tersebut :

“Telah datang beberapa hadits dari perbuatan Rosululloh yang menerangkan keadaan setiap doa’, yaitu :

1. Keadaan berdo’a untuk meminta sesuatu maka caranya mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua pundak dengan mengumpulkan kedua telapak tangannya, membentangkan bagian depan telapak tangannya ke arah langit dan punggungnya ke arah bumi, dan kalau dikehendaki bisa dihadapkan ke arah wajahnya sedangkan punggungnya menghadap kiblat. Ini adalah cara mengangkat tangan yang biasa dilakukan dalam do’a, witir, istisqo’ dan saat-saat do’a pada waktu menjalankan ibadah haji yaitu di Arafah, Masy’aril Haram, setelah melempar jumroh aqobah wushtho dan shughro serta saat berada diatas bukit shofa dan marwa juga do’a-do’a lainnya.

2. Tatkala istighfar, caranya dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan. Cara ini khusus dilakukan saat dzikir dan berdo’a saat khutbah, juga saat tasyahud serta saat berdzikir, memuji dan mengagungkan Alloh Ta’ala di luar sholat.

3. Saat benar-benar merendahkan diri pada Alloh Ta’ala untuk meminta sesuatu dengan sangat atau dalam keadaan sangat kepepet. Caranya adalah dengan mengangkat seluruh tangan ke langit sehingga bisa dilihat putih ketiaknya karena saking tingginya saat mengangkat tangan. cara ini lebih khusus dari pada dua cara sebelumnya, dan hanya digunakan untuk saat-saat genting dan rumit, seperti masa paceklik, diserang musuh, ada musibah atau lainnya.

Ketiga cara ini harus digunakan pada saatnya yag tepat.”

(Lihat Tashhihud du’a oleh Syaikh Bakr Abu Zaid hal : 116 dengan sedikit perubahan)

Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah :

“Mengangkat tangan saat berdo’a ada tiga macam, yaitu :

1. Yang jelas ada sunnahnya dari Rosululloh, maka ini disunnahkan mengangkat tangan saat berdo’a tersebut. Misal saat istisqo’, berdo’a saat diatas bukit shofa dan marwa serta lainnya.
2. Yang jelas tidak ada sunahnya, maka tidak boleh mengangkat tangan. Seperti berdo’a saat sholat dan tasyahud akhir.
3. Yang tidak ada dalilnya secara langsung, apakah mengangkat tangan ataukah tidak, maka hukumnya pada dasarnya termasuk adab berdo’a adalah mengangkat tangan.”

(Liqo’ Bab Maftuh hal : 17,18)

Faedah yng dipetik dari syariat mengangkat tangan saat berdo’a


Semua syariat Alloh Ta’ala pasti mengandung hikmah yang sangat tinggi tak terbatas. Akal pikiran kita terlalu lemah untuk bisa mengungkap hikmah dibalik semua syariat yang ditetapkan Alloh Ta’ala dan Rosul Nya. Cukuplah bagi kita merupakan sebuah keutamaan kalau kita bisa mengungkap sebagiannya.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah :

Jika engkau perhatikan hikmah yang menakjubkan dari syariat agama islam ini, tidak ada untaian kalimat yang bisa menerangkannya dan tidak ada satu pun akal yang bisa mengusulkan sebuah syariat yang lebih sempurna darinya, maka cukuplah sebagai sebuah kesempurnaan akal kalau dia mengetahui keagungan dan keutamaannya.

(Miftah Darus Sa’adah 2/308)

Diantara makna dan hikmah yang tersembunyi dibalik syariat angkat tangan dalam berdo’a ini adalah :

1. Menunjukkan kerendahan, hajat dan kebutuhan dirinya pada Alloh Ta’ala, yang dengan ini seseorang akan bertambah khusu’ dalam do’anya dan itu merupakan sebab diterimanya do’aAlloh Ta’ala berfirman :

Wahai sekalian manusia, kalian adalah faqir (membutuhkan) Alloh dan Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

(QS. Fahir : 15)

Berkata Imam As Safarini :

Berkata para ulama’ : “Disyariatkannya mengangkat tangan dalam berdo’a adalah supaya lebih merendahkan diri pada Alloh, yang dengannya dia akan bisa benar-benar tadlorru’ dalam beribadah kepada Alloh. Juga terkadang seseorang itu tidak mampu untuk membangkitkan hatinya dari kelalaian, maka dia bisa lakukan dengan penggabungan tangan dengan lisan, ini semua adalah salah satu cara untuk menuju khusu’nya hati.

(Lihat Syarah Tsulatsiyat Musnad 1/655)

2. Dalam mengangkat tangan terdapat makna bahwa Alloh adalah Dzat yang mengatur alam semesta, dan berbuat sekehandak Nya. Oleh karena itulah Dia berhak di ibadahi dan dimintai serta direndahkan diri pada Nya dengan serendah-rendahnya, karena memang barang siapa yang meyombong pada Nya akan memperoleh kehinaan dan yang orang yang merasa cukup dengan keutamaan Nya akan memperoleh kefaqiran.

3. Dalam mengangkat tangan juga menunjukkan bahwa Alloh Dzat yang Maha Pengasih dan Pemurah, yang akan mengabulkan semua permintaan hamba Nya, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni oleh Nya, tidak ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi Nya, oleh karena itu Alloh Malu melihat hamba Nya yang mengangkat tangan pada Nya kemudian mengembalikannya dalam keadaan hampa, sebagaimana yang disebutkan oleh Rosululloh.

4. Mengangkat tangan saat berdo’a menunjukkan bahwa Alloh berada di atas , tepatnya di Arsy di atas langit ke tujuh. Pembahasan ini insya Alloh kita bahas pada edisi berikutnya

.
Kesimpulan


Dari pembahasan diatas dapat kita ambil beberapa kesimpulan, yaitu :

1. Do’a adalah ibadah
2. Syarat diterimanya ibadah ada dua, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikut sunnah Rosululloh )
3. Hadits yang menunjukan mengangkat tangan dalam berdo’a mutawatir maknawi
4. Cara mengangkat tangan dalam berdo’a ada tiga, sebagaimana perincian diatas
5. Banyak hikmah yang diambil dari syariat mengangkat tangan saat berdo’a.

Namun pembahasan ini masih menyisakan beberapa permasalahan, diantaranya :

1. Apakah dengan disunnahkannya mengangkat tangan ini berarti setiap kali berdo’a dan disegala tempat dan keadaan juga disunnahkan mengangkat tangan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum musimin ? ataukah butuh perincian ?
2. Lalu bagaimana dengan beberapa hadits yang kayaknya mengatakan bahwa mengangkat tangan hanya pada do’a minta hujan saja ? seperti hadits Anas bin Malik?
3. Dan beberapa masalah lainnya.

Insya Alloh Ta’ala juga akan kita bahas pada edisi mendatang, semoga Alloh memudahkan.

Akhirnya saya hanya bisa mengajak ummat islam agar memahami masalah ini sesuai dengan pokok dasar kita Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Semoga Alloh Ta’ala selalu membimbing kita untuk tetap berada di jalan Nya.
Wallohu A’lam

Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf
http://ahmadsabiq.com/2009/11/24/doa-angkat-tangan-a/

Mengangkat Tangan Saat Berdo’a: Antara Pengagum dan Pencela (Bag 2)

Pada dua edisi yang lalu saya katakan bahwa pembahasan mengenai mengangkat tangan saat berdo’a ini masih menyisakan beberapa permasalahan yaitu :

1. Mengangkat tangan menunjukkan bahwa Alloh Ta’ala berada di atas Arsy
2. Apakah dengan disunnahkannya mengangkat tangan maka berarti setiap kali berdo’a di segala tempat dan keadaan juga harus mengangkat tangan ? ataukah butuh perincian ?
3. Apakah di syari’atkan mengusapkan telapak tangan ke wajah seusai berdo’a ?
4. Bagaimana menjawab beberapa hadits yang dhohirnya mengatakan bahwa mengangkat tangan itu hanya untuk do’a istisqo’ (minta hujan) saja ?دعاء

Insya Alloh permasalahan ini akan kita bahas pada edisi ini.
Kita mohon pada Alloh Ta’ala untuk selalu membimbing kita dalam meniti jalan kebenaran. Wallohul Muwaffiq
Mengangkat tangan saat berdo’a menunjukkan bahwa Alloh berada diatas Arsy.

Diantara hal-hal yang disepakati oleh para sahabat Rosululloh dan para ulama’ yang mengikuti mereka dengan baik adalah sebuah aqidah dan keyakinan bahwa Alloh Ta’ala berada di atas, tepatnya berada di atas Arsy di atas langit yang ketujuh.

Dalil-dalil yang menunjukkan akan hal ini amat sangat banyak, bisa dilihat pada majalah ini edisi … tahun…

Dan diantara dalil-dalil tersebut adalah syari’at untuk mengangkat tangan saat berdo’a yang menunjukkan bahwasannya Alloh berada di atas. Inilah yang difahami oleh para ulama’ sejak zaman dahulu sampai sekarang.

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab Tauhid 1/254 :

Sebagaimana di fahami bersama dalam fithroh manusia, baik yang alim maupun yang jahil, merdeka maupun budak, laki-laki maupun wanita, yang sudah baligh maupun yang masih kecil. Bahwasannya semua orang tersebut kalau berdo’a pada Alloh Ta’ala pasti akan menengadahkan kepala dan tangannya ke arah langit dan tidak akan pernah ke arah bawah.

Kalau kita cermati perkataan Imam Ibnu Khuzaimah ini akan kita dapati sangat sesuai dengan kenyataan yang ada, coba perhatikan bahwa semua orang kalau berdo’a dan memohon pada Alloh Ta’ala pasti akan menghadapkan wajahnya ke langit dan membentangkan tangannya ke arah atas, sampai pun orang-orang awam dan orang-orang fasik sekalipun.

Oleh karena itu siapapun saja kalau menyerahkan sesuatu pada kehendak Alloh Ta’ala maka dia akan mengatakan : “Terserah yang diatas sana, tanyakan pada yang diatas sana.” dan kalimat yang semisalnya. Tidak pernah kita dengar ada seseorang pun yang mengatakan : “Terserah yang dimana-mana sajalah ?” atau kalimat yang semisalnya. Hal ini adalah dalil yang tidak bisa di ingkari oleh siapapun juga, karena kalau mengingkarinya berarti dia mengingkari fithrohnya sendiri. (Lihat Fiqhul Ad’iyati Wal Adzkar oleh Syaikh Abdur Rozzaq bi Abdil Muhsin Al Badr Al Abbad 2/189)

Berkata Imam Ibnu Qutaibah :

Seandainya orang-orang yang mengingkari ketinggian Dzat Alloh itu mau kembali pada fithroh mereka dan pada asal usul penciptaan mereka dalam mengenal Alloh, pasti mereka akan mengakui bahwa Alloh adalah maha tinggi dan Dzat Nya berada di atas. Lihatlah tangan-tangan yang terangkat keatas saat berdo’a dan semua orang, baik yang arab maupun a’jam (non arab) akan selalu mengatakan bahwasannya Alloh berada di atas, selagi mereka masih memegang teguh pada fithrohnya.

(Lihat Ta’wil Mukhtalafil Hadits hal :183)

Oleh karena itulah Imam Al Juwaini harus terdiam tatkala berhadapan dengan kenyataan ini. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Abil Izz dalam Syarah aqidah Thohawiyah hal : 270 tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, beliau berkata :

“Imam Muhammad bin Thohir Al Maqdisi menceritakan bahwasanya Abu Ja’far Al Hamadani datang pada kajiannya Imam Abul Ma’ali Al Juwaini yang masyhur disebut dengan nama Imam Haromain, saat itu beliau sedang menerangkan bahwa Alloh itu tidak berada diatas. Beliau berkata :

“Alloh itu sudah ada sebelum adanya Arsy dan Dia sekarang berada di tempat sebelum adanya Arsy.

Maka Syaikh Abu Ja’far Al Hamadani berkata :

“Ya Ustadz, beritahukanlah pada kami tentang kenyataan yang kami temukan pada diri kami, bahwasanya tidak ada satu orang pun yang berkata : Ya Alloh, kecuali hatinya akan mengarah ke arah atas, dan hati itu tidak akan mengarah ke kanan atau kekiri, lalu bagaimana kami akan menolak sesuatu yang kami dapatkan dalam jiwa kami ini ?

maka Imam Haromain memukul-mukul kepalanya lalu beliau turun dan menangis seraya berkata :

“Al Hamadani telah membuatku ragu, Al Hamadani telah membuatku pusing.”

Berkata Imam Ibnu Abil Izz :

Yang dimaksud oleh Syaikh Al Hamadani adalah bahwa masalah keberadaan Alloh diatas Arsy adalah merupakan sesuatu yang diciptakan oleh Alloh sebagai fihroh makhluq tanpa harus menerimanya dari para rosul. Semua makhluq akan mendapatkan dalam hati masing- masing bahwa mereka menghadap Alloh kearah atas.

Bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa mengangkat tangan itu hanya berlaku bagi do’a istisqo (minta hujan) saja

Ada sebagian ulama’ yang berpendapat bahwa syari’at mengangkat tangan itu hanya di perintahkan kalau berdo’a minta hujan saja, adapun do’a lainnya maka tidak ada perintahnya untuk mengangkat tangan. Dan ini banyak diikuti oleh sebagian jamaah islam di Indonesia ini. Mereka berdalil dengan hadits Anas bin Malik berikut ini :

عن أنس بن مالك قال : أن نبي الله صلى الله عليه وسلم كان لا يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء حتى يرى بياض إبطيه

Dari Anas bin Malik berkata : “Bahwasannya Rosululloh tidak pernah mengangkat tangannya saat berdo’a sedikipun kecuali saat minta hujan sehingga terlihat putih ketiak beliau.

(Bukhori :1031, Muslim : 895)

Untuk mendudukkan hadits ini pada tempat yang sebenarnya maka harus kami katakan : “Bahwa hadits ini sama sekali tidak bisa digunakan untuk menolak sunnah mengangkat tangan saat berdo’a secara muthlaq kecuali saat minta hujan, karena bertentangan dengan banyak hadits lainnya yang menyatakan bahwa Rosululloh mengangkat kedua tangan saat berdo’a bukan untuk minta hujan saja”. Dan hadits-hadits tersebut mencapai derajat mutawatir sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Suyuthi dalam Tadribur Rowi 2/180 dan sudah saya sebutkan sebagiannya pada tulisan ini bagian pertama.

Dan sudah merupakan sebuah hal yang diketahui bersama bahwa kalau terjadi pertentangan antara dua dalil maka harus ditempuh jalan penggabungan antara keduanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama’ ushul.

Dan para ulama’ telah menggabungkan dengan bagus antara hadits Anas ini dengan hadits lainnya. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

“Penggabungan antara hadits Anas ini dengan beberapa hadits lainnya adalah apa yang telah disebutkan oleh beberapa para ulama’ yaitu bahwa yang dimaksud oleh Anas adalah mengangkat tangan yang sangat tinggi sehingga sampai kelihatan putih ketiaknya. Do’a inilah yang dinamakan oleh Ibnu Abbas dengan do’a saat kepepet (ibtihal).

Ibnu Abbas menjadikan do’a itu ada tiga tingkatan, yaitu : pertama : berisyarat dengan satu jari sebagaimana yang di lakukan saat khutbah jum’at, kedua : do’a untuk meminta sesuatu dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundak, ketiga : do’a saat kepeepet. Dan macam ketiga inilah yang dimaksudkan oleh Anas diatas. Oleh karena itu beliau berkata :

Rosululloh mengangkat kedua tangannya tinggi sampai terlihat putih ketiaknya.”

Cara mengangkat yang macam ini adalah apabila seseorang amat sangat tingi dalam mengangkat tanganya, maka sekaan-akan bagian dalam telapak tangannya menghadap ke tanah dan bagian pungung tangan menghadap ke atas. Yang menguatkan penafsiran ini adalah apa yang di riwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al Marosil dari hadits Abu Ayyub Sulaiman bin Musa Ad Dimasyqi berkata :

Tidak pernah diketahui bahwa Rosululloh mengangkat tangannya kecuali pada tiga tempat, yaitu saat minta hujan, mohon pertolongan dan pada sore hari Arofah, namun pada waktu lainnya hanya mengangkat tangan biasa saja.

(Lihat Al Marosil : 148)

* Syaikhul Islam juga berkata :

Barangkali juga yang dimaksud oleh Anas adalah mengangkat tangan saat khutbah jum’at 1 sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : 874 : “Bahwasannya Rosululloh tidak lebih dari pada sekedar mengangkat jari telunjuknya.

(Lihat Syarah Tsulatsiyat Musnad oleh As Safarini 1/653, dinukil dari Fiqhul Ad’iyah oleh Syaikh Abdur Rozzaq Al Abbad 2/180)

* Berkata Al Hafidl Ibnu Hajar :

“Namun harus digabungkan antara hadits Anas ini dengan hadits lainnya bahwasannya yang dinafikan oleh Anas adalah cara do’a tertentu, karena do’a saat minta hujan berbeda caranya yaitu dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi sehingga sampai menghadap wajah misalnya, padahal dalam do’a yang lain cuma sampai sejajar dengan pundak. Cara penggabungan ini tidak bertentangan dengan keterangan bahwa kedua doa tersebut sama sama terlihat putih ketiak Rosululloh, karena bisa saja digabungkan dengan kita katakan bahwasannya do’a saat minta hujan itu lebih terlihat putih ketiak beliau dari pada saat do’a yang lainnya. Mungkin karena posisi tangan saat minta hujan itu menghadap ke arah bumi sedangkan saat berdo’a lainnya menghadap ke langit. Berkata Imam Al Mundziri : “Anggaplah tidak bisa digabungkan antara keduanya, maka kita harus lebih menguatkan hadits yang menetapkan adanya mengangkat tangan.” Saya (Ibnu Hajar) berkata : terutama sekali hadits-hadits tersebut sangat banyak.” (Lihat Fathul Bari 11/142)

Oleh karena itulah Anas menceritakan do’anya Rosululloh saat minta hujan dengan mengatakan :

Sesungguhnya Rosululloh apabila minta hujan mengarahkan pungung tangannya ke langit.”

(HR. Muslim : 896)

* Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

Hal ini dikarenakan amat sangat tingginya beliau saat mengangkat tangan sehingga tubuh beliau tidak tegak lurus lagi, maka kelihatannya bagian pungung tangan beliau menghadap kelangit, dan ini bukan kerena beliua memang bertujuan untuk itu.

Kapan harus mengangkat tangan dan kapan tidak mengangkat tangan saat berdo’a ?

Sebagaimana apa yang dilakukan oleh Rosululloh merupakan sebuah sunnah yang harus diikuti, maka begitu pula yang ditinggalkan beliau juga merupakan sebuah sunnah yang harus pula diikuti. Inilah yang ditegaskan oleh para ulama’ kita, misalnya Imam Syathibi dalam Al I’tishom 1/42 dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan lainnya.

* Berkata Imam Al Albani :

Diantara sesuatu yang ditetapkan oleh para peneliti dari kalangan para ulama’ bahwasannya semua ibadah yang tidak disyariatkan oleh Rosululloh juga tidak pernah dilakukan oleh beliau, maka berarti ibadah tersebut menyelisishi sunnah. Karena sunnah itu ada dua macam, sunnah fi’liyah (sesuatu yang dikerjakan oleh Rosululloh) dan sunnah tarkiyah (Sesuatu yang sengaja ditinggalkan oleh Rosululloh). Maka kalau Rosululloh meninggalkan sebuah ibadah maka termasuk sunnah adalah kita meninggalkannya juga. Tidakkah engkau mengetahui bahwasannya adzan untuk menjalankan sholat hari raya, juga saat menguburkan mayit tidak boleh dilakukan meskipun bertujuan untuk menyebut dan mengagungkan Alloh. Hal ini tidak lain hanyalah karena perbuatan tersebut tidak pernah dikerjakan oleh Rosululloh. Dan inilah yang difahami oleh para sahabat, oleh karena itu banyak sekali peringatan dari mereka untuk tidak terjerumus dalam perbuatan bid’ah.”

(Lihat Hajjatun Nabi hal : 100,101)

Lihat masalah ini dengan agak luas pada Ilmu Ushul Bida’oleh Syaikh Ali Hasan (hal : 107-118).

Berangkat dari kaedah ini, maka kami katakan bahwa do’a yang pernah dilakukan oleh Rosululloh dan beliau tidak mengangkat tangannya maka sunnahnya tidak mengangkat tangan bahkan dikahwatirkan akan terjerumus dalam bid’ah. Dan do’a yang pernah dilakukan oleh Rosululloh dengan mengangkat tangan maka sunnahnya mengangkat tangan, adapun untuk do’a yang bersifat umum tidak ada kaitannya dengan ibadah tertentu lalu tidak ada keterangan dari Rosululloh baik mengangkat tangan ataukah tidak, maka pada dasarnya dengan mengangkat tangan.

* Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin t/ :

“Mengangkat tangan saat berdo’a ada tiga macam, yaitu :

1. Yang jelas ada sunnahnya dari Rosululloh, maka ini disunnahkan mengangkat tangan saat berdo’a tersebut. Misal saat istisqo’, berdo’a saat diatas bukit shofa dan marwa serta lainnya.

2. Yang jelas tidak ada sunahnya, maka tidak boleh mengangkat tangan. Seperti berdo’a saat sholat dan tasyahud akhir.

3. Yang tidak ada dalilnya secara langsung, apakah mengangkat tangan ataukah tidak, maka hukumnya pada dasarnya termasuk adab berdo’a adalah mengangkat tangan.”

(Liqo’ Bab Maftuh hal : 17,18)

(Lihat Masalah ini dengan terperinci ada kitab Tashhihud Du’a oleh Syaikh Bakr Abu Zaid hal : 126-129, karena kitab tersebut sangat bagus dalam masalah ini)

Yang menunjukan akan hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : 874 dari Ammaroh bin Ru’aibah sesungguhnya dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya saat khutbah diatas minbar, maka beliau berkata : “Semoga Alloh menjelekkan kedua tanganmu itu, saya melihat Rosululloh tidak lebih hanya sekedar mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.”

Dari sini dapat kita kethui kesalahan sebagian ummat islam yang selalu mengangkat tangannya setiap kali berdo’a dan disegala kesempatan. Ambil misal :

1. Selalu mengangkat tangan saat berdo’a selepas sholatSyaikh Ibnu Utsaimin berkata saat ditanya tentang hukum mengangkat tangan dan berdo’a seusai sholat :

Tidak disyariatkan bagi seseorang apabila selesai sholat untuk mengangkat tangannya sambil berdo’a, karena kalau dia ingin berdo’a, maka kalau dilakukan saat masih sholat itu lebih utama dari pada selesai sholat. Oleh karena itulah Rosululloh menganjurkan untuk melakukannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud, beliau bersabda : “Kemudian hendaklah memilih do’a yang dia kehendaki.” (Bukhori : 800)

(Lihat Fatawa Arkani Islam hal : 339, Fatawa Islamiyah 4/179)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

Tidak ada satupun sahabat yang meriwayatkan bahwa Rosululloh apabila setelah selesai sholat lalu beliau berdo’a bersama para sahabatnya, akan tetapi beliau dan para sahabatnya hanya berdzikir kepada Alloh, sebagaimana yang terdapat dalam banyak hadits.

(Majmu’ Fatawa 22/492)

2. Mengangkat tangan saat khutbah jum’at, baik bagi khothib maupun jama’ah lainnya.
Berdasarkan hadist diatas.

Berkata Syaikh Utsaimin :

Tidak disyariatkan mengangkat kedua tangan saat berdo’a ditenga khutbah. Oleh karena itu para sahabat mengingkari perbuatan Bisyr bin Marwan saat mengangkat tangannya dalam khutbah jum’at. Dan mengangkat tangan saat khutbah ini hanya disyari’atkan pada dua hal saja, pertama saat berdo’a minta hujan dan saat do’a minta berhentinya hujan. Dalilnya adalah apa yang diriwaatkan oleh Anas bin Malik bahwasannya ada seorang laki-laki yang datang saat Rosululloh sedang khutbah, lalu dia berkata : “Telah binasa harta benda …. Yang akhinya Rosululloh mengangkat kedua tangannya dan berdo’a. Dan Laki-laki itupun daang pada jum’at berikutnya dan berkata : Ya Rosululloh, harta benda kami telah tenggelam ….. maka akhirnya Rosululloh pun mengangkat tangannya dan berdo’a : ”Ya Alloh, Turunkan hujan pada daerah diluar kami bukan pada daerah kami.

(HR. Musim pada kitab Istisqo’)

Seorang khotib tidak boleh mengangkat tangannya kecuali pada dua tempat ini, demikian juga jama’ah jum’at pun tidak boleh mengangkat tangan mereka kecuali apabila khothib mengangkat tangannya, karena para sahabat hanya mengangkat tangan saat Rosululloh mengangkat tangannya.”

(Fatawa Islamiyah 4/177)

3. Berdo’a dengan mengangkat tangan setiap selesai kajian atau pertemuan, karena tidak ada nashnya dari Rosululloh dan para sahabatnya.(Lihat Fatawa Islamiyah 4/178)

4. Dan masih banyak contoh kesalahan praktek do’a sambil mengangkat tangan lainnya, namun tiga contoh diatas saya kira sudah bisa mewakilinya.

Sebagai kesimpulan masalah ini, saya nukilkan perkataan Syaikh Bin Baz :

“Semua do’a yang terdapat pada zaman Rosululloh dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya, maka tidak disyari’atkan bagi kita untuk mengangkat tangan demi mengikuti Rosululloh, seperti saat khutbah jum’at, khutbah hari raya, berdo’a antara dua sujud, berdo’a di akhir sholat, dan setelah sholat, karena itu semua tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh, yang mana kita diperintahkan untuk mengikuti Rosululloh baik yang beliau lakukan atau yang beliau tinggalkan. Sebagaimana Firman Alloh Ta’ala :

Sunguh ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri tauladan yang bagus.” (QS. )

(Lihat Fatawa Islamiyah 3/174)

Apakah di syari’atkan mengusapkan telapak tangan ke wajah seusai berdo’a?

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

Banyak hadits shohih yang menceritakan bahwasannya Rosululloh mengangkat tangannya saat berdo’a, adapun mengenai mengusap wajah dengan telapak tangan seusai berdo’a maka Cuma ada satu atau dua hadits yang lemah tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

(Majmu’ Fatawa 22/519)

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz :

Tidak ada satupun hadits yang shohih yang menerangkan tentang mengusap tangan ke wajah. Yang ada hanyalah beberapa hadits yag lemah. Oleh karena itu yang lebih rajih adalah agar seseorang itu tidak mengusapkan telapak tangannya ke wajah. Hanya saja sebagian para ulama’ mengatakan bahwa hal itu tidak mengapa karena hadits-hadits tersebut meskipun dlo’if namun saling menguatkan, maka bisa terangkat menjadi hadits hasan lighoirihi, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidl Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom bab terakhir. Kesimpulannya tidak ada satupun hadits shohih yang mensyariatkan mengusap wajah selesai berdo’a, Rosululloh tidak pernah melakukannya baik saat sholat istisqo’, juga tidak pada saat lainnya misalnya saat berada di bukit shofa, marwa, di padang Arafah, Muzdalifah, melempar jumroh. Maka lebih baiknya hal itu ditinggalkan.

(Lihat Fatawa Islamiyah 4/184, Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz 11/184)

Hadits yang dimaksud diatas adalah apa yang disebutkan oleh Al Hafidl Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom no : 1466

عن عمر رضي الله عنه ثم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا مد يديه في الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه

Dari Umar berkata : “Apabila Rosululloh mengangkat tangannya saat berdo’a, maka beliau tidak menurunkannya sehingga mengusapkan pada wajahnya.

(HR. Abu Dawud : 1485, Turmudli : 3386, Hakim 1/719)

Hadts ini dlo’if sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Al Albani dalam Dlo’if sunan Abu Dawud hal : 112.

Lihat masalah ini dengan agak terperinci pada Fiqh Ad’iyah wal Adzkar 2/195 dan Syaikh Bakr Abu Zaid mempunyai sebuah risalah khusus mengenai hal ini dengan judul Juz’ Fi Mashil Wajh bil Yadain Ba’da Rofihima liddu’a.
Kesalahan seputar mengangkat tangan dalam berdo’a

Banyak sekali kesalahan yang terjadi seputar mengangkat tangan dalam berdo’a, baik dari kalangan pembela maupun pencela, diantaranya adalah :

1. Keyakinan sebagian orang bahwa tidak boleh mengangkat tangan sama sekali dalam berdo’a atau yang dibolehkan itu Cuma pada do’a minta hujan saja.

2. Perbuatan sebagian orang yang mengangkat tangan dalam setiap kali berdo’a.

3. Tidak perhatian pada posisi tangan saat berdo’a, sebagaimana posisi yang di katakan oleh Ibnu Abbas.

4. Mengangkat tangan dengan punggung tangan mengarah ke atas sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke tanah. Hal ini bertentangan dengan sabda Rosululloh :

إذا سألتم الله فاسئلوه ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها

Apabila kalian meminta pada Alloh, maka mintalah dengan bagian dalam telapak tangan kalian, dan jangan dengan bagian punngungnya.

(Lihat Ash Shohihah : 595)

5. Mengangkat tangan saat berdo’a selesai sholat dan khutbah jum’at serta khutbah lainnya

6. Mengangkat tangan sambil berdo’a setiap selesai kajian dan pertemuan

7. Mengangkat tangan tapi Cuma sejajar dengan perut. Ini menyelisihi sunnah karena yang benar adalah sejajar dengan pundak atau wajah.

8. Mengusapkan wajah dengan kedua telapak tangan seusai berdo’a

9. Dan mungkin masih ada beberapa hal lainnya yang saya tidak bisa menyebutkannya sekarang.

Kesimpulan


Dari pembahasan ini dapat ditarik sebuah kesimpulan, yaitu :

1. Mengangkat tangan menunjukkan keberadaan Alloh Ta’ala di atas Arsy dan itu adalah fithroh semua makhluq.

2. Pendapat sebagian para ulama yang hanya mengkhususkan mengangkat tangan pada do’a istisqo adalah pendapat yang lemah.

3. Tidak dalam semua waktu dan tempat berdo’a dengan mengangkat tangan, tapi butuh perincian sebagaimana diatas

4. Tidak disyariatkan mengusap wajah dengan telapak tangan seusai berdo’a

5. Banyak kesalahan yang terjadi dalam masalah mengangkat tangan ini.

Akhirnya kita mohon kepada Alloh Ta’ala semoga kita tetap di beri petunjuk untuk mengikuti syariat Nya dan sunnah Rosul Nya, baik pada apa yang dikerjakan dan yang ditinggalkan beliau. Wallohul Musta’an Wallahu A ’lam.

Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf
http://ahmadsabiq.com/2009/11/30/mengangkat-tangan-saat-berdo%E2%80%99a-antara-pengagum-dan-pencela-bag-2/

0 comments: