FIRQOH-FIRQOH

Filed under: by: 3Mudilah



إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًالَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا
كَانُوا يَفْعَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah diennya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sekalipun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS Al-An’am :159)


Tujuan kita memilih Islam sebagai Ad-Dien tidak lain dalam rangka mencari keselamatan dunia dan akhirat. Siapapun orangnya yang meyakini adanya kematian pasti menginginkan keselamatan akhirat. Dimaksudkan, bahwa kelak di hari kemudian kita ingin hidup di bawah ridho Allah, surga sebagai balasannya, secara naluri setiap orang ada indikasi untuk menempuh hal tersebut.

Namun keselamatan di akhirat tak semudah apa yang kita bayangkan. Hal ini banyak ditentukan oleh amal dan tingkah laku selama hidup di dunia. Dalam banyak hal, kita terlibat atau melibatkan diri dengan kehidupan jam’iyah (bermasyarakat) sebagai konsekwensi hidup dalam interaksi sesama makhluk Allah. Seiring dengan perjalanan tata nilai kehidupan, kita telah belajar hidup berorganisasi (berjama’ah) karena memang tiada manusia yang pandai dan hidup seorang diri, yang tidak tergantung, dan tidak terpengaruh atau memerlukan sesuatu di luar pribadinya. Rasulullah bersabda, “Maka bahwasannya yang hidup (lama) di antaramu sesudahku (Nabi) niscaya akan melihat perpecahan dan perselisihan yang banyak. Maka oleh karena itu, berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah khulafaaurrasyidin yang diberi hidayah. Berpegang teguhlah dan gigitlah dengan gerahammu.” (HR.Abu Daud)

Hadist di atas memberikan kabar kepada kita bahwa akan terjadi perpecahan yang banyak. Tentunya perpecahan itu satu hal yang tidak dikehendaki dalam Islam dan suatu kefatalan bagi kemenangan Islam, maka dari kesekian perpecahan yang terjadi, siapakah yang benar dan selamat? Rasulullah menandaskan “adalah orang-orang yang berpegang kepada sunnahku dan sunnahnya khulafaaurasyidin yang mendapat petunjuk (hidayah).

Di hadist lain Rasulullah bersabda, “Dari Huraiah r.a. berkata : Rasulullah bersabda : telah berfirqoh-firqoh orang Yahudi menjadi 71 firqoh dan orang Nasrani seperti itu pula dan akan berfirqoh-firqoh ummatku menjadi 73 firqoh.” (HR. Thirmidzi). Sabda Rasulullah : “Bahwasanya bani Israil berfirqoh-firqoh sebanyak 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu…. Para sahabat bertanya, “siapakah yang satu itu yaa Rasulullah? Rasul menjawab : “yang satu itu adalah apa-apa yang ada padaku dan pada sahabatku.” (HR. Thirmidzi)

Dari hadist di atas kita dapat mengambil kesimpulan :

Pertama.
Sabda Rasul tersebut pasti benar sehingga ummat Islam tidak perlu ragu lagi apabila hal tersebut terbukti pada zaman sekarang ini.

Kedua. Bahwa kelompok/golongan/millah yang selamat dan akan masuk surga atau kelompok Al-Haq adalah yang memenuhi persyaratan :

(1) Berpegang teguh pada sunnah Nabi,
(2) Berpegang teguh kepada sunnah Khulaafaurrasyidin,
(3) Berjama’ah.

Sewajarnyalah kita perlu hati-hati dan teliti, agar langkah dan amal kita tidak sia-sia. Apakah yang kita perbuat di hari ini dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan di hadapan manusia/anggota suatu jama’ah dengan hujjah berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasul.

Kalau tidak, kita akan rugi di dunia dan di akhirat.

Kondisi hari ini sangat memprihatinkan bagi keutuhan ummat Islam. Sudahkah kita memahami secara bayyinat arti dari berpegang teguh pada sunnah Nabi? Sejauh mana kita paham akan batas-batas sunnah khulaafaurrasyidin? Dan bagaimana realisasi amal berjama’ah dalam Islam?

CIRI-CIRI FIRQOH

Uraian ini tidak dimaksudkan menyinggung kondisi yang ada, tidak bermaksud menafikkan harokah Islamiyah yang dewasa ini menjamur. Tak bermaksud pula mentakfirkan jama’ah yang ada. Namun bila ada salah satu ciri yang menyinggung harokah tertentu, justru seharusnya dijadikan cambuk untuk menata kebenaran, sebab kebenaran itu adalah satu, dan jika kita sama-sama benar pasti bersatu. Namun dalam kenyataannya kenapa ummat Islam dewasa ini tidak bersatu dalam satu kebenaran, bendera kebenaran Tauhidullah? Marilah kita sadari dan insyaf, mari kita mulai dari yang benar, hingga kita akan menghasilkan nilai-nilai kebenaran tersebut terutama di sisi Allah SWT. Simaklah sabda Rasul SAW : “Jama’ah itu Rahmat dan Firqoh itu Adzab.” Ciri-ciri yang menonjol dari firqoh ini adalah :

* Firqoh hanya mengamalkan sebagian ajaran Islam dan sebagian ajaran Islam lainnya ditinggalkan/dilupakan. Celakanya malah kebenaran secara sengaja mereka tutupi atau ditalbiskan (disamarkan) misalnya satu organisasi yang hanya bergerak di bidang pendidikan saja tanpa meletakkan pendidikan itu di atas kebenaran. Mendahulukan AD/ART yang dibuat sendiri dan mengabaikan dasar-dasar Al-Quran dan Sunnah Rasul. “Hai orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujarat : 1)

* Nasionalisme dan fanatik ashobiyah satu pergerakan yang berazaskan kebangsaan dan nasional belaka. Bangga dengan golongannya sendiri dan tidak bangga terhadap kebenaran Islam. “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya, dan bertaqwa kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Yaitu orang-orang yang memecah belah Dien mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum:31-32)

* Rela bernaung di bawah penguasa thogut, seperti mentolerir adanya yayasan, lembaga, partai-partai dsb.

ISLAM DAN JAMAAH

Rasulullah bersabda, “Dari Al-Haritsil Asy’Arir telah berkata : telah bersabda Rasulullah SAW : “Aku perintahkan kepadamu dengan lima perkara, sebagaimana Allah SWT telah memerintahkan kepadaku dengan lima perkara itu pula, yaitu : dengan jama’ah, dengan mendengar dan taat, hijrah dan jihad fi’sabilillah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jama’ah barang sejengkal, maka sungguh dia telah melepaskan tali ikatan Islam dari lehernya sampai dia kembali (taubat), dan barang siapa menyeru dengan seruan jahiliyah, maka dia bertekuk lutut dalam neraka jahanam.” Sahabat bertanya : yaa Rasulullah sekalipun dia shaum dan dia sholat? Jawab Rasulullah SAW : “Sekalipun dia shaum dan dia sholat, dan sekalipun dia mengaku muslim maka serulah orang-orang Islam itu dengan nama mereka, yaitu : Al-Muslimin, Al-Mu’minin, hamba-hamba Allah Azza wa Jalla.” (HR Ahmad dan Thirmidzi) “Maka barang siapa yang keluar dari jamaah barang sejengkal saja, maka sungguh ia telah melepaskan Islam dari kuduknya.” Maka jelaslah bahwa keluar dari jama’ah berarti keluar dari Islam. Jama’ah mana yang dimaksud?

CIRI-CIRI JAMA’ATUL HAQ


Kebenaran itu hanya satu, jika kita sama-sama benar (haq) pasti akan bersatu. Maka dengan ciri-ciri jama’atul haq ini kita berusaha meluruskan niat dan amalan, bukankah setiap amal kita nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah? Termasuk nilai kebenaran suatu jama’ah juga mesti ada satu dan ini memiliki dasar yang kuat secara qoth’I dalam Al-Quran dan hadist-hadist yang shohih.

Jama’ah ini tidak berkuasa dengan penguasa thogut dalam bentuk apapun. Sikap hijrah adalah satu-satunya sifat atau langkah yang diamalkan oleh Rasulullah. Sikap hijrah lebih luas makna dan aspeknya dalam menata perjalanan jama’ah ini. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah:218)

Firqoh berasal dari kata faraqa – yafruku – firqatan, faraqa – yafruku – firqatan, yang artinya berbeda, berselisih, berpecah-belah. Adapun dari sisi istilah berfirqoh berarti terpecahnya ummat Islam menjadi beberapa golongan dalam mengemban amanat dien mereka, sehingga dalam membawa ajaran Islam bersifat sektarian/parsial, tidak lagi universal/global yakni tidak “Rahmatan lil alamin.” Sehingga akan bernilaikan ashobiyah/fanatisme golongan.

Lawan dari firqoh adalah jama’ah, yang berasal dari akar kata jamaa – yaj’mau – jama’atan yang bermakna berkumpul, bersatu. Sedangkan dari sisi istilah, berjamaah itu merupakan wadah bagi kehidupan bersama seluruh kaum muslimin/muslimat di muka bumi untuk melaksanakan ajaran-Nya di bawah kepemimpinan seorang kholifah/amirul mu’minin sebagai system kepemimpinan-Nya. Jadi pada prinsipnya berjama’ah adalah mempersatukan ummat Islam dalam suatu wadah kesatuan di bawah satu kepemimpinan ummat Islam yang disebut Ulil Amri Minkum, yakni kholifah/amirul mu’minin.

Mungkinkah Islam tegak apabila penganut-penganutnya berpecah belah (berfirqoh-firqoh)? Suatu ajaran tidak akan mungkin bisa tegak bila pengantu-penganutnya berpecah belah (berfirqoh-firqoh). Ini berlaku terhadap semua ajaran, baik ajaran yang tumbuh dari bumi (yang diciptakan manusia), seperti paham komunis, kapitalis, nasionalis dan lain sebagainya, begitu juga dengan Islam, ajaran yang datangnya dari Allah SWT.

Ajaran komunis, nasionalis, Hindu, Nasrani dan ajaran Islam itu sendiri bersifat universal, tidak akan mungkin bisa tegak apabila penganut ajaran itu sendiri hidupnya berpecah-belah (berfirqoh) menjadi bermacam-macam kepemimpinan namun tidak ada kepemimpinan yang satu.

Fakta sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan kaum muslimin di masa lampau tidak lain karena kaum muslimin masih mampu mempersatukan dan mempertahankan keutuhan ummat di bawah satu sistem kepemimpinan ummat Islam yakni Khilafah Islamiyah dengan membuktikan sam’an wa tho’atan kepada Ulil Amri mereka yakni khalifah/amirul mu’minin.

Kemunduran dan kehancuran kaum muslimin disebabkan ketidakmampuan mempertahankan sistem kekhalifahan sebagai alat untuk mempersatuka kaum muslimin, sehingga kaum muslim menjadi terpecah-belah dalam sekat-sekat bangsa, golongan/kelompok, dimana tiap-tiap bangsa/golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada bangsa/golongannya masing-masing, dan bukan lagi bangga terhadap keislamannya. Sehingga otomatis pembelaannya akan diprioritaskan kepada bangsanya daripada Islamnya.

Perjalanan sejarah moderen ini memberikan fakta sejarah yang sangat ironis sekali bagi kehidupan kaum muslimin, dimana bangsa muslim Pakistan tega-teganya bekerjasama dengan orang kafir Amerika dalam rangka memerangi saudara sendiri bangsa muslim Afghanistan. Hal ini disebabkan adanya sekat-sekat kebangsaan sehingga sebagian kaum muslimin akan lebih membela bangsanya daripada membela Islamnya.

Begitu pula yang terjadi pada perang antara Iraq dan Amerika, dimana bangsa muslim Kuwait memberikan fasilitas kepada orang kafir Amerika dalam rangka membunuh saudaranya sendiri yakni bangsa muslim Irak. Mengapa? Padahal sama-sama bangsa muslim, ini karena adanya sekat kebangsaan dan sistem nasionalisme, dimana golongan yang satu saling menyudutkan golongan Islam yang lain. Kelompok yang satu dengan tega melontarkan tuduhan seram kepada saudaranya sendiri hanya karena berbeda golongan/kelompok. Sampai kapankah fenomena ini harus terus berlanjut? Bukankah para ustad, para muballiq, dan ulama-ulama sering menyerukan agar ummat Islam bersatu, terlebih lagi Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar ummat Islam bersatu supaya ajaran ini bisa tegak.

Fenomena ini bisa diminimalisir seandainya ummat Islam berada dalam sebuah sistem kepemimpinan Islam secara universal yakni Kekhalifahan Islam yang senantiasa berada dalam komando seorang Khalifah baik dalam keadaan masih lemah sampai mempunyai kekuatan.

Dalam surat 42:13 Allah dengan tegas memerintahkan agar dien (ajaran Islam) ditegakkan dan larangan untuk berpecah-belah (berfirqoh) karena hanya orang-orang musyriklah yang senang berfirqoh-firqoh. “Tegakkanlah Dien (agama) dan janganlah berpecah-belah tentangnya, amat berat bagi orang-orang musryik Dien yang kamu seru mereka kepada-Nya…

Allah mengancam dengan ancaman yang sangat keras berkaitan dengan larangan untuk tidak berpecah-belah (berfirqoh-firqoh) dalam menegakkan ajarannya. Akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi ini sebagai akibat dari fenomena ummat Islam yang berpecah-belah (berfirqoh) “Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain, jika kamu (hai para kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ini, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS 8:73)

Begitu pula dalam QS 6:65, “Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirim azab kepadamu, dari atas kamu atu dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan)dan merasakan pada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain, perhatikanlah betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahaminya.

Di dalam ayat-ayat lain Allah juga memerintahkan agar ummat Islam bersatu dan jangan berpecah-belah/berfirqoh-firqoh (periksa QS 3:103-105, QS 30:31, QS 6:159 dst). Imam Ahmad dalam hadistnya melalui Zakaria bin Salam meriwayatkan Nabi Muhammad bersabda : “Wahai manusia, diwajibkan atas kamu berjama’ah (bersatu) dan dilarang kamu berfirqoh (berpecah-belah).” Melalui alur lain Imam Ahmad juga memaparkan sabda Rasulullah SAW : “Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.

Kesimpulan dari pemaparan di atas sudah jelas, bahwa baju firqoh tidak relevan bagi ummat Islam, sehingga seharusnya kaum muslimin sekarang ini sudah mulai melepas baju firqoh dan menggantinya dengan baju jama’ah yang sesuai dengan ukurannya agar rahmat Allah sampai kepada kaum muslimin dan izzatul Islam wal muslimin bisa digapai. Kaum muslimin seharusnya sudah tidak perlu lagi menumbuh-suburkan perpecahan/firqoh, sehingga di antara kaum muslimin dan anak cucunya beranggapan bahwa Islam itu seperti bangsa ini, partai itu, ormas anu, dst.

Yang perlu kita tanamkan adalah Islam sebagaimana yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah, seperti sistem kenabian ketika Nabi masih hidup dan sistem Kekhalifahan Islam setelah wafatnya Rasulullah sampai hari kiamat.


http://khilafatulmusliminbgr.wordpress.com/2009/11/18/firqoh-firqoh/

0 comments: