Menikah dengan Mantan Kakak Ipar, Bolehkah?

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan

Assalamualaikum Pak Ustadz,

Saya ingin bertanya dan berharap dapat segera dijawab oleh pak ustadz.

Saya seorang pria WS belum berumahtangga. Saat ini saya mencintai seorang wanita sebut saja LN, dan saya sangat meyayanginya. Saya berniat menikah dengannya dan dapat membina rumahtangga yang sakinah dengannya.

Sebelumnya LN pernah menikah dengan kakak kandung saya dan sudah lama bercerai. Pertanyaan saya adalah bolehkah saya menikah dengannya?

Mohon segera dijawab ya pak ustad, karena saya sangat ingin cepat menikah dengannya.

Wassalaam,

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Wanita yang haram dinikahi itu disebut dengan istilah mahram. Dan kita mengenal ada dua jenis mahram, yaitu mahram yang bersifat abadi (muabbad) dan mahram yang bersifat sementara (muaqqat).

Isteri kakak yang sudah cerai atau pisah karena meninggal, tidak termasuk ke dalam kelompok wanita yang diharamkan secara abadi, namun hanya masuk ke dalam kelompok yang kedua, yaitu mahram secara sementara saja. Yaitu selama masih menjadi isteri dari kakak.

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

Dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. (QS An-Nisa: 23)

Bila hubungan suami isteri di antara mereka sudah tidak berlangsung lagi, biak karena cerai atau karena meninggal, maka mantan isteri kakak kembali menjadi wanita yang halal dinikahi.

Maka halal bagi anda untuk menikahi mantan isteri kakak anda itu. Tidak ada halangan apa pun secara hukum syariah. Apalagi perpisahan di antara mereka telah lama terjadi.

A. Wanita yang Haram Dinikahi Selamanya


Wanita yang haram dinikahi secara abadi atau selamanya ada 17 orang. Dan bisa dibagi menjadi tiga kelompok. Meerka adalah:

1. Mahram Karena Nasab


* Ibu kandung (umm) dan seterusnya keatas seperti nenek, ibunya nenek.
* Bint(anak wanita)dan seterusnya ke bawah spt anak perempuannya anak perempuan.
* Ukht (saudara kandung wanita).
* `Ammat (bibi), yaitu saudara wanita ayah.
* Khaalaat(bibi), yaitu saudara wanita ibu.
* Banatul Akh (anak wanita) dari saudara laki-laki.
* Banatul Ukht(anak wanita) dari saudara wanita.

b. Mahram Karena Mushaharah (besanan/ipar) atau Sebab Pernikahan

* Ibu dari isteri (mertua wanita).
* Anak wanita dari isteri (anak tiri).
* Isteri dari anak laki-laki (menantu peremuan).
* Isteri dari ayah (ibu tiri).

c. Mahram Karena Penyusuan

* Ibu yang menyusui.
* Ibu dari wanita yang menyusui (nenek).
* Ibu dari suami yang isterinya menyusuinya (nenek juga).
* Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan).
* Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui.
* Saudara wanita dari ibu yang menyusui.

B. Wanita yang Haram Dinikahi untuk Sementara

Kemahraman ini bersifat sementara, bila terjadi sesuatu, laki-laki yang tadinya haram menikahi seorang wanita, menjadi boleh menikahinya. Di antara para wanita yang termasuk ke dalam kelompok haram dinikahi secara sementara waktu saja adalah:

* Isteri orang lain, tidak boleh dinikahi tapi bila sudah diceraikan oleh suaminya, maka boleh dinikahi.

* Saudara ipar, atau saudara wanita dari isteri. Tidak boleh dinikahi tapi juga tidak boleh khalwat atau melihat sebagian auratnya. Hal yang sama juga berlaku bagi bibi dari isteri. Namun bila hubungan suami isteri dengan saudara dari ipar itu sudah selesai, baik karena meninggal atau pun karena cerai, maka ipar yang tadinya haram dinikahi menjadi boleh dinikahi. Demikian juga dengan bibi dari isteri.

* Wanita yang masih dalam masa Iddah, yaitu masa menunggu akibat dicerai suaminya atau ditinggal mati. Begitu selesai masa iddahnya, maka wanita itu halal dinikahi.

* Isteri yang telah ditalak tiga, untuk sementara haram dinikahi kembali. Tetapi seandainya atas kehendak Allah dia menikah lagi dengan laki-laki lain dan kemudian diceraikan suami barunya itu, maka halal dinikahi kembali asalkan telah selesai iddahnya dan posisi suaminya bukan sebagai muhallil belaka.

* Menikah dalam keadaan Ihram, seorang yang sedang dalam keadaan berihram baik untuk haji atau umrah, dilarang menikah atau menikahkan orang lain. Begitu ibadah ihramnya selesai, maka boleh dinikahi.

* Menikahi wanita budak padahal mampu menikahi wanita merdeka. Namun ketika tidak mampu menikahi wanita merdeka, boleh menikahi budak.

* Menikahi wanita pezina. Yaitu selama wanita itu masih aktif melakukan zina. Sebaliknya, ketika wanita itu sudah bertaubat dengan taubat nashuha, umumnya ulama membolehkannya.

* Menikahi isteri yang telah dili`an, yaitu yang telah dicerai dengan cara dilaknat.

* Menikahi wanita non muslim yang bukan kitabiyah atau wanita musyrikah. Namun begitu wanita itu masuk Islam atau masuk agama ahli kitab, dihalalkan bagi laki-laki muslim untuk menikahinya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.
www.warnaislam.com

Anak Janda Menikah dengan Anak Duda Di mana Orang Tua Mereka Menikah. Bolehkah?

Pertanyaan

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bapak Ustadz yang terhormat,

Beberapa hari yang lalu saya telah mengirimkan pertanyaan ini, tetapi saya belum memperoleh jawaban dari Bapak, maka saya memberanikan diri untuk bertanya kembali.

Bapak ustadz, kawan saya ada tanya sama perihal apabila seorang duda dan janda menikah, dan mereka membawa anak bawaan masing-masing, apakah anak mereka dapat menikah satu sama lain, padahal mereka telah menjadi saudara tiri.

Saya mohon jawaban Bapak atas pertanyaan saya ini, karena sayapun sama ingin tahunya dengan kawan saya perihal masalah tsb.

Terima kasih sebelumnya,

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Roni

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Untuk menetapkan apakah seorang laki-laki dihalalkan menikah dengan seorang wanita, caranya cukup mudah, yaitu dengan melihat pada daftar mahram (wanita yang haram dinikahi).

Bila seorang wanita tercantum di dalam daftar itu, maka hukumnya haram dinikahi. Sebaliknya, bila tidak tercantum, maka boleh dinikahi. Begitu saja dan selesai. Mudah kan?

Dalam hal ini, kita patut berterima kasih kepada para ulama fiqih, dimana mereka telah melakukan proses pengumpulan semua dalil, baik dari Al-Quran dan Al-hadits, lalu melakukan proses kritisasi periwayatan masing-masing hadits tersebut, kemudian melakukan analisa mendalam dan akhirnya mengambil kesimpulan yang pasti.

Hasilnya berupa daftar yang lengkap mengenai wanita mana saja yang menjadi mahram. Berikut ini adalah daftar itu, sebagaimana yang tersebar di berbagai kitab fiqih.

1. Mahram karena nasab


* Ibu kandung dan seterusnya keatas seperti nenek, ibunya nenek.
* Anak wanita dan seteresnya ke bawah seperti anak perempuannya anak perempuan.
* Saudara kandung wanita.
* `Ammat/ Bibi (saudara wanita ayah).
* Khaalaat/ Bibi (saudara wanita ibu).
* Banatul Akh/ Anak wanita dari saudara laki-laki.
* Banatul Ukht/ anak wnaita dari saudara wanita.

2. Mahram karena mushaharah (besanan/ipar) atau sebab pernikahan

* Ibu dari istri (mertua wanita).
* Anak wanita dari istri (anak tiri).
* Istri dari anak laki-laki (menantu peremuan).
* Istri dari ayah (ibu tiri).

3. Mahram karena penyusuan

* Ibu yang menyusui.
* Ibu dari wanita yang menyusui (nenek).
* Ibu dari suami yang istrinya menyusuinya (nenek juga).
* Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan).
* Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui.
* Saudara wanita dari ibu yang menyusui.

Mahram dalam Makna Haram Menikahi Semata

Selain itu, ada keadaan wanita tertentu yang menjadi haram dengan sendirinya untuk dinikahi, bukan disebabkan adanya hubungan seseorang dengannya, melainkan disebabkan oleh keadaan wanita itu sendiri secara individu. Keharaman ini bersifat bersifat mu'aqqat atau sementara. Di antaranya:

1. Istri orang lain, tidak boleh dinikahi tapi juga tidak boleh melihat auratnya.
2. Saudara ipar, atau saudara wanita dari istri. Tidak boleh dinikahi tapi juga tidak boleh khalwat atau melihat sebagian auratnya. Hal yang sama juga berlaku bagi bibi dari istri.
3. Wanita yang masih dalam masa 'iddah, yaitu masa menunggu akibat dicerai suaminya atau ditinggal mati.
4. Istri yang telah ditalak tiga.
5. Menikah dalam keadaan Ihram, seorang yang sedang dalam keadaan berihram baik untuk haji atau umrah, dilarang menikah atau menikahkan orang lain.
6. Menikahi wanita budak padahal mampu menikahi wanita merdeka.
7. Menikahi wanita pezina.
8. Menikahi istri yang telah dili`an, yaitu yang telah dicerai dengan cara dilaknat.
9. Menikahi wanita non muslim yang bukan kitabiyah atau wanita musyrikah.

Kalau kita perhatikan dari data di atas, ternyata tak satu pun yang sesuai dengan pertanyaan yang anda maksud. Jadi, antara anak laki seorang duda dengan anak wanita seorang janda dimana orang tua, dimana janda dan duda itu menikah adalah hubungan bukan hubungan mahram, alias tidak haram untuk menikah.

Maka kalau secara hukum Islam, dibolehkan dan dimungkinkan terjadi pernikahan di antara mereka. Kelihatannya sekilas memang lucu dan aneh. Tetapi ternyata hubungan seperti ini memang tidak diharamkan.

Kalau kita lihat dari sisi anak si duda misalnya, maka hubungannya dengan wanita yang mau dinikahinya, yaitu anak wanita si janda, adalah hubungan antara seorang laki-laki dengan anak dari ibu tirinya, atau anak dari istri ayah. Yang haram dinikahi adalah istri ayah, tetapi anak dari istri ayah, ternyata bukan termasuk wanita yang haram dinikahi.

Sebaliknya, kalau kita lihat dari sisi si wanita, dimana dirinya mau dinikahi oleh anak dari ayah tirinya. Ini pun hubungan yang tidak terlarang. Si wanita memang haram dinikahi oleh ayah tirinya. Dan haramnya adalah haram yang sifatnya abadi. Artinya, selamanya dirinya haram untuk dinikahi oleh ayah tiri, meski sudah mantan.

Akan tetapi, bila si ayah tiri itu punya anak dari istri sebelumnya, bukan anak dari hasil hubungan dengan ibunya, maka anak dari istri sebelumnya itu hukumnya halal untuk menikahinya.

Inti dari jawaban ini adalah, selama tidak ada hubungan mahram atau keharaman untuk menikahi, maka silahkan saja kalau mau menikah. Urusan adat dan kebiasaan suatu masyarakat, tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan kita yang hanya bicara dari sudut pandang syariah Islam.

Kalau ternyata secara adat ada larangan, pantangan, himbauan, atau bentuk apa pun dari ketidak-bolehan, silahkan diurus sendiri. Pokoknya, dari sudut pandang hukum Islam, hubungan seperti ini halal dan dimungkinkan terjadi pernikahan.

Wallahu a'lam bish-shawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.
www.warnaislam.com

0 comments: