Menag: Semangat Kewirausahaan Ormas Islam Alami Degradasi

Filed under: by: 3Mudilah


JAKARTA -- Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan semangat kewirausahaan ormas-ormas Islam dewasa ini mengalami degradasi dengan ditandai makin berkurangnya peranan dalam bidang ekonomi sehingga muncul kesan telah terjebak pada bidang politik praktis dan kurang memperhatikan aspek ekonomi.

Konsekuensi lebih lanjut adalah kehidupan ekonomi umat, yang merupakan warga persyarikatan ormas-ormas Islam tersebut, kurang mendapatkan perhatian, katanya pada sambutan pembukaan semiloka Pemberdayaan Ormas Keagamaan dalam Kehidupan Sosial-Ekonomi di Jakarta, Kamis (7/5).

Didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Prof Atho Muzard , serta Sekjen Departemen Agama, Bahrul Hayat, kemudian Maftuh mengatakan, ormas Islam gagal memainkan peranannya meningkatkan kesejahteraan anggota dan umat Islam pada umumnya.

Kenyataan demikian memaksa kurangnya perhatian ormas-ormas Islam terhadap peningkatan kesejahteraan umat. Ormas-ormas Islam perlu kembali ke khittah perjuangan ketika organisasi tersebut didirikan, katanya.

Sebelumnya Maftuh menuturkan tentang perjuangan bagaimana Haji Samanhoedi, pedagang muslim, pengusaha batik dari Solo, Jawa Tengah, telah berhasil merajut potensi ekonomi umat dengan cara mengumpulkan pedagang bumiputera dalam sebuah organisasi yang disebut "Perkumpulan Rekso Rumekso" pada tahun 1909.

Contoh menariknya adalah apa yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang terkenal dengan ucapannya, "Jangan mencari hidup dari Muhammadiyah, tapi hidupilah Muhammadiyah."

Ahmad Dahlan kerap mengajarkan murid-muridnya untuk menjadi orang yang mandiri secara ekonomi.

Hasilnya cukup mencengangkan, pada tahun 1916, kaum saudagar yang menjadi anggota persyarikatan Muhammadiyah mencapai 47 persen dari total anggota Muhammadiyah. Demikian juga pada tahun 1926, Nahdlatul Tujjar yang selanjutnya menjadi Nahdlatul Ulama berdiri menjadi sebuah organisasi yang lebih modern.

Kiprahnya dalam bidang pemberdayaan ekonomi tetap menjadi spirit yang mendasari aktivitasnya. Ada satu peristiwa masa lalu yang layak direnungkan.

Pada tahun 1930, NU membuat program, mempersilahkan warganya memasang lambang NU dan merek Nahdlatul Ulama pada setiap produknya, seperti pakaian, sajadah, rokok dan sarung. Semua label dicetak di percetakan NU.

Dalam konteks tersebut Maftuh mengatakan, tantangan ke depan yang dihadapi semakin berat dan kompleks. Jika masih terlena dengan situasi demikian dan tidak menegaskan kembali komitmen kepada kesejahteraan umat, maka dikhawatirkan umat Islam tidak dapat berperan banyak dalam kompetisi global saat ini.

Krisis ekonomi global yang sedang melanda dunia sekarang, seharusnya mengingatkan semua pihak agar memperhatikan kembali kemampuan dan jaringan ekonomi umat.

Setidaknya, ada empat hal yang menjadi dilema ekonomi umat Islam sehingga mereka tidak dapat menjadi subyek pembangunan dan hanya menjadi obyek; yaitu kemiskinan, tingkat pendidikan yang mengakibatkan lemahnya sumber daya manusia, sikap hidup umat Islam itu sendiri serta kemampuan manajemen yang kurang baik, ia menjelaskan.

Karena itu, lanjut Maftuh , ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh ormas-ormas Islam dalam kaitannya dengan pemberdayaan umat. Di antara agenda yang mendesak untuk segera dilakukan adalah pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Pilihan UMKM ini setidaknya didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, UMKM dapat menjadi basis ekonomi Nasional. Sejarah membuktikan, ketika Indonesia menghadapi krisis ekonomi nasional, ekonomi kerakyatan, nama lain dari UMKM, ternyata memiliki ketangguhan yang luar biasa.

UMKM ternyata bertahan dari gempuran krisis. Sebabnya adalah, UMKM berdasarkan pada ekonomi riil sebagaimana yang dipraktikkan masyarakat.

Kedua, UMKM sepanjang dikelola dengan baik, profesional dan modern, dipastikan akan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dalam menyerap tenaga kerja UMKM sebenarnya tidak memerlukan persyaratan yang kompleks.

Kuncinya, menurut Menag, adalah kemauan dan kesungguhan. Ketiga, UMKM itu sendiri akan menghasilkan produk dalam bentuk barang murah yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan kesehariannya.

Jika UMKM ini dapat berfungsi secara baik, maka pengangguran yang telah menjadi masalah bangsa yang sangat akut akan segera dapat diatasi.

ZISWAF

Disamping UMKM, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah penguatan pengelolaan dana umat. Berbagai penelitian yang dilakukan pakar ekonomi menunjukkan bahwa potensi ZISWAF (Zakat, Infaq, Sadaqah dan Wakaf) umat Islam Indonesia sangat besar.

Persoalannya adalah potensi yang besar tersebut belum terkelola dengan baik. Sebagaimana yang diketahui, setiap ormas Islam memiliki lembaga pengumpul zakat. Namun lembaga ini belum maksimal, baik dalam pengumpulan ataupun pendistribusian.

Akibatnya, tujuan zakat itu sendiri menjadi tidak terwujud. Oleh sebab itu, ke depan, lembaga zakat yang ada pada ormas Islam harus diberdayakan secara maksimal.

Di samping zakat, maka instrumen keuangan Islam yang sangat prospektif untuk kita kembangkan ke depan adalah wakaf produktif (wakaf uang).

Studi yang dilakukan para pakar menunjukkan bahwa potensi wakaf uang cukup besar. Asumsinya jika 2.000 orang Islam saja berwakaf, mulai dari Rp 50.000, Rp 100.000 sampai Rp 1.000.000,. maka dalam waktu satu tahun dapat mengumpulkan dana sebesar Rp3 triliun.

Masalahnya, katanya, ini baru sebatas potensi. Menjadi tugas semua pihak untuk mengaktualkannya.

Oleh sebab itu, peran yang dapat dilakukan ormas Islam adalah mensosialisasikan wakaf uang ke tengah-tengah warganya.

Baik itu zakat ataupun wakaf jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan kekuatan dana umat yang luar biasa.

Dengan potensi dana yang demikian besar tentu banyak hal yang dapat dilakukan. Ormas Islam bisa memeberdayakan ekonomi umat lewat stimulus dana qard al-hasan.

"Kita juga dapat membantu peningkatan sumberdaya manusia lewat pemberian beasiswa kepada anak-anak kita yang berprestasi. Lewat dana wakaf kita juga dapat membangun pusat-pusat pelayanan publik," ia mengingatkan.

Maftuh Basyuni menegaskan pula, ormas Islam memiliki peran yang sangat signifikan dalam pemberdayaan umat Islam baik dari sisi sosial ataupun dari sisi ekonomi.

Tentu saja lewat kerja sama yang baik dan harmonis, antara pemerintah, ormas Islam dan lembaga-lembaga terkait, tujuan-tujuan pembangunan akan segera dapat direalisasikan.ant/taq

http://www.republika.co.id/berita/48962/Menag_Semangat_Kewirausahaan_Ormas_Islam_Alami_Degradasi

0 comments: