
Meski menang Pemilu, AS dan Israel berusaha agar Hamas tidak mempunyai peluang untuk menaiki tampuk pemerintahan
Oleh: Noam Chomsky
Kematian sebuah bangsa sangat jarang terjadi dan bila pun ada maka hal tersebut menjadi sebuah kejadian yang memilukan. Tetapi ancaman yang selalu mengintai Palestina yang bersatu dan independent sebelum ini, adalah sebuah perang sipil antara Hamas dengan Fatah, dipicu oleh Israel dan Amerika sebagai sekutu di belakang Israel.
Kerusuhan bulan lalu menandai berakhirnya otoritas Palestina. Kondisi ini sangat merugikan Palestina dan semakin memberi kesempatan kepada Israel untuk membuat pemerintahan boneka yang akan mendukung Israel untuk menolak memberikan kemerdekaan kepada Palestina.
Peristiwa yang terjadi di Gaza bukan tanpa sebab. Di bulan Januari 2006, Palestina menyelenggarakan Pemilu yang diawasi dengan sangat ketat pelaksanaannya oleh badan pengawas Pemilu Internasional. Diyakini bahwa Pemilu kali ini adalah sebuah Pemilu yang bisa dijamin bebas dan adil. Tak peduli betapa gigihnya usaha Israel untuk memenangkan tokoh politik pilihannya yaitu Mahmud Abbas dari Fatah, ternyata Hamas secara mengejutkan, keluar sebagai pemenangnya.
Berikutnya Israel dengan didukung oleh Amerika dan sekutunya memberikan hukuman yang sangat memilukan bagi rakyat Palestina yang dianggap telah memilih partai yang salah. Israel kemudian membuat kerusuhan di Gaza, menghentikan bantuan dana yang secara resmi memang diperuntukkan bagi otoritas Palestina, mengepung dan menyerang Gaza secara terus-menerus dan bahkan menghentikan saluran air bagi jalur Gaza yang telah porak poranda.
Amerika dan Israel berusaha sekuat tenaga agar Hamas tidak mempunyai peluang untuk menaiki tampuk pemerintahan. Kedua Negara ini menolak seruan Hamas untuk mengadakan gencatan senjata dalam jangka waktu lama sehingga bisa dilakukan negosiasi antar dua Negara yang bersengketa. Israel dan Amerika juga menolak untuk mematuhi konsensus internasional. Hal ini telah berjalan selama lebih dari 30 tahun, sebuah sikap yang jarang terjadi dalam peta politik internasional.
Pada saat yang sama, Israel terus melakukan rencananya untuk mencaplok dan membagi-bagi wilayah Palestina serta membatasi wilayah Palestina yang semakin lama semakin menyusut di Tepi Barat. Hal ini dilakukan oleh Israel atas restu Amerika serta dukungan dana dari Negara adikuasa tersebut, tidak peduli dengan suara-suara protes yang menentang keputusan ini.
Sebuah kekuasaan mempunyai prosedur standar dalam operasinya untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak disukai yaitu dengan mempersenjatai tentara untuk melakukan kudeta. Israel dan sekutunya yaitu Amerika mempersenjatai Fatah dan melatih para tentara untuk merebut pemerintahan yang sah dari tangan Hamas. Hal ini mereka lakukan karena Fatah kalah dari Hamas dalam peraihan suara di Pemilu lalu.
Amerika mendukung Abbas dengan memberikan kekuasaan itu padanya. Hal ini selaras dengan sikap Bush yang memang mempunyai cirri dictator dalam kedudukannya sebagai presiden.
Strategi ini ternyata tidak sesuai harapan. Meskipun Fatah dipersenjatai lengkap, namun mereka dengan mudah dikalahkan dalam pertempuran seru yang terjadi bulan lalu. Pertempuran ini ditengarai oleh berbagai pengamat sebagai langkah brutal yang diambil oleh pimpinan Fatah, Muhammad Dahlan. Mengetahui kondisi ini, Israel dan Amerika segera melakukan langkah yang menguntungkan pihak mereka. Israel dan Amerika jadi punya alasan untuk semakin memperketat dan mengawasi orang-orang di Gaza.
“Memaksakan kehendak seperti yang diinginkan oleh Amerika, sama saja dengan melakukan upaya pembantaian masal terhadap rakyat Palestina dan seluruh etnis yang ada di dalamnya,” tulis pakar hukum Internasional, Richard Falk.
Hal-hal yang lebih buruk bisa saja terjadi kecuali Hamas mau memenuhi tiga persyaratan yang diajukan oleh “Komunitas Internasional” – yaitu sebuah istilah yang cenderung mengacu kepada Amerika dan Negara-negara yang bersekutu dengannya. Agar orang-orang Palestina bisa keluar dari tembok wilayah Gaza, maka Hamas harus mengakui eksistensi Negara Israel, tidak mengobarkan kekerasan dan menyetujui perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, khususnya peta wilayah yang telah diputuskan oleh empat pihak (Amerika, Rusia, Uni Eropa dan PBB).
Kemunafikan terlihat disini. Amerika dan Israel jelas-jelas tidak mau mengakui keberadaan Palestina ataupun berusaha mengurangi kekerasan. Kedua Negara ini juga tidak mau mengakui perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. Hanya di permukaan saja Israel menerima perjanjian peta wilayah, karena berikutnya Israel membuat 14 pasal untuk mementahkan perjanjian tersebut.
Lihat saja pasal pertamanya, Israel menuntut agar orang-orang Palestina bersikap diam dan pasif, selalu menyerurukan perdamaian, tidak boleh menghasut rakyat untuk melawan Israel, membongkar keberadaan Hamas dan organisasi sejenis. Bahkan misalnya Israel mendapatkan apa yang mereka inginkan meskipun persyaratan yang mereka ajukan adalah kemustahilan, kabinet Israel masih memberikan syarat yang lain yaitu ‘Peta wilayah tidak boleh menyebutkan bahwa Israel harus mengurangi kekerasan dan melawan rakyat Palestina.’
Penolakan Israel atas pembagian peta wilayah dengan didukung oleh Amerika sangat tidak bisa diterima oleh publik Barat. Mereka menolak, salah satunya adalah dengan kehadiran buku karya Jimmy Carter yang berjudul ‘Palestina: Peace not Apartheid’. Buku ini mengundang reaksi keras dari pihak yang pro Israel. Mereka berusaha membantah isi buku dan mendiskreditkannya.
Saat ini Israel berusaha menghancurkan Gaza dengan dukungan penuh dari Amerika dalam upayanya untuk mengimplementasikan rencananya menguasai Tepi Barat. Israel berharap bisa melakukan kerjasama diam-diam dengan pihak pimpinan (sekuler) Fatah yang nantinya para pemimpin ini akan diberi hadian karena loyalitas mereka pada Israel penjajah. Salah satu hadiah itu adalah Israel akan mencairkan dana sebesar 600 juta dollar yang sempat dibekukan secara tidak sah sebagai reaksi hasil Pemilu Januari 2006 lalu.
Mantan perdana menteri Tony Blair datang sebagai penengah. Menurut pandangan analis politik dari Libanon, Rami Khouri, ‘Menunjuk Tony Blair sebagai penengah dalam upaya perdamaian Arab-Israel adalah hal yang sia-sia. Kehadiran Blair atas nama empat pihak (Amerika, Rusia, Uni Eropa dan PBB) Cuma sebatas nama saja. Karena sangat jelas terlihat bahwa kedatangan Blair hanya sebagai perpanjangan tangan dari kepentingan Bush dan Washington di Timur Tengah dengan mandate sangat terbatas. Sekretaris Negara, Rice (termasuk juga Bush) mempertahankan kontrol unilateral terhadap beberapa issu penting sedangkan Blair hanya diberi bagian remeh yaitu mengurusi masalah institusi bangunan.
Rencana terbaik (sebagaimana consensus internasional) dengan keberadaan dua Negara secara berdampingan bukanlah sebuah kemustahilan. Gagasan ini telah disetujui oleh seluruh masyarakat dunia, termasuk mayoritas rakyat Amerika. Sebenarnya, hal ini sudah mendekati kesepakatan di bulan terakhir ketika Bill Clinton menjabat Presiden, satu-satunya prestasi Amerika setelah 30 tahun sebelumnya selalu menolak dan cenderung membela Israel. Januari 2001, Amerika mendukung perjanjian di Taba, Mesir yang hampir saja mencapai kesepakatan sebelum akhirnya dibatalkan oleh perdana menteri Israel, Ehud Barak.
Pada konferensi pers terakhir, para juru runding di konferensi Taba menyatakan sebuah harapan bahwa jika saja mereka diperbolehkan untuk melanjutkan perundingan maka bukan tidak mungkin perdamaian bisa tercapai.
Tahun-tahun sebelumnya penuh dengan peperangan, tapi harapan selalu ada untuk perdamaian. Bila langkah ini tidak diambil maka ada kemungkinan masalah akan semakin rumit dan kekejaman manusia semakin tidak bisa diduga karenanya. Terbukti pemandangan mata yang sudah dilakukan Istrael di Jalur Gaza. []
Penulis adalah profesor bidang linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Penulis berkebangsaan Yahudi dikenal pengkritik tajam kebijaan Amerika dan Israel.Tulisan ini pernah dimuat Information Clearing House sebelum musibah ‘pembantaian’ di Jalur Gaza tahun 2009
http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8426:qjalur-gazaq&catid=68:opini&Itemid=68
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)














































0 comments: