Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Agama, Dunia dan Akhirat
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku,
dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku,
serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya),
jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku, dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.
(HR. Muslim, no. 2720)
Kado ULANG TAHUN
"Tiap-tiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan Kami menguji kamu sekalian dengan kejadian yang buruk dan yang baik sebagai ujian. Dan kepada Kami kamu sekalian akan dikembalikan"
(Al Anbiya 35)
"Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, kecuali sedikit dari mereka yang usianya lebih dari itu"
“Ya Allah hidupkan aku selama kehidupanku lebih baik bagiku,dan Wafatkanlah aku jikalau kematian itu baik bagiku.”
“Ya Allah Jadikan pendengaran dan penglihatanku senantiasa sehat dan kuatkanlah seluruh anggota badanku , kemudian jadikanlah itu semua tetap seperti itu hingga tibanya kematian”.
Malam itu panjang, maka jangan pendekkan dengan tidurmu dan siang itu begitu terang maka janganlah kau menjadikan gelap dengan dosa-dosamu
(Yahya bin Muadz)
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau dapat terbang di udara, maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Jika amalannya sesuai as sunnah, maka ia wali Allah, namun jika amalannya tidak sesuai dengan as sunnah, maka ia adalah wali syaithan”. [A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193].
Muamalah
“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat”.(HR.Muslim No 2699)
"Seorang Muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan,
kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan
hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat
(penebus) dari dosa-dosanya (H.R. Bukhari & Muslim)"
Categories
- Al-Aqsa (83)
- Al-Qur'an (44)
- BMT (48)
- Buku (107)
- Dinar Dirham (104)
- Do It (64)
- Download (27)
- Dunia Islam (155)
- Fatwa (70)
- felesthin (157)
- Galeri (502)
- Ghazwul Fikri (27)
- Hikmah (148)
- Invasi (211)
- Jejak (70)
- Keutamaan (1)
- Khutbah (50)
- Kiat (328)
- Korupsi (12)
- Kupas (68)
- Media (127)
- Mengembara (27)
- Momentum (86)
- Muamalah (90)
- Mutiara Hadis (46)
- Mutiara Hadits (3)
- Nasehat (266)
- Note of the Day (105)
- Poligami (43)
- Potret (876)
- Presiden (46)
- Sahabat (73)
- Sehat (91)
- Sirah (37)
- Ta'ajjub (9)
- Tabien (29)
- Tips (39)
- Tokoh (31)
- Ustadz (584)
- wawancara (173)
Arsip Blog
-
►
2011
(185)
- November (1)
- Oktober (8)
- September (8)
- Agustus (5)
- Juli (1)
- Juni (18)
- Mei (22)
- April (15)
- Maret (32)
- Februari (22)
- Januari (53)
-
►
2010
(1215)
- Desember (66)
- November (54)
- Oktober (104)
- September (52)
- Agustus (100)
- Juli (61)
- Juni (107)
- Mei (86)
- April (137)
- Maret (139)
- Februari (133)
- Januari (176)
Sinopsis
Syirik merupakan dosa yang menempati rating tertinggi dalam hirarki dosa-dosa bani adam. Bahkan karena dosa ini, manusia bisa keluar dari wilayah Islam menuju wilayah kekafiran. Wilayah yang manjadi dominasi setan yang terkutuk.
Dalam wilayah inilah setan merancang berbagai system yang terpadu dengan dukungan sejumlah prangkat canggih, dilengkapi dengan sumber daya yang kompeten untuk mencari anggota baru dari kalangan bani adam dan kalangan jin. Karena memang kedua jenis terakhir itulah yang sedang menempuh perjalan menuju Allah swt.
Dunia inilah yang menjadi tempat observasi mereka. Tempat di mana mereka berusaha mencari jalan yang lurus. Jalan yang telah direkomendasikan oleh sang pemilik kenikmatan dan siksaan (baca : Allah). Jalan yang telah dilewati oleh para nabi, syuhada, dan shalihin sebelumnya.
Kelompok terakhir inilah yang telah berhasil menempuh sebuah perjalanan spiritual yang mencengangkan sehingga rival mereka dari kalangan setan tidak mampu membendung berbagai jurus yang mereka tampilkan selama dalam observasi mereka di dunia ini.
Ketika awal keluarnya dulu dari sorga, Adam dengan Hawwa serta iblis, harus terdampar di dunia ini. Pase pembelajaran awal pada laboratorium pertama yang bernama sorga itu telah mereka lewati. Iblis dengan segala tipu dayanya berhasil menggelincirkan Adam dan Hawwa untuk mendekati sebuah pohon yang telah diblack-list oleh Allah sebagai pohon terlarang.
Berbagai cara yang dilakukan oleh Iblis untuk menundukkan musuhnya itu agar bisa memperdayanya. Sementara obyek yang bisa dimamfaatkan ketika itu hanyalah satu, yaitu sang pohon terlarang.
Dengan kepiawaiannya dalam berargumen, Iblis mampu meyakinkan keduanya bahwa dibalik larangan Allah itu ada maksud yang sangat tidak berpihak kepada keduanya. Yaitu agar keduanya tidak bisa terdaftar dalam keaggotaan malaikat dan tetap berada dalam sorga.
Artinya, Iblis berusaha meyakinkan Adam dan Hawa agar bisa memakan buah pohon tersebut agar keduanya tetap bisa tinggal di sorga dengan bergelimang kenikmatan yang tiada tara. Alasan yang sangat logis inilah yang menjerumuskannya, sehingga keduanya melanggar larangan Allah swt.
Sejenak setelah larangan itu dilabrak, hiasan sorga yang melekat pada diri mereka satu persatu lepas. Sehingga untuk menutupi aurat masing-masing, keduanya berusaha meraih daun pepohonan. Iblis bersorak penuh kebanggan sambil merayakan kemenanganya yang begitu mengesankan.
Walaupun karena tipu dayanya itu ia harus hengkang pula dari sorga dan turun ke bumi bersama Adam dan Hawwa. Keduanya diproklamirkan sebagai musuh bebuyutan, karena arus yang mereka bawa berbeda.
Satu mewakili hawa panas dengan kegelapannya, sementara yang lain membawakan cahaya dengan kesejukannya.
Di bumi inilah serial pertempuran yang kedua, setelah babak pertama berakhir dengan keputusan Allah untuk mengeluarkan mereka ke bumi, kembali dilanjutkan. Pesan Allah ketika itu kepada Adam dan Hawwa hanya satu.
Yaitu, bahwa jika petunjuk-Nya telah datang, maka siapa pun mengikuti petunjuk-Nya maka ia tidak akan merasa takut dalam menghadapi hidup dan tidak akan sedih karena dirundung berbagai masalah yang berkepanjangan (QS Al-Baqarah : 38).
Namun sebelum Iblis keluar dari sorga, ia meminta kepada Allah swt. agar diberi perpanjangan jata hidup di dunia hingga datangnya hari kiamat. Dengan Hikmah-Nya, Allah mengabulkan permintaannya tersebut (QS al-A’raf : 15).
Setelah mendapat fasilitas umur, ia bersumpah serapah akan menempuh berbagai cara dan arah untuk menggelincirkan bani adam dari jalan-Nya yang lurus (QS al-A’raf : 16).
Untuk sumpah serapah itu, Allah menegaskan kepadanya bahwa hamba-hamba-Nya yang ikhlas tidak akan mampu ditundukkan oleh tipu dayanya.
Adapun yang tunduk kepada Iblis, nantinya akan menjadi temannya di neraka untuk menikmati berbagai panorama siksaan nan pedih lagi tak berketepian.
Tipologi Manusia
Allah, Sebagai Tuhan Pencipta manusia mempersilahkan manusia itu sendiri yang memilih jalan mana yang akan mereka jadikan aturan dan standar hidup di dunia ini, apakah jalan iman (keyakinan dan ketaatan) kepada-Nya atau jalan kufur (pengingkaran dan maksiat) kepada-Nya.
Kemudian diturunkan pula untuk mereka Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) yang menjelaskan mana hak (kebenaran) dan mana pula yang bathil, mana yang menyelamatkan dan mana yang menyesatkan manusia serta dibantu pula penjelasannya oleh seorang Rasul bernama Muhammad Saw.
Kitab Petunjuk Hidup yang terjamin keasliannya sampai hari Kiamat itu didukung pula oleh tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan-Nya yang tesirat dalam jagad raya dan dalam diri manusia yang setiap saat dan waktu Allah munculkan baik melalui kerja keras manusia dalam melakukan eksperimen-eksperimen ilmiah atau Dia munculkan begitu saja di hadapan mereka.
Namun demikian, mengapa masih banyak manusia yang ingkar, ,menentang Allah Tuhan Pencipta, dan bahkan ada yang menolak keberadaan-Nya sedangkan mereka sendiri tinggal di atas bumi yang diciptakan-Nya?
detail....
Ditanya Itu Pasti !
Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang. Dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dalam kematian yang akan tiba-tiba datang." (Ibnu Mas'ud r.a.)
Alangkah luas dunia ini. Tempat setiap kita bisa menjalani hidup dan memilih -dengan sadar- arah dan tujuan kita.
Tetapi segalanya tidak berakhir disini. Tapi di sana, di akhirat kelak. Saat kita akan ditanya, apa yang telah kita persembahkan untuk kehidupan yang abadi itu?
Menjadi hidup memang takdir, tetapi menjalani hidup secara baik adalah pilihan. Sebab toh kita akan pergi, meninggalkan dunia ini. Tak ada yang menolak kepastian akan kematian.
Tetapi menjadi sadar sepanjang waktu tidaklah mudah. Yang dengan kesadaran itu kita membekali diri dengan sebaik-baiknya. Betapa kesadaran itu tidak mudah. Ia harus terus diasah dan ditegaskan.
Bahwa mengetahui kematian saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kesadaran apa yang bisa dibangun dari pengetahuan itu.
Lalu dari kesadaran itu apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita jawab, pada hari hisab, pada saat kita ditanya? Sebab ditanya itu pasti. Tapi bagaimana dan dengan apa menjawabnya?
Alangkah luas dunia ini. Tempat setiap kita bisa menjalani hidup dan memilih -dengan sadar- arah dan tujuan kita.
Tetapi segalanya tidak berakhir disini. Tapi di sana, di akhirat kelak. Saat kita akan ditanya, apa yang telah kita persembahkan untuk kehidupan yang abadi itu?
Menjadi hidup memang takdir, tetapi menjalani hidup secara baik adalah pilihan. Sebab toh kita akan pergi, meninggalkan dunia ini. Tak ada yang menolak kepastian akan kematian.
Tetapi menjadi sadar sepanjang waktu tidaklah mudah. Yang dengan kesadaran itu kita membekali diri dengan sebaik-baiknya. Betapa kesadaran itu tidak mudah. Ia harus terus diasah dan ditegaskan.
Bahwa mengetahui kematian saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kesadaran apa yang bisa dibangun dari pengetahuan itu.
Lalu dari kesadaran itu apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita jawab, pada hari hisab, pada saat kita ditanya? Sebab ditanya itu pasti. Tapi bagaimana dan dengan apa menjawabnya?
Cermin Peristiwa
Sangat sulit untuk dipungkiri, bangsa Yahudi merupakan bangsa rasialis. Mungkin paling rasialis yang pernah ada di muka bumi.
Benih-benih kebencian menyeruak tatkala didapatinya nabi akhir jaman itu bukan dari darah ’biru Yahudi’. Memang, fakta historis menjadikan mereka besar kepala.
Nabi-nabi yang mulia kerap bangkit dari garis gen mereka. Tapi itu sejatinya dimaknai bahwa mereka itu prototipe bangsa yang banyak dililit masalah. Atau kreator masalah alias biang kerok.
Sehingga, Yang Maha Kuasa mengirim utusan-utusan pilihan-Nya untuk mengawal tindak-tanduk mereka.
Maka di sana ada Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa’, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Yunus, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa.
Kian banyaknya utusan-utusan-Nya lahir di kalangan mereka, mestinya rasa syukur dipanjatkan. Ibarat ’air susu dibalas air tuba’, alih-alih merasa bangga atas para nabi itu, malah prilaku provokatif, culas nan bengis yang mereka berikan kepada para nabi mulia itu.
Puncaknya, para nabi itu pun dibununya.
Berikut daftar tuduhan Yahudi atas para nabi: Nabi Nuh teler sembari telanjang (Kejadian 9:18-27); Nabi Luth juga teler tak sadarkan diri lalu menzinahi kedua putrinya sampai keduanya hamil (Kejadian 19:30-38); Nabi Ismail berprilaku seperti keledai air (Kejadian 16:11-12); Nabi Yakub melakukan penipuan atas ayahnya (Kejadian 27:1-46); Nabi Yehuda selingkuh dengan menantunya sendiri sampai hamil (Kejadian 38:1-30); Nabi Daud selingkuh dengan istri orang yang akhirnya melahirkan Nabi Isa (II Samuel 11:1-27 dan Matius 1:6); Nabi Sulaiman terjerumus kepada penyembahan berhala akibat merayu 700 istri dan 300 gundiknya; Nabi Isa (Yesus) adalah nabi tolol, mengidap keterbelakangan mental dan mudah emosi serta berakhlak bejat (Markus 11:12-14, Yohanes 7:8-10 dan Yohanes 2:4). Dan puncaknya, beberapa nabi hampir dibunuh seperti Nabi Isa dan banyak pula berhasil dibunuh.
Sampai-sampai Ibnu Al-Qayyim menuliskan, ”Mereka (bangsa Yahudi) telah membunuh Zakaria dan Yahya, anaknya, dan sejumlah nabi. Sampai mereka pernah membunuh 70 nabi dalam sehari lalu mereka membangin pasar-pasar seolah-olah tak terjadi apapun.”
Maka kemudian pantas saja Al-Qur’an mengatakan:
”Dan (ingatlah), ketika kalian (orang-orang Israel) berkata, ”Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”
Musa berkata, ”Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.
Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al-Baqarah: 61).
Detail....
Benih-benih kebencian menyeruak tatkala didapatinya nabi akhir jaman itu bukan dari darah ’biru Yahudi’. Memang, fakta historis menjadikan mereka besar kepala.
Nabi-nabi yang mulia kerap bangkit dari garis gen mereka. Tapi itu sejatinya dimaknai bahwa mereka itu prototipe bangsa yang banyak dililit masalah. Atau kreator masalah alias biang kerok.
Sehingga, Yang Maha Kuasa mengirim utusan-utusan pilihan-Nya untuk mengawal tindak-tanduk mereka.
Maka di sana ada Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa’, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Yunus, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa.
Kian banyaknya utusan-utusan-Nya lahir di kalangan mereka, mestinya rasa syukur dipanjatkan. Ibarat ’air susu dibalas air tuba’, alih-alih merasa bangga atas para nabi itu, malah prilaku provokatif, culas nan bengis yang mereka berikan kepada para nabi mulia itu.
Puncaknya, para nabi itu pun dibununya.
Berikut daftar tuduhan Yahudi atas para nabi: Nabi Nuh teler sembari telanjang (Kejadian 9:18-27); Nabi Luth juga teler tak sadarkan diri lalu menzinahi kedua putrinya sampai keduanya hamil (Kejadian 19:30-38); Nabi Ismail berprilaku seperti keledai air (Kejadian 16:11-12); Nabi Yakub melakukan penipuan atas ayahnya (Kejadian 27:1-46); Nabi Yehuda selingkuh dengan menantunya sendiri sampai hamil (Kejadian 38:1-30); Nabi Daud selingkuh dengan istri orang yang akhirnya melahirkan Nabi Isa (II Samuel 11:1-27 dan Matius 1:6); Nabi Sulaiman terjerumus kepada penyembahan berhala akibat merayu 700 istri dan 300 gundiknya; Nabi Isa (Yesus) adalah nabi tolol, mengidap keterbelakangan mental dan mudah emosi serta berakhlak bejat (Markus 11:12-14, Yohanes 7:8-10 dan Yohanes 2:4). Dan puncaknya, beberapa nabi hampir dibunuh seperti Nabi Isa dan banyak pula berhasil dibunuh.
Sampai-sampai Ibnu Al-Qayyim menuliskan, ”Mereka (bangsa Yahudi) telah membunuh Zakaria dan Yahya, anaknya, dan sejumlah nabi. Sampai mereka pernah membunuh 70 nabi dalam sehari lalu mereka membangin pasar-pasar seolah-olah tak terjadi apapun.”
Maka kemudian pantas saja Al-Qur’an mengatakan:
”Dan (ingatlah), ketika kalian (orang-orang Israel) berkata, ”Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”
Musa berkata, ”Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.
Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al-Baqarah: 61).
Detail....
Sabar & Tabah
Sabar. Tabah. Itu dua hal yang ditekankah Rasulullah saw. kepada para sahabat. Apalagi musuh bukan hanya datang dari luar. Ketika sampai di Madinah, Rasulullah saw. mendapati penduduk yang heterogen: ada muslimin, musyrikin penyembah berhala, dan ada juga kaum Yahudi.
Ancaman juga datang dari kalangan Yahudi. Salah satunya dari Syas bin Qais. Tetua Yahudi ini sangat tidak suka dengan kerukunan kaum Aus dan Khazraj di suatu majelis yang ia saksikan. Sebelum Islam datang, kedua kaum ini bermusuhan. Dan, kaum Yahudi selalu mendapat keuntungan dari peperangan mereka. Karena itu, Syas meminta seorang pemuda Yahudi untuk memprovokasi. Katanya, “Temuilah orang-orang itu dan duduklah bersama mereka. Lalu ungkit kembali Perang Bu’ats dan peperangan lain yang pernah terjadi di antara mereka. Lantunkan juga syair-syair yang pernah mereka lontarkan untuk saling mengejek sesama mereka!”
Provokasi pemuda Yahudi itu berhasil. Para sahabat yang berasal dari kalangan Aus dan khazraj saling berhadapan. Mereka melompat ke atas kuda-kuda mereka dengan penuh amarah meneriakkan kata, “Perang!”
Rasulullah saw. dan kalangan Muhajirin bergegas menemui mereka. “Wahai kaum muslimin!” panggil Rasulullah saw. kepada mereka. “Ingatlah Allah! Berdzikirlah kalian kepada Allah! Adakah kalian ingin kembali menjadi jahiliyah sedangkan aku sudah berada di tengah-tengah kalian, Allah telah memberi petunjuk kepada kalian hingga memeluk Islam, Allah juga sudah memuliakan kalian, memutuskan kejahiliyahan dari kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran dan menyatukan hati kalian dengan Islam?”
Mujahidin
"Akan selalu ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, mereka tidak akan dimudharatkan oleh orang–orang yang menghina dan menyalahi mereka sampai datang keputusan Allah."
( HR. Muslim )
( HR. Muslim )
Hari Kiamat
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw,"Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk."
Ketika Musibah Menimpa
Pertama, apabila ditimpa musibah hendaknya kita membaca ’innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun’ (“Sessungguhnya kita milik Allah dan kepadaNyalah kita akan dikembalikan”). Allah Ta’ala berfirman,
“yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengucapkan “innaalillaahi wa-innaa ilaihi raaji’un”. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu beristirjaa’ niscaya Allah Ta’ala akan memberi ganjaran pada musibahnya dan akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya”. (HR.Muslim)
Ucapan istirjaa’ mengandung pengertian bahwa diri kita, keluarga dan harta benda adalah milik Allah Ta’ala. Ketika kita lahir, kita tidak memiliki apa-apa. Demikian pula sampai kita meninggal nanti kita tidak akan membawa apa-apa. Semua itu akan kita tinggalkan dan kita tidak akan membawa sesuatu, kecuali amal shalih kita. Karena itu, persiapan diri adalah mutlak untuk menghadapi hari tersebut.
Kedua, hendaknya kita yakin dengan takdir Allah Ta’ala baik dan buruknya. Ini penting, karena keyakinan dengan rukun iman yang keenam ini akan meringankan beban kita. Iman kepada takdir memberi kita semacam ‘kekebalan dini’ dengan kesadaran sedalam-dalamnya bahwa segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi itu telah tertulis di lauh al-mahfuzh. Dengan demikian, apapun yang menimpa kita tetap berada di dalam bingkai kesadaran, sehingga musibah akan terasa lebih ringan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam do’anya yang terkenal, “…anugrahkanlah pada kami keyakinan yang menjadikan musibah terasa ringan…”. (HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim).
Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Tiada satu bencanapun yang menimpa di muka bumi dan tidak pula pada dirimu kecuali telah tertulis pada kitab sebelum kami menciptakannya. Sunggguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan agar kamu tidak terlalu gembira dengan apa yang diberikan Allah padamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri”.
(QS. Al-Hadiid: 22-23)
Ketika ada hal-hal yang luput, mengalami penderitaan, menghadapi kesulitan, kita tidak terlalu bersedih hati dan menjadikan kita berprasangka buruk kepada Allah.
Ketiga, hendaknya kita bersyukur karena musibah yang menimpa kita tidaklah lebih besar dari yang menimpa orang lain. Begitu banyak orang yang mendapatkan musibah jauh lebih mengenaskan daripada kita. Seberat apapun musibah dunia yang menimpa kita, yakinlah masih ada lagi yang lebih berat. Tidak sedikit orang yang sebenarnya terkena musibah tapi dia tidak menyadarinya, yakni’ tertimpa musibah dalam agamanya. Yang mengherankan adalah tidak sedikit orang terjatuh pada musibah agama (musibah diniyah), namun ia sedikitpun tidak merasa sedih. Terjatuh pada perzinahan, makan riba, membunuh jiwa yang tidak halal, pergi ke dukun atau tukang ramal dan membenarkannya adalah di antara musibah diniyah, bahkan yang terakhir bisa menggelincirkan pelakunya dari Islam.. Itulah sebabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita sebuah do’a agar kita tidak terjerumus musibah ini. Dalam do’anya beliau bersabda, “Ya Allah jangan engkau jadikan musibah kami dalam agama kami”. (HR. Tirmidzi dan Hakim)
Keempat, hendaknya kita sedapat mungkin tidak berkeluh kesah, menggerutu atas musibah yang melanda kita. Sebab itu semua tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Berkeluh kesah juga menunjukkan seseorang tidak ridha dengan takdir Allah Ta’ala. Bagi mereka yang menjaga shalatnya, menjaga kehormatannya, menunaikan zakat, beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Kemudian, maka tidak akan berkeluh kesah. Mengeluh kepada manusia juga tidak tidak memberi banyak manfaat, karena bisa menodai kesabaran dan keridhaan.
Kelima, kita harus yakin bahwa apa yang menimpa jika kita sabar dan ridha, maka Allah Ta’ala pasti memberikan gantinya. Allah Ta’ala akan memberi kenikmatan, berkah, kelezatan, kebaikan yang berlipat ganda. Bahkan musibah yang melanda akan menghapuskan dosa-dosa dan akan menyucikan jiwa-jiwa kita. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Mereka itulah yang akan mendapatkan shalawat dari Tuhannya, rahmat dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk” .
(QS. al-Baqarah: 157).
Semoga kita menyikapi setiap bencana yang menimpa kita dengan baik dan benar. Sabar dan ridho serta selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, insya Allah kita akan mendapatkan kelezatan iman.
3 Maret 1924
,menjadi peristiwa penting yang tidak boleh dilupakan oleh umat Islam. Saat itu – 85 tahun yang lalu- Musthafa Kamal menghapuskan Negara Islam Khilafah. Sejak itu, Umat Islam kehilangan negara yang menyatukan mereka. Umat Islam dipecah menjadi beberapa negara kecil yang lemah, dijajah, kekayaan alamnya di eksploitasi . Umat Islampun menjadi lemah dan tidak lagi menjadi negara adidaya yang mendominasi dunia, ekonomi negeri Islam pun mengalami kemunduran yang parah meskipun memiliki kekayaan alam yang luar biasa.
Sejak tahun 1924, kita telah dipecahbelah menjadi lebih dari 50 negara yang lemah dan tidak memiliki pengaruh. Penguasa dunia Islam secara sistematis berkoalisi dengan kekuatan negara-negara kolonial melawan rakyatnya sendiri . Alih-alih melindungi rakyatnya, mereka justru memberikan jalan bagi kekuatan kolonial untuk mempermudah pembantaian massal terhadap umat Islam. Sebagaimana kita lihat di Palestina,
Bagaimanapun arus deras perubahan sedang terjadi dan tidak terbendung. Tanda-tanda itu bisa kita saksikan di seluruh dunia. Umat bereaksi serentak di seluruh dunia sebagai kesatuan umat dalam tragedi pembantaian masal di
Umat juga dengan jelas dan nyata melihat kegagalan ekonomi global kapitalisme. Krisis keuangan akibat kapitalisme ini telah menimbulkan bencana kemanusiaan yang sangat mengerikan. Umat juga melihat kedustaan janji-janji ‘kemerdekaan dan demokrasi’ tercermin dari apa yang terjadi di penjara Abu Ghraib dan
Berbagai cara telah dicoba di dunia Islam mulai dari pemerintah diktator, sosialisme, demokrasi, monarki, dan nasionalisme. Semuanya menunjukkan kegagalan yang nyata. Kerinduan umat akan tegaknya kembali Khilafah semakin memuncak. Umat merindukan hidup dibawah naungan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwah yang dijanjikan Rosulullah SAW. Alhamdulillah.
Menegakkan kembali Khilafah di dunia Islam adalah kewajiban kolektif dari umat ini. Kita bisa menyaksikan tanpa institusi Khilafah perbagai persoalan yang kompleks bermunculan tanpa bisa dipecahkan di dunia Islam mulai dari Lautan Atlantik (Maroko) hingga Lautan Pasifik (
Adalah ironis, menyedihkan, dan tidak masuk akal. Meskipun dunia Islam yang kaya dengan populasi 20 persen dari dunia, memiliki lebih dari 60 % cadangan minyak dunia , 55 % gas dunia , hampir 37 % emas, dan memiliki hampir 25% personil pertahanan dunia. Namun kenyataannya, dunia Islam begitu lemah dan terjajah , memiliki pengaruh politik yang kecil dan tidak memiliki kepemimpinan mandiri untuk mengelola sumber daya alamnya sendiri yang melimpah.
Tidak diragukan lagi Khilafah adalah alternatif satu-satunya bagi rezim tirani yang korup di dunia Islam sekarang ini. Hanya Khilafah yang bisa menggantikan rezim tiran dengan kepemimpinan yang membawa kesejahteraan untuk rakyat, adil, melindungi dan menciptakan stabilitas dan keamanan bagi dunia Islam dan dunia secara keseluruhan. Keputusan politik dunia Islam akan ditentukan oleh umat Islam sendiri bagi kepentingan umat di Kairo,
Inilah saatnya untuk bekerja keras menegakkan kembali Khilafah yang akan menyatukan dunia Islam, menjawab tangisan pilu anak-anak, para ibu dan wanita di Palestina ,
Perjuangan ini memang berat , tapi akan lebih ringan kalau kita lakukan bersama-sama. Perjuangan ini akan lebih cepat kalau kita tidak sekedar jadi penonton atau menjadi pihak yang meragukan umat akan kembalinya Khilafah Islam ini. Ini adalah kewajiban bersama yang harus kita lakukan dengan perjuangan bersama. Allahu Akbar !
“…. Kemudian akan kembali Khilafah al Minjahin Nubuwah” (Musnad Ahmad)
Muhammad Ghufron
Search
My Blog List
-
Larangan5 minggu yang lalu
-
SOSOK PEMIMPIN ASLI3 bulan yang lalu
-
Daurah Sejarah Peradaban Islam3 tahun yang lalu
Kebahagian & Kenikmatan
“Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan tidak bisa didatangkan dari luar.
Al Hasan al-Bashri mengatakan,
“Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga hal, dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”
Malik bin Dinar mengatakan,
“Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.”
Ada ulama salaf yang mengatakan,
“Pada malam hari orang-orang gemar sholat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.”
Ulama salaf yang lain mengatakan,
“Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa sholat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”
Ulama salaf yang lain mengatakan,
“Sejak 40 tahun lamanya aku merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”
Ibrahim bin Adham mengatakan,
“Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.”
Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa,
“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’”
Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa,
tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. .
Menuruti Nafsu
Penyebab Penyimpangan
Dorongan hasrat jiwa adalah sikap ambisi dan tamak.
Namun barangsiapa yang mampu mengendalikan dorongan gelora syahwatnya dan mampu menjadikan akalnya sebagai pengendali hawa nafsunya, maka ia menjadi orang yang dimuliakan Allah swt di dunia dan akhirat.
Adapun siapa yang tunduk di bawah kendali syahwatnya. Akalnya bertekuk lutut dikalahkan nafsunya, maka ia termasuk kelompok orang-orang yang merugi dan tersesat jalan hidupnya, meskipun ia mengira perbuatan itu baik.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Dan mereka berkata:"Kehidupan iin tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS:45:23-24)
Doa & Wirid Harian
DIBERI KESEHATAN & DIMUDAHKAN REZEKI
Dari Thoriq bin Asy-yam –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, “Jika seseorang baru masuk Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pada beliau shalat, lalu beliau memerintahkannya untuk membaca do’a berikut:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاهْدِني ، وَعَافِني ، وَارْزُقْنِي
“Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii.” [Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku]
(HR. Muslim no. 35 dan 2697)
“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal. — HR. Bukhari: 2/102 dan Muslim: 1/412.
Sebelum Salam
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MASIHID DAJJAL, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYA WAL MAMAAT, ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGROM [Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari adzab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan hidup dan mati. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari berbuat dosa dan banyak utang].”
Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan,
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak utang karena banyakdosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia. "
"Be the Best of Whatever You Are"
Bukan Ukuran Yang Menentukan
Anda Menang atau Kalah,
Tetapi Jadilah Yang Terbaik
Apapun Peran Anda.
Hakikat kejujuran adalah meraih sesuatu dengan sempurna
Kejujuran ada pada niat, ucapan dan amalan.
“Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”,
(QS: At-Taubah: 119).
DO'A MEMOHON KEMUDAHAN
Dari Anas bin Malik, beliau berkata bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa”
[artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. Dishohihkan oleh Al Albani.
Radio Online
[\audio http://live.radiorodja.com/;stream.nsv |width=250|bg=0xCDDFF3|leftbg=0x357DCE|lefticon=0xF2F2F2|rightbg=0xF06A51|rightbghover=0xAF2910|righticon=0xF2F2F2|righticonhover=0xFFFFFF|text=0x357DCE|slider=0x357DCE|track=0xFFFFFF|border=0xFFFFFF|loader=0xAF2910|titles=Menebar Cahaya Sunnah|artists=Radio Rodja 756 AM|animation=no]
















































0 comments: