Darah Biru Kenabian itu Raib Karena Aib

Filed under: by: 3Mudilah

Bayi itu tergolek di pangkuan sang kakek, Abdul Muthalib yang masih diliputi keceriaan plus keheranan. Bagaimana tidak, Muhammad SAW kecil ternyata terlahir telah disunat dengan pusar terpotong. Entah siapa yang melakukannya. "Sungguh, anakku ini akan punya urusan besar kelak," terka sang kakek

Sementara itu orang Yahudi yang juga pedagang di Makkah mengendus isyarat, yang ternyata lama dinantikannya. Sembari menembus gulita, ia menghampiri orang-orang Quraisy. “Wahai bangsa Quraisy! Adakah pada malam ini di antara kalian telah terlahir seorang anak laki-laki?” ujar dia. Tentu saja orang-orang Quraisy tersentak atas pertanyaan yang tak lazim itu.

Lalu dengan suara lantang si Yahudi mengatakan, “Ingat baik-baik apa yang akan saya katakan! Malam ini telah lahir nabi umat akhir zaman. Di antara kedua bahunya ada tanda lembaran rambut bagai rambut leher kuda.”

Atas informasi itu, orang-orang Quraisy pun terkaget-kaget sembari mencari-cari siapa gerangan yang baru saja melahirkan. Mereka pun menemukan keluarga Abdullah yang telah wafat, yang ternyata sang istri, Aminah, baru saja melahirkan seorang bayi bernama Muhammad. Tak dinyana, ternyata orang-orang Quraisy itu langsung memboyong si Yahudi ke kediaman Aminah. Namun gerangan apakah yang terjadi? Tatkala tanda itu dilihatnya, ia pun pingsang tak sadarkan diri. Suasana pun hening. Semua membisu. Orang-orang Quraisy betul-betul tak mengerti. Mereka bertanya, “Wahai, ada apakah denganmu?” Dengan suara parau lagi lunglai, si Yahudi menyahut, “Demi Tuhan, kenabian itu telah pupus dari anak cucu Israel. Wahai orang-orang Quraiys, berbahagialah kalian!”

Sungguh, si Yahudi itu sangat kecewa. Sang nabi yang selama ini mereka gadang-gadang, tak menyisakan asa apapun. Mimpi kebangkitan nabi akhir zaman dari ’darah biru’ Yahudi, punah sudah. Nabi itu menyeruak dari komunitas yang tak akrab dengan kenabian. Kini, raib sudah darah biru kenabian Israel. Dia Yang Di Atas sudah tak berkehendak lagi, sebagai karma atas borok dan aib yang tak tertahankan!

Demikianlah Muhammad kecil menggemparkan kota Makkah yang kosmopolitan. Ia pun diasuh Ummu Aiman, seorang budak wanita Afrika peninggalan Abdullah, sang ayah. Ummu Aiman begitu telaten dalam mengasuh sang nabi. Kelak saat Muhammad dewasa, Ummu Aiman pun dibebaskannya yang kemudian dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah, bekas budak Rasulullah SAW. Dan, Ummu Aiman dan Zaid bin Haritsah lah orang tua Usamah bin Zaid.

Adapun yang menyusui Muhammad SAW kemudian adalah Halimah dari Suku Sa’ad, sebuah suku yang terletak nan jauh dari hiruk pikuk dan kehingarbingaran. Dalam bahasa Arab, Halimah bermakna kelembutan. Bukanlah sebuah kebetulan jika Muhammad kecil dininabobokan dengan penuh kelembutan. Dan dialah nabiyyurahmah. Nabi yang kasih dan sayangnya tak kenal lekang meski nyawa meregang.

Yatim Pembawa Berkah

Baiklah, bagaimanakah gerangan Halimah yang lembut itu bersua dengan bayi yang yatim itu.

Halimah menuturkan kisahnya yang begitu mengesankannya, yakni tatkala ia bersama rombongan wanita suku Sa’ad pergi ke Makkah mencari peruntungan. ”Saya bertolak dengan menunggangi keledai betina berwarna putih kusam. Seekor unta tua lagi renta juga bersama kami. Demi Allah unta itu tidak ada setetes pun air susunya.

Malam-malam kami terus berjaga. Itu karena bayi-bayi kami menangis karena lapar. Air susuku pun tak mengenyangkannya. Sementara di unta tua kami tak ada yang dapat dimakan. Namun kami tetap menggantungkan asa atas curahan hujan dan jalan keluar. Di atas keledai betina itulah saya bertolak. Keledai-keledai itu didera luka, yang memayahkan dan meletihkannya. Tibalah kami di Makkah sembari menjajakan jasa menyusui. Semua dari kami pernah ditawari untuk menyusui Muhammad. Namun ketika kami mengetahuinya seorang yatim kami pun menampiknya. Itu karena kami mengharap upah dari ayah si bayi. Saat itu kami berucap ”Yatim”! Apa yang bisa diharapkan dari ibu dan kakeknya! Ketika itu kami sangat tidak menginginkannya. Saat itu semua yang datang ke Makkah telah mendapatkan bayi susuannya kecuali saya. Tatkala kami bertekad untuk bergegas pulang putus asa, aku berbincang dengan suamiku, ”Demi Allah, saya cemas jika saya pulang dengan rombongan wanita kami sementara saya tak mendapatkan bayi susuan. Demi Allah saya akan pergi ke anak yatim untuk saya ambil.” Sang suami menyahut, ”Semoga saja Allah anugerahkan kita keberkahan karenanya!” Saat saya letakkan ia di pangkuan, kuarahkan puting susuku kepadanya, ia pun minum sampai lenyap dahaganya. Bayiku pun ikut menyusui sampai kenyang. Keduanya terlelap tidur. Sebelumnya kami tak dapat tidur. Suamiku menghampiri unta tua kami. Sekonyong-konyong air susu unta itu melimpah. Ia memeras dan meminumnya. Saya pun minum bersamanya sampai kami puas dan kenyang. Malam kami saat itu sangat indah.”

Dan kisah pun berlanjut. ”Wahai Halimah, tahukah bahwa kamu telah mendapatkan angin sejuk keberkahan!” ujar Al-Harits bin Abdul ’Uzza, suami Halimah. Lalu Halimah mengatakan, ”Kami bertolak untuk pulang. Saya menunggangi keledai betina kami. Saya dekap bayi yatim itu. Demi Allah, keledai kami dapat mendahului tunggangan-tunggangan wanita kami. Mereka pun terperangah. ”Wahai Halimah, berhentilah sejenak! Bukankah keledai itu yang kamu tunggangi saat kita pergi?” Saya pun mengiyakannya. ”Sungguh, keledai itu sebuah isyarat,” ujar mereka.

Kisah pun belum usai. ”Kami tiba di kediaman kami di kampung Suku Sa’ad. Sepengetahuan saya tidak ada tanah yang lebih tandus dari tanah kami. Ketika itu seekor kambingku menghampiri kami saat kami tiba dan kambing itu tampak kenyang dan berlimpah susu. Kami pun memeras dan meminumnya. Orang-orang keheranan. ”Kenapakah kambing Halimah tampak kenyang dan berlimpah susu sementara kambing kalian tampak kelaparan!” kata orang-orang itu. Mereka pun melepas kambing-kambing itu ke mana pun kambing Halimah pergi. Namun apa daya, kambing-kambing itu tetap saja kelaparan dan hebatnya, kambing Halimah terlihat kenyang nan berlimpah susu!

Waktu pun berangsut. Dua tahun sudah Muhammad kecil bersama Halimah. Ia tampak lebih dewasa dan kuat. Ia tak terlihat seperti anak-anak. Saatnya tiba bagi Halimah mengantar pulang Muhammad ke pelukan sang bunda, Aminah. Tapi berat rasanya bagi Halimah untuk berpisah. ”Demi Allah, sampai kapan pun kami tak ingin berpisah dengannya,” ujar Halimah dengan suara lirih menahan cinta yang tertambat dalam. ”Kami belum pernah lihat anak seberkah dia. Kami sangat cemas ia tergilas penyakit Makkah. Biarkan kami bersamanya beberapa saat,” pinta Halimah sembari memohon. Muhammad kecil pun kembali ke pangkuan Halimah. Nabi akhir zaman itu habiskan dua tahun tambahan di Suku Sa’ad.

Cermin Peristiwa

Sangat sulit untuk dipungkiri, bangsa Yahudi merupakan bangsa rasialis. Mungkin paling rasialis yang pernah ada di muka bumi. Benih-benih kebencian menyeruak tatkala didapatinya nabi akhir jaman itu bukan dari darah ’biru Yahudi’. Memang, fakta historis menjadikan mereka besar kepala. Nabi-nabi yang mulia kerap bangkit dari garis gen mereka. Tapi itu sejatinya dimaknai bahwa mereka itu prototipe bangsa yang banyak dililit masalah. Atau kreator masalah alias biang kerok. Sehingga, Yang Maha Kuasa mengirim utusan-utusan pilihan-Nya untuk mengawal tindak-tanduk mereka. Maka di sana ada Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa’, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Yunus, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa.

Kian banyaknya utusan-utusan-Nya lahir di kalangan mereka, mestinya rasa syukur dipanjatkan. Ibarat ’air susu dibalas air tuba’, alih-alih merasa bangga atas para nabi itu, malah prilaku provokatif, culas nan bengis yang mereka berikan kepada para nabi mulia itu. Puncaknya, para nabi itu pun dibununya.

Berikut daftar tuduhan Yahudi atas para nabi: Nabi Nuh teler sembari telanjang (Kejadian 9:18-27); Nabi Luth juga teler tak sadarkan diri lalu menzinahi kedua putrinya sampai keduanya hamil (Kejadian 19:30-38); Nabi Ismail berprilaku seperti keledai air (Kejadian 16:11-12); Nabi Yakub melakukan penipuan atas ayahnya (Kejadian 27:1-46); Nabi Yehuda selingkuh dengan menantunya sendiri sampai hamil (Kejadian 38:1-30); Nabi Daud selingkuh dengan istri orang yang akhirnya melahirkan Nabi Isa (II Samuel 11:1-27 dan Matius 1:6); Nabi Sulaiman terjerumus kepada penyembahan berhala akibat merayu 700 istri dan 300 gundiknya; Nabi Isa (Yesus) adalah nabi tolol, mengidap keterbelakangan mental dan mudah emosi serta berakhlak bejat (Markus 11:12-14, Yohanes 7:8-10 dan Yohanes 2:4). Dan puncaknya, beberapa nabi hampir dibunuh seperti Nabi Isa dan banyak pula berhasil dibunuh. Sampai-sampai Ibnu Al-Qayyim menuliskan, ”Mereka (bangsa Yahudi) telah membunuh Zakaria dan Yahya, anaknya, dan sejumlah nabi. Sampai mereka pernah membunuh 70 nabi dalam sehari lalu mereka membangin pasar-pasar seolah-olah tak terjadi apapun.”

Maka kemudian pantas saja Al-Qur’an mengatakan:

”Dan (ingatlah), ketika kalian (orang-orang Israel) berkata, ”Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.” Musa berkata, ”Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al-Baqarah: 61).

penulis :
Mochamad Ilyas

http://www.warnaislam.com/kajian/sirah/2009/1/27/63360/Darah_Biru_Kenabian_Raib_Karena_Aib_3.htm

0 comments: