Kegagalan Israel Terhadap Palestina

Filed under: by: 3Mudilah


Ketika George Bush, Presiden AS pertama kali memasuki Gedung Putih sebagai Komandan Nomor Satu AS pada tahun 2001, orang-orang Palestina tengah meregang nyawa dalam aksi infitifadhah al-Aqsha. Delapan tahun kemudian, ketika Bush akan meninggalkan Gedung Putih, hal yang serupa terjadi: orang-orang Palestina kembali tewas sebagai tebusan agresi keji yang dilancarkan Israel, pelakunya masih sama selama 60 tahun terakhir ini, yaitu Israel. Dan, AS, dari dulu sampai sekarang, tetap pada pendiriannya, mendukung Israel dengan segala argumennya.

Apa yang dilakukan oleh Israel sekarang ini, sama persis pula dengan apa yang mereka lakukan terhadap pasukan Hizbullah di Lebanon tahun 2006 silam. Tapi, alih-alih bisa menghancurkan Lebanon, malah Hizbullah memenangkan pertempuran yang berat sebelah itu, dan mereka menjadi symbol kebangkitan dunia Arab. Israel, dengan agresinya terhadap Jalur Gaza sekarang ini akan melakukan kembali kesalahannya.

Jelas sudah Israel berharap bahwa Palestina akan menerima penjajahan Israel—mengingat sekarang Palestina sudah kehilangan lebih dari separuh fungsi sosialnya. Tetapi, jika Palestina berusaha melawan, seperti yang kini ditunjukan oleh Hamas, negara Yahudi itu akan kembali babak belur, sama halnya dengan kejadian di Lebanon dua tahun lalu. Israel harus belajar bahwa kekuatan militer tak akan pernah bisa menghentikan gerakan perlawanan dunia Islam, dalam hal sekarang ini, Palestina.

Faktor Media

Sementara militer Israel khusyuk membombardir 1.5 juta penduduk Gaza, media menyaksikan sebuah dilema simalakama—karena di satu sisi mereka terluka mengabarkan semua itu, namun di sisi lainnya, mereka juga berusaha mencari-cari pembenaran atas ulah sang agresor barbar itu.

Tapi, tak ada yang mengejutkan dalam hal ini; orang-orang Israel sudah memperkirakan semua opini media massa terhadap aksinya, juga karena yang terpenting, Israel sudah jauh-jauh hari (selama enam bulan lebih) membuat kerja sama dengan negara-negara Arab.

Beredar sebuah pertanyaan di kalangan pers AS; apakah sebuah terorisme atau agresi terhadap penduduk sipil bisa dibenarkan? Jawabannya jelas tidak sama dengan kejadian 150 tahun lalu ketika Yahudi dibantai Nazi Jerman—dibandingkan dengan orang-orang Palestina sekarang ini. Negara-negara yang kuat secara militer seperti Israel, AS, Rusia, Cina selalu menyebut korban perjuangan sebagai teroris.

Tapi negara-negara ini gagal mengenali jenis teror yang terjadi di Chechnya, penyembelihan Palestina, represi Tibet dan pendudukan AS atas Iraq dan Afghanistan. negara-negara adidaya, selalu seperti biasanya jumawa dalam mendefinisikan semua arti perlawanan; yang mereka beri label dalam satu stigma—teroris. Dan media-media yang ada sekarang, apa lacur, dipunyai oleh mereka, dan media-media ini lah yang menyebarkan stigma dan citra itu ke seluruh penjuru dunia.

Perlawanan setengah hati

Para negara kolonial selalu menggunakan cara licik yang sama selama berabad-abad dalam menaklukan sebuah wilayah yang alot untuk ditaklukan; mereka menyerang penduduk sipil terlebih dahulu. Ini akan membuat semua elemen pembela tanah yang bersangkutan menjadi patah arah, putus asa dan merasa membentur tembok besar ketika harus konsisten melakukan perlawanan.

Hal inilah yang tidak akan pernah dilakukan oleh orang-orang Palestina terhadap Israel, sebuah perbedaan yang jauh sekali jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Israel yang tak punya rasa malu.

PLO, kemudian Hamas

Tahun 1948, ketika Israel sekonyong-konyong tanpa alasan yang jelas mendirikan sebuah negara di Palestina, 750.000 rakyat Palestina diusir dari rumahnya, dan ratusan rumah dibumihanguskan. Tanah Palestina diklaim milikinya sampai hari ini.

Sebaliknya, Palestinian Liberation Organization (PLO) yang terus digerogoti dan dijadikan mitra dalam merebut Palestina sepenuhnya, terus dijanjikan kekuasaan dan kebebasan bagi rakyat Palestina. Inilah yang membuat PLO menjadi melempem, dan malah kemudian tidak punya daya lawan apapun terhadap Israel di kemudian hari. Bahkan banyak memberi jalan kepada Israel untuk meneruskan penjajahannya dengan kemudahan kelas atas.

Ketika PLO sudah jinak, fokus Israel beralih pada Hamas. Hamas memenangkan pemilu legislatif tiga tahun lalu, karenanya Israel sadar betul, bahwa Hamas lah sebenarnya sasaran tembak untuk mendapatkan seluruh pendudukan Palestina. Dengan cara memberlakukan embargo pada Palestina dan mengizinkan Israel menjejakan kakinya di Gaza, dunia telah mengatakan pada rakyat Palestina dengan kebohongan paling besar dalam sejarah, bahwa Hamas tidak sehat untuk demokrasi Palestina.

Akibatnya, tanpa disadari oleh rakyat Palestina sendiri, mereka kemudian terjebak dalam kenyataan bahwa bukan hanya Hamas yang menjadi korban isolasi atau pengasingan dunia. Tetapi rakyat Palestina pun menjadi pesakitan. Kondisi ini semakin menjadi-jadi ketika Israel menggempur semua infrastuktur yang dimiliki oleh Palestina.

Israel, tak pelak dan tak sungkan, menghabisi semua yang ada di Palestina, polisi, rakyat, bahkan pejabat PLO sendiri yang menghamba padanya.

Kebijakan Gagal

Dalam 60 tahun terakhir, para pemimpin Israel telah menggarisbawahi bahwa satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh orang Arab adalah kekerasan. Padahal, kenyataan sebenarnya, Israel lah yang rutin menjadikan kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Tahun 2002, Liga Arab di Beirut dalam pertemuannya menawarkan Israel sebuah gagasan untuk mengakhiri tumpahan darah dan perjanjian damai. Israel menjawabnya dengan mengagresi Jenin dan membunuh ratusan orang di sana. Bulan lalu, Fatah meluncurkan kampanye media mengingatkan resolusi 2002, tapi dijawab dengan aksi brutal yang eksrem.

Kesimpulannya adalah Zionis Israel tidak lagi punya proyeksi yang panjang. Selanjutnya, hanya akan ada satu negara saja dalam sejarah Palestina. Dalam dekade mendatang, Israel akan berkonfrontasi dengan sebuah pertanyaan mendasar: sejarah penjajahan hanya akan bekerja jika penduduk asli ditumpas habis.

Tapi sering, seperti yang terjadi di Algeria, yang bertahan adalah mereka yang memiliki tanah aslinya. Dan Palestina tidak akan pernah rela untuk berkompromi dengan Israel. Juga tidak akan pernah menerima Israel berada dalam wilayah jengkal tanahnya. Mengaggresi Palestina sekarang ini, kolonial Israel akan segera menyerah dan angkat kaki dari bumi Palestina.

Nir Rosen Wartawan asal Beirut, Pengarang buku "The Triumph of the Martyrs: A Reporter's Journey into Occupied Iraq." (sa/aljazeera)

Gaza Menangis

Filed under: by: 3Mudilah


Saat dunia berdiam diri, hanya menyaksikan tindakan keji zionis israel, dan embargo terhadap warga palestina di Gaza, kini mereka kembali mengalami kekejaman biadab zionis israel…

Bumi Palestina sedang merana..

Bumi Para nabi sedang dicabik-cabik…

Bumi Isra Mi’raj nabi saw sedang dinistakan…

Bumi yang disucikan sedang dikotori..

Bumi kota suci ketiga setelah Makkah dan Madinah sedang diinjak-injak…

Siapakah yang akan menolong… siapakah yang akan membela.. siapakah yang akan mengembalikan kesuciannya…

itulah negeri yang telah dimerdekakan oleh sang Al-Farouk Umar bin Khattab… dan direbut oleh Shalahuddin Al-Ayyubi…

Marilah kita menjadi penolongnya, pembelanya dan penerus sang al-Farouk dan Al-Ayyubi.. demi tegaknya Islam dan kejayaannya.. demi kembalinya kehormatan dan kesucian bumi Allah Palestina, bumi Al-Aqsha yang tercita dan bumi para Anbiya…!!



Syeikh Al-Qardhawi: Pembantaian di Gaza Tanggungjawab Umat Seluruhnya



Ulama besar Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, ketua umum Persatuan Umat dan Ulama Islam Internasional, menegaskan bahwa apa yang terjadi saat ini memiliki perhatian dan tanggungjawab bangsa dan pemerintah semua umat, dan beliau meminta untuk segera menghentikan serangan yang tidak berkeprikemanusiaan dan brutal tersebut.

Dan Syeikh Al-Qardhawi juga menyatakanan bahwa peristiwa ini adalah tanggungjawab Negara-negara Arab; karena tidak mau mengeraskan suaranya, sambil beliau bertanya-tanya: dimana suara kita yang keras dan tegas yang mampu membuat gentar musuh sang penjajah?!

Sebagaimana beliau juga mengingkari diamnya Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan meminta mereka untuk beramai-ramai menghentikan pembantaiaan terhadap warga Palestina serta mengajak dan menyeru Negara Mesir dan Arab Saudi serta Negara-negara teluk untuk bersuara lantang terhadap kezhaliman Zionis dan membela orang-orang yang dizhalimi.

Teriakan Ibu-ibu Gaza: Biarkan Pemerintah Arab Bergembira

Filed under: by: 3Mudilah




[ 31/12/2008 - 01:31 ]

Gaza – Infopalestina: “Biarkan pemerintah Arab bergembira.” Demikian teriak seorang ibu ketika melihat dua orang anaknya yang gugur di depan kamar jenazah rumah sakit as Shifa di kotaGaza.

Sementara itu seorang ibu lain tengah menggendong putri saudaranya tertatih-tatih menuju satu-satunya rumah sakit di kotaGaza tersebut. Dia mendapati jasad para syuhada bergelimpangan di jalan-jalan rumah sakit. Tidak ada ranjang kosong untuk bocah yang mengalami luka bakar sangat parah yang ada di antara kedua tangannya itu.

“Ini ada saudaraku (Ahmad al Burini), yang tinggal di samping salah satu pos keamanan. Ketika pos itu dibom, rumah itu runtuh menimpa semua yang ada di dalamnya. Saudaraku gugur dan istrinya terluka parah terbaring di rumah sakit. Ada laki-lakinya yang belum genap berusia 7 tahun terenggut nyawanya. Dan ini adalah putri dia yang masih balita mengalami luka bakar sangat parah,” ungkapnya kepada wartawan.

Sambil berupaya meringankan rasa sakit yang dialami sang bocah, mata bercucuran air mata dan berkata, “Apa dosa dia, terbangun dengan kondisi seperti ini. Tanpa ayah dan ibu.” Kemudian dia menggetarkan kepalanya dan menyudahi, “Hasbunallahu Wani’mal Wakil (Cukuplah Allah sebaik-baik penolong kami).”

Pembantaian di Jalur Gaza terus berlanjut dan korban terus bertambah. Israel terus menggempur rumah-rumah dan tempat ibadah. Jumlah korban hinggsa kini, Rabu (31/12), mencapai lebih 390 gugur dan lebih dari 1800 lainnya terluka, 300 di antaranya dalam kondisi kritis. Sesuai dengan data yang disampaikan Menteri Kesehatan Palestina Dr. Baseem Naeem. Diperkirakan angka itu masih akan terus bertambah. Disamping agresi Israel terus berlanjut, puluhan korban kini masih berada di bawah puing-puing reruntuhan.

Bau Mayat

Segera saja kamar mayat di rumah sakit as Shifa, yang hanya muat untuk 30-an jenazah, penuh sesak di tengah-tengah kedatangan puluhan regu penolong dan warga sipil yang membawa jasad dan ptongan tubuh para syuhada di jalan-jalan rumah sakit sehingga bau mayat memenuhi semua sudut rumah sakit.

Seorang pemuda bernama Muhammad Basyir dengan kedua kali telanjang tergopoh-gopoh sambil menggendong jasad seorang bocah bernama Adi Abu Munsi yang berusia 7 tahun. Dia terkena bom yang mematikan di bagian wajahnya saat dia bersama ayahnya, Abdul Hakim, yang juga gugur dalam serangan udara Israel membombardir pos polisi Palestina di Deir Balah di kotaGaza.

Lobi rumah sakit as Shifa semakin kacau dengan datangnya puluhan mobil ambulan dan mobil warga yang membawa jasad para syuhada dan korban yang luka. Melalui pengeras suara, regu penolong menyerukan kepada warga yang mengenali jasad keluarga mereka agar segera dibawa pulang untuk dimakamkan agar tidak membusuk akibat puluhan jenazah yang menumpuk di depan kamar mayat rumah sakit.

Tiba-tiba melengking teriakan seorang ibu, Asma (40), yang berjalan di antara jenazah, “Dua anak saya gugur.” Tanpa henti menangis, dengan kedua kaki telanjang dan kepala terbuka, wanita yang telah kehilangan dua darah dagingnya ini berteriak, “Biarkan pemerintah Arab berbahagia.”

Sementara itu atas kereta jenazah terbaring jasad Muhammad Abu Sya’ban, seorang anggota polisi Palestina. Di sampingnya jasad seorang bocah yang belum dikenali identitasnya. Wisam, saudara kandung Abu Sya’ban yang tidak bisa menahan air matanya, mengatakan, “Ini adalah pembantaian yang mengerikan.”

Abu Jihad (65), warga asal kampong Zaitun di timur Gaza, ini berjalan ke sana kemari penuh kelelahan di antara jasad para korban tanpa menemukan putranya yang bekerja di kepolisian. Salah seorang temannya memberitahu anaknya sudah meninggal dan masih berada di bawah puing reruntuhan kantor organisasi urusan tahanan yang menjadi target serangan udara Israel.

“Aku Kehilangan Penyejuk Hatiku”

Jauh dari rumah sakit, Ilyan jatuh pinsan ketika mendengar salah seorang putranya berteriak, “Ayah … Izzuddin telah meninggal.” Sesaat kemudian dia terbangun dan menangisi putra terkecilkan yang meninggal dalam serangan udara Israel yang menghancurkan kantor imigrasi. Tidak lama kemudian dia dikejutkan dengan berita lain yang membawa bau kematian, “Anak laki-lakimu Bakar Anwar telah pergi (meninggal). Anak saudaramu (Muhammad) juga meninggal.”

Kali ini, seluruh anggota keluarga jatuh pinsan. Rafiq, bocah berusia 3 tahun berteriak histeris, “Papa … Aku ayang papa…Kemana kau pergi…”

Anwar, dia meninggalkan seorang istri dan dua bocah kecil. Rafiq, anaknya yang berusia 3 tahun tindak henti menyanakan tentang ayahnya. Sedang anaknya yang kecil, Anas, baru berusia empat bulan, tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.

Dengan sangat berat Ibu Anwar berkata, “Aku telah kehilangan anak yang paling besar dan paling kecil. Saya tidak meninggalkan anak-anaknya. Aku telah kehilangan penyejuk hatiku. Demi Allah, cahaya ini telah padam… telah padam…”

Penderitaan memiliki banyak wajah. Meski yang mengikat di antara penderitaan itu adalah darah. Sepekan sebelumnya, Riim, isrti Ali Abu Riyalah, mengenakan gaun pengantin putih. Dan hari ini, dia mengenakan baju hitam pekat di sisi pengantinnya.

Dia mengatakan, “Saya tidak membayangkan dia meninggalkan saya begitu cepat. Sungguh, dia pernah bercanda kepadaku, engkau akan mendengar kabar kesyahidanku (mati syahid) suatu hari … namun secepat ini … ya Allah.”

Sedang ibunya, melontarkan sumpah serapah kemarahannya kepada pemerintah Arab. “Apakah yang terjadi di leher kami adalah air. Kami meninggal dalam perang paling biadab dan paling kotor yang pernah dikenal dalam sejarah.”

Di luar tembok rumah Abu Riyalah, suara jeritan melengking tinggi dari semua tempat. Gang-gang penuh dengan korban meninggal. Dan baju hitam menjadi baju resmi kaum wanita di Jalur Gaza. (seto)

390 Gugur, Sejumlah Keluarga Habis dan 1800 Luka di Gaza

Filed under: by: 3Mudilah



[ 31/12/2008 - 09:15 ]
Gaza-Infopalestina : Pembantaian Israel terus berlanjut. Sejumlah bangunan rumah dan masjid jadi sasaran roket Israel. Lebih dari 390 warga sipil meninggal syahid, 1800 luka-luka, 300 diantaranya sangat parah.

Sejumlah pesawat tempur Israel masih meroketi sejumlah gedung kabinet pemerintahan Palestina sejak dini hari tadi (31/12). Mengakibatkan 10 warga Palestina dan puluhan orang terluka.

Pesawat tempur jenis f 16 Israel telah meraung-raung di sebelah barat kota, menggempur sejumlah gedung resmi milik pemerintahan. Mereka memuntahkan bom-bom udara tak kurang dari tiga menit.

Sumber di lapangan menyebutkan, sedikitnya 16 roket Israel dilessakan ke berbagai gedung pemerintahan di bagian barat Gaza, termasuk di dalamnya gedung olah raga dan pangkalan laut serta markas keamanan lama.

Roket-roket ini jatuh tak kurang dari lima menit. Akibatnya puluhan warga yang berada di sekitar bangunan meninggal dan terluka. Mobil ambulans pun sulit mencapai lokasi, akibat reruntuhan bangunan yang porak poranda.

Sementara menurut menteri kesehatan Palestina, DR. Basem Naem menyebutkan, korban pembantaian Israel sejak Sabtu (27/12) terus meningkat. Terutama karena 180 warga yang luka sangat parah. Sementara itu, puluhan syuhada masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.

Dalam konferensi persnya Ahad sore kemarin (28/12) ia menegaskan bahwa udara Gaza diselimuti oleh kabut hitam dan pesawat Israel. Sementara bumi Gaza penuh dengan syuhada, korban luka-luka dan kehancuran di sana-sini.

Ia juga menegaskan bahwa telah terjadi penurunan persediaan obat-obatan dan layanan kesehatan yang bekerja di bagian unit gawat darurat. Bahkan ada 105 jenis obat, 225 jenis peralatan kesehatan dan 93 bahan khusus untuk lab semuanya persediannya nol.

Basem menegaskan bahwa 50 persen mobil ambulan tidak bisa dioperasikan karena sparepartnya tidak tersedia karena blokade dan kekurangan bahan bakar. Semuanya terjadi di tengah dunia yang bungkam.

Ia menegaskan, pasukan Israel menyerang lembaga-lembaga dan pusat layanan umum. Bahkan sejak awal yang diserang adalah lembaga sosial dan rumah-rumah penduduk.

Basem meminta kepada tim kesehatan Arab untuk segera pergi ke Gaza untuk memberikan bantuan kepada rakyat sipil.

Soal sejumlah korban yang dievakuasi keluar Gaza dan pernyataan sejumlah pejabat Arab yang tidak bertanggungjawab, ia menegaskan bahwa evakuasi bisa membahayakan karena kondisi luka sangat hebat. Karenanya, ia mengecam tindakan yang menyebabkan enam orang sipil Palestina yang gugur di Areys, Mesir.

Evakuasi akan dilakukan apalagi kondisi memungkinkan dan mobil ambulan Mesir harus memberikan bantuannya. Namun pihak Mesir menolak hal itu karena pertimbangan politik. Ia menegaskan bahwa sejumlah tim medis Arab siap pergi ke Gaza dan sebagian lagi masih berada di Mesir yang pemerintahannya melarang mereka pergi ke Gaza. Bahkan Mesir juga melarang bantuan medis Arab yang akan disalurkan ke Gaza.

Basem menyampaikan terimakasihnya kepada negara-negara yang memberikan bantuannya terutama Qatar, Saudi dan Libya. Ia meminta Mesir agar mempermudah sampainya bantuan ke Gaza dan membuka perlintasan untuk masuknya tim medis. (asy)

Israel dan Iran : Ada Apa?

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kemarin ustadz ceramah dan saya hadir. Ada satu statemen ustadz yang menggelitik saya, yaitu ustadz katakan saat pesawat-pesawat Isreal menghabisi rakyat tak berdosa di Palestina, kenapa ya Iran yang selama ini dibangga-banggakan sebagai negeri yang kuat dan berani terhadap Israel, kok diam saja. Tidak ada serangan balasan dari Iran yang saya dengar.

Mohon ustadz jelaskan lagi, memang apa yang ustadz sampaikan itu jadi bahan pertanyaan yang menarik sekali. Bagaimana pendapat ustadz?

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ali

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar sekali bahwa kenyataan Iran tidak melakukan sesuatu yang berarti membuat banyak pihak menjadi bertanya-tanya. Sebab sesumbar Iran selama ini kan konon ingin mengalahkan yahudi. Iran juga mengaku punya senjata missil atau peluru kendali jarak jauh yang bisa diarahkan ke Israel.

Pendeknya banyak orang yang tidak kenal hakikat Iran, jadi terkagum-kagum. Apalagi pesona Ahmadi Nedjat yang selalu diekspose sebagai presiden yang adil, berani menentang barat, punya nyali kepada Israel dan bla bla lainnya.

Tapi memang semua itu jadi tidak ada artinya dan cenderung hanya pepesan kosong belaka. Karena saat kemarin pesawat-pesawat Israel memborbardir rakyat Palestina dengan bom, sampai ratusan nyawa tak berdosa melayang dan ribuan luka-luka, ternyata bukan hanya negara Arab saja yang diam seribu bahasa. Ternyata Iran yang selama ini sesumbar, bisanya cuma mengutuk dan mengecam. Tidak lebih. Dan ini sangat aneh.

Wah, kalau cuma mengutuk dan mengecam, orang kafir non muslim di seluruh dunia pun juga sudah melakukannya. Di Amerika latin, saya lihat banyak rakyat non muslim yang demo ke jalan mengutuk Israel.

Tapi negara sekuat dan seperkasa Iran yang selama ini banyak dielu-elukan pendukungnya, termasuk segelintir orang di Indonesia, ternyata bisanya cuma mengutuk. Lalu kemana tentara nasionalnya? Kenapa yang bergerak malah mahasiswa, bukan tentara terlatih?

Kalau cuma sekedar menurunkan mahasiswa yang turun ke jalan, kita di Indonesia juga sudah melakukannya.

Buat negara sehebat Iran, kalau cuma sekedar mengutuk dan mengecam, jelas-jelas terbukti bahwa ada hubungan gelap antara Iran dan Israel. Sangat patut dicurigai. Sebab di Irak jelas-jelas tentara bayaran milisi syiah itu didukung sepenuhnya oleh pemerintah Iran. Dimana tugas utama mereka adalah menyembelih muslim sunni. Dan kemana-mana Iran melakukan syi'ahisasi.

Kini ketika yahudi Israel kesetanan membunuh rakyat yang tak berdosa, sama sekali tidak ada aksi yang serius dari Iran. Tidak mengirim pasukan, tidak juga menembakkan peluru kendali jarak jauhnya.

Padahal kalau mau, apa susahnya tinggal pencet tombol kok. Saya sangat yakin tidak perlu semua missil dikirimkan, cukup satu saya, tapi yang gedean dikit lah, dijatuhkan tepat di jantung kota Tel Aviv, percaya deh bahwa Israel langsung minta ampun.

Sebab tentara yahudi itu terkenal pengecut, lawan anak-anak kecil Hamas saja ketakutan kok. Dan mereka juga stress berat tatkala tahu bahwa Hamas sudah bisa membuat petasan 'janowe' yang agak gedean dikit, yang kemudian disebut roket itu. Lumayan karena bisa terbang sejauh 25-an kilometer. Kira-kira jarak dari Depok ke Monas.

Baru roket-roketan begitu, yahudi di Palestina sudah kebakaran jenggot, dadanya sesak, pikirannya kacau, jantungnya mau copot, emosinya tidak terkendali. Pendeknya, persis fiman Allah :

Turhibuna bihi aduwwallahi wa aduwwakum (Dengan itu kamu dapat menakuti musuh Allah dan musuhmu)

Apalagi kalau yang ditembakkan berupa peluru kendali, missil, torpedo atau apalah istilahnya. Tidak perlu 100 biji, satu saja ditembakkan dan jatuh meledak di tengah-tengah kumpulan yahudi itu, pasti mereka ketakutan. Menjatuhkannya pas tengah malam menjelang shubuh, biar mereka tidak bisa tidur.

Bagaimana Dengan Aksi Solidaritas?

Wah itu sudah bagus, bagus sekali bahkan. Karena buat ukuran kita kita yang hidup miskin di negeri miskin dengan pemerintah serba korup ini, memang yang maksimal bisa kita lakukan cuma itu, tidak lebih.

Kita bikin acara munasharah, demo, pengajian akbar, orasi, takbir, bakar bendera Israel, nimpukin gambar Bush, galang dana dan ya sudah. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Apakah yahudi Israel tahu? Kayaknya enggak deh. Lagian buat yahudi, urusan diteriaki sebagai bahlul, terkutuk, dan sumpah serapah lainnya, sudah kebal dan tidak mempan lagi. Mereka sudah biasa dicaci maki, bukan hanya oleh kita, tapi oleh semua orang.

Tapi bagi yahudi, semua itu (maaf) bullshit saja. Gak ngaruh, kata orang betawi. Mereka cuek bebek saja, tanpa rasa bersalah menembaki manusia tiap hari. Tidak harus menunggu insiden bombardir dengan pesawat tempur seperti sekarang ini. Karena tiap hari mereka sudah melakukannya. Hanya yang sekarang ini cukup bombastis.

Tapi percayalah, buat zionis Israel dan teman-teman dekatnya semacam USA dan lainnya, urusan itu sih biasa saja. Tidak ada kaitannya dengan keberadaan mereka di wilayah pendudukan.

Bahasa yang mudah dipahami oleh Israel itu cuma satu, yaitu kekerasan. Intinya mereka harus dibom biar bubar jalan grak. Kita ucapkan terima kasih kepada semua orang, muslim atau non muslim, di seluruh dunia, yang sudah memberikan doa, semangat, dana, obat, makanan dan semuanya. Termasuk juga sudah ikut puasa tidak makan McDonald, tidak minum Coca Cola, tidak pakai hape Nokia, juga tidak pakai kartu operator hape yang milik yahudi (lah emangnya ada yang bukan milik yahdui), tidak pakai sepatu Nike, tidak pakai ini dan tidak pakai itu. Terima kasih banyak atas semua itu.

Allah pasti membalas semua amal baik itu, Amin.

Tapi yang lebih dibutuhkan oleh muslim Palestina sekarang ini adalah roket yang bisa meledakkan Tel Aviv. Dan itu wajib hukumnya. Sayangnya satu-satunya yang punya roket seperti itu ya...cuma Iran.

Ngomong-ngomong Iran kemana ya? Kok nggak kelihatan? Halo halo bisa bicara dengan Iran... Jangan-jangan....wah

Wallahu a'lam bishsawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
www.warnaislam.com
Rabu, 31 Desember 2008 14:15

Menelusuri Jejak Penjara Kejam Guantanamo

Filed under: by: 3Mudilah

Kawasan tak berperikemanusiaan ini sebenarnya tempat para ‘enemy combatant’. Tapi kemudian dikenal sebagai penjara para aktivis Islam. Kejam dan tak mengenal hukum [bagian pertama]
Hidayatullah.com--Guantanamo, yang menurut para “alumninya” adalah penjara kejam itu, sebenarnya baru dibangun pada tahun 2002. Tepatnya pada bulan Juni, tempat itu mulai dimasuki para tahanan, yang biasa disebut enemy combatants (para petempur musuh), setelah mereka menilai bahwa jenis tahanan ini tidak dilindungi oleh Perjanjian Jenewa.
Penjara yang terdapat di dalam pangkalan militer itu terdiri dari beberapa kamp. Kamp Delta berisi 612 unit penjara, yang telah dibangun antara bulan Februari dan April 2002, yang didalamnya juga ada Kamp Echo, kabarnyadi kamp yang lebih kecil ini, semua data dan percakapan bisa dipantau oleh Pentagon.
Sedangkan Kamp Iguana letaknya agak berjauhan dengan penjara Kamp Delta, sekitar satu kilometer. Pada tahun 2002 dan 2003 kamp ini dihuni oleh 3 tahanan di bawah 16 tahun dan sempat ditutup setelah penghuninya dibebaskan.
Akan tetapi pertengahan tahun 2005 penjara ini dibuka kembali dan diisi dengan 38 tahanan. Sedangkan Kamp X-Ray pada tahun 2002 kabarnya telah ditutup dan para tahannya dipindah ke Kamp Delta.
Yang menarik di sini, kamp-kamp penjara Guantanamo yang siap menampung ribuan orang itu ternyata baru dibangun dan semuanya sudah selesai sebelum runtuhnya menara kembar WTC pada 11 September. Seakan-akan Amerika sudah tahu bahwa akan ada peristiwa runtuhnya WTC, sehingga mereka juga harus mempersiapkan tempat penampungan ribuan tahanan yang terkait kasus ini.

Sejak awal tahun 2002, Guantanamo dijadikan penjara hidup paling kejam di dunia. Lebih dari 700 tahanan disembunyikan atas tuduhan Amerika sebagai teroris dan pengikut Al-Qaidah tanpa proses hokum jelas.
Beragam Siksaan
International Herald Tribune (2/7/2008) menurunkan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa para trainer yang didatangkan ke Guantanamo pada Desember 2002 memiliki basis metode introgasi yang telah dipraktikkan oleh militer China dalam melakukan interogasi. Antara lain dengan memotong jam tidur, memperlama tahanan, penelanjangan, menciptakan kebisingan di tengah interogasi serta membuat tahanan kelaparan. Cara-cara seperti dinilai ini amat efektif dalam menjatuhkan mental para tahanan.
Waterboarding, itulah salah satu bentuk penyiksaan terhadap para tahanan Guantanamo. Yakni dengan cara menelentangkan tahanan dengan kaki tangan terikat dan muka ditutup dengan kain yang biasanya berwarna hitam. Kemudian disiramkan air ke wajah si tahanan secara terus-menerus. Sehingga, yang bersangkutan megap-megap seperti sedang tenggelam. Metode interogasi yang menurut petinggi CIA Porter J Goss, sebagai professional interrogation technique (tehnik interograsi profesional) ini, menurut Bush adalah teknik penyiksaan yang sangat efektif untuk mengetahui kekuatan lawan, terutama di masa perang melawan teroris.
Sebagaimana dilansir Reuters (6/2/2008) bahwa yang diketahaui menjadi korban penyiksaan model ini adalah Khalid Syeikh Muhammad, Abu Zubaidah dan Ibrahim An Nashiri.
Berbeda dengan yang dialami Omar Deghayes dari Libya. Sesuai dengan lansiran Newsday (2/4/2007) Tahanan no. 727 ini menegaskan bahwa penjaga Guantanamo memegangnya dan menyemprot lada menyembur secara langsung ke dalam kornea matanya, kemudian mereka kemudian menggosok sehelai lap yang direndam di lada.
Ia menjelaskan. "... tentara berbaris, bernyanyi dan tertawa sebelum menyemprot mukaku dengan pala dan mencolokkan jari mereka ke dalam mataku, seorang perwira berteriak, “Lebih banyak! Lebih banyak!”
Tidak hanya itu, mukanya juga dilumuri kotoran oleh para penjaga, disengat listrik, dibiarkan telanjang di suhu yang amat dingin, serta “dilaparkan” selama 40 hari.
Tahanan yang dilepas pada bulan Agustus 2007 dalam keadaan buta itu juga melihat beberapa peristiwa keji di Guantanamo, antara lain, seorang serdadu yang menembak dan menenggelamkan tawanan. Ia juga menyaksiakan seorang sipir yang membuang mushaf Al-Quran ke WC. Juga pernah menyaksikan seoarang tawanan yang bernama Abdul Malik dari Italia disiksa sampai mati.
Abdurahim, mantan tahanan Guantanamo yang berasal dari Pakistan ini mengatakan, sebenarnya penistaan terhadap Mushaf Al-Quran di penjara Guantanamo oleh tentara AS merupakan aktivitas rutin.
"Penistaan terhadap Al-Quran itu dilakukan secara rutin, khususnya pada hari-hari pertama masa penahanan," kata Abdurahim dalam sebuah wawancara dengan televisi Afghanistan AVT Khyber seperti dikutip situs Aljazeera.com, Selasa (17/5/2005).
"Mereka juga melemparkan kitab suci itu ke atas tanah, menginjak-injaknya dan mengatakan kepada salah seorang tahanan yang tengah diinterogasi bahwa tak ada seorang pun dapat menghentikan mereka untuk mengerjakan itu," imbuh Abdurahim.
Jum’ah Al Dusari, tahanan yang berasal dari Bahrain juga mendapatkan siksaan yang tidak kalah hebatanya. Sesuai dengan keterangan Rasul Shafiq sewaktu masih berada di Kamp Delta, bahwa disamping selnya ada tahanan dari Bahrain.
Di Newstandard (17/7/2007) Rasul bercerita mengenai Tahanan no. 261 ini. “Smith memegang kepalanya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain pukulkan berulang kali ke muka. Hidungnya patah. Dia mendorong mukanya dan dia benturkannya ke lantai beton. Ada darah di mana-mana. Ketika mereka membawanya keluar mereka menyemprot sel dan air di jalan yang merah dengan darah. Kami semua melihatnya.”
CNN.Com (19/3/2006) juga melansir bahwa Muhammad Al Qahthani, tahanan yang berasal dari Arab Saudi, juga dipaksa menggunakan BH (penutup dada wanita) dan tahanan no. 63 ini dipaksa berdansa dengan seorang laki-laki.
Selain disiksa dan dipermalukan, para sipir tahanan juga memperlakukan mereka tidak ubahnya dengan seekor hewan. New York Times (29/7/2004) dalam sebuah artikelnya, seorang agen FBI dikutip perkataannya, "Di beberapa kesempatan, saya memasuki ruang interogasi seorang tahanan yang dirantai tangan dan kaki di “posisi janin” ke lantai, dengan tak ada kursi, makanan atau air.Lanjutnya." Kebanyakan mereka sudah kencing atau buang air besar dan sudah ditinggalkan di sana untuk 18 atau 24 jam lebih.”
Interogator Wanita untuk Jatuhkan Mental
Untuk menjatuhkan mental tahanan Muslim di Guantanamo, Asosiated Press (27/1/2005) menyebutkan bahwa militer Amerika menggunakan wanita dengan berpakaian rok mini untuk melakukan interogasi dan mengoleskan darah haidh tiruan, guna menjatuhkan mental tahanan. Hal ini ditemukan dalam sebuah dokumen yang masih menunggu persetujuan dari Pentagon.
Bahkan Agen FBI, menurut sebuah tulisan New York Times (1/5/2005) menulis di nota yang tidak pernah dimaksudkan tersingkap di depan umum, bahwa mereka sudah melihat interogator wanita secara paksa meremas kemaluan tawanan pria, dan bahwa mereka sudah menyaksikan tahanan lain yang ditelanjangi. [tho/www.hidayatullah.com/berlanjut]
Menelusuri Jejak Penjara Kejam Guantanamo [2]

Written by Administrator Saturday, 20 December 2008 08:34

Kawasan tak berperikemanusiaan ini sebenarnya tempat para ‘enemy combatant’. Tapi kemudian dikenal sebagai penjara para aktivis Islam. Kejam dan tak mengenal hukum [bagian kedua]

Dari Afghanistan Kelabu
Hidayatullah.com--Adalah Husain Yusuf Musthafa, seorang Palestina, mengalami kesulitan ketika menjadi sebagai seorang guru muda di Tepi Barat. Pada 1985, dia mendengar bahwa Pakistan membentuk sekolah bagi penduduk Afghanistan yang sedang mengungsi dari kekejaman Uni Soviet. Mustafa dan istrinya pindah ke Peshawar, kota yang berdekatan dengan perbatasan Pakistan-Afghanistan. Selama 17 tahun mereka tinggal di sana dan membesarkan delapan orang anak. Dengan Mustafa, mereka mengajar bahasa Arab dan prinsip agama Islam di sekolah yang dikelola oleh pemerintah.
Setelah serbuan Amerika Afganistan pada musim dingin 2001, Peshawar menjadi tegang. Walau demikian keadannya,Musthafa tidak berlari dan percaya bahwa pihak yang berwewenang tidak akan mengancam mereka. Lalu, pada 25 Mei, 2002, di sekitar 20:00, bel pintu mereka berdering-dering. Mustafa meminta Ibrahim, anak lelakinya yang paling muda, membuka pintu. Anak laki-laki berteriak, “Polisi!” dan masuk rumah. Lalu beberapa polisi Pakistan di belakangnya dengan senapan menodong. Mereka membawa Mustafa, kemudian ia diterbangkan ke Pangkalan Udara Bagram Afghanistan.
Pangkalan Bagram adalah sebuah pengakalan udara militer yang dibangun tahun 1976 oleh Uni Soviet. Bagram sekarang dijadikan militer AS sebagai pangkalan untuk militer mereka dan dibangun di dalamnya sebuah penjara. Biasanya, tahanan ini adalah tempat transit, sebelum yang bersangkutan dipindah ke penjara
Ketika sampai di Penjara Bagram, lelaki yang memperoleh gelar master syari’ah di Saudi ini ditelanjangi di depan umum lalu ditaruh ke dalam ruang sempit yang penuh sesak dengan lebih dari selusin orang lain. Tong di pojok berfungsi sebagai WC. Mustafa tinggal di sel selama sekitar dua bulan. Sesekali, tentara Amerika akan mengambil seorang di antara tahanan untuk interogasi. “Mungkin hal yang paling buruk yang pernah terjadi kepada saya terjadi di Bagram,” Kenangnya.
Selama hukuman penjaranya di halaman tertutup, Mustafa menaksir bahwa dia diinterogasi sekitar 25 kali. Kadang-kadang, tentara memaksanya untuk berlutut di lantai beton dengan tas di balik kepalanya. Kadang juga mereka membangunkannya dari tidur atau menyelanya ketika ia shalat.
“Pernah dua orang tentara memaksa saya untuk membungkuk, dan saya ditekan hingga telungkup di atas satu meja. Seorang tentara keempat kemudian menurunkan pantalon saya. Mereka menusukkan tongkat ke arah dubur saya.”
Tawanan lain juga memberi tahunya bahwa mereka sudah mengalami siksaan yang mirip. Kisah ini dituturkan kepada Clive Stafford Smith yang dilansir Guardian (18/2/2005).
Melakukan “pencabulan” seakan-akan sudah menjadi ‘hoby’ bagi militer Amerika di Bagram. Selain Musthafa ada beberapa korban lain yang sempat merasakan bentuk pelecehan tentara AS di Bagram. Masih dilansir Guardian (18/2/2005), kali ini adalah seorang Muslim yang juga dari Palestina yang tinggal di Jordan, Wisam Abdurrahman Ahmad Ad Dimawi. Ia mengatakan bahwa selama periode 40 hari di Bagram dia diancam dengan anjing, ditelanjangi dan dipotret memalukan dan posisi cabul. Dia digantung dengan mata tertutup, selama dua hari.
Tidak hanya kasus pelecehan seksual, beberapa kasus pembunuhan pun terjadi di penjara ini. Dilawar seorang sopir taksi yang juga seorang petani Afghan berumur 22 tahun, dibunuh oleh penyiksa AS di Bagram pada Desember 2002. Dia sudah dipukul dan diikat pada pergelangannya selama empat hari. Setelah ‘sidang penyiksaan’ terakhirnya, Dilawar diikat kembali ke langit-langit. Beberapa jam kemudian dia diketahui sudah kaku tidak bernyawa. Salah seorang saksi menyebutkan bahwa Dilawar meninggal pada 10 Desember, 2002. Kalau disiksa, dia berulang kali meneriakkan "Allah!" Dan teriakan ini malah menjadi ¡Èbarang mainan¡É bagi serdadu Amerika, sehingga mereka memukul hanya ingin mendengarkan Dilawar memekikkan "Allah!". Hal ini diceritakan oleh Golden Tim dalam Army Faltered in Investigating Detainee Abuse,yang diterbitkan The New York Times (22/5/2005).
Tentu Amerika menyanggah hal ini. Jenderal McNeil menolak jika tahanan diikat di langit langit. Dengan percaya diri ia mengatakan bahwa kondisi Bagram tidak membahayakan nyawa. “ Tehnik interogasi kami sudah sesuai.” ungkap komandan Amerika dan pasukan NATO yang saat itu masih bertugas di Afghanistan.
Pria yang memiliki seorang anak perempuan yang masih berumur 2 tahun itu ditangkap bersama beberapa laki-laki lain saat taksinya dihentikan oleh tentara Afghanistan yang menjaga kamp militer Amerika di Salerno, Khost.
Masih menurut The New York Times, salah satu tahanan AS di Bagram, Mullah Habibullah juga meninggal pada 4 Desember, 2002 di Bagram. Beberapa tentara AS memukul laki-laki yang dirantai ini dengan apa yang dinamakan "peroneal pukulan," atau pukulan hebat ke sebelah kaki di atas lutut. Seperti tahanan Bagram lain, laki-laki dari Uruzgan ini digantung dalam sel isoIasi. Para interogator dengan bebas menendang, baik dengan kaki maupun dengan lutut, hingga tubuh Mullah Habibullah hampir tidak ada bedanya dengan sansak yang berayunan kesana-kemari. Siksaaan itulah yang ditnagarai sebagai penyebab meninggalnya.
Pihak militer menyatakan bahwa Habibullah meninggal karena penyakit emboli paru-paru atau ada gumpalan darah di paru-paru. Akan tetapi dua mantan penghuni Bagram, Syah dan Jabar sebagaimana dikutip The New York Times (4/3/2003) menyebutkan bahwa baik Dilawar maupun Mullah Habibullah meninggal beberapa hari setelah mereka tiba di Penjara Bagram dan mereka berada di ruang interogasi di lantai dua.
Shah sendiri mengatakan dia sudah menghabiskan 16 hari untuk di ruang tahanan tingkat atas. Kakinya bengkak karena belenggu seputar pergelangan kakinya memperketat dan menghentikan aliran darah. Dia disuruh telanjang sepanjang waktu dan boleh berpakaian hanya ketika dia dikira interogasi atau ke kamar mandi. Dan penjaga Amerika tidak segan-segan menendang dan meneriakinya untuk mencegahnya tertidur.
Petani yang berasal dari desia kecil di Danai, yang berdekatan dengan perbatasan Pakistan ini mengatakan, dia sudah disepak dengan keras tepat ke atas lutut oleh seorang interogator wanita, sedangkan kolega prianya memegangnya di posisi berlutut. “Rasa sakit dan penghinaan adalah bagian pengurungannya yang paling buruk”, katanya.
Mengenai kekejaman tentara AS di Bagram, ada cerita lain. Mohammed Sulaymon Barre, seorang pengungsi Somalia yang bekerja untuk sebuah Perusahaan pentransfer dana juga bercerita. Bahwa para tahanan akan dibuat sengsara jika itu tidak mengakui tuduhan palsu. Karena itu, dia pernah ‘ditaruh’ dalam sebuah sel yang amat dingin menusuk-nusuk selama beberapa minggu dan selama interogasi ia tidak diberi ransum. Perlakukan kejam itu membuat kedua kakinya bengkak dan sakit, sehingga ia tidak bisa berjalan.
Pada tahun 2002 ada sekitar 100 tahanan yang mendekam di penjara “Anak Guantanamo” ini. Dan sampai saat ini diperkirakan jumlah populasinya meningkat hingga 400 orang. [tho/www.hidayatullah.com/bersambung]

Menelusuri Jejak Penjara Kejam Guantanamo [3]
Kawasan tak berperikemanusiaan ini sebenarnya tempat para ‘enemy combatant’. Tapi kemudian dikenal sebagai penjara para aktivis Islam. Kejam dan tak mengenal hukum [Habis]

“Misteri” Tahanan No. 650
Hidayatullah.com--Pada awal tahun 2003 Dr. Afia Siddiqui bersama 3 anak-anaknya tiba-tiba dinyatakan hilang. Di saat yang sama Amerika dan intelijen Pakistan menuduh bahwa Muslimah ini memiliki hubungan dengan Al-Qaidah. Akan tetapi Amerika dan pihak intelejen Pakistan menyanggah bahwa mereka telah menangkap Afia
Peristiwa penculikan Afia sendiri dilakukan ketika ia bersama ketiga anaknya sedang naik metro untuk mengambil penerbangan ke Rawalpindi, Punjab pada 30 Maret 2003.
Penculikan itu dilakukan ketika ia berjalan menuju airport. Media massa mengklaim bahwa penculikan itu dilakukan oleh intelejen Pakistan, kemudian diserahkan kepada pihak FBI. Saat itu Afia berumur 30 tahun, anaknya yang tertua berumur 4 tahun dan yang terakhir adalah bayi yang masih berusia satu bulan.
Beberapa hari setelah itu channel berita Amerika NBC melaporkan bahwa Afia telah ditangkap di Pakistan atas tuduhan telah menjadi penghubung untuk mentransfer uang kepada Al-Qaidah. Ibunya, Ismat (yang kini telah wafat) menyanggah tuduhan itu.
Pada 1 April 2003, sebuah media massa berbahasa Urdu menyebutkan bahwa Menteri Dalam Negeri Pakistan Faisal Saleh Hayat juga membantah, ketika ditanya apakah Dr. Afia telah ditangkap? Ia mengatakan, “Dr. Afia memiliki hubungan dengan Al-Qaidah dan ia belum ditangkap.” Tapi hingga sampai saat itu pun, nasib Dr. Afia tidak diketahui.
Tidak berselang lama muncullah laporan-laporan media tentang perempuan “Tahanan No. 650” , yang berada di tahanan Amerika di pangkalan Bagram Afghanistan, yang dikabarkan mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dan telah kehilangan kesadarannya.
Pejabat Majelis Tinggi Inggris (The House of Lord) mendapatkan informasi mengenai kedaan tahanan itu. Ia menerangkan bahwa kondisi kejiwaan perempuan itu terganggu karena terus menerus menjadi korban perkosaan petugas penjara dan kedaan sel yang dihuni “Tahanan No. 650” ini tidak memiliki toilet dan kamar mandi tertutup, sehingga tahanan lain bisa bebas melihatnya ketika, ia sedang mandi.
Pada 6 Juli 2008, seorang jurnalis Inggris, Yvonne Ridley, menggelar jumpa pers dan meminta berbagai pihak perduli dengan nasib tahanan perempuan Pakistan ini, yang menurut keyakinannya, perempuan itu sedang berada dalam ruang isolasi tahanan Amerika di Bagram selama empat tahun.
Jurnalis yang menjadi Muslim setelah ditawan Taliban ini mengatakan, “Saya menyebutnya sebagai ‘perempuan abu-abu’, karena bentuknya sudah mirip hantu, terkadang ia menjerit dan menangis terus-menerus.”
Ridley mengetahui hal ini setelah ia membaca sebuah buku The Enemy Combatant yang ditulis oleh mantan penghuni penjara Guantanamo, Muazzam Begg. Sesudah ditangkap pada Februari 2002 di Islamabad, Begg ditahan di pusat penahanan Kandahar dan Bagram selama sekitar setahun, sebelum dia dipindahkan ke Guantanamo. Dia menceritakan pengalamannya di dalam buku yang terbit pada tahun 2005, yang di dalamnya menyinggung tentang “Tahanan No. 650”.
“Saya ingat Muazzam yang mengatakan kepada saya tentang teriakan perempuan yang dulu dia membayangkan bahwa bisa jadi perempuan itu istrinya. Dan saya pernah berfikir bahwa teriakan itu keluar dari tape recorder, yang dijadikan sebagai salah satu bentuk penyiksaan secara psikis,” Ungkap Ridley dihadapan lebih dari 100 wartawan
“Walau bagaimanapun, kami sekarang tahu, pekikan itu datang dari seorang perempuan yang sudah dipenjara di Bagram selama beberapa tahun. Kami juga bisa mengungkapkan dari sumber valid bahwa ia adalah “Tahanan 650” ,”ÉJelas Ridley.
“Tahanan 650” adalah ujung gunung es pelanggaran hak asasi, penahanan secara ilegal yang sangat buruk. Adalah episode memalukan di sejarah Pakistan yang harus diluruskan,”Tambah Ridley.
Seakan-akan menyindir Pakistan, “Adalah hal yang cukup aneh, bagaimana kita menyerahkan saudara perempuan kita kepada non-Muslim laki-laki yang sejarahnya penuh perkosaan dan perlakuan sewenang-wenang kepada tahanan,” kata Ridley dikutip sebuah koran Pakistan. Atas data-data yang ia miliki, Ridley berkesimpulan bahwa “Tahanan No. 650” adalah Dr. Afia Sidiqui.
Mr. Imran Khan, Pemimpin Partai Keadilan (T.I) juga mencurigai bahwa “Tahanan 650” itu adalah Dr. Afia Siddiqui. Dan ia menuduh bahwa AS dan Pakistan sedang menyembunyikan fakta “Tawanan 650” itu.
Dugaan-dugaan bahwa “Tahanan 650” adalah Dr. Afia Sidiqui tidak lama berlangsung, karena lewat pengacaranya, Afia menyatakan bahwa ia memang pernah disekap di Bagram dan mendapat perlakukan yang amat mengerikan. Ini dituturkan oleh pengacaranya Elaine Whitfield Sharp, sesuai yang dilansir Cageprisoners (8/8/2008), sebuah LSM London yang konsetrasi memberikan bantuan terhadap Muslim yang terlibat dalam kasus terorisme.
Sebelumnya, Amerika, hari Selasa (5/8/2008), tiba-tiba menyatakan bahwa Dr. Afia Sidiqui hendak diadili di New York. Padahal sudah hampir lima tahun ia ‘diculik’ dan tidak diketahui rimbanya.
Menurut Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York sendiri, Michael Garcia, Afia Sidiqui ditangkap bulan lalu di Afghanistan. Menurutnya, saat ditangkap, perempuan yang pernah tinggal di AS itu kedapatan membawa dokumen-dokumen mengenai bagaimana membuat bahan peledak dan deskripsi berbagai gedung AS termasuk di New York City.
Dan belakangan kejaksaan negeri New York Setalan mengakui juga bahwa anak Afia yang kini berumur 11 tahun ikut serta ditahan. [tho/www.hidayatullah.com/habis]

Ichsanuddin Noorsy : De Jure Merdeka, De Facto Washington

Filed under: by: 3Mudilah


Sebuah diskusi, pasti akan seru bila menghadirkan Ichsanuddin Noorsy BSc, SH, MSi. Selain kritis terhadap pemerintah dan Kapitalisme Barat, anggota Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada ini juga dikenal blak-blakan dan idiologis. Kata-katanya tidak meliuk-liuk seperti politisi, juga tidak berpakem standar sebagaimana birokrat. Selepas dari DPR pada 2004, Ichsan sempat menjadi Komisaris PT Pelindo II dan Komisaris Independen Bank Permata. Kini, disamping menjadi anggota Tim Indonesia Bangkit, ia juga Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik. Semasa di Senayan, ia menggagas kepada Panja BLBI agar segera mengajukan pem-batalan perjanjian Master Settlement Acquisition Agreement (MSAA) dan Master Refinancing Note Issuance Agreement (MRNIA). Kedua perjanjian ini dianggap merugikan negara dan bangsa serta menguntungkan segelintir pengusaha hitam yang menggondol BLBI.
Dua perjanjian itu, menurutnya, sejak awal bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku, asas kepatutan, dan ketertiban umum. Dalam prinsip hukum, kendati suatu perjanjian merupakan hukum bagi para pihak, namun bisa dimintakan pembatalannya kepada pengadilan kalau bertentangan dengan hal-hal tersebut.
‘’Sayangnya, bukan hanya Panja BLBI yang tidak mengajukan gugatan pembatalan. Banyak kalangan masyarakat lainpun terdiam atas berlakunya perjanjian yang konyol itu,’’ sesal Ichsan.
Toh, itu tak membuatnya kapok meneriaki kebijakan yang dianggapnya keliru. Dominasi Mafia Berkeley di portofolio ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, membuat Ichsan tak lelah berseru mengingatkan rakyat akan bahaya intervensi dan kolonialisme modern melalui para komprador di pemerintahan itu.
Berikut petikan wawancara Abdul Halim dari Suara Islam dengan Ichsanuddin Noorsy pada pekan lalu.
Sejauh mana intervensi Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia selama ini ?
Intervensi IMF ini bisa kita lacak pada Perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berisi: (1) Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dengan syarat Indonesia membayar utang peme-rintahan penjajahan Belanda sebesar 43,3 miliar gulden; (2) Indonesia harus menjadi anggota IMF; (3) Pemerintahan Indonesia berbentuk Serikat.
Konsep perjanjian KMB dirancang oleh State Departement of USA. Indo-nesia terang-terangan menjadi bagian dari Poros Washington setelah Pemilu 1955. Pada 1956 terjadi pertukaran mahasiswa Universitas Indonesia dengan para dosen Berkeley University pada 1956 melalui dukungan Ford Foundation. Mahasiswa Indonesai berangkat ke AS dan dosen Berkeley University menyusun silabus dan kuri-kulum Fakultas Ekonomi UI. Sejak saat itu Indonesia resmi di bawah pengaruh AS. Lihat saja saat Bung Karno melakukan nasionalisasi, hanya Caltex sebagai perusahaan minyak AS yang tidak dinasionalisasi.
Untuk memuluskan intervensi AS ini, IMF dan Bank Dunia menjadi dua pilar utama. Lihatlah bagaimana Extended Fund Facility sebagai pinjaman IMF kepada Indonesia pada krisis 1997/1998 telah membuat Indonesia menjadi demikian liberalnya dan begitu empuknya sebagai sasaran keserakahan dan keliaran kapitalis. Dan hal itu terjadi hingga hari ini, sebagaimana terlihat pada kebijakan enerji baik primer maupun skunder, kebijakan keuangan dan perdagangan dan pembangunan infrastruktur. Ke depan, siapapun Presiden RI pada 2009-2014, neoliberal-lah penguasanya. Lihat saja bagaimana pertemuan G20 di Washington yang menegaskan tetap memegang komitmen mekanisme pasar. Lihat pula pertemuan APECs di Lima-Peru yang konsisten melanjutkan liberalisasi pasar.

Apa saja indikator bahwa Indonesia sudah diintervensi AS?
Secara struktural hal itu terlihat pada model ekonomi yang dipilih dan diterapkan sehingga pola ekonomi penjajahan sejak jaman Belanda hingga hari ini tidak berubah. Ekspor kita adalah ekspor komoditas primer. Tenaga kerja harus murah, kalau perlu menyubsidi pemodal. Pasar domestik dikuasai asing dan kebijakan perekonomian mem-bebaskan segalanya secara vulgar.
Lihat juga buku-buku John Perkins, Joseph E Stiglitz, dan Michael Hudson. Sejumlah ekonom dan intelektual politik menolak buku-buku ini tapi tidak pernah berhasil menggugurkan kajian mereka. Untuk hal seperti ini, posisi kita jelas merupakan konsumen penelitian dan pemikiran mereka. Dan sebagian kita tanpa mau dan mampu menelisik lebih, dengan kesombongan semu menolak buku-buku itu. Ini yang saya sebut bahwa bukan hanya politisi dan birokrasi yang sudah terjajah. Kaum cerdik cendikia pun tak berhasil menunjukkan kecendekiaan menurut tata nilai dan semangat kehidupan bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan dengan segala bentuknya.
Ekonom Indonesia yang belajar di AS atau di negara yang berkiblat ke Barat telah berhasil dicuci otaknya, sebagaimana Washington berhasil mencuci otak FE-UI sejak penyusunan silabus dan kurikulum pada 1956.
Mengapa pemerintah Indonesia cenderung menuruti kemauan pemerintah AS ?
Berdasarkan teori kepemimpinan, karakter manusia terdiri atas fighter (pejuang), leader (pemimpin), manager (pengelola), operator (pelaksana), dan janitor (pesuruh). Dan merujuk pada panjangnya sejarah penjajahan asing di Indonesia, kita bisa melihat dan merasakan bagaimana karakter pemimpin Indonesia. Dalam perspektif politik, birokrasi dan dunia akademik, karakter itu akan beruwujud dalam perilaku penikmat, penjilat atau penghianat.
Nah, intervensi Washington ke Indonesia telah melahirkan sosok-sosok seperti di atas. Yang pasti kita belum memiliki pemimpin yang berani. Bayangkan jika kita berani tapi tidak cer-das dan lincah. Pasti akan diperlakukan seperti Irak dan Afghanistan.

Dengan fakta-fakta di atas, sepertinya Indonesia telah menjadi negara bagian AS ke-55 setelah Irak dan Afghanistan?
De facto kebijakan Indonesia melihat dan mempertimbangkan arahan Washington. De yure Indonesia adalah negara bebas merdeka. Itu karenanya kebijakan ekonomi politik Indonesia tetap patuh pada mekanisme pasar dan pasar bebas walau di pabriknya sendiri kajian tentang hal ini sudah masuk ke wilayah ideologi. Hanya pemerintahan Indonesia yang melihat krisis keuangan global ini lebih karena faktor counter cyclical. Padahal ekonom-ekonom dan kaum cerdik cendikia AS sendiri melihat dan mengkaji bahwa problemnya sudah mencapai masalah struktural. Dengan faktor counter cyclical itu, jelas posisi de facto petinggi Indonesia dan sejumlah cerdik cendikia kita ada di mana.
Jika kekuatan ekonomi AS mengalami kerapuhan dan dominasinya mulai melemah, apa yang harus kita lakukan? Indonesia sudah mempunyai jawaban atas krisis keuangan sejak depresi akbar 1929-1932. Yakni tidak menerapkan ekonomi kapitalis. Moh Hatta menuliskan jawaban krisis itu pada 1934. Bahkan ketika Kata Pembukaan UUD 1945 dibedah, jawaban atas krisis keuangan yang muncul karena keserakahan dan mengagungkan materi sebagai segala-galanya sudah ada. Hubungan signifikan atas Kata Pembukaan UUD 1945 terlihat pada bagaimana APBN ditujukan untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya (pasal 23), bukan untuk menghamba pada pemodal dengan istilah karpet merah untuk investor. Juga dengan pasal 27 (2) tentang pekerjaan dan penghidupan yang layak, pasal 31 tentang pendidikan, pasal 33 tentang sumber daya, produksi dan distribusi serta demokrasi ekonomi untuk kesejah-teraan rakyat, dan pasal 34 tentang tanggung negara terhadap fakir miskin dan anak terlantar.
Dalam kebijakan berorientasi pelaksanaannya adalah kuasai pasar domestik, ciptakan permintaan efektif dalam negeri, bangun kebijakan ekonomi berbasis proporsional antara modal finansial, modal sosial dan modal kultural. Tidak mungkin semua kebijakan ekonomi berbasis padat modal, dan juga tidak mungkin semuanya padat karya. Ada wilayah padat modal yang sumbernya harus dari dalam negeri, dan ada wilayah padat karya yang tenaga kerjanya dari domestik. Jangan seperti sekarang. Jepang yang sedang deflasi juga AS, justru warga negaranya memperoleh lapangan kerja di Indonesia karena pada APBN 2009 pinjaman program mencapai 50% prosen lebih (Rp26,44T) dari total pinjaman LN bruto Rp 52,16 T.
Banyak yang bisa dilakukan. Tapi, Tim Ekonomi SBY-JK telah berpegang teguh pada prinsip mekanisme pasar dan perdagangan bebasnya sehingga nilai tukar akan tetap rentan dan volatile, serta likuiditas akan ketat. Kondisi ini member keyakinan pemilik dana bahwa Indonesia tidak memberi insentif pasar, apalagi nilai rupiah menjadi negatif disebabkan lebih besarnya inflasi dibanding BI Rate. Dalam ilmu moneter, di tengah krisis keuangan sedang terjadi, adalah mimpi mencapai triple decker (nilai tukar stabil, inflasi turun, dan suku bungan turun). Ini soal prioritas dan berarti soal kekuatan kepemimpinan.
Bang Ichsan, sekarang semua orang tahu, Barack Husein Obama terpilih jadi Presiden AS menggantikan Bush. Dengan terpilihnya Obama, apakah ada kemungkinan intervensi AS terhadap Indonesia akan berkurang?
Saya wajib mengingatkan bahwa kebanyakan orang Indonesia mengidap penyakit romantisme picisan karena masa kecil Obama pernah di Indonesia. Romantisme itu bahkan menjadi berlebihan saat saya menyelusuri berbagai informasi baik yang terbuka maupun yang tertutup di berbagai situs di AS.
Dalam perspektif itu, sebagaimana Obama nyatakan, ia akan menarik tentara AS di Irak namun memperkuat posisinya di Afghanistan serta mem-pekuat program kemitraan keamaan dalam memerangi terorisme. Semesti-nya kita harus punya kesepakatan lebih dulu apa yang dimaksud dengan terorisme menurut mereka dan menurut kita. Kalau terorisme diartikan ancaman jihad dari Jaringan Islamiyah, maka apa yang mereka maksud dengan jihad dan apa yang mereka terjemahkan dengan Jaringan Islamiyah. Jika kita sepakat akan hal ini, AS di bawah Obama akan menjadi lebih sehat dan dewasa sebagaimana ia mempertontonkannya saat berhadapan dengan McCain. Itu berarti, intervensi AS ke Indonesia tidak meningkat disebab-kan perhitungan makin besarnya masyarakat Indonesia yang anti AS.
Di bawah Presiden Obama, apakah Indonesia akan mendapat prioritas utama sebagai negara yang menjadi perhatian politik luar negeri AS sebagaimana wilayah Timur Tengah?
Tidak. Washington percaya diri bahwa tidak akan terjadi perobahan signifikan walau akan ada Pemilu 2004. Buat apa mengeluarkan biaya lebih besar kalau recehan saja sudah cukup karena Indonesia sudah dinilai tidak akan bergeser dari paradigma ekonomi selama ini. Majalah News Week yang terbit 11 Oktober lalu merepresentasi-kan hal itu. Jangan heran, Indonesia adalah permata yang dibeli dengan harga senilai gandum. Itu bukan cerita baru, tapi sudah berlangsung sejak 1968, sebagaimana David Ransom menulis-kannya dalam Ford Country: Building an Elite for Indonesia sekitar 33 tahun lalu.
Obama telah menunjuk Hillary Clinton sebagai Menlu dan Robert Gate sebagai Menhan AS, apakah hal itu menunjuk-kan kebijakan luar negeri Obama tidak jauh berbeda dengan Bush?
Membaca kebijakan Obama untuk hal ini harus merujuk tiga institusi: Bilderberger, Council for Foreign Relationship dan Trilateral Commission. Tiga lembaga ini sangat risau dengan kebijakan Bush. Mereka menyebut, Bush telah membuat AS menjadi negara yang lemah. Salah satu indikatornya adalah beralihnya aset keuangan AS ke UE sebesar US$3,8 triliun sebelum krisis berlangsung.
Dalam konteks itulah, Obama membutuhkan kebijakan LN yang lembut tapi tegas dan kebijakan pertahanan yang luwes, liat, tapi lincah dan lihai. Keberadaan Hillary dan Gate bukan saja untuk hal itu, tapi sekaligus merupakan konsolidasi kekuatan internal AS, sebagaimana Obama melakukannya dengan McCain. Di sini terbukti bahwa Obama sangat menjunjung tinggi kepentingan nasional AS. Atas dasar itu, Obama tidak akan gegabah melakukan tindakan militer karena krisis keuangan sekarang berdampak panjang. Tiga lembaga itu bahkan telah menghitung berapa setiap keluarga menanggung beban utang yang tercipta karena krisis keuangan struktural. Berdasarkan dokumen yang saya miliki, Obama akan tetap berpegang pada National Security Strateggy of USA, September 2002 sebagai manifesto ekonomi politik, politik luar negeri dan militer AS. Mereka bahkan telah menerbitkan American Project 2020, termasuk telah memproyeksi perebutan enerji hingga 2040. Saya cenderung menyatakan, bangsa Indonesia melihat pergumulan itu terlalu sederhana dan bersahaja. Benar di balik kesederhanaan dan kebersahajaan terdapat kesempur-naan. Tapi buat apa makna kesempur-naan kalau posisinya di titik nadir.
Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat kita melakukan kajian atas pergeseran geopolitik ekonomi dan militer (shifting bipolar-multipolar-unipolar-multipolar-bipolar). Untuk sebagian besar orang di Indonesia, hal ini memusingkan bahkan merupakan kajian yang kait mengkaitkan. Mereka tidak pernah melihat, bagaimana masyarakat AS sendiri seakan berada di lorong gelap dan ingin segera mendapatkan titik cahaya baik dalam bidang ekonomi, politik dan ideologi. Misalnya muncul pertanyaan, apa yang salah dengan kehadiran kulit hitam sebagai Presiden AS. Atau, apa yang salah jika ada orang AS yang memeluk Islam dan tampil memegang jabatan publik? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar kehausan intelektual, tapi juga wujud nyata kekeringan hubungan antar manusia. Kondisi ini yang mendorong Obama wajib melakukan konsolidasi nasional. Kita pernah melakukannya, tapi hasilnya mengecewakan karena vulgarnya politisi mempertontonkan kehausan dan keserakahan pada kekuasaan.

Jadi perlukah kita berharap pada Obama?
Adalah salah total berharap pada orang lain. Sama seperti memburu burung di angkasa belum tentu ter-tangkap, yang di pangkuan dilepaskan. Islam dan UUD 1945 memberi petunjuk, jangan pernah berharap pada orang atau bangsa lain. Prinsip mekanisme pasar jelas memberlakukan tidak ada makan siang gratis. Jika mereka member bantuan, pasti ada maksudnya. Sebagai-mana saya gagas pada era Pemerintahan Abdurrahman Wahid, semestinya kita membangun kerjasama sederajat pada bangsa-bangsa yang menyadari betapa pentingnya kehidupan berbasis saling berbagi, peduli, tolong menolong sambil menciptakan kesejahteraan untuk kebersamaan. Harus diingat, secara geografis dan geopolitik, Indonesia me-rupakan bangsa dan negara yang dibutuhkan oleh regionalnya. Sayangnya kita kehilangan kepercayaan diri, dan hal itu merupakan hasil prima dari proyek demoralisasi AS pada semua lini kehidupan di Indonesia.

Jangan Biarkan AS, Melepas Jilbab ku...!

Filed under: by: 3Mudilah


Ditulis Oleh : Redaksi''Hakim memang berhak mengatur tata tertib di ruang Pengadilan. Tapi, dia tidak bisa menerapkannya untuk melanggar hak hukum seseorang. Jika jilbab dilarang dipakai di pengadilan, haruskah semua wanita Muslim dilarang mendatangi ruang pengadilan? Aturan apa ini?

Kabar muram kembali terdengar dari negara yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi, Amerika Serikat (AS). Seorang Muslimah, Lisa Valentine (40 tahun), dilarang memasuki ruang pengadilan karena enggan melepaskan jilbabnya. Bahkan, dia kemudian dipenjara karena dianggap menghina pengadilan.

''Saya tidak percaya seseorang bisa melakukan ini (menahan seseorang karena enggan melepaskan jilbab--Red) di Amerika,'' kata suami Valentine, Omar Hall, kepada Atlanta Journal, Rabu (17/12).

Percaya atau tidak, nyatanya, peristiwa ganjil tersebut sudah terjadi. Saat itu, Valentine mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Kota Douglasville, negara bagian Georgia, AS. Kala itu, dia mendatangi kantor PN untuk menemani kemenakannya yang terpaksa berurusan dengan pengadilan karena masalah lalu lintas.

Saat hendak memasuki ruangan pengadilan, petugas metal detector menyetopnya. Tapi, tindakan itu dilakukan bukan karena Valentine membawa benda berbahaya yang terbuat dari metal, tapi karena dia mengenakan hijab. ''Petugas memintanya melepas hijab itu, sebelum diperbolehkan masuk pengadilan,'' kata Omar.

Valentine, yang setelah menganut Muslim menggunakan nama Miedah, ini, kemudian menjelaskan kepada petugas tersebut bahwa dia telah pernah datang ke PN dengan mengenakan hijab. Dia juga menjelaskan bahwa melepaskan hijabnya itu berlawanan dengan ajaran agama yang diyakininya. Tapi, sang petugas tak mau mendengar penjelasan.

Karena tetap tidak diperbolehkan memasuki pengadilan, Valentine pun mengomel. Dia pun hendak meninggalkan pengadilan ketika petugas tersebut memborgolnya dan menahannya. Hakim di PN itu, Keith Rollins, kemudian menjatuhkan vonis wanita ini penjara 10 hari, karena dianggap melakukan penghinaan kepada pengadilan.

Tapi, penghinaan pengadilan yang didakwakan oleh Keith Rollins itu tak ada hubungannya dengan kata-kata yang diucapkan Valentine di checkpoint. Menurut Wakil Kepala Operasi Departemen Kepolisian Douglasville, Chris Womack, Valentine ditahan karena melanggar aturan pengadilan yang tidak membolehkan penggunaan penutup kepala.

Reaksi pun bermunculan pascapenahanan itu. Juru bicara Dewan Muslim Amerika (CAIR), Ibrahim Hooper, mendesak Departemen Kehakiman AS menginvestigasi kasus tersebut. Apa yang menimpa Valentine, kata Hooper, sangat jelas memperlihatkan adanya pelanggaran hak-hak wanita maupun hak-hak beragama yang dijamin konstitusi AS.

''Hakim memang berhak mengatur tata tertib di ruang pengadilan. Tapi, dia tidak bisa menerapkannya untuk melanggar hak hukum seseorang. Jika jilbab yang merupakan perintah agama dilarang dipakai di pengadilan, haruskah semua wanita Muslim dilarang mendatangi ruang pengadilan di Douglasville? Aturan apa ini?'' protes Hooper.

Kalangan pendukung kebebasan hak-hak sipil mencela insiden itu. Pasalnya, apa yang menimpa Valentine merupakan kasus pelarangan jilbab terakhir. Sepekan sebelum kasus Valentine, pelarangan berjilbab menimpa Sabreen Abdul Rahman (55), juga di PN Douglasville. Dia diusir dari PN itu karena menolak membuka hijabnya. Pelarangan itu juga melibatkan hakim Keith Rollins.

Sebelum diusir bersama putrinya ke luar pengadilan, Sabreen membisikkan kepada petugas bahwa dia adalah seorang Muslimah, dan penutup kepalanya merupakan perintah agama. Tapi, ternyata tak ada kompromi. ''[Jilbab] ini adalah hak beragama,'' katanya. ''[Pelarangan] ini inkonstitusional dan menghina,'' tandasnya.

Apa yang menimpa Valentine dan Sabreen, seolah merupakan puncak gunung es dari beberapa praktik diskriminatif di sejumlah pengadilan di AS. Insiden serupa telah berulang kali terjadi di berbagai pengadilan di Georgia. Tahun lalu, hakim di Valdosta, Georgia, juga melarang seorang Muslimah memasuki ruang pengadilan karena enggan melepaskan jilbab. Warga Muslim setempat telah berulang kali komplain.

Kasus lainnya juga terjadi di negara bagian lain, termasuk Detroit, negara bagian Michigan. Karena mengenakan jilbab, seorang hakim tidak memproses kasus wanita tersebut di pengadilan. Wanita tersebut pun menuntut pengadilan tersebut pada Februari 2007 lalu.

Kelley Jackson, juru bicara seorang konsultan hukum di Georgia, mengatakan, hukum di Georgia sebenarnya tidak membolehkan maupun melarang penutup kepala. ''[Pelarangan] itu hanyalah diskresi hakim dan sherif dan itu bergantung pada petugas keamanan pengadilan untuk menegakkan keputusannya,'' katanya.

Valentine telah dilepaskan pada Selasa (16/12), tanpa penjelasan dari petugas kepolisian. Dia berencana mengajukan tuntutan atas penahanan itu. Pasalnya, jilbab merupakan pakaian yang diwajibkan oleh hukum agama--yang juga dijamin oleh konstitusi AS--bukan sekadar simbol agama yang digunakan untuk mempertunjukkan afiliasinya pada sesuatu.

Valentine mengatakan tidak akan dilepaskan dari penjara jika CAIR yang berbasis di Washington tidak meminta otoritas federal menginvestigasi insiden itu, termasuk kasus-kasus lainnya yang terjadi di Georgia.

(republika.co.id)Jumat, 19 Desember 2008





Seorang Muslimah dijebloskan ke penjara menyusul terjadinya kegaduhan ketika ia dicegah masuk ke ruang peradilan karena memakai jilbab pada Selasa (16/12) di Geogia, Amerika Serikat. Menanggapi hal tersebut Dewan Hubungan Amerika-Islam yang bermarkas di Washington (CAIR) mendesak Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki sejumlah insiden yang menimpa wanita Muslimah di Georgia, tempat mereka dilarang masuk ke ruang pengadilan hanya karena memakai jilbab.
Direktur Komunikasi Nasional CAIR, Ibrahim Hooper, Kamis (18/12) mengatakan, "Kami mendesak Departemen Kehakiman untuk menyelidiki insiden itu untuk mengetahui apakah hak-hak sipil atau hak-hak beragama para wanita tersebut telah dilanggar oleh pihak berwenang."
CAIR mendesak Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki insiden tersebut, termasuk sejumlah insiden yang menimpa wanita Muslimah di Georgia. Para anggota masyarakat Muslim setempat kepada CAIR mengatakan sebelumnya terjadi paling tidak dua insiden serupa yang menimpa para Muslimah.
"Para hakim memiliki hak untuk menentukan standard pakaian dan tingkah-laku di ruang sidang peradilan mereka, namun standard itu sepatutnya tidak melanggar hak konstitusional dalam sistem hukum negara kita," ujar Hooper.
Tahun lalu, para wakil CAIR melakukan pertemuan dengan para pejabat kota dan peradilan di Valdosta, Gerogia, untuk mendiskusikan kebijakan-kebijakan mengenai pemakaian jilbab di ruang sidang peradilan. Pertemuan itu dilakukan menyusul insiden yang terjadi pada Juni 2007, ketika seorang Muslimah dilarang masuk ke ruang pengadilan di Valdosta karena memakai jilbab.
CAIR, dalam suratnya yang dikirimkan kepada jaksa penuntut umum Georgia mengatakan tindakan hakim tersebut telah melanggar Undang-undang Hak Sipil Georgia, yang diberlakukan pada 1964, dan juga melanggar undang-undang kebebasan beragama dan perlindungan hukum. [fahmi/dari berbagai sumber/www.suara-islam.com]

Berjalan di Alam Terbuka, Tingkatkan Daya Ingat

Filed under: by: 3Mudilah

LONDON-- Jika Anda terbiasa dengan kegiatan di alam bebas untuk berlibur dan melakukan aktivitas seperti berjalan, pilihan tersebut sangat baik terutama untuk otak Anda.
Para peneliti menunjukkan interaksi dengan alam, bahkan ditengah udara dingin dapat meningkatkan daya ingat dan tingkat konsentrasi.
Nyatanya, hanya satu jam berjalan di sekitar pedesaan dapat meningkatkan kemampuan otak sekitar 1/5 kali.

Sebaliknya, berjalan di sekitar jalan yang sibuk, mungkin tempat belanja karena adanya diskon tidak memiliki efek terhadap otak sama sekali.
Para peneliti kemudian melanjutkan penelitian itu di University of Michigan. Satu kelompok diminta untuk berjalan selam 50 menit di jalan raya yang disekitar perkantoran yang sibuk, sementara kelompok lainnya diminta berjalan di daerah yang terpencil dengan rute dipenuhi pepohonan.
Kemudian, para sukarelawan diminta untuk melakukan beberapa tes dan membandingkannya dengan hasil sebelum berjalan. Hasil menunjukkan, kelompok yang mengambil rute alam, kemampuan daya ingat jangka pendek bisa meningkat hingga 20%. Sementara itu, kelompok yang berjalan di tengah jalan raya di kota tidak menunjukkan perubahan.
Diperkirakan berjalan di kawasan pedesaan bersifat restoratif karena memungkinkan orang untuk "mengistirahatkan" otak, sementara berjalan di kota membutuhkan perhatian.

Marc Berman, seorang peneliti dari University of Michigan mengatakan, berjalan di alam pedesaan dapat membantu menyembuhkan kelelahan mental.
"Saya sangat merekomendasikan pergi beberapa saat untuk berliibur di kawasan pedesaan atau berjalan di sekitar taman di kota," ujarnya.

Penelitian telah membuktikan, hal itu tidak bersifat subjektif. Efek yang dihasilkan terhadap daya ingat dan perhatian memang benar.
Para peneliti mempublikasikan hasil tersebut pada journal Psychological Science, yang juga menemukan peninkaan terhadap memori dan perhatian juga meningkat sesaat setelah melihat gambar dari alam dibandingkan area gedung kantor.
"Interaksi dengan alam dapat menghasilkan efek yang hampir serupa dengan meditasi. Anda tidak akan mendengar orang berkata, "Saya sangat bosan melihat air terjun yang indah". Alam tidak menuntut apapun dari Anda," terangnya. (telegraph.co.uk/ri)
Selasa, 30 Desember 2008 pukul 12:59:00 www.republika.co.id

Brokoli, Kubis dan Kol Tangkal Kanker

Filed under: by: 3Mudilah



WASHINGTON-- - Meskipun telah diketahui mengonsumsi sayuran tertentu, seperti brokoli, dapat membantu mencegah kanker payudara, tapi belum diketahui mekanisme bagian aktif di dalam sayur-mayur itu menghalangi penyebaran sel.
Beberapa ilmuwan di University of California, Santa Barbara, melaporkan penelitian baru mereka telah memperlihatkan bagaikan energi penyembuhan sayur itu bekerja pada tingkat sel di Washington, Selasa (23/12). Hasil studi tersebut disiarkan di dalam jurnal Carcinogenesis, terbitan Desember.
"Orang dapat melindungi diri dari kanker payudara dengan memakan sayur yang dapat dikonsumsi seperti kubis dan keluarga dekatnya seperti brokoli dan kembang kol," kata penulis utama studi Olga Azarenko.
"Sayuran ini berisi zat yang disebut 'isothiocyanate', yang kami percaya bertanggung-jawab atas kegiatan anti-carcinogenik dan pencegahan-kanker dalam sayur-mayur ini," katanya.
Penelitian mereka dipusatkan pada kegiatan anti-kanker pada salah satu bahan itu, yang disebut "sulforaphane", atau SFN.
Hal itu sudah diperlihatkan mengurangi peristiwa tersebut dan tingkat tumor payudara yang disebabkan oleh bahan kimia pada hewan. Zat tersebut menghalangi pertumbuhan sel kanker payudaya pada manusia, yang mengakibatkan kematian sel.
Para peneliti membuat temuan mengejutkan, SFN mencegah penyebaran sel tumor manusia oleh satu meka nisme yang serupa dengan cara obat anti-kanker "taxol" dan "vincristine" menghalangi pembagian sel selam "mitosis"yaitu proses pembagian genom yang telah digandakan oleh sel ke dua sel identik yang dihasilkan oleh pembelahan sel.
Namun SFN jauh lebih lemah dibandingkan dengan obat lain yang berdasar tanaman, sehingga tidak terlalu banyak mengandung racun.
"SFN mungkin menjadi bahan pencegahan kanker yang efektif karena SFN menghalangi penyebaran dan membunuh sel pra-kanker," kata para penulis studi tersebut.
Bahan itu juga mungkin digunakan sebagai tambahan bagi "taxol" dan obat lain yang serupa guna meningkatkan keefektivan pembunuhan sel tumor tanpa peningkatan keracunan. (xinhua-oana/ant/ri) www.republika.co.id

Shalat dengan Mahdzab yang Mana yang Paling Sesuai dengan Nabi?

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan

Assamualaikum wb. Wr

Yang kami hormati dan yang kami tauladani, Ust H Ahmad.

Saya mau tanya tentang tata cara sholat dan gerakan sholat menurut Imam As-Syafi'i, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Maliki. Saya minta tolong supaya Bapak Ustadz menjelaskannya secara gamblang (sejelas mungkin).

Soalnya tata cara sholat atau gerakan sholat 4 imam tersebut pasti ada perbedaan. Di sinilah pertanyaan saya, di antara 4 imam tersebut gerakan sholat yang mana yang benar benar dari tutunan Nabi Mmuhammad SAW?

Soalnya semua gerakan itu menurut hadis nabi, kan tidak mungkin Nabi Muhammad itu gerakannya selalu berbeda beda dalam sholatnya.
Sebelumnya terima kasih ya pak atas jawabannya

Wasamualaikum wb. Wr.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Pertanyaan anda ini sangat menarik dan tentunya juga mewakili sekian banyak saudara kita yang punya pertanyaan yang sama. Dan memang masalah ini seringkali menggelitik rasa ingin tahu kita. Sebab agak jarang dijelaskan secara utuh.

Karena itu mohon maaf kalau penjelasan ini dirasa agak bertele-tele dan membosankan. Namun kami maksudkan agar dapat menjawab rasa ingin tahu Anda.

Mana Yang Benar?

Kita agak kesulitan untuk menjawab pertanyaan polos ini. Mengapa kesulitan? Karena seandainya kebenaran itu jelas dan tegas, tentu tidak akan muncul beberapa versi. Pasti akan muncul satu versi saja.

Quran dan Hadits: Belum Rinci dan Sistematis Membahas Shalat

Munculnya beberapa versi teknik shalat yang ada di beberapa mazhab justru sebenarnya berangkat dari ketidak-jelasan dalil Quran dan Sunnah itu sendiri. Bukan berarti kami mengatakan bahwa keduanya tidak lengkap, tetapi masih membutuhkan pola tertentu untuk mengeluarkan hukumnya.

Seandainya di dalam Al-Quran ada petunjuk detail, lengkap, padat, rinci, sempurna dan siap pakai tentang teknis gerakan dan bacaan shalat, tentu tidak akan ada banyak variasi gerakan shalat.

Demikian juga, seandainya ada satu kitab hadits yang sudah dipastikan seluruhnya shahih, lalu di dalamnya dijelaskan semua detail teknis shalat tanpa adanya dua atau beberapa hadits yang saling bertentangan isinya, maka masalahnya pasti sudah selesai.

Namun kenyataannya, semua itu tidak terjadi. Al-Quran bukanlah kitab petunjuk detail tentang shalat, begitu juga semua kitab hadits.

Beda Pendapat Untuk Menshahihkan


Bahkan hadits-hadits itu sebagian besarnya masih harus dikritisi tentang keshahihannya.

Yang dishahihkan oleh Imam Al-Bukhari baru 4 ribuan hadits saja dari jutaan hadits. Sebanarnya jumlah hadits dalam kitab itu ada 7 ribuan, tapi sebagian besarnya terulang-ulang. Kalau diringkas tanpa diulang, ternyata hanya ada sekitar 4 ribuan saja.

Hadits-hadits selebihnya tidak dishahihkan oleh beliau, namun dishahihkan oleh imam yang lain. Sehingga muncul perbedaan pendapat, karena terkadang sebuah hadits dishahihkan oleh seorang muhaddits, namun muhaddits lainnya menolak keshahihannya.
Sayangnya lagi, justru yang kasusnya seperti ini sangat besar dan banyak jumlahnya.

Jauh melebihih hadits yang sudah disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Shahih Tapi Satu Dengan Yang Lain Masih Mungkin Bertentangan


Dan yang sudah dishahihkan itu pun ternyata bukan semuanya tentang shalat. Kalau ada sebagiannya tentang shalat, ternyata isinya juga seringkali saling bertentangan.

Maksud bertentangan adalah seperti yang anda katakan tadi. Misalnya ada hadits yang shahih menyebutkan bahwa nabi SAW shalat tangannya diletakkan di dada. Lalu ada lagi hadits shahih lainnya yang justru menyebutkan tangannya di perut, atau di bawah perut dan begitulah seterusnya.

Semua kenyataan di atas telah memustahilkan keseragaman dalam aturan shalat. Semua dalil yang kita miliki telah membawa kita kepada perbedaan bentuk teknis shalat. Meski setiap kita telah bertekad untuk mengikuti tata cara shalat nabi SAW.

Tetapi hasilnya tidak pernah ada yang bisa dipastikan 100% kebenarannya. Dan sebaliknya, kita juga tidak bisa memvonis bahwa yang berbeda dengannya pasti 100% salah. Semua masuk dalam kerangka ihtimal.

Perbedaan Teknis Shalat dalam 4 Mazhab: Sebuah Keniscayaan

Dengan demikian, bila kita dapati ada 4 mazhab yang berbeda tata cara shalatnya, kita bisa maklum. Bahkan di dalam satu mazhab pun sangat besar kemungkinan terjadinya perbedaan. Boleh dibilang bahwa perbedaan itu sudah merupakan kemestian yang tidak mungkin dihindarkan.

Untuk itu pertanyaan semisal, "Mana yang benar atau mana yang salah?", menjadi kurang relevan. Mungkin yang lebih tepat adalah, "Mana yang paling rajih (lebih kuat) istidlalnya? Dan menurut siapa?"

Boleh jadi menurut kalangan mazhab A, tata cara shalat mereka adalah yang paling shahih dan paling sesuai dengan Rasulullah SAW. Namun bisa saja menurut mazhab B, versi merekalah yang paling sesuai dengan Rasulullah SAW.

Yang menarik, meski saling berbeda, dahulu para imam mazhab sama sekali tidak pernah saling bermusuhan. Apalagi saling menjelekkan, saling tuding atau saling berghibah. Mereka adalah ulama yang sangat tidak mungkin berakhlaq serendah itu. Kedalaman ilmu mereka telah mencegah mereka terjebak ke dalam gaya arogan yang nista.

Sifat mereka jauh berbeda dengan orang zaman sekarang yang sering mengklaim diri sebagai pengikut ulama, namun perilakunya justru bertentangan dengan sifat para ulama itu sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Ahmad Sarwat, Lc
www.warnaislam.com
Rabu, 24 Desember 2008 11:36

Desember Hitam : Sejarah Berulangnya Pengkhianatan

Filed under: by: 3Mudilah

Bukan pertama kalinya bangsa Palestina dikhianati para pemimpin Arab. Peristiwa pengkhianatan itu telah berulangkali. Peristiwa ‘holacoust’ di Gaza sekarang ini, hanya pengulangan sejarah, yang menunjukkan terjadinya pengkhiatan itu. Para pemimpin Arab dan Israel telah memiliki visi yang sama terhadap perkembangan di Palestina, khususnya di Gaza. Mereka sama-sama merasa terancam dengan lahirnya Hamas, yang menjadi gerakan politik dan militer.
Mengapa Hamas menjadi ancaman bagi para penguasa Arab, Israel dan Barat? Padahal, Hamas sebuah kekuatan yang sangat terbatas, dan baru tumbuh menjadi sebuah kekuatan politik dan militer. Dibandingkan negara-negara Arab, seperti Mesir, Saudi, atau Yordan, dan bahkan Negara Teluk lainnya, seperti Qatar, Uni Emirat, sebenarnya Hamas belum berarti apa-apa. Faktanya, para pemimpin Arab, Israel, dan Barat, menyetujui langkah-langkah agresi militer yang dilakukan Israel. Sebenarnya, apa yang melatarbelakangi, semua peristiwa yang terjadi di Gaza saat ini?
Pertama, Hamas, yang awalnya sebuah gerakan sosial keagamaan, yang mengadopsi ideologi Ikhwan, dan didirikan oleh Sheikh Ahmad Yasin, belakangan menjadi sebuah fenomena yang sangat menarik. Gerakan ini cepat berkembang dengan pesat di Gaza dana Tepi Barat. Baik secara politik dan militer. Kemampuannya diluar prediksi siapapun, termasuk para pakar intelijen Israel. Karena, Hamas bukan saja memenangkan pemilu di tahun 2006, dan mengalahkan kekuatan al-Fatah, sebuah gerakan yang sudah lama, dan didirikan oleh Yaser Arafat. Tapi, kemenangan pemilu Hamas itu, sekaligus mengakhiri hegemoni kekuatan al-Fatah, dan menggusur pengaruh politiknya. Sehingga, di wilayah pendudukan Israel, pengaruh al-Fatah, tidak memiliki landasan politik yang kuat, dan bergeser ke tangan Hamas.
Kedua, Hamas, yang sudah mengendalikan pemerintahan di Gaza, yang dipimpin seorang tokoh muda, Ismael Haniya, berhasil melakukan konsolidasi politik dan militer. Pemerintahannya berlangsung berhasil melakukan pembaharuan secara efektif, dan menghentikan warisan masalalu, di mana praktik-praktik korupsi dan tidak efesien berhasil diakhiri. Pemerintahan Hamas yang baru itu, berhasil membangun sistem keamanan yang efektif, dan mengelemenir berbagai bentuk kekacauan, terutama konflik-konflik antar faksi, yang menganggu stabilitas di Gaza. Dan, berhasil membangun kepolisian, dan pasukan regular, yang cukup terlatih.
Sekalipun, Hamas dalam pemerintahan di tahun yang kedua, sudah menghadapi tekanan yang hebat oleh Israel, Barat, dan Uni Eropa serta negara-engara Arab, berusaha mengeliminir, tapi gagal. Puncaknya, konflik terbuka antara kekuatan al-Fatah dan Hamas, dan berakhir dengan kemenangan Hamas, dan berhasil mengambil alih seluruh wilayah dari kekuasaan al-Fatah yang ada di Gaza. Dan, al-Fatah meninggalkan Gaza, dan pindah ke Ramallah, Tepi Barat, di situlah Mahmud Abbas, bertahan, sambil terus membangun kekuatan politiknya. Dan, kemenangan Hamas atas al-Fatah, dan berhasil mengambil seluruh wilayah Gaza ini, bagaikan ‘nightmare’ (mimpi buruk) bagi Israel, Barat, dan negara-negara Arab.
Ketiga, perkembangan baru di Gaza, dan semakin kuatnya pengaruh politik dan militer Hamas, kemudian Israel, negara-negara Arab, dan Barat, menyusun kerangka strategi bersama untuk menghancurkan Hamas. Mengapa Israel, negara-negara Arab, dan Barat, secara khusus dalam menghadapi Hamas mereka dapat bersatu? Karena, mereka menilai Hamas sudah menjadi sebuah ‘ancaman’ regional. Terutama, peran Israel yang berhasil memanipulasi dan menyakinkan para pemimpin Arab, melalui badan-badan intelijen mereka, di mana Hamas, yang sudah dipersepsikan sebagai ancaman kekuatan ‘radikal’ Islam, ditambah adanya provokasi terhadap para pemimpin Arab oleh Israel, bahwa Hamas sudah menjadi ‘satelit’ Iran.
Persepsi dikalangan para pemimpin Arab, terbentuk dengan berbagai informasi, adanya kunjungan pemimpin Hamas, seperti Khaled Mish’al ke Teheran, dan komitment bantuan yang mereka berikan kepada Hamas. Inilah yang menyebabkan para pemimpin Arab dalam satu barisan dengan Israel, menghancurkan Hamas. Para pemimpin Arab,yang umumnya, tidak popular di negaranya masing-masing, tidak ingin Hamas ini menjadi sebuah model. Dan, tidak ingin pengaruh Hamas, yang notebene merupakan refleksi Gerakan Ikhwan ini, menyebar ke selulruh kawasan.Maka, sebelum menjadi sebuah kekuatan politik dan milier yang tangguh, maka harus dihancurkan secara menyeluruh.
Bagi Israel, sudah pasti tidak menginginkan eksistensi Hamas, dan harus dimusnahkan. Israel bukan saja menderita paranoid, tapi memiliki mental ‘ghetto’, dan sekarang membangun tembok, sepanjang garis perbatasannya, tapi masih tetap merasa tidak aman. Apalagi, Hamas tetap konservatif, tidak mau mengakui keberadaan Israel.
Dan, ini Israel menganggnap Hamas menjadi ancaman masa depan yang sangat serius, dan sejak dini memang harus dihancurkkan. Maka, pertemuan para pemimpin Arab dengan Menlu Condoleeza Rice, waktu ia melakukan lawatan ke Timur Tengah sebelumnya, dan bertemu dengan sejumlah pemimpin Arab di Cairo, dan Riyad, serta kunjungannya ke Yerusalem dan Ramallah, tak lain adalah mengambil langkah untuk menyudahi Hamas.
Langkah terakhir, sebelum hari ‘H’ penyerbuan, nampaknya sudah disampaikan kepada Presiden Mesir, Hosni Mubarak di Cairo, ketika Menlu Israel, Tzipi Livni berkunjung ke negara Piramid itu. Tentu, Barat (Amerika dan Uni Eropa), tak menginginkan tumbuhnya kekuatan radikal sekecil apapun, karena dapat menganggu stabilitas di kawasan itu, bagi kepentingan Barat di Timur Tengah, terutama minyak.
Kita tinggal menghitung hari, umat Islam akan melihat sebuah pragment, di mana umat Islam disuguhkan sebuah tontonan di akhir Desember ini, sebuah pembantaian massal oleh Israel terhadap kaum muslimin Gaza. Peristiwa ini mengingatkan pemmbantaian yang terjadi di Sabra dan Shatila, yang mengakibatkan ribuan orang Palestina di kedua kamp itu, dibantai Israel, dan tidak ada pembelaan sedikitnya dari para pemimpin Arab.
Dan, pembantaian ini adalah buah persongkolan antara para pemimpin Israel, Arab, dan Barat, yang memang tidak menginginkan Hamas tetap ada. Kita doakan kaum muslimin di Palestina, mereka akan berhasil menghadapi makar musuhnya. Dan, semoga Allah Azza Wa Jalla, menghancurkan orang-orang zalim, termasuk Israel laknatullah. (M) www.eramuslim.com
Rabu, 31/12/2008 10:33 WIB

Setelah Hancur, Fatah Perintahkan Habisi Hamas!
Selasa, 30 Desember 2008 18:36



warnaislam.com — Di saat dunia terluka atas aksi brutal Israel, Faksi Fatah pimpinan Mamud Abbas malah memberikan edaran kepada para pengikutnya untuk bersiap-siap menguasai Jalur Ghaza dan melakukan aksi balas dendam terhadap kelompok Hamas.

Dalam sebuah surat edaran yang salinannya berhasil didapat Pusat Informasi Palestina, Selasa (30/12), disebutkan bahwa Fatah menyatakan siaga satu bagi para pimpinan dan elemen-elemen keamanannya untuk segera turun ke jalan-jalan di Refah sampai Beit Hanun.

Surat edaran itu datang dari Jaringan Kerja Lapangan Fatah, yang di antara isinya itu dikatakan "hendaknya acungkanlah kepalan tangan kalian dan mengepalah untuk menyapu". Dikatakan juga bahwa intruksi itu merupakan pesan dari Abu Mazin Mahmud Abbas sebagai satu-satunya simbol legalitas dan Muhamad Dahlan sang pemberi keputusan. Fatah juga mengancam aksi balas dendam atas para petinggi Hamas agar segera hengkang.

Sebelumnya pejabat tinggi Hamas menjelaskan, situasi keamanan, pemerintahan dan kelembagaan di Jalur Ghaza sepenuhnya berada di bawah kontrol Ismail Haniyyah. Selain itu, perlawanan Hamas juga sudah dimulai dari Ghaza dalam menghadapi gempuran israel.

Menurut anggota dewan dari Hamas Musyir Al-Mihsri, Izzudin Al-Qossam dan faksi-faksi perlawanan sudah dapat mengatasi dalam mengurangi serangan awal Israel, dan sekarang ini sedang melakukan peluncuran roket ke sasaran-sasaran Israel.
penulis :
Mochamad Ilyas – www.warnaislam.com


Wahai .. Para Raja, Presiden, dan Pemimpin Arab!
Senin, 29/12/2008 13:01 WIB

Ketika engkau melihat umat Islam di Gaza sudah sekarat, bertahun-tahun menderita, akibat embargo Israel. Engkau tetap menutup pintu perbatasanmu. Tak mau berbelas kasihan terhadap saudaramu. Meskipun, sudah banyak diantara mereka yang mati, akibat sakit dan kelaparan. Bahkan, ketika mereka kelaparan dan mencoba masuk ke wilayah perbatasanmu, engkau usir. Engka menjadi seakan orang-orang yang sudah kehilangan hati nurani dan kecintaan terhadap saudaramu, yang malang muslim Palestina. Engkau lebih mementingkan memelihara hubungan dengan Israel, Amerika, dan Uni Eropa, dibandingkan dengan menyelamatkan saudaramu sesama muslim.
Engkau menyaksikan dengan mata telanjang, ketika pesawat F.16 dan Apache, Israel, menyerang kota-kota Gaza. Engkau melihat bangunan-bangunan luluh-lantak, mayat-mayat berserayakan, bagaikan sampah, dan ada di mana-mana, dan darah mengalir dari setiap tubuh mayat, serta menjadi pemandangan di sudut-sudut kota Gaza, masihkah hati nuranimu tak juga tersentuh? Engkau melihat ratusan muslim Palestina, yang mengerang kesakitan dengan luka-luka di tubuh mereka, dan masihkah engkau berdiam diri? Mengapa wahai Presiden Hosni Mubarak, engkau bertemu dan berjabat tangan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, sehari sebelum rejim Zionis-Israel melumatkan kota Gaza?
Engkau menyaksikan setiap hari peristiwa kematian yang dialami muslim Palestina. Engkau setiap hari melihat muslim Palestina yang tak berdaya, dan dihancurkan kehidupan mereka oleh rejim Zionis-Israel. Tapi, engkau malah berkomplot dengan kaum laknat itu, ikut menghancurkan muslim Palestina. Engkau melihat bangunan-bangunan, rumah-rumah, sarana-sarana hidup, dan tanah ladang, kebun, ikut dihancurkan para penjajah, yang biadab, tapi engakau malah tertawa-tawa, sambil menerima utusan pemerintahan rejim Zionis-israel, dan berunding. Engkau melihat kekejaman-kekejaman yang diluar batas perikemanusiaan, dan yang tak pernah dapat tertanggungkan oleh manusia, dan dialami oleh muslim Palestina, yang dilakukan rejim Zionis-Israel, tapi engkau malah membuat perjanjian rahasia dengan musuh kemanusia itu? Di mana hati nuranimu?
Wahai Para Raja , Presiden, Pemimpin Arab!
Kematian akan datang. Kematian akan dialami oleh muslim Palestina, di Gaza. Mereka semuanya akan menyongsong kematian,yang paling terhormat. Mereka akan menghadapi mesin perang rejim Zionis-Israel dengan gagah. Mereka tak akan mundur. Mereka akan menghadapi dengan teguh. Mesin prang yang sudah meluluh-lantakkan kota Gaza itu, pasti akan mereka hadapi. Apa artinya kehidupan dan kemuliaan, bila harus dibawah kekuasaan dan penjajahan Israel? Mereka lebih mencintai kematian, dan tak akan berdamai dengan para musuh Allah Azza Wa Jalla, yaitu Zionis-Israel.
Apa artinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki? Bila kekuasaan dan kekuatan itu tak dapat menghapus kemungkaran dan kedzaliman? Apa artinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki bila tak mampu menghapus kejahatan yang dilakukan oleh rejim Zionis-Israel. Lebih mulia, mereka yang sudah mati – mati syahid melawan penjajah, dibandingkan dengan kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki, tapi tak mampu membebaskan saudaramu muslim di Gaza.

Selamat berjuang saudaraku muslim di Gaza, jangan mengharapkan pertolongan dari manapun, kecuali dari Allah Rabul Aziz. Semoga engkau mendapatkan kemuliaan dari Allah Azza Wa Jalla. (Mi)
www.eramuslim.com

Kami Tidak Lupa, Palestina!

Tahun 2008 ini ditutup dengan catatan kejahatan kemanusiaan oleh Israel. Dengan alasan melakukan serangan balasan (siapa yang mulai?), mereka membombardir Palestina dengan korban kebanyakan wanita dan anak-anak. Luar biasanya, dan tidak perlu heran lagi, Amerika menghimbau Hamas untuk menahan diri (dari apa?). Ibaratnya si A sudah babak belur ditonjok dijotos dibogem sama si B, lalau si C dengan enteng ngomong, eh A, tahan diri dong, gila lu ya. Padahal si B gak babak belur atau sebam sama sekali.

Kita yang berada ribuan kilometer dari tempat terjadinya perang ini, akan sulit sekali membayangkan rasanya dibom oleh perlengkapan perang berat seperti itu. Bahkan, saat ini saja, saya sedang duduk di atas kursi yang empuk di kantor saya. Langit tampak biru. Awan seputih kapas. Sungguh, sulit sekali membayang di belahan dunia lain masih ada bangsa yang mengalami penjajahan. Sulit sekali membayangkan ada negara yang tidak bisa serelatif aman dan tenteram seperti negeri kita ini. Begitu kerasnya hidup di bawah bayang-bayang penjajah, sehingga anak yang belum akil balig pun sudah menggenggam senjata.

Sulit sekali membayangkan hidup di antara desingan peluru dan dentuman bom yang mungkin saja setiap saat bisa merenggut nyawa kita sendiri. Sulit sekali membayangkan harus menjalani hidup seperti itu seperti layaknya kita yang dengan nyaman pergi pulang kantor setiap hari bagaikan rutinitas. Sulit sekali membayangkan bahwa setiap bentuk perlawanan terhadap penjajahan itu disebut sebagai aksi teroris. Untuk Indonesia, hal itu sebenarnya tidak perlu diperherankan lagi. Pada waktu jaman penjajahan Belanda, para pejuang kita yang mulia itu disebut ekstrimis (baca: teroris) oleh para penjajah. Demikian juga Palestina. Organisasi yang terbentuk sebagai badan pelawan penjajah (baca: Hamas) dicap teroris oleh Israel. Sayangnya, karena jaringan berita global berada di bawah gurita Israel, mereka semua ikut-ikutan mengecap Hamas sebagai organisasi teroris. Padahal, mereka adalah pasukan pembela diri dari penjajah. Bahkan, ada juga yang bilang bahwa batas negara Palestina tidak jelas. Dulu, saya sendiri berkeyakinan bahwa Palestina adalah negara yang tidak memiliki wilayah.

Sungguh sulit sekali untuk turut berjuang membela mereka yang terjajah di sana. Betapa enak dan empuknya kursi ini. Betapa empuk dan hangatnya kasur menunggu di rumah. Betapa enak dan lezatnya makanan yang kami makan tadi siang dan malam nanti. Walaupun bangsa Indonesia adalah bangsa yang terlahir dari bebasnya penjajahan, generasi sekarang adalah generasi yang sudah tidak memegang senjata lagi secara fisik. Tapi, kita punya hal yang lebih baik dari fisik: nurani.

Bisa apa dengan nurani? Katakan tidak pada penjajahan. Tidak satu pun negara di dunia saat ini, kecuali Amerika, yang tidak mengecam Israel. Bahkan di tingkat yang paling lemah, mereka hanya diam saja. Apa yang bisa kita lakukan? Tidak perlu terbang ke sana dan ikut berjuang. Sekali lagi, gunakan nurani. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kemampuan perang mereka. Jangan lemah. Jangan dengar kata orang bahwa semua itu percuma. Tidak banyak yang memberitakan bahwa perekonomian Denmark sempat melemah ketika negara itu mengalami boikot ketika kasus pelecehan Nabi beberapa tahun lalu. Itu adalah indikator bahwa kita bisa punya kekuatan untuk membuat impact secara tidak langsung.

Yang bisa kita lakukan saat ini adalah boikot. Sekali lagi, jangan lemah. Pernah perhatikan bahwa kita menggunakan produk-produk dari produsen yang membantu anggaran Israel? Produk-produk seperti Coca Cola, MacDonalds, Nokia, Starbucks dan lain-lainnya berasal dari produsen yang dengan setia membantu Israel menjajah Palestina. Tidak ada yang menjanjikan apa pun dari kegiatan boikot ini. Ini hanyalah panggilan nurani untuk mempertimbangkan lain kali Anda membeli produk-produk tersebut. Renungkanlah sebentar. Ciri-ciri produk pendukung Israel biasanya mahal dan tidak berguna. Starbucks, contohnya. Pernahkah Anda renungkan, kenapa untuk segelas kopi yang bisa Anda bikin sendiri harganya mencapai Rp.30,000? Dengan uang 1jt rupiah, Anda bisa mendapatkan fitur yang lebih banyak dari hape lain dibanding Nokia. Itulah ciri-ciri produk pendukung Israel. Sekali lagi, saya tekankan, boikot ini bukan untuk orang yang lemah. Orang lemah akan beralasan, tidak mungkinlah, kita kan bergantung sama mereka. Silahkan saja. Tidak ada dosa di sini. Paling tidak, itu menurut saya. Tapi, bila Anda orang yang kuat, silahkan lihat daftar produk-produk yang menurut Anda tidak perlu dibeli lagi di sini: http://www.inminds.co.uk/boycott-israel.html. Jangan boikot apabila Anda lemah.

Lain kali Anda menyeruput Coca Cola di MacDonalds dan kemudian duduk santai di Starbucks, nikmatilah selagi bisa. Namanya perang, akan ada yang kalah. Jangan pernah beranggapan Palestina akan kalah. Irak yang diklaim sudah dimenangi oleh Amerika saja masih mendapat perlawanan dan hingga saat ini sudah ribuan tentara Amerika tewas tanpa alasan yang jelas. Demikianlah yang terjadi apabila kedaulatan suatu negara dirampas dengan kekerasan.

Sekali lagi, lain kali Anda menyeruput Milo dari Nestle, sambil SMS-an dengan hape Nokia, ingatlah, Anda tidak dosa. Tidak perlu merasa bersalah apabila uang yang Anda keluarkan digunakan untuk anggaran perang penjajah. Anda tidak dosa. Anda hanya lemah. Itu wajar. Negeri ini memang berada ribuan kilometer dari tempat terjadinya penjajahan. Mungkin saat Anda membaca tulisan ini, Anda sedang duduk nyaman di atas perabot Marks & Spencer. Rileks saja. Tidak perlu cemas. Perang itu tidak mungkin sampai di negeri ini. Kalau pun sampai. Tenang saja. Akan ada tempat lain di mana orang-orangnya mungkin akan berkelakuan sama seperti Anda sekarang ini: santai dan rileks di tempat yang nyaman, empuk dan hangat.

Pesan saya untuk Palestina, teruslah berjuang. Maafkan kami, belum bisa menyumbang secara fisik. Tapi, kami tidak akan lupa, Palestina!

Catatan untuk redaksi. Tulisan ini juga dimuat diblog saya di http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/tanzir/2008/12/30/kami-tidak-lupa-palestina/

Halaqah Kok Kampanye?

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustadz, gimana kalau ada keinginan untuk pindah ke halaqah salaf, karena kalau dengar dari radio mereka, ternyata kedalaman ilmu para ustadz nya bagus sekali, berbeda sekali dengan halaqah saya yang sekarang ini, energi terkuras untuk kampanye.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
titi
Jawaban
Assalamu 'alaikum warhmatulalhi wabarakatuh,
Saya sangat yakin statemen yang antum sampaikan dalam pertanyaan ini berangkat dari rasa haus untuk belajar Agama Islam. Memang ada banyak pilihan untuk itu, salah satunya ikut halaqah seperti yang antum ceritakan.
Saya sangat mengerti kekecewaan antum saat ini, karena apa yang antum harapkan untuk dapat belajar ilmu syariah ternyata tidak terpenuhi. Alih-alih buka kitab, halaqah yang antum ikuti hanya membicarakan urusan politik dan politik saja. Bahkan kadang hanya berisi perintah-perintah untuk memenangkan kandidat dari partai tertentu.
Partai tertentu? Ya, terus terang sajalah, PKS gitu loh.
Terus mana ngajinya? Kok kampanye melulu? Sedikit-sedikit pilkada, sedikit-sedikit pemilu, sedikit-sedikit memenangkan calon kandidat.
Wah..wah.. Itu barangkali yang antum pertanyakan. Maunya belajar urusan syariah dan agama, kok ujung-ujungnya malah berpolitik sih?
Sebenarnya yang mengadu seperti antum bukan cuma satu orang, justru hampir setiap saat saya menerima pengaduan persis dan mirip dengan apa yang antum sampaikan. Antum adalah orang yang ke-1.000 yang mengeluh seperti ini ke Saya.
Walau pun tindakan selanjutnya bisa beda-beda. Ada yang tetap meneruskan ikut halaqah, tapi bersikap kritis. Sampai-sampai dicap sebagai ceriwis, tukang kritik dan nyebelin oleh Sang Murobi.
Ada lagi yang malas hadir di halaqahnya. Datang pengajian kalau pikiran lagi terang saja. Tapi kalau lagi jutek, ya sudah tidak usah datang saja. Nonton TV di rumah atau sekalian jalan-jalan ke Mal.
Yang lain juga malas-malasan datang ke halaqahnya, tapi masih agak sedikit lebih sopan, yaitu cari-cari alasan yang 'agak syar'i', misalnya menunggu orang tua yang sakit, atau pura-pura sakit, padahal cuma jempolnya cantengan. Sama sekali tidak ada.
Yang lebih ekstrem memang banyak juga, yaitu berhenti atau keluar dari halaqah. Dan model begini juga macam-macam judulnya. Ada yang berhenti dari halaqah terus balik lagi jadi seperti sebelumnya. Pergaulannya, akhlaqnya, cara pandangannya, serta kepribadiannya, jadi agak jauh dari apa yang sering digambarkan sebagai aktifis. Sekedar untuk tidak menggunakan istilah jahiliyah.
Tapi yang loncat ke harakah atau jamaah lain juga tidak sedikit. Sebagian memang ada yang pindah ke aktifitas dakwah lain, misalnya majelis dzikir, atau tasawuf, bahkan juga ke jamaah tabligh. Dan salah satunya ya seperti antum itu, pindah ke salafi.
Ada beberapa alasan yang paling sering dikemukakan tentang pindah ke salafi ini. Salah satunya memang persis seperti yang antum ceritakan, yaitu ada kesan bahwa di Salafi itu ustadz-ustadznya sangat paham agama. Bicaranya tidak pernah keluar dari Quran dan Sunnah.
Buat beberapa kalangan, tawaran seperti ini cukup menarik memang. Walau pun juga bukan tanpa kritik. Yah, mana ada sih jamaah atau pengajian yang sempurna. Kalau mau dicari-cari, pasti semua ada kekurangannya. Istilah para pujangga, tiada gading yang tak retak.
Teman-teman yang tergabung dengan salafi ini memang cukup banyak diminati, terutama oleh orang-orang yang mengalami kasus mirip antum. Beberapa masjid di Jakarta yang saya tahu persis dulunya dibina dan diaktifkan oleh para kader dakwah, kini lebih sering menggelar pengajian yang nara sumbernya dari kalangan salafi.
Lalu apa yang salah dari salafi? Bolehkah kita ikut salafi?
Mungkin itu yang antum ingin tanyakan secara lebih tajamnya. Jawabnya ya pada hakikatnya kita tidak bisa membuat penilaian yang sifatnya hitam putih. Apalagi saya tahu persis bahwa teman-teman yang mengaku salafi itu ternyata terdiri dari berbagai kelompok juga, yang mana satu sama lain ternyata saling berbeda pandangan juga.
Mending kalau perbedaan itu hanya sebatas kulit, kadang perbedaan dan friksi di tengah teman-teman saya sendiri itu sampai pada wilayah -yang menurut mereka- termasuk wilayah aqidah dan urusan surga dan neraka. Bahkan tidak jarang saya dengar pula kalimat dan statement yang kurang enak didengar, entah melaknat, mencaci, memaki dan mentahdzir dengan sesama salafi juga.
Jadi ikut mengaji ke salafi memang agak rumit juga. Sebab jelas-jelas ada berbagai jenis salafi nih. Ada salafi A, salafi B, salafi C, salafi D dan bisa diteruskan sampai ZZZ. Ada salafi yang santun, baik dari segi bahasa dan sikap, tapi tidak jarang kita ketemu juga yang agak-agak gahar alias killer.
Ada salafi yang masih mau merujuk kepada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Biasanya teman-teman salafi yang pernah lulus dari Fakultas Syariah di LIPIA, agak lebih bisa menerima perbedaan pendapat. Tapi syaratnya, beliau lulus dari level Syariah, bukan sekedar I'dad Lughawi atau Takmili. Sebab Fakultas Syariah LIPIA itu kan jurusannya memang Muqaranatul Madzahib (Perbandingan Mazhab).
Sedangkan yang cuma lulus di Takmili atau hanya level I'dad Lughawi, memang tidak pernah belajar jurus-jurus perbedaan pendapat di kalangan ulama. Kalau terkesan suka menggurui dan memaksakan pendapatnya, wajar lah. Soalnya ilmu memang baru sampai disitu. Kuliah di LIPIA judulnya cuma mau belajar bahasa Arabnya, bukan belajar perbandingan madzhabnya.
Yang agak galakan dikit kalau keluaran langsung dari Yaman. Semisal murid-muridnya Syeikh Muqbil dan teman-temannya. Atau lulusan Madinah murid-muridnya Syeikh Dr. Rabi' Al-Madkhali. Sebenarnya kalau kita teliti teman-teman salafi di Indonesia, yang mengaji langsung kesana tidak terlalu banyak. Yang banyak itu cuma murid dari murid alias cucu murid. Sebab Dr. Rabi' Al-Madkhali sudah tidak lagi mengajar di Jamiah Islamiyah Madinah.
Pesan-pesan
Sebenarnya di Indonesia ini tidak sedikit kok orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi. Kita punya banyak doktor ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih dan bahkan kita juga punya kandidat doktor ahli Ushul Fiqh.
Dan bukan hanya dimiliki oleh kalangan salafi saja. Malah kalau saya amati, teman-teman di kalangan salafi itu belum terlalu banyak yang sudah sampai jadi doktor syariah.
Pesan saya sederahana saja. Kalau kita mau jadi jagoan bulu tangkis, wajar dong kalau kita belajar dari seorang Rudi Hartono, mantan juara All England 8 kali. Kalau kita mau jadi orang pandai dalam tata rambut, wajar juga kalau belajarnya kepada seorang Rudi Hadisuwarno, yang punya pengalaman. Dan kalau mau jadi ahli masak, nggak salah kalau belajarnya sama Rudi Chairudin yang wajahnya imut itu.
Maka saya sering katakan, bahkan kalau pun para murabbi di halaqah itu tidak bicara politik sekalipun, tapi bicara islam, tetap saja saya tidak menyarankan antum hanya belajar ilmu-ilmu agama dari mereka. Sebab umumnya para murabbi itu memang tidak menguasai ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih dan seterusnya. Paling-paling materi dasar semacam Makna syahadatain, Makrifatullah dan sejenisnya. Materi yang bisa dibaca sendiri atau bisa beli bukunya.
Yang antum butuhkan adalah kuliah di sebuah institusi resmi, dimana disana diajarkan berbagai ilmu-ilmu keislaman secara terstruktur. Dan yang lebih penting, dosen atau ustadznya juga bukan orang sembarang. Setidaknya secara formal adalah lulusan dari fakultas yang sesuai dengan ilmu yang diajarkannya.
Seharusnya halaqah-halaqah itu hanya sebuah proses penyaringan calon mahasiswa. Lulus halaqah, baru deh masuk ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kuliah Agama Islam, dimana disitulah belajar agama yang sebenarnya.
Jadi dalam pandangan saya, harusnya para kader itu harus lulus fakultas syariah. Setidaknya dari sisi level keilmuannya, tiap kader harus sudah mendapatkan minimal 144 SKS. Entah bagaimana caranya, itu bisa-bisanya para pengelola harakah.
Kalau saya pribadi, saya lebih suka menyelenggarakan kuliah syariah via internet. Selain murah, juga fleksible. Siapa saja boleh ikutan, dan yang menarik, tidak harus hadir kuliah. Semua bisa dilakukan lewat internet. Begini saja, silahkan saja klik link ini ( www.kampussyariah.com ) untuk penjelasan lebih detail.
Bagaimana dengan pengajian di salafi?
Ya sama saja. Kalau yang mengajar hadits disana adalah seorang doktor di bidang ilmu hadits, tidak ada salahnya belajar dari beliau. Demikian juga kalau yang mengajar ilmu fiqih itu adalah doktor Fiqih, silahkan saja.
Tapi kalau cuma sekedar memaksakan pendapat golongan, atau menjelek-jelekkan para ulama, serta menuduh umat Islam yang tidak ikut mengaji kepada mereka sebagai orang sesat, ahli bid'ah, calon penghuni neraka, ya sama juga bohong. Antum tidak akan mendapatkan tambahan ilmu, tapi cuma tambah banyak musuh. Bukan tambah santun, tapi malah congkak, sombong, belagu dan kurang kerjaan.
Seharusnya seorang yang bertambah ilmunya itu semakin bijak, luas wawasan, jauh pandangan, tidak gampang suudzhan. Punya pemahaman yang tinggi atas realitas perbedaan dan khilaf di kalangan para ulama. Hatinya berisi semangat saling menghormati dan menghargai antar ulama, serta konsentrasi kepada kesatuan dan persatuan umat lewat kerukunan dan ukhuwah Islamiyah.
Seorang talibul ilmi seharusnya selalu ingin menjauhkan diri dari fanatisme buta, kultus individu, arogansi berpendapat, sikap saling cela, saling maki, saling ejek dan saling tuduh sesat antara sesama pendapat ulama.
Karena pada dasarnya seorang yang berilmu itu harus menjadi rahmat untuk semua elemen umat, bahkan untuk semua manusia. Bukan jadi biang keributan dan keresahan umat.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warhmatulalhi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
www.warnaislam.com
Selasa, 30 Desember 2008 12:09