Sambutan Ketua Asosiasi BMT se-Indonesia (ABSINDO)dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES)

Filed under: by: 3Mudilah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di negara berkembang seperti Bangladesh, Fillipina, Pakistan dan Sudan perkembangan lembaga keuangan mikro berkembang begitu pesat dengan didukung oleh pemerintah maupun perundang-undangan. Namun di Indonesia walaupun belum ada undang-undang tentang lembaga keuangan mikro, masyarakat telah mengembangkan sendiri lembaga keuangan mikro yang berbentuk koperasi syariah, Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dan dalam bentuk yang lain. Kehadiran BMT sebagai Lembaga Keuangan Mikro Syariah merupakan lembaga pelengkap dari beroperasinya system perbankan syariah.

Di negara-negara tersebut di atas, Lembaga Keuangan Mikro digunakan sebagai alat untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan begitu diharapkan BMT dapat pula berperan sebagai alat dan media untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Kemampuan BMT untuk memberikan pembiayaan kepada usaha kecil tidak mungkin digantikan oleh bank syariah. Bank syariah tidak mungkin beroperasi dalam pembiayaan skala kecil, sementara masyarakat membutuhkan permodalan yang kecil tersebut. Sehingga kehadiran BMT merupakan suatu kebutuhan dalam membangun hubungan vertikal dengan bank syariah maupun pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Tumbuhnya BMT juga merupakan tuntutan dari masyarakat muslim yang menginginkan bermuamalah secara syariah untuk menjauhi dari bermuamalah secara ribawi. Oleh karena itu sebagai pengurus ABSINDO kami menyambut baik atas lahirnya buku “Tata Cara Pendirian BMT” yang dikarang oleh Bapak Prof. Dr. Amin Azis dan diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Ekonomi dan pemberian bantuan untuk kantin sekolah.

Khusus untuk beasiswa, BMT telah menyalurkan dana bagi siswa SD hingga mahasiswa. Kecuali mahasiswa, beasiswa diberikan langsung kepada individu melalui orang tua mereka, sedangkan untuk mahasiswa, bea siswa diberikan melalui perguruan tinggi tempat mereka belajar.

Seperti diungkapkan Farouk, berdirinya Lembaga Keuangan Mikro Syariah diharapkan Aa bisa menjadi solusi bagi umat dalam masalah ekonomi, minimal bagi lingkungan di pesantren, warga sekitar dan majelis taklim. Saat itu memang belum ada lembaga ekonomi syariah di sekitar DT.

Dalam perjalanannya, BMT DT pun pernah menghadapi masa-masa yang sulit akibat perputaran uang yang sempat macet. Itu terjadi antara tahun 2001-2003. Melihat hal demikian, pihak menajemen berusaha untuk mengevaluasi penyebab dan mencoba memperbaikinya. Faktor penyebab dari semuanya ternyata lebih lebih dikarenakan masalah internal, yaitu SDM dan infrastruktur yang masih terbatas. Mengetahui demikian, segeralah diambil langkah-langkah perbaikan.

Langkah yang diambil saat itu, merubah budaya kerja dengan peningkatan ruhiyah SDM. Para karyawan ditekankan untuk selalu memiliki ruhiyah yang kuat. Caranya adalah membiasakan mereka melakukan amalah sunnah seperti dzikir, shalat tahajud, dan puasa Senin-Kamis. Jadi, dengan tingkat keimanan yang semakin tinggi akan berbanding lurus dengan prestasi kerja. Itu seharusnya yang menjadi tolak-ukur sebagai pribadi muslim seutuhnya.

Dari situlah, perlahan namun pasti perkembangannya mulai membaik. Dan titik terang itu semakin kentara setelah sering mengadakan silaturahim dan studi banding dengan lembaga sejenis. Selain itu dengan menjalin kemitraan dengan sejumlah lembaga syariah semacam BMI, Bank Syariah Mandiri, PNM dan lain-lain. Para pengelola belajar banyak mampu itu, bukannya tanpa hambatan. Hambatan yang paling besar adalah kesadaran warga untuk tidak meminjam uang kepada rentenir. "Bahkan, selebaran BMT yang dipasang di pasar sampai disobek. Tapi, kita tidak mau menuduh pihak mana yang melakukan (penyobekan) itu," tutur Dedi.

Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu dan upaya yang dilakukan oleh pengurus BMT, sedikit demi sedikit kesadaran warga mulai terbangun. Hingga saat ini nasabah penabung BMT sudah berjumlah 5.000 orang. Sepuluh persen dari jumlah nasabah itu merupakan korban jeratan rentenir, yang akhirnya beralih menjadi nasabah BMT.
Kredit macet ini biasanya terjadi pada peminjaman uang dalam jumlah kecil. Akan tetapi, BMT tidak bisa berbuat banyak karena pihak peminjam memang sudah tidak mampu lagi membayar. "Mereka itu (peminjam) biasanya sangat jujur karena usahanya bangkrut atau karena ada musibah akhirnya mereka tidak bisa membayar lagi hutangnya," jelas Farouk.

Bagi mereka yang terkena musibah, baik jatuh sakit atau bangkrut, BMT dapat menggunakan dana ZIS (zakat, infak, dan sedekah) untuk membantunya. Dari dana bantuan tersebut, nasabah harus membayar kewajibannya kepada BMT. "Yang penting hutang pokoknya bisa terbayar dahulu," jelasnya lebih lanjut.

Salah satu upaya untuk menghindari kredit macet ini, bagi mereka yang akan meminjam antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, uang yang diberikan diambil dari dana ZIS sehingga mereka tidak harus membayar bagi hasil, bahkan bila tidak terbayar pun tidak apa-apa. "Tapi hal tersebut tidak mungkin kita katakan pada nasabah yang akan meminjam uang, karena tidak akan mendidik," tegas Farouk.

Selain memberikan pinjaman ringan kepada masyarakat yang tidak mampu, BMT juga memiliki program berjalan yang lain. Di antaranya pemberian beasiswa, bakti sosial, Syariah. Untuk itu kepada penulis dan penerbit kami ucapkan terima kasih.

Buku ini diterbitkan sejalan dengan keinginan ABSINDO untuk membentuk BMT sejumlah 10.000 di seluruh tanah air. Dengan adanya buku ini gerakan BMT 10.000 akan mudah terwujud. Untuk itu kepada semua pihak, kiranya dapat membantu menyebarluaskan buku ini serta membantu terbentuknya BMT di tanah air sejalan dengan usaha ABSINDO maupun Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) untuk memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan ekonomi masyarakat.

Akhir kata kepada semua pihak yang telah membantu menyebarluaskan serta memberikan bantuan untuk memperbanyak buku ini, kami mengucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Aries Muftie

BERKACA DARI NILAI-NILAI
JIHAD MENGEMBANGKAN BMT.

Dari seluruh fase-fase pengembangan, BMT sangat memerlukan penguatan nilai-nilai ruhiyah sumber daya insaninya sehingga BMT dapat berkembang secara berkelanjutan dan akan selalu berada dalam pengawasan malaikat yang tertanam dalam setiap hati pengelola dan pengurusnya. Jika mungkin, bahkan dari dalam lubuk hati setiap anggotanya. Ini dicerminkan oleh beberapa contoh BMT di bawah ini.

BMT Tumang, desa Cepogo, Boyolali misalnya, didirikan tanggal 1 Oktober 1998, dengan modal awal Rp. 7.050.000.- terkumpul dari 60 orang anggota pendirinya. Pada saat pendirian Sahabat (Shbt.) Adib Zuhairi, mendapat ide pendirian BMT dari PINBUK Jakarta, kembali ke desanya di Boyolali untuk memulai pendirian BMT.

Berpendidikan S-1 di bidang ilmu sosial, dibantu oleh dua orang mitra kerja berpendidikan menengah atas, mendapat pelatihan dari PINBUK selama 2 minggu dan memulai mengembangkan BMT Tumang ini dengan modal awal itu. Manajemen kemudian merekrut dua orang staf berpendidikan S-1 untuk bidang pemasaran, dan alhamdulillah, BMT Tumang berkembang dari aset Rp. 18 juta akhir Oktober 1998, Rp. 95 juta di akhir 1999, Rp. 212 juta di akhir 2000, Rp. 406 juta di akhir 2001, dan hampir Rp. 2 Milyar di akhir 2003, melayani lebih dari 1.000 anggota peminjam pengrajin-pengrajin tradisional dan semi modern alat-alat rumah tangga dan kerajinan seni ukir perlengkapan rumah tangga dan perkantoran, disamping menerima simpanan dari lebih 1800 anggota penabung.

BMT Baiturrahman, di lingkungan pabrik pupuk Kaltim di Bontang, didirikan April 1998, dengan modal awal Rp. 28,9 juta, dari 30 orang anggota pendiri, dikelola oleh sebagian besar pengelola berpendidikan S-1, dengan gaji awal masa pendirian sekitar Rp. 100 – Rp. 150.000.- Pada akhir tahun 2001, BMT Baiturrahman telah memiliki kekayaan lebih dari Rp. 2 Milyar, bila ada mitra BMT yang berasal dari Majalengka atau Cirebon.

Sedang menurut Manager BMT, Achmad Farouk, Baitul Maal wat Tamwil DT merupakan lembaga pioneer di bawah Yayasan DT yang menangani masalah ekonomi. Dari situlah nantinya lahir lembaga lain yang kegiatannya bisnis oriented, seperti Swalayan, Radio, Cortage, dan lainnya.

Nama BMT : BMT Daarut Tauhid
Alamat : Jl. Geger Kalong Hilir
Motto : Berjamaah dalam bermuamalah
Tanggal berdiri : 14 Juli 1994
Para pendiri : H A Koswara. KH Abdullah Gymnastyar, Retno, Dikdik
Jumlah nasabah awal : 50-100 orang
Aset sekarang : Rp 10.977.615.704,11
Modal sendiri : Rp 1.142.769.948,64
Anggota penabung saat ini : 4.000-5.000 orang
Anggota pembiayaan : 800 orang
Latar belakang nasabah : pedagang, kontrakan, katering, home industri, percetakan, Busana muslim, Perbengkelan, Makanan, jamaah pengajian

Berdirinya BMT tersebut berawal dari kekhawatiran akan meluasnya praktek rentenir. Menjelaskan, visi dan misi awal pendirian BMT ini untuk mengikis praktik rentenir yang menjerat masyarakat golongan ekonomi lemah. Warganya banyak yang terjerat hutang kepada rentenir. Alasannya, mereka kesulitan bila harus meminjam uang ke bank karena jumlah uang yang dibutuhkan biasanya kecil (antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta).

Akhirnya, mereka memilih jalan pintas dengan meminjam uang ke rentenir, dengan risiko harus membayar bunga sangat tinggi yang jumlahnya menjerat leher. Melihat kondisi seperti inilah, BMT kemudian didirikan untuk memberi alternatif bagi mereka yang akan meminjam uang dengan kewajiban pengembalian yang cukup ringan.

Saat mensosialkan program BMT kepada warga yang tidak syariah Baitul maal wat Tamwil Daarut Tauhid dengan modal awal Rp 250.000,-. Sejak saat itulah dengan segala keterbatasan dan modal semangat, aktivitas BMT dimulai. Tentang pola syariah yang diterapkan, awalnya mereka mendapat pelatihan dari PINBUK.

Dengan SDM seadanya, sistem yang masih manual dan infrastruktur yang masih terbatas, BMT DT pun bergerak. “Memulai ‘dakwah bil hal’ dengan penuh semangat,” tutur Farouk. Para pengelola mulai mensosialisasikan BMT terutama pada para santri dan jamaah DT.

Ternyata tanggapan jamaah cukup bagus. Setidaknya ada sekitar 50 sampai 100 orang menitipkan uangnya di BMT di tahun pertama. Dari sinilah geliat ekonomi di Kopontren DT tumbuh. Sejumlah lembaga usaha dengan pembiayaan dari BMT pun berdiri.

Memasuki BMT kopontren Daaruttauhid, yang menyatu dengan kantor DPU (Dompet Peduli Umat), kesibukan karyawan cukup terasa. Terlihat teller melayani para mitra yang datang untuk transaksi. Sebagian lagi menunggu di ruang tunggu. Meski ruangannya sempit, tidak mengurangi jumlah orang yang ingin bermitra dengan satu-satunya lembaga keuangan mikro syariah yang dimiliki DT.

Tidak dipungkiri, nama besar Aa Gym menjadi barakah tersendiri bagai BMT. Banyak masyarakat yang juga jamaah pengajian DT, mempercayakan penyimpanan uangnya di BMT. Bahkan seperti dikatakan salah seorang mitra BMT yang tinggal di daerah Martadinata, dengan menyimpan uang di DT, secara tidak langsung telah membantu mensyiarkan Islam. Karena, keuntungan yang diperoleh DT tentunya digunakan untuk membantu pengembangan dakwah DT.

Memang seperti diakui Kepala divisi Marketing DT, Roni Syahroni, Banyaknya orang yang menitipkan uangnya dan bermitra dengan BMT tidak lepas dari Figur Aa Gym sebagai pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid. Setidaknya perkembangan BMT seiring dengan perkembangan jamaah DT yang terus meningkat.

Dan tidak semuanya tinggal di Bandung. Tidak sedikit yang berasal dari luar Bandung. Maka tidak aneh dengan modal sendiri dinaikkan lebih dari Rp. 178 juta. Anggota yang dilayani adalah pengusaha mikro dan karyawan dari pabrik pupuk Kaltim, dengan jumlah anggota peminjam 2.359 orang dan anggota penabung 3.789 orang. Pada saat ini pengelolanya adalah Mbak Retno, lulusan Universitas Gajah Mada, cukup terampil dan amanah dalam menjalankan bisnis BMT bersama rekan-rekan sekerjanya yang sebagian besar juga wanita.

BMT Marhamah di desa dan kecamatan Leksono, Wonosobo, didirikan oleh 104 anggota pendiri dengan modal awal terkumpul Rp. 875.000.-, pada 16 Oktober 1995. Pada akhir 2001, BMT Marhamah dikelola oleh 12 orang pengelola berpendidikan S-1 (8 pria, 4 wanita), 3 orang D-3 semuanya wanita, 8 orang SLTA (4 wanita dan 4 pria). Pada akhir 2001 tersebut Aset BMT Marhamah telah mencapai hampir Rp. 2 Milyar, yang meningkat bertahap dari Rp 38 juta (’95), Rp. 89 juta (’96), Rp. 201 juta (’97), Rp. 541 juta (’98), Rp. 1216 juta (’99), Rp. 1560 juta (’00), dan Rp. 1938 juta (’01). Pada akhir 2001, BMT ini membiayai lebih dari 4.000 anggota peminjam terdiri dari pengrajin jamur, larica, keripik, mebeleir, kerajinan bambu, bahan bekas dan plastik, konveksi, keramik, waserda, pedagang kecil, petani sayuran, padi, teh, kopi, ayam, kambing, ikan mas, lele, dan lain-lain. Anggota penyimpan lebih dari 5.000 orang. Gaji pengelola dari rata-rata Rp. 100.000.- di tahun pertama naik bertahap menjadi Rp. 200.000.-, Rp. 400.000.- dan akhir 2001 rata-rata telah hampir mencapai angka Rp. 1 juta.

BMT Marsalah Mursalah lil Ummah (MMU), di pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan, memiliki cerita tersendiri dengan penulis. Pada awal 1997, kami mengikuti perjalanan Menteri Koperasi (pada waktu itu Pak Subiyakto Tjakrawerdaya) di pertemuan Kyai-kyai Pesantren di Genggong Jawa Timur. Kami membagi-bagikan buku “Cara Pembentukan BMT”. Pada November 2000, kami berkunjung ke Sidogiri, dan kami diterima oleh K. H. Machmud Zein, yang sekarang adalah anggota DPD Jawa Timur.

Beliau menjelaskan bahwa buku Cara Pendirian BMT yang diterimanya dari kami di awal 1997 itu, didiskusikannya lebih dari 6 bulan dengan para guru-guru di Pesantrennya. Barulah sekitar Agustus 1997 dicapai kesimpulan untuk mendirikan BMT, setelah kajian yang panjang itu. Pada 4 September 1997 BMT MMU didirikan oleh pendiri 20 orang dengan modal awal terkumpul Rp. 15 juta. Pada waktu kunjungan kami, November 2000 itu, BMT MMU telah mencapai aset Rp. 1.3 Milyar, dan alhamdulillah pada akhir 2001 telah mencapai aset Rp. 2,7 Milyar dan April 2004 Rp. 9,4 Milyar, dengan modal sendiri terakhir lebih dari Rp. 2,8 Milyar. BMT MMU dikelola oleh para manajer yang lulusan pesantren itu sendiri dengan mendapat pelatihan dari PINBUK dua minggu, dan pendampingan lanjutannya.

BMT Ben Taqwa, di kecamatan Godong, Kabupaten Purwodadi Jawa Tengah, didirikan oleh 20 anggota pendiri, dengan modal awal Rp. 32 juta, pada 16 Nopember 1996. Pembawa ide pendirian BMT Ben Taqwa adalah sdr Drs Junaidi Muhammad MM lulusan Fakultas Ushuluddin Universitas Muhamamdiyah Solo, meluluskan S-2 nya dari Universitas yang sama bekerjasama dengan seorang tokoh masyarakat di kecamatan Godong, H. Hadi pengusaha perhiasan emas.

BMT Ben Taqwa didiirikan oleh 30 orang anggota pendiri yang mengumpulkan modal awal Rp. 32 juta. Shbt Junaidi dilatih oleh PINBUK selama dua minggu, dan berhasil mengembangkan BMT Ben Taqwa yang pada akhir 2000 mencapai aset Rp. 10 Milyar, di April 2004 telah mencapai aset Rp.17,1 Milyar. Dari aset Rp. 17 Milyar itu hanya Rp. 4 Milyar pinjaman dari Bank, yang berarti Rp. 13 Milyar adalah dana masyarakat sendiri di lokasi sekitar kecamatan Godong, Purwodadi tersebut, yang terdiri dari 10.000 anggota penabung. BMT Ben Taqwa membiayai lebih dari 3.000 pengusaha mikro dan kecil. Pada akhir tahun 2002, kami diminta membuka outbond training di Tawang Mangu, Solo diikuti lebih dari 100 orang staf dan karyawan BMT Ben Taqwa, yang setengahnya adalah lulusan S-1 berbagai Perguruan Tinggi di sekitar Jawa Tengah.

BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS), didirikan tahun 1995, beroperasi di daerah pesisir utara Jawa, diantara nelayan- Dakwah melalui Ekonomi dengan Sistem Syariah pada BMT Kopontren Daaruttauhid Bandung

( Contoh.3 )
Representasi dari pemahaman, pendalaman, eksistensi harus diterjemahkan dalam hidup bermasyarakat dalam lingkungannya. Karena dalam sabda Rasulullah yang kurang lebih kalau diterjemahkan ‘bahwa manusia yang berhasil adalah manusia yang dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain’. Dalam usia bumi yang semakin tua dituntut dari insan-insan itu, pengaktualisasi dalam segala tingkah yang membumi dengan bahasa yang universal. Sistem syariah adalah sebuah sistem yang merupakan solusi terhadap segala perkembangan dan perubahannya. Keadilan adalah sendi dasar dari sistem tata nilai Syariah. Syariah adalah sistem untuk siapa saja, tidak mengenal batasan-batasan teritorial, suku bangsa, tetapi adalah merupakan solusi terhadap pengelolaan ekonomi yang ada di permukaan bumi.

Sedangkan selama ini setiap yang bersinggungan dengan syariah itu adalah orang banyak mengenalnya dengan lembaga tidak ada profit oriented, tetapi sangatlah mustahil untuk dapat berjalan. Karena syariah itu harus dilakukan dengan konsep profesional, jadi bingkai syariah tidak bisa terlepas dari prinsip profesional. Jadi keberlangsungan sistem syariah harus dapat ditopang oleh prinsip bisnis yang dijalankan oleh lembaga keuangan yang dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, pihak tersebut adalah nasabah dengan lembaga.

Kemudian Aa sebagai pendiri DT menyampaikan gagasan kepada para santri tentang pendirian sebuah lembaga yang bergerak dalam ekonomi syariah. Gagasan itu pun kemudian bersambut. H E Koswara yang juga ayah kandung Aa mendukungnya, demikian juga dengan para santri yang terdiri dari Didiek Heriani, Ahmad Sugandhi, dan Retno Tripujiastuti. Kebetulan Didik, salah satu santri pernah kuliah mendalami akutansi di sebuah perguruan tingi di Bandung. Secara teknisnya, dia mencoba menerjemahkan gagasan Aa ini.

Hasilnya, tanggal 14 Juli 1994, berdiri lembaga keuangan Mikro soal ibadah mahdhah, tapi kurang menguasai ilmu muamalah,'' kata Burhan. Tak heran beberapa praktik BMT akhirnya tidak sesuai syariah akibat ketidaktahuan pengurus dan lemahnya peran DPS.Dia mencontohkan banyak BMT yang mengambil dana program bantuan pemerintah untuk usaha kecil. Padahal pengembalian dana itu berbasis bunga bank. Sebelumnya ada yang berpendapat bahwa mengambil dana itu tidak apa-apa asalkan semua langsung disalurkan ke masyarakat. ''Tapi ternyata oleh DSN itu tetap dianggap haram,'' kata Burhan. Sementara dana pemerintah itu bisa menopang kehidupan BMT.

Sebelumnya, Wakil Ketua DSN, KH Anwar Ibrahim, mengakui fatwa DSN memang masih bersifat global. Karena itu perlu ada pengembangan agar fatwa dapat memenuhi kasus per kasus. ''Tapi yang bermasalah bukan fatwanya. DPS di BMT sendiri juga belum optimal,'' kata Anwar. Anwar mengakui tiap model transaksi memang memerlukan fatwa. Karena itu untuk memaksimalkan peran DPS, dia usul praktisi syariah bekerja sama dengan MUI daerah. Untuk Jawa Tengah, menurut dia, banyak pesantren. Masalahnya, kata dia, lagi-lagi pemimpin pesantren belum memahami referensi fiqh muamalah dan praktik ekonomi syariah di lapangan.
nelayan kecil, di Lasem, Rembang.

Pemrakarsanya adalah Shbt. Drs Abdullah Yazid MM, S-2 nya di Universitas Muhammadiyah Solo, berhasil menggerakkan lebih dari 20 para pendiri dengan mengumpulkan modal awal Rp. 10 juta. Pada April 2004, BMT BUS telah memiliki Rp. 17,1 Milyar aset, dengan modal sendiri mencapai Rp. 3,5 Milyar yang dari segi penilaian Capital Adequacy Ratio (CAR) sudah sangat memadai (lebih dari 20%), mendapat pinjaman dari Bank dan PNM hanya berjumlah Rp. 2,3 Milyar, yang berarti sekitar Rp. 14,8 Milyar adalah dana masyarakat yang terakumulasikan dari masyarakat pesisir tersebut. BMT BUS telah memiliki kantor sendiri yang cukup indah terletak dipinggir jalan raya Pantura di Lasem. Di BMT ini sekarang dilaksanakan pendidikan Community Leaders Program untuk karyawan-karyawan BMT BUS dan BMT-BMT lain di sekitarnya, bekerjasama dengan Institute for Community Leaders (ICL) dan Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Agung (Unissula).

Dewasa ini telah tersebar lebih dari 3.000 BMT di seluruh Nusantara, memiliki aset (konsolidasi) lebih dari Rp. 1 Triliun, dengan jumlah pengelola lebih dari 30.000 orang, hampir setengahnya S-1 dan wanita. BMT melayani lebih dari 2 juta penabung, dan memberikan pinjaman pada lebih dari 1,5 juta pengusaha mikro dan kecil. Terbukti bahwa BMT mampu berkembang berlandaskan pada swadaya para pemrakarsa pendiri dari masyarakat lokal itu sendiri, dengan modal awal yang tidak begitu besar ketimbang mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). BMT menghimpun dana dari aghnia dan mereka yang berlebih dalam masyarakat lokal dan memberikan pembiayaan pinjaman pada pengusaha-pengusaha mikro di desa itu sendiri. BMT mampu menghimpun dana dan memberikan pembiayaan pada berbagai lapisan masyarakat, terutama yang miskin, dengan latar belakang ideologi politik dan kepercayaan yang berbeda-beda. Bahkan kami temui ada BMT di Tulung Agung yang pengelolanya terdiri dari Pemuda Anshor dan Pemuda Muhammadiyah. Mereka rukun dan sukses dalam mengembangkan usaha BMT mereka secara ukhuwwah.

Dari lebih 3.000 BMT tersebut, ada yang berhasil dan tentu ada pula yang kurang bahkan tidak berhasil. BMT-BMT yang berhasil antara lain adalah karena

a). secara operasional mampu melaksanakan prinsip-prinsip syariah secara berkesinambungan, yang dilandasi oleh kekuatan ruhiyah yang memadai dari pengurus dan pengelolalanya;

b) adanya komitmen dan ghirah yang tinggi dari pendiri & pengelolanya, yang itupun berpangkal dari kesadaran ruhiyah yang cukup baik.

c) didirikannya berorientasi pada landasan niat untuk beribadah pada Allah swt melalui penguatan ekonomi dan perbaikan kualitas kehidupan ummat;

d) meluasnya dukungan dari para aghnia dan tokoh-tokoh masyarakat setempat termasuk perusahaan-perusahaan yang ada disekitarnya;

e). kemampuan manajemen dan keterampilan teknis lembaga keuangan pengurus dan pengelolanya yang didukung oleh pelatihan yang cukup dan lengkap meliputi teori, praktek dan MMQ (metoda memahami dan mengamalkan al Quran);

f). mampu memelihara kepercayaan masyarakat yang tinggi melalui hubungan emosional yang islami;

g) pendiriannya dilakukan sesuai dengan petunjuk yang antara lain tercermin dalam buku “ Pedoman Cara Pendirian BMT”;

h). kemampuan menghimpun dana dengan pendekatan pendekatan islami dan manusiawi;

i) berusaha secara terus menerus menjadi lembaga penyambung dan pemelihara ukhuwwah islamiyah diantara pengurus, pengelola, pokusma (“Kelompok Usaha Muamalah”) dan anggotanya.

Jika terdapat BMT yang kurang bahkan gagal beroperasi antara lain adalah karena tidak mengikuti atau menyimpang dari persyaratan atau faktor-faktor keberhasilan yang disebutkan di atas. Mereka tidak memahami ruhnya BMT, mendirikan dan menjalankannya dengan hanya bermodal semangat dan keinginan semata tanpa penguasaan ruh, ilmu dan pengetahuan teknis serta manajemen BMT. BMT telah berdiri di depan dalam hal gender awareness telah merekruit tenaga-tenaga pengelola dan staf BMT dari kaum perempuan.

BMT yang ditumbuhkan secara swadaya dan berakar di masyarakat “bawah” ini, telah menjadi kenyataan yang berdiri paling depan dalam menyaingi para rentenir. BMT Pahlawan di Tulung Agung pernah dilumuri kotoran manusia di depan pusat inkubasi usaha kecil (Pinbuk), Kamis (13/10).

Akad murabahah di BMT juga jauh lebih rumit dibanding yang dipraktikkan bank syariah. Di perbankan jumlah dan jenis barang yang diikutkan dalam transaksi murabahah biasanya terbatas. Sedangkan, BMT banyak membiayai pedagang kelontong dengan puluhan item barang. Adi mengatakan dari sisi aset, BMT memang masih kecil.

Karena itu pembiayaannya pun membidik usaha mikro dan kecil. Namun, dia yakin BMT akan memberi kontribusi yang besar dalam pengembangan perekonomian syariah karena jumlahnya besar dan lokasinya pun tersebar hingga ke daerah terpencil.

Adi bercerita tahun 1995 pernah memberikan ceramah mengenai perkembangan ekonomi syariah di Indonesia di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu dia mengulas BMT di tanah air ketimbang bank syariah karena saat itu baru ada satu. ''Mereka malah bilang justeru BMT itulah yang sesuai dengan Islam. Dulu Islam berkembang dari kalangan miskin dan budak,'' kata Adi. Adiwarman menyayangkan DSN belum memberikan kontribusi dalam pengembangan BMT. DSN MUI, menurut dia, lebih banyak mengawal perbankan dan asuransi syariah.

Untuk itu, Adi mengimbau sebuah komite pengembangan BMT yang terdiri dari praktisi BMT. Tugasnya mengembangkan produk BMT serta standar akuntansi dan legal formal transaksi BMT. ''Untuk perumusan lanjutnya bisa minta bantuan Pinbuk,'' kata Adi. M Burhan, pengurus BMT Safinah di Klaten, mengakui inovasi produk pembiayaan BMT muncul dari keterbatasan. BMT tak punya referensi akad DSN MUI. Sementara akad yang ada di perbankan syariah amat terbatas untuk bisa dipraktikkan di BMT.

Ia juga mengakui BMT belum dikawal dewan pengawas syariah (DPS) yang mumpuni. ''Banyak kyai yang pandai membantu kita yaitu dengan menghidupkan orientasi Maal pembiayaan non profit dalam rangka pemberdayaan umat. Awalnya ini dilakukan dari modal zakat karyawan dan telah mendapat rekomendasi dari Pemerintah Dati II dan dalam 2 bulan ini hasil operasional akan kita ekspos ke media cetak setiap 3 bulan”, ungkap H. Yusuf berpromosi.

Apalagi sebutnya lagi, prospek BMT ke depan sangat bagus. “Karena Gerobogan potensi dananya sangat besar sedang kelemahan dari lembaga perbankan adalah tidak menyalurkan kredit kepada lapisan bawah. Dana masyarakat di neraca ada Rp5,2 milyar tersalur, Rp5,6 milyar dalam bentuk kredit dan masih ada Rp400 juat di lempar ke pembiayaan potensi masyarakat agraris. Di Gerobogan sangat bagus dan dasarnya rakyat adalah 70% hidup di sektor pertanian”. Ke depan, di Ben Takwa akan di kembangkan Baitul Mal perbandingan yaitu Baitul Mal dan Tamwil idealnya 70% : 30%. Jadi konsep pemberdayaan yang tidak bisa didukung oleh legalitas jaminan maka disuplai dari Qardul Hasan di Baitul Mal nya, namun hal ini butuh dana yang besar maka Ben Taqwa akan mengakses dengan dana LSM, dana masyarakat baik di dalam dan di luar negeri untuk masuk di sektor modal Baitul Mal (pembiayaan tanpa bagi hasil).

Meski sama-sama menjalankan fungsi intermediasi dan masa pertumbuhan yang berbarengan, produk yang ditawarkan baitulmal wattamwil (BMT) lebih inovatif dan variatif dibanding bank syariah. Sebagian besar pengembangan produk BMT belum tersentuh fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.

Direktur Karim Business Consulting, Adiwarman A Karim pada Penguatan SDM pada praktisi BMT, mengomentari 12 akad transaksi yang diajukan pengurus BMT kepada DSN. ''Saya yang pernah kerja di bank syariah saja belum pernah berfikir ada produk seperti arisan. Bagaimana mungkin orang bank bisa memikirkannya,'' kata Adi pada pelatihan kantornya oleh para pelepas uang. Di banyak BMT, pengelolanya mendapat ancaman dari para rentenir dan para pendukung gelapnya. Walaupun setitik, adalah kenyataan bahwa BMT telah berada di garda terdepan dalam berdakwah secara nyata, riil, bil haal, “merobah nasib ummat” dalam kacamata ekonomi kerakyatan, sekaligus dalam kacamata berjihad, membangun peradaban ummat yang berkembang dan benderang.

Dewasa ini telah diusahakan berbagai upaya untuk memperkuat jaringan antar BMT dengan mendirikan Induk Koperasi Syariah BMT, Koordinator Pengembangan BMT, PINBUK Konsulindo, PINBUK Multiartha Kelola , PT USSI Prima yang menyediakan teknologi informasi untuk administrasi dan jaringan BMT, Laznas BMT, Da’i Fi-ah Qaliilah, yang merupakan sarana-sarana kelembagaan untuk merintis “barisan semut” dalam rangka perbaikan kualitas ekonomi dan kehidupan ummat. Lebih lanjut, perkembangan BMT yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah akan memberi landasan untuk pengembangan model pemikiran teori ekonomi alternatif, juga mencari landasan praktis bagi perwujudan ekonomi kerakyatan melalui pengakaran BMT dan membuka peluang pengembangan model manajemen alternatif yang dipandu oleh kekuatan ruhiyah.

Terdapat lebih dari 30.000 pemuda pemudi, lebih dari setengahnya berpendidikan S-1 dari berbagai jurusan, dan 40% daripadanya adalah perempuan, yang berkiprah sebagai pimpinan, staf dan karyawan BMT. Ini belum termasuk pengurus BMT dan pengurus PINBUK yang ada di hampir semua kabupaten/kota. Untuk melangkah lebih mantap ke depan, baik untuk keseluruhan Gerakan BMT yang masih belia ini, maupun secara individual, insan BMT dan insan PINBUK perlu memperkuat diri dalam “pertahanan dan pengembangan ruhiyah”, dalam “kekuatan ruhiyah”, sehingga dengan metodologi Spiritual Communication, dzikir qalbiah ilahiyah yang lebih padu antara ukir, pikir, dan dzikir, insya Allah akan lebih menempa sikap dan perilaku yang lebih sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah, sehingga dapat meletakkan landasan yang kuat dan kokoh dalam kita menempa masa depan yang lebih gemilang: membangun masyarakat terpuji, peradaban Muslimin yang berkembang dan benderang, penuh keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan.

Perlu dikembangkan kesadaran bahwa BMT bergerak tidak hanya pada tataran ar-rahmaan: membawa rahmat pada sekalian alam, tetapi juga pada arrahiem Allah: membangun dan memelihara jaringan ukhuwwah seluruh potensi kaum Muslimin. Dengan demikian, insya Allah setiap BMT bisa jadi setitik cahaya penerang bagi kehidupan ummat. Cahaya itu akan tumbuh dan berada dimana-mana antara satu dengan lainnya terjalin baik, yang suatu saat akan menjadi suatu kekuatan dahsyat dalam membangun peradaban ummat, insya Allah. Para sahabat, kami harap untuk ikhlas memprakarsai tumbuh dan berkembangnya setitik cahaya itu. Insya Allah. Allaziina jaahadu fiinaa lanahdiyannahum subuulanaa, pesan Allah. ”Mereka yang berniat dan menegakkan jihad pada jalan-jalan Kami, Kami akan memberikan Petunjuk, Jalan-jalan yang mudah untuk mencapainya”, demikian kami artikan. Mari berjihad mengembangkan setitik cahaya itu.

Selamat Berjuang

Prof. DR. Ir. M. Amin Aziz

Memperbesar Volume Pembiayaan

Logika dasar sebagai besar pembiayaan akan di tentukan jumlah dana yang masuk, maka kiat yang kita ajuakn adalah pembiayaan bisa lebih besar dari nasabah kalau sudah melewati fase I, II, II, (sebagai kriteria sudah jadi nasabah loyal di Ben Takwa) dan bisa diukur dari pertama, pinjaman di Ben Taqwa sudah berulang kali, kedua, tingkat jaminannya semakin lama semakin baik nilainya dan ketiga, kelancaran angsurannya semakin hari semakin baik. Sehingga kemungkinan pembiayaan dapat di perbesar maximal Rp10 Juta.

Pembiayaan Rp25 juta ke atas diharuskan bagi nasabah-nasabah tertentu saja, yaitu punya jaringan kerja antar kelembagaan. Misalnya, antara PINBUK Kabupaten, maka kita memakai jaringan itu untuk membangun komitmen yang besar. Sedangkan Strategi memperluas pembiayaan menurut Junaidi, pihaknya melakukan dengan kontrak muamalat yang mana setiap nasabah yang masuk harus mendapatkan referensi dari nasabah lama yang sudah ada dalam jaringan muamalatnya.

“Di Ben Taqwa ada istilah Blok Sistem. Dengan kantor memiliki blok-blok sistem perwilayah barat, timur, selatan dan utara yang dibuat dengan kesatuan muamalat yang sangat kental (sistem domino)”, ungkanya lagi.

Sedangkan kredit macet yang tertunggak di Ben Taqwa hanya mencapai 1% saja. “Hal ini dapat ditekan dengan strategi menjadikan kredit macet itu bukanlah sebagai momok, kredit macet akan timbul kalau kita bisa meningkatkan kinerja karyawan kita, analisa usaha dan bisnis harus baik kinerja karyawan dengan meningkatkan profesionalitas kawan-kawan di bagian pemasaran, skala prioritas di Ben Taqwa adalah bukan kredit macet tapi mencari dana sebesar-besarnya baru melempar kredit kalau sudah selesai baru penanganan kredit macet dengan evaluasi kerja setiap minggu. Ya strategi dasarnya adalah bagaimana mencari dana sebesar-besarnya dan menekan kredit macet”,
Mengenai jaminan, menurutnya memang salah satu syarat. Selain itu persyaratan legal formal pengajuan pembiayaan juga sama saja dengan bank umumnya. Hal ini penting untuk mencegah adanya pembiayaan macet.

Dia menjamin akan memproses proposal pembiayaan dengan cepat bila semua syarat terpenuhi. ''Kita bisa proses maksimal tujuh hari sesuai service leverage agreement,'' kata Junaidi.

Meyakinkan Penabung

Membangun komunikasi dan informasi ke masyarakat merupakan faktor yang diprioritaskan Ben Taqwa. Secara eksternal dengan masyarakat lauas yaitu melalui media dakwa yang dengan mendoktrinasi umat lewat mimbar. Komunikasi yang baik dengan pihak Kopontren dan meyakinkan masyarakat akan keamanan dana penabung

Secara internal komunikasi yang dibangun adalah untuk menciptakan jaringan yangb solid di level karyawan dengan sistem asuransi (pengembangan jaringan) 1 nasabah bisa menginformasikan 20 nasabah dan seterusnya. “Dalam meyakinkan penabung yang besar, kita memakai piramida, negosiasi untuk level Rp100 juta ke atas di tangani oleh manager dan general manager negosiasi Rp100 juta ke bawah hanya oleh anak buah”, ungkap General Maneger ini yang dikenal cukup luas dikalangan profesional BMT se Jawa Tengah. Visi Pengembangan BMT Ben Taqwa ke Depan BMT Ben Taqwa pada masa depan menargetkan agar di seluruh Kadipaten akan terdapat cabang-cabang BMT Ben Takwa. “Di setiap Kecamatan sampai saat ini sudah ada 7 cabang di 17 Kecamatan, selain itu sekarang sudah ada dari pondok pesantren yang sudah mau

0 comments: