Ulama Syafi’iyah Mengharamkan Memangkas Jenggot

Filed under: by: 3Mudilah

Bahasan berikut adalah berisi penjelasan mengenai haramnya memangkas jenggot bahkan hal ini disuarakan oleh ulama Syafi’iyah yang jadi rujukan Kyai atau Ulama di negeri kita. Simak dalam tulisan sederhana berikut.



Bukti Perintah Memelihara Jenggot dalam Hadits

Hadits pertama, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.”

Dalam lafazh lain,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى
Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.

Dalam lafazh lainnya lagi,
أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَةِ
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong pendek kumis dan membiarkan (memelihara) jenggot.”[1]

Hadits kedua, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.[2]

Hadits ketiga, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْهَكُوا الشَّوَارِبَ ، وَأَعْفُوا اللِّحَى
Cukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.[3]

Hadits keempat, dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.”[4]
Ulama besar Syafi’iyah, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh,
أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا
Semua lafazh tersebut bermakna membiarkan jenggot sebagaimana adanya.”[5] Artinya menurut Imam Nawawi merapikan atau memendekkan jenggot pun tidak dibolehkan.

Alasan Terlarang Memangkas Jenggot

Berikut adalah beberapa alasan lainnya mengapa jenggot dilarang dipangkas dan tetap harus dibiarkan sebagaimana adanya.

Pertama: Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat,
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.”

Kedua: Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh (menyerupai) wanita. Kita ketahui bersama bahwa secara normal, wanita tidak berjenggot. Sehingga jika ada seorang pria yang  memangkas jenggotnya hingga bersih, maka dia akan serupa dengan wanita.[6] Padahal dalam hadits disebutkan,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita.”[7] Imam Al Ghozali berkata, “Dengan jenggot inilah yang membedakan pria dari wanita.”[8]

Ketiga: Mencukur jenggot berarti telah menyelisihi fitroh manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.”[9]

Di antara definisi fitroh adalah ajaran para Nabi, sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan ulama.[10] Berarti memelihara jenggot termasuk ajaran para Nabi. Kita dapat melihat pada Nabi Harun yang merupakan Nabi Bani Israil. Dikisahkan dalam Surat Thaha bahwa beliau memiliki jenggot. Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي
Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku.“ (QS. Thaha: 94). Dengan demikian, orang yang memangkas jenggotnya berarti telah menyeleweng dari fitroh manusia yaitu menyeleweng dari ajaran para Nabi ‘alaihimush sholaatu was salaam.

Bukti dari Ulama Syafi’iyah

Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm berpendapat bahwa memangkas jenggot itu diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ar Rif’ah ketika menyanggah ulama yang mengatakan bahwa mencukur jenggot hukumnya makruh. Begitu pula Az Zarkasyi dan Al Hulaimiy dalam Syu’abul Iman menegaskan haramnya memangkas jenggot. Juga Ustadz Al Qoffal Asy Syasyi dalam Mahasinus Syari’ah mengharamkan memangkas jenggot. [11]

Sebagaimana dinukil sebelumnya, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh “أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا”. Semua lafazh ini bermakna membiarkan jenggot tersebut sebagaimana adanya.”[12] Artinya jenggot dibiarkan lebat dan tidak dipangkas sama sekali.

Mengenai hadits perintah memelihara jenggot dalam hadits Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan “خَالَفُوا الْمُشْرِكِينَ” (selisilah orang-orang musyrik). Dan dalam riwayat Muslim disebut “خَالَفُوا الْمَجُوس” (selisilah  Majusi). Jadi yang dimaksud adalah orang Majusi dalam hadits Ibnu ‘Umar. Ibnu Hajar rahimahullah katakan bahwa dahulu orang Majusi biasa memendekkan jenggot mereka dan sebagian mereka memangkas jenggotnya hingga habis.[13]

Bahkan Ibnu Hazm rahimahullah menyatakan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) akan haramnya memangkas jenggot. Beliau mengatakan,
واتفقوا أن حلق جميع اللحية مثلة لا تجوز
“Para ulama sepakat bahwa memangkas habis jenggot tidak dibolehkan.”[14]

Wallahu waliyyut taufiq.

Cuplikan dari buku penulis “Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah Teroris” yang akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim-Jogja, insya Allah.
Panggang-Gunung Kidul, 13 Jumadats Tsaniyah 1432 H
www.rumaysho.com



[1] HR. Muslim no. 259
[2] HR. Muslim no. 260
[3] HR. Bukhari no. 5893
[4] HR. Bukhari no. 5892
[5] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/151
[6] Hal ini tidak menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki jenggot -secara alami- menjadi tercela. Perlu dipahami bahwa hukum memelihara jenggot ditujukan bagi orang yang memang ditakdirkan memiliki jenggot.
[7] HR. Bukhari no. 5885.
[8] Ihya’ Ulumuddin, 1/144.
[9] HR. Muslim no. 261.
[10] Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/147-148
[11] Lihat I’anatuth Tholibin, 2/386.
[12] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/151.
[13] Fathul Bari, 10/349.
[14] Marotibul Ijma’, 157.

FAKTA YANG SEBENARNYA TERJADI DI SURIAH, ALEPPO

Filed under: by: 3Mudilah

Selama lima tahun peristiwa Suriah, lebih dari 300 ribu Ahlus Sunnah gugur dibunuh Syiah Nushairiyah dan bala tentaranya.

Jumlah ini jauh lebih banyak dari yang terjadi di Palestina. Bukan berarti kita mengecilkan darah kaum Muslimin. Palestina yang telah sekian lama dijajah Yahudi, korbannya belum mencapai 100 ribu jiwa.

Dalam dua hari, pemerintah rezim Nushairiyah menjatuhkan bom kimia di salah satu kota di Suriah dan membunuh 2500 Ahlus Sunnah.

Di Baniyas, dalam satu hari, orang Syiah Nushairiyah membunuh Ahlus Sunnah dengan pisau tajam, disembelih, 1000 orang meninggal.

Sekarang yang berkuasa di Suriah bukanlah sunnah, BUKANLAH ORANG ISLAM. Bashar al Assad presiden yang sekarang adalah pemeluk agama Syiah Nushairiyah.

Syiah Nushairiyah adalah rezim yang berkuasa di Suriah saat ini. Apa itu Syiah Nushairiyah?

  • Sekte yang dibentuk pada kurun tahun keempat Hijriah oleh Muhammad bin Nushair an-Numairi.
  • Merupakan pecahan sekte Syiah dan Syiah Nushairiyah menjadi salah satu sekte yang paling sesat di antara sekte sesat Syiah yang ada.
  • Ibnu Taimiyah berkata: Syiah Nushairiyah lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani, karena mereka meyakini dalam akidahnya, bahwasannya Allah itu adalah Ali dan Ali adalah Allah. Mereka tidak meyakini sholat, zakat, haji. Mereka memunyai syariat tersendiri
Peristiwa Suriah ini bukannya baru terjadi selama lima tahun terakhir ini. Di awal tahun ‘80an, ayahnya Bashar Al Assad, Hafez al-Assad, semoga Allah melaknatnya di dalam kuburnya, telah membantai lebih dari 40 ribu Ahlus Sunnah dalam waktu satu bulan.
Kenapa kita harus peduli kepada Suriah?

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika penduduk Syam telah rusak, maka tak ada lagi kebaikan di antara kalian”. (HR. Ahmad, hadis Shahih)

Hal ini menjadi barometer, ketika penduduk Syam, di mana Suriah ada di dalamnya, RUSAK, maka tak ada lagi kebaikan di antara kalian … Kalian yang dimaksud di sini adalah SEMUA ORANG MUSLIMIN.

Dan kini kita berada di zaman fitnah, di mana tanda-tanda Kiamat sudah hadir, di mana maksiat sudah merajalela. Di manakah patokan iman berada, ketika maksiat merajalela? Ternyata cahaya iman memancar dari Syam, saat fitnah berkecamuk. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنِّيْ رَأَيْتُ كَأَنَّ عَمُوْدَ الْكِتَابِ انْتُزِعَ مِنْ تَحْتِ وِسَادَتِيْ, فَأَتْبَعْتُهُ بَصَرِيْ. فَإِذَاهُوَ نُورٌ سَاطِعٌ عُمِدَ إلَى الشَّامِ ألَا وَإنَّ الْإيْمَانَ إذَا وَقَعَتْ الْفِتَنُ بِالشَّامِ
“Sesungguhnya saya melihat, seakan-akan tonggak al Kitab telah tercabut dari bawah bantalku. Maka aku mengikutinya dengan pandanganku. Tiba-tiba terdapat cahaya terang-benderang yang mengarah menuju Syam. Ketahuilah, sesungguhnya iman, apabila telah terjadi beragam fitnah, berada di Syam”. [Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no. 3092].

Al ‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah berkata:”Rasulullah ﷺ mengabarkan, bahwa tiang Islam, yaitu iman, pada saat terjadinya fitnah-fitnah, berada di Syam. Artinya, apabila fitnah-fitnah yang muncul telah mengancam agama Islam, maka penduduk Syam berlepas diri darinya. Mereka tetap istiqamah di atas iman. Jika muncul (fitnah yang) tidak mengancam agama, maka penduduk Syam mengamalkan konsekuensi iman. Apakah ada sanjungan yang lebih sempurna dari itu?”
Nabi ﷺ bersabda:

‘Jundun fi Syam wa jundun fil Iraq wa jundun fil Yaman (Tentara di negeri Syam, tentara di Iraq, dan tentara di Yaman).’ Ini tiga wilayah yang Nabi ﷺ sebut, bahwa di sinilah berkumpulnya pasukan yang sangat kuat bagi kaum Muslimin di akhir zaman. Kemudian sahabat yang meriwayatkan, yaitu Abdullah bin Hawala mengatakan, bahwa: “Ya Rasulullah, khir khulana. Ya Rasulullah, pilihkan untuk kami negeri mana, satu dari tiga negeri ini, yang kau pilihkan untuk kami. Nabi ﷺ mengatakan: ‘Alaikum bi Syam, pilihlah negeri Syam. Itu artinya, dari tiga tempat ini, maka Syam yang paling istimewa dari ketiganya. Nabi ﷺ kemudian menyampaikan, kalau tidak Syam, maka pilihlah Yaman.

Tapi memang kalian harus berhati-hati dengan ke Yaman. Maka Nabi ﷺ tetap mengatakan, bahwa kalau bisa kalian memilih negeri Syam. Itu artinya, bahwa tentara Muslimin, mujahid di negeri Syam, adalah mujahid terkuat yang akan dimiliki Muslim di akhir zaman.’

Di sanalah nanti tonggak sejarah akan berubah. Di sanalah yang disebut gerbang Malhamah Kubro (Perang Terbesar Akhir Zaman). Perang dunia terakhir itu bermula dari Suriah.
Kalau sekarang kita perhatian terhadap Palestina yang dijajah oleh Yahudi, ketahuilah, bahwa Palestina selamanya tidak akan bebas, sebelum Suriah dibebaskan.

Dan di Suriah inilah nanti Dajjal akan dikejar dan dibunuh.
Di sanalah Imam Mahdi akan berperang
Di sanalah Nabi Isa ‘alaihi salam akan turun di Menara Putih di Damaskus.
Di sanalah Benteng Terakhir umat ini.

DAN HARI INI, SIAPA PUN YANG TIDAK PEDULI KEPADA SYAM, MAKA DIA PERLU DIPERTANYAKAN KEIMANANNYA.
KARENA DI SANALAH adanya kelompok yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ, kelompok yang akan memenangkan agama ini. Dari Muawiyah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Artinya: Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak merugikannya orang yang menghina dan menyelisihi mereka, sampai datang Hari Kiamat dan mereka berada dalam keadaan demikian” [Mutafaqun Alaihi]

Berkata Umair, salah satu perawi hadis: Telah berkata Malik bin Yakhomir: Telah berkata Muadz: Merekalah orang-orang Syam. Dan berkata Muawiyah: Malik ini mengatakan, bahwa dia telah mendengar Muadz bin Jabal berkata: Merekalah orang-orang Syam.

Bisa saja di Indonesia semuanya kafir, semuanya sesat, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi di Syam, karena di sanalah kelompok kebenaran itu terjamin.

Dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

طُوبَى لِلشَّامِ فَقُلْنَا لِأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا

“Keberuntungan bagi penduduk Syam.” Maka kami bertanya: “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: ”Karena para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada mereka (penduduk Syam)”. [HR at Tirmidzi. Lihat Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no 3095; ash-Shahihah, no. 503]

Syam dijamin kebaikannya. Namun bagaimana mungkin sebuah negeri yang dijamin keberkahannya oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sekarang tumpah darahnya? Tiga ratus ribu lebih orang dibantai di mana-mana. Kenapa bukannya Norwegia atau Swiss saja yang didoakan oleh Nabi ﷺ? Negara-negara itu memiliki GDP yang jauh lebih tinggi dari Suriah dan tidak terjadi perang di sana. Inilah kalau kita berbicara dalam ranah keimanan. Tidak seperti logika kita. Mungkin kita melihat, kasihan sekali mereka. Tetapi itulah yang memang harus Allah lakukan kepada penduduk Syam. Karena selama empat puluh tahun penduduk Syam ini berada di bawah tirani kekufuran, yakni Syiah Nushairiyah. Mereka dijauhkan dari dien. Walaupun hidupnya tentram sejahtera, tapi akidahnya diinjak-injak. Apakah ini yang dikatakan baik? Jawabannya adalah tidak.

Karena Allah sudah menjamin kebaikan untuk penduduk Syam, jadi Allah takdirkan jihad fi sabilillah di sana.

Penduduk Syam bukan hanya disembelih, dirudal, diroket dan ditembaki lagi. Di  salah satu kota, ribuan Ahlus Sunnah diblokade. Bantuan satu pun tidak bisa masuk, sehingga anak-anak kita di sana dibuat mati secara perlahan dalam keadaan kelaparan. Mereka makan apa yang bisa mereka makan, baik itu rumput, atau kucing.

Kita merindukan kebangkitan Islam secara global. Kebangkitan itu berasal dari Syam. Sehingga kemenangan perkara ini akan masuk ke semua rumah yang diterangi matahari, bermulanya dari Syam, bukan Indonesia.

Oleh: Al-Ustadz Ihsanul Faruqi hafizhahullah

Untuk kajian video lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/videos/1808198189422339/

Misi Medis Suriah, silakan klik Facebook: https://www.facebook.com/Misi-Medis-Suriah-803766712980018/

Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang Mengerikan

Filed under: by: 3Mudilah

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar"

Betapa bahagianya menjadi umat Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Setiap tuntunan-Nya senantiasa menawarkan solusi dan kemudahan. Tidaklah terlewat satu pun kebaikan melainkan beliau ajarkan kepada umatnya dan tidaklah ada satu keburukan, melainkan beliau mewanti-wanti mereka agar terhindar darinya.

Lihatlah apa yang dicontohkan Sang Nabi tatkala bayang-bayang musibah yang menakutkan datang silih berganti menghampiri anak Adam. Beliau ajarkan kepada umatnya pentingnya berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari kematian yang mengerikan. Termasuk di dalamnya adalah kecelakaan jatuh dari pesawat terbang, tenggelam, terbakar, dan tertimpa tanah longsor.

Dengan doa, hati menjadi tentram, menyandarkan segala harapan kepada Yang Maha mengabulkan, sekaligus memupus rasa takut dan was-was dari setan.

عَنْ أَبِي الْيَسَرِ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي ، وَالْهَدْمِ ، وَالْغَرَقِ ، وَالْحَرِيقِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا.

“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’” (HR. al-Nasa’i no. 5531, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani).

Barangkali di antara kita ada yang bertanya-tanya, bukankah dalam hadits banyak disebutkan bahwa mati karena tenggelam, terbakar, dan tertimpa bangunan akan mengantarkan seseorang meraih status syahid di akhirat? Benar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa ada tujuh golongan syuhada selain yang mati di medan perang.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللهِ : الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid selain yang terbunuh di jalan Allah, ada tujuh, mati karena penyakit tha’un (lepra) syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit di dalam perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa bangunan (benturan keras) syahid, dan wanita yang mati karena mengandung (atau melahirkan) syahid” (HR. Abu Dawud no 3111, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani).

وعنده من حديث ابن مسعود بإسناد صحيح “أن من يتردى من رءوس الجبال وتأكله السباع ويغرق في البحار لشهيد عند الله”

Demikian juga Ibnu Hajar rahimahullah menukikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Thabrani dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa orang yang mati karena terjatuh dari puncak gunung dan mati karena dimakan binatang buas termasuk syahid di sisi Allah (Fathul Bari, Bab al-Syahadah Sab’un Siwal Qatl).

Jika memang musibah-musibah di atas menjadikan seseorang mati syahid, kenapa kita dianjurkan untuk berlindung darinya?

Poin-poin berikut ini akan membantu menjelaskan kepada kita sebab dianjurkannya berlindung kepada Allah dari kematian yang mengerikan.
  1. Kematian dalam kondisi tersebut sangat keras dan melelahkan.
    Boleh jadi seseorang ketika mengalami hal itu imannya tidak kokoh, sehingga syetan mampu menggelincirkannya dari iman. Sementara itu, manusia adalah makhluk yang lemah, mudah putus asa, sehingga selayaknya memohon agar diberikan kemudahan, lebih-lebih pada kondisi ketika akan meninggal. Berikut penjelasan Ibnu At-Tiin rahimahullah yang dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari tentang sebab orang-orang yang mati karena musibah di atas mendapat gelar syahid di akhirat, tidak lain karena meninggalnya dalam keadaan yang sangat berat.
    قَالَ اِبْن التِّين : هَذِهِ كُلّهَا مِيتَات فِيهَا شِدَّة تَفَضَّلَ اللَّه عَلَى أُمَّة مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ جَعَلَهَا تَمْحِيصًا لِذُنُوبِهِمْ وَزِيَادَة فِي أُجُورهمْ يُبَلِّغهُمْ بِهَا مَرَاتِب الشُّهَدَاء
    Ibnu At-Tiin berkata, ‘Semua yang tertimpa musibah ini merasakan sakit kematian yang keras, Allah karuniakan itu kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghapus dosa-dosa dan tambahan pahala bagi mereka yang mengantarkan mereka mencapai derajat para syuhada’” (Bab al-Syahadah Sab’un Siwal Qatl).
  2. Kematian dalam kondisi tersebut biasanya datang mendadak.
    Boleh jadi seseorang pada saat itu terjadi padanya belum bertaubat. Boleh jadi juga saat itu mereka belum melunasi hutang, juga belum berwasiat kepada orang yang berhak mendapatkan wasiat, dan orang-orang terdekatnya, sehingga hak-hak orang lain belum ia tunaikan. Padahal setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat terkait hak orang lain yang belum ia kembalikan kepada pemiliknya, meskipun ia orang yang mati syahid. Demikian Sang Nabi telah mewanti-wanti umatnya,
    يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ
    “Orang yang mati syahid akan diampuni seluruh dosanya, kecuali hutang” (HR. Muslim no. 1886).
  1. Belum tentu mati syahid.
    Para ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa Al-Kubra (3/22), mengecualikan bagi orang yang bepergian naik kapal dalam kondisi sedang bermaksiat lalu tenggelam, tidak termasuk yang mendapatkan kesyahidan. Demikian juga pendapat Syaikh Shalih al-Munajjid hafizhahullah tentang orang yang bepergian untuk melakukan maksiat, seperti orang yang naik kapal untuk berzina dan minum khomr, dan yang semisalnya lalu tenggelam, maka ia tidak mendapatkan kesyahidan.
Kesimpulan, meskipun meninggal karena tenggelam, terjatuh dari tempat yang tinggi, terbakar, tertimpa benda keras, dan semisalnya itu mengantarkan seseorang meraih syahid di akhirat, akan tetapi banyak nash-nash yang menganjurkan kita untuk berlindung dari kematian yang mengerikan tersebut. Apabila seorang mukmin meninggal dalam keadaan tersebut dan tidak sedang bermaksiat, maka ia memperoleh kesyahidan. Akan tetapi ia tidak boleh berharap mati yang demikian, justru sebaliknya ia memohon kepada Allah Ta’ala agar terhindar darinya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam.

Pengaruh Bacaan Al-Quran Membuat Tenang, Terbukti Secara Ilmiah

Filed under: by: 3Mudilah


Ilustrasi Ketenangan Saat Membaca & Mendengarkan Al-Qur'an
Ilustrasi Ketenangan Saat Membaca & Mendengarkan Al-Qur’an

BaitulMaqdis.com – Penelitian ilmiah tentang pengaruh bacaan al Qur’an pada syaraf, otak dan organ tubuh yang lain. Tak ada lagi bacaan yang lain untuk dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan bisa membawa ketenangan kepada seseorang kecuali hanya dengan membaca Al-Qur’an.

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang secara panjang dan serius pada Klinik Besar Florida Amerika Serikat, telah berhasil membuktikan bahwa dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik bagi mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, bisa merasakan sebuah perubahan fisiologis yang amat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, mencegah terjadinya berbagai macam penyakit ialah sesuatu pengaruh umum yang sudah dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tak serampangan.

Penelitiannya telah ditunjang melalui bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.

Dari uji cobanya ia pun berkesimpulan, bahwa bacaan Alquran sangat berpengaruh hingga 97% dalam menciptakan ketenangan pada jiwa dan dalam penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat juga oleh penelitian lainnya dimana dilakukan oleh dokter berbeda. Dalam laporan suatu penelitian yang telah disampaikan pada Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran telah terbukti bisa mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang sudah mendengarkannya.

Terbukti Secara Ilmiah, Inilah Pengaruh Membaca Al-Qur’an

Kesimpulan hasil uji tersebut telah diperkuat lagi pada penelitian Muhammad Salim, telah dipublikasikan Universitas Boston. Objek percobaannya terhadap 5 sukarelawan yang terdiri atas 3 pria dan 3 wanita. Kelima orang ini sama sekali tidak mengerti mengenai bahasa Arab dan mereka juga tidak diberi tahu jika yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an.

Penelitian yang telah dilakukan sebanyak 210 kali ini terdiri dari dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab dengan bukan dari Al-Qur’an.

Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sebesar 65% ketika mendengarkan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan berasal dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an juga memberikan pengaruh yang besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal ini diungkapkan Dr. Nurhayati yang berasal dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997.

Menurut penelitiannya, bayi berusia 48 jam jika kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder akan memberikan respons tersenyum dan lebih tenang.

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita mempunyai Al-Qur’an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya bisa mendapatkan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita.

Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Terlepas benar dan tidaknya hasil penelitian ini, saya yakin siapapun orangnya yang dengan kerelaannya khusyu’ dan fokus mendengarkan al-qur’an maka ia akan mendapatkan ketenangan yang luar biasa.

silahkan LIHAT TESTIMONI VIDEO DI LINK BERIKUT : https://www.youtube.com/watch?v=YB-Hv0774sE&feature=youtu.be  (Reaksi Non Muslim Saat Mendengarkan Al Quran, TAKJUB!)

Sumber : Everymuslim.co.za dan berbagai sumber
http://baitulmaqdis.com/mukjizat-islam/sosial/pengaruh-bacaan-al-quran-membuat-tenang-terbukti-secara-ilmiah/

AL-MA’IDAH 51 MENGGUNCANG PUBLIK

Filed under: by: 3Mudilah

14517643_10202638622322045_2331538426124154048_n

Dulu sangat sulit bagi banyak da’i untuk memahamkan kepada ummat penjelasan dan tafsir Al Ma’idah 51.

Larangan mengambil orang yahudi dan nasrani sebagai pemimpin bagi ummat Islam sangat jelas difirmankan Allah dalam surat Al Ma’idah ayat 51.

Al Ma’idah ayat 51 adalah termasuk ayat muhkamat, jelas dan terang hanya orang bodoh yang tidak faham.

Saat Ahok menyitir ayat ini sebagai pembodohan, publik terguncang. Dalam tempo 30 jam petisi yang anti ahok mencapai 6000 signature, setalah 3 hari angkanya melonjak puluhan kali lipat.

Dimana-mana orang bicara Al Ma’idah ayat 51. Tidak hanya masjid, ayat ini di bahas juga di kantor-kantor, kampus, sekolah bahkan di Aceh, di kedai kedai kopi banyak orang bicarakan Al Ma’idah ayat 51.

Bahkan Al Ma’idah ayat 51 jadi no 1 google trends.
Semoga dengan kejadian ini banyak ummat faham bahwa memilih pemimpin harus seorang muslim.
Ada yang perlu di koreksi total terkait banyaknya kerusakan dalam mengurus negara, negara ini rusak karena salah urus, biangnya adalah demokrasi.

Sistem inilah yang menjadi biang kerok kerusakan, PR kita selanjutnya Adalah memahamkan kpda Umat bahwa tidak ada solusi yang tepat untk mengurus Negara kecuali kembali kepada SYARI’AT ISLAM.

Wallahu A’lam bis Showab.
Abu Khalid Al Acehi

http://dedenurjannata.com/al-maidah-51-mengguncang-publik/

Allah Satukan Hati Kami di Monas

Filed under: by: 3Mudilah

Tekanan, penggembosan, intimidasi dan serangkaian fitnah justru berbalik layaknya bola salju, menggerakkan orang datang ke Monas
Allah Satukan Hati Kami di Monas [1]
Monas, Stasiun Gambir, Cikini sampai Hotel Indonesia memutih oleh lautan umat Islam

Hidayatullah.com–HAJI Ahmad Djuwaeni menangis setelah menapaki perjalanan menembus lautan manusia. Di atas kursi rodanya, kakek berusia 82 tahun ini masih tepekur seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata berkaca-kaca. Beberapa kalinya dirinya memekikkan takbir, walau tak segagah dahulu kala.

Ada sesuatu, entah apa itu yang membuat matanya sembab, yang mengalir bak air di sungai melewati keriput di pipinya. Dengan tertatih-tatih, suara bergetar, ia membuka mulutnya seraya setengah berbisik,” saya nggak mau ketinggalan urusan begini,” katanya kepada Islamic News Agency (INA), (2/12/2016).

Berempat, bersama sang anak dan mantu, ia datang memenuhi panggilan jiwanya, walau tak lama pulang dari rawat inap. “Saya masuk ICU 4 hari, lalu 5 hari dirawat, sengaja baru bisa keluar langsung ke sini, selama fisik memungkinkan, masih bisa bergerak, meski dipaksa menggunakan kursi roda,” lirihnya.

Firmansyah sang mantu sambil mendorong kursi roda sang mertua mengisahkan bahwa justru anak-anaknya diminta untuk ikut aksi. “Sempat ada rasa khawatir, tapi tekad bapak mengalahkan rasa sakitnya, semangatnya bahkan melebihi kami,” katanya.

Kini, tak kuasa menahan haru, Haji Ahmad Djuwaeni nampak mematung berdoa khusyuk di punggung pelataran Monas. “Ya Rabb, Engkau sendiri yang memutarkan sejarah ini, kini umatMu bangkit untuk memenuhi seruanMu, Engkau perlihatkan doa yang terus hamba panjatkan tiap malam, agar umat Islam Indonesia bangkit,” lirihnya.

“Terlihat ruhud din yang selama ini antara hidup dan mati mulai bangkit,” khusyuk. Tak terasa air mata tertumpah, bagi siapa yang melihatnya menangis berdoa. Di pengujung senjanya, ada rasa yang bercampur aduk: sedih, senang, haru, gembira: rasa yang tak tergambarkan.

Yang mengaduk-aduk rongga dada, naik perlahan ke atas, dengan nafas yang tak beratur, berkumpul di sudut mata hingga gerimis itu tak hanya dari atas langit, gerimis itu turun dari mata. Dan lihatlah, kini seorang kakek di pengujung usia senjanya, datang walau tak bisa berjalan kaki.

“Saya rela meninggal dalam keadaan berhijad, ya Allah, mudah-mudahan acara ini membangiktkan untuk izzul islam dan muslimin, ya Allah kabulkanlah,” terbata-bata karena tak kuasa menahan tangis.

“Tak kuasa manusia mengumpulkan massa sebanyak ini, kalau bukan karena panggilan iman, mereka tidak akan bersusah payah ke sini,” tutupnya sambil tersenyum simpul dengan bola mata yang berkaca-kaca kering sudah tangisnya keluar.

Aksi Bela Islam selalu memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang pernah mengikutinya, meskipun mewujud dalam variasi yang kadang sulit diungkapkan dan dijelaskan dengan kasatkata. Tak pernah terbayang memang, bagaimana ribuan orang rela berpeluh, mengadu nyawa, berjalan kaki dari Ciamis hingga Jakarta. Sebagaimana dilakukan Haji Nonof bersama santrinya rela jalan kaki hingga tindakannya memberi inspirasi banyak orang di seluruh Indonesia.

”Pelarangan-pelarangan tidak akan menyurutkan langkah kami,” ujar Ketua Kafilah Ciamis, Haji Nonof Hanafi saat tiba di Bandung setelah menyusur 120 KM melewati malam-malam panjang.
Luar biasa. Perjalannya menuju Jakarta telah membuat ribuan orang di setiap perjalanan memberikan simpati dan applaus. Tak sedikit  tangisan warga tumpah ruah meluber sepanjang jalan yang menyambut bak pahlawan besar.

Pantauan INA dalam perjalanan, dari balik kaca jendela, di sudut sekolah, selama jalan mereka lalui dalam perjalanan menuju Jakarta disambut tangis haru seraya melambaikan tangan.
Warga menyambutnya degan tulus. Ada yang membawakan setandan pisang, sekarung bonteng (timun), hingga keresek berisi buah-buahan yang baru dipanen dari kebunnya.

Sambutan tumpah ruah, bak mengiringi pasukan perang. Hadiah bunga, air mineral, sendal, dan lainnya, ada yang bangga menenteng karton coretan tangan pesan sambutan mereka: “Selamat Berjuang Para Pembela al Quran”.

Berbondong masyarakat merindu. Tak usah tanya sebanyak apa makanan yang menggunung hingga puluhan truk, kekuatan hati telah menggerakkan mereka. ”Mereka adalah para pembela al Quran, apapun akan kita lakukan oleh mereka,” kata seorang warga Bandung sambil menangis.

Setiap kafilah melewati warga, selalu saja air mata tak bisa tertahan. Bak pahlawan – dan memang pahlawan-, sorak takbir mengiringi perjananan menuju Cianjur hingga akhirnya mereka bisa tiba di Jakarta tanggal 2 Desember 2016, sekira pukul 09.00. Sekarang, kita akan melihat pemandangan yang begitu dramatis.

Detik-detik ketika mereka melewati Thamrin hingga menembus lautan manusia di kolam Bundaran Bank Indonesia hingga masuk ke Monas. Satu per satu wajah coklat yang tersengat sinar mentari ini tiba. Wajah yang didominasi para belia.

Menyipit matanya, tetiba saja air mata tertumpah ruah.Tangis pecah bersedu-sedu.
Huuuu….uuu…uu,” suara massa menangis sesenggukan tak bisa berhenti. Sebagian jurnalis, sambil menyorot mereka dengan kamera SLRnya tak kuasa menahan air mata  yang sudah mengucur deras melewati dagunya. ”Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..saudara kita dari Ciamis telah tiba,” menggemuruh.
Hujan yang Mengagumkan pada Aksi Super Damai 212
Semua larut dalam haru. Semua tergugu. Kafilah Ciamis, hanyalah orang-orang biasa dari sudut kampung nun jauh di sana. Tapi, apa yang dilakukannya dapat menggetarkan jutaan manusia dari penjuru negeri. Sambil terus berjalan, tangis haru menemani mereka menembus lautan manusia.

Berdatangan massa, bersimpuh, segera memeluk saudara-saudara mereka: erat. Lama mematung, tangis itu kian menggedor-gedor emosi. Seorang kakek peserta jalan kaki dengan surban kumalnya menerima sekuntum bunga merah sambil mengusap sudut matanya walau ia tahu itu tak kan membuatnya berhenti menangis.

”Sunnguh! Perjuangan kalian tidak sia-sia,” histeris seorang penyambut sambil memeluk erat-keras pemuda-pemuda Ciamis yang tak seorang pun dikenalinya. Pekik takbir bercampur tangis terus berbaur mengiringi kafilah ini hingga ke panggung utama. Akhirnya, wajah yang selama ini hanya beredar di medsos, kini berbaur di antara jutaan massa aksi.

”Ciamis mengubah segalanya,” kata Riwa, seorang peserta aksi asal Riau yang rela menghabiskan sebulan gajinya agar bisa datang ke Aksi Damai Bela Islam di Jakarta.

”Kami benar-benar malu kepada mereka,” katanya. Tak hanya Riwa sendiri, mungkin kita sendiri merasakannya.”

Bola Salju Ciamis

Aksi jalan Kaki warga Ciamis telah dipilih Allah Subhanahu Wata’ala menjadi wasilah umat Islam Indonesia, apakah benar nilai-nilai Islam ada dalam hati mereka.

Alhamdulillah, tekanan, penggembosan, intimidasi dan serangkaian fitnah agar gerakan umat Islam tidak menyatu justru berbalik layaknya bola salju.

Aksi nekad sauda Muslim Ciamis berjalan kaki setelah aparat keamanan melakukan intimidasi agar mereka tidak sampai Jakarta, justru menjadi viral di media sosial (medsos).

Aksi jalan kaki mereka, melahirkan solidaritas dan simpati banyak orang sehingga mereka semakin ingin datang ke Jakarta.

”Ini adalah panggilan di sini (menunjuk dada), kami tak kan pernah rela al Quran kami dinista,” kata Irmansyah, yang datang jauh-jauh dari Balikpapan bersama kawannya yang bahkan menjual HP satu-satunya untuk bisa datang ke Jakarta.

Irmansyah dan ratusan temannya rela mencarter pesawat dan kucing-kucingan dengan aparat saat masuk ke bandara.

”Kami dari Balikpapan ingin menyuarakan agar Ahok segera ditangkap,” kata Abu Syamil.*

Kisah lain datang dari Surabaya.  Hari itu, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur,  Ainul Yaqin berangkat ke Jakarta dengan penerbangan pertama pagi hari saat hari Jumat 02 Desember 2016, tepat Aksi Super Damai belangsung.

“Yang saya kaget, saat kami turun di bandara, ratusan orang yang tadi di pesawat, tiba-tiba semua berganti baju putih-putih saat turun di bandara. Subhanallah, rupanya tadi satu pesawat itu tujuannya sama,” ujarnya Pengurus Wilayah MUI Jawa Timur ini menceritakan pengalamannya.

Ada pula Ibu Sri, seorang nenek berusia 72 tahun asal Surabaya, yang mewajibkan kelima anaknya untuk ikut Aksi Bela Islam.

”Di usia ini, saya sendiri sudah siap mati untuk membela agama, apalagi kalau al Quran kami dinista,” katanya sambil mengepalkan tangannya.

Yang tak kalah menakjubkan, adalah pemandangan mata seorang santri Ma’hadul Qur’an wal Qiroat az-Zikra bernama Anugerah. Di tengah keterbatasan fisiknya, ia bahkan merangkak dari rumahnya untuk datang ke Monas.

Karena mengalami keterbatasan fisik, (maaf) ia harus berjalan dengan kedua tangan dan kedua kakinya menuju Monas. Tak ada rasa lelah atau meminta bantuan, Anugerah ikut merapatkan barisan bersama sedikitnya lebih 2 juta umat Islam lainnya.

“Karena saya penghafal Qur’an, dan insya Allah al-Qur’an sudah menyatu dengan hidup dan diri saya. Jadi, jika saya enggak ikut Aksi Super Damai 212 kemarin, saya merasa diri ini sangat terhina,” ungkapnya penuh semangat saat berbincang dengan Islamic News Agency (INA).
Yang menjadi pertanyaan, jika bukan karena Allah, siapa mampu menggerakkan semua ini?

Monas Rasa Makkah

Aksi Bela Islam III atau popular disebut Aksi 212 (mengabadikan peristiwa aksi tanggal 02 Desember 2016) selain membangkitkan gerakan massa Islam di seluruh Indonesia untuk datang di Jakarta, juga melahirkan solidaritas ukhuwah antar elemen Islam tanpa melihat status, latar-belakang dan menghilangkan sekat perbedaan yang selama ini sering terjadi.

Hal ini dirasakan peneliti Ahmad Kholili Hasib, peneliti pada Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) yang menyaksikan langsung selama aksi di Monas.
Penulis muda asal Bangil Pasuran Jawa Timur itu sengaja datang dari kampungnya datang dan menyaksikan langsung acara yang sebelumnya telah banyak digembosi polisi, tokoh ormas bahkan media massa dengan berbagai tuduhan kurang nyaman ini.

Dari Menteng, usai shalat Subuh ia bersama rombongannya berjalan menuju lokasi. Tepat  pukul 05.00,  ia  mendapati 20 orang anak muda, usianya 20 tahunan berjalan dari Cikini meneriakkan Allahu Akbar berkali-kali. Saat  bertemu dengan jamaah lain mereka menunjukkan sikap hormat, bersalaman dan lempar senyum. Padahal mereka tidak saling kenal.

Ia makin kaget, satu jam berikutnya, rombongannya yang semula hanya dengan puluhan orang, tiba-tiba membengkak saat  melewati depan Gedung Proklamasi.

Ribuan orang keluar dari gang-gang, gedung, bergabung dengan gelombang orang di depannya bergerak perlahan dari Jalan Diponegoro, Stasiun Gondangdia sampai Cikini. “Barisan kami bertambah panjang,” ujarnya.

Yang menakjubkan, selama perjalanan menuju Monas, ia menyaksikan ratusan orang yang tidak saling mengenal itu saling tebar senyum saling sapa, saling berbagi, saling beramal dan saling mengingatkan. Suasanya mirip umrah dan haji di Tanah Suci Makkah al Mukarramah.
”Ini benar-benar seperti suasana haji, bahkan lebih,” kata seorang bapak sambil menenteng poster “Tangkap dan Penjarakan Ahok!”.

Jika di Makkan orang banyak berbagi khas makanan Arab, di sini, ratusan orang (bahkan ribuan) tak henti-hentinya memberikan hidangan entah datang dari mana.

Pantauan INA, mendekati Monas, suasana semakin kentara.Dari balik kawat di seberang tenda ada yang berbagi nasi ayam, minuman gratis, jus, roti, sampai pijat gratis. Semuanya ada.
”Ayo siomay gratis,” kata si ibu depan Mc. Donald Thamrin menyeru, segera dikerubuti ratusan orang. Di ujung Pejambon, seorang polisi muda tak nampak malu mengambil air minum dan makanan dari para peserta aksi damai. Di depan Gambir, Ibu-ibu asal Bekasi membagikan gerombolan anggur merah yang masih mengkilap.

Di antara silang Monas, seorang pedagang gerobak berurai air mata. Tiba-tiba seseorang membeli semua dagangannya dan meminta membagikan secara gratis.
”Baru sekarang ini saya melihat kejadian seperti ini,” katanya.

Ormas Islam membagikan makanan kepada peserta aksi. [Foto: Sobah]
Ormas Islam membagikan makanan kepada peserta aksi. [Foto: Sobah]

Pejaja asongan perintil kacang, hingga mangga plus garamnya tak ketinggalan bajir rezeki. Di sudut-sudutnya, seorang tentara lahap bersantap bersama para laskar.
 ”Kalau kaya gini nggak bakal ada yang kelaparan kehausan, padahal massa ada jutaan,” kata Tukang Mie Ayam yang sudah diborong.

Semilir angin lembut berkawan langit cerah benar-benar membuat suasana semakin hangat. Zikir dan doa terlantun, menembus kaki langit, hingga hujan, yang menurut sang Nabi adalah rahmat itu turun mengguyur lembut setiap jengkal sekitar Monas membuat suasana begitu syahdu.

Tua, muda, artis, pejabat, karyawan, pengusaha, dosen, dokter, mahasiswa, peneliti hingga beragam suku dan daerah tumplek blek semua dengan satu kesadaran: Membela al Quran yang dinista.
”Sebagian dari kita tinggalkan sanak saudara, keluarga rela jauh-jauh ke sini. Kami hanya ingin keadilan, agar si penista segera ditahan hari ini juga,” kata pria asal Ambon kita, Irmansyah.

Jika di Makkah, orang berbondong-bondong menangis di kaki Ka’bah, kita melihat di sini mereka bersimpuh bermunajat di kaki langit. Wisata ruhani yang menggetarkan jiwa, begitu nikmat ketika harus bersujud, berjalan kaki tanpa beban dalam tawaf hingga sai di Shafa dan Marwa. Hanya kedunguan yang tersisa bila ada yang mengatakan mereka yang tulus memenuhi panggilan jiwa yang tak ternila itu dibayar dengan secuil materi.

”Saya saja ongkos sekali jalan 1,6 juta, itu uang pribadi saya, gimana dibayar, saya yang malah keluar uang,” kata Irmansyah. Ibu Sri, nenek asal Surabaya kita pun mengatakan total lebih dari 15 juta terpakai bersama anak-anaknya untuk berangkat.

Dengan ketulusan, setiap peserta yang berlelah-lelah, baik secara fisik maupun materi, dapat melakukannya tanpa beban apapun. Menaiki pesawat, menaiki bus, bersepeda motor bahkan berjalan kaki, menyambut para tamu, berbagi makanan, berdoa, berzikir, menangis, semua melaluinya dengan tulus tanpa bergantung pada siapapun kecuali pada sang Maha Esa.

“Aksi 212 memiliki energi luar biasa. Salah satu yang nampak adalah energi persaudaraan Muslim. Kaum Muslimin dari berbagai latar belakang organisasi, pendidikan, profesi, jama’ah, dan  suku  yang berbeda seperti saudara kandung,” ujar Kholili.

Suasana ini, menurut Kholili, mengingatkannya pada pesan hadits dari Rasululllah Shallahu ‘Alaihi Wassallam yang berbunyi, “Ruh-ruh itu ibarat prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.”

Di mana kita akan melihat shalat Jumat terbesar sepanjang sejarah umat ini? Yang sesaknya memenuhi jalanan protokol ibu kota mengular empat sisi Monas, Patung Kuda, Budi Kemuliaan, Tanah Abang,  Medan Merdeka Selatan, Istiqlal, Kwitang, Pasar Baru, Senen, Tugu Tani, Haji Agus Salim, Menteng,  hingga Thamrin dan massa yang terus berdatangan dari Bundara HI tak henti-henti.
Karena membludaknya massa, disulap sudah, perkantoran hingga Kafe Starbucks Coffee Sarinah seberang McD hingga kantor-kantor menjadi shaf-shaf shalat yang rapat hingga tangga-tangganya.

Tak kuasa, air mata gerimis. Ya Rabb, hingga di kafe –kafe itu, semua menjadi tempat sujud!
”Kapan lagi kita bisa bergabung bersama jutaan kaum muslimin di sini,” kata seorang karyawan berbaju batik yang sehari-harinya ngantor di sekitar Sarinah. Ia biarkan dirinya dalam kuyup bersama air yang terus mengalir.

Tak terasa, jutaan tetesnya membasahi jutaan manusia di atas jalanan di bawah naungan kumandang azan Jum’at dua kali menggantung di atas langit Ibu Kota. Syahdu. ”Kalau nggak ada hujan, semua di jalan, nggak sampai di kantor-kantor dan kafe, bisa sampai HI ini,” kata seorang warga sambil menunjuk Hotel Grand Indonesia yang nampak selempar mata memandang dari Sarinah.

Suasana semakin syahdu ketika hujan semakin deras mengguyur, bersahutan dengan khutbah Habib Rizieq utamanya tentang surat Al Maidah dan penistaan agama.

[Foto: Rifa'i Fadhly]
[Foto: Rifa’i Fadhly]

Pemandangan dramatis kembali berulang. Tak gentar sejengkal pun massa akan lebatnya hujan. Semua bergeming, semakin banyak barisan terisi. Semua duduk beralas apa saja, bahkan beralaskan aspalt yang mengkilap mengalirkan air.
 Di buntut shaf, selemparan batu dari Sarinah, tiga orang bocah kuyup badannya dengan poni mengkilat berjejer rapi di jidatnya. Lipatan baju putihnya mengkerut bak kerupuk disiram, sedangkan celana merahnya dibiarkan menampung guyuran air dari langit.

Sembab matanya, tapi bukan karena hujan. Kakinya menekuk, bersimpuh kepada sang Maha. Ya Rabb, anak SD mana yang rela berbasah-basah beralas secompang kardus basah selebar kening mereka? Dan kini semua itu nyata!

Semua hanya bisa tergugu. Air mata tak terasa tumpah berkali-kali, menyaksikan kekuasaan sang Maha, melihat umat yang begitu syahdu. Orang tua mana yang begitu bangga melihat anak-anaknya ini bermunajat Dengan khusyuk ? Anak-anak berseragam merah-putih ini mendengarkan ceramah dengan mata yang bukan lagi berkaca, tapi sudah mendanau.

Momen yang tak mungkin dijangkau oleh nalar. Ketika jutaan manusia bergeming, bermunajat, membiarkan dirinya kuyup oleh limpahan ramhmatNya. Tangannya terangkup berdoa, para anak yang dengan syahdu terisak, air mata dan hujan sudah tercampur baur.

Ketika semua menyemut syahdu, merintih dalam berdiri, rukuk dan sujud. Hujan semakin lebat, selebat tangis yang pecah ketika imam membaca surat al Maidah hingga Qunut nazilah yang begitu panjang.

“Sekarang kita membela al Quran, kelak al Quran semoga menjadi pembela kita di hari Kiamat,” ujar Ustad Arifin Ilham dari panggung utama.

Meski hujan menunjukkan janjinya, namun lautan wajah dalam balutan baju putih-putih itu tak sedikitpun menampakkan wajah ‘mendung’. Sebaliknya, guyuran hujan justru disambut senyum dan kekhusukan jutaan massa. Semua bergembira kegirangan. Shalawat serta salam menggema mengisi ruang di antara belantara beton penantang langit ibu kota.

Sayup-sayup terdengar senandung rindu menyesakki seluruh jalanan Ibu Kota dari Thamrin hingga Sudirman di Bundaran Indonesia.

“al Quran imam kami…al Quran pedoman kami…al Quran petunjuk kami…al Quran satukan kami…!”
“Aksi Bela Islam, Aksi Bela Islam, Aksi Bela Islam Allah Allahu Akbar”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar Allah Allahu Akbar!” 

”Ini semacam hadiah umat Islam Indonesia bahwa mereka benar-benar mencintai agamanya, mencintai negerinya, dan mereka berdoa untuk negeri,” kata seseorang peserta sambil mengusap air matanya.

Aksi simpatik ini berakhir usai shalat Jumat dengan imam dan khatib Imam Besar FPI dan Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI)  Habib Rizieq Shihab  dengan muazin Kapolres Cirebon Kota, AKBP Indra Jafar. Dalam khutbahnya, Rizieq menyampaikan datangnya jutaan umat Islam dalam Aksi Bela Islam III sebagai karunia Allah.

Mereka datang untuk memuliakan Al-Quran, bukan untuk menghancurkan NKRI. Sebab Al-Quran adalah jantung dari agama Islam.

“Hari ini jutaan umat Islam datang ke Jakarta bukan untuk menghancurkan NKRI, justru untuk membela NKRI, membela Al-Quran, kebhinekaan yang koyak,” ujar Rizieq.*

 Allah akan mendatangkan kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, merela tidak takut pada celaan orang yang suka mencela

Fenomena Baru Gerakan Islam Indonesia

Shalat Jumat berakhir pukul 12.00 lebih. Lautan manusia berbaju putih ini membubarkan diri tanpa ada keributan dengan aparat sebagaimana layaknya pengerahan massa. Bahkan seluruh taman dan jalan tetap terjaga rapi tanpa ada sampah berserakan.

Tim INA yang disebar di banyak titik menyaksikan langsung, gelombang umat Islam datang dari berbagai propinsi ini bahkan banyak yang tidak mampu masuk ke senayan.  Masih massa masih tertahan di berbagai tempat, termasuk di Senin, Cikini, Gondangdia, Bundaran HI.

“Tidak ada aksi apapun yang pernah saya lihat sebesar ini. Tuh orang pade salah, harusnya ke Monas jalan ke depan, eh dia malah kebalik ke belakang. Saya bilang, Monas kesono no, ente kebalik,” ujar Habi Obeng (65), warga Sabang, kawasan lebih dekat dengan Monas.

Inilah shalat Jumat terbesar di dunia. Sebagian mencatat, massa diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta orang.

Kemuning senja menyapa lembut Ibu Kota. Lembayungnya menaungi jutaan umat yang mulai kembali pulang, membawa berjuta kisah dan seruang rindu. Kerinduan yang seketika memenuhi rongga dada, membuncah. Kenangan yang bekelebat hebat, seakan ingin kembali berulang.
Jutaan orang mulai beringsut meninggalkan Monas dan sekitaranya. Namun bekasnya masih menyisahkan kesan mendalam bagi banyak orang termasuk Kholili.  Setidaknya ada dua hal penting ia catat.

Aksi 212 menunjukkan kualitas ukhuwah umat Islam.  Sebab jika Islam itu ditegakkan, jangankan manusia, hatta, hewan dan tanaman akan mendapat rahmatnya. Bukan ‘rahmatan lil alamin’ yang sering digembar-gemborkan di media, namun dalam aksinya justru menyakit umat Islam sendiri. Aklak itulah yang ditunjukkan dalam Aksi Bela Islam III.

“Inilah kualitas sebenarnya umat Islam, kualitas hati yang merupakan cermin iman,” ujarnya.
Kedua, aksi 212, melalahirkan gerakan baru Islam Indonesia akibat  getaran Surat Al-Maidah. Setelah sekian lama umat Islam didzalimi, ulamanya dibully, agamanya dicela, informasinya dikaburkan media, tetapi atas kehendak Allah, sebuah kelompok yang kecil – yang sangat tidak popular bahkan telah lama disematkan padanya panggilan-panggilan dan cap buruk – qadarallah, ditunjukkan Allah mampu menghimpun jutaan orang dengan aksi sangat terpuji.

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela,” ujar Kholili mengutip Surat Al-Maidah: 54.

Inilah fenomena baru yang tidak pernah dibayangkan oleh teori akademis apapun di Indonesia.
“Saya yakin, di tangan orang-orang yang sabar dan pecinta Al-Quran, yang tidak takut celaan orang yang mencela inilah janji rakhmat Allah akan turun dan Indonesia akan terjaga.[]
Rep: Tim INA
Editor: Cholis Akbar
-Eramuslim.com-


Sanbenito, Topi Khas Tanda Muslim Telah Murtad Yang Dijadikan Simbol Perayaan Tahun Baru

Filed under: by: 3Mudilah


sanbenito2

Eramuslim.com – Topi Tahun Baru yang berbentuk kerucut ternyata adalah topi dengan bentuk yang di sebut SANBENITO, yakni topi yang digunakan Muslim Andalusia (Spanyol) untuk menandai bahwa mereka sudah murtad dibawah penindasan Gereja Katholik Roma yang menerapkan INKUISISI SPANYOL.

Ketika kaum Frank yang beragama Kristen Trinitarian menyerang Negeri Muslim Andalusia. Mereka menangkapi, menyiksa, membunuh dengan sadis kaum Muslim yang tidak mau tunduk kepada mereka.

Mereka kaum Kristen Trinitarian membentuk lembaga yang bernama Inkuisisi. Sebuah lembaga dalam Gereja Katholik Roma yang bertugas melawan ajaran sesat, atau pengadilan atas seseorang yang didakwa bidah. Dan dalam hal ini yang dimaksud sesat/bidah adalah MUSLIM!

Adalah sebuah pakaian yang diberi nama SANBENITO, pakaian dan topi khas yang dipakaikan kepada tawanan muslim yang telah menyerah dan mau conferso (confert/murtad).
sanbenito

Pakaian ini untuk membedakan mereka (para converso) dengan orang-orang lain ketika berjalan di tempat-tempat umum di Andalusia yang saat itu telah takluk di tangan Ratu Isabella dan Raja Ferdinand.

SANBENITO adalah sebuah pakaian yang menandakan bahwa seorang muslim di Andalusia saat itu telah MURTAD.

Kini, 6 abad setelah peristiwa yang sangat sadis tersebut berlalu, para remaja muslim, anak-anak muslim justru memakai pakaian SANBENITO untuk merayakan TAHUN BARU MASEHI dan merayakan ULANG TAHUN.

Meniup trompet-terompet ala topi SANBENITO di saat pergantian tahun.

Perayaan-perayaan yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah yang justru nyata-nyata berasal dari kaum Kafir.

Kaum yang telah merampas kejayaan Muslim Andalusia, dan menghancurkan sebuah peradaban maju Islam, Andalusia.

Setelah kita tahu sejarah ini, apakah kita masih tega memakai SANBENITO? atau membiarkan anak-anak, adik-adik, sahabat-sahabat kita memakainya? padahal 6 abad yang lalu, SANBENITO adalah pakaian tanda seorang MUSLIM TELAH MURTAD.

(ts/sumber: Buku MENYINGKAP FITNAH & TEROR – Hj.Irena Handono)
https://www.eramuslim.com/peradaban/kristologi/sanbenito-topi-khas-tanda-muslim-telah-murtad-yang-dijadikan-simbol-perayaan-tahun-baru.htm#.WGfYNb5MjOg

MUI dan Sejarah Fatwa yang Diabaikan Penguasa

Filed under: by: 3Mudilah

Tetapi jika fatwa itu benar dan jujur, masih juga ditolak, maka pemegang-pemegang kuasa itu akan dihukum oleh Tuhan sendiri
MUI dan Sejarah Fatwa yang Diabaikan Penguasa

Musyarawah Nasional ke-II Majelis Ulama Indonesia diketuai Buya Hamka dan dihadiri Menteri Agama H. Alamsyah Ratuperwiranegara di Sahid Hotel Jakarta, 26 Mei 1980

Oleh: Andi Ryansyah

HARI-HARI ini  umat Islam sedang menunggu hasil gelar perkara dugaan  kasus penistaan agama oleh Gubernur (non aktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Memang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan Ahok menista Al-Qur’an dan ulama, tapi iturupanya tidak menjamin aparat penegak hukum memutuskan Ahok melanggar pasal penistaan agama.Aparat tampaknya sangat berhati-hati dalam kasus Ahok ini, untuk tidak mengatakan lamban dan ragu dengan sikap MUI.

Perlu kita ketahui, sejarah Majelis Ulama Indonesia (MUI) ada, karena saat itu tumbuh rasa saling percaya dan membutuhkan diantara pemerintah dan ulama.

Sebelumnya, ada jarak di antara keduanya. Bila di masa revolusi, mereka bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan, namun 30 tahun setelah Indonesia merdeka, mereka makin lama makin berjauhan.

Pemerintah menganggap ulama sebagai batu penghalang pembangunan, kecuali yang mau “membantu”. Ulama diharuskan menyokong segala program pemerintah. Tak boleh dibantah. Meski menurut keyakinan ulama, program itu bertentangan dengan Islam.

Diperlakukan begitu, kalangan ulama tak tunduk. Mereka teringat akan hadits Nabi, “Ulama yang mendekati penguasa, dicemburui ketulusan agamanya. Lebih baik menjauh demi keselamatan agamamu.”

Ulama yang muda-muda tetap mengkritik pemerintah melalui tabligh-tabligh dan khutbah Jum’at. Kritik mereka pun sampai ke telinga pemerintah. Sampai pemerintah merasa perlu mengirim banyak intel. “Kadang-kadang, supaya laporan berisi, kata sejengkal direntang dijadikan sehasta. Kata sehasta dirunyut dijadikan sedepa,”ungkap Buya Hamka.

Satu waktu, di kalangan ulama menimbang, kalau mengkritik pemerintah di tabligh-tabligh saja atau di khutbah Jum’at  saja, lebih banyak ruginya ketimbang untungnya. Orang yang dikritik itu tidak insyaf.Malah timbul hawa nafsunya menjaga gengsi. Mengkritik dari jauh hanya akan menambah jauh.

Di kalangan pemerintah menimbang pula. Mereka menyadari kesalahan siasat selama ini yang menjadikan ulama sebagai alat politik pembujuk rakyat. Sebab rakyat sudah bosan dengan itu dan tak lagi bodoh.

Makin lama pemerintah makin merasakan betapa perlunya ulama-ulama mendampingi dan menasihatinya.Sebab banyak hal yang menyangkut agama yang tidak diketahuinya, yang dapat menyinggung perasaan umat Islam. Bagi pemerintah, pembangunan tak semata materi, tapi juga rohani. Karena itu pemerintah membentuk lembaga Majelis Ulama. Diajaklah ulama bergabung di dalamnya. Ulama yang merasa lebih baik tidak menjauh tadi, setelah mendengar ajakan pemerintah itu, lalu menerimanya (Hamka, Panji Masyarakat 1/8/1975, 15/9/1975).
Bersyukur Ada MUI
Setelah Majelis Ulama berdiri, lahirlah majelis ulama di tiap-tiap propinsi, kabupaten, sampai kecamatan mengadakan Musyawarah Nasional (Munas), yang dihadiri oleh empat orang ulama dari tiap-tiap propinsi, wakil-wakil dari organisasi Islam dan ulama-ulama terkemuka. Munas diadakan di Jakarta dari tanggal 21-26 Juli 1975. Tujuan utamanya mendirikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Pada munas itu, Presiden Soeharto membukanya dengan ucapan “Bismillahirrahmanirrahim”.
Dalam pengarahannya, Presiden Soeharto kala itu menginginkan ulama turut andil dalam pembangunan sesuai dengan bidangnya. Karena baginya, pembangunan bukan semata-mata materi, tapi juga rohani. Pak Harto menambahkan, “sebagai bangsa, kemerdekan kita sangat bergantung pada kemerdekaan jiwa dengan iman dan takwa kepada Allah, ketimbang pengaruh lain. Maka,  sangatlah besar harapan umat, khususnya yang beragama Islam, kepada ulamanya untuk amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat munkar) serta tidak merasa bimbang dan takut di dalam menegakkan kebenaran.”

Pak Harto juga mengungkapkan, kesadaran hidup beragama, keteguhan iman dan takwa, menyebabkan kita berlapang dada menghadapi penduduk yang agamanya berbeda. Sebab, lanjutnya, agama Islam mengajarkan dua hal penting dalam Al-Qur’an: la ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam agama) dan lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku).

Pak Harto menegaskan, Majelis Ulama akan memberikan nasihatnya kepada pemerintah baik diminta ataupun tidak (Hamka, Panji Masyarakat, 1/8/1975).

“Karena demikian besar peranan Alim Ulama dalam pembangunan masyarakat, maka saya menganggap sangat tepat adanya Majelis Ulamayang segera akan dibentuk oleh Ulama ini,” ungkap Presiden Soeharto (Pelita, 22/7/1975).

Dalam Munas saat itu, Menhankam, Jenderal TNI Maraden Panggabean, juga menyampaikan pandangannya.Kaum Ulama telah memberikan sahamnya yang sangat besar bagi pengisian arti kemerdekaan serta unsur yang turut serta dalam merealisasikan Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan memperkuat ketahanan spirituil dalam menghadapi ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila.” (Pelita, 23/7/1975).

Buya Hamka sendiri ketika itu berpidato. Ia memberikan gambaran bagaimana posisi ulama di masyarakat.“Kami ini bagaikan kue bika, dibakar antara dua bara api yang panas, di atas pemerintah dan di bawah umat. (RusydiHamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, 1981)

Munas yang pertama ini telah mempertemukan ulama-ulama dari  berbagai Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Ar-Rabithatul Alawiyah, dan Aljam-iyatul Washliyah. Semuanya bersatu dalam cinta kepada agama dan bangsa.

Munas berhasil membentuk pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang dilantik oleh Menteri Agama, Mukti Ali. Dewan pimpinannya terdiri dari Ketua Umum, Prof.Dr.Hamka dan Ketua-Ketua, KH.Abdullah Syafiie, KH. Syukri Ghozali, KH. Habib Muhammad Al-Habsyi, KH. Hasan Basri, dan H.Soedirman

Munas diakhiri dengan penandatanganan piagam berdirinya MUI tertanggal 26 Juli 1975. Secara berurutan 26 Ketua Delegasi Majelis Ulama Daerah Tingkat I membubuhkan tanda tangannya.
Masing-masing dimulai dari Delegasi DKI Jakarta sampai Maluku. Kemudian disusul oleh wakil-wakil Ormas Islam serta tokoh-tokoh perorangan yang menghadiri Munas tersebut.
Ormas-ormas Islam yang menandatangani Piagam tersebut adalah NU (diwakili KH.M.Dachlan), Muhammadiyah (Ir.H. Basid Wahid), Sarikat Islam (H.M.Syafii Wirakusuma), Perti (Nurhasan Ibnu Hajar), Al-Wasliyah, Mathla’ul Anwar, Al-Ittihadijah, GUPPI, PTDI, dan Dewan Masjid.

Tokoh-tokoh Islam yang membubuhkan tanda tangan ialah Prof.Dr.Hamka, KH.Safari, KH.Abdullah Syafii, Mr.Kasman Singodimedjo, KH.Hasan Basri,  Tgk.H.Abdullah Ujong Rimba, H. Kudratullah dan lain-lain.Turut pula menandatangani piagam tersebut dinas-dinas rohani ABRI, Disrohis Angkatan Darat, Disrohis Angkatan Laut, Disrohis Angkatan Udara, dan Disrohis Polri.
Dalam pedoman pokok MUI, ada lima fungsi MUI:
  1. Memberi fatwa dan nasihat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan umat Islam umumnya sebagai amar ma’ruf nahi munkar dalam usaha meningkatkan Ketahanan Nasional.
  2. Memperkuat ukhuwah Islamiyah dan melaksanakan kerukunan antar umat beragama. dalam mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Nasional.
  3. Mewakili umat Islam dalam Badan Konsultasi Antar Umat Beragama.
  4. Penghubung antara ulama dan umara (pemerintah) serta menjadi penerjemah timbal balik antara pemerintah dan umat guna mensukseskan pembangunan nasional.
  5. Majelis Ulama tidak berpolitik dan tidak bersifat operasionil (Pelita, 28/7/1975).
Dari sejarah berdirinya MUI ini, kita bisa saksikan bahwa sebetulnya pemerintah mempercayakan sepenuhnya persoalan agama kepada MUI. Namun dalam perjalanannya, pemerintah tidak selalu menerima fatwa MUI. Contohnya fatwa haram bagi umat Islam merayakan Natal bersama. Kala itu, Menteri Agama, Alamsyah, meminta fatwa tersebut dicabut. Tapi dengan tegas Hamka menolak dan memilih meletakkan jabatannya.Setalah pemerintah menolak fatwa itu, apakah MUI kehilangan kepercayaan umat? Faktanya umat tetap mengikuti fatwa itu. Umat tetap percaya Ulama. Pemerintah lah yang justru tak laku.

Jadi kalau pemerintah sekarang membela Ahok dan tidak mengikuti sikap MUI yang kedudukannya lebih tinggi dari fatwa, mereka memang berharap umat meninggalkannya.

Sebagai penutup, sebuah nasihat dari Ketua Umum MUI pertama, Buya Hamka, untuk mereka, “Kalau ada di antara kita yang bertanya apa sanksinya kalau nasehat dan fatwa tidak digubris oleh penguasa, tidaklah ada undang-undang manusia yang akan menuntut pemerintah. Sebab pemerintah itu sendiri adalah pemegang undang-undang. Tetapi jika fatwa itu benar dan jujur, masih juga ditolak, maka pemegang-pemegang kuasa itu akan dihukum oleh Tuhan sendiri. Kadang-kadang mereka terima kontan di dunia ini juga.Bertambah mereka tidak percaya akan kekuasaan Tuhan, bertambah mereka tenggelam ke dalam la’nat ilahi.”(Panji Masyarakat, 1/8/1975).*

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2016/11/16/105304/mui-dan-sejarah-ulama-yang-diabaikan-penguasa.html

Ashifatul Hazim dan Musuh dalam Selimut, Raja Salman di Khianati

Filed under: by: 3Mudilah

tim

Timur Tengah membara, Serangan Ashifatul Hazim, koalisi negara-negara teluk pimpinan Saudi memasuki pekan kedua cukup mengguncang pemerintah Syiah iraq, Iran dan Suriah sebagai sekutu berat Hautsi. Isu Israel ikut meyerang Yaman bersama Saudi ternyata tidak terbukti. Senjata-senjata Syiah Hautsi ternyata pasokan dari Isreael semakin nyata “Syiah Ekspor Yahudi Paling Mematikan”. (Baca di buku saya data lengkap kemesrahan Syiah dan yahudi).

Raja Salman dikhianati beberapa Negara Teluk di antaranya Uni Emirat yang membocorkan data serangan koalisi kepada Hautsi sehingga serangan berjalan kurang efektif. Mesir di bawah kendali As-Sisi yang bengis hingga hari ini tak ada pasukannya yang nongol bersama koalisi. Mesir di bawah As sisi tetap menjaga jarak dengan Raja Salman. Ketidaksukaan As sisi kepada Raja Salman karena Raja Salman dekat dengan sayap Ihwanul Muslimin musuh bebuyuatan As sisi. Bahkan Raja Salman pernah memberikan statemen Dholamana Mursi artinya kita telah menzolimi Mursi. Raja Salman juga agak kesulitan untuk membersihkan pengaruh At-Tuwayjiri di dinas intelejen Saudi yang sangat pro As sisi.

Menurut saya kasusnya sama dengan LB Murdani yang mendominasi milieter Indonesia di era tahun 1985 hingga tahun 2009. Kekuatan koalisi Asifatul Hazim yang paling strategis sebenarnya adalah Qatar dan Turky dan beberapa negara teluk lainya separti Jordan dan Quwait. Lebanon sendiri agak sulit karena peran Hizbullah Syiah cukup kuat de Lebanon.

Mujahidin Alqoidah AQap menjadi kunci strategis sebenarnya bila Saudi mau melakukan rekonsilidasi. Tapi tampaknya arahnya masih cukup jauh. Di ‘Adn sendiri mujhidin global sudah berkumpul dengan kekuatan penuh. Yaman Selatan dalam kontrol Mujahidin AQAP. Di banyak tempat rakyat Yaman pun turun ke jalan sambil bertriak khilafah ..khilafah…..

Akan kah mujahidin menjadi pemenang dalam kancah perang Dahsyat ini??

Semoga!!!!

DEDE NURJANATA
(Koordinator Kajian Timur Tengah)

 http://dedenurjannata.com/ashifatul-hazim-dan-musuh-dalam-selimut-raja-salman-di-khianati/

Ilmu Hadits dan Anak-anak

Filed under: by: 3Mudilah


A02c-Fathul-Bari 

MENGAJARKAN HADITS KEPADA ANAK-ANAK
أخبرني محمد بن الحسين بن الفضل القطان ، قال : أخبرنا دعلج بن أحمد ، قال : أخبرنا أحمد بن علي الأبار ، قال : حدثنا أبو أمية الحراني ، قال : حدثنا مسكين بن بكير ، قال : مر رجل بالأعمش ، وهو يحدث ، فقال له : تحدث هؤلاء الصبيان ؟ فقال الأعمش : « هؤلاء الصبيان يحفظون عليك دينك »

Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin al-Husain bin al-Fadhl al-Qoththon, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Da’laj bin Ahmad, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ali al-Abbar, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Abu Umayyah al-Haroni, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Miskin bin Bukair, ia berkata : Seseorang lewat di depan al-A’masy ketika ia sedang membacakan hadits, maka orang itu berkata “Engkau membacakan hadits kepada anak-anak itu?” al-A’masy menjawab : “Anak-anak itu akan menjaga agamamu untukmu.”


أخبرني الحسن بن أبي طالب ، قال : سمعت محمد بن عبد الله بن همام الكوفي ، يقول : سمعت عبد الله بن سليمان ، قال : سمعت المسيب بن واضح ، بتل منس ، يقول : كان ابن المبارك ، رحمه الله ، إذا رأى صبيان أصحاب الحديث ، وفي أيديهم المحابر ، يقربهم ، ويقول : هؤلاء غرس الدين ، أخبرنا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا يزال الله يغرس في هذا الدين غرسا يشد الدين بهم . هم اليوم أصاغركم ، ويوشك أن يكونوا كبارا من بعدكم »

Telah mengabarkan kepadaku al-Hasan bin Abi Tholib, ia berkata : aku mendengar Muhamma bin Abdillah bin Hammam al-Kufi berkata : aku mendengar Abdulloh bin Sulaiman, ia berkata : aku mendengar al-Musayyib bin al-Wadhih di Tal Mannas berkata: Dahulu Ibnul Mubarok rohimahulloh jika melihat anak-anak para ahlul hadits dengan pena-pena ditangan mereka, beliau mendekati mereka dan berkata : “mereka ini adalah tunas-tunas agama, kami telah dikabarkan bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Allah senantiasa menanamkan tunas-tunas dalam agama ini yang Dia menguatkan agama dengan mereka, mereka adalah anak-anak kecil di antara kalian, dan mereka kelak akan menjadi orang-orang besar setelah kalian.”

أخبرنا محمد بن أحمد بن رزق ، قال : حدثنا جعفر بن محمد بن نصير ، قال : حدثنا أحمد بن محمد بن مسروق ، قال : حدثنا محمد بن حميد ، قال : حدثنا ابن المبارك عبد الله ، قال : حدثنا جرير بن حازم ، عن عبد الله بن عبيد بن عمير ، قال : وقف عمرو بن العاص على حلقة من قريش ، فقال : « ما لكم قد طرحتم هذه الأغيلمة ؟ لا تفعلوا ، وأوسعوا لهم في المجلس ، وأسمعوهم الحديث ، وأفهموهم إياه . فإنهم صغار قوم ، أوشك أن يكونوا كبار قوم وقد كنتم صغار قوم ، فأنتم اليوم كبار قوم »

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Rizq, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Nashir, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Masruq, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarok, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, dari Abdulloh bin Ubaid bin Umair, ia berkata : Amr bin al-Ash singgah pada suatu halaqoh kaum Quraisy, lalu berkata : “mengapa kalian mengabaikan anak-anak ini? Jangan kalian lakukan itu, luaskanlah majelis ini untuk mereka dan perdengarkanlah hadits kepada mereka serta pahamkanlah hadits kepada mereka, karena sesungguhnya mereka adalah anak-anak kecil suatu kaum yang kelak akan menjadi besar, sebagaimana kalian dahulu juga anak kecilnya suatu kaum, dan kini kalian telah menjadi orang-orang besarnya.”

DIANTARA SALAF ADA YANG BERPENDAPAT: SEHARUSNYA BAGI SEORANG AYAH MEMAKSA ANAKNYA MEMPELAJARI HADITS

أخبرني محمد بن الفرج بن علي البزاز ، قال : أخبرنا محمد بن زيد بن مروان الكوفي ، قال : حدثنا عبد الله بن ناجية ح وأخبرنا رضوان بن محمد الدينوري ، قال : أخبرنا عمر بن إبراهيم المقرئ ، ببغداد ، قال : حدثنا البغوي ، قالا حدثنا زيد بن أخزم ، قال : سمعت عبد الله بن داود ، يقول : « ينبغي للرجل أن يكره ، ولده على سماع الحديث . وكان يقول : ليس الدين بالكلام ، إنما الدين بالآثار »

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Faroj bin Ali al-Bazzar, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Zaid bin Marwan al-Kufi, Telah menceritakan kepada kami Abdulloh bin Najiyah, telah mengabarkan kepada kami Ridhwan bin Muhammad ad-Dainuri, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Umar bin Ibrohim al-Muqri’ d Baghdad, ia berkata : telah menceritakan kepada kami al-Baghowi, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam, ia berkata : aku mendengar Abdulloh bin Dawud berkata : “Seharusnya bagi seorang ayah memaksa anaknya mendengarkan hadits”, beliau juga berkata : “Agama itu diketahui bukan dengan ilmu kalam, akan tetapi diketahui dengan atsar (hadits).”

MEMBUJUK ANAK AGAR MAU MEMPELAJARI HADITS

أخبرنا محمد بن أحمد بن رزق ، قال : أخبرنا محمد بن الحسن بن زياد النقاش ، قال : حدثنا محمد بن محمود أبو عمرو ، بنسا ، قال : حدثنا حميد بن زنجويه ، قال : حدثنا إبراهيم بن محمد الفريابي ، قال : حدثنا النضر بن الحارث ، قال : سمعت إبراهيم بن أدهم ، يقول : قال لي أبي : « يا بني ، اطلب الحديث ، فكلما سمعت حديثا ، وحفظته ، فلك درهم فطلبت الحديث على هذا »

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Rizq, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Hasan bin Ziyad an-Naqqosy, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahmud Abu Amr di Nasa, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Humaid bin Zanjawaih, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Muhammad al-Firyabi, ia berkata : telah menceritakan kepada kami an-Nadhor bin al-Harits, ia berkata : aku mendengar Ibrohim bin Adam berkata : Ayahku berkata kepadaku : “Wahai anakku, pelajarilah hadits, setiap kali engkau dengar hadits dan menghafalnya, aku akan memberimu 1 dirham”, akupun mempelajari hadits dengan sebab ini.
***

Oleh : al-Khothib al-Baghdadi rohimahulloh

Sumber : Syarf Ash-habul Hadits oleh al-Khothib al-Baghdadi
Mengambil faidah dari : http://www.subulassalaam.com/articles/article.cfm?article_id=48

https://tholib.wordpress.com/2009/08/27/ilmu-hadits-dan-anak-anak/#more-339

Fatwa Ulama: Perayaan Maulid Nabi Adalah Masalah Khilafiyah?

Filed under: by: 3Mudilah

Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr
Soal :

Apakah merayakan maulid Nabi termasuk masalah khilafiyah (yang diperselisihkan) di antara para ulama?

Jawab :

Tidak ada dalil yang menyatakan boleh merayakan kelahiran Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam– . Karena selama tiga abad pertama hijriyah (masa keemasan Islam) tidak ditemukan perayaan ini. Perayaan ini muncul setelah masa itu. Maka ini menunjukkan perayaan ini termasuk perkara baru dalam Islam. Tidak ada sahabat, tabi’in, tabiuttabi’in yang merayakannya. Ini bukti bahwa perkara ini adalah perkara yang baru dalam agama. Seandainya boleh tentu sudah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, para Khulafaur rasyidin, sahabat, tabi’in dan tabiuttabi’in. Akan tetapi hal ini tidak didapati pada masa tiga generasi pertama. Ini perkara baru.

Barangkali ada yang beralasan dengan perbuatan orang-orang Nasrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa dan kaum muslimin tentu lebih berhak untuk merayakannya, ini dalil tidak benar. Yang diperbincangkan adalah selama tiga generasi pertama Islam, tidak didapati perayaan maulid Nabi. Ini menunjukkan bahwa hal ini menyelisihi prinsip mereka yang hidup di tiga abad pertama masa keemasan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خير النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabiu’t tabi’in)” (HR. Bukhari & Muslim).

Tidak semua perbedaan pendapat para ulama itu bisa diambil (khilaf mu’tabar), dan tidak setiap pendapat memiliki dalil yang kuat. Mereka yang membolehkan perayaan maulid Nabi berdalil dengan perbuatan kaum Nasrani. Mereka menyatakan bahwa kaum Nashrani merayakan kelahiran Nabi Isa karena mereka cinta, mengapa kita tidak merayakan kelahiran Nabi kita karena cinta kepada beliau? Namun nyatanya para khulafaur rasyidin tidak merayakan, para sahabat tidak merayakan, para tabi’in dan tabiut tabi’in juga tidak merayakan. Maka ini adalah termasuk perkara baru dalam agama, yang tidak ditemui di tiga generasi pertama. Perayaan ini baru muncul pada abad ke 4 hijriyah.

(Selesai, terhenti oleh iqomah sholat Isya).
Fatwa ini beliau sampaikan pada sesi tanya jawab kajian Shahih Bukhori, pada 10 Rabiulawwal 1438 H, di masjid Nabawi.

Anda bisa menyimaknya di sini :
https://drive.google.com/file/d/0Bx_gQF8gz7hoWHEzQld6S0xKMlk/view?usp=docslist_api
****
Direkam dan diterjemahkan oleh : Ahmad Anshori
Artikel Muslim.or.id

Sebelum Kalian Boikot Sari Roti, Kami Sekeluarga Sudah “Haramkan” Bahkan Juga Pada Indomaret Alfamart

Filed under: by: 3Mudilah

Tuan dan puan,


Saya ingin urun rembug. Bicara langkah konkrit, secara Pribadi sudah saya lakukan sampai hari ini.
Sebelum sari roti kita boikot, saya sudah larang anak isteri saya beli sari roti dan Sara lee. Di awal mereka mulai bisnisnya. Kenapa? Karena mereka pemain besar.

Bahkan ketika indomaret & alfamart mulai muncul, hampir saya haramkan Keluarga saya beli apapun di situ. Kenapa? Karena minimarket adalah bisnis yang langsung menghancurkan fondasi Ekonomi rakyat.

Maka ketika saya bekerja di Dompet Dhuafa (DD), saya bukan hanya melarang DD belanja ke mini atau Hypermart. Kenapa? Jangan sampai uang berputar hanya di antara kalangan kaya (konglomerat) yang itu-itu juga.

Saya larang pula ACT (LSM Aksi Cepat Tanggap) di awal dulu, untuk belanja di carefour dll. Kenapa? Rakyat pun harus terima perputaran uang ZISWAF.

Jika kita tak ijtihad, Maka orang miskin hanya terima barang. Yang notabene adalah produk mereka juga. Korban bencana dan fakir miskin, harus terima perputaran ZISWAF. Untuk itulah fungsi keberadaan amil zakat ada.

Masih ingat dengan “Politik Benteng” yang digagas Soemitro Djojohadikoesoemo? Bapaknya Prabowo ini menegaskan, bahwa perusahaan besar tak boleh masuk ke pasar di kecamatan.

Thailand dan Malaysia memakai Politik Bentengnya Soemitro. Hasilnya Thailand melejit.

Malaysia pun keluarkan strategi New Economic Policy. Hasilnya, lihat bumiputera diprotek dan kini jadi juga sebagai pengusaha-pengusaha besar.

Di Indonesia? Sekarang minimarket bahkan sudah merambah di ujung-ujung pelosok negeri. Desa yang seharusnya pusat produksi, kini malah jadi pasar perusahaan-perusahaan besar. Uang desa pun akhirnya tersedot.

Sampai hari ini saya bertahan untuk tak belanja pada barang atau Toko yang hancurkan rakyat. Saat saya di DD,

Kita buat mini market juga. Masya Allah saya sampai lupa apa namanya. Mungkin Jamil Azzaini dan Ahmad Juwaini, masih ingat namanya. Lepas dari kurang berkembangnya minimarket Itu.

Sampai hari ini saya terus bergerak di akar rumput. Sekarang tawarkan kan pada siapapun untuk bangun LUMBUNG DESA.

Mengapa Lumbung Desa? Sebab Indonesia total punya 82 ribu desa. Sebanyak 71 ribu desa, kini dalam kondisi miskin kin kin… Inilah hasil kebijakan Yang entahlah…

Mulai 2017, saya mulai tawarkan Pelatihan Bagaimana Membuat Program Masterpiece.

Seperti program THK, itu tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Begitu juga dengan BMT, ACT, LKC dll. Program-program yang kini menginspirasi berbagai lembaga zakat, ini lah yang ditawarkan untuk dilahirkan, siapapun Kita dan lembaga yang ingin BERBUAT NYATA Pasti saya akan colek dan sekarang sedang dicolek Kang Harlan, apakah FSS mau kerja sama utk pelatihan itu.

Kita memang harus berjamaah untuk BERDIKARI. Dan dana ZISWAF telah buktikan, kita bisa untuk merealisasikan. Tinggal apakah Kita mau MAN JADDA WAJADA (‘Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil”) Atau….

Saya sudah mundur dari DD sejak 2003. Tapi sampai Hari ini saya masih di pemberdayaan. Saya anggap ini juga dakwah. Saya anggap ini hidayah. Sampai Akhir Hayat Saya ingin tetap berada dalam barisan ini.

Saya bangga dengan Aksi 411 dan 212. Semoga saya pun punya sesuatu untuk gerakan berikut. Sekecil apapun. Allahu Akbar….

by: ERIE SUDEWO (Pendiri Dompet Dhuafa)

Sumber : portalpiyungan.co
(nahimunkar.com)

PEMBATAL-PEMBATAL KEISLAMAN

Filed under: by: 3Mudilah


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Berikut ini akan kami sebutkan sebagiannya:

  1. Menyekutukan Allah (syirik).
    Yaitu menjadikan sekutu atau menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Misalnya berdo’a, memohon syafa’at, bertawakkal, beristighatsah, bernadzar, menyembelih yang ditujukan kepada selain Allah, seperti menyembelih untuk jin atau untuk penghuni kubur, dengan keyakinan bahwa para sesembahan selain Allah itu dapat menolak bahaya atau dapat mendatangkan manfaat.
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” [An-Nisaa/4’: 48]

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
“… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maa-idah/5: 72]
  1. Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafa’at, serta bertawakkal kepada mereka.
    Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sekutu) selain Allah, maka tidaklah mereka memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula dapat memindahkannya.’

Yang mereka seru itu mencari sendiri jalan yang lebih dekat menuju Rabb-nya, dan mereka mengharapkan rahmat serta takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Israa’/17: 56-57][2]
  1. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat me-reka.
    Yaitu orang yang tidak mengkafirkan orang-orang kafir -baik dari Yahudi, Nasrani maupun Majusi-, orang-orang musyrik, atau orang-orang mulhid (Atheis), atau selain itu dari berbagai macam kekufuran, atau ia meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, maka ia telah kafir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” [Ali ‘Imran/3: 19][3]

Termasuk juga seseorang yang memilih kepercayaan selain Islam, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunis, sekularisme, Masuni, Ba’ats atau keyakinan (kepercayaan) lainnya yang jelas kufur, maka ia telah kafir.

Juga firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran/3: 85]

Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka, namun ia menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, ia tidak mau mengkafirkan mereka, atau meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, sedangkan kekufuran mereka itu telah menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah/98: 6]

Yang dimaksud Ahlul Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sedangkan kaum musyrikin adalah orang-orang yang menyembah ilah yang lain bersama Allah[4]
  1. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.
Termasuk juga di dalamnya adalah orang-orang yang meyakini bahwa peraturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih afdhal (utama) daripada sya’riat Islam, atau orang meyakini bahwa hukum Islam tidak relevan (sesuai) lagi untuk diterapkan di zaman sekarang ini, atau orang meyakini bahwa Islam sebagai sebab ketertinggalan ummat. Termasuk juga orang-orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum rajam bagi orang yang (sudah menikah lalu) berzina sudah tidak sesuai lagi di zaman sekarang.

Juga orang-orang yang menghalalkan hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil syar’i yang telah tetap, seperti zina, riba, meminum khamr, dan berhukum dengan selain hukum Allah atau selain itu, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama.

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al-Maa-idah/5: 50]

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” [Al-Maa-idah/5: 44]

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah/5: 45]

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Maa-idah/5: 47]
  1. Tidak senang dan membenci hal-hal yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia telah kafir.
    Yaitu orang yang marah, murka, atau benci terhadap apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun ia melakukannya, maka ia telah kafir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang di-turunkan Allah (Al-Qur-an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad/47: 8-9]

Juga firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) setelah jelas petunjuk bagi mereka, syaithan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): ‘Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan,’ sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka dan punggung mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad/47: 25-28]
  1. Menghina Islam
    Yaitu orang yang mengolok-olok (menghina) Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur-an, agama Islam, Malaikat atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di ‘Arafah atau menghina masjid, adzan, memelihara jenggot atau Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama Allah pada tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta terdapat keberkahan padanya, maka dia telah kafir.
Allah Ta’ala berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
“… Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [At-Taubah/9: 65-66]

Dan firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” [Al-An’aam/6: 68]
  1. Melakukan Sihir
    Yaitu melakukan praktek-praktek sihir, termasuk di dalamnya ash-sharfu dan al-‘athfu.
    Ash-sharfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian terhadapnya.
Adapun al-‘athfu adalah amalan sihir yang dimaksudkan untuk memacu dan mendorong seseorang dari apa yang tidak dicintainya sehingga ia mencintainya dengan cara-cara syaithan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
“…Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir…’” [Al-Baqarah/2: 102]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.
‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah (pelet) adalah perbuatan syirik.’”[5]
  1. Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum Muslimin
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin bagimu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah/5: 51][6]

Juga firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan sebagai pemimpin, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan dari orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertawakkallah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [Al-Maa-idah/5: 57]
  1. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Yaitu orang yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari sya’riat (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi Khidir dibolehkan keluar dari sya’riat Nabi Musa Alaihissallam, maka ia telah kafir.
Karena seorang Nabi diutus secara khusus kepada kaumnya, maka tidak wajib bagi seluruh menusia untuk mengikutinya. Adapun Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia secara kaffah (menyeluruh), maka tidak halal bagi manusia untuk menyelisihi dan keluar dari syari’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…’” [Al-A’raaf/7: 158]

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Saba’/34: 28]

Juga firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa’/21: 107]

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” [Ali ‘Imran/3: 83]

Dan dalam hadits disebutkan:

وَاللهِ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ.
“Demi Allah, jika seandainya Musa q hidup di tengah-tengah kalian, niscaya tidak ada keleluasaan baginya kecuali ia wajib mengikuti syari’atku.”[7]
  1. Berpaling dari agama Allah Ta’ala, ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya.
    Yang dimaksud dari berpaling yang termasuk pembatal dari pembatal-pembatal keislaman adalah berpaling dari mempelajari pokok agama yang seseorang dapat dikatakan Muslim dengannya, meskipun ia jahil (bodoh) terhadap perkara-perkara agama yang sifatnya terperinci. Karena ilmu terhadap agama secara terperinci terkadang tidak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali para ulama dan para penuntut ilmu.
Firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ
“… Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” [Al-Ahqaaf/46: 3]

Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” [As-Sajdah/32: 22]

Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” [Thaahaa/20: 124]

Yang mulia ‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alusy Syaikh ketika memulai Syarah Nawaaqidhil Islaam, beliau berkata: “Setiap Muslim harus mengetahui bahwa membicarakan pembatal-pembatal keislaman dan hal-hal yang menyebabkan kufur dan kesesatan termasuk dari perkara-perkara yang besar dan penting yang harus dijalani sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah.

Tidak boleh berbicara tentang takfir dengan mengikuti hawa nafsu dan syahwat, karena bahayanya yang sangat besar. Sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh dikafirkan dan dihukumi sebagai kafir kecuali sesudah ditegakkan dalil syar’i dari Al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab jika tidak demikian orang akan mudah mengkafirkan manusia, fulan dan fulan, dan menghukuminya dengan kafir atau fasiq dengan mengikuti hawa nafsu dan apa yang diinginkan oleh hatinya. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang diharamkan.

Allah berfirman:

فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Al-Hujuraat/49: 8]

Maka, wajib bagi setiap Muslim untuk berhati-hati, tidak boleh melafazhkan ucapan atau menuduh seseorang dengan kafir atau fasiq kecuali apa yang telah ada dalilnya dari Al-Qur-an dan As-Sunnah. Sesungguhnya perkara takfir (menghukumi seseorang sebagai kafir) dan tafsiq (menghukumi seseorang sebagai fasiq) telah banyak membuat orang tergelincir dan mengikuti pemahaman yang sesat. Sesungguhnya ada sebagian hamba Allah yang dengan mudahnya mengkafirkan kaum Muslimin hanya dengan suatu perbuatan dosa yang mereka lakukan atau kesalahan yang mereka terjatuh padanya, maka pemahaman takfir ini telah membuat mereka sesat dan keluar dari jalan yang lurus.”[8]

Imam asy-Syaukani (Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, hidup tahun 1173-1250 H) rahimahullah berkata: “Menghukumi seorang Muslim keluar dari agama Islam dan masuk dalam kekufuran tidak layak dilakukan oleh seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, melainkan dengan bukti dan keterangan yang sangat jelas -lebih jelas daripada terangnya sinar matahari di siang hari-. Karena sesungguhnya telah ada hadits-hadits yang shahih yang diriwayatkan dari beberapa Sahabat, bahwa apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir,’ maka (ucapan itu) akan kembali kepada salah seorang dari keduanya. Dan pada lafazh lain dalam Shahiihul Bukhari dan Shahiih Muslim dan selain keduanya disebutkan, ‘Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekufuran, atau berkata musuh Allah padahal ia tidak demikian maka akan kembali kepadanya.’
Hadits-hadits tersebut menunjukkan tentang besarnya ancaman dan nasihat yang besar, agar kita tidak terburu-buru dalam masalah kafir mengkafirkan.”[9]

Pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan di atas adalah hukum yang bersifat umum. Maka, tidak diperbolehkan bagi seseorang tergesa-gesa dalam menetapkan bahwa orang yang melakukannya langsung keluar dari Islam. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pengkafiran secara umum sama dengan ancaman secara umum. Wajib bagi kita untuk berpegang kepada kemutlakan dan keumumannya. Adapun hukum kepada orang tertentu bahwa ia kafir atau dia masuk Neraka, maka harus diketahui dalil yang jelas atas orang tersebut, karena dalam menghukumi seseorang harus terpenuhi dahulu syarat-syaratnya serta tidak adanya penghalang.”[10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Syarat-syarat seseorang dapat dihukumi sebagai kafir adalah:

1. Mengetahui (dengan jelas),
2. Dilakukan dengan sengaja, dan
3. Tidak ada paksaan.
Sedangkan intifaa-ul mawaani’ (penghalang-penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir ) yaitu kebalikan dari syarat tersebut di atas: (1) Tidak mengetahui, (2) tidak disengaja, dan (3) karena dipaksa.[11]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1] Pembahasan ini dinukil dari Silsilah Syarhil Rasaa-il lil Imaam al-Mujaddid Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah (hal. 209-238) oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan, cet. I, th. 1424 H; Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah lisy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin ‘Abdirrahman bin Baaz rahimahullah (I/130-132) dikumpulkan oleh Dr. Muhammad bin Sa’d asy-Syuwai’ir, cet. I/ Darul Qasim, th. 1420 H; al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid (hal. 45-53) oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin ‘Ali al-Yamani al-Washabi al-‘Abdali, cet. VII/ Maktabah al-Irsyad Shan’a, th. 1422 H; dan at-Tanbiihatul Mukhtasharah Syarhil Waajibaat al-Mutahattimaat al-Ma’rifah ‘alaa Kulli Muslim wa Muslimah (hal. 63-82) oleh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khurasyi, cet. I/ Daar ash-Shuma’i, th. 1417 H.
[2] Lihat juga Al-Qur’an surat Saba’/34: 22-23 dan az-Zumar/39: 3
[3] Lihat juga Al-Qur’an surat Al-Baqarah/2: 217, al-Maa-idah/5: 54, Muhammad/47: 25-30
[4] Lihat juga Al-Qur’an surat Al-Maa-idah/5: 17, al-Maa-dah/5: 54, al-Maa-idah/5: 72-73, an-Nisaa’/4: 140, al-Baqarah/2: 217, Muhammad/47: 25-30
[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3883) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (no. 1632) dan Silsilah ash-Shohiihah (no. 331). Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Hakim (IV/217), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad (I/381), ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir (X/262), Ibnu Hibban (XIII/456) dan al-Baihaqi (IX/350).
[6] Lihat Al-Qur’an surat Ali ‘Imran/3: 100-101 dan Al-Mumtahanah/60: 13
[7] Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwaa’ (VI/34, no. 1589) dan ia menyebutkan delapan jalan dari hadits tersebut. Dan jalan ini telah disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsiirnya pada ayat 81 dan 82 dari surat Ali ‘Imran
[8] Dinukil dari at-Tabshiir bi Qawaa-idit Takfiir (hal. 42-44) oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Halabi
[9] Sailul Jarraar al-Mutadaffiq ‘alaa Hadaa-iqil Az-haar (IV/578).
[10] Majmuu’ Fataawaa (XII/498) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
[11] Lihat Majmuu’ Fataawaa (XII/498), Mujmal Masaa-ilil Iimaan wal Kufr al-‘Ilmiy-yah fii Ushuulil ‘Aqiidah as-Salafiyyah (hal. 28-35, cet. II, th. 1424 H) dan at-Tab-shiir bi Qawaa-idit Takfiir (hal. 42-44).