FATWA PALESTINA

Filed under: by: 3Mudilah

Komite Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah Dan Fatwa (Lajnah Da`imah Lilbuhuts al-Ilmiyah Wa al-Ifta`) mengeluarkan penjelasan tentang peristiwa pembunuhan, pengepungan dan pengeboman yang terjadi di Jalur Ghaza.

Berikut ini adalah teks penjelasan tersebut :

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَبَعْدُ :

Komite Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa (Lajnah Dâ`imah lilbuhûts al-Ilmiyah wa al-Iftâ`) di Saudi Arabia merasa berduka cita dan merasakan sedih atas apa yang sedang menimpa saudara-saudara kita di Palestina, khususnya di Ghaza berupa kezhaliman, pembunuhan terhadap anak-anak, wanita dan orang-orang jompo, merusak kehormatan dan penghancuran terhadap rumah-rumah dan tempat-tempat strategis serta menebarkan rasa takut. Ini jelas merupakan kejahatan dan kezhaliman terhadap masyarakat Palestina.

Peristiwa menyedihkan ini seharusnya menjadikan kaum Muslimin bersatu bersama kaum Muslimin Palestina, saling tolong-menolong bersama mereka, membantu serta berupaya keras menghilangkan kezhaliman ini dari mereka dengan berbagai sebab dan sarana yang bisa dilakukan. Sebagai wujud ukhuwah Islamiyah dan ikatan iman.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

"Sesungguhnya orang-orang Mu'min itu bersaudara". [al-Khujurât/49:10]

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain". [at-Taubah/9:71]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

"Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan’. Dan beliau menjalin antara jari-jemari beliau" [Muttafaq ‘Alaihi].

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih dan sayang mereka seperti satu tubuh. Apabila aa salah satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur". [Muttafaq ‘Alaihi].

Juga beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلاَيَسْلِمُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ رواه مسلم

"Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya, ia tidak menzhaliminya, tidak merendahkannya, tiak menyerahkannya (kepada musuh) dan tidak menghinakannya" [HR Muslim]

Pertolongan ini mencakup banyak hal sesuai dengan kemampuan dan keadaan, baik bantuan itu berwujud materi ataupun maknawi (spirit); baik yang berasal dari individu-individu kaum Muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian dan lain sebagainya, atau pun bantuan dari pihak negara-negara arab dan Islam dengan mempermudah pendistribusian bantuan-bantuan tersebut kepada kaum muslimin yang membutuhkan bantuan serta mengambil sikap yang benar serta membela kepentingan kaum Muslimin yang sedang membutuhkan bantuan itu di berbagai acara, perkumpulan dan pertemuan tingkat internasional atau nasional. Semua ini termasuk tolong-menolong pada kebenaran dan taqwa yang diperintahkan dalam firman Allah Azza wa Jalla :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

"Tolong-menolonglah kalian diatas kebaikan dan takwa". [al-Mâidah/5:2].

Juga termasuk membantu adalah memberikan nasehat dan menunjukkan sesuatu yang membawa kebaikan dan kemaslahatan buat mereka. Diantara bantuan yang teragung adalah berdo’a buat mereka di setiap waktu, semoga Allah Azza wa Jalla menghilangkan cobaan dan musibah besar ini, memperbaiki keadaan mereka dan meluruskan amal dan perkataan mereka.

Demikian. Dan kami berwasiat kepada saudara-saudara kami kaum Muslimin di Palestina agar tetap bertaqwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami juga mewasiatkan kepada mereka agar bersatu dalam kebenaran, tidak berpecah belah dan tidak bertikai serta tidak memberikan kesempatan kepada musuh untuk menghina dan berbuat lebih zhalim lagi.

Kami menganjurkan kepada saudara-saudara kami untuk melakukan tindakan-tindakan dalam rangka menghilangkan kezhaliman di daerah mereka sambil terus beramal dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengharapkan ridha-Nya dan isti’anah (memohon bantuan) kepada Allah melalui kesabaran dan shalat serta tetap bermusyawarah dengan para ulama dalam segala urusan mereka. Karena itu adalah tanda mendapatkan hidayah dari Allah.

Sebagaimana juga kami mengajak para cendikiawan dunia dan masyarakat internasiobnal secara umum agar melihat musibah ini dengan baik dan adil untuk memberikan masyarakat Palestina apa yang menjadi hak-hak mereka dan menghilangkan kezhaliman. Sehingga mereka bisa hidup mulia.

Dan pada kesempatan ini juga, kami berterima kasih kepada semua negara dan individu yang telah berperan dalam membela dan membantu kaum Muslimin Palestina.

نَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلاَ أَنْ يَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ هَذِهِ الأُمَّةِ ، وَأَنْ يُعِزَّ دِيْنَهُ ، وَيُعْلِيَ كَلِمَتَهُ وَأَنْ يَنْصُرَ أَوْلِيَاءَهُ ، وَأَنْ يَخْذُلَ أَعْدَاءَهُ ، وَأَنْ يَجْعَلَ كَيْدَهُمْ فِي نُحُوْرِهِمْ ، وَأَنْ يَكْفِيَ الْمُسْلِمِيْنَ شَرَّهُمْ ، إِنَّهُ وَلَيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ

Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang paling baik dan sifat-sifat-Nya yang paling tinggi agar menghilangkan penderitaan dari umat ini, agar menjadikan agama ini berjaya, agar meninggikan kalimat-Nya serta membantu para wali Allah, agar menghinakan para musuh-musuh-Nya, agar membalikkan tipu daya para musuh ini kepada mereka sendiri dan agar melindungi kaum Muslimin dari kejahatan musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk melakukan itu.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Mufti Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Majlis Ulama Besar
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh
Riyadh, tanggal 3 Muharam 1430 H / 31 Desember 2008 M
Sumber : www.saaid.net. Diterjemahkan oleh Kholid Syamhudi.




Oleh
Lajnah Da`imah Lilbuhuts al-Ilmiyah Wa al-Ifta`

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]

http://almanhaj.or.id/content/3959/slash/0/fatwa-palestina-pembunuhan-pengepungan-dan-pengeboman-jalur-ghaza/

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Filed under: by: 3Mudilah

Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya tak henti menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan. Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.

Mukmin Sejati Itu Dermawan

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:

‏إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Dari hadits ini demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelit dan bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati. Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‏اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة
“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلماً فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقاً فهذا بأفضل المنازل

“Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik.” (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)

Keutamaan Bersedekah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan  orang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek keshahihannya. Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.

Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

1. Sedekah dapat menghapus dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)

2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

3. Sedekah memberi keberkahan pada harta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:'

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”

4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)

6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة برهان

“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)

An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”

7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‏إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)

9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:

مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع

“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil?

10. Pahala sedekah terus berkembang

Pahala sedekah walaupun hanya sedikit itu akan terus berkembang pahalanya hingga menjadi besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ يقبلُ الصدقةَ ، ويأخذُها بيمينِه ، فيُرَبِّيها لِأَحَدِكم ، كما يُرَبِّي أحدُكم مُهْرَه ، حتى إنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ

sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)

11. Sedekah menjauhkan diri dari api neraka

Sesungguhnya sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

اتَّقوا النَّارَ ولو بشقِّ تمرةٍ ، فمن لم يجِدْ فبكلمةٍ طيِّبةٍ

jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016)

12. Boleh iri kepada orang yang dermawan

Iri atau hasad adalah akhlak yang tercela, namun iri kepada orang yang suka bersedekah, ingin menyaingi kedermawanan dia, ini adalah akhlak yang terpuji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لا حسدَ إلا في اثنتين : رجلٌ آتاه اللهُ مالًا؛ فسلَّطَ على هَلَكَتِه في الحقِّ ، ورجلٌ آتاه اللهُ الحكمةَ؛ فهو يَقضي بها ويُعلمُها

tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan harta oleh Allah, kemudia ia belanjakan di jalan yang haq, dan seseorang yang diberikan oleh Allah ilmu dan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 73, Muslim 816)

Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan

Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:

كان النبي صلى الله عليه وسلم أشجع الناس وأجود الناس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan.” (HR. Bukhari no.1033, Muslim no. 2307)

Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat.

Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.

Oleh karena itu, kita yang mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Yaitu semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya. Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:

1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya. Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به

“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)

Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

“Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

“Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)

2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.

Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi. Subhanallah! Dan ini bisa terjadi dengan sedekah, yaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)

Betapa Allah Ta’ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu lebarnya di bulan yang penuh berkah ini.

3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.

Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia mudah terpedaya godaan setan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, setan berkata:

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. Al A’raf: 16)

Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين

“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)

Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbedanya dengan bulan lain. Orang-orang bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya. Subhanallah.

Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar. Karena yang mendasari keyakinan ini adalah hadits yang lemah, yaitu hadits:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka  kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun.” Kemudian para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan Al Ash-habani dalam At Targhib (178). Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115), juga oleh Dhiya Al Maqdisi di Sunan Al Hakim (3/400), bahkan dikatakan oleh Al Albani hadits ini Munkar, dalam Silsilah Adh Dhaifah (871).

Ringkasnya, walaupun tidak terdapat kelipatan pahala 70 kali lipat pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan, pada asalnya setiap amal kebaikan, baik di luar maupun di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah 10 sampai 700 kali lipat. Berdasarkan hadits:

‏إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

“Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)

Oleh karena itu, orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi.

Subhanallah…
Ayo jangan tunda lagi…
***
Penulis: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id

ISIS dan Mosul Hari Ini

Filed under: by: 3Mudilah





mosul iraq ISIS dan Mosul Hari Ini

ENTAH siapa ISIL atau ISIS itu—Negara Islam Iraq dan Syam, Barat menyebutnya Levant. Namun betapa blingsatannya Perdana Menteri Iraq Nouri Al-Maliki hari-hari ini. Kemarin, Mosul, kota ketiga terbesar di Iraq jatuh, direbut ISIL. Barat menyebut bahwa Maliki telah gagal berkuasa, khilafah sudah dimulai, dan kemudian menyebut bahwa ISIL dan atau ISIS itu, adalah ancaman terbesar dari terorisme di Timur Tengah setelah Al-Qaidah.

Dalam skala bencana, pasukan yang setia kepada Maliki membanjir di utara Iraq dan pasukan yang dikendalikan oleh Pemerintah Daerah Kurdi dengan terburu-buru bergegas menuju barat dan selatan. Chicago adalah kota terbesar ketiga di Amerika Serikat. Munich di Jerman. Osaka di Jepang.Namun tidak seperti kota-kota Anbar Fallujah dan Ramadi, Mosul adalah sebuah kota etnik dan agama mulai dari Sunni dan Syiah Arab, Kurdi dan Turki, Kristen dan Muslim. Pasukan AS menang, kalah, dan memenangkan kontrol lagi atas ari Fallujah dalam pertempuran sengit selama tahun-tahun awal perang Amerika di Irak. Tapi Mosul adalah sesuatu yang lain lagi.

Kota ini adalah ibukota Provinsi Nineveh utara, sisi barat yang berbatasan dengan Suriah. Selama puncak perang AS di Iraq, kota ini tak pernah berhenti berdenyut.

Kota-kota kecil di daerah timur, seperti Tal Afar, telah berulang kali jatuh ke tangan para pejuang Islam selama satu dekade terakhir. Tapi Mosul adalah permata mahkota, pusat transportasi dan perdagangan. Memegang Mossul adalah prioritas pemerintah. Kehilangan kendali atasnya, jika hanya sebentar, merupakan indikasi kuat kegagalan pemerintah Maliki dan sesuatu yang mungkin akan memacu letupan berikutnya.

Maliki telah menanggapi hal ini dengan menyatakan keadaan darurat, memberlakukan jam malam di Baghdad dan kota-kota lainnya, dan, dengan nada yang putus asa, mempersenjatai warga untuk melawan ISIS yang terorganisasi dan bersenjata.

Ketua Parlemen Iraq Osman Nujaifi mengatakan hampir semua instalasi pemerintah di kota ini telah jatuh ke tangan ISIS. “Ketika pertempuran semakin sulit di kota Mosul, pasukan menjatuhkan senjata mereka dan meninggalkan pos mereka, menjadikannya sebagai mangsa yang sangat mudah bagi ISIS,” kata Nujaifi kepada wartawan.

Hari ini, menurut orang-orang di Mosul, ISIS membongkar barikade keamanan dan hambatan kota yang diberlakukan setelah Saddam Hussein diburu seperti tikus. Meskipun ada laporan bahwa bagian dari kota sebelah timur Sungai Tigris, dekat dengan jantung Kurdi tidak jatuh, tapi Mosul barat adalah jantung kota.

Kemenangan ISIS, bagi Barat, adalah saat tanda tangan, bukti bahwa ISIS tidak dapat dianggap hanya sebagai sebuah kelompok masyarakat pejuang di Suriah, tetapi bukan tidak mungkin untuk mulai mengambil lagi tanah Iraq yang selama 10 tahun belakangan ini dirampas oleh penganut Syiah.
AS sudah menghabiskan lebih dari $ 14 milyar untuk pelatihan dan memperlengkapi pasukan keamanan Iraq. Ketika pasukan AS meninggalkan Iraq pada akhir tahun 2011 (karena katanya Maliki menolak untuk menandatangani perjanjian keterlibatan militer AS), politisi AS dan pemimpin militer berbicara tentang bagaimana rakyat Iraq siap untuk berdiri sendiri, bagaimana benih-benih rekonsiliasi politik telah ditaburkan oleh perang yang telah menelan biaya lebih dari $ 2 triliun, 4.486 nyawa rakyat Amerika, dan lebih dari 100.000 orang Iraq, dan kemudian nilai-nilai Islam digantikan oleh nilai Syiah di negeri ini.

Dan ini adalah Mosul hari ini. [sa/islampos/csm]

http://www.islampos.com/isis-dan-mosul-hari-ini-115384/

Pengecut, Sebagai Balas Serangan IS, Tentara Syiah Irak Bunuh 255 Tahanan Sunni di dalam Sel Tahanan


Shi'ite volunteers, who have joined the Iraqi army to fight against militants of the Islamic State, march while hilding flags during training in BaghdadPasukan keamanan Irak dan milisi Syiah  mengeksekusi mati sedikitnya 255 tahanan Mujahidin Sunni dalam sel tahanannya , Human Rights Watch mengatakan pada hari Jumat.

“Pasukan keamanan Irak dan milisi yang berafiliasi dengan pemerintah tampaknya telah eksekusi mati setidaknya 255 tahanan … sejak 9 Juni,” kata pengawas itu dalam sebuah pernyataan.
“Pembunuhan pembunuhan massal dapat menjadi bukti kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata HRW berbasis di New York.

Dikatakan pembunuhan tersebut  tampaknya telah dilakukan oleh Syiah sebagai pembalasan atas penguasaan wilayah di Irak  yang dipimpin Daulah  Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Daulah Islam (IS), adalah sebuah organisasi milisi Sunni yang bulan lalu berhasil menguasai sebagian besar wilayah Irak, termasuk kota kedua Mosul, dan sejak itu dinyatakan sebagai “Khilafah” .
“Membunuh  tahanan merupakan pelanggaran yang sangat keterlaluan di bawah hukum internasional,” kata wakil direktur Timur Tengah HRW, Joe Stork.

“Sementara dunia hanya  mencela tindakan dari (ISIS), seharusnya juga dunia tidak menutup mata terhadap pembunuhan sektarian  oleh pasukan pemerintah dan pro-pemerintah.”
Kelompok hak asasi mengatakan telah mendokumentasikan pembantaian tahanan bulan lalu di Mosul, serta di kota-kota dan desa-desa dari Tal Afar, Baquba, Jumarkhe dan Rawa.

“Dalam satu kasus pembunuhan , tercatat pembunuhan sadis yang membunuh puluhan tahanan dengan dibakar hingga mati, dan dalam dua kasus mereka (Syiah) melemparkan granat ke dalam sel ,” kata HRW. (Arby/Dz)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/pengecut-sebagai-balas-serangan-is-tentara-syiah-irak-bunuh-255-tahanan-sunni-di-dalam-sel-tahanan.htm#.U8HJgbEjXdk

Dewan Dakwah Islam: Israel Itu 'Mbahnya' Teroris

Filed under: by: 3Mudilah

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Syuhada Bahri (depan) didapingi jajaran pengurus
Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Syuhada Bahri (depan) didapingi jajaran pengurus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) menyebut Israel sebagai teroris sebenarnya. Hingga kini, lebih dari 100 warga sipil terbunuh akibat serangan tentara Israel ke Gaza, Palestina.

Ketua Umum Dewan Dakwah Indonesia, Syuhada Bahri mengatakan, tindakan Israel menyerang Palestina saat mereka berpuasa adalah pelanggaran HAM. "Watak Yahudi begitu keras kepala, dan mereka itulah mbahnya teroris," katanya kepada Republika, (12/7).

Meski begitu, Syuhada yakin warga Palestina sudah cukup terlatih untuk menghadapi segala situasi. Hingga saat nanti, mereka akan membela diri dan Allah menolong perjuangan tersebut.
"Kita yang di sini, paling tidak harus terus mendukung dan membantu dengan doa. Karena Gaza merupakan benteng terakhir," ujarnya.

Ia menjelaskan, membela Gaza berarti membela umat Islam secara keseluruhan. Sebab bila Gaza sudah ditaklukkan, maka bukan tak mungkin, Mesir, Libanon, Yordania, dan lainnya pun akan diserang hingga jatuh.

Menurutnya, serangan ini akibat dukungan Amerika Serikat dan Inggris. Karenanya, bila kedua negara itu, berhenti mendukung Israel, maka secara otomatis Israel pun akan berhenti. Mengingat sebenarnya negara Israel tak lebih besar dari Bali.

"Kita harus mempertahankan Palestina, karena tidak seharusnya diperlakukan seperti ini," tutur Syuhada.

Ia juga berharap, negara-negara mayoritas Muslim, seperti Indonesia, dapat mengambil langkah konkrit. Sehingga bisa membantu menyelesaikan masalah Israel dan Palestina yang telah berlangsung lama.

http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/07/12/n8le16-dewan-dakwah-islam-israel-itu-mbahnya-teroris

Gaza, Sayap Malaikat Menyelimutimu


Sebuah bangunan di Jalur Gaza hancur dibom tentara Israel pada Jumat (11/7).
Sebuah bangunan di Jalur Gaza hancur dibom tentara Israel pada Jumat (11/7).
 Oleh Nashih Nashrullah/Wartawan Republika

Syair yang pernah ditulis oleh Imam Syafi’i berikut ini setidaknya dapat sedikit menjadi gambaran, betapa Gaza, tempat kelahiran tokoh pengarang kitab ar-Risalah dan al-Umm tersebut, penuh dengan kenangan, dinamis, dan tetap bertahan tak pernah lekang oleh gerusan zaman.

Peradaban demi peradaban boleh datang, lalu pergi dari Tanah Gaza, tetapi kota ini tetaplah istimewa. Imam Syafi’i lalu menulis, mengutarakan rasa rindunya akan Gaza, setelah ia berpindah ke Tanah Hijaz:

Sungguh aku merindu Tanah Gaza
Aku sembunyikan rasa rindu ini setelah beranjak darinya
Berharap Allah menyirami tanahnya, lalu aku raup debunya
Akan aku pergunakan untuk bercelak dari kerinduan yang menyelimutiku


Jamak diketahui, Gaza, adalah kota strategis berdasarkan doktrin teologi ketiga agama samawi. Menurut Yaqut al-Hamawi dalam karya monumentalnya Mu’jam al-Buldan, wilayah teritorial Gaza, berada di bawah negara Syam.

Batasan Syam ketika itu, dari Sungai Eufrat hingga ujung Aris, Mesir. Bagi Rasulullah Saw., Gaza, adalah tanah leluhur. Konon, di sinilah Hasyim bin Abdu Manaf, meninggal pada usia ke-25 tahun, tepat bila nama lain dari kota ini adalah Gaza Hasyim.

Sejarah Islam mencatat, Gaza adalah simbol perlawanan dan kemenangan terhadap tiran. Di tangan Amar bin al-Asha, kedigdayaan Bizantium di Gaza, berhasil dipukul. Ekspansi tersebut juga sekaligus membebaskan penduduk setempat dari rezim yang zalim.

Demikian juga, ketika pendiri sekaligus khalifah pertama Dinasti Ayyubiyah, Shalahudin al-Ayubi. Shalahudin memukul mundur pasukan Salib yang menguasai Palestina, termasuk Gaza. Hingga saat ini, dan sampai janji Allah Swt. akan kemenangan itu tiba, Gaza tetaplah simbol dan kiblat perlawanan terhadap pendudukan tiran.

Agresi militer Israel berulang kali tak mampu mematahkan asa dan semangat juang rakyat Gaza. Kegigihan dan ketidakputusasaan Gaza terhadap serangan Israel itu, diperkuat oleh sejumlah teks keagamaan. Bila Gaza termasuk Syam ketika teks-teks tersebut turun, maka ini berarti Gaza merupakan wilayah yang istimewa. 

Dalam surat al-A’araf ayat 137, Allah menegaskan bahwa negeri-negeri yang dipusakakan untuk Bani Israel tersebut tak lain adalah Syam. “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya.” Demikian pula, Allah menyelamatkan Ibrahim dan Luth ke negeri-negeri yang diberkahi, dan tak lain adalah Syam, seperti penegasan surat al-Anbiyaa’ ayat 71.

Dalam kitabnya yang berjudul al-Mughni, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, menyebutkan teks hadis yang menguatkan tentang itu cukup banyak. Salah satunya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Hawalah al-Azdi.

Hadis tersebut menyatakan ada tiga militer yang kuat, yakni Syam, Yaman, dan Irak. Dari ketiga kekuatan militer tersebut, Rasulullah memilih Syam. Syam, adalah tanah terpilih, pasukannya pun terdiri dari orang-orang pilihan. “Maka sesungguuhnya Allah mempercayakan kepadaku Syam dan warganya.”

Teks ini, menurut Ibnu Qudamah, menguatkan posisi Syam berikut kekuatan militernya. Jika demikian, maka Gaza termasuk benteng pertahanan yang kuat itu. Apa rahasia di balik kekuatan itu? Selain jaminan dari Allah, para malaikat seperti disebutkan hadis riwayat Zaid bin Tsabit, meletakkan sayap mereka bagi Syam.

Sikap shumud, yang ditunjukkan oleh warga Gaza sepanjang sejarah, tentu bukan sekadar faktor kebetulan atau keterpaksaan saja. Ada sentuhan luar biasa dan mahadahsyat di balik itu semua.
Tanpa kehadiran-Nya, maka secara logika dan hitung-hitungan kekuatan militer, Zionis tentu jauh lebih besar berkali-kali lipat. Tetapi, selalu saja tak bisa mematikan faksi-faksi perjuangan rakyat Gaza yang hanya bersenjatakan roket rakitan, lemparan batu, dan senjata AK 47.

Maka wajar bila kemudian Ibnu Taimiyah berkomentar, beruntunglah kalian rakyat-rakyat Gaza. Pasalnya, mereka beruntung tinggal di wilayah yang telah tersedia dan terbentang lebar, faktor-faktor ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Penegasan itu disampaikan, ketika Ibnu Taimiyah ditanya perihal benarkah keistimewaan tinggal di Syam itu benar adanya. “Sebab ketika Allah dan Rasul-Nya mengutarakan keistimewaan itu, tentu lebih mengetahui kebenarannya,” ujar Ibnu Taimiyah.

http://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/14/07/13/n8mb00-gaza-sayap-malaikat-menyelimutimu

Lieberman: “Kami akan Akhiri Hamas dan Serangan Udara Tidak Cukup”



liebr Lieberman: Kami akan Akhiri Hamas dan Serangan Udara Tidak Cukup
MENTERI Luar Negeri Israel Avigdor Liberman Jumat lalu mengumumkan bahwa tujuan serangan Israel yang sedang berlangsung terhadap Jalur Gaza adalah untuk mengakhiri Hamas. Dan menegaskan bahwa bahwa serangan udara tidak cukup untuk melakukan hal tersebut.

“Waktu telah datang untuk mengakhiri pemerintahan Hamas di Gaza,” Liberman, pemimpin partai Yisrael Beitenu, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Israel Channel 2.
“Hanya operasi udara tidak dapat mencapai hal ini,” tegasnya.

Setidaknya 135 warga Palestina, kebanyakan warga sipil, telah tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak Senin malam lalu.

Dan lebih dari 815 warga Palestina juga terluka akibat serangan udara pesawat tempur Israel.
Israel telah melancarkan serangan militer – yang dijuluki “Operation Protective Edge” – dengan kliam bertujuan untuk menghentikan serangan roket dari Gaza.

“Operation Protective Edge adalah yang ketiga di Gaza selama lima tahun terakhir dan itu harus menjadi yang terakhir,” ujarnya.

Pejabat tinggi Israel itu menolak gencatan senjata dengan menyatakan bahwa gencatan senjata hanya akan memungkinkan Hamas meningkatkan persediaan roket mereka.

“Pada 10-15 bulan kami akan kembali untuk putaran lain serangan. Kami perlu mengakhiri ini,” pungkas Liberman.[fq/islampos/anadolu]

http://www.islampos.com/lieberman-kami-akan-akhiri-hamas-dan-serangan-udara-tidak-cukup-122043/

Bagaimanakah Hukum Asuransi Dalam Islam

Filed under: by: 3Mudilah

Di antara bentuk transaksi riba yang telah menjamur di setiap masyarakat di belahan bumi manapun ialah asuransi. Oleh karena itu, berikut ini saya nukilkan fatwa-fatwa ulama seputar permasalahan asuransi dengan berbagai macam dan jenisnya. Hal ini saya lakukan, karena pada fatwa-fatwa berikut telah tercakup berbagai argumentasi masing-masing pendapat dalam masalah ini.

Edaran Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia

"Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Amma ba'du:

Sesungguhnya telah terbit dari Hai'ah Kibarul Ulama' (Kerajaan Saudi Arabia, pen.) suatu keputusan yang menetapkan akan keharaman "Asuransi Komersial" dengan segala bentuknya. Dikarenakan asuransi mengandung kerugian, faktor untung-untungan yang amat besar, dan praktik memakan harta orang lain dengan cara yang bathil (tidak benar), dan itu adalah hal-hal yang diharamkan dan dilarang keras oleh syariat yang suci ini. Sebagaimana telah terbit dari Hai'ah Kibarul Ulama' tentang bolehnya asuransi gotong royong (At-Ta'min at-Ta'awuny), yaitu asuransi yang menampung berbagai sumbangan dari para donatur, dan dimaksudkan untuk memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, atau terkena musibah, dan tidak ada keuntungan sedikitpun yang diberikan kepada para pesertanya, baik modal atau hasil atau keuntungan komersial yang lain apapun bentuknya.

Karena, tujuan dari setiap orang yang ikut andil padanya hanyalah mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui jalan membantu orang yang sedang membutuhkan, dan tidak bertujuan mencari keuntungan yang bersifat duniawi. Dan asuransi jenis ini tercakup oleh firman Allah Ta'ala,

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ.
"Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan." (Qs. al-Maidah: 2).

Dan juga tercakup oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه
"Dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.", dan hal ini amatlah jelas, tidak ada permasalahan padanya sedikitpun.

Akan tetapi, telah muncul pada akhir-akhir ini dari sebagian perseroan terbatas (PT) dan perusahaan berbagai upaya untuk mengelabuhi masyarakat dan memutarbalikkan fakta, di mana mereka menamakan "Asuransi Komersial" yang jelas-jelas haram dengan sebutan "Asuransi Gotong Royong". Dan mereka menisbatkan pembolehan asuransi macam itu kepada Hai'ah Kibarul Ulama', guna memperdaya masyarakat dan mempropagandakan perusahaan mereka. Dan Hai'ah Kibarul Ulama' benar-benar terlepas dari tindakan tersebut, karena keputusan mereka jelas-jelas membedakan antara "Asuransi Komersial" dari "Asuransi Gotong Royong". Sedangkan perubahan nama tidaklah dapat mengubah suatu hakikat. Guna menjelaskan kepada masyarakat dan menyingkap penyamaran, serta membongkar keduataan, kami menerbitkan edaran ini.

Semoga shalawat dan salam yang berlimpah senantiasa dikaruniakan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

(Majmu' Fatawa al-Lajnah ad-Da'imah, 14/268).

Keputusan Hai'ah Kibarul Ulama' Kerajaan Saudi Arabia Tentang Asuransi
"Segala puji hanya milik Allah semata. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya, dan juga kepada keluarga dan setiap orang yang meniti jalannya hingga hari Kiamat.
Amma ba'du:
Setelah Majelis Hai'ah Kibarul Ulama' mendengarkan seluruh pemaparan yang telah berlalu, kemudian dilanjutkan dengan mendiskusikan berbagai dalil orang-orang yang membolehkan asuransi secara mutlak, dan juga berbagai dalil orang-orang yang melarangnya secara mutlak, serta alasan orang-orang yang merincinya, yaitu dengan membolehkan sebagian bentuk "asuransi komersial" dan melarang yang lainnya. Dan setelah melalui diskusi dan dengar pendapat, Majelis Hai'ah Kibarul Ulama' memutuskan dengan suara terbanyak, bahwa "asuransi komersial" adalah haram hukumnya, berdasarkan dalil-dalil berikut:
Pertama: Akad "asuransi komersial" adalah salah satu bentuk akad tukar-menukar barang yang berdasarkan pada asas untung-untungan, sehingga sisi ketidakjelasannya/ gharar besar, karena nasabah pada saat akad tidak dapat mengetahui jumlah uang yang harus ia setorkan dan jumlah klaim yang akan ia terima. Bisa saja ia menyetor sekali atau dua kali setoran, kemudian terjadi kecelakaan, sehingga ia berhak mengajukan klaim yang menjadi komitmen perusahaan asuransi. Dan mungkin juga sama sekali tidak pernah terjadi kecelakaan, sehingga nasabah membayar seluruh setoran, tanpa mendapatkan apapun. Demikian juga, perusahaan asuransi tidak dapat menentukan jumlah klaim yang harus ia bayarkan dan jumlah setoran yang akan ia terima, bila dicermati dari setiap akad secara terpisah. Padahal, telah dinyatakan dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam larangan dari jual beli gharar (yang tidak jelas).
Kedua: Akad "asuransi komersial" adalah salah satu bentuk perjudian, dikarenakan padanya terdapat unsur untung-untungan dalam hal tukar-menukar harta benda, dan terdapat kerugian tanpa ada kesalahan atau tindakan apapun, dan padanya juga terdapat keuntungan tanpa ada imbal baliknya atau dengan imbal balik yang tidak seimbang. Karena nasabah kadang kala baru membayarkan beberapa setoran asuransinya, kemudian terjadilah kecelakaan, sehingga perusahaan asuransi menanggung seluruh biaya yang menjadi klaimnya. Dan bisa saja tidak terjadi kecelakaan, sehingga saat itu perusahaan berhasil mengeruk seluruh setoran nasabah tanpa ada imbalan sedikitpun. Dan bila pada suatu akad unsur ketidakjelasan benar-benar nyata, maka akad itu termasuk perjudian, dan tercakup dalam keumuman larangan dari perjudian yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala,
يَأَيُّها الَّذينَ آمَنُوا إِنَّما الخَمْرُ والمَيْسِرُ والأَنصَابُ والأزْلاَمُ رجسٌ مِنْ عَمَل الشَّيطَان فَاجْتَنِبُوه لَعَلَّكُم تُفْلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, berkurban untuk berhala, mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (Qs. Al Maidah: 90) dan juga tercakup dalam ayat setelah ayat tersebut.

Ketiga: Akad "asuransi komersial" mengandung unsur riba fadhl (riba perniagaan) dan riba nasi'ah (penundaan), karena perusahaan asuransi bila ia membayar ke nasabahnya atau ke ahli warisnya atau kepada orang yang berhak memanfaatkan suatu klaim yang lebih besar dari uang setoran (iuran) yang ia terima, maka itu adalah riba fadhl, sedangkan perusahaan asuransi akan membayar klaim tersebut kepada nasabahnya setelah berlalu tenggang waktu dari saat terjadi akad, maka itu adalah riba nasi'ah. Dan bila perusahaan membayar klaim nasabah sebesar uang setoran yang pernah ia setorkan ke perusahaan, maka itu adalah riba nasi'ah saja, dan keduanya diharamkan menurt dalil dan ijma' (kesepakatan ulama).

Keempat: Akad "asuransi komersial" termasuk pertaruhan yang terlarang, karena masing-masing dari asuransi ini dan pertaruhan terdapat unsur ketidakjelasan, untung-untungan, dan mengundi nasib. Padahal, syariat tidak membolehkan pertaruhan selain pertaruhan yang padanya terdapat unsur pembelaan terhadap agama Islam, dan penegakkan benderanya dengan hujjah/ dalil dan pedang/ senjata. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membatasi rukhshah (keringanan) pertaruhan dengan tebusan hanya pada tiga hal:
لاَ سَبَقَ إلاَّ فِي خُفٍّ أو حَافِرٍ أو نَصْلٍ
"Tiada hadiah selain pada unta atau kuda atau senjata tajam." Dan "asuransi" tidaklah termasuk salah satu darinya, tidak juga serupa dengannya, sehingga diharamkan.

Kelima: Akad "asuransi komersial" padanya terdapat praktik pemungutan harta orang lain tanpa imbalan, sedangkan mengambil harta orang lain tanpa ada imbalan dalam transaksi perniagaan adalah diharamkan, dikarenakan tercakup oleh keumuman firman Allah Ta'ala:

يَأَيُّها الَّذين آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةٍ عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan cara-cara yang bathil, kecuali dengan cara perniagan dengan asas suka sama suka di antara kamu." (Qs. an-Nisa': 29).

Keenam: Pada akad "asuransi komersial" terdapat pengharusan sesuatu yang tidak diwajibkan dalam syariat, karena perusahaan asuransi tidak pernah melakukan suatu tindakan yang merugikan, tidak juga menjadi penyebab terjadinya kerugian. Perusahaan asuransi hanyalah melakukan akad bersama nasabah untuk menjamin kerugian bila hal itu terjadi, dengan imbalan iuran/ setoran yang dibayarkan oleh nasabah kepadanya, sedangkan perusahaan asuransi tidak pernah melakukan pekerjaan apapun untuk nasabahnya, sehingga akad ini diharamkan.

Adapun dalil-dalil yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang membolehkan "asuransi komersial" secara mutlak atau pada sebagian macamnya, maka bantahannya sebagai berikut:

A. Berdalil dengan kaidah "maslahah/ kemaslahatan" tidak dapat dibenarkan, karena kaidah maslahat dalam syariat Islam ada tiga bagian:

- Bagian pertama: Maslahat yang dibenarkan oleh syariat penggunaannya, dan bagian ini dapat menjadi dalil.
- Bagian kedua: Maslahat yang tidak diketahui statusnya, apakah syariat meninggalkannya atau menggunakannya, dan inilah yang disebut dengan maslahah mursalah, dan maslahah jenis ini merupakan permasalahan yang menjadi ajang ijtihad para ulama.
- Bagian ketiga: Masalahat yang telah terbukti bahwa syariat sengaja meninggalkannya, dan akad "asuransi komersial" padanya terdapat unsur ketidakjelasan, untung-untungan, perjudian, dan riba, sehingga termasuk maslahat yang ditinggalkan oleh syariat, dikarenakan sisi kerusakannya lebih besar dibanding sisi kemaslahatannya.

B. Hukum asal perniagaan yaitu "mubah", tidak dapat dijadikan dalil pada permasalahan ini, karena akad "asuransi komersial" telah terbukti bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur'an dan as-Sunnah. Sedangkan, pengamalan kaidah "hukum asal perniagaan yaitu mubah" disyaratkan tidak ada dalil yang mengubah hukum tersebut, padahal dalil tersebut telah didapatkan, maka batallah pendalilan dengan kaidah dasar tersebut.

C. Kaidah:
الضَّرورات تبيح المحظورات
"Setiap keterpaksaan (darurat) membolehkan hal yang dilarang." Tidak dapat dijadikan dalil di sini, karena jalan-jalan mengais penghasilan yang halal jauh lebih banyak berlipat ganda dibanding jalan yang diharamkan atas manusia. Sehingga, tidak ada keadaan darurat yang dibenarkan secara syariat yang memaksa seseorang untuk melakukan hal yang telah diharamkan syariat, yaitu berupa asuransi.

D. Tidak dibenarkan berdalil dengan tradisi, karena tradisi bukan termasuk dalil dalam mensyariatkan hukum. Tradisi hanya sebagai dasar dalam penerapan hukum, dan memahami maksud dari teks-teks dalil dan ungkapan manusia dalam persumpahan, gugatan dan berita masyarakat, serta setiap hal yang memerlukan kepada penentuan maksud, baik berupa perbuatan atau ucapan. Sehingga, tradisi tidak memiliki pengaruh dalam hal-hal yang telah nyata, dan telah jelas maksudnya. Dan dalil-dalil telah menunjukkan dengan nyata tentang larangan dari "asuransi", sehingga tradisi tidak dapat dijadikan pertimbangan.

E. Beralasan bahwa akad "aasuransi komersial" termasuk salah satu akad mudharabah/ bagi hasil atau yang serupa dengannya tidak dapat dibenarkan. Karena, kepemilikan modal dalam akad mudharabah tidak pernah keluar dari pemiliknya, sedangkan iuran/ setoran nasabah dalam "asuransi" dengan akad asuransi berpindah dari kepemilikan pemiliknya kepada perusahaan asuransi, sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan asuransi. Modal dalam akad mudharabah akan menjadi hak ahli waris bila pemodal meninggal dunia, sedangkan dalam akad asuransi ahli waris -sesuai dengan peraturan perusahaan- bisa saja memiliki klaim walaupun orang tua mereka belum sempat membayar selain satu setoran saja, dan bisa saja mereka tidak mendapatkan apa-apa, bila orang tua mereka telah menentukan orang yang berhak menerima klaim adalah selain penyetor dan ahli warisnya. Dan keuntungan dalam akad mudharabah dibagi antara kedua belah pihak dengan persentase tertentu, beda halnya dengan asuransi, keuntungan modal dan kerugiannya murni ditanggung perusahaan, sedangkan nasabah tidak barhak apa-apa diluar klaim atau klaim dalam jumlah yang tidak tertentu.

F. Menyamakan akad "asuransi" dengan hubungan loyalitas (al-muwalaat) menurut ulama yang membenarkannya, tidak benar; karena penyamaan itu merupakan suatu qiyas dengan adanya perbedaan. Dan di antara perbedaan antara keduanya: bahwa akad "asuransi" bertujuan mencari keuntungan materi yang sarat dengan untung-untungan, perjudian dan ketidakjelasan. Beda halnya dengan hubungan loyalitas (al-muwalaat), tujuan utamanya ialah menjalin persaudaraan dalam agama Islam, saling membela, dan bahu-membahu dalam kesusahan, kesenangan dan dalam segala keadaan. Adapun keuntungan berupa materi, maka itu merupakan tujuan sekunder.

G. Menyamakan akad "asuransi komersial" dengan janji yang mengikat menurut ulama yang membenarkannya, tidak benar; karena penyamaan itu merupakan suatu qiyas dengan adanya perbedaan. Di antara perbedaan antara keduanya ialah: bahwa janji memberi piutang atau pinjaman, atau menanggung kerugian -misalnya- merupakan tindak sosial semata, sehingga memenuhi janji tersebut merupakan hal yang wajib atau salah satu sikap terpuji. Beda halnya dengan akad "asuransi", karena sesungguhnya asuransi adalah akad tukar-menukar komersial, yang didasari oleh keinginan mencari keuntungan materi, maka unsur ketidak-jelasan dan untung-untungan padanya tidak dapat ditoleransi sebagaimana dalam perbuatan sumbangan sosial.

H. Menyamakan akad "asuransi komersial" dengan akad memberikan jaminan/ garansi (dhamaan) terhadap sesuatu yang belum diketahui, dan menjamin sesuatu yang belum terjadi, tidak benar; karena itu juga termasuk qiyas dengan adanya perbedaan. Di antara perbedaannya ialah: akad jaminan (dhamaan) salah satu bentuk tindak sosial dan bertujuan untuk berbuat baik/ membantu semata. Beda halnya dengan "asuransi", karena asuransi merupakan akad tukar-menukar komersial, dan tujuan utamanya ialah mendapatkan keuntungan materi. Dan bila di kemudian hari muncul sikap baik, maka itu merupakan hal sekunder dan tidak disengaja. Padahal hukum-hukum syariat senantiasa dikaitkan dengan tujuan utama, bukan dengan hal-hal sekunder, selama hal-hal tersebut bukan merupakan tujuan.

I. Menyamakan akad "asuransi" dengan jaminan (dhamaan) terhadap resiko perjalanan, tidaklah benar; karena itu juga termasuk qiyas dengan adanya perbedaan, sebagaimana halnya alasan sebelumnya.

J. Menyamakan akad "asuransi komersial" dengan peraturan pensiun, juga tidak benar, dan itu juga termasuk qiyas dengan adanya perbedaan. Karena uang pensiun adalah suatu hak yang telah menjadi komitmen pemerintah kepada rakyatnya. Dan pemerintah dalam penyalurannya mempertimbangkan jasa setiap pegawai dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Dan pemerintah membuat aturan yang mempertimbangkan orang-orang terdekat kepada setiap pegawai.

Dan karena para penerima uang pensiun biasanya adalah orang-orang yang membutuhkan, maka aturan uang pensiun tidaklah termasuk dalam hal tukar-menukar harta antara pemerintah dan pegawainya. Oleh karena itu, tidak ada kesamaan antaranya dengan akad "asuransi komersial" yang merupakan salah satu akad tukar-menukar harta secara komersial dan perusahaan asuransi bertujuan darinya memanfaatkan keberadaan para nasabah, dan mengeruk keuntungan dari mereka dengan cara-cara yang tidak diizinkan dalam syariat. Karena, uang pensiun yang diterima tatkala seorang pegawai telah pensiun merupakan hak yang telah menjadi komitmen pemerintah kepada rakyatnya, dan diberikan kepada setiap orang yang telah menjalankan tugas melayani masyarakat, sebagai balasan atas jasanya, dan dalam rangka memberikan pertolongan kepadanya sebagai imbalan atas pertolongan yang pernah ia berikan kepada pemerintah dalam wujud badan, pikiran, dan banyak waktu luangnya dalam rangka memajukan masyarakat.

K. Menyamakan sistem "asuransi komersial" dan akadnya dengan sistem al-'aqilah tidak dapat dibenarkan. Karena itu adalah suatu qiyas yang disertai dengan adanya perbedaan. Dan di antara perbedaan antara keduanya ialah: dasar kewajiban kerabat lelaki untuk ikut andil menanggunng beban diyat (denda) pembunuhan yang dilakukan dengan tidak sengaja atau sibhul 'amdi ialah adanya jalinan tali persaudaraan dan kekerabatan yang mengharuskan mereka semua untuk saling membela, berhubungan, bahu-membahu, dan memberikan bantuan, walau tanpa ada imbalan. Sedangkan akad "asuransi komersial" bersifat komersial dan menggunakan kesempatan dalam kesempitan, yang murni berasaskan pada sistem imbal balik, tanpa ada kaitan sedikitpun dengan kasih sayang dan amal kebaikan.

L. Menyamakan akad "asuransi komersial" dengan akad "security" adalah tidak benar. Karena penyamaan ini juga merupakan qiyas dengan adanya perbedaan. Di antara perbedaan antara keduanya ialah: keamanan bukanlah objek akad pada kedua permasalahan tersebut. Yang menjadi objek akad pada asuransi ialah uang setoran dan uang asuransi (klaim). Sedangkan pada akad sewa security, yang menjadi objek adalah uang sewa dan kerja petugas keamanan. Adapun keamanan itu sendiri adalah hasil dan cita-cita, sebab bila keamanan yang menjadi objek akad, niscaya pekerja security tidaklah mendapat upah bila ada dari barang yang ia jaga yang hilang.

M. Menyamakan akad "asuransi komersial" dengan akad "penitipan barang" tidak dapat dibenarkan. Karena itu juga merupakan qiyas dengan adanya perbedaan. Karena, upah dalam penitipan barang adalah imbalan atas jasa penerima titipan yang telah menjaga barang di tempatnya yang senantiasa ia rawat. Beda halnya dengan asuransi, uang setoran yang dibayarkan oleh nasabah, bukan sebagai imbalan atas jasa dari "perusahaan asuransi" yang pernah didapatkan oleh nasabah. Uang tersebut tidaklah lain hanya sebagai jaminan atas rasa keamanan dan ketentraman. Padahal, mensyaratkan upah pada akan jaminan tidak dibenarkan (menurut syariat), bahkan menjadikan akad jaminan terlarang. Dan bila uang klaim dianggap sebagai imbalan atas uang setoran, maka jelaslah bahwa ini merupakan akad tukar-menukar yang bersifat komersial, akan tetapi jumlah klaim dan masanya tidak dapat diketahui. Dengan demikian asuransi berbeda dengan akad penitipan dengan upah.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (Majmu' Fatawa al-Lajnah ad-Da'imah, 14/277-286, fatwa no. 18047).

Dari fatwa di atas, jelaslah bagi kita alasan diharamkannya asuransi dengan berbagai macamnya. Dan berikut akan saya ringkaskan beberapa alasan yang telah dijelaskan pada fatwa di atas:
  1. Asuransi bukanlah termasuk bentuk perniagaan yang dihalalkan dalam Islam, sebab perusahaan asuransi tidaklah pernah melakukan praktik perniagaan sedikitpun dengan nasabahnya. Hal ini akan menjadi jelas bila kita kembali menerapkan berbagai hukum hutang-piutang yang telah dijelaskan pada kolom di atas.
  2. Asuransi diharamkan karena mengandung unsur riba, yaitu bila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata jumlah uang klaim yang ia terima melebihi jumlah total setoran yang telah ia bayarkan.
  3. Asuransi mengandung tindak kezhaliman, yaitu perusahaan asuransi memakan harta nasabah dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syariat. Hal ini dapat terjadi pada dua kejadian:
Kejadian pertama: Apabila nasabah selama hidupnya tidak pernah mengajukan klaim, sehingga seluruh uang setorannya tidak akan pernah kembali, alias hangus.

Tatkala perekonomian dengan basis syariat sedang gencar digalakkan, maka perusahaan-perusahaan asuransi pun tidak mau ketinggalan. Mereka rame-rame memikat nasabah dengan berbagai produk asuransi syariah. Mereka mengklaim bahwa produk-produk mereka telah selaras dengan prinsip syariah.

Secara global, mereka menawarkan dua jenis pilihan:
  1. Asuransi umum syariah.
    Pada pilihan ini, mereka mengklaim bahwa mereka menerapkan metode bagi hasil/ mudharabah. Yaitu bila telah habis masa kontrak, dan tidak ada klaim, maka perusahaan asuransi akan mengembalikan sebagian dana/ premi yang telah disetorkan oleh nasabah, dengan ketentuan 60:40 atau 70:30. Adapun berkaitan dana yang tidak dapat ditarik kembali, mereka mengklaimnya sebagai dana tabarru' atau hibah.
  2. Asuransi jiwa syariah.
    Pada pilihan ini, bila nasabah hingga jatuh tempo tidak pernah mengajukan klaim, maka premi yang telah disetorkan, akan hangus. Perilaku ini diklaim oleh perusahaan asuransi sebagai hibah dari nasabah kepada perusahaan (Majalah MODAL edisi 36, 2006, hal. 16).
Subhanallah, bila kita pikirkan dengan seksama, kedua jenis produk asuransi syariat di atas, niscaya kita akan dapatkan bahwa yang terjadi hanyalah manipulasi istilah. Adapun prinsip-prinsip perekonomian syariat, di antaranya yang berkaitan dengan mudharabah dan hibah, sama sekali tidak terwujud. Yang demikian itu dikarenakan:

- Pada transaksi mudharabah, yang di bagi adalah hasil/ keuntungan, sedangkan pada asuransi umum syariah di atas, yang dibagi adalah modal atau jumlah premi yang telah disetorkan.

- Pada akad mudharabah, pelaku usaha (perusahaan asuransi) mengembangkan usaha riil dengan dana nasabah guna mendapatkan keuntungan. Sedangkan pada asuransi umum syariat, perusahaan asuransi, sama sekali tidak mengembangkan usaha guna mengelola dana nasabah.

- Pada kedua jenis asuransi syariat di atas, perusahaan asuransi telah memaksa nasabah untuk menghibahkan seluruh atau sebagian preminya. Disebut pemaksaan, karena perusahaan asuransi sama sekali tidak akan pernah siap bila ada nasabah yang ingin menarik seluruh dananya, tanpa menyisakan sedikitpun. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه (رواه أحمد والدارقطني والبيهقي، وصححه الحافظ والألباني
"Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya." (HR. Ahmad, ad-Daraquthny, al-Baihaqy dam dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Albany).

- Pengunaan istilah mudharabah dan tabarru' untuk mengambil dana/ premi nasabah ini tidak dapat mengubah hakikat yang sebenarnya, yaitu dana nasabah hangus. Dengan demikian, perusahaan asuransi telah mengambil dana nasabah dengan cara-cara yang tidak dihalalkan. Ini sama halnya dengan minum khamr yang sebelumnya telah diberi nama lain, misalnya minuman penyegar, atau suplemen.

عن عُبَادَةَ بن الصَّامِتِ رضي الله عنه قال: قال رسول اللَّهِ صلّى الله عليه وصلّم (لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ من أمتي الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا إِيَّاهُ). رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني
Dari sahabat Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sunggung-sungguh akan ada sebagian orang dari umatku yang akan menghalalkan khamr, hanya karena sebutan/ nama (baru) yang mereka berikan kepada khamr." (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sungguh perbuatan semacam inilah yang jauh-jauh hari dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya,

(لا ترتكبوا ما ارتكبت اليهود فتستحلوا محارم الله بأدنى الحيل (رواه ابن بطة، وحسنه ابن تيمية وتبعه ابن القيم وابن كثير
"Janganlah kalian melakukan apa yang pernah dilakukan oleh bangsa Yahudi, sehingga kalian menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah hanya dengan sedikit rekayasa." (HR. Ibnu Baththah, dan dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah dan diikuti oleh dua muridnya yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir).

Kejadian kedua: Apabila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata uang klaim yang ia terima lebih sedikit dari jumlah total setoran yang telah ia bayarkan. Kedua kejadian ini diharamkan, karena termasuk dalam keumuman firman Allah Ta'ala,

يَأَيُّها الَّذين آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan cara-cara yang bathil, kecuali dengan cara perniagan dengan asas suka sama suka di antara kamu."

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A.
Artikel: www.PengusahaMuslim.com

Hijrah, Jihad Dan Shobar

Filed under: by: 3Mudilah

Petunjuk Al Quran

Bahwa sesungguhnya sebagai hamba Allah yang telah terbuka hatinya untuk menerima “Nur Islam” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 22 akan merupakan hal yang wajar kalau mempunyai “rasa keberfihakan terhadap Islam dan ummat Islam”, karena Allah telah memberikan petunjuk tentang betapa pentingnya mendudukan diri sebagai muttabi’urrasul secara baik dan benar sebagaimana dituntunkan dalam al Quran surah al Hujurot ayat 7. Dengan demikian akan berarti pula sebagai “Khoiru Ummat” yang harus teruji sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Ali Imrom ayat 110; Maka Allah memberikan suatu pembekalan penting yang menuntut pemahaman yang benar, sebagaimana difirmankanNya dalam surah an Nahl ayat 110, yaitu :

“Kemudian sesungguhnya Robb kamu (pasti menolong) kepada orang-orang yang berhijrah sesudah segala apa (yang membuat) mereka difitnah, kemudian mereka berjihad dan shobar. Sesungguhnya Robb kamu dari sesudah (mereka berupaya mengatasi ujian)nya sungguh Pengampun Penyayang”.-

Pentelaahan Dalil

Dengan melihat kebelakang dalam keterkaitan sebenarnya peristiwa “Hijratur Rasul” adalah harus difaham sebagai “Proses Pengkondisian Ummat Islam”, mengingat antara lain :

a. Memperhatikan gambaran sejarah Rasul, yaitu tindakan dan ancaman yang ditujukan terhadap Muhajirin oleh Quraisy bersama-sama musyrikin di semenanjung Arab dan para penyembah berhala di Madinah dan termasuk pula diantara kelompok Yahudi yang menyatukan dirinya untuk memerangi Muhammad saw bersama para Muhajirin. Dalam kenyataan memang demikian itu upaya kaum kafir dan musyrik terhadap keberadaan Islam dan Ummat Islam sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Anfal ayat 30.

b. Memperhatikan terhadap kenyataan tentang nafsu orang-orang yang gonjang-ganjing dalam ber’aqidah, sehingga nafsu ingin berkuasa seperti layaknya raja atau hartawan sangat menggelora dan gandrung serta mabuk kepayang (-euforia-). Dan bahkan ada yang senantiasa merindukan dan mendambakan perempuan-perempuan yang berwajah cantik, sehingga setiap hari dan setiap saat harus terseok-seok merangkak dibelakang perempuan untuk memperoleh kepuasan yang seolah-olah akan memperoleh ketenteraman dan ketenangan. Dan juga ada yang menghabiskan waktunya siang dan malam hanya untuk melihat angka-angka dalam buku catatannya dan mengincar untuk memperoleh lebih banyak lagi. Padahal hasilnya tergantung Kehendak Allah, sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al isro ayat 18, yaitu :

“Barang siapa ada menginginkan (keduniaan) yang segera, Kami segerakan baginya dalam dunia ini menurut apa yang Kami Kehendaki pada siapa yang Kami inginkan. Kemudian Kami jadikan untuknya Jahanam yang ia akan masuk kedalamnya secara hina dan terusir”.-

Dengan yang tersebut maka “Makna Hijrah” itu sendiri adalah membangun tekad dalam menghabiskan seluruh hidupnya untuk menegakkan keutamaan Di-nullah dengan tanpa membedakan waktu dan tempat, kemudian melaksanakan pengkondisian hati Ummat Islam untuk bertansiq sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Hujurot ayat 10 sampai dengan ayat 12 untuk mempersiapkan diri dengan satu pernyataan yaitu “Anshorulloh” sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah ash Shof ayat 14.

Kemudian langkah selanjutnya dalam keterkaitan “Jihad dan Shobar” adalah memberikan pengertian tentang azas pembangunan Ummat secara shoffan sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah ash Shof ayat 4, yaitu berkerja keras secara bersungguh-sungguh dalam “Meletakkan Dasar-Dasar Pokok” yang diperlukan untuk kepentingan li i’la-i kalimatillah yaitu mendalami tuntunan Islam dengan mengaktifkan majelis Ilmu sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah az Zumar ayat 17 dan ayat 18 dengan mentadabburi Kalamullah secara terus-menerus sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Mukminun ayat 68 agar kokoh dan sempurna bagi Ummat Islam dalam bertaqorrub sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Fath ayat 29 dan menyatukan hati sesama Mukmin untuk membangun “mawaddah fil qurba” sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah asy Syuro ayat 23. Kemudian membuat tapakan dasar, mengatur hubungan untuk menciptakan “kemitraan” dengan mereka yang tidak se-‘aqidah berdasarkan moral tauhid sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah Fushilat ayat 34 yang telah dirintis oleh para Ulama pendulu.

http://www.al-ulama.net/component/content/article/505-hijrah-jihad-dan-shobar.html

Dosa-Dosa Yahudi di Sepanjang Sejarah

Filed under: by: 3Mudilah

Khutbah Pertama:

اَلحَمْدُ لِلَّهِ مُعِزِّ مَنْ أَطَاعَهُ مُذِلِّ مَنْ عَصَاهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Ibadallah,
Sesungguhnya bagi siapa saja yang membaca sejarah dengan seksama, maka ia akan melihat tingkah polah umat-umat terdahulu, dan akan mendapati suatu kelompok yang paling jelek akhlaknya dan buruk muamalahnya, mereka itu adalah orang-orang Yahudi, sebuah kaum yang mendapat murka dan laknat dari Allah Ta’ala. Orang-orang Yahudi adalah pendusta, sombong, fasik, kufur dan ilhad. Suatu komunitas yang terkenal dengan hati yang keras, hasad, dan penghianat. Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah: 13)

Dan firman-Nya,
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqarah: 74)

Ibdallah,
Di antara wujud kerasnya hati orang-orang Yahudi adalah mereka membunuh sebagian nabi-nabi Allah yang datang dan membawa hidayah, perbaikan, dan kebahagiaan. Dan inilah karakter mereka di setiap masa, membunuh orang-orang yang mengadakan perbaikan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ
“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Maidah: 70)

Firman-Nya yang lain,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا
“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup”. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa: 155)

Dan firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.” (QS. Ali Imran: 21)

Inilah watak keras orang-orang Yahudi yang Allah sifatkan di dalam Alquran, watak ini terus melekat kepada mereka hingga saat ini.

Ibdallah,
Bersamaan dengan itu, mereka juga memiliki sifat makar dan tipu daya. Umat Islam terdahulu telah merasakan penderitaan akibat tipu daya yang dibuat oleh orang-orang Yahudi dan demikian seterusnya, mereka akan senantiasa melakukan tipu daya terhadap umat Islam.

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120)

Ibadallah,
Sejak dahulu, orang-orang Yahudi terbiasa melakukan khianat dan menyelisih perjanjian yang mereka lakukan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (QS. Al-Anfal: 55-56)

Sepanjang sejarah kehidupan mereka, orang-orang Yahudi senantiasa membuat kerusakan di dalam masyarakat dengan kemunkaran-kemunkaran yang mereka lakukan. Mereka memiliki rumah-rumah tempat berzina lalu menyebarkannya ke seluruh dunia, mereka juga melakukan pemerasan terhadap harta-harta orang lain, dan melakukan konspirasi untuk menguatkan kedudukan kaum mereka.
Ibdallah,

Sesungguhnya permusuhan Yahudi terhadap umat Islam sudah berlangsung lama, sejak Islam itu muncul atau bahkan semenjak mereka mengetahui bahwa akan diutus nabi dari kalangan Arab bukan dari bangsa mereka. Mereka memusuhi Islam, karena Islam mengungkap kedok mereka, mencela perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Alquran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55)

Ibadallah,
Kita tidak heran kalau permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Islam sangat keras, karena Islam datang untuk menghilangkan dan melenyapkan kedustaan mereka, mengingkari kerusakan dan kebatilan mereka. Islam menyeru kepada iman, tauhid, dan ikhlas, sedangkan Yahudi menyeru kepada kekufuran, kedustaan, dan permusuhan. Islam menyeru kepada cita-cita dan norma-norma yang tinggi, rahmat, dan ihsan, adapun Yahudi menyeru kepada kerasnya hati, pelanggaran hukum, dan kebencian. Islam menyeru kepada kehidupan, memiliki rasa malu, kesopanan, dan menjaga kesucian diri, sedangkan Yahudi menyeru kepada perbuatan yang rendah, kerusakan, dan makar. Islam mengharamkan menghilangkan nyawa manusia kecuali dengan hak dan melarang zina, sedangkan Yahudi mudah menumpahkan darah manusia selain mereka, mencuri harta orang lain, dan merusak kehormatan orang lain.

Ibadallah,
Bersamaan dengan perangai-perangai rusak yang mereka miliki, yang mengherankan, mereka malah merasa sebagai anak-anak Allah dan kesayangan-Nya. Mereka meyakini ruh-ruh orang-orang Yahudi lebih istimewa dibanding ruh-ruh manusia selain Yahudi karena mereka meyakini bahwa mereka adalah bagian dari Allah. Menurut Yahudi, seandainya Allah tidak menciptakan mereka, maka hilanglah keberkahan di bumi, hujan tidak akan diturunkan dari langit, dan tidak akan didapati kebaikan sedikit pun. Selain itu, mereka juga yakin orang-orang selain mereka sederajat dengan keledai hanya saja Allah ciptakan dalam wujud manusia untuk menjadi hambanya (kacung) orang-orang Yahudi.

Lihatlah tingkah polah orang-orang yang merugi ini.

Ibadallah,
Wajib kita ketahui bahwa permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Palestina bukan hanya sekedar perselisihan antara Yahudi dan orang-orang Palestina saja, akan tetapi hal itu urusan setiap muslim. Palestina adalah negeri para nabi, di sana juga terdapat tiga masjid yang mulia, tanah Palestina juga tempat perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kiblat pertama.
Ibadallah,

Kita perlu mengoreksi diri dan menyadari bahwa kekuasaan Yahudi di tanah Palestina adalah akibat dari dosa dan perbuatan maksiat yang kita lakukan, termasuk juga banyaknya umat Islam yang berpaling dari agamanya sendiri, padahal Islam adalah sebab mencapai kemuliaan dan kemenangan di dunia dan akhirat. Allah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Oleh karena itu, hendaknya kita segera kembali kepada Allah Jalla wa ‘Ala, memperbaiki keimanan dan hubungan kita kepada Ar-Rahman, menaati perintah-Nya, dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Inilah modal agar kita memperoleh kemuliaan, kekokohan, dan pertolongan. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرآنِ الكَرِيْمِ ، وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ ، أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً .
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، ثُمَّ اِعْلَمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – أَنَّ المُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَفِي جَمِيْعِ شُؤُوْنِهِ – فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ ، وَفِي سَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ –
Ibadallah,
Orang-orang yang beriman itu tidak takut kecuali hanya kepada Allah, tidak ada tempat berharap bagi mereka, kecuali hanyalah Allah, Rabbnya dan pelindungnya. Oleh karena itu, kita hadapkan wajah-wajah kita kepada Allah, mengadu kepada-Nya atas apa yang menimpa kita, maka berdoalah wahai hamba-hamba Allah dengan penuh penghayatan.

Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadu. Wahai Dzat Yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan, membuka kebuntuan orang-orang yang menyeru, menghilangkan duka orang-orang yang merendah dan berharap kepada-Mu. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya orang-orang Yahudi telah menguasai saudara-saudara kami umat Islam di Palestina, membunuhi mereka, merampok rumah-rumah mereka dan menghancurkan kehormatan mereka, dan perbuatan fasad.

Berapa banyak rumah-rumah dihancurkan, betapa banyak kehormatan terinjak-injak, tak terkira wanita-wanita menjadi janda, tak terperi darah bercucuran, tak terhitung anak-anak menjadi yatim.
Orang-orang Yahudi kian sombong dan terus menambah kejahatan dan permusuhan mereka. Ya Allah, Engkaulah penolong mereka, Engkaulah pintu pengharapan bagi orang-orang yang meminta kepada-Mu. Wahai Dzat yang menggoncangkan singgasananya orang-orang zalim, menghancurkan kekuasaan orang-orang yang sombong, menghentikan tipu daya orang-orang mujrim. Ya Allah hancurkanlah orang-orang Yahudi yang mengobarkan permusuhan ini. Hancurkanlah mereka ya Allah, hancurkanlah mereka ya Allah. Hancurkanlah mereka ya Allah, sesungguhnya mereka tidaklah melemahkan-Mu.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ صَحَابَةِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ .

Diterjemahkan dari khotbah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

http://alhikmah.ac.id/2014/dosa-dosa-yahudi-di-sepanjang-sejarah/