Resensi Buku : Tetralogi Syam, Irak dan Turunnya Isa AS di Damaskus

Filed under: by: 3Mudilah

Di penghujung abad ke-20, dunia digemparkan dengan berbagai peristiwa besar yang diisyaratkan dalam berbagai nubuwat Nabi SAW. Boikot Irak di era Saddam Husein adalah salah satunya. Saat peristiwa yang menjadi ujian berat bagi kaum muslimin itu berlangsung., tiba-tiba di abad ke-21 muncul lagi tanda yang menyusulnya. Angin Revolusi Arab bertiup kencang, hingga akhirnya menghantam Suriah, salah satu bagian dari bumi Syam, negeri yang juga dijanjikan akan terkena badai embargo. Dan hanya berselang kurang dari dua tahun, Mesir pun mengalami krisis yang sama setelah kudeta berdarah yang mematikan. Tiga peristiwa besar di Irak, Syam, dan Mesir itu harus dibayar dengan jutaan nyawa kaum muslimin.
Memang luka dan derita itu teramat pedih dan menyakitkan, namun Rasulullah juga memberi kabar gembira di balik semua malapetaka itu; kembalinya kaum muslimin sebagai dahulu mereka memulai sejarahnya; kalian kelak akan seperti keadaan kalian di permulaan. Dalam riwayat lain, setelah menjelaskan embargo negeri-negeri itu beliau mengatakan, “Di akhir masa umatku nanti akan ada seorang khalifah yang membagi-bagikan harta begitu saja tanpa menghitung-hitungnya lagi.”
Akankah peristiwa itu akan menjadi jalan bagi kaum muslimin untuk kembali kepada kejayaannya di masa silam, seperti di masa keemasan Rasulullah SAW dan khulafaur rasyidin? Adakah bukti dan indikasi kuat akan dekatnya janji kemunculan khilah rasyidah?

Dan salah satu nubuwat menakjubkan yang akan terjadi di akhir zaman adalah Malhamah Al-Kubra, setelah pertempuran paling mendebarkan antara pasukan Al-Mahdi dan Komando Romawi Bani Asfar. Mendebarkan? Ya, karena peperangan itu menggambarkan sosok prajurit-prajurit perkasa dari masing-masing kubu. Kedua belah pihak tidak lagi menggunakan senjata berat, meriam, senapan otomatis atau peralatan elektronik modern lainnya. Hanya pedang, tombak, panah, kuda atau peralatan manual. Benar- benar kembali ke zaman unta, abad kegelapan yang tidak pernah dibayangkan oleh manusia saat ini. Dan yang cukup mengejutkan bahwa manusia seluruh dunia juga akan mengalami hal yang serupa; kembali ke abad kegelapan, tanpa listrik, dan penerangan, tanpa mesin dan alat-alat elektronik, tanpa mobil dan pesawat, mirip sebagaimana manusia-manusa gunung di zaman silam.

Sisi lain yang menakjubkan dari diskusi tentang Al Malhamah Al-Kubra adalah lantaran ia akan terjadi di Suriah. Sebuah negeri yang merupakan bagian dari bumi Syam, nama yang barangkali tidak tercantum dalam peta dunia. Namun negeri itu kini menjadi kawasan yang paling panas dalam pencaturan politik global. Seluruh dunia kini tengah mengarahkan pandangannya ke negeri kini tengah terkoyak.

Suriah adalah salah satu wilayah di Timur Tengah yang tidak luput dari hempasan angin revolusi Arab. Bukan semata karena ia terkena imbasnya, namun proses masuknya badai Arab Spring itu sangat berbeda dibanding dengan Negara-negara Arab lainnya. Kuantitas dan kualitas kerusakan dan korban yang timbul sangat berbeda dibanding yang lain. Pengaruh dan daya tarik revolusi ini untuk menyedot para kombatan sangat luar biasa. Bukan hanya personal atau kelompok, melainkan juga Negara-negara dunia.

Tak heran jika banyak asumsi dan analisa yang terus bermunculan terkait dengan masa depan Suriah. Bumi yang menjadi medan dakwah, hijrah dan jihad para nabi dan rasul itu kini menjadi pusat perhatian dunia. Dan pastinya, ada hal yang menarik yang perlu mendapatkan ruang untuk merenung, mengapa revolusi Suriah menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap muslim. Mengapa pula negeri ini yang akan Allah pilih sebagai medan pertempuran perang besar akhir zaman?

Kedua buku ini akan menjelaskannya! sangat sayang bila anda lewatkan…

Edisi 1 : Huru Hara Irak, Syiria dan Mesir
Edisi 2 : Nubuwat Perang akhir zaman
Karya   : Ustadz Abu Fatiah Al Adnani
Harga   :  Rp 95.000 untuk kedua buku (belum termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan hubungi atau sms/email dengan dituliskan nama, alamat dan jumlah pemesanan ke: 085811922988 atau kirimkan email ke :  marketing@eramuslim.com

http://www3.eramuslim.com/resensi-buku/74330.htm#.U1Y-mlcjXdk

Hukum Menjual Barang Yang Tidak Dimiliki

Filed under: by: 3Mudilah


Salah satu bentuk jual beli yang dilarang dalam Islam adalah seseorang yang menjual barang yang bukan miliknya.  Larangan ini meliputi tiga hal :

Pertama: Larangan Menjual Sesuatu Yang Bukan Miliknya 

Larangan ini berdasarkan hadist Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku seraya meminta kepadaku agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan cara terlebih dahulu aku membelinya untuknya dari pasar?” Rasulullah menjawab : “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu .” (Shahih, HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah)

Begitu juga, jika seseorang diamanati harta anak yatim untuk dikembangkan, maka dibolehkan baginya untuk melakukan transaksi jual beli demi kemaslahatan anak yatim.

Bagaimana hukum menjual barang kredit? 

Orang yang membeli barang secara kredit dan belum lunas, mempunyai dua keadaan,

Keadaan Pertama: dia mempunyai komitmen dan mampu  membayar utangnya dan mempunyai jaminan atas hal itu, maka dibolehkan baginya menjual barang yang dibelinya dengan cara kredit tersebut.

Inilah yang dilakukan kebanyakan para pedagang di pasar-pasar, dimana mereka menjual barang-barang yang dibelinya dari pihak lain, dan biasanya pembayarannya belum lunas. Ini sudah berlaku di masyarakat selama ini dan para ulama tidak mempermasalahkannya.

Keadaan Kedua: dia tidak mampu membayar utangnya dan barang tersebut sebagai jaminan dari penjualnya yang pertama, yaitu jika mampu membayar sampai lunas, maka  barang tersebut menjadi miliknya secara penuh, sebaliknya jika tidak mampu melunasi utang, barang tersebut sebagai jaminannya. Dalam keadaan seperti, dia tidak boleh menjual barang tersebut, karena terkait dengan utang yang belum dibayarnya.  Seperti orang yang membeli motor dengan kredit, ketika tidak bisa melunasi utangnya. dia menjual motor itu, padahal motor itu sebagai jaminan atas utangnya.  Hal ini tidak dibolehkan karena tidak memiliki motor tersebut secara penuh.

Kedua: larangan menjual barang yang belum sepenuhnya berada di tangannya

Bentuk lain dari jual beli barang yang tidak dimiliki adalah menjual barang yang belum sepenuhnya berada di tangan kita, walaupun barang itu telah kita beli dan lunas, tetapi barang tersebut masih dalam proses pengiriman atau masih dalam perjalanan.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
     مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ
“Barangsiapa yang membeli makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia mendapatkannya secara sempurna ( sampai di tangannya)”  (HR. Bukhari dan Muslim ).

Di dalam riwayat lain disebutkan:

    وعَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (نَهَى أَنْ يَبِيعَ الرَّجُلُ طَعَامًا حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ). قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ : كَيْفَ ذَاكَ ؟ قَالَ : ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ.
“ Dari Thowus, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menjual makanan sampai dia mendapatkannya secara sempurna.( sampai di tangannya). Saya bertanya pada Ibnu Abbas:“ Bagaimana hal itu (bisa dilarang) ? Dia berkata : “ Yang demikian itu seakan-akan dia membeli uang dirham dengan uang dirham lainnya, sedangkan makanannya terundur kedatangannya(tidak ada)”(HR Bukhari dan Muslim)

Berkata Ibnu Hajar al-Astqalani di dalam Fathu al-Bari ( 4/ 349 ) menerangkan masalah di atas :  

“ Maksud dari hadist di atas bahwa Thowus bertanya tentang sebab larangan ini, maka Ibnu Abbas menjawabnya bahwa jika pembeli itu menjual makanan  tersebut sebelum memegangnya, sedangkan makanan yang dijual tersebut masih masih di tangan penjual (pertama), maka seakan-akan dia menjual sejumlah uang dirham dengan mendapatkan sejumlah uang  dirham lain.  

Hal itu diterangkan oleh riwayat Sufyan dari Ibnu Thowus di dalam Shohih Muslim, Thowus berkata, ‘Aku berkata pada Ibnu Abbas : “ Kenapa dilarang ?” Beliau menjawab, “ Tidakkah kamu melihat mereka telah melakukan jual beli dinar dengan dinar ( uang dengan uang ), padahal makanan terlambat  kedatangannya ( tidak ada ), maksudnya  jika seseorang membeli makanan dengan 100 dinar umpamanya, dan uang tersebut telah diserahkan kepada penjual, sedangkan dia belum menerima makanan tersebut, kemudian dia (sang pembeli) menjual kembali makanan tersebut kepada orang lain dengan harga 120 dinar, dan dia sudah menerima uangnya sebesar itu, sedangkan makanan  tersebut masih di tangan penjual (pertama), maka hal  itu  seakan-akan dia menjual 100 dinar dengan 120 dinar.

Berdasarkan penafsiran diatas, maka larangan ini tidak hanya berlaku pada jual-beli makanan saja. Oleh karena itu, Ibnu Abbas mengatakan,  “ Saya tidak mengira segala sesuatu ( yang dijual-belikan ) kecuali hukumnya seperti itu “.

Hal ini dipertegas oleh hadits Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata  :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رحالهم
 “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang menjual barang yang dibeli hingga para pedagang menempatkan barang tersebut di kendaraan-kendaraan mereka.” (HR. Abu Daud dan dishohihkan  Ibnu Hibban ) “

Ini dikuatkanjuga dengan hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu , bahwasanya beliau berkata :
         وَكُنَّا نَشْتَرِى الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ
“Kami dahulu membeli makanan dari orang yang berkendaraan secara borongan (tanpa ditimbang), kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menjual barang tersebut sampai barang tersebut dipindahkan dari tempatnya” (HR. Muslim ) .

Dalam riwayat lain, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu  juga mengatakan :

         كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.
“Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan, lalu beliau mengutus seseorang yang memerintahkan kami agar memindahkan makanan yang sudah kami beli di tempat tersebut ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.” (HR. Muslim).

Ketiga: larangan menjual air yang berlebih 

Jika seseorang mempunyai air yang berlebih, sedang tetangganya sangat membutuhkannya, maka dia tidak boleh menjual air tersebut kepadanya. Hal ini berdasarkan hadist Jabir bin Abdullah bahwanya ia berkata :
نَهَى رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم عَنْ بَيْعِ فَضْلِ المَاء.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menjual air yang berlebihan. “ (HR Muslim)

Air adalah ciptaan Allah untuk keperluan manusia dan hewan, maka tidak boleh seseorang memonopolinya sendiri dan menjualnya kepada orang lain. Ini berlaku jika air itu berada di tanah umum.

Adapun jika seseorang mengambil air dari tempat umum dengan ember dan dibawa ke rumahnya, maka air tersebut telah menjadi miliknya, dibolehkan baginya menjualnya kepada orang lain.

Oleh karena itu dibolehkan menjual air dalam kemasan, karena dia telah mengambilnya dari sumber air, kemudian mengolahkannya dan mengemasnya dalam suatu wadah. Ini semuanya memerlukan biaya, maka dibolehkan baginya untuk menjualnya. 

Berkata Imam Muslim di dalam Syarh Shahih Muslim:

أمَّا إِذَا أَخْذَ الْمَاءَ فِي إِنَاءٍ مِنَ الْمَاءِ الْمُبَاحِ فَإِنَّهُ يَمْلِكُهُ ، هَذَا هُوَ الصَّوَابُ
“ Adapun jika ia mengambil air dengan panci dari tempat umum, maka itu menjadi miliknya. Inilah pendapat yang benar “.

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA  
http://www.ahmadzain.com/read/ilmu/450/hukum-menjual-barang-yang-tidak-dimiliki/

Perjalanan Hidup Imam Ahmad bin Hanbal

Filed under: by: 3Mudilah



Perjalanan Hidup Imam Ahmad bin Hanbal

Imam madzhab yang empat memiliki keistimewaan-keistimewaan yang saling melengkapi antara satu dan yang lainnya. Imam Abu Hanifah adalah pelopor dalam ilmu fikih dan membangun dasar-dasar dalam mempelajari fikih. Imam Malik adalah seorang guru besar hadits yang pertama kali menyusun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu buku. Imam Syafii merupakan ulama cerdas yang meletakkan rumus ilmu ushul fikih, sebuah rumusan yang membangun fikih itu sendiri.

Artikel ini akan mengenalkan kepada pembaca tokoh keempat dari imam-imam madzhab, dialah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah seorang ahli fikih sekaligus pakar hadits di zamannya. Perjuangan besarnya yang selalu dikenang sepanjang masa adalah perjuangan membela akidah yang benar. Sampai-sampai ada yang menyatakan, Imam Ahmad menyelamatkan umat Muhammad untuk kedua kalinya. Pertama, Abu Bakar menyelematkan akidah umat ketika Rasulullah wafat dan yang kedua Imam Ahmad lantang menyerukan akidah yang benar saat keyakinan sesat khalqu Alquran mulai dilazimkan.

Nasab dan Masa Kecilnya

Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani. Imam Ibnu al-Atsir mengatakan, “Tidak ada di kalangan Arab rumah yang lebih terhormat, yang ramah terhadap tetangganya, dan berakhlak yang mulia, daripada keluarga Syaiban.”  Banyak orang besar yang terlahir dari kabilah Syaiban ini, di antara mereka ada yang menjadi panglima perang, ulama, dan sastrawan. Beliau adalah seorang Arab Adnaniyah, nasabnya bertemu denga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu. Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula.

Imam Ahmad berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits. Sama halnya seperti Imam Syafii, Imam Ahmad pun berasal dari keluarga yang kurang mampu dan ayahnya wafat saat Ahmad masih belia. Di usia remajanya, Imam Ahmad bekerja sebagai tukang pos untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktunya mempelajari ilmu dari tokoh-tokoh ulama hadits di Baghdad.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Guru pertama Ahmad bin Hanbal muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr.

Tidak cukup menimba ilmu dari ulama-ulama Baghdad, Imam Ahmad juga menempuh safar dalam mempelajari ilmu. Ia juga pergi mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafii di Mekah, lalu ia manfaatkan kesempatan berharga tersebut untuk menimba ilmu dari beliau selama empat tahun. Imam Syafii mengajarkan pemuda Baghdad ini tidak hanya sekedar mengahfal hadits dan ilmu fikih, akan tetapi memahami hal-hal yang lebih mendalam dari hadits dan fikih tersebut.

Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafii, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri.

Menjadi Seorang Ulama

Setelah belajar dengan Imam Syafii, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang senior maupun junior.

Dengan ketenarannya, Imam Ahmad tetap hidup sederhana dan menolak untuk masuk dalam kehidupan yang mewah. Beliau tetap rendah hati, menghindari hadiah-hadia terutama dari para tokoh politik. Beliau khawatir dengan menerima hadiah-hadiah tersebut menghalanginya untuk bebas dalam berpendapat dan berdakwah.

Abu Dawud mengatakan, “Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun disebutkan perkara dunia di dalamnya. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat Ahmad bin Hanbal menyebut perkara dunia.”

Masa-masa Penuh Cobaan

Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Filsafat Mu’tazilah memperjuangkan peran rasionalisme dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Dengan demikian, umat Islam tidak boleh hanya mengandalkan Alquran dan sunnah untuk memahami Allah, mereka diharuskan mengandalkan cara filosofis yang pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani Kuno. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah sebuah buku dibuat, artinya Alquran itu adalah makhluk bukan kalamullah.

Al-Makmun percaya pada garis utama pemikiran Mu’tazilah ini, dan ia berusaha memaksakan keyakinan baru dan berbahaya tersebut kepada semua orang di kerajaannya –termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima ide-ide Mu’tazilah demi menghindari penganiayaan, berbeda halnya dengan Imam Ahmad, beliau dengan tegas menolak untuk berkompromi dengan keyakinan sesat tersebut.

Al-Makmun melembagakan sebuah inkuisisi (lembaga penyiksaan) dikenal sebagai Mihna. Setiap ulama yang menolak untuk menerima ide-ide Muktazilah dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk meninggalkan keyakinan Islam fundamentalnya mengenai teologi. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah.

Orang-orang yang menyaksikan penyiksaan berkomentar bahwa bahkan gajah pun tidak akab bisa bertahan jika disiksa sebagaimana Imam Ahmad disiksa. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.

Meskipun demikian, Imam Ahmad tetap memegang teguh keyakinannya, memperjuangkan akidah yang benar, yang demikian benar-benar menginspirasi umat Islam lainnya di seluruh wilayah Daulah Abbasiah. Apa yang dilakukan Imam Ahmad menunjukkan bahwa umat Islam tidak akan mengorbankan akidah mereka demi menyenangkan otoritas politik yang berkuasa. Pada akhirnya, Imam Ahmad hidup lebih lama dari al-Makmun dan Khalifah al-Mutawakkil  mengakhiri Mihna pada tahun 847 M. Imam Ahmad dibebaskan, beliau pun kembali diperkenankan mengajar dan berceramah di Kota Baghdad. Saat itulah kitab Musnad Ahmad bin Hanbal yang terkenal itu ditulis.

Wafatnya Imam Ahmad

Imam Ahmad wafat di Baghdad pada tahun 855 M. Banan bin Ahmad al-Qashbani yang menghadiri pemakaman Imam Ahmad bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad berjumlah 800.000 orang dan 60.000 orang wanita .”

Warisan Imam Ahmad yang tidak hanya terbatas pada permasalahn fikih yang ia hasilkan, atau hanya sejumlah hadits yang telah ia susun, namun beliau juga memiliki peran penting dalam melestarikan kesucian keyakinan Islam dalam menghadapi penganiayaan politik yang sangat intens. Kiranya inilah yang membedakan Imam Ahmad dari ketiga imam lainnya.

Selain itu, meskipun secara historis Madzhab Hanbali adalah madzhab termuda dalam empat madzhab yang ada, banyak ulama besar sepanjang sejarah Islam yang sangat terpengaruh oleh Imam Ahmad dan pemikirannya, seperti: Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Katsir, dan Muhammad bin Abd al-Wahhab.

Semoga Allah Ta’ala menerima amalan Imam Ahmad bin Hanbal dan menempatkannya di surge yang penuh kenikmatan.

Sumber:
- Islamstory.com
- Lostislamichistory.com
Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

http://kisahmuslim.com/perjalanan-hidup-imam-ahmad-bin-hanbal/

Ikuti Sunnah Tinggalkan Bid’ah

Filed under: by: 3Mudilah

antara Sunnah dan Bid'ah

Pembahasan “Ikuti Sunnah Tinggalkan Bid’ah” Poin Ke-103. Kajian ini adalah rekaman kajian aqidah siaran radio Dakta 107 FM Bekasi bersama Ust. Farid Okbah, setiap Selasa pukul 20:00 s.d. 22:00 WIB. Audio kajian-kajian yang ditampilkan di alislamu.com bisa Anda sebarluaskan kembali kepada kaum muslimin yang lain. Jika Anda ingin mendapatkan file MP3 dalam bentuk kualitas aslinya (yang belum dikonvert), hubungi redaksi alislamu.com. File-file MP3 kajian ini tidak diperjualbelikan, gratis bagi siapa saja yang mau mengopi atau menggandakannya.

Ikuti Sunnah Tinggalkan Bid'ah 
00:00
00:00
download 9.91 MB

Bagaimana Cara Masuk Islam

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan: Jika ada muallaf yang masuk islam, apa yang harus dilakukan?

Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Mendapatkan petunjuk untuk masuk islam adalah nikmat besar bagi setiap hamba. Karena sejatinya, orang yang masuk islam, berarti dia kembali kepada fitrahnya. Fitrah untuk bertuhan satu, fitrah mengikuti utusan tuhan yang terakhir, dan fitrah untuk mengamalkan al-Quran sebagai kitab Tuhan. Lebih dari itu, islam merupakan satu-satunya agama yang akan menyelamatkan manusia dari hukuman neraka.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu), dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85).

Untuk itulah, Allah mengajarkan agar manusia tidak merasa berjasa dengan masuknya dia ke dalam agama islam. Sebaliknya, dia harus merasa bersyukur karena Allah telah memberikan hidayah islam kepadanya.

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ
”Mereka merasa telah berjasa kepadamu (Muhammad) dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebaliknya, Allahlah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan memberi petunjuk untuk kamu kepada keimanan.” (QS. Al-Hujurat: 17)

Oleh karena itu, untuk bisa masuk islam, tata caranya saa..ngat mudah. Tidak perlu acara khusus, dan bisa dilakukan tanpa modal. Yang sulit adalah memastikan keikhlasan dan kejujuran hati ketika masuk islam. Berikut beberapa tata cara masuk islam,

Pertama, ikrar dua kalimat syahadat

Ikrar syahadat adalah mengucpkan kalimat,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا وَرَسُولُ اللَّهِ
ASYHADU ALLAAA ILAAHA ILLALLAAH
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH…

“Aku bersaksi bahwa Tiada sesembahan yg berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku jg bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

Catatan:
Jika kesulitan untuk mengucapkan dua kalimat ini secara fasih, bisa dipandu oleh orang muslim, dan muallaf cukup mengikuti sebisanya. Selanjutnya diucapkan juga arti dari kalimat tersebut, agar memahami apa yang dia ucapkan.

Kedua, ikrar ini harus diucapkan di depan saksi kaum muslimin. Jumlah saksi minimal dua orang muslim baik-baik.

Tujuan saksi adalah agar muallaf ini diakui telah pindah agama oleh masyarakat muslim lainnya. Sehingga selanjutnya, dia disikapi sebagaimana layaknya seorang muslim.

Masuk islam tidak harus di depan kiyai, habib, ustad, atau tokoh agama lainnya. Karena bukan syarat diterimanya syahadat, harus diucapkan di depan tokoh agama. Namun harus di depan saksi dua orang muslim. Dan saksi, tidak harus tokoh agama.

Hanya dengan melakukan dua hal di atas, berikrar syahadat dan disaksikan muslim yang lain, maka sang muallaf telah dinyatakan sebagai muslim yang sah islamnya. Dia mendapatkan hak dan kewajiban, sebagaimana muslim lainnya.

Selanjutnya, ada beberapa yang perlu dilakukan,

Pertama, dianjurkan mandi besar

Dalam madzhab Syafiiyah, dianjurkan bagi orang yang baru saja masuk islam untuk mandi besar, membasahi seluruh badan.

Anjuran ini berdasarkan riwayat dari sahabat Qois bin Ashim radhiyallahu ‘anhu,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ الْإِسْلَامَ فَأَمَرَنِي أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ
Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk islam. Kemudian beliau menyuruhku untuk mandi dengan air dan daun bidara. (HR. Abu Daud 355 – shahih)

Ada juga yang menyebutkan, dianjurkan untuk menggundul rambut. Namun anjuran ini berdasarkan riwayat yang dhaif.

Kedua, Kerjakan shalat

Shalat merupakan rukun islam yang kedua setelah syahadat. Karena itu, setelah muallaf mengikrarkan syahadat, dia berkewajiban menjalankan shalat sebagaimana muslim yang lainnya.

Yang harus dia lakukan,

1. Jika dia sudah memahami tata cara shalat dan hafal al-Fatihah serta bacaan shalat yang wajib, maka dia bisa shalat sendiri. Dan jika laki-laki, muallaf selalu diajak untuk jamaah shalat wajib di masjid. Dengan tetap terus mengkaji tata cara shalat yang sempurna.

2. Jika dia belum memahami cara shalat yang benar, ada 2 yang harus dia lakukan:
a. Belajar tata cara shalat yang benar, dan menghafal bacaan-bacaan wajib dalam shalat
b. Selama belum bisa shalat dengan sempurna, dia harus bermakmum dengan muslim yang lain ketika shalat, sehingga bisa menjaga keabsahan shalatnya.

Ketiga, Khitan

Khitan hukumnya wajib bagi lelaki. Karena khitan bagian dari menjaga fitrah kesucian manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِب
“Fitrah itu ada lima perkara : khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis “ (H.R Muslim 257).

Lebih dari itu, khitan merupakan syiar kaum muslimin, yang juga diikuti oleh kelompok agama yang lain. Karena itu, muallaf yang baru masuk islam dan dia belum dikhitan, maka disarankan agar segera melakukan khitan.

Hanya saja, jika anjuran untuk khitan ini bisa memberatkan dirinya dan bahkan bisa membuat muallaf lari menjauhi islam, maka anjuran khitan bisa ditunda, sampai dirasa cukup baginya untuk melakukan khitan tanpa paksaan.

Keempat, syariat islam lainnya

Selanjutnya, muallaf diarahkan untuk mempelajari syariat islam lainnya, yang wajib baginya, seperti tata cara puasa, menjawab salam, mendoakan orang bersin, dan jika dia orang yang mampu, diajari tentang syariat zakat.

Semakin sering belajar, akan semakin membuat sang muallaf mencintai agama islam.

Kelima, kami sarankan agar muallaf segera melaporkan ke dinas pemerintah untuk masalah administrasi KTP dan KK. Menurut informasi dari salah satu Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil:
”Perubahan KTP dan KK Cukup di Kecamatan setempat, dengan membawa surat Keterangan dari RT & RW, KTP, KK dan dilampiri surat keterangan masuk islam.”

Kemudian surat keterangan masuk islam, bisa diterbitkan oleh takmir masjid atau yayasan islam yang menjadi saksi keislamannya.

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
http://abangdani.wordpress.com/2014/02/26/bagaimana-cara-masuk-islam/

Madzhab Di Makkah dan Madinah

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan : Assalammualaikum, Saya mendengar dari seorang ustadz bahwa jaman dahulu di masjid nabawi dan mekkah, orang yang naik haji bisa belajar banyak mahzab, tapi sekarang orang-orang luar mekah jika naek haji hanya bisa belajar satu mahzab karena menganggap satu mahzab ini adalah yang paling benar. Benarkah seperti keadaannya? Mahzab apakah yang dipakai oleh ulama di mekkah dan madina? Jazakallahu khoir

Dari sdr. Agung H.

Jawaban: Wa alaikumus salam.  Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Ada beberapa informasi yang pelu kita luruskan dari apa yang disampaikan Sang Ustadz. Ada sebagian yang tidak sesuai realita, dan ada yang bisa menimbulkan kesalah-pahaman.

Pertama, fikih yang diajarkan di universitas islam di Mekah dan Madinah adalah fikih perbandingan madzhab.

Sejak semester pertama di fakultas Syariah jurusan fikih, mata kuliah fikih sudah diajarkan fikih perbandingan madzhab. Dengan kitab rujukan Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Kitab ini layaknya ensiklopedi ikhtilaf ulama dalam masalah fikih. Hampir dalam setiap masalah, Ibnu Rusyd menyebutkan berbagai pendapat ulama dari berbagai madzhab.

Sebagai bagian dari keterbukaan informasi tentang metode belajar di Universitas Islam Madinah, pihak Universitas menyebarkan informasi ini kepada masyarakat. Anda yang tertarik untuk menilik kurikulum dan metode belajar Universitas Islam Madinah, bisa mengunduh di http://www.islamhouse.com/64948/ar/ar/programsv/برنامج_المناهج_الدراسية_بالجامعة_الإسلامية_بالمدينة_النبوية
Oleh karena itu, klaim bahwa pemerintah Saudi hanya mengajarkan satu madzhab dalam pendidikan mereka, jelas klaim yang tidak sesuai realita.

Kedua, madzhab resmi Mekah dan Madinah

Hampir semua negara islam, punya madzhab resmi. Tidak hanya Saudi, termasuk Indonesia, Malaysia, dan negara islam lainnya. Bagi departemen agama, madzhab resmi fikih mereka adalah syafiiyah. Karena itu, dalam banyak keputusan, Depag lebih banyak merujuk keterangan madzhab Syafii. Demikian halnya yang terjadi di Malaysia. Sementara madzhab resmi Mesir, yang digunakan sebagai rujukan dalam hukum dan peradilan adalah madzhab hanafi. Demikian pula, dulu madzhab resmi yang dianut oleh Turki Utsmani adalah madzhab hanafiyah.

Saudi menjadikan madzhab hambali sebagai madzhab resminya. Madzhab hambali menjadi aturan resmi untuk setiap peradilan.

Dan kita sepakat, memilih satu madzhab sebagai acuan, bukanlah sikap yang tercela. Karena hampir semua negara islam memilikinya, dan tentu saja atas lisensi dari para ulama.

Ulama Belajar Semua Madzhab

Meskipun madzhab resminya adalah hambali, namun para ulama besar yang tergabung dalam Haiah Kibar Ulama Saudi (semacam MUI di Indonesia), mereka mengkaji semua madzhab. Sebagaimana hal ini dituturkan oleh salah satu anggota Haiah Kibar Ulama, Dr. Muhammad Alu Isa,

غالبية أعضاء الهيئة أكاديميون يدرسون المذاهب الأربعة، ولا يعتمدون إلا القول الراجح بدليله أيا كانت مدرسته

”Umumnya anggota Haiah adalah lulusan akademi, yang mereka mempelajari semua madzhab yang empat. Dan mereka tidak memutuskan, kecuali pendapat yang kuat berdasarkan dalilnya, dari manapun mereka belajar.


Ketiga, pengajar di Masjid Nabawi

Meskipun madzhab resmi negara adalah madzhab hambali, namun saudi tidak memaksa kaum muslimin untuk mengajarkan madzhab lain di sana. Kita jumpai ada beberapa ulama yang berasal dari madzhab Maliki, seperti Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi, penulis kitab Minhajul Muslim, yang beliau bermadzhab Maliki. Dan sebelumnya sudah ada Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithy, pengajar masjid nabawi, sekaligus penulis Tafsir Adwaul Bayan, beliau juga bermadzhab Maliki.
Bahkan di Saudi bagian timur, terdapat ulama besar madzhab Syafii, hingga beliau digelari dengan Syaikhul Madzhabi as-Syafii [شيخ المذهب الشافعي], guru besar madzhab Syafii. Beliau adalah Syaikh Ahmad bin Abdillah ad-Daughan. Beliau meninggal akhir tahun 2003, semoga Allah merahmatinya.

Keempat, pernyataan: ‘sekarang orang-orang luar mekah jika naek haji hanya bisa belajar satu mahzab’

Keterangan ini penuh tanda tanya. Karena umumnya jamaah haji Indonesia tidak mengikuti kajian atau halaqah para masyayikh di masjidil haram maupun Masjid nabawi. Karena :
  • Nara sumbernya berbahasa arab, dan umumnya orang Indonesia tidak paham.
  • Mereka yang paham bahasa arab, umumnya adalah pembimbing, dan biasanya sudah sibuk ngurusi jamaah
  • Banyak jamaah Indonesia yang lebih sibuk belanja, kuliner, dan mengambil gambar suasana masjid dan sekitarnya.
Allahu a’lam.
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina http://www.KonsultasiSyariah.com)
http://abangdani.wordpress.com/2014/03/10/madzhab-di-makkah-dan-madinah/
 

Perayaan Isro’ Mi’roj 27 Rajab dalam Tinjauan

Filed under: by: 3Mudilah

Setiap kaum muslimin di negeri ini pasti mengetahui bahwa di bulan ini ada suatu moment yang teramat penting yaitu Isro’ Mi’roj sehingga banyak di antara kaum muslimin turut serta memeriahkannya.

Namun apakah benar dalam ajaran Islam, perayaan Isro’ Mi’roj semacam ini memiliki dasar atau tuntunan? Semoga pembahasan kali ini bisa menjawabnya. Allahumma a’in wa yassir.

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan,
”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya? 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,
“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Demikian pembahasan seputar perayaan Isro’ Mi’roj yang biasa dimeriahkan di bulan Rajab.

Semoga bisa memberikan pencerahan bagi pembaca sekalian. Hanya Allah yang memberi taufik.

http://rumaysho.com/amalan/perayaan-isro-miroj-27-rajab-354

Saudariku, Jangan Kalian Meniru Wanita Jahiliyah Modern!

Filed under: by: 3Mudilah

Ketagihan adalah satu dampak negatif media sosial. Satu dampak negatif lainnya yang lebih berat mudharatnya adalah timbulnya fitnah pada diri pribadi, keluarga hingga negara

Wahai saudariku, kau adalah wanita Mukminah. Isi akun-akunmu menunjukkan isi hati dan pikiranmu, maka hati-hatilah menulis sesuatu 

Oleh: Abdullah al-Mustofa

SEORANG akhwat aktivis dakwah di akun Facebook-nya mengeluhkan ada seorang laki-laki tak dikenal mengirim pesan singkat berisi kata-kata yang kurang berkenan di hatinya ke nomor HP (handphone) nya. Padahal, katanya, dia tidak pernah memberikan nomor HP sembarangan kepada laki-laki. Jika akunnya dilihat, dia suka mengupdate akunnya dengan tulisan dan foto-foto selain yang berkaitan dengan hal-hal yang penting seperti dakwah dan ilmu, juga hal-hal yang remeh-temeh seperti aktivitas makan, makanan yang disukai dan jalan-jalan.

Seorang istri dari ustadz kaliber internasional juga mengeluhkan di status Facebook-nya ada laki-laki yang mengomentari dengan kata-kata yang kurang berkenan di hatinya. JIka dilihat, di akunnya dia suka dan sering mengupdate statusnya dengan tulisan dan foto-foto aktivitas-aktivitas pribadi dan keluarga  seperti jalan-jalan dan rekreasi.

Seorang Muslimah yang berkarier sebagai guru dan sudah bersuami, di Facebook dan di BBM (Blackberry Message), bukan hanya suka mengupdate dengan foto-foto close up, tulisan dan foto-foto tentang aktivitas pribadinya di rumah dan di sekolah dan aktivitas keluarga, tapi juga bahkan dengan kata-kata manja yang hanya pantas ditujukan kepada suaminya seperti kata-kata “I miss u all” dan “Kalau kangen sama aku ping aku di BBM, PIN ku….”.

Seorang Muslimah lain yang berkarier sebagai PNS dan juga sudah bersuami di akun Facebook-nya selain sering meng—update-nya dengan foto-foto close-up juga dengan kata-kata yang menggambarkan suasana rumah seperti yang lagi sepi dan suasana hatinya seperti merasa kesepian.

Dalam akun keempat wanita tersebut, setiap teman mereka, tidak terbatas yang wanita saja, tapi juga yang laki-laki bisa mengikuti dan mengomentari setiap status mereka. Dengan alasan media sosial adalah dunia maya yang bebas, ada saja laki-laki yang memang suka iseng atau yang lagi ingin iseng memberikan komentar-komentar yang “nakal” seperti “Aku juga kangen” “Wah, bu guru cantik sekali” dan “Mbak secantik bunga di samping mbak”.

Kita berbaik sangka, mereka adalah wanita-wanita yang beriman. Kita berbaik sangka, mereka tidak berniat caper dari laki-laki ajnaby (asing yakni bukan suami dan muhrimnya). Yang menjadi masalah adalah, berniat caper ataupun tidak, segala ekspresi wanita dalam bentuk tulisan dan foto akan bisa menarik perhatian laki-laki untuk membaca tulisan, melihat foto dan memberkan komentar termasuk yang  “nakal”. Dengan demikian, meskipun mereka tidak berniat caper, perbuatan mereka bisa  dikategorikan sebagai perilaku jahiliyah karena bisa menimbulkan fitnah.

Lain halnya dengan wanita-wanita jahiliyah modern, yakni wanita-wanita kafir di masa kini. Mereka memang tidak tahu dan tidak ingin tahu akan batas-batas dan tidak peduli akan akibat dari pelanggaran batas. Karena kejahiliyahannya, mereka dengan sengaja memposting apa saja untuk caper dari laki-laki.

Media sosial memang dunia maya, bukan dunia nyata, dimana setiap orang bisa mengekspresikan diri dengan sebebas-bebasnya. Dan memang yang ada di dalam media sosial sekadar foto dan tulisan. Tapi meskipun begitu setiap kata dan gambar pasti ada pengaruhnya dalam jiwa, hati dan pikiran siapa saja, baik pemilik akun maupun teman-temannya. Bohong jika pemilik akun mengatakan tidak merasa senang dan puas setelah setiap mengekspresikan diri di akunnya, apalagi jika dikomentari dengan kata-kata yang menunjukkan perhatian. Siapa juga bisa terkena penyakit jiwa berupa ketagihan, ingin selalu mengekspresikan diri dan ingin selalu mendapatkan perhatian dari orang lain, baik perempuan maupun laki-laki.

Ketagihan adalah satu dampak negatif media sosial. Satu dampak negatif lainnya yang lebih berat mudharatnya adalah timbulnya fitnah pada diri pribadi, keluarga hingga negara. Satu fitnah yang sudah kerap terjadi di jaman ini pada diri pribadi wanita adalah pelecehan seksual mulai dari kata-kata melalui tulisan dan lisan hingga “aksi nyata”. Di lingkup keluarga adalah rusaknya keharmonisan antar anggota keluarga, antara suami dan istri, serta antara anak dan orangtua. Di lingkup negara, termasuk di negara kita adalah dari tahun ke tahun makin meningkat jumlah kasus perceraian.

Ajakan dan Harapan

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنََ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur [24]:31)

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu Wata’ala memberikan beberapa perintah dan larangan untuk ditaati wanita-wanita beriman yang hidup pada masa diturunkannya ayat di atas, pada masa kini hingga akhir jaman. Salah satu larangan Allah Subhanahu Wata’ala adalah meniru perbuatan wanita-wanita jahiliyah di masa Rasulullah saw, berupa memukulkan atau menghentakkan kaki di tanah ketika berjalan agar diketahui gelang yang mereka pasang di pergelangan kaki.

Para wanita jahiliyiah di masa itu mempunyai kesukaan caper  dari laki-laki. Cara-caranya belum secanggih, semasif dan seinstan jaman ini. Cara-caranya masih sangat sederhana. Ada beragama cara, salah satunya adalah dengan membunyikan suara gemerincingan gelang di kaki mereka dengan menghentakkan kaki ketika berjalan.

Wahai saudariku, kau adalah wanita Mukminah. Isi akun-akunmu menunjukkan isi hati dan otak kalian, kedangkalan atau kedalaman ilmu agamamu, tingkat kesholehanmu, kualitas amal ibadahmu, bagus-buruknya akhlaqmu, serta tingkat ketaqwaanmu.

Luruskan niat dan tujuanmu dalam menggunakannya karena Allah. Mulailah dengan nama Allah dengan ucapan Basmalah ketika akan menggunakannya. Sertakan Allah ketika menggunakannya.

Pujilah Allah dan bersyukurlah kepada Allah dengan ucapan Hamdalah setelah menggunakannya..

Itulah sebagian amaliyah yang mesti kau lakukan agar kau tidak mengikuti langkah-langkah setan modern berupa wanita-wanita jahiliyah yang hidup di masa modern ini yang suka caper baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Agar kau bebas dari segala penyakit hati seperti riya’ dan sum’ah. Agar kau mengisinya hanya dengan hal-hal yang halal, yang tidak remeh-temeh, yang baik dan bermanfaat bagi diri dan umat. Serta agar kau tidak mementingkan dan memerlukan perhatian dari laki-laki ajnaby karena memang itu tidaklah penting dan kau perlukan demi kebahagiaan sejati di dunia, terlebih di akhirat.

Wahai saudaraku, lihat dan beri penilaian isi akun-akun istri, anak-anak dan saudari-saudarimu!
Jika terdapat hal-hal yang syubhat, makruh, apalagi haram, nasehatilah mereka dengan baik-baik, dengan cara dan kata-kata yang baik. Jangan biarkan mereka. Jika kau biarkan mereka, maka rasakanlah juga pada dirimu sendiri akibatnya di dunia dan akhirat.
Ingat dan amalkan ayat berikut;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS:  At-Tahrim [66]:6).

Wallahu a’lam.*

Penulis adalah kolumnis dan pengurus fanspage FB Sukses Bersama Qur’an (SBQ)
http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2014/04/21/20324/saudariku-jangan-kalian-meniru-wanita-jahiliyah-modern.html/2#.U1YWo1cjXdl
 

Pembunuh Abu Jahal

Filed under: by: 3Mudilah

Abdurrahman bin Auf didatangi dua orang remaja dari kaum anshar, yaitu Muaz bin Amr Al-jamuh, 14 tahun dan Muawwiz bin Afra berumur 13 tahun. Kedua duanya bersenjatakan pedang. Tentara Quraisy seolah olah tidak menghiraukan kehadiran dua remaja itu karena menganggap kedua duanya tidak berbahaya. Mereka lebih memilih Abdurrahman bin Auf agar ditawan hidup hidup untuk dijadikan tebusan karena dia terkenal sebagai saudagar yang kaya. 
 
Dalam kondisi kerusuhan pertempuran, Abdurrahman bin Auf berteriak ,” Wahai anak, kamu masih terlalu muda untuk terlibat di peperangan ini, sebaiknya engkau menjauhlah dari tempat ini.”

“Kami mendapat izin daripada ibu dan ayah kami bagi menyertai pasukan Muhammad,” teriak Muaz.
“Saya datang kesini hanya untuk membunuh Abu Jahal. Tunjukkan dimana dia?” Kata Muawwiz dengan penuh semangat.

Pada mulanya Abdurrahman bin Auf tidak menghiraukan kata kata dua remaja itu, tetapi Muaz dan Muawwiz terus mendesaknya supaya menunjukkan dimana Abu Jahal maka akhirnya Abdurrahman terpaksa menyetujuinya.

” Paman akan tunjukkan kepada kamu dimana Abu Jahal, boleh tahu apa yang akan kamu lakukan apabila berjumpa dengannya? Tanya Abdurrahman bin Auf pula.

“Ibu saya berpesan jangan pulang ke rumah selagi kepala Abu Jahal tidak diceraikan dari badannya,” jawab Muaz bersungguh sungguh.

“Abu Jahal menghina serta menyakiti Rasulullah, saya ingin membunuhnya,” kata Muawwiz pula.

Abdurrahman bin Auf tersenyum mendengar kata kata dari dua orang remaja yang berani itu. Dia berjanji akan menunjukkan Abu Jahal apabila berjumpa. Tiba tiba seorang tentara quraisy menyerang Abdurrahman bin auf dari belakang. Muaz dan Muawwiz yang melihat kejadian itu segera bertindak melindunginya. Muaz dengan cepat menebas kaki tentara Quraisy menyebabkan dia tersungkur dan Muawwaiz pula menikamnya hingga mati. Melihat itu Abdurrahman bin Auf berasa kagum dengan kehidupan dua remaja itu.

“Tunjukkan kepada kami di mana Abu Jahal,” kata Muaz seolah-olah tidak sabar lagi hendak bertemu dengan ketua pasukan Quraisy itu.

Tiba tiba Abdurrahman bin Auf melihat Abu Jahal sedang berada dibawah sepohon kayu yang rindang. Dia menunggang kuda sambil berteriak memberi kata kata semangat kepada pasukannya agar terus berjuang.

Itulah lelaki yang kamu cari. Tetapi kamu haruslah berhati hati karena dia juga seorang perwira Quraisy” kata Abdurrahman bin Auf

“terima kasih paman. Saya akan dapatkan dia sekarang,” ujar Muaz sambil berlari ke arah Abu Jahal.
“Saya akan membantunya membunuh lelaki yang memusuhi Allah dan RasulNya itu,” kata Muawwiz juga.

“Berhati hati karena dia dilindungi oleh pasukan Quraisy,” pesan Abdurrahman bin Auf. Dia sendiri tidak dapat membantu karena sedang berhadapan dengan tentara Quraisy yang menyerangnya.

Muaz dan Muawwiz terus berlari ke arah Abu Jahal yang masih berada di atas kudanya , mereka berlari tanpa menghiraukan keselamatan mereka. Ketika itu Abu Jahal tidak menyadari kedatangan dua remaja tersebut. Muaz tiba lebih dahulu , dia tidak mencapai menebas kaki abu Jahal, maka yang ia tebas adalah kaki kanan kuda yang dinaiki Abu Jahal, seketika kuda tersebut jatuh tersungkur, Abu Jahal pun tersungkur. Dia marah sekali sambil menahan sakitnya akibat jatuh dari kuda, Abu Jahal mencoba bangun tetapi dengan cepat Muaz menebas kaki kanan Abu Jahal hingga putus. Muawwiz yang menyusul memukul pula kepala Abu Jahal hingga dia teramat sakit.

Ikramah anak Abu Jahal yang turut berada di situ segera menolong dan melindungi bapaknya, dia menyerang balik Muaz dan menebas tangan kiri remaja itu hingga hampir putus, Muaz terjerembab.

Muaz berusaha lari dan dibiarkan oleh ikrimah karena dia melihat Muawwiz hendak membunuh bapaknya. Maka terjadi pertarungan seorang dewasa matang dalam pertempuran yaitu Ikramah dengan Muawwiz yang masih berumur 13 tahun, karena tidak seimbang akhirnya Muawwiz gugur sebagai syahid.

Muaz selepas berhasil menjauhi Ikramah yang mengejarnya, ia terus berlari menuju Rasulullah, tapi pelariannya terganggu karena tangan kirinya yang terkulai karena hampir putus. Muaz akhirnya berhenti lalu mengambil keputusan untuk memutuskan tangannya yang terkulai itu lalu berkata, ” wahai tangan, kamu mengganggu perjalananku untuk bertemu Rasulullah.

Tanpa menghiraukan kesakitannya Muaz terus berlari hingga bertemu Rasulullah, kemudian Muaz memeluk Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, saya dan Muawwiz berhasil membuat Abu Jahal cedera, tetapi dia masih hidup karena kami di serang oleh anaknya bernama Ikramah dan beberapa pasukan Quraisy.” Beritahu Muaz lalu menunjukkan posisi mana Abu Jahal sedang berada.

Nabi Muhammad memanggil Abdullah Ibnu Mas’ud yang berada di situ karena gilirannya mengawal Rasulullah , Beliau lalu menyuruh Ibnu Masud mencari Abu Jahal berada.

” Wahai Ibnu Masud, anak ini mengatakan dia telah membuat Abu Jahal terluka, pergilah dan lihatlah dia disana,” kata Rasulullah.

Abdullah ibnu Mas’ud segera pergi mencari Abu Jahal, didapatinya pimpinan Quraisy itu terluka parah tetapi masih hidup. Tanpa rasa belas kasihan Abdullah bin Mas’ud menekan leher Abu Jahal sambil berkata,” Wahai musuh Allah dan musuh RasulNya, pada hari ini Allah menghinakanmu.”
“Dengan apa Allah menghina aku? Apakah karena aku mati ditangan engkau? Tanya Abu Jahal yang masih menunjukkan kesombongannya.

Abdullah ibnu Mas’ud mengangkat pedang hendak memenggal kepala Abu Jahal, tetapi Abu Jahal berujar,” sebelum engkau membunuh aku, beritahu dahulu pihak mana yang memenangi pertempuran ini, milik siapakah kemenangan hari ini?”

“Pasukan Quraisy kalah, kemenangan itu milik Allah dan RasulNya,” Jawab Abdullah bin Mas’ud.
“Anda bohong wahai pengembala kambing !” kata Abu Jahal, dia masih menunjukkan angkuhnya walau situasi sedang kritis.

Tanpa ada sela waktu, pedang Abdullah bin Mas’ud menebas kepala Abu Jahal…

Berita terbunuhnya Abu Jahal dengan cepat disampaikan kepada pasukan Islam, mereka menjadi semakin membara dan semangat, tetapi dipihak lain berita kematian itu meluluhkan semangat pasukan Quraisy….

Rasul mendengar berita kematian Abu Jahal dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan ,” Wallahi, Laa ilaha illaLLah , Laa ilaha illaLLah, Laa ilaha illaLLah, Allahu Akbar, AlhamduliLLah , Dia yang memenuhi janjiNya dengan menolong hambaNya dan mengalahkan musuhNya.”

Begitulah kematian musuh Allah, secara fisik dan kemegahan saat itu Abu Jahal termasuk manusia yang dihormati kaumnya, punya posis tinggi, tapi Allah menghinakannya, dimulai dengan serangan dua orang remaja dibawah umur, segala kekuatannya tumbang atas izin Allah, sebuah bukti hanyalah dengan kekuatan iman dan jihad lah yang dapat mengalahkan kekuatan kekuatan musrik dan musuh Islam dari dulu hingga sekarang…

Ya Allah kuatkanlah Islam dengan generasi yang Engkau ridhoi, dan munculkanlah kekuatan Islam dari munculnya pemuda pemuda muslim belia seperti Muaz bin Amr Al-jamuh, dan Muawwiz bin Afra…

http://www3.eramuslim.com/peradaban/pembunuh-abu-jahal.htm#.U1YO-FcjXdk

Ironi Pesawat Kepresidenan Kita

Filed under: by: 3Mudilah

Ironi Pesawat  Kepresidenan Kita
merdeka.com
"Air Force One" RI seharga hampir I Trilyun

SEJAK hari Kamis (10/04/2014),  Pesawat kepresidenan Republik Indonesia /‘Air Force One’ RI mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia memiliki pesawat kepresidenan.

Hanya saja, Pesawat RI 1 jenis Boeing Bussiness Jet 2 Green Aircraft (BBJ2) tersebut dibeli Indonesia seharga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar (hampir 1 Trilyun), dengan rincian US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.

Sudah begitu, pesawat ini dibeli dari perusahaan Boeing Amerika. Sudah begitu, pemerintah masih mengatakan biaya sebesar itu masih efisiensi anggaran, sebab menyewa pesawat dari maskapai Garuda Indonesia ongkosnya lebih mahal.

Yang lebih ironis, Indonesia memiliki PT Dirgantara Indonesia (DI) yang telah memproduksi banyak pesawat, termasuk  CN-235 dna N 250. Di mana produknya justru digunakan Malaysia, Korea Selatan, dan Pakistan.

Direktur Aircraft Service PT DI Rudi Wuraskito belum lama ini mengatakan, Malaysia dan Korea Selatan menggunakan 2 unit CN-235 sebagai pesawat kepresidenan. Sedangkan Pakistan hanya 1 unit.

Sama dengan pesawat Boeing yang baru dibeli Sekretariat Negara untuk Presiden Republik Indonesia, CN-235 tersebut juga memiliki interior dan keamanan khusus.

Menurut Rudi, alasan 3 negara tersebut membeli CN-235 karena luas daerahnya yang kecil. Sehingga tidak perlu pesawat besar untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain. Lama terbang pesawat tersebut sekitar 8-9 jam dan dapat mendarat di bandara yang mempunyai landasan hanya 1.200 meter.

Lagi-lagi menurut  Rudi, ada sekitar 15 negara telah menggunakan pesawat CN-235. Di antaranya Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, Malaysia, Thailand, Turki, Brunei Darussalam, Pakistan, dan Arab Saudi. Total sudah ada 315 pesawat yang dibuat. Negara yang paling banyak menggunakan adalah Turki dengan 70 unit.

Kebanyakan pesawat-pesawat tersebut dipakai untuk transportasi militer seperti membawa barang dan orang.

Kita seharusnya bangga dengan produk anak-anak bangsa yang telah lama disiapkan oleh BJ Habibie. Sayang, kita sendiri tidak bangga dengan itu. Seharusnya presiden dan Negara bangga dan produk sendiri.

Saya ingat 1996 silam, ketika Presiden RI yang kedua, Soeharto, memutuskan menukar dua pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara, CN-235, dengan beras ketan Thailand. Kebijakan itu kemudian menjadi olok-olok, salah satu yang paling berhasrat “menjatuhkan” jika tak boleh disebut nyinyir produk anak bangsa ini adalah Majalah Tempo. Akibat liputannya, seolah kita (bangsa Indonesia) merasa terhina gara-gara ditukar beras-ketan.

Dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories” mengisahkan dibalik barter itu terungkap. “Sebenarnya saya meniru Indira Gandhi yang ketika menjual bus Damri kepada kita, ia tidak mau dibayar dengan dolar. Indira minta bus-bus itu dibarter saja dengan beras yang di negara kita saat itu surplus.”

Sama saja, jika barang kita dibarter dengan nilai yang sama, seharusnya tidak perlu ada yang merasa terhina. Namun begitulah cara kerja media-massa. Kini, orang sebaik BJ Habibie “disingkirkan” bahkan para pemuda-pemudinya yang bersama IPTN dan PT Dirgantara banyak lari ke perusahaan-perusahaan asing. Di saat yang sama, kita justru membeli dari orang asing. Innalillahi.

Mengapa jika ada produk kebanggaan milik negeri dan anak bangsa kita cela, tetapi kita justru bangga menggunakan buatan luar negeri? Sampai kapan pemerintah kita (termasuk media) bisa menjadi cerdas?*

Wassallam
Abdul Wahid-Malang

http://www.hidayatullah.com/redaksi/surat-pembaca/read/2014/04/14/19872/ironi-pesawat-kepresidenan-kita.html#.U0uQClcjXdk

Hijrah, Jihad Dan Shobar

Filed under: by: 3Mudilah

Petunjuk Al Quran

Bahwa sesungguhnya sebagai hamba Allah yang telah terbuka hatinya untuk menerima “Nur Islam” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 22 akan merupakan hal yang wajar kalau mempunyai “rasa keberfihakan terhadap Islam dan ummat Islam”, karena Allah telah memberikan petunjuk tentang betapa pentingnya mendudukan diri sebagai muttabi’urrasul secara baik dan benar sebagaimana dituntunkan dalam al Quran surah al Hujurot ayat 7. Dengan demikian akan berarti pula sebagai “Khoiru Ummat” yang harus teruji sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Ali Imrom ayat 110; Maka Allah memberikan suatu pembekalan penting yang menuntut pemahaman yang benar, sebagaimana difirmankanNya dalam surah an Nahl ayat 110, yaitu :

“Kemudian sesungguhnya Robb kamu (pasti menolong) kepada orang-orang yang berhijrah sesudah segala apa (yang membuat) mereka difitnah, kemudian mereka berjihad dan shobar. Sesungguhnya Robb kamu dari sesudah (mereka berupaya mengatasi ujian)nya sungguh Pengampun Penyayang”.-

Pentelaahan Dalil

Dengan melihat kebelakang dalam keterkaitan sebenarnya peristiwa “Hijratur Rasul” adalah harus difaham sebagai “Proses Pengkondisian Ummat Islam”, mengingat antara lain :

a. Memperhatikan gambaran sejarah Rasul, yaitu tindakan dan ancaman yang ditujukan terhadap Muhajirin oleh Quraisy bersama-sama musyrikin di semenanjung Arab dan para penyembah berhala di Madinah dan termasuk pula diantara kelompok Yahudi yang menyatukan dirinya untuk memerangi Muhammad saw bersama para Muhajirin. Dalam kenyataan memang demikian itu upaya kaum kafir dan musyrik terhadap keberadaan Islam dan Ummat Islam sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Anfal ayat 30.

b. Memperhatikan terhadap kenyataan tentang nafsu orang-orang yang gonjang-ganjing dalam ber’aqidah, sehingga nafsu ingin berkuasa seperti layaknya raja atau hartawan sangat menggelora dan gandrung serta mabuk kepayang (-euforia-). Dan bahkan ada yang senantiasa merindukan dan mendambakan perempuan-perempuan yang berwajah cantik, sehingga setiap hari dan setiap saat harus terseok-seok merangkak dibelakang perempuan untuk memperoleh kepuasan yang seolah-olah akan memperoleh ketenteraman dan ketenangan. Dan juga ada yang menghabiskan waktunya siang dan malam hanya untuk melihat angka-angka dalam buku catatannya dan mengincar untuk memperoleh lebih banyak lagi. Padahal hasilnya tergantung Kehendak Allah, sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al isro ayat 18, yaitu :

“Barang siapa ada menginginkan (keduniaan) yang segera, Kami segerakan baginya dalam dunia ini menurut apa yang Kami Kehendaki pada siapa yang Kami inginkan. Kemudian Kami jadikan untuknya Jahanam yang ia akan masuk kedalamnya secara hina dan terusir”.-

Dengan yang tersebut maka “Makna Hijrah” itu sendiri adalah membangun tekad dalam menghabiskan seluruh hidupnya untuk menegakkan keutamaan Di-nullah dengan tanpa membedakan waktu dan tempat, kemudian melaksanakan pengkondisian hati Ummat Islam untuk bertansiq sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Hujurot ayat 10 sampai dengan ayat 12 untuk mempersiapkan diri dengan satu pernyataan yaitu “Anshorulloh” sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah ash Shof ayat 14.

Kemudian langkah selanjutnya dalam keterkaitan “Jihad dan Shobar” adalah memberikan pengertian tentang azas pembangunan Ummat secara shoffan sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah ash Shof ayat 4, yaitu berkerja keras secara bersungguh-sungguh dalam “Meletakkan Dasar-Dasar Pokok” yang diperlukan untuk kepentingan li i’la-i kalimatillah yaitu mendalami tuntunan Islam dengan mengaktifkan majelis Ilmu sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah az Zumar ayat 17 dan ayat 18 dengan mentadabburi Kalamullah secara terus-menerus sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Mukminun ayat 68 agar kokoh dan sempurna bagi Ummat Islam dalam bertaqorrub sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Fath ayat 29 dan menyatukan hati sesama Mukmin untuk membangun “mawaddah fil qurba” sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah asy Syuro ayat 23. Kemudian membuat tapakan dasar, mengatur hubungan untuk menciptakan “kemitraan” dengan mereka yang tidak se-‘aqidah berdasarkan moral tauhid sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah Fushilat ayat 34 yang telah dirintis oleh para Ulama pendulu.

http://www.al-ulama.net/component/content/article/505-hijrah-jihad-dan-shobar.html

Ciri-ciri Hati yang Unggul

Filed under: by: 3Mudilah


Untuk memperoleh hati yang unggul tidak hanya dengan duduk santai menunggu datangnya mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul, sungguh mustahil
Ciri-ciri Hati yang Unggul
Ilustrasi
Hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati

PERNAKAH kita merasakan malas saat mengerjakan sesuatu padahalfasilitas  yang  kita  miiki  sudah  lengkap  dan  apa  yang  sedang  kitalakukan sebenarnya suatu hal yang sangat penting dan bermanfaat?

Pernahkah  kita  merasakan  futur  (semangat menurun) saat  seseorang mengabaikan  kita,  tidak  memuji  serta  tidak  menghargai  hasil pekerjaan baik kita?

Di  sisi  lain,  pernahkah  kita  melihat  orang  yang  kehidupannya sederhana namun selalu nampak ceria, seolah-olah tidak pernah ada masalah  yang  melintas  dalam  hidupnya?  Fasilitas  belajar  ataupun kerjanya  yang  dimiliki  tidak  begitu  memadai  tapi  selalu  giat  dan berhasil?

Ia mendapat banyak teguran dan sindiran dari berbagai pihak namun dia tetap tegar. Semangat dan keikhlasaannya tidak sedikitpun tergoyahkan? Pernahkah?

Ketahulillah  bahwa  yang  membedakan  itu  semuanya  adalah  hati. Antara hati  yang sakit  dan hati  yang unggul.  Hati  yang sakit  selalu mengharapkan pemuasan segera, kekayaan yang segera dan pujian dari orang lain. Maka saat dia tidak memperoleh apa yang diharapkanakan mengalami depresi dan putus asa. Sedangkan hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati, Dzat yang memberikan hikmah di balik setiap ujian dan cobannya.

Semua pasti mendambakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup,namun perlu diketahui bahwa rasa bahagia dan damai itu letaknya di hati.

Maka  setiap  yang  menginginkannya  harus  memperhatikan bagaimana memiliki hati yang unggul.
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri hati yang unggul

Pertama adalah  hatinya  merdeka.  Artinya  hatinya  bebas dari  kekangan  hawa  nafsu  dan  syahwat.  Bisyr  bin  Harist pernah mengatakan: ”Seorang  hamba  tidak  akan  mampu  merasakan nikmatnya  ibadah  sebelum  ia  mampu  membuat  tembok penghalang  dari  besi  yang  memisahkan  antara  dirinya  dan syahwatnya.” (Hilyatul Aulia, jil. VIII, hal. 345)

Kedua,  hatinya  memiliki  rasa  “Yaqzhah”.  Yaitu  berupa kecemasan  hati  tatkala  memperhatikan  tidurnya  orang-orang lalai. Rasa yaqzhah ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, di antaranya:

a. Waspada  terhadap  melimpahnya  kenikmatan  yang  dapat menjerumuskannya kedalam kenistaan.
b. Selalu menghitung keburukannya, dan dikaitkan segala bentuk kerugian  yang  menimpanya  degan  dosa  yang  dilakukan.

Sebagaimana firman Allah :

 قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِينٍ
“Dan  apa  saja  musibah  yang  menimpa  kamu  Maka  adalah disebabkan  oleh  perbuatan  tanganmu  sendiri.”  (QS.  Asy-Syura [26]: 30)

Rasulullah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya :
بنذب لإ نيع لو قرع جلتحإ ام
“Tidaklah urat dan mata itu gemeter melainkan kerena sebuah dosa.” (HR. Thabrani)

c.  Mewaspadai setiap kebaikan dan ketaatan yang melahirkan kebanggaan  dan  kesombongan
Imam  as Syafi’I  memberikan arahaan agar  terhindar  dari  ujub  dalam ketaatan,  “Bila  Anda khawatir  muncul  penyakit  ujub  atas  amalan  Anda,  maka ingatlah keridhaan dari pihak yang hendak Anda cari, nikmat apakah yang hendak Anda inginkan? Siksaan apa yang Anda takuti. Barangsiapa yang berfikir ke arah situ maka dia akan menganggap kecil amalannya.” (dalam kitab Siyarul ‘Alamin Nubala’, jil. X,hal. 111)

d. Akan  timbul  rasa  hina  dan  bersalah  saat  melakukan  dosa.Orang yang melakukan dosa sedangkan dia biasa-biasa  saja  maka  ini  pertanda hatinya  sedang sakit.  Jangan-jangan Allah sudah mengunci hatinya.

e. Mengukur keuntungan dan kerugiaan dengan ukuran akhirat. Sebagaimana Rasulullah pernah menyembelih seekor kambing lalu  disedekahkan  dan  yang  tersisa  hanya  pahanya  saja, hingga ‘Aisyah berkata, “Hanya paha saja yang tersisa?” Rasulullah menjawab  sebaliknya dengan  timbangan  akhirat,  “Semuanya  masih tersisa kecuali pahanya saja.”

Yang ketiga, Hatinya selalu memusuhi kelalaian.

Ada  beberapa  ilustrasi  yang  mewanti-wanti  kita  terhadap kelalaian  dan  panjangnya  angan-angan.  Sebagaiamana  hal tersebut digambarkan oleh para ulama, di antaranya :

a.    Bisyr  bin  Harist  menceritakan  tentang  seekor  semut  yang sibuk mengumpulkan biji-bijian di musim panas dengan angan-angan agar dapat dimakan di musim dingin, tiba-tiba seeokor burung datang mematuknya dan biji tersebut. ( Lihat: Bisyr bin Harist  hal.  65)

b. Ibnu  Jauzi,  “Dunia  adalah  perangkap,  sedangkan  manusia adalah burungnya. Burung-burung itu menginginkan biji (yang ada  dalam  perangkap),  tapi  lupa  akan  jerat  perangkap.” (Dalam Shaidul Khathir, hal. 373)

c. Hasan  Al-Bashri,  “Wahai  anak  Adam,  pisau  tengah  diasah, perapian  tengah  dinyalakan,  sedangkan  domba  itu  tengah menikamati makanannya.” (Dalam Siyaru ‘alamin Nubala’, jil. IV, hal.586)

Maka dari itu hati yang unggul selalu waspada dan tidak terlena dengan kenikmatan yang sesaat dan menipu serta angan-angan dunia  yang  melenakan,  menipu,  dan  menjerat,  sehingga membuat dia lalai dari kehidupan yang abadi.

Keempat, hati yang senantiasa ingin membalas.

Maksudnya  adalah  membalas  kesalahan  dengan  kebaikan.Kerena  kebaikan  akan  menghapus  kesalahan,  sebagaimana firman Allah;

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
“Dan  dirikanlah  shalat  itu  pada  kedua  tepi  siang  (pagi  dan petang)  dan  pada  bahagian  permulaan  daripada  malam.Sesungguhnya  perbuatan-perbuatan  yang  baik  itumenghapuskan  (dosa)  perbuatan-perbuatan  yang  buruk.” (QS.Hud  [14]: 114)

Dalam hadis Rasulullah bersabda

اهحمت ةنسحلا ةئيسلا عبتاو
“Hendaklah ia mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscayakeburukan  itu  akan  menghapus  keeburukan.”  (HR.  Ahmad)

Sesungguhnya balasan kebaikan adalah kebaikan yang dating setelahnya,  sedangkan  balasan  keburukan  adalah  keburukan yang datang setelahnya, sebagaimana firman Allah.

Dengan  kata  lain,  barangsiapa  yang  melakukan  ketaatan  dan telah  paripurna,  maka  tanda-tanda  diterimanya  ketaatan tersebut  adalah diikuti  dengan ketaatan yang lain.  Sedangkan tanda  tidak  diterimanya  adalah  diikuti  dengan  kemaksiatan setelahnya. Na’uzdubillah.

Umar r.a  suatu ketika  pernah disibukkan dengan kebun senilai 200.000 dirham sehingga beliau terlambat shalat Ashar-nya, maka beliau  membalasnya  dengan  menyedekahkan  kebun  tersebut.
Hal  yang  senada  juga  pernah  dilakukan  oleh  Thalhah,  dia menyedekahkan kebunnya sebagai kafarah (pengganti) karena ketika shalat, hatinya  pernah  tersibukkan  dengan  burung  yang  hinggap  di kebunnya tersebut.

Kelima, hati yang tidak mengenal rasa malas

Orang  yang  malas  sering  menyepelekan  sesuatu  yang  kecil,dengan  kemalasannya  ia  selalu  menunda-nunda  sampai  tidak sempat  dilaksanakannya.  Padahal  hakekat daripada  sebuah gunung adalah kumpulan kerikil-kerikil dan hakekat banjir besar adalah  kumpulan  dari  sejumlah  tetesan  air.

Rasulullah  telah memotifasi  umatnya  agar  bersegera  melakukan  kebaikan,jangan menunda-nundanya walaupun waktu yang dimiliki sangatsempit.

اهسرغي ىتح موقي ل نأ عاطتسا نإف ةليسف مكدحأ دي يفو ةعاسلا ةماق نإاهسرغيلف
“Bila  kiamat  terjadi  sedang  di  tangan  salah  seorang  di antara kalian memegang bibit, maka bila ia mampu untuk tidak bangkit hingga  menanamnya,  maka  hendaklah  ia  menanamnya.”  (HR.Bukhrari)

Maka hati yang memiliki ciri-ciri sebagaimana tertera di atas lah yang akan selalu unggul,  tidak pernah depresi, tidak mengenal kata lelah dan  menyerah,  tidak  menggoyahkan  sedikitpun  tekadnya  dengan komentar-komentar  orang  lain.  Karena  yang  diharapkankan  bukan wajah manusia, tapi keridhaan dari Rabb Yang menciptakan manusia.

Namun  untuk  memperolehnya  tidak  hanya  dengan  duduk  santai menunggu mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul,  mustahil  bisa.  Tapi  butuh usaha semaksimal  mungkin  untuk dapat memilikinya.*/Nashihul Umam

http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2014/04/02/19300/ciri-ciri-hati-yang-unggul.html/2

Mereka Tidak Mundur dari Perjuangan

Filed under: by: 3Mudilah


 

(Kisah Syahidnya Tiga Panglima perang Mu’tah)

Bangunan Islam tegak pertama  kali melalui usaha Rasul yang mulia, dimulai dengan masuknya manusia pilihan  ke dalam dinul Islam satu demi satu, lalu mereka dihadapkan hidup di atas panasnya bara ujian dan di atas situasi yang sangat sulit. Dihadapannya batu penggiling yang menggiling dan melumat urat syaraf, dalam hidup dan nafas mereka. Mereka hidup di atas penderitaan dan kesulitan. Melalui situasi seperti inilah tergembleng mental elemen elemen pertama yang kuat yang menjadi penopang bagi tegaknya bangunan Islam yang pertama

Rasul sebagai pemimpin dakwah tegak berdiri menyeru manusia agar meyakini tauhid, tauhid dengan segala jenisnya. Dia mendidik dan menggembleng para pengikutnya  bukan dengan cara teori dan kajian belaka, tapi mendidik dan menggembleng mereka meyakini prinsip tauhid secara amal melalui berbagai kejadian dan peristiwa. Dimana kejadian dan peristiwa yang mereka hadapi itulah yang menjadi ajang  untuk membuktikan keyakinan mereka terhadap prinsip tauhid.  Tak mungkin bagi generasi pertama yang menjadi sentral berhimpunnya umat Islam, diberi kekuasaan di atas dunia jika tidak  di gembleng lebih dulu dengan berbagai kesulitan, ujian dan cobaan. Oleh karena itu, ketika Imam As Syafi’i ditanya , “mana yang lebih layak bagi seorang hamba diberi kekuasaaan atau diuji?” maka beliau menjawab, “tidak akan mungkin dia diberi kekuasaan hingga dia diuji lebih dahulu.”

Cobaan, kemiskinan, kesengsaraan pun menghampiri dan menghimpit dada golongan muslim dan pemimpinnya, Muhammad SAW , sehingga hati mereka naik menyesak sampai ke tenggorokan, sampai sampai Rasul SAW yang begitu tegar pun berkata , “Bilakah pertolongan Allah tiba?”
Ya Allah, cobaan cobaan demikian berat itu sampai mendorong nabi SAW berkata , “Kapankah pertolongan Allah itu tiba?” … bagaimana dengan kita…?

Begitulah kondisi pengemblengan Rasulullah dengan para sahabatnya, banyak kisah yang dapat diambil ibrahnya, guna membekali keimanan yang harus kita jaga sebaik mungkin di akhir zaman ini.

Pernah tercatat dalam sejarah layaknya sebuah dongeng kepahlawanan, tapi kisah ini benar benar terjadi. Ditunjukkan bagaimana hasilnya pembinaan berdampak akan kuatnya iman dan tauhid bersamaan dengan gemblengan akidah melalui amal perjuangan. Teguhnya keyakinan Tauhid yang terangkat oleh amal soleh menuju Rabb nya untuk menjawab ujian dan godaan syetan  yang mereka alami.  Kisah ini tercatat dalam sejarah perang mu’tah.


Saat itu Rasulullah SAW telah mengirimkan pasukannya ke Mu’tah dibawah komando Zaid bin Haritsah. Pesan beliau bila dia gugur hendaklah digantikan oleh Jafar bin Abu Thalib, dan kalau ia gugur maka diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah, pasukan ketika itu berjumlah 3.000 orang, dan pasukan romawi kala itu berkisar 100.000 prajurit , suatu jumlah yang tak berimbang. Suatu jumlah secara matematis pastilah pasukan kaum muslimin akan hancur luluh lantak  , bayangkan 1:33 , berarti kalaupun pertempuran dianggap imbang/seri berarti setiap prajurit mukmin yang terbunuh atau tidak terbunuh haruslah bisa membunuh 33 orang musuh !!!

Ketika tiba saat pelepasan pasukan untuk berangkat, salah satu dari ketiga panglima tersebut meneteskan air matanya sehingga orang orang bertanya,”mengapa engkau menangis, ya Abdullah bin Rawahah?”

Dia menjawab,” Demi Allah, aku meneteskan air mata bukan karena cintaku pada dunia dan bukan pula karena berat berpisah dengan kalian, melainkan karena aku telah mendengar Rasulullah membaca firman Allah tentang api neraka :

“Dan tak seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan “ (Maryam : 71)

Sedangkan aku tak tahu bagaimana nanti setelah aku melaluinya.”

Orang sekitarnya berkata,”Allah beserta kalian dan akan mengembalikan kalian dalam keadaan baik.”

Rasulullah sendiri membayangkan perang yang akan dihadapi akan menjadi luar biasa dasyat, karena itu beliau sendiri mengantarkan pasukannya hingga sejauh mungkin , seolah olah beliau hantarkan pasukan yang tak pernah kembali lagi dengan beliau, mengantarkan sesuatu yang akan terpisah di alam dunia, beliau antarkan sampai ke area Taniyah Al Wada…

Beberapa hari kemudian, ketika pasukan ini tiba di suatu dusun bernama Ma’an, mereka mendengar berita bahwa pasukan romawi telah berada di Ma’ab di daerah Al Balqa dengan 100.000 prajurit.

Mendengar itu semua, ada ketakutan dan keraguan di antara pasukan, sehingga pasukan  muslimin memaksa tinggal selama dua malam di Ma’an  , waktu persiapan tersebut digunakan untuk menyusun dan memikirkan langkah strategi  selanjutnya, karena lawan yang dihadapi sangat besar dan tangguh dalam jumlah dan peralatan perangnya.

Hingga diantara mereka ada yang mengusulkan, ”kita laporkan saja kepada Rasulullah SAW agar dikirimkan bantuan atau diturunkan perintah untuk kita laksanakan,”

Tapi melihat kondisi adanya indikasi keraguan akan kekuatan pasukan muslimin, berdirilah Abdullah bin Rawahah membangkitkan semangat pasukan , dan ia berujar ,

“Wahai kaumku, demi Allah , sesuatu yang tidak kalian senangi tapi saat ini kalian keluar untuknya hanyalah untuk mati syahid. Kita memerangi musuh bukan berdasarkan jumlah prajurit atau kekuatan senjata, kita tidak berperang kecuali demi agama , yang dengan ini Allah melimpahkan karuniaNya kepada kita. Oleh karena itu, mari kita hadapi mereka bersama sama. Perang ini akan memberi kita satu dari dua kebaikan, kemenangan atau kematian sebagai syuhada.”

Seruan Abdullah berhasil membakar semangat para prajurit muslim. Mereka berkata satu sama lain, ”Abdullah bin Rawahah benar.”

Maka mereka pun terus bergerak maju cepat diringi syair syair perjuangan yang dibacakan Abdullah bin Rawahah dengan lantang dan jelas , hingga hilanglah rasa takut akan banyaknya serdadu musuh yang akan dihadapi.

Tibalah di daerah Balqa di desa Masarif, mereka berjumpa dengan pasukan Heraklius yang terdiri dari gabungan orang orang Arab dan Romawi. Ketika musuh makin dekat, pasukan muslimin bergeser ke Mut’ah, sebuah desa yang dipandang lebih sesuai untuk menyusun strategi serangan. Dari sini pasukan muslimin bergegas mengatur barisan pasukannya. Pasukan sayap kanan dipimpin oleh Qutbah bin Qatadah, seorang dari Bani Udzrah. Sayap kiri di bawah komando seorang Anshar bernama Abayah bin Malik.

Menurut riwayat Bukhari dari Anas bin Malik, Rasulullah telah mengetahui bahwa para panglima yang ditunjuknya syahid sebelum berita mengenai itu tiba di Madinah. Beliau sangat berduka karenanya dan dikisahkannya kepada segenap muslimin madinah.


Ketika perang pecah di Mu’tah, Rasulullah sedang duduk di mimbar. Sementara mata beliau sembab tergenang air mata. Tergambar di mata beliau pertempuran sengit di Syam itu rupanya, sehingga beliau berkata,

“ Zaid sedang membawa panji panji kemudian setan datang merayunya agar cinta dunia dan takut mati. Dia memarahi dirinya,”sekarang, saat datang ujian atas iman, engkau hendak menyukai dunia?! Lalu ia maju bertempur dengan ganas sampai menemui ajalnya.

Rasulullah kemudian melakukan sholat ghaib untuk Zaid, setelah itu beliau melanjutkan ceritanya,

“beristighfarlah untuknya. Dia telah masuk surga sebagai syuhada.

Gemuruh takbir dari para sahabat ….Allahu Akbar……!!!

Kini panji panji dipegang oleh Jafar bin Abu Thalib, setan kembali menggoda dengan cinta dunia, senang hidup, dan benci mati, lalu dia berkata,”sekarang di saat iman diuji di hati mukminin, engkau datang pula merayu rayu!” dia maju sampai gugur sebagai syuhada.

Rasulullah melakukan sholat ghaib baginya dan berkata, “Doakanlah saudaramu ini, dia masuk surga dengan sepasang sayap.”

Kembali gemuruh takbir dari sahabat…Allahu Akbar…!!!

Beliau melanjutkan , “Panji panji itu sekarang beralih ke tangan Abdullah bin Rawahah. Dia pun akhirnya gugur, lalu pergi ke surga dengan mundur.” Golongan Anshar cemas mendengar itu dan bertanya, “Mengapa demikian , ya Rasulullah?

“pada saat dia cedera, ia menyalahkan dirinya dan sempat putus asa. Tapi kemudian semangat juangnya kembali berkobar dan berjuang sampai syahid dan masuk surga.”

Kembali gemuruh takbir dari para sahabat…Allahu Akbar…!!!

ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR  gemuruh menyambut kabar syahidnya para sahabat , saudara mereka sesama muslim memasuki surga tanpa hisab…. Suatu gambaran yang indah dan penuh haru, karena  para sahabat yang saat itu hadir didepan mimbar tersebut rindu sekali dan ingin sekali meraih surga seperti ketiga panglima perang yang dikabarkan oleh Rasul tercintanya.

Terukir pula dalam sejarah, syair Abdullah bin Rawahah menjelang syahidnya :

“ Aku bersumpah, Wahai jiwaku
Masuklah engkau, masuklah ke medan perang
Atau kupaksakan padamu
Bila semua orang telah berbaris berteriak , MAJU…!
Mengapa masih juga membenci surga?
Sudah lama hidupmu dalam ketenangan
Engkau tidaklah lebih dari setetes mani tua.”

Akhirnya diapun maju seraya berkata :

“Jiwa, oh jiwa
kalaupun tak terbunuh disini
dirimu pasti kan mati
inilah jalan keabadian paling sempurna
saat dinanti telah tiba
lakukanlah seperti keduanya (Zaid Bin Haritsah dan Jafar Abu Thalib yang telah syahid lebih dulu)
engkau tentu bahagia

Ketika hendak ia memulai serangan, seorang sepupunya mendekat sambil menyodorkan sepotong daging bakar seraya berucap,”makanlah ini agar lebih kuat.” Di cuwilnya sedikit,  ketika kemudian telinganya mendengar gemuruh pertempuran di sekitarnya, dia tersadar dan memarahi dirinya sendiri,”engkau masih di dunia!” segera dicampakkannya daging di tangannya dan tanpa menunda nunda lagi, ia  turun ke medan perang, bercampur dengan pedang berkelebat kesana kemari berkilauan tertimpa sinar mentari sampai syahidlah ia menyusul sahabat sahabatnya.

……..

Begitulah bila iman sudah meresap di dalam hati mereka, yang dihadapan mereka hanya indahnya surga, walau mereka masih didunia. Segala godaan dan ujian dunia mereka hempaskan, mereka buang jauh jauh godaan tersebut. Mereka tidak menimbang faktor dunia sebagai penentu langkah perjuangannya, dan mereka tidak mundur dan tidak berbalik melihat jumlah pasukan yang tidak imbang, atau bahkan karena disebabkan kurangnya dan habisnya logistik, mereka tidak lari kebelakang,  mereka tidak memikirkan kepentingan pribadi mereka sendiri, mereka bersatu kala ancaman datang kepada mereka. Mereka hanya ada satu harapan yaitu mereka ingin masuk surga.

Semoga kita semua yang telah mengaku ingin berjuang untuk Islam tidak terbuai dengan banyaknya dunia yang kita miliki  sehingga tujuan dakwah menjadi menyimpang atau sebaliknya merasa lemah karena kurangnya atau habisnya logistik perjuangan sehingga meninggalkan jalan dakwah…Semoga Allah berikan ketegaran dan kesabaran dalam menjalani pahit manisnya jalan dakwah ini yang penuh liku dan mengikuti jejak para Nabi, para sahabat, dan para mujahid dakwah hingga akhir zaman  menuju surgaNya Allah… Aamiin


(MM/Ref : Ibnu Hisham/manhaj Haraki)
http://www.eramuslim.com/peradaban/sirah-tematik/mereka-tidak-mundur-dari-perjuangan.htm#.U0drTlcjXdl