Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya (Seri 8)

Filed under: by: 3Mudilah

C. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

Abdurrahman mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan hidup bersama beliau pada tahun-tahun yang sulit dan hari-hari yang penuh cobaan. Juga pada saat-saat susah dan senang dan pada masa-masa damai dan perang. Ia benaung di bawah naungan majelis-majelis beliau, dan memperhatikan perilaku beliau yang merupakan cerminan terbaik dan paling sempurna dari Al-Qur’an. Selama tahun-tahun yang panjang, itu ia mampu memetik ajaran Nabi dalam setiap sisi kehidupan, dan mempelajari hal-hal yang memberi kebaikan di dunia dan mewujudkan keberuntungan dan kemenangan di akhirat. Abdurrahman adalah satu diantara generasi langka yang dibina oleh Rasulullahh Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madrasah Al-Qur’an dan sunnah Nabi, yang mencerminkan prinsip-prinsip Islam, membawa cahaya iman, dan memimpin manusia serta memberinya petunjuk kepada tangga teratas dari kesempurnaan peradaban.
Abdurrahman adalah satu di antara yang terbaik dari yang terbaik, salah satu yang terunggul dari shahabat, baik dari segi akhlaknya, sifat-sifatnya, kepribadiannya, ibadahnya, sifat tawadhu’ dan zuhudnya, keikhlasan dan ketakutannya kepada Allah, maupun dari segi kemuliaan dan ketinggian kedudukannya. Dan ia berhak mendapatkan itu. Dia adalah satu dari mereka yang terdekat dan terdidik langsung dalam naungan kenabian selama dua puluh tiga tahun, baik di Mekah maupun di Madinah.
Abdurrahman bin Auf adalah seorang pedagang. Ia mencari nafkah dengan kedua tangannya, dan beruntung mendapatkan doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk keberkahan usahanya. Dunia pun seolah tercurah kepadanya dengan begitu mudah, hingga ia pernah mengatakan tentang dirinya bahwa jika ia mengangkat sebuah batu maka ia akan menemukan emas atau perak di baliknya. Allah menganugerahkan kepadanya harta yang tidak terhitung jumlahnya, dan Allah juga memberinya karunia berupa jiwa yang selalu rindu untuk memberi. Ia menghabiskan hartanya dengan berbagai sedekah dan infak di banyak bentuk kebaikan. Hartanya terus bertambah, dan perniagaannya semakin luas dan memberika keuntungan yang banyak. Saat ia meninggal ia mewariskan harta-harta yang berupa emas dan perak yang sangat banyak. Ia membuka tangannya untuk memberika pertolongan kepada golongan hamba dan budak. Ia telah memerdekakan ribuan orang dari mereka, dan bahkan ia pernah memerdekakan sebanyak tiga puluh orang sekaligus dalam satu hari.
Ia adalah orang yang sering melaksanakan haji. Ia turut bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamdalam haji wada’, dan pada masa khulafaur-rasyidin ia sering menghajikan orang-orang. Ia memahkotai ibadah yang agung ini dengan melaksanakan haji bersama ummahatul mukminin, dan ia tak ragu mengeluarkan hartanya untuk melayani mereka dan menafkahi mereka selama dalam perjalanan tersebut. Maka ia pun mendapat kebahagiaan dengan kebaikan yang dilakukannya untuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah beliafu wafat, dan pujian beliau untuknya, serta pujian istri-istri Nabi untuk nya atas perbuatan mulia tersebut.
Tak ketinggalan, ia juga tekun dalam mihrab ibadah dan shalat. Ia senantiasa mengikut Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat-shalat beliau dengan berjamaah. Ia adalah sosok yang selalu membaca Al-Qur’an, berbakti kepada ibunya, memuliakan tamu-tamunya, dan memiliki hati yang lembut. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar, sangat tawadhu’, zuhud, dan mempunyai keikhlasan yang tinggi. Namun dengan segala kelebihan yang ia miliki tersebut, ia tetap merasa khawatir jika ia termasuk mereka yang disgerakan kebaikannya di dunia. Maka ia selalu berdoa kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, jagalah aku dari kekikiran diriku.”

1. Shalatnya, ketekunannya dalam membaca Al-Qur’an dan Hajinya

Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Abdurrahman bin Auf selalu melakukan shalat yang panjang sebelum shalat Zhuhur, dan jika ia mendengar adzan maka ia akan menarik jubahnya dan keluar.”
Dan diriwatkan oleh Abu Ya’la dari Abdullah bin Umair berkata, “Jika Abdurrahman bin Auf memasuki rumahnya maka ia akan membacakan ayat kursi di setiap sudutnya.”
Ibnu Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dalam sebuah hadits yang sangat panjang, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, “Bahwasanya Abdullah bin Abbas memberitahunya bahwa ia pernah membacakan Al-Qur’an kepada Abdurrahman bin Auf pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Ia berkata, “Aku tidak pernah menyaksikan seseorang yang begitu merinding sebagaimana Abdurrahman saat ia mendengar bacaan Al-Qur’an.”
Dan pada tahun kesembilan Hijrah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Bakar untuk memimpin Haji, dan ikut bersamanya banyak toko shahabat diantaranya Abdurrahman bin Auf, dan sat itu ia membawa hewan kurbannya.
Dan ia melaksanakan haji bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada saat haji wada’. Al-Waqidi dan muridnya Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan haji wada’, belia berkata, kami berhasil menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Dzul Hulaifah pada malam hari, dan saat itu bersama kami terdapat Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan.”
Dan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Urwah bin Zubair, dari Abdurrahman bin Aufa berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Apa yang engkau lakukan ketika mecium hajar?” Aku berkata, “Aku menciumnya dan kemudian aku tinggalkan”, maka beliau berkata, “Engkau telah benar.”
Ketika Umar bin Khaththab terpilih sebagai khalifah pada tahaun ketiga belas Hijrah, ia menugaskan Abdurrahman untuk memimpin haji pada tahun itu. Maka ia pun memimpin kaum muslimin dalam menunaikan haji.
Disebutkan oleh Khalifah bin Khayyath dalam kitab Tarikhnya dengan singkat, dan Ibnu Sa’ad dengan panjang lebar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, “ketika Abu Bakar wafat dan Umar terpilih sebagai khalifah, ia menugaskan Abdurrahman bin Auf untum memimpin haji. Kemudian Umar selalu melaksanakan haji setiap tahunnya hingga ia meninggal. Dan ketika Utsman bin Affan terpilih sebagai khalifah, ia pun menugaskan Abdurrahman bin Auf untuk memimpin haji.”
Ibnu Auf juga turut menunaikan haji bersama Umar pada saat haji terakhir yang dilakukan Umar pada tahun kedua puluh tiga Hijrah. Pada tahun itu Umar menginzinkan istri-istri Nabi untuk menunaikan haji. Mereka kemudian dibawa dengan sekedup, dan ia menugaskan Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf untuk berangkat bersama mereka.
Khalifah juga menyebutkan bahwa Abdurrahman ikut melaksakanakan haji bersama ummahatul mukminin pada tahun keempat belas Hijrah.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwasanya ketika Utsman terpilih sebagai khalifah pada tahun kedua puluh empat Hijrah, pada tahun itu ia menugaskan Abdurrahman bin Auf untuk memimpin haji pada tahun itu. Maka ia pun memimpin kaum muslimin dalam menunaikan haji.

2. Perniagaannya, Keberkahan yang diperolehnya, dan Melimpahnya harta di tangannya

Ibnu Auf yang belajar Al-Qur’an dan sunnah secara langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan memahami prinsip-prinsip agama dengan sangat baik dan menerapkannya dalam kehidupan nyata dengan bimbingan Nabi, dan mengetahu bahwa Islam adalah sebuah system yang menyeluruh mencakup urusan dunia dan akhirat, di mana prinsip-prinsipnya menyentuh masjid dan pasar, keluarga dan hubungan sosial masyarakat, serta medan jihad dan medan dakwah kepada Allah, maka jika ia tidak terlihat sedang mengerjakan shalat di masjid, atau thawaf di Ka’bah, atau berjihad dalam sebuah peperangan, atau mengambil ilmu di majelis-mejelis Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ia pastinya tengah bepergian ke penjuru negeri, membuat berbagai kesepakatan di pasar-pasar, dan berdagang sesuai dengan rambu-rambu yang ia pelajari dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Dia adalah orang yang memiliki semangat yang meluap-luap terbiasa dengan kerja keras dan usaha yang tek berhenti dalam setiap langkah yang diambilnya. Dengan tabiat ini ia menemukan kenyamanan dalam mengerjakan pekerjaannya yang terhormat dan halal. Baginya perniagaan bukanlah media untuk memonopoli, atau untuk memupuk harta dan mencintai kekayaan, serta menggunakan hartanya untuk membeli berbagai macam property untuk dibanggakan untuk di banggakan. Dan tidak juga dalam rangka saling berlomba dengan para pengumpul harta lainnya guna memuaskan nafsu pribadi dan tujuan mereka yang busuk.
Sama sekali tidak! Baginya perniagaan adalah untuk mewujudkan panggilan langit, “Dialah yang menjadikan bumu untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya.”120 dan untuk mengamalkan arahan-arahan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terdapat dalam banyak hadits shahih dari beliau, seperti : “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”, atau, “Alangkah baiknya harta yang baik pada tangan orang yang baaik pula”, dan “Harta paling baik yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang ia dapatkan dari tangannya sendiri.”
Selain itu hartanya juga ia gunakan untuk menguatkan umatnya, menyambung hubungan kekerabatannya, dan membantu saudara-saudaranya. Ia juga menginfakkannya untuk mereka yang membutuhkan, membebaskan budak, menyiapkan pasukan Islam, dan bagian terbanyak yang ia infakkan dari hartanya adalah di jalan Allah.
Tahun-tahun di mana iam memiliki kekayaannya telah menjadi saksi atas contoh tertinggi dari pemberian dan infak yang begitu banyak. Ini terjadi selama lebih kurang tiga puluh tahun. Sejak ia menjejakkan kakinya di bumi hijrah hingga ia kembali menghadap Tuhannya.
Ketika ia hijrah ke Madinah, ia meninggalkan seluruh kekayaannya di Mekah, dan datang dengan tangan kosong. Ia tidak memiliki emas atau perak, hingga kemudian menginap di rumah saudaranya dari Anshar Sa’ad bin Ar-Rabi’ yang menawarkan setengah hartanya untuknya. Maka Abdurrahman berkata, “Aku tidak membutuhkannya, adakah pasar tempat berdagang?”, dan ia pun menunjukkan pasar kepadanya. Ibnu Auf menuju pasar untuk bekerja dengan tangannya sendiri. Tak lama kemudian kekayaan dunia pun datang kepadanya, hartanya menjadi banyak, ia bisa menikah, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakannya dengan berkata, “Semoga Allah memberkahimu.”
Maka ia mendapatkan keberkahan dalam perniagaannya. Ia sangat beruntung dalam usahanya, hingga hartanya tumbuh dalam jumlah yang sangat banyak. Kafilah-kafilah dagangnya terus berdatangan ke Madinah dari Mesir, dan Syam membawa apa-apa yang dibutuhkan oleh jazirah arab, baik makanan, pakaian, maupun yang lainnya. Gudang-gudangnya dipenuhi oleh harta, dan ia pun melimpahkan sedekah dan pemberian yang sangat banyak kepada orang-orang.
Dalam hadits tentang persaudaraan antar aMuhajirin dan Anshar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Sa’ad, dan yang lainnya dari hadits Anas bin Malik, dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Sa’ad pada akhir hadits dikatakan, “Abdurrahman berkata, “Sungguh aku melihat diriku jika aku mengangkat batu, maka aku berharap akan menemukan emas atau perak di baliknya!!”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, “Ucapannya itu merupakan isyarat tentang dikabulkannya doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar Allah memberkahirnya.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Utsman bin Asy-Syarid berkata, “Abdurrahman bin Auf meninggalkan seribu unta dan tiga ribu doma di Baqi’, serta seribu kuda yang digembalakan di Baqi’. Dan di Al-Jurf ia menanam dengan menggunakan dua puluh penyiram tanaman, yang menjamin makanan pokok keluarganya selama setahun.”
Maksud dari ucapannya, “Dan di Al-Jurf ia menanam dengan menggunakan dua puluh penyiram tanaman”, sebanding dengan mengolah tanahnya dengan menggunakan dua puluh macam alat pertanian pada zaman ini. Dan ini tentunya membutuhkan tanah yang membentang luas. Dan ini hanya untuk wilayah Al-Jurf saja, selain dari tanah-tanah dan berbagai property yang dimilikinya di tempat lain.
Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Abdil Barr, dan yang lainnya, dari Syaqiq bin Salamah berkata, “Abdurrahman mendatangi Ummu Salamah dan berkata, “Wahai Ummul mukminin, sungguh aku takut akan celaka. Aku adalah orang yang paling kaya di Quraisy, aku baru saja menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar! Maka ia berkata, “Infakkanlah wahai anakku, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya ada diantara shahabatku yang tidak akan melihatku setelah aku berpisah dengannya.” Maka aku (Ibnu Auf) mendatangi Umar dan memberitahunya. Lalu Umar mendatanginya dan bertanya, “Apakah aku termasuk dari mereka?” Ummu Salamah berkata, “Demi Allah tidak, dan aku tidak akan memberitahu siapapun lagi setelahmu.”
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abdu bin Humaid, Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim, dari Umarah bin Zadzan, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas bin Malik berkata, “Ketika Aisyah sedang berada di rumahnya, ia mendengar suara ramai di Madinah, maka ia berkata, “Suara apakah itu?” mereka berkatam “Kafilah Abdurrahman bin Auf telah datang dari Syam membawa segala hal. Anas berkata, “Saat itu jumlahnya tuju ratus unta. Maka Madinah pun terguncang oleh suaranya!” lalu Aisyah berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”121 Ketika berita ini sampai ke Abdurrahman bin Auf, ia berkata, “Jika mampu, aku akan memasukinya dengan berdiri” Maka ia menginfakkan seluruh kafilah tersebut dengan segala bawaannya di jalan Allah Azza wa Jalla.”
Ini hanyalah sebagian dari kekayaan Abdurrahman yang begitu banyak. Tujuh ratus kendaraan penuh beban, memenuhi jalanan kota Madinah hinga menimbulkan keguncangan dan hiruk-pikuk, didengar oleh pedagang, dan suaranya sampai ke telinga para wanita yang sedang berada di rumahnya! Pada zaman kita sekarang, ini sebanding dengan tujuh ratus mobil yang penuh dengan makanan dan pakaian, ditonton oleh banyak orang dalam sebuah pemandangan yang menakjubkan. Semua itu dimiliki seorang laki-laki mulia yang ketika datang ke Madinah, ia tak membawa apapun dari kekayaannya yang ia tinggalkan di Mekah. Diberkahilah ia dalam rezekinya hingga memperoleh kekayaan yang begitu besar.
Bersambung Insya Allah . . .

Tidak Boleh Pinjam Bank, Orang Miskin Tambah Miskin?

Filed under: by: 3Mudilah

Ada pertanyaan menggelitik ketika saya membaca sebuah komentar dibawah ini
Kalau pinjam bank haram, lantas gimana orang miskin akan mengembangkan usaha, apakah berarti orang miskin harus tetap miskin hidupnya karena tidak punya modal?
Banyak artikel yang kami publikasikan tentang bahaya riba dengan tujuan agar kita berhati-hati dalam masalah ini, karena riba merupakan salah satu dosa besar yang dosanya lebih berat daripada dosa zina…
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ – يَعْنِى ابْنَ حَازِمٍ – عَنْ أَيُّوبَ عَنِ ابْنِ أَبِى مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْظَلَةَ غَسِيلِ الْمَلاَئِكَةِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « دِرْهَمُ رِباً يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِينَ زَنْيَةً ».
Dari Hanzhalah, Rasulullah bersabda, “Satu dirham yang didapatkan dari transaksi riba lantas dimanfaatkan oleh seseorang dalam keadaan dia mengetahui bahwa itu berasal dari riba dosanya lebih ngeri dari pada berzina sebanyak tiga puluh enam kali” (HR. Ahmad)
Bahkan dosa riba yang paling ringan bagaikan menzinahi ibunya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الرِّبا ثلاثةٌ وسبعون بابًا ، أيسرُها مثلُ أن ينكِحَ الرَّجلُ أمَّه
“Riba itu ada tujuh puluh tiga model (pintu) dan dosa model riba yang paling ringan bagaikan dosa orang yang memperkosa ibu kandungnya sendiri” (HR. Al Hakim, Ibnu Majah, dll, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 3539)

Susah Mencari Modal?

Tidak hanya satu dua orang mengeluhkan susahnya cari modal untuk usaha.
Ketahuilah mungkin ini salah satu dari ujian Allah dari maraknya praktek riba dizaman ini yaitu sudah jarangnya orang-orang jujur dalam bermuamalah. Dimana banyaknya orang yang berhutang yang ingkar janji, menunda-nunda hutang yang berkepanjangan, membawa kabur hutang maupun modal, dll…
Nabi bersabda,
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرُ السَّاعَة
“Apabila amanah telah disia-siakan maka tinggal tunggulah kehancuran”
Kebanyakan orang berpikir bahwa bank satu-satunya tempat mendapatkan modal. Tapi mereka tidak melihat sisi-sisi buruk efek dari kegagalan usaha dimana modalnya pinjam dari bank. Ingat, bank tidak serta memberi pinjaman gratis-tis, tapi tentu mereka melakukannya dengan berbagai syarat, mulai bunga angsuran, agunan dll.. Apakah Anda yakin usaha Anda akan berkembang dengan modal dari bank tersebut?
Betapa banyak pelaku usaha yang gulung tikar dan dikejar-kejar debt collector, keluarga tidak nyaman dengan berbagai teror..mobil, tanah dan rumahpun disita.. apakah kita tidak memikirkan hal tersebut?

Mencari Modal Tidak Harus Hutang?

Jangan pernah berpikir bank merupakan sumber modal satu-satunya. Ada banyak jalan lain Anda mendapatkan modal. Anda bisa pinjam ke orang tua, saudara, atau sahabat. Namun tidak semua bisa dihutangi, mungkin berbagai alasan yang masuk akal semisal orang tua tidak mampu dll.
Teringat dari ceramah ustadz Arifin Baderi tentang sumber-sumber modal yang dapat kita cari. Diantaranya warisan, jual aset sekunder semacam mobil atau motor dan jual sebagian tanah.
Jika tidak punya aset maka bisa mencari alternatif lain semisal arisan, modal patungan (musyarakah), atau mudharabah (menjalankan uang pemodal).
Jika punya konsep bisnis yang bagus tentu saat melakukan presentasi ke pemodal (mudharib) insya Allah mudah mendapatkan modal.

Modal Tidak Harus Uang

Semua pelaku usaha mengakui bahwa memulai bisnis memerlukan modal, dan semua bisnis memang membutuhkan modal. Entah modal uang, aset, ketrampilan, fisik, tim atau sekedar nekad semua itu bisa diartikan sebagai modal.
Namun, jika selalu berpikir mengkonotasikan modal adalah dalam bentuk uang tentu semacam itu kurang tepat.
Mengapa? Allah Yang Maha Pemurah, telah mengkaruniakan kesempurnaan akal dan fisik bagi Anda. Sebetulnya dengan akal dan fisik itu, telah lebih dari cukup untuk dijadikan modal dalam memulai sebuah bisnis. Sayangnya, selama ini mindset kita terkungkung pada pengertian bahwa modal sama dengan uang. Tidak salah memang, hanya saja bila pada satu titik Anda berposisi sebagai orang yang tak punya cukup uang, tapi semangat Anda untuk berbisnis tinggi. Apa yang Anda lakukan? Belum lagi bila Anda ‘tertekan’ oleh kebutuhan yang kian menggunung. Sekali lagi, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan tega memberi nafkah keluarga dengan cara-cara culas, kotor dan yang diharamkan Allah? Na’udzubillahimindzalik.
Harus diakui banyak keterbatasan dalam memulai bisnis. Dan hal itu adalah lumrah. Tapi bukan berarti menjadi penghalang bagi orang untuk melangkah dalam dunia bisnis. Bagaimana mungkin jika Anda tidak memiliki kesemua itu, kemudian menginginkan sukses dalam berbisnis?
Sekali lagi, cobalah untuk berpikir secara lebih bijak bahwa modal tidaklah identik dengan uang. Ada sekian banyak potensi dalam diri Anda yang bisa dimanfaatkan untuk memulai bisnis. Karenanya, inventarisir potensi Anda lalu berdayakan secara maksimal. Anda bisa membaca tulisan: Menunggu Waktu yang Tepat untuk Memulai Bisnis
Banyak potensi-potensi yang mampu kita lakukan tanpa harus terjun kepada hal-hal yang haram.

Banyak Orang Sukses Sebelumnya Hidupnya Miskin

Lantas gimana orang miskin akan mengembangkan usaha, apakah berarti orang miskin harus tetap miskin hidupnya karena tidak punya modal?
Sebuah kalimat yang membuat hati kita trenyuh..karena apa?
Jika kita mengimani takdir Allah tentu tidak akan keluar kalimat seperti itu, Karena Allah berfirman
“Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri.” (Al-Ra’d-11)
Banyak kisah bertebaran tentang perjalanan orang-orang sukses berawal dari modal kecil. Atau kita bisa dibaca kisah sahabat Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu yang ketika hijrah ke Madinah tidak punya apapun kemudian dia berniaga dan menjadi orang yg sangat kaya lagi dermawan, bahkan konon awal berdirinya google berkantor di garasi rumah.
Anda bisa simak kisah-kisah menarik jatuh bangun dalam berbisnis pada artikel ini:
Dirangkum oleh Abu Najma Syahidah


Read more http://pengusahamuslim.com/5048-tidak-boleh-pinjam-bank-orang-miskin-tambah-miskin.html

KHALIFAH UMAR RADHIYALLAHU ANHU MENGHADAPI KESULITAN RAKYAT

Filed under: by: 3Mudilah

Salah satu tujuan ditegakkannya wilâyah (pemerintahan) adalah menyejahterakan rakyat. Seorang waliyul amri bertugas menciptakan kesejahteraaan rakyat melalui kebijaksanaan yang diambilnya. Dalam masalah ini peran waliyul amri sangat besar, tanggung jawab ini berada di pundaknya. Kelak ia akan ditanya tentangnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ كُلُكُمْ رَاع، وَكُلُكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” [1]

Jangan sampai ada seorang rakyatnya yang terlantar apalagi mati kelaparan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafâur Râsyidîn sebagai pemimpin telah memberikan teladan yang baik dalam
menyejahterakan rakyat.

Sebagai contoh, Amîrul Mukminîn Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, pada masa paceklik dan kelaparan, ia Radhiyallahu ‘anhu hanya makan roti dan minyak sehingga kulitnya berubah menjadi hitam. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.” [2]

BAGAIMANA KHALIFAH UMAR BIN AL-KHATHTHAB RADHIYALLAHU ‘ANHU MENGHADAPI TAHUN PACEKLIK DAN MASA SULIT?
Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu terjadi musibah paceklik pada akhir tahun ke 18 H, tepatnya pada bulan Dzulhijjah, dan berlangsung selama 9 bulan. Masyarakat sudah mulai kesulitan. Kekeringan melanda seluruh bumi Hijaz, dan orang-orang mulai merasakan sangat kelaparan.

Tahun ini disebut juga tahun ramadah karena permukaan tanah menjadi hitam mengering akibat sedikitnya turun hujan, hingga warnanya sama dengan ramad (debu). Pada saat itu daerah Hijaz benar-benar kering kerontang. Penduduk-penduduk pedesaan banyak yang mengungsi ke Madinah dan mereka tidak lagi memiliki bahan makanan sedikitpun. Mereka segera melaporkan nasib mereka kepada Amîrul Mukminîn Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu .

Umar Radhiyallahu ‘anhu cepat tanggap dan menindaklanjuti laporan ini. Dia segera membagi-bagikan makanan dan uang dari baitul mâl hingga gudang makanan dan baitul mâl kosong total. Dia juga memaksakan dirinya untuk tidak makan lemak, susu maupun makanan yang dapat membuat gemuk hingga musim paceklik ini berlalu. Jika sebelumnya selalu dihidangkan roti dan lemak susu, maka pada masa ini ia hanya makan minyak dan cuka. Dia hanya mengisap-isap minyak, dan tidak pernah kenyang dengan makanan tersebut. Hingga warna kulit Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadi hitam dan tubuhnya kurus; dan dikhawatirkan dia akan jatuh sakit dan lemah. Kondisi ini berlangsung selama 9 bulan. Setelah itu keadaan berubah kembali menjadi normal sebagaimana biasanya. Akhirnya para penduduk yang mengungsi tadi, bisa pulang kembali ke rumah mereka.[3]

Umar Radhiyallahu ‘anhu selalu mengontrol rakyatnya di Madinah pada masa peceklik ini. Umar Radhiyallahu ‘anhu tidak menemukan seorangpun yang tertawa, ataupun berbincang-bincang di rumah sebagaimana biasanya. Umar Radhiyallahu ‘anhu tidak pula menemukan orang yang meminta-minta. Dia bertanya apa sebabnya, lalu ada seseorang yang berkata kepadanya: “Mereka pernah meminta tetapi tidak ada yang dapat diberikan, akhirnya mereka tidak lagi meminta. Sementara mereka benar-benar dalam keadaan yang menyedihkan dan sangat memprihatinkan, sehingga mereka tidak lagi bisa berbincang-bincang ataupun tertawa.”

Akhirnya Umar Radhiyallahu ‘anhu mengirim surat kepada Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu di Bashrah yang isinya: “Bantulah umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Mereka hampir binasa.” Setelah itu ia juga mengirim surat yang sama kepada ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu di Mesir. Kedua gubernur ini mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar, terdiri dari makanan dan bahan pokok berupa gandum. Bantuan ‘Amru Radhiyallahu ‘anhu dibawa melalui laut hingga sampai ke Jedah, kemudian dari sana baru di bawa ke Mekah. [4]

Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu pernah datang ke Madinah membawa 4000 hewan tunggangan yang dipenuhi makanan. Umar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkannya untuk membagi-bagikannya di perkampungan sekitar Madinah. Setelah selesai menjalankan tugasnya, Umar Radhiyallahu ‘anhu memberikan uang sebanyak 4000 dirham kepadanya, namun Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu menolaknya. Tetapi Umar Radhiyallahu ‘anhu Radhiyallahu ‘anhuterus memaksanya hingga akhirnya ia mau menerimanya.[5]

Sebagai bentuk kepedulian Umar Radhiyallahu ‘anhu terhadap nasib rakyatnya pada masa paceklik ini, ia keluar melakukan shalat istisqâ’ (shalat minta hujan). At-Thabarani rahimahullah meriwayatkan dari Tsumâmah bin Abdillâh bin Anas Radhiyallahu ‘anhu , dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Umar Radhiyallahu ‘anhu keluar untuk melaksanakan doa minta hujan. Dia keluar bersama al-Abbâs Radhiyallahu ‘anhu, paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memintanya berdoa minta turun hujan. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ya Allah Azza wa Jalla sesungguhnya apabila kami ditimpa kekeringan sewaktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, maka kami meminta kepada-Mu melalui Nabi kami; dan sekarang kami meminta kepada-Mu melalui paman Nabi kami Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al-Bukhâri juga meriwayatkan kisah ini dari Anas Radhiyallahu ‘anhu.[6]

Demikianlah hingga Umar Radhiyallahu ‘anhu berhasil melewati masa-masa kritis itu dengan bijaksana. Dan dia menyelamatkan rakyatnya dari musibah kekeringan dan kondisi sulit itu melalui kebijaksanaannya yang tepat.

KHALIFAH UMAR BIN AL-KHATHTHAB RADHIYALLAHU ‘ANHU MENGALOKASIKAN DANA KHUSUS UNTUK KESEJAHTERAAN BAYI
Umar Radhiyallahu ‘anhu sangat memperhatikan nasib rakyatnya. Sebagai buktinya, ia mengeluarkan dana khusus dari baitul mâl untuk kesejahteraan bayi.

Aslam, maula (bekas budak) Umar Radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah ada satu rombongan saudagar datang ke Madinah. Mereka singgah di mushala. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu : “Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?” “Abdurrahman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ya, aku setuju!” Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar Radhiyallahu ‘anhu mendengar suara anak kecil menangis. Umar Radhiyallahu ‘anhu segera menuju suara tangisan itu dan bertanya kepada ibunya: “Takutlah engkau kepada Allah Azza wa jalla dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu”. Kemudian Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatanginya kembali dan berkata kepada ibunya seperti perkataan ia tadi.

Setelah itu Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar Radhiyallahu ‘anhu segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya: “Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku masih mendengar anakmu menangis sepanjang malam?” Wanita itu menjawab: “Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu.” Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Kenapa engkau akan menyapihnya?” Wanita itu menjawab: “Karena Umar Radhiyallahu ‘anhu hanya memberikan jatah makan untuk anak-anak yang telah disapih saja”. Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya: “Berapa usia anakmu?” Dia menjawab: “Baru beberapa bulan saja.” Maka Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Celakalah engkau, kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?” Maka ketika shalat subuh, bacaan Umar Radhiyallahu ‘anhu nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.

Umar berkata: “Celakalah engkau hai Umar Radhiyallahu ‘anhu , berapa banyak bayi-bayi kaum Muslimin yang telah engkau bunuh”. Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan: “Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap bayi yang lahir dalam Islam”. Umar segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya”. [7]

Perhatian terhadap bayi ini sangat penting, karena usia balita merupakan masa pertumbuhan. Apabila si bayi kurang gizi maka bisa membahayakan pertumbuhannya setelah dewasa. Generasi-generasi mendatang ini harus diperhatikan perkembangannya mulai dari bayi. Pemerintah harus serius memperhatikan masalah ini. Jangan sampai terdengar lagi berita kasus gizi buruk yang menyerang bayi. Kebijakan Umar Radhiyallahu ‘anhu ini patut dijadikan sebagai teladan yang baik.

PERHATIAN UMAR RADHIYALLAHU ‘ANHU TERHADAP MASALAH PENGOBATAN DAN KESEHATAN RAKYATNYA.
Pendidikan dan kesehatan selayaknya diberikan secara gratis oleh pemerintah bagi rakyatnya. Karena keduanya merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi manusia. Mereka harus mendapat akses pendidikan dan pengobatan yang mudah, murah bahkan kalau bisa tanpa biaya. Dalam hal ini pemerintah
harus turun tangan langsung ke lapangan.

Aslam Radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah suatu malam aku pergi bersama Umar Radhiyallahu ‘anhu ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menangis. Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab: “Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan), tetapi sedang tidak memiliki sesuatupun.” Umar Radhiyallahu ‘anhu menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhuma —istrinya—, dan berkata: “Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah Azza wa Jalla karuniakan kepadamu?” Umar Radhiyallahu ‘anhu segera memberitakan kepadanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata: “Ya, aku akan membantunya.” Umar Radhiyallahu ‘anhu segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas pundaknya, sementara Ummu Kultsum Radhiyallahu anha membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin. Keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kultsum Radhiyallahu ‘anha segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar Radhiyallahu ‘anhu duduk bersama suaminya —yang tidak mengenal Umar Radhiyallahu ‘anhu — sambil berbincang-bincang.

Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kultsum Radhiyallahu ‘anha berkata kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Wahai Amirul Mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki.” Ketika lelaki itu mendengar perkataan “Amirul Mukminin” ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu . Namun Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya: “Tidak mengapa.” Setelah itu Umar Radhiyallahu ‘anhu memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan, lantas ia pun pulang.”

PERHATIAN UMAR RADHIYALLAHU ‘ANHU TERHADAP URUSAN SANDANG DAN PANGAN RAKYATNYA
Masalah perut adalah masalah yang sangat sensitif. Rasa lapar bisa membuat manusia kehilangan pertimbangan dan akal sehat. Banyak kejahatan terjadi berlatar belakang usaha untuk memenuhi masalah ini, yaitu perut. Maka dalam hal ini pemerintah harus benar-benar memperhatikan kecukupan pangan rakyatnya.

Aslam Radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Suatu malam aku keluar bersama Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar [8] kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Aslam Radhiyallahu ‘anhu di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita ke sana menemui mereka.” Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggui periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya menangis. Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Assalamu ‘alaiki wahai pemilik api.” Wanita itu menjawab: “Wa alaikas salam.” Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami boleh mendekat?” Dia menjawab: “Terserah kalian!” Umar Radhiyallahu ‘anhu segera mendekat dan bertanya: “Ada apa gerangan dengan kalian?” Wanita itu menjawab: “Kami kemalaman dalam perjalanan serta
kedinginan.” Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya: “Kenapa anak-anak itu menangis?” Wanita itu menjawab: “Karena lapar.” Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya: “Apa yang engkau masak di atas api itu?” Dia menjawab: “Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah Azza wa Jalla kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar Radhiyallahu ‘anhu ”

Maka Umar Radhiyallahu ‘anhu menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata: “Wahai Aslam Radhiyallahu ‘anhu naikkan karung ini ke atas pundakku.” Aslam Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Biar aku saja yang membawanya.” Umar Radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari Kiamat?” Maka ia segera memikul karung tersebut di atas pundaknya dan kembali mendatangi tempat wanita itu. Setelah meletakkan karung tersebut ia segera mengeluarkan gandum dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamya. Umar Radhiyallahu ‘anhu berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar Radhiyallahu ‘anhu menurunkan periuk dari atas api dan berkata: “Berikan aku piring kalian!”. Setelah piring diletakkan Umar Radhiyallahu ‘anhu segera menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata: “Makanlah.” Maka anak-anak itupun makan hingga kenyang. Wanita itu berdoa untuk Umar Radhiyallahu ‘anhu agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar Radhiyallahu ‘anhu.

Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar Radhiyallahu ‘anhu memberikan nafkah kepada mereka, lalu ia pulang. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku: “Wahai Aslam Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka tidak dapat tidur.”[9]

Coba lihat, sungguh teladan yang sangat agung dan mulia. Umar Radhiyallahu ‘anhu tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya, bahkan ia tidak malu-malu dan segan-segan menjadi pelayan bagi masyarakat dan rakyatnya. Ia terjun langsung melayani rakyat karena menyadari bahwa itu merupakan tanggung jawab yang ia akan ditanyai nanti di akhirat kelak.

DAFTAR REFERENSI:
1. Shahihul-Bukhâri bersama Fathul Bâri, cetakan Maktabah as-Salafiyyah Mesir.
2. Al-Bidayah wan Nihâyah tulisan Ibnu Katsîr.
3. Tahdzîbul-Bidayah wan Nihâyah, disusun oleh Dr.Muhammad bin Shamil as-Sulami.
4. Thabaqâtul-Kubra tulisan Ibnu Sa’ad.
5. Târîkhuth-Thabari, Ibnu Jarîr ath-Thabari.
6. Mu’jamul-Ma’âlimul-Jughrafiyyah tulisan ‘Atiq bin Ghaits al-Bilâdi.
7. Târîkh Islamy (Khulafâur-Râsyidîn) tulisan adz-Dzahabi.
8. Al-Wilâyah ‘alal Buldân tulisan Abdul Azîz bin Ibrahîm al-‘Umari.

Oleh
Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 05/Tahun XIII/1430/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Hadits riwayat Al-Bukhâri dalam shahîhnya (893) dan Muslim (4828).
[2]. Tahdzîb Bidâyah wan Nihâyah (Khalîfah Umar bin al-Khaththab).
[3]. Lihat kisah tentang tahun paceklik ini di At-Thabaqâtul-Kubra karya Ibnu Sa’ad 3/ 310-317.
[4].Hal yang senada diriwayatkan oleh Ibn Syabbah dalam Akhbârul-Madînah (2/743) dari jalan Al-Haitsam bin Adi , Dia juga meriwayatkan dari jalan Al-Walîd bin Muslim Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata:” Aku telah diberitahukan oleh Abdurahmân bin Zaid bin Aslam Radhiyallahu ‘anhu dari ayahnya dari kakeknya bahwa Umar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu untuk mengirim makanan dari Mesir ke Madinah melalui laut Ailah pada tahun paceklik (2/745).
[5].Lihat Târîkhut-Thabari 4/ 100.
[6]. Shahîhul-Bukhâri, kitab al-Istisqâ‘, bab Suâlun Nâsil-Imâm al-Istisqa Izâ Quhithu 2/ 494.
[7]. Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqât 3/302 dengan sanadnya dari jalan Abdullâh bin Umar.
[8]. Shirar adalah sebuah perkampungan yang berjarak sekitar 3 mil dari kota Madinah. (Mu’jamul-Ma’âlimul-Jughrâfiyah 175)
[9]. Dikeluarkan oleh Ahmad dalam kitab Fadhâilus-Sahâbah no. 382 dan Muhaqqiq kitab itu berkomentar: “sanadnya
Hasan”, lihat Târîkhut-Thabari 4/205-206


Sumber: https://almanhaj.or.id/2792-khalifah-umar-radhiyallahu-anhu-menghadapi-kesulitan-rakyat.html

Menjadi Pengusaha Sukses Seperti Tiga Sahabat Nabi-Ustadz. Dr. M. Arifin Badri

Filed under: by: 3Mudilah

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Saudaraku seiman dan seakidah…
Seringkali Anda bertanya, ketika Anda ingin berwirausaha, membeli rumah, membeli kendaraan, izin atau yang lainnya, Anda akan bertanya, “Dari mana saya mendapatkan uang? Modalnya dari mana saya dapat kalau saya tidak dibenarkan untuk menggunakan pinjaman dari bank yang menggunakan bunga? Lalu dari mana lagi saya akan mendapatkan modal yang dapat saya gunakan untuk wirausaha atau membeli rumah atau yang lainnya?”
Seringkali Anda beranggap berarti pupuslah impian saya untuk menjadi seorang pengusaha, untuk memiliki rumah impian, kendaraan yang saya harap-harapkan, atau mesin yang saya inginkan. Kalau tidak menggunakan pinjaman dari bank, lalu dari mana lagi?
Pesimis. Seakan  yang memiliki uang hanyalah bank, seakan kalau tanpa bank kiamatlah dunia Anda, harapan Anda, cita-cita Anda ada di tangan para bankir. Harapan Anda hanya ada di belakang, cita-cita Anda hanya ada di belakang pintu perbankan.
Tidak demikian. Percayalah, Allah subhanahu wa ta’ala…pintu rejeki Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah habis, tidak  pernah tertutup. Pintu rejeki Allah subhanahu wa ta’ala ada di mana-mana. Karenanya, dinyatakan oleh banyak…para pakar mengatakan bahwa  kewirausahaan itu adalah pola pikir dan bukanlah uang. Kewirausahaan itu bukanlah keturunan namun ialah bagaimana Anda memandang sebuah peluang, sebagai peluang atau rahmat.
Ibnu ‘Auf radhiyallohu ta’ala ‘anhu sebelumnya adalah seorang saudagar kaya raya di Mekah, namun karena tuntutan berhijrah di jalan Allah, meninggalkan kampung halamannya  Mekah, tinggal di kota Madinah maka beliau tinggalkan semua kekayaan dia di kota Mekah demi menyelamatkan imannya, demi dapat hidup berdampingan selalu bersama Rasululah saw sehingga ketika tiba di kota Madinah beliau tidak memiliki kekayaan apapun. Beliau datang hanya berbekalkan  pakaian yang melekat di tubuhnya.
Namun strategi yang ditempuh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kala itu, beliau .. setiap dua orang sahabat, satu dari muhajirin, satu dari anshor dipersaudarakan agar mereka saling bantu membantu, bahu membahu.
Kebetulan, sahabat Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan sahabat Saad ibnu Rabi’ yang kala itu memiliki harta yang melimpah, memiliki dua istri . Beliau mengatakan, “ Wahai Abdurrahman, aku memiliki dua istri. Kalau  engkau mau, aku ceraikan satu darinya dan bila telah selesai masa iddahnya silakan engkau nikahi satu darinya. Aku memiliki harta, bila engkau mau akan aku bagi dua, silakan engkau ambil separuhnya.”
Subhaanallah… seorang pengusaha ulung, Abdurrahman bin ‘Auf menolak kedua-duanya dan mengatakan,“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi hartamu, memberkahi keluargamu, namun satu saja permintaanku. Tunjukkan kepadaku di mana letak pasar.”
Ketika Abdurrahman bin ‘Auf tahu letak pasar maka beliau, segera insting nalurinya sebagai seorang pengusaha berkobar. Nalurinya sebagai seorang pengusaha bersinar. Ia datang ke pasar dengan tangan kosong. Abdurrahman ibnu ‘Auf datang ke Madinah tanpa bekal apapun.
Namun berbekalkan dengan pola pikir, dengan hati yang besar, dengan kejelian dalam memandang peluang, kejelian dalam membangun relasi dan berkomunikasi sebagai seorang pengusaha ulung, beliau yang datang ke pasar dengan tangan kosong, dengan tangan hampa…di sore hari pulang  telah membawa keuntungan berupa setakar susu kering dan setakar gandum. Sehingga tidaklah berlalu beberapa hari dari kedatangan Abdurrahman bin ‘Auf di kota Madinah kecuali dia telah berhasil membeli emas sebesar satu biji kurma dan kemudian dengan emas tersebut dia menikahi seorang gadis di kota Madinah, membangun, mulai merintis, merajut suksesnya kembali yang telah beliau tinggalkan di kota Mekah.
Syuhaib Arrumi radhiyallohu ta’ala ‘anhu beliau adalah mantan budak, yang datang ke kota Mekah dalam kondisi tidak memiliki apa-apa, dengan tangan hampa, tidak memiliki modal, tidak memiliki keturunan, dia adalah pendatang, dia adalah mantan tawanan perang, dia mantan budak. Namun karena instingya sebagai seorang pengusaha, nalurinya sebagai seorang pengusaha, dia senantiasa jeli dan pandai memanfaatkan peluang.
Akhirnya apa? Tidaklah lama dari tinggalnya dia di kota Mekah, tidak selang berapa lama dari kedatangannya di kota Mekah, dia berhasil menjadi orang…salah satu orang yang terkaya di kota Mekah sehingga ketika dia hijrah, dia sebelum berhijrah dia menimbun, dia menyembunyikan harta kekayaannya di Mekah agar suatu hari nanti bisa diambil kembali.
Namun orang musyrikin Quraish tentu tidak rela. Apa yang dilakukan? Mereka mengejar, membuntuti Syuhaib Arrumi, mereka mengatakan, “Wahai Syuhaib engkau datang ke kota Madinah dalam keadaan,dalam kondisi tangan kosong tidak memiliki harta sedikitpun dan sekarang akankah engkau meninggalkan kota Mekah pindah ke kota Madinah berhijrah membawa seluruh harta kekayaan yang engkau peroleh dari kota Mekah? Tidak! Kami tidak akan merelakan itu. Kalau engkau pergi, silakan engkau pergi tanpa membawa sedikitpun dari kekayaan yang engkau dapat di kota Mekah.”
Maka Syuhaib Arrumi sebagai seorang yang memiliki naluri, memiliki pola pikir, sudut pandang, cara pikir seorang pengusahawan, apa yang dilakukan? Demi imannya, dia relakan semua kekayaannya. Dia mengatakan, “Sudikah kalian wahai orang-orang Quraish aku tunjukkan ke tempat aku menyembunyikan harta kekayaanku? Silakan kalian ambil semua dengan imbalan engkau bebaskan aku, engkau biarkan aku melenggang, pergi ke kota Madinah, berhijrah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
Maka dia pergi ke kota Madinah dengan tangan hampa kembali. Namun subhanaallah, tidaklah berlalu..beberapa lama kecuali Syuhaib Arrumi pun kembali memiliki…berhasil mendapatkan kekayaannya kembali.
Sehingga Anda bila mulai muncul keinginan hasrat untuk menjadi seorang pengusaha, mengukir sukses melalui dunia usaha jangan berpikir tentang modal, janganlah menggantungkan impian Anda dengan keturunan namun benahilah cara pikir Anda. Jadilah orang yang memiliki mental baja sehingga Anda walau tidak memiliki bekal apapun, Anda mampu bekerja, mampu mendapatkan penghasilan, mampu merintis sukses sebagai seorang pengusaha. Jadilah orang yang memiliki mata yang jeli sehingga  Anda bisa memandang, menemukan berbagai celah-celah usaha kewirausahaan.
Janganlah hobi mengenakan kacamata kuda, yang hanya bisa memandang apa yang ada di depan mata, namun seorang pengusaha mampu memandang apa yang akan terjadi, apa yang diminati, apa yang diinginkan oleh masyarakat sehingga dia bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Dengan demikian Anda bisa sukses sebagai seorang pengusaha.
Urwah alBariqi adalah figur lain dari seorang pengusaha sukses. Betapa ia hanya berbekalkan dengan  kemampuannya berkomunikasi, menjalin relasi dengan orang lain, ia mampu mendapatkan keuntungan yang sangat fenomenal.
Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuktikan akan keahlian Urwah alBariqi  dalam berkomunikasi, membangun relasi dan bernegoisasi. Suatu hari ia diberi kepercayaan untuk membeli seekor kambing yang akan dijadikan sebagai hewan qurban oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu sebesar satu dinar.   Ia dipercaya untuk membeli seekor kambing dengan satu dinar. Namun karena kepiawaian Urwal Bariqi dalam berkomunikasi, bernegoisasi ia dengan berbekalkan satu dinar mampu membeli dua ekor kambing. Dan kembali dengan berbekalkan kemampuannya untuk bernegoisasi, berkomunikasi ia menjual seekor kambing tadi yang telah ia beli dengan satu dinar. Sehingga dia yang berangkat ke pasar bermodalkan satu dinar, ia kembali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan membawa seekor kambing dan satu uang dinar.
Dia mengatakan, “Ya Rasulullah ….inilah uang dinar yang telah engkau berikan kepadaku dan ini hewan qurban yang engkau inginkan.”
Rasulullah saw senang dengan kemahiran, keahlian, dan kepiawaian Urwal Bariqi di dalam berkomunikasi. Ia berdagang dengan berbekalkan kepiawaian dalam berkomunikasi, bernegoisasi, sehingga Rasulullah mendoakan:
“Ya Allah berkahilah setiap transaksi Urwah alBariqi.”
Sehingga disebutkan dalam riwayat, dalam biografi Urwah alBariqi, andailah Urwah alBariqi bila barang dagangannya telah habis, andailah dia itu menggenggam segenggam debu, kemudian  dia tawarkan, kemudian dia jual berkat kepiawaiannya dalam bernegoisasi menawarkan, niscayalah dia  mendapatkan keuntungan dari segenggam debu tersebut.
Karenanya untuk menjadi seorang pengusaha jangan hanya berpikir  harus ada modal dan kalau modal itu hanya dari perbankan yang harus dengan riba maka Anda jalankan dengan konsekuensi membayar riba,demi semuanya,..semuanya demi mewujudkan impian menjadi seorang pengusaha.
Dunia usaha bukanlah dunia orang malas. Dunia usaha bukanlah dunianya orang yang manja, yang hanya bisa mengandalkan ayah, bapak, teman, sahabat,” Berilah saya,… berilah modal.”
Tidak. Dunia usaha adalah dunia orang yang cerdas. Dunia orang-orang yang jeli memandang peluang. Dunia orang yang pantang menyerah, gigih, ulet. Dan dunia orang yang terus mau belajar dan terus belajar. Karenanya, belajarlah bagaimana Anda bernegoisasi, berkomunikasi, bagaimana Anda membangun relasi, bagaimana Anda membangun kepercayaan. Sehingga kalaupun Anda tidak memiliki modal, Anda tidak memiliki dana yang cukup, berbekalkan dengan kepiawaian Anda bernegoisasi, berkomunikasi, kepiawaian Anda dalam membangun relasi, kepercayaan orang kepada Anda, amanah Anda. Anda akan mampu membangun dinasti sukses bisnis Anda. Akan mampu membangun kerajaan bisnis Anda. Bukan hanya kecil namun besar.
Sebagaimana yang dimiliki oleh, dilakukan Abdurrahman bin ‘Auf. Dia hanya berbekalkan dengan tangan hampa, namun dia,tidaklah Rasulullah saw meninggal dunia kecuali  Abdurrahman bin ‘Auf menjadi salah satu orang terkaya di kota Madinah.
Beliau datang dengan tangan hampa namun dengan kepiawaiannya dalam berniaga, semangatnya, nalurinya sebagai seorang pengusaha mampu menjadikan dia melampaui kebanyakan tuan-tuan tanah yang ada di  kota Madinah kala itu. Sehingga tidaklah berlalu sekitar sepuluh tahun kecuali Abddurrahman bin ‘Auf telah menjadi orang terkaya di kota Madinah.
Semoga kata-kata singkat sederhana ini memotivasi Anda, merubah sudut pandang Anda tentang kewirausahaan sehingga Anda terus belajar, mampu bagaimana Anda menajamkan pandangan Anda, sehingga mampu melihat, menerawang peluang usaha, sebagaimana Anda juga terdorong untuk belajar bagaimana berkomunikasi, membangun  relasi dan bagaimana Anda bernegoisasi yang baik sehingga Anda bisa menjadi pengusaha yang sukses.
Dan semoga ini juga menjadi motivasi bagi anda untuk bisa membangun amanah, kepercayaan. Dengan berbekalkan kepercayaan orang, percayalah Anda mampu membangun sukses dalam berniaga.


Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa baraakatuh

http://catatankajian.com/938-menjadi-pengusaha-sukses-seperti-tiga-sahabat-nabi-ustadz-dr-m-arifin-badri.html
<iframe width="640" height="390" src="https://www.youtube.com/embed/hPkzkc6cH_s" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

https://youtu.be/hPkzkc6cH_s

Ada Apa di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah?

Filed under: by: 3Mudilah

Adakah keutamaan sepuluh hari pertam bulan Dzulhijjah dibanding dengan hari-hari lainnya? Amalan apakah yang disunnahkan untuk di kerjakan diwaktu-waktu tersebut?

Ahamdulillah,

Diantara waktu-waktu yang agung adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dimana Allah Ta’ala mengutamakannya diantara hari-hari yang lain. Dari Ibnu Abbas radhiallahu”anhuma dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
 

ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﻤﻞ
ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺎﻡ
ﺍﻟﻌﺸﺮ . ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ !! ﻗﺎﻝ : ﻭﻻ
ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ
ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ ( ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ
2/457

“Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan di sepuluh hari ini (hari-hari pertama bulan Dzulhijjah). Maka para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah? ” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya namun tidak ada satupun yang kembali.” (HR. Bukhari 2/457)

Juga dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺃﺯﻛﻰ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﻭﻻ ﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮﺍ ﻣﻦ ﺧﻴﺮ ﻳﻌﻤﻠﻪ ﻓﻲ ﻋﺸﺮ
ﺍﻷﺿﺤﻰ . ﻗﻴﻞ : ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ :
ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ
ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ، ﻓﻠﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ ( ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ 1/357 ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻹﺭﻭﺍﺀ
3/398

“Tidak ada satupun amalan yang lebih bagus dan lebih besar pahalanya disisi Allah ‘azza Wa Jalla daripada amalan kebaikan yang dikerjakan di sepuluh hari bulan berkurban (Dzulhijjah).” Beliau ditanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah?” beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya dan tidak ada satupun yang kembali darinya.” (Diriwayatkan Ad-Darimy 1/357 dengan sanad hasan sebagaimana tercantum dalam Irwa’ 3/398)

Dalil-dalil diatas dan dalil yang lainnya menunjukkan akan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dibandingkan dengan hari-hari lainnya tanpa terkecuali sekalipun sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam hari di sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan dengan sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Karena dimalam itu diturunkan Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 5/412)

Oleh karena itu, seorang muslim sudah sepantasnya membuka amalan di hari pertama bulan Dzuhijjah dengan taubat yang murni kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Kemudian memperbanyak amalan-amalan shalih apapun bentuknya (tanpa mengkhususkan amal tertentu- terj) dan memusatkan konsentrasinya pada amalan berikut:

1. Puasa

Seorang muslim disunahkan berpuasa di sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam memberi dorogan untuk beramal di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sementara puasa adalah salah satu amalan yang utama. Dan sungguh Allah Ta’ala telah memilih ibadah puasa untuk diri-Nya. Sebagaimana dalam hadist qudsi Allah Ta’ala berfirman, “Semua amalan Bani Adam untuk dirinya kecuali puasa. Karena amalan ini untuk-Ku, dan aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari 1805)

Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga berpuasa di sembilan hari pertama bulan dzulhijjah. Dari Hunaidah bin Khalid dari istrinya, dari sebagian istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Ia berkata,

ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺼﻮﻡ ﺗﺴﻊ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻭﻳﻮﻡ
ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻭﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ . ﺃﻭﻝ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﻦ
ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﺧﻤﻴﺴﻴﻦ ” ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ 4/205 ﻭﺃﺑﻮ
ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ 2/462

“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam berpuasa di sembilan hari pertama bulan dzulhijjah, hari ‘Asyura, tiga hari setiap bulan dan hari senin pertama pada setiap bulan dan di dua kamis.” (Dikeluarkan oleh An-Nasai 4/205 dan Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 2/462)

2. Memperbanyak tahmid, tahlil dan takbir (takbiran)

Disunnah membaca tahmid, takbir, tahlil dan tasbih di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan mengeraskan bacaannya tatkala di masjid, di rumah, di jalan-jalan dan setiap tempat yang dibperbolehkan untuk berdzikir kepada Allah. Demikian ini dilakukan untuk menampakkan syiar ibadah, sekaligus pengumuman (bagi orang lain yang belum tahu keutamaan bulan Dzulhijjah -penj) mengagungkan Allah Ta’ala.

Mengeraskan bacaan ini hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, sementara perempuan, cukup dengan suara yang lirih.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻟﻴﺸﻬﺪﻭﺍ ﻣﻨﺎﻓﻊ ﻟﻬﻢ ﻭﻳﺬﻛﺮﻭﺍ ﺍﺳﻢ
ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻌﻠﻮﻣﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺭﺯﻗﻬﻢ ﻣﻦ ﺑﻬﻴﻤﺔ
ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ ( ﺍﻟﺤﺞ. 28/

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al Hajj: 28)

Jumhur berpendapat makna kalimat, al ayyamul ma’lumat adalah sepuluh hari pertama bulan Dzuhijjah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, “ l Ayyam Al ma’lumat yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Dalil lainnya hadits yang dibawkan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, ”Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari yang sepuluh ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir dan tahmid.” (Diriwayatkan Ahmad 7/224 dengan sanad hasan menurut Ahmad Syakir)

Adapun bacaan takbiran diantaranya kalimat: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah, wallahu Akbar walillahil hamd. Atau kalimat takbiran bacaan lainnya.

Di zaman sekarang ini membaca takbir menjadi amalan yang ditinggalkan, terutama di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, hampir tidak pernah kita dengar, kecuali dari segelintir orang. Karena itu, hendaknya takbiran ini dibaca dengan suara keras demi menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus mengingatkan orang-orang yang lalai.

Terdapat riwayat yang shahih bahwasanya Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu’anhuma mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzulhijah. Keduanya bertakbir hingga orang-pun ikut bertakbir sebagaimana beliau berdua bertakbir. Dan yang dimaksudkan “orang-orang bertakbir dengan bacaan takbir ” adalah membaca takbir secara sendirian tidak berjama’ah dengan satu suara karena takbir jama’ah ini bukan termasuk ajaran syari’at.

Sesungguhnya menghidupkan sunnah yang hampi-hampir saja dilupakan orang termasuk amalan yang mendatangkan pahala yang besar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

“ﻣﻦ ﺃﺣﻴﺎ
ﺳﻨﺔ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻲ ﻗﺪ ﺃﻣﻴﺘﺖ ﺑﻌﺪﻱ ﻓﺈﻥ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﺮ ﻣﺜﻞ
ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌﺎ (
ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ 7/443 ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﻟﺸﻮﺍﻫﺪﻩ

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku yang telah hilang sepeninggalku maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang megikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.” [Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi 7/443, hadist tersebut hadits hasan dengan syawahid (hadits penguat)]

3. Menunaikan haji dan umrah

Sesungguhnya amalan yang paling utama yang dilakukan selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah haji di Baitullah. Siapa yang Allah beri taufiq untuk menunaikan ibadah haji di rumah-Nya dan melakukan syarat-syarat serta rukun-rukun haji sebagaimana yang dituntunkan syariat maka insyaallah dia termasuk orang yang disebutkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits berikut, “Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuai surga”.

4. Berkurban

Diantara amalan shalih selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai bentuk taqarrub kepada Allah adalah dengan menyembelih hewan kurban yang baik dan yang gemuk serta menginfakkan harta dijalan Allah.

Untuk itu, bersegeralah memanfaatkan waktu dihari-hari yang agung tersebut sebelum menyesal seperti penyesalan orang lalai atas apa yang ia lakukan dan sebelum ia diminta pulang sementara belum terjawab apa yang ia tanyakan.

Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/49042
Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits

***
Artikel muslimah.or.id