Kisah Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

Filed under: by: 3Mudilah


Di antara kebaikan-kebaikan Sulaimana bin Abdul Malik adalah bahwa dia berkenan menerima nasihat dari seorang ulama ahli fikih, Raja’ bin Haiwah al-Kindi, yang mengusulkan ketika Sulaiman dalam keadaan sakit dan akhirnya wafat, agar mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai penerusnya.

Akhirnya Sulaiman menetapkan surat wasiat yang tidak memberi celah bagi setan sedikit pun (Ashr ad-Daulatain al-Umawiyah wa al-Abbasiyah, Hal: 37). Ibnu Sirin mengatakan, “Semoga Allah merahmati Sulaiman, dia mengawali kekhalifahannya dengan menghidupkan shalat dan mengakhirinya dengan menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penerusnya.”

Khalifah Sulaiman wafat tahun 99H, Umar bin Abdul Aziz menshalatkan jenazahnya, tertulis dalam stempelnya, “Aku beriman kepada Allah dengan ikhlas.” (Siyar A’lam Nubala, 5: 11-12).

Ada beberapa riwayat tentang pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah yang dikisahkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat dari Suhail bin Abu Suhail, dia berkata, Aku mendengar Raja’ bin Haiwah berkata, “Di hari Jumat, Sulaiman bin Abdul Malik memakai baju berwarna hijau dari wol, dia bercermin dan berkata, ‘Aku adalah raja muda’. Lalu dia keluar untuk menunaikan shalat Jumat bersama rakyat, dia langsung sakit begitu pulang, manakala sakitnya semakin keras dia menulis wasiat untuk anaknya Ayyub. Ayyub adalah anak yang belum dewasa, aku berkata kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin? Di antara kebaikan seseorang yang mengalir ke kuburnya adalah bahwa dia mengangkat orang shaleh sesudahnya’. Sulaiman berkata, ‘Surat wasiat ini, aku masih beristikharah kepada Allah, masih mempertimbangkan, dan belum memutuskan dengan pasti.’

Satu atau dua hari setelah itu Sulaiman membakar surat tersebut, kemudian dia mengundangku. Dia bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang Dawud bin Sulaiman?’ Aku menjawab, ‘Dia berada di Konstantinopel, Anda sendiri tidak tahu dia masih hidup atau telah mati’. Sulaiman bertanya, ‘Siapa menurutmu wahai Raja’?’ Aku menjawab, ‘Terserah Anda wahai Amirul Mukminin’. Aku berkata demikian karena aku sendiri masih mempertimbangkan. Sulaiman berkata, ‘Bagaimana menurutmu Umar bin Abdul Aziz?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, yang aku tahu bahwa dia adalah laki-laki yang utama, muslim pilihan’. Sulaiman berkata, ‘Benar, dialah orangnya, tetapi jika aku mengangkatnya dan tidak mengangkat seorang pun dari anak-anak Abdul Malik, maka hal itu bisa memicu perpecahan, mereka tidak akan membiarkannya memimpin selama-lamanya, kecuali jika aku menetapkan seseorang dari mereka setelah Umar. Aku akan mengangkat Yazid bin Abdul Malik sesudah Umar. –Pada saat itu Yazid sedang tidak berada di tempat, dia menjadi Amirul Haj- Hal itu akan membuat anak-anak Abdul Malik tenang dan menerima’. Aku berkata, ‘Terserah Anda’.
Sulaiman bin Abdul Malik menulis surat tangannya, ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat wasiat Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin, untuk Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya aku menyerahkan khilafah kepadanya sesudahku dan sesudahnya kepada Yazid bin Abdul Malik, dengarkanlah dan taatilah, bertakwalah kepada Allah, janganlah berselisih, karena musuh-musuh kalian akan berharap mengalahkan kalian’. Lalu Sulaiman menstempel surat tersebut.

Sulaiman kemudian meminta Ka’ab bin Hamid, kepala pasukan pengawal khalifah, agar mengumpulkan keluarganya. Ka’ab melaksanakan dan mengumpulkan mereka. Setelah mereka berkumpul, Sulaiman berkata kepada Raja’, bawalah surat wasiatku kepada mereka, katakan kepada mereka bahwa itulah surat wasiatku, minta mereka untuk membaiat orang yang aku tunjuk’. Raja’ melaksanakannya, ketika Raja menyampaikan hal itu, mereka berkata, ‘Kami mendengarkan dan menaati siapa yang tercantum di dalamnya’. Mereka berkata, ‘Bolehkah kami menemui Amirul Mukminin untuk mengucapkan salam?’ Raja’ menjawab, ‘Silahkan’. Mereka pun masuk, Sulaiman berkata kepada mereka, ‘Itu adalah wasiatku, -Sulaiman menunjuk kepada surat yang ada di tangan Raja’ dan mereka melihat surat tersebut- Itu adalah pesan terakhirku, dengarkanlah, taatilah dan baiatlah orang yang aku sebutkan namanya dalam surat wasiat tersebut’. Raja’ berkata, ‘Maka mereka membaiatnya satu per satu’. Kemudian Raja’ membawa surat yang berstempel itu keluar’.”

Raja’ berkata, “Manakala mereka telah meninggalkan tempat itu, Umar datang kepadaku, dia berkata, ‘Wahai Abu al-Miqdam, sesungguhnya Sulaiman sangat menghormati dan menyayangiku, dia bersikap lembut dan baik, aku khawatir dia menyerahkan sebagian perkara ini kepadaku, maka aku meminta kepadamu dengan nama Allah kemudian dengan kehormatan dan kasih sayangku, agar engkau memberitahuku jika perkaranya demikian, sehingga aku bisa mengundurkan diri saat ini sebelum datangnya suatu keadaan dimana aku tidak mampu merubahnya lagi’. Raja’ menjawab, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akan mengabarkan satu huruf pun kepadamu’. Maka Umar pergi dengan kesal.”

Raja’ berkata, “Maka Hisyam bin Abdul Malik menemuiku dan berkata, ‘Sesungguhnya antara diriku dengan dirimu terdapat hubungan baik dan kasih sayang lama, aku pun tahu berterima kasih, katakan kepadaku apakah aku orang yang disebut dalam surat tersebut? Jika aku adalah orangnya, maka aku tahu. Jika orang lain, maka aku akan berbicara, orang sepertiku tidak patut dipandang sebelah mata, perkara seperti ini tidak pantas dijauhkan dari orang sepertiku, katakan kepadaku. Aku berjanji dengan nama Allah kepadamu tidak akan menyebutkan namamu selama-lamanya’.”

Raja’ berkata, “Aku menolak permintaan Hisyam, aku berkata, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akan membuka satu huruf pun kepadamu dari apa yang telah dirahasiakan Sulaiman kepadaku’. Hisyam pun pergi sambil menepukkan satu tangannya ke tangan yang lain, dia berkata, ‘Kepada siapa perkara ini diserahkan jika tidak kepadaku, apakah kami ini dianggap bukan anak Abdul Malik? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah putra Bani Abdul Malik yang sebenarnya’.”

Raja’ berkata, “Aku menemui Sulaiman bin Abdul Malik, ternyata dia sudah wafat, namun aku masih mendapati saat-saat sakratul mautnya, setiap kali dia menghadapinya, maka aku menghadapkannya ke arah kiblat, Sulaiman mengucapkan dengan tersendat-sendat, ‘Wahai Raja’, saatnya belum tiba sekarang’. Sampai aku mengulangnya dua kali, pada kali ketiga Sulaiman berkata, ‘Sekarang wahai Raja’, jika kamu ingin sesuatu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’.”

Raja’ berkata, “Maka aku menghadapkannya ke arah kiblat, dan Sulaiman wafat. Aku memejamkan kedua matanya, aku menyelimutinya dengan sebuah kain hijau, aku menutup pintu, istrinya mengutus seorang utusan untuk meminta izin melihat keadaannya, aku berkata kepadanya, ‘Dia telah tidur dan berselimut’. Utusan itu telah melihat Sulaiman yang telah berselimut kain, dia pulang menyampaikannya kepada istrinya, istrinya tenang karena dia mengira bahwa Sulaiman tidur.”

Raja’ berkata, “Aku meminta seseorang yang kupercayai untuk berdiri di pintu, aku berpesan kepadanya untuk tidak beranjak sampai aku sendiri yang datang kepadanya dan tidak memperkenankan siapa pun untuk masuk menemui khalifah. Lalu aku memanggil Ka’ab bin Hamid al-Ansi, aku memintanya untuk mengumpulkan keluarga Amirul Mukminin, mereka pun berkumpul di masjid Dabiq, aku berkata kepada mereka, ‘Berbaiatlah kalian’. Mereka menjawab, ‘Kami telah berbaiat, sekarang berbaiat lagi?’ Aku berkata, ‘Ini adalah pesan Amirul Mukminin, berbaiatlah untuk mematuhi perintahnya, mengakui siapa yang disebutkan namanya dalam surat wasiat yang distempel ini’. Mereka pun satu per satu membaiat untuk kedua kalinya.”

Raja’ berkata, “Ketika mereka bersedia membaiat untuk kedua kalinya, maka aku yakin telah menata urusan ini sebaik mungkin, aku mengucapkan, ‘Jenguklah Khalifah Sulaiman, karena beliau telah wafat’. Mereka berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Kemudian aku membacakan isi surat wasiat Sulaiman, ketika aku menyebut nama Umar bin Abdul Aziz, Hisyam berkata, ‘Kami tidak akan membaiatnya selama-lamanya’. Raja’ mengatakan, ‘Demi Allah, aku akan memenggal lehermu, berdiri dan berbaiatlah’. Lalu Hisyam berdiri dengan “menyeret” kedua kakinya.

Raja’ melanjutkan, “Aku memegang pundak Umar bin Abdul Aziz, aku mendudukkannya di atas mimbar, sementara Umar bin Abdul Aziz mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Ia menyesali apa yang didapatkannya. Sementara Hisyam juga mengucapkan ucapan yang sama karena bukan dia yang ditunjuk oleh Sulaiman bin Abdul Malik sebagai penggantinya. Hisyam bertemu Umar bin Abdul Aziz, dia berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena kekhalifahan telah berpindah tangan dari anak-anak Abdul Malik kepada Umar bin Abdul Aziz. Maka Umar menjawab, ‘Ya, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena perkara itu sampai ke tangannya padahal dia tidak menyukainya.” (Tarikh ath-Thabari, 7: 445).

Abu al-Hasan an-Nadawi berkata tentang sikap Raja’, “Raja’ telah melakukan sebuah jasa besar yang tidak akan dilupakan oleh Islam. Aku tidak mengetahui seorang laki-laki dari kalangan sahabat raja dan orang-orangnya, yang bisa memberi manfaat (dengan kedekatan dan kedudukannya) seperti manfaat yang diberikan oleh Raja’. (Rijal al-Fikr wa ad-Da’wah, 1: 40).

Umar naik mimbar, dan dalam tatap muka pertama dengan rakyat, dia mengatakan, “Jamaah sekalian, sesungguhnya aku telah diuji dengan perkara ini, tanpa dimintai pendapat, tidak pernah ditanya dan tidak pula ada musyawarah dengan kaum muslimin. Aku telah membatalkan baiat untukku, sekarang pilihlah seseorang untuk memimpin kalian.” Orang-orang serentak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilihmu, kami menerimamu, silahkan pimpin kami dengan kebaikan dan keberkahan.”

Di saat itulah Umar merasa bahwa dirinya tidak mungkin menghindar dari tanggung jawa khalifah, maka Umar menambahkan kata-katanya untuk menjelaskan kebijakan-kebijakannya dalam menata umat Islam (Umar bin Abdul Aziz wa Siyasatuhu fi Radd al-Mazhalim, Hal: 102), “Amma ba’du, tidak ada lagi nabi setelah nabi kalian, tidak ada kitab selain kitab yang diturunkan kepadanya.

Ketahuilah bahwa apa yang Allah halalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, aku hanyalah pelaksana, dan aku bukanlah pelaku bid’ah melainkan aku adalah pengikut sunnah. Tidak ada hak bagi siapapun untuk ditaati dalam kemaksiatan. Ketahuilah! Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah seorang laki-laki bagian dari kalian, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala memberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.

Kaum muslimin, siapa yang mendekat kepadaku, hendaknya dia mendekat dengan lima perkara, jika tidak, maka janganlah mendekat: Pertama, mengadukan hajat orang yang tidak kuasa untuk mengadukannya, kedua, membantuku dalam kebaikan sebatas kemampuannya, ketiga, menunjukkan jalan kebaikan kepadaku sebagaimana aku dituntut untuk meniti jalan tersebut, keempat, tidak melakukan ghibah terhadap rakyat, dan kelima, tidak menyangkalku dalam urusan yang bukan urusannya.

Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah memberikan akibat yang baik dalam setiap hal, dan tidak ada kebaikan apabila tidak ada takwa. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhirat, niscaya Allah akan mencukupkan dunianya. Perbaikilah (jaga) rahasia (yang ada pada diri kalian), semoga Allah memperbaiki apa yang terlihat dari (amal perbuatan) kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, bersiaplah dengan baik sebelum kematian itu menghampiri kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Tuhannya, tidak tentang Nabinya, tidak tentang Kitabnya, akan tetapi umat ini berselisih karena dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberikan yang batil kepada seseorang dan tidak akan menghalangi hak seseorang.”

Kemudian Umar meninggikan suaranya agar orang-orang mendengar, “Jamaah sekalian, barangsiapa yang menaati Allah, maka dia wajib ditaati dan barangsiapa mendurhakai Allah, maka tidak wajib taat kepadanya dalam permasalahan tersebut. Taatilah aku selama aku (memerintahkan untuk) menaati Allah, namun jika (perintahku) mendurhakai-Nya, maka kalian tidak boleh taat dalam hal itu…” kemudian Umar turun dari mimbar.

Begitulah prosesi pengangkatan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah umat Islam, salah seorang khalifah Daulah Umawiyah. Ia diangkat pada hari Jumat, 11 Shafar 99 H (al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 667).

Sumber: Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz

http://kisahmuslim.com/kisah-pengangkatan-umar-bin-abdul-aziz-menjadi-khalifah/

Resensi Buku : Buku Penting, Ensiklopedi Aliran dan Madzhab Di Dunia Islam

Filed under: by: 3Mudilah


DSC_0476
Sebagai agama yang besar, sejarah Islam diwarnai dengan munculnya berbagai aliran dan madzhab yang tumbuh di negeri-negeri Muslim. Dengan berbagai corak pemikiran, tokoh, dan doktrin-doktrinnya, keberadaan aliran-aliran dan madzhab tersebut saling berebut pengaruh. Masing-masing berusaha menjaga eksistensi dengan terus menyebarkan paham-pahamnya.

Ada aliran-aliran yang menyimpang dan menjadi ‘duri dalam daging’ kaum muslimin, ada juga yang berusaha untuk menjaga agar umat ini tidak keluar dari koridor yang sudah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua ini perlu diketahui oleh umat Islam, agar bisa membedakan mana kelompok yang menyimpang dan mana yang berada di jalan yang lurus.

Ensiklopedi ini ditulis oleh para profesor dan doktor yang mumpuni di bidang akidah dan pemikiran, yang berusaha mengupas secara tuntas setiap aliran dan madzhab yang dibahas. Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturudiyah, Wahabiyah, dan Azh-Zhahiriyah, adalah sebagian dari puluhan aliran dan madzhab yang dibahas dalam buku ini. sangat berharga jika Anda memilikinya!

Judul Buku : Ensiklopedi Aliran dan Madzhab Di Dunia Islam
Penulis: Tim Riset dan Studi Islam Mesir
Cover: Hard  Cover
Isi: 1164 halaman
Ukuran:15.5 x 24.5 cm
Berat:1400 gr
Harga:Rp 210.000,00 (Belum termasuk ongkos kirim)
 
http://www.eramuslim.com/

Shalahuddin al-Ayyubi

Filed under: by: 3Mudilah

Kali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.

Asal dan Masa Pertumbuhannya

tikrit 

Shalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan ‘ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab, ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.

Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, “Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang.”

Dari Tikrit, keluarga Kurdi ini berpindah menuju Mosul. Sang ayah, Najmuddin Ayyub tinggal bersama seorang pemimpin besar lainnya yakni Imaduddin az-Zanki. Imaduddin az-Zanki memuliakan keluarga ini, dan Shalahuddin pun tumbuh di lingkungan yang penuh keberkahan dan kerabat yang terhormat. Di lingkungan barunya dia belajar menunggang kuda, menggunakan senjata, dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai jihad. Di tempat ini juga Shalahuddin kecil mulai mempelajari Alquran, menghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mempelajari bahasa dan sastra Arab, dan ilmu-ilmu lainnya.

Diangkat Menjadi Mentri di Mesir

Sebelum kedatangan Shalahuddin al-Ayyubi, Mesir merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Syiah, Daulah Fathimiyah. Kemudian pada masa berikutnya Dinasti Fathimiyah yang berjalan stabil mulai digoncang pergolakan di dalam negerinya. Orang-orang Turki, Sudan, dan Maroko menginginkan adanya revolusi. Saat itu Nuruddin Mahmud, paman Shalahuddin, melihat sebuah peluang untuk menaklukkan kerajaan Syiah ini, ia berpandangan penaklukkan Daulah Fathimiyyah adalah jalan lapang untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan Pasukan Salib.

Nuruddin benar-benar merealisasikan cita-citanya, ia mengirim pasukan dari Damaskus yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh untuk membantu keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, di Mesir. Mengetahui kedatangan pasukan besar ini, sebagian Pasukan Salib yang berada di Mesir pun lari kocar-kacir sehingga yang dihadapi oleh Asaduddin dan Shalahuddin hanyalah orang-orang Fathimyah saja. Daulah Fathimiyah berhasil dihancurkan dan Shalahuddin diangkat menjadi mentri di wilayah Mesir. Namun tidak lama menjabat sebagai menteri di Mesir, dua bulan kemudian Shalahuddin diangkat sebagai wakil dari Khalifah Dinasti Ayyubiyah.

Selama dua bulan memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-kebijakan progresif yang visioner. Ia membangun dua sekolah besar berdasarkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini ia tujukan untuk memberantas pemikiran Syiah yang bercokol sekian lama di tanah Mesir. Hasilnya bisa kita rasakan hingga saat ini, Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni. Kebijakan lainnya yang ia lakukan adalah mengganti penyebutan nama-nama khalifah Fathimiyah dengan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam khutbah Jumat.

Menaklukkan Jerusalem

Persiapan Shalahuddin untuk menggempur Pasukan Salib di Jerusalem benar-benar matang. Ia menggabungkan persiapan keimanan (non-materi) dan persiapan materi yang luar biasa. Persiapan keimanan ia bangun dengan membersihkan akidah Syiah bathiniyah dari dada-dada kaum muslimin dengan membangun madrasah dan menyemarakkakn dakwah, persatuan dan kesatuan umat ditanamkan dan dibangkitkan kesadaran mereka menghadapi Pasukan Salib. Dengan kampanyenya ini ia berhasil menyatukan penduduk Syam, Irak, Yaman, Hijaz, dan Maroko di bawah satu komando.

Dari persiapan non-materi ini terbentuklah sebuah pasukan dengan cita-cita yang sama dan memiliki landasan keimanan yang kokoh.

crusade

Dari segi fisik Shalahuddin mengadakan pembangunan makas militer, benteng-benteng perbatasan, menambah jumlah pasukan, memperbaiki kapal-kapal perang, membangun rumah sakit, dll.

Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.

Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan Jerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib di Hathin terlebih dahulu, perang ini dinamakan Perang Hathin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30000 Pasukan Salib dan menawan 30000 lainnya.

Setelah menguras energy di Hathin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds, Jerusalem, dengan jumlah pasukan yang besar tentara-tentara Allah ini mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri, beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insya Allah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.

Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.

Pasukan Salib mulai terpojok, merek tercerai-berai, dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, “Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam (ketika menaklukkan Jerusalem)”. Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian bin Bazran, mengancam “Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kami, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!” Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.
Dome of The Rock atau Kubatu Shakhrakh
Dome of The Rock atau Kubatu Shakhrakh
Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.

Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.
Masjid al-Aqsha
Masjid al-Aqsha
Wafatnya Sang Pahlawan

Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya. Semoga Allah meridhai, merahmati, dan  membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem.

Sumber:
Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Basim al-Usaili
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Abu al-Hasan an-Nadawi
Islamstroy.com
Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

22 Poin Ringkasan Fikih Safar

Filed under: by: 3Mudilah


safar-mudik-1
Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul
  1. Safar adalah keluar dari tempat tinggal yang jelas dan nyata bentuknya, untuk menempuk suatu jarak tertentu. Dan ini adalah hal yang disepakati ulama.
  2. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan jarak safar.
    • Sebagian ulama mengatakan: sekadar jarak antara Mekkah dan Mina. Karena Rasulullah menganggap penduduk Mekkah sebagai musafir, dan beliau meng-qashar shalat bersama mereka dan tidak memerintahkan untuk menyempurnakan rakaat shalat. Dan perlu digaris-bawahi bahwa Mina bukanlah tujuannya, karena tujuannya adalah Arafah. Dan jaraknya adalah sekitar 30 kilometer.
    • Sebagian ulama mengatakan: sejauh satu hari perjalanan (Al Istidzkkar, 2/233). Abu Umar bin Abdil Barr berkata: “jarak safar adalah jarak perjalanan sehari semalam dengan perjalanan yang cepat, yaitu sekitar 4 barid”. Dan 1 barid itu sama dengan 4 farsakh, maka jaraknya adalah sekitar 16 farsakh. Satu farsakh sama dengan 3 mil. Sehingga jaraknya menjadi 48 mil atau 77,232 kilometer. Dan ini adalah jarak antara Jeddah dan Mekkah. Terdapat riwayat: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ كَانَ «يَقْصُرُ الصَّلَاةَ فِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَالطَّائِفِ، وَفِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَعُسْفَانَ، وَفِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَجُدَّةَ»
      Abdullah bin Abbas pernah meng-qashar shalat dalam perjalanan yang semisal antara Mekkah ke Thaif, atau antara Mekkah ke Usfan, atau antara Mekkah ke Jeddah“.
    • Sebagian ulama mengatakan: batasannya kembali pada ‘urf (kebiasaan setempat). Jarak yang dianggap oleh penduduk setempat sebagai safar, maka itulah batasan safar. Inilah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu dan dipegang oleh jumhur ulama, dan ini yang lebih adhbath (paling baik kaidahnya).
  3. Orang yang safar tidak boleh meng-qashar shalat hingga ia meninggalkan rumah terakhir yang ada di daerah dimana ia menjadi penduduk di sana. Dan tidaklah ia menyempurnakan rakaat shalat hingga ia menemui rumah pertama di daerah dimana ia menjadi penduduk di sana.
  4. Para ulama bersepakat bahwa seorang Muslim yang berada di daerahnya sendiri atau di tempat ia bertempat tinggal di sana, ia bukanlah musafir.
  5. Para ulama bersepakat bahwa seorang Muslim yang berada di perjalanan safar, baik jauh ataupun dekat, atau berapapun jaraknya (selama masih termasuk jarak safar, pent.), maka ia musafir.
  6. Para ulama berbeda pendapat mengenai seorang Muslim yang telah sampai di tempat atua daerah tujuan, lalu ia bermaksud untuk menetap di sana dalam jangka waktu tertentu, apakah ia keluar dari batasan safar dari sejak ia sampai hingga selesai menetapnya?
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus sebagai musafir sampai ia kembali ke daerah tempat tinggalnya. Berapapun lamanya ia menetap di daerah tujuan.
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus musafir jika berencana tinggal selama 4 hari atau kurang dari itu. Dan ia berstatus sebagai muqim sejak sampai di daerah tujuan jika ia berencana tinggal lebih dari 4 hari.
    Pendapat yang rajih menurut pandanganku adalah pendapat kedua, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika datang ke Mekkah untuk haji beliau tidak menetap di Mekkah kecuali selama 4 hari beliau meng-qashar shalat. Kemudian beliau keluar menuju Mina. Selain itu Rasulullah melarang kaum Muhajirin menetap di Mekkah lebih dari 3 hari agar hijrah mereka tidak batal. Ini menunjukkan bahwa menetap lebih dari 4 hari mengeluarkan seorang Muslim dari batasan safar menjadi iqamah (menetap).
  7. Jika seorang Muslim musafir sampai di daerah yang menjadi tujuannya, namun ia tidak berencana menetap di sana, dan ia masih bimbang dan belum tahu kapan akan pulang.
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus sebagai musafir sampai ia kembali ke daerah tempat tinggalnya.
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus musafir selama 19 hari, namun setelahnya ia berstatus muqim.
    Pendapat yang rajih adalah pendapat kedua. Terdapat hadits yang diriwayatkan Al Bukhari (1080), dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata:
    أَقَامَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ، فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا، وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا
    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menetap selama 19 hari dengan meng-qashar shalat. Dan kami jika menetap selama 19 hari kami meng-qashar shalat, jika lebih dari itu kami menyempurnakan shalat
  8. Meng-qashar (meringkas rakaat) shalat ketika safar hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Namun jika menyempurnakan rakaat, shalatnya tetap sah.
  9. Seorang musafir jika shalat menjadi makmum dari imam yang berstatus muqim, maka musafir tersebut tidak boleh meng-qashar.
  10. Boleh menjamak (menggabungkan) shalat ketika safar. Zhuhur dijamak dengan ashar, maghrib dengan isya. Shalat subuh dikerjakan pada waktunya dan tidak dijamak dengan shalat sebelumnya atau sesudahnya.
    Menjamak shalat dengan shalat sebelumnya dinamakan jamak taqdim. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Arafah ketika haji Wada’, beliau menggabungkan shalat ashar dengan zhuhur.
    Menjamak shalat dengan shalat sesudahnya dinamakan jamak ta’khir. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Muzdalifah pada malam hari, beliau menggabungkan shalat Maghrib dan Isya.
  11. Shalat maghrib tidak boleh diringkas menjadi 2 rakaat, demikian juga shalat subuh tetap dikerjakan 2 rakaat. Yang bisa di-qashar adalah shalat ruba’iyyah, yaitu shalat zhuhur, shalat ashar, dan shalat isya.
  12. Menjamak shalat adalah rukhshah safar, baik perjalanannya terus-menerus atau tidak. Dan yang lebih utama adalah shalat pada waktunya (tidak dijamak), kecuali jika perjalanannya terus-menerus.
  13. Ketika menjamak shalat, hendaknya adzan sebelum shalat yang pertama saja, dan iqamat pada setiap shalat. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
  14. Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir, yang dilakukan adalah shalat zhuhur. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hajinya. Karena ketika itu bertepatan dengan hari Jum’at, dan beliau tidak shalat Jum’at dan shalat zhuhur dijamak dengan shalat ashar.
  15. Jika seorang musafir shalat Jum’at, tidak boleh menjamaknya dengan shalat ashar. Karena hal itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
  16. Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan shalat qabliyah shubuh, shalat witir, shalat lail dan shalat dhuha ketika safar. Dan ini semua adalah shalat tathawwu’.
  17. Safar adalah kesulitan dan adzab. Maka ketika seorang Muslim sudah menunaikan hajatnya, segeralah ia kembali kepada keluarganya dan daerahnya.
  18. Status safar tidak menghalangi keabsahan akad nikah dan akad jual-beli.
  19. Waliyul amr tidak disyariatkan untuk menegakkan had dalam keadaan safar. Imam Ahmad mengeluarkan hadits dalam Musnad-nya (17626, 17627), dan Abu Daud (4408), dan At Tirmidzi (1450) dari Junadah bin Abi Umayyah, ia berkata: كنا مع بُسْرِ بنِ أبي أرطاةَ في البحرِ، فأتي بسارقٍ يقال له: مِصْدَرٌ، قد سرقَ بُخْتِيَّةً، فقال: «سمعتُ رسولَ الله -صلَّى الله عليه وسلم- يقول: «لا تُقطَعُ الأيدي في السَّفر» ولولا ذلك لقطعتُه
    “kami pernah bersama Busr bin Abi Artha’ah di laut, ia bersama seorang pencuri bernama Mishdar. Ia mencuri sebuah Bukhtiyyah. Busr berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘tidak dipotong tangan pencuri ketika safar‘. Andaikan bukan karena hadits ini, maka telah aku potong tangannya” (Dishahihkan Al Albani dan Al Arnaut)
  20. Seorang Muslim dimakruhkan bersafar sendirian. Imam Malik meriwayatkan hadits dalam Al Muwatha dalam kitab Al Isti’dzan, bab Maa ja’a bil wahdah fis safar, dan juga Abu Daud (2607), dan At Tirmidzi (1674), dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ
    orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar“.
    Hadits ini hasan.
  21. Jika seorang Muslim menjadi warga negara sebuah negara, kemudian ia meninggalkan negara tersebut dan menjadi warga negara dari negara lain. Kemudian ia kembali ke negara yang awal tanpa mengganti kewarganegaraannya. Maka ia berstatus safar dengan ketentuan-ketentuan yang telah disebut pada poin sebelumnya. Kecuali jika ia memiliki rumah di sana. Jika demikian, maka ia tidak boleh meng-qashar shalat. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika kembali ke Mekkah setelah Fathul Mekkah beliau tidak menyempurnakan rakaat shalat, beliau meng-qashar. Namun ketika beliau ditanya mengenai rumahnya, beliau menjawab: “apakah masih ada bagiku rumah walau hanya satu petak?“. Ini menunjukkan bahwa beliau dan kaum Muhajirin yang bersama beliau adalah musafir.
  22. Jika seorang Muslim bertempat tinggal di suatu kota, sedangkan ia bekerja di kota lainnya, maka ia boleh meng-qashar shalat dalam safarnya antara dua kota tersebut. Namun ketika ia sudah masuk ke kota dimana rumahnya berada, maka tidak boleh meng-qashar shalat.
***

Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.or.id

Fiqih Ular, Hukum-Hukum Syari’at Seputar Ular

Filed under: by: 3Mudilah

Negri Indonesia raya tercinta tempat lahir beta ini terkenal dengan negri zamrud khatulistiwa. Konon menurut pelajaran geografi semasa sekolah, daerah yang dilewati garis khatulistiwa cenderung beriklim tropis serta memiliki tingkat curah hujan yang tinggi.

Karena beriklim tropis maka negri kita ini menjadi surga tersendiri bagi populasi ular. Kita seringkali mendapati keberadaan binatang unik ini diberbagai kesempatan, pada lokasi yang berbeda-beda. Di sawah, di kebun, di halaman, di sungai, di pesantren bahkan rumah sekalipun tidak luput dari  keberadaannya.

Data maupun fakta serta cerita unik dan aneh seputar ular pun banyak beredar di masyarakat kita. Mulai dari cerita yang masuk akal maupun tidak masuk akal, yang ilmiyyah maupun yang khurafat. Berikut adalah beberapa informasi yang penulis kumpulkan seputar ular dan seluk beluknya.

.:: Kisah Ular Dalam Al Qur’an

Allah mengabarkankan di dalam Al Qur’an surat Toha ayat : 65-71 kisah pertempuran antara nabi Musa ‘alaihissalam melawan para tukang sihir Fir’aun. Dan kisah ini sudah sangat masyhur.
Al Imam Abu Ja’far Ath Thabary ketika menafsirkan kisah tersebut, beliau menukil sebuah riwayat sebagai berikut:
Fiqih Ular 01Sebagaimana yang dikabarkan kepadaku oleh Ibnu Humaid, mengabarkan kepadaku Salamah dari Abu Ishaq. Ia berkata Aku diberi kabar oleh Wahb bin Munabbih beliau berkata ketika membaca firman Allah ta’ala: “Mereka berkata wahai Musa kamu duluan yang melemparkan atau kami duluan yang melemparkan ? (QS. Taha : 65). Musa berkata: Silahkan kalian melemparkan duluan”. (QS. Taha : 66)

Yang pertama kali terkena dampak sihir mereka adalah matanya Musa, kemudian matanya Fir’aun, kemudian matanya manusia yang hadir disana kala itu.

Lantas masing-masing dari para tukang sihir itu melemparkan apa yang mereka pegang berupa tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Tiba-tiba tongkat dan tali tersebut seolah berubah menjadi ular seperti gunung yang memenuhi lembah. Dan ular-ular itu saling tumpang tindih satu sama lain”. (Tafsir Ath-Thabary ; 16/109).

Lantas Al Imam Abu Ja’far Ath Thabary kembali menukilkan riwayat berikut:

Fiqih Ular 02Mengabarkan kepadaku Ibnu Humaid, mengabarkan kepadaku Ya’qub dari Ja’far dari Sa’id ia berkata: Ketika mereka telah berkumpul dan melemparkan apa yang ada di tangan mereka berupa sihir yag dikhayalkan pada Musa seolah ia adalah ular yang merayap. (Lantas Musa terkejut dan merasakan takut di dalam dirinya (QS. Taha : 67). KAMI katakan wahai Musa janganlah engkau takut karena engkau adalah orang yang menang (QS. Taha : 68). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, ia akan menelan apa yang mereka perbuat) (QS. Taha : 69).

Musa lantas melemparkan tongkatnya. Tiba-tiba tongkat tersebut berubah menjadi ular yang sangat nyata. Ia (Said) berkata: Ular tersebut membuka mulutnya seperti lubang yang sangat besar. Ia meletakkan bibir bawah di bumi dan mengangkat bibir atasnya ke atas, kemudian menelan semua sihir yang dilemparkan oleh para tukang sihir. Lantas Musa mendatangi ular tersebut dan menangkapnya tiba-tiba ia berubah menjadi tongkat kembali.

Maka para tukang sihir pun jatuh tersungkur seraya bersujud (Mereka berkata kami beriman terhadap Tuhannya Musa dan Harun (QS. Taha : 70). Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik) (QS. Taha : 71).

Ia (Said) berkata: Orang pertama yang memotong tangan dan kaki secara silang adalah fir’aun (Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik) (QS. Taha : 71).

Dan orang yang pertama kali menyalip manusia pada batang pohon kurma adalah Fir’aun. (Tafsir Ath-Thabary : 16/113).

.:: Siluman Ular
Fiqih Ular 03Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyany berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jin itu ada tiga jenis, jin yang memiliki sayap dan bisa terbang diudara, jin yang berupa ular dan kalajengking, serta jin yang suka berpindah-pindah”. (HR. Thabrany, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 3114).

.:: Ular Berkepala Sembilan ::.Fiqih Ular 04Dari Abul Haitsam dari Abu Sa’id Al-Khudzriy radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: Sesungguhnya penghidupan yang sempit maksudnya adalah diutusnya 99 Tanin (ular yang sangat besar) untuk mencabik-cabiknya di alam kubur. (HR. Baihaqiy dalam kitab Itsbatu ‘Adzabil Qabri Hal. 60 Riwayat No. 61 oleh Imam Al-Baihaqiy).
Dalam riwayat yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Fiqih Ular 05“Tahukah kalian apa itu Tanin? Tanin adalah 99 ekor ular, setiap ular memiliki 9 kepala. Mereka akan menyembur pada mayit, menggigit serta mencabik-cabiknya hingga hari kiamat”. (HR. Baihaqiy dalam kitab Itsbatu ‘Adzabil Qabri Hal. 62 Riwayat No. 68 oleh Imam AlBaihaqiy).
 
.:: Perintah Membunuh Ular

Secara umum ular adalah binatang yang diperintahkan untuk dibunuh berdasarkan riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas mimbar bersabda; “Bunuhlah Ular”. (HR Muslim ; 2223).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا
“Ada lima jenis binatang fasik yang boleh dibunuh baik di tanah haram ataupun di luar tanah haram: Ular, gagak yang di punggung atau perutnya ada warna putih, tikus, anjing gila, dan elang.” (HR. Muslim no. 1198).

Selain memerintahkan untuk membunuh ular secara umum Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan untuk membunuh beberapa jenis ular tertentu. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar dengan berkata:

اُقْتُلُوا الْحَيَّاتِ وَاقْتُلُوْا ذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَالأَبْتَرَ فَإِنَّهُمَا يَطْمِسَانِ الْبَصَرَ وَيَسْتَسْقِطَانِ الْحَبَلَ. (أخرجه مسلم ص ٢٢٣٣
“Bunuhlah ular-ular dan bunuhlah dza ath-thufyatain dan alabtar (nama dari dua jenis ular berbisa) karena keduanya membutakan pandangan dan menggugurkan kandungan.” (HR. Muslim hadits no. 2233).

Al-Hafizh Ibnu Hajar membawakan perkataan Ibnu ‘Abdil Barr: “Bahwasanya Dza ath-thufyatain adalah sejenis ular yang di punggungnya terdapat dua buah garis berwarna putih.

Adapun “Al-Abtar” kata Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalaniy adalah: Ular yang terpotong ekornya (seolah-olah ekornya terpotong karena pendeknya).”. An-Nadhr bin Syumail menambahkan bahwasanya ular itu berwarna biru dan tatapan matanya dapat menggugurkan kandungan wanita yang hamil. (Fathul Bari : 6/401)

.:: Larangan Membunuh Ular

Perintah Nabi untuk membunuh ular tersebut di atas tidak diberlakukan secara mutlak. Khusus bagi ular-ular yang masuk rumah, mereka tidak boleh langsung dibunuh. Akan tetapi diusir dan dikasih tenggang waktu selama tiga hari berdasarkan riwayat berikut ini:

Dari Abus Sa’ib, maula Hisyam bin Zahrah bahwa ia menjenguk Abu Sa’id Al-Khudry di rumahnya. Aku dapati ia sedang shalat. Maka aku pun duduk menunggunya. Setelah selesai shalat aku mendengar suara di salah satu tiang di atap rumah. Aku melihatnya ternyata seekor ular. Maka aku pun bangkit hendak membunuhnya.

Abu Sa’id mengisyaratkan agar aku duduk kembali. Aku pun duduk. Setelah keluar beliau menunjuk sebuah rumah. Beliau bertanya, “Apakah engkau melihat rumah itu?” “Ya!” jawabku.

Beliau bercerita, “Dahulu di rumah itu tinggallah seorang pemuda yang baru saja menikah. Maka kami pun berangkat bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ke peperangan Khandaq. Pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah untuk kembali ke rumah pada tengah hari.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya dan berkata kepadanya, Bawalah senjatamu, aku takut engkau dihadang oleh Yahudi Bani Quraizhah. Maka pemuda itu pun membawa senjatanya. Kemudian ia kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia dapati isterinya berdiri di depan pintu rumahnya.

Maka ia pun menyerbu ke arah isterinya untuk memukulnya dengan tombaknya. Ia telah terbakar rasa cemburu. Si isteri berkata kepadanya, Tahan dulu tombakmu terhadapku! Masuklah ke dalam rumah supaya engkau dapat melihat apa yang menyebabkan aku keluar rumah. Maka pemuda itu pun masuk ke dalam rumah ternyata ia dapati ular besar melingkar di atas tempat tidurnya. Maka ia pun menyerangnya dengan menusukkan tombaknya.

Kemudian ia keluar dan menancapkan ular itu pada tombaknya lalu ular itu menggeliat dari ujung tombak dan menyerangnya, tidak diketahui siapakah yang lebih dahulu mati apakah ular itu atau pemuda tadi. Kami pun menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, kami berkata, Mintalah kepada Allah agar Dia menghidupkannya kembali untuk kami. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata: Mintakanlah ampunan untuk Sahabat kalian ini.

Kemudian beliau bersabda, ; Sesungguhnya kota Madinah ini dihuni oleh jin-jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat ular, maka usirlah selama tiga hari. Jika masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syaitan.” (HR. Muslim ; 2236).

Dari uraian di atas kita mengambil kesimpulan seputar hukum membunuh ular, bahwa:
  1. Ular adalah salah satu binatang yang diperintahkan untuk dibunuh.
  2. Apabila kita mendapati ular yang masuk ke dalam rumah. Kita tidak boleh langsung membunuhnya. Akan tetapi mengusirnya dan memberi tangguh waktu selama tiga hari. Jika setelah itu ia masih menampakkan diri kembali, maka kita boleh membunuhnya.
  3. Nabi juga memerintahkan untuk membunuh dua jenis ular yang memiliki dua garis putih di punggung dan ular yang pendek yang seolah-olah ekornya terputus. Karena jenis ular seperti ini bisa membutakan mata dan menggugurkan janin dalam kandungan wallahu a’lam.
Dari sini menjadi jelas bahwa larangan membunuh ular secara mutlak hanya berlaku jika ular tersebut berada di luar rumah. Namun jika ular tersebut berada di dalam rumah maka ada perbedaan hukum sebagaimana telah dijelaskan. Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam Berkata:Fiqih Ular 06
Masalah: Apakah seorang muslim boleh membunuh ular yang ia temui di luar rumah?
Jawab: Ular yang berada di luar rumah dibunuh dengan tanpa diberi peringatan. Dalil akan hal tersebut adalah apa yang datang dari hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah ular semuanya, Karen akita tidak akan pernah berdamai dengan mereka semenjak kita memerangi mereka”. Hadis ini diriwayatkan oleh Tabrany dan ia adalah hadis yang hasan.

Dan dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah ular semuanya, barangsiapa takut terhadap pembalasan dendam mereka, maka ia bukan golongan kami”. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud 5249. Dan lafadz ini adalah milik Abu Dawud. Dan hadis ini pada Tabrani ada melalui jalur Jarir radhiyallahu ‘anhu hadis no. 2396.)

Tambahan yang menegaskan hukum membunuh ular datang dari riwayat Abu Hurairah pada Abu Dawud 921, Tirmidzi 290, Ibnu Majah 1245, Thayalisy 2539, Al Baihaqy 2/266, Ibnul Jarud 213, Ibnu Hibban 2352 dan yang lain bahwa rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah dua hitam ketika shalat yaitu ular dan kalajengking.

Maka menjadi jelaslah bahwa ular yang ada di luar rumah boleh dibunuh dengan tanpa memberi peringatan. Lebih-lebih lagi dzu ath-thufyatain dan al-abtar. Al-Imam Al-Bukhari 3297, Muslim 2233 meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah dzu-thufyatain dan al-abtar karena keduanya bisa membutakan mata dan menggugurkan kandungan”.

Dan datang juga dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam shahih Bukhari dan yang lain dengan lafadz: “Bunuhlah dzu-thufyatain karena ia membutakan mata dan menggugurkan kandungan”.

Dan datang dari hadis Abu Lubabah radhiyallahu ‘anhu pada Bukhari 3311, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian membunuh jin melainkan ular yang abtar dan dzu-thufyatain. Karena keduanya menggugurkan janin dan membutakan mata, maka bunuhlah ia”.

Al-Abtar adalah yang terpotong ekornya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Atsir di dalam kitab An Nihayah. Sedangkan Dzu Thufyatain adalah setiap ular yang memiliki dua garis pada punggungnya”. (Ahkamut Ta’amul Ma’al Jin : 55-56 Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam).

.:: Merasa Sial Karena Melihat Ular

Sebagian masyarakat kita tatkala melihat ular menyebarangi jalan/ melintang di tengah jalan. Atau melihat burung gagak, atau mendengar suara tertentu atau menjumpai hari tertentu, ia akan merasa sial. Dan mengurungkan niatnya untuk melakukan suatu pekerjaan karena penglihatannya tersebut. Fenomena seperti ini masuk ke dalam definisi tathayyur yang dilarang oleh syari’at islam. Al-Imam Ibnu Utsaimin menuturkan ketika menjelaskan definisi tathayyur ini :
 Fiqih Ular 07“Dan jika engkau ingin maka katakanlah : Tathayyur adalah merasa sial karena melihat sesuatu atau mendengar sesuatu atau mengetahui/ menjumpai sesuatu yang sudah maklum.
  • Melihat, contohnya : Seseorang yang melihat keberadaan burung tertentu lantas ia merasa sial.
  • Mendengar, contohnya: Seseorang ingin melakukan sesuatu. Lantas ia mendengar seseorang berkata: aduh celaka, aduh sial. Lantas ia merasa sial karenanya.
  • Mengetahui/menjumpai sesuatu, contohnya: Merasa sial karena menjumpai beberapa hari tertentu atau bulan tertentu atau tahun tertentu. Semua hal ini tidak terlihat dan tidak terdengar naun bisa diketahui”. (Al-Qaulul Mufid : 1/259).
Diantara dalil haramnya tathayyur adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Thiyarah adalah syirik”. (Hadits riwayat Ahmad, 1/ 389, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahihul Jami’ no: 3955.)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Fiqih Ular 08Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik”.  Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?”.  Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau”. (HR. Ahmad : 2/220), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad no. 7045.  Dan Al-Imam Al-Albany dalam Silsilah Shahihah no. 1065).

.:: Hukum Makan Ular
قال النووي رحمه الله :
” مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي حَشَرَاتِ الْأَرْضِ كَالْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ وَالْجِعْلَانِ وَبَنَاتِ وَرْدَانَ وَالْفَأْرَةِ وَنَحْوِهَا : مَذْهَبُنَا أَنَّهَا حَرَامٌ , وَبِهِ قَالَ  أَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ وَدَاوُد , وَقَالَ مَالِكٌ : حلاَل ” .

Al-Imam An-Nawawy berkata: Madzhab para ulama tentang bnatang melata yag ada di bumi seperti ular, kalajengking, bonthe, kecoak, tikus dan lain-lain madzhab kami binatang tersebut adalah haram. Dan pendapat ini dikatakan pula oleh Abu Hanifah, Ahmad, Abu Dawud, dan apaun Malik berkata ia adalah binatang yang haram. (Lihat Majmu’ Syarh Muhadzdzab : 9 : 16-17 Oleh Imam An-Nawawy).

Dari sini kita memahami bahwa para ulama berselisih akan hukum mengkonsumsi ular. Mayoritas ulama mengatakan haram adapun Imam Malik bin Anas berpendapat akan halalnya ular. Namun demikian pendapat yang rajih dan yang benar adalah pendapatnya jumhur/mayoritas dengan beberapa alasan sebagai berikut:

1- Ular termasuk katagori binatang buas yang memiliki taring.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Setiap binatang buas yang bertaring haram dimakan” (HR. Muslim : 1933).
2- Ular termasik binatang fasik yang diperintahkan untuk dibunuh sebagaimana telah berlalu penyebutan hadis tentang hal ini.
3- Ular termasuk binatang yang kotor

Allah subhanahu wata’ala berfirman : Dan Allah menghalalkan bagi mereka makanan yang suci dan mengharamkan atas mereka makanan yang kotor”. (QS. Al-A’raf ; 157).

.:: Berobat Dengan Minyak Ular

Penulis pernah mendapati seorang lelaki yang berdagang minyak yang terambil dari cairan ular serta kalajengking. Konon minyak ini sangat manjur untuk mengobati berbagai penyakit kulit. Disamping juga digunakan untuk mencegah kerontokan rambut.
 وسئل علماء اللجنة الدائمة :
فيه رجل يستعمل الحيات للطب ، ويزعم أن ذلك مباح للظروف والضرورة ، وطريقة استعماله في الحية : يمسكها ويضعها في قدر سمن وهي لم تمت ، والقدر يغلي على النار ، وبعد ذلك يعالج بالسمن الذي طبخ فيه الحية ، والذي يستعمله يسكر سكرا خفيفا ، هل يجوز التداوي بهذا السمن ، إذا ثبت أنه مفيد للمرض ؟ وهل يجوز وضع الحية بالسمن وهو يغلي على النار ؟
فأجاب علماء اللجنة :
” أولا : لا يجوز وضع الحيوان وهو حي في سائل يغلي ؛ لما في ذلك من تعذيب الحيوان ، وهو منهي عنه بقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( إذا قتلتم فأحسنوا القتلة ) .. الحديث .
ثانيا : لا يجوز التداوي بالحيات ولا بالسمن الذي طبخت فيه ؛ لأنها لا يجوز أكلها على الصحيح من قولي العلماء ، وميتتها نجسة ، والتداوي بالمحرم حرام ” انتهى .
“فتاوى اللجنة الدائمة” (25 / 25-26)
Para ulama besar yang tergabung di dalam Lajnah Daimah pernah ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut:
Ada seorang lelaki menggunakan ular sebagai obat. Dan ia menyangka bahwa hal tersebut diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Cara penggunaannya adalah; Ia menangkap ular lalu meletakkannya di atas wajan padahal ular tersebut belum mati.

Kemudian ia memasak ular tersebut dan menggunakan minyak yang keluar dari ular tersebut. Orang yang menggunakan minyak ini akan mabuk sedikit. Apabila penggunaan obat seperti ini memang member manfaat, apakah diperbolehkan yang seperti itu???

Para ulama yang tergabung di dalam Lajnah Da’imah menjawab: Yang pertama tidak boleh merebus ular dalam cairan mendidih keadaan hidup. Karena ini merupakan salah satu bentuk penyiksaan. Yang seperti ini dilarang sebagaimana yang tersebut di dalam hadis: Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik.

Yang kedua tidak boleh berobat dengan ular ataupun dengan minyak rebusan ular. Karena ular adalah binatang yang tidak boleh dimakan menurut pendapat yang shahih dari para ulama. Dan bangkainya najis dan karena berobat dengan sesuatu yang haram juga haram hukumnya. (Fatawa Lajnah Da’imah ; 25/25-26).
Fiqih Ular 09Fiqih Ular 09
Namun demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang seorang lelaki yang ditunjukkan kepadanya minyak babi sebagai obat, apakah hal itu diperbolehkan bagi dia ataukah tidak ???

Beliau menjawab: “Berobat dengan memakan minyak babi tidak diperbolehkan. Adapun berobat dengan cara dioleskan kemudian dibersihkan kembali setelah itu, maka ini terbangun di atas hukum bolehnya menyentuh benda najis diluar shalat. Dan hal ini diperselisihkan para ulama. Pendapat yang benar hal tersebut diperbolehkan jika memang ada keperluan.

Sebagaimana seseorang diperbolehkan cebok dan menghilangkan benda najis dengan menyentuhnya menggunakan tangan. Dan apa yang diperbolehkan ketika memang hal tersebut dibutuhkan, maka boleh berobat dengannya.

Sebagaimana bolehnya berobat dengan memakai sutra menurut pendapat yang paling benar dari para ulama’. Dan apaapa yang diperbolehkan dalam kondisi darurat, maka tidak boleh berobat dengannya, seperti misalnya berobat dengan khomr”. (Al-Fatawa Al-Kubro : 3/8 Oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

.:: Hukum Memakai Barang Yang Terbuat Dari Kulit Ular

Hukum memakai sepatu, atau dompet, atau ikat pinggang dan lain-lain yang terbuat dari kulit ular ini juga diperselisihkan para ulama akan kebolehannya. Perselisihan ini muncul karena mereka berbeda pendapat tentang apakah proses penyamakan kulit itu bisa membuat suci semua jenis kulit atau hanya sebagian kulit saja.

Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah (lembaga riset dan fatwa Saudi Arabia) memfatwakan ketidakbolehan memakai barang-barang tersebut. Karena samak hanya bisa mensucikan kulit yang diperintahkan untuk disembelih. Demikian pula Al-Imam Ibnu Baz dan Al-Imam Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmati mereka semua-.

Yang benar (wallahu a’lam) adalah proses samak itu bisa membuat suci semua jenis kulit sebagaimana yang dikuatkan oleh Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Muslim. Setelah beliau menyebutkan semua pendapat beserta dalil-dalinya, beliau berkata:

“Pendapat yang benar adalah pendapat pertama yang mengatakan proses samak itu bisa membuat suci semua jenis kulit. Karena pendapat ini sangat kuat dalil keumumannya. Dan sebaliknya, dalil-dalil pendapat yang menyelisihinya lemah baik dari sisi makna maupun lemah dari sisi sanad”. (Tathirun Najasat Wal Intifa’ Biha : 172 Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Muslim).

Dan berikut ini adalah hadis tentang samak yang beliau maksudkan:
أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kulit apa saja apabila telah disamak maka ia telah menjadi suci”. (HR. Tirmidzy 1728, Nasa’y 4241, Ibnu Majah 3609, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahihul Jami’ : 2711).

Adapun hadis yang dijadikan argument bahwa kulit yang bisa suci dengan proses samak hanya kulit hewan yang diperintahkan untuk disembelih saja adalah sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:
دباغها ذكاتها
“Penyamakan kulit itu adalah seperti penyembelihannya”. (HR. An Nasa’y : 4243).

Sebagian orang memahami dari hadis ini bahwa kulit yang bisa menjadi suci adalah kulit hewan yang diperintahkan untuk disembelih. Adapun selainnya tidak bisa menjadi suci meski sudah disamak. Ini kurang tepat karena yang dimaksud adalah bahwa proses penyembelihan menyebabkan hewan menjadi suci sebagaimana proses penyamakan menjadikan suci. Jadi yang diserupakan di sini adalah atsar (pengaruh) dan bukan muta’atsar (obyek yang dipengaruhi). Dan hadis ini sama sekali tidak menunjukkan adanya pembatasan pada kulit tertentu.

Disamping itu dalil sucinya kulit dengan proses samak menyebutkan kulit dengan redaksi umum yang mencakup semua jenis kulit wallahu a’lam.

Lantas sebagian yang lain melarang pemanfaatan kulit binatang buas berdalil dengan riwayat Al-Miqdam ketika beliau bertanya kepada Mu’awiyyah –semoga Allah meridhai mereka semua- : Aku peringatkan kamu atas nama Allah, apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakai kulit binatang buas dan berkendara di atasnya ? Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhu menjawab : Iya”. (HR. Abu Dawud : 4131).

Hadis ini hendaknya difahami bahwa pemanfaatan kulit binatang buas yang dilarang adalah kulit yang belum disamak. Jadi ia dilarang karena kenajisannya, sehingga apabila telh disamak laranganpun sudah tidak berlaku lagi karena sudah menjadi suci. Dengan demikian tidak ada lagi pertentangan antara riwayat ini dengan keumuman riwayat pada hadis samak yang telah berlalu. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Al-Imam Asy-Syaukany rahimahullah, beliau berkata :

يحتمل أن النهي عما لم يدبغ منها لأجل النجاسة, أو أن النهي لأجل أنها مراكب أهل السرف والخيلاء
“Hadis ini memiliki kemungkinan bahwa larangan yang dimaksud adalah untuk kulit yang belum disamak karena ia najis. Atau larangan tersebut disampaikan karena hal tersebut merupakan kebiasaan orang-orang yang suka glamour dan sombong”. (Nailul Authar : 1/71 Asy Syaukany).

Pendapat bahwa proses samak mensucikan segala jenis kulit juga dipilih oleh Al-Imam Al-Albany rahimahullah. Seperti yang beliau ungkapkan sendiri ketika beliau ditanya tentang seorang lelaki yang membeli barang terbuat dari kulit babi, apakah sah shalat dengan menggunakan barang tersebut?. Dan inilah jawaban beliau:

“Pertanyaan ini memiliki dua sisi.
Yang pertama : Apakah sah shalat dengan menggunakan kulit ini ataukah tidak?
Yang kedua    : Dan jika haram, apakah boleh memberikannya kepada orang nasrani atau orang musyrik sebagai hadiah?

Aku katakan, kedua-duanya diperbolehkan. Shalatnya sah dan boleh juga menyimpan/ memakai kulit ini. Karena rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kaidah yang umum. Beliau bersabda: 

“Setiap kulit yang disamak maka ia telah suci”. Dan dalam riwayat yang lain: “Kulit apa saja yang telah disamak telah menjadi suci.”

Termasuk ke dalam hadis ini juga -ini adalah masalah yang diperselisihkan- kulit babi. Demikian juga (lebih-lebih lagi) kulit anjing, musang, harimau, singa dan yang lainnya. Selama kulit-kulit ini telah disamak maka ia telah menjadi suci.

Terlebih lagi seni samak pada masa ini jauh lebih maju, lebih modern, lebih suci dan lebih canggih jika dibandingkan samak dengan menggunakan qard dan garam atau cara zaman dulu yang klasik. Maka dari itu kulit yang dibuat menjadi jaket, atau barang lainnya ia adalah sesuatu yang suci. Boleh dipakai, dan sah shalat dengan menggunakannya, boleh juga dijadikan hadiah untuk orang kafir”. (Silsilah Huda Wan Nur, kaset no. 231, lihat transkrip dari fatwa ini di sini : http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=43919).

.:: Hukum Memelihara Ular

Ibnu Qudamah Al-Maqdisy menetapkan sebuah kaidah:
وما وجب قتله حرم اقتناؤه
”Binatang yang wajib dibunuh, haram untuk dipelihara.” (Al-Mughni : 9/373 Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy).

Demikian pula Az-Zamakhsyary mengatakan:

يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ اقْتِنَاءُ أُمُورٍ: مِنْهَا: الْكَلْبُ لِمَنْ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، وَكَذَلِكَ ” بَقِيَّةُ ” الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ، الْحَدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْحَيَّةُ
“Haram bagi mukallaf (orang yang mendapat beban syariat) untuk memelihara beberapa binatang, diantaranya : anjing bagi yang tidak membutuhkannya, demikian pula lima binatang pengganggu lainnya, seperti elang, kalajengking, tikus, gagak bercorak putih, dan ular”. (Al Mantsur fil Qawaid : 3/80).

.:: Cara Menangkal Bisa Ular

Cara menangkal bisa ular ini secara global dibagi menjadi dua:
  • Upaya Pencegahan.
Upaya pencegahan maksudnya adalah upaya yang kita lakukan sebelum kita terkena sengatan ular. Pencegahan inipun dibagi lagi menjadi dua:

1- Pencegahan Duniawiyyah: Dengan cara menjauhi lokasi-lokasi yang banyak terdapat populasi ular di dalamnya. Karena ular adalah binatang berdarah panas, maka ia cenderung memilih lokasi yang lembab untuk tinggal seperti di muara sungai, rerimbunan pohon dan yang lainnya.
2- Pencegahan Diniyyah: Dengan cara bertaqwa pada Allah dan senantiasa menjaga aturan-aturan Allah serta tidak melanggar larang-larangan-Nya. Sebagaimana hal ini diisyaratkan oleh Allah ta’ala :
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ [٢٢:٣٨]
Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat”. (QS. Al Haj : 38).
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan:

Fiqih Ular 10“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy : 2635 dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahih Sunan Tirmidzy : 2/309).

Kemudian kita juga bisa membiasakan berdzikir dengan dzikir yang diajarkan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjauhkan diri kita dari berbagai marabahaya termasuk sengatan ular.
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Fiqih Ular 11Barangsiapa mengucapkan di awal harinya atau di awal malamnya ‘Bismillahi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fis sama’ (dengan menyebut nama Allah yang dengan nama tersebut tidak akan ada apapun di langit dan di bumi mampu mebenimpakan madharat) sebanyak tiga kali. Maka tidak aka nada apapun yang mampu menimpakan kemadharatan pada dirinya di hari dan malam itu”. (HR. Abu Dawud : 5066, Ibnu Majah : 3869 dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah : 2/332 hadits no. 3120).
Penulis pernah bertanya pada seorang teman yang katanya pernah membunuh ular berbisa: “Mas kok antum berani membunuh ular, apa tidak takut digigit?”.
Beliau menjawab dengan jawaban yang membuat saya terkagum: “Saya sebenarnya juga takut ular. Tapi saya membiasakan diri mengucapkan dzikir (seperti yang tersebut dalam hadis di atas) pada pagi dan sore hari. Jadi saya yakin Allah akan menjaga saya dari sengatan ular”.
  • Upaya Pengobatan.
Upaya pengobatan terhadap orang yang terkena bisa ular juga dibagi menjadi dua:

1- Pengobatan Duniawiyyah: Upaya pengobatan maksudnya adalah upaya menangkal bisa ular yang kita lakukan setelah kita terkena sengatan ular.
Dilakukan dengan cara menyuntikkan serum yang sesuai dengan jenis ular yang menggigit. Tentunya hal ini diserahkan kepada tenaga medis yang memang mengetahui seluk-beluk serum yang dimaksud.
Bisa juga dengan menggunakan air yang dicampur garam kemudian digunakan untuk merendam bagian tubuh yang terkena gigitan ular. Akan datang dalil dari hadis Nabi tentang  air garam ini pada point kedua insya’Allah. Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menerangkan manfaat air garam ini:
Fiqih Ular 12“Di dalam garam terdapat daya tawar yang mencaharkan, yang bisa menawarkan racun serta mencaharkannya. Ketika sebuah racun itu mengandung daya panas, maka ia butuh untuk didinginkan, ditawarkan serta dikeluarkan. Jadi nabi menggabungkan antara air yang berfungsi untuk mendinginkan panasnya racun, dan garam yang berfungsi untuk menawarkan dan mengeluarkan racun. Dan ini adalah pengobatan yang paling mudah untuk ditempuh”. (At-Thibbun Nabawy : 178, lihat pula Al-Ahkam Al-Fiqhiyyah Fir Ruqyah Asy-Syar’iyyah : 245 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Jiza’).
2- Pengobatan Diniyyah
Pengobatan diniyyah ini minimalnya terbagi menjadi tiga (dengan tidak ada maksud membatasi):
  • Dengan membaca surat Al-Fatihah.
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah mendatangi seorang pemimpin kabilah yang terkena sengatan binatang berbisa. Lantas salah seorag dari mereka meruqyahnya dengan membacakan surat al fatihah. Ketika sembuh pemimpin kabilah tersebut memberikan hadiah seekor kambing. Nabi lantas bersabda : “Tidakkah kalian tahu bahwa itu adalah ruqyah. Dan kalian telah bertindak benar. Bagilah kambing itu dan berilah aku bagian”. Kemudian nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tertawa. (HR. Bukhari : 2276, Muslim : 2201).
  • Dengan air garam dan surat Al Kafirun, Al-Falaq serta An-Nas.
Fiqih Ular 13Dari hadits Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam disengat kala jengking ketika sedang shalat. Ketika sudah selesai beliau bersabda : Semoga Allah melaknat kalajengking ia tidak membiarkan orang yang shalat maupun orang lain kecuali disengatnya.
Kemudian beliau meminta air dan garam lalu mengusapnya sembari membaca Qul Ya Ayyuhal kafirun, Qul A’udzubirabbil Falaq dan Qul A’udzubirabbin Nas. (Hadis ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Silsilah Shahihah no. 48, Lihat Ahkamut Ta’amul Ma’al Jinn : 158-159 Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam).
  • Dengan air garam dan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq serta An-Nas.
Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan air garam dan membaca surat al ikhlash, al falaq dan an nas. (Lihat HR. Bukhari : 3646 dihasankan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahih Sunan Tirmidzy : 3/128 hadis no. 2829, lihat pula Al-Ahkam Al-Fiqhiyyah Fir Ruqyah : 245 Syaikh  Muhammad bin Shalih Al-Jiza’).
Wallahu ta’ala a’lam bish shawab, hanya ini saja yang bisa penulis kumpulkan semoga bermanfaat dan akhir dari seruan kami adalah anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Purworejo, 08 rabi’ul akhir 1435H/ 08 februari 2014M

(Disampaikan pada pengajian umum di masjid As-Sakinah Loano, Purworejo. Diselenggarakan oleh takmir masjid As-Sakinah dan majelis ta’lim Al-Atsari Purworejo pada hari Sabtu, 08 rabi’ul akhir 1435H/ 8 februari 2014M.)

https://assiwak.wordpress.com/2014/02/10/fiqih-ular-hukum-hukum-syariat-seputar-ular/



Ucapan Selamat pada Hari Raya Idul Fitri

Filed under: by: 3Mudilah

Apa yang mesti kita ucapkan ketika bertemu saudara kita di hari raya Idul Fitri? Adakah ucapan khusus yang diajarkan?

Taqobbalallahu minna wa minkum

Perlu diketahui bahwa telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat di hari raya di antara mereka dengan ucapan

Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).
فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh

Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.[1]
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.

وَقَالَ حَرْبٌ : سُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ قَوْلِ النَّاسِ فِي الْعِيدَيْنِ تَقَبَّلَ اللَّهُ وَمِنْكُمْ .قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، يَرْوِيه أَهْلُ الشَّامِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قِيلَ : وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ ؟ قَالَ : نَعَمْ .قِيلَ : فَلَا تُكْرَهُ أَنْ يُقَالَ هَذَا يَوْمَ الْعِيدِ .قَالَ : لَا .
Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di hari raya ‘ied (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha), apakah dengan ucapan, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak mengapa mengucapkan seperti itu.” Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.

Ada pula yang mengatakan, “Apakah Watsilah bin Al Asqo’ juga berpendapat demikian?” Imam Ahmad berkata, “Betul demikian.” Ada pula yang mengatakan, “Mengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada hari raya ‘ied.” Imam Ahmad mengatakan, “Iya betul sekali, tidak dimakruhkan.”

وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي تَهْنِئَةِ الْعِيدِ أَحَادِيثَ ، مِنْهَا ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ زِيَادٍ ، قَالَ : كُنْت مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .وَقَالَ أَحْمَدُ : إسْنَادُ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ إسْنَادٌ جَيِّدٌ .
Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya ‘ied. Di antara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari ‘ied (yakni shalat ‘ied, pen), satu sama lain di antara mereka mengucapkan, ‘Taqobbalallahu minna wa minka” Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid.
‘Ali bin Tsabit berkata, “Aku pernah menanyakan pada Malik bin Anas sejak 35 tahun yang lalu.” Ia berkata, “Ucapan selamat semacam ini tidak dikenal di Madinah.”

Diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak mendahului dalam mengucapkan selamat (hari raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang mengucapkan selamat padaku, aku pun akan membalasnya.” Demikian berbagai nukilan riwayat sebagaimana kami kutip dari Al Mughni[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”[3]

Selamat Hari Raya

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya ‘ied dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”[4]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum jabat tangan, saling berpelukan dan saling mengucapkann selamat setelah shalat ‘ied?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Perbuatan itu semua dibolehkan. Karena orang-orang tidaklah menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk pendekatan diri pada Allah. Ini hanyalah dilakukan dalam rangka ‘adat (kebiasaan), memuliakan dan penghormatan. Selama itu hanyalah adat (kebiasaan) yang tidak ada dalil yang melarangnya, maka itu asalnya boleh. Sebagaimana para ulama katakan, ‘Hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Sedangkan ibadah itu terlarang dilakukan kecuali jika sudah ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya’”[5]

Dari penjelasan di atas, berarti ucapan selamat hari raya itu bebas, bisa dengan ucapan “Selamat Hari Raya”, “Taqobbalallahu minna wa minkum” dan lainnya. Ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” pun tidak dikhususkan saat Idul Fithri, ketika Idul Adha dianjurkan ucapan semacam ini sebagaimana kita dapat melihat dalam penjelasan berbagai riwayat di atas.

Mohon Maaf Lahir Batin

Satu catatan pula yang mesti diperhatikan, tidak ada pengkhususan di Idul Fithri untuk saling maaf memaafkan. Semacam sering kita dengar tersebar ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” saat Idul Fithri. Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus dengan ucapan semacam itu. Ini sungguh salah kaprah. Idul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Waktu untuk saling memohon maaf itu luas. Ketika berbuat salah, langsung meminta maaf, itulah yang tepat. Tidak mesti di saat Idul Fithri. Karena jika dikhususkan seperti ini harus butuh dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits. Buktinya, tidak ada satu dalil yang menunjukkan seperti ini.

Minal ‘Aidin wal Faizin

Satu ucapan lagi yang keliru saat Idul Fithri, yakni ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin”. Ucapan ini dari segi makna kurang bagus. Arti dari ucapan tersebut adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”.

Ini suatu kalimat yang rancu. Kita mau kembali ke mana? Apa pada ketaatan atau maksiat? Jika mengandung dua makna seperti ini hendaknya ditinggalkan. Karena bisa jadi orang memahami yang dimaksud adalah kita kembali pada maksiat. Artinya, ibadah hanya di bulan Ramadhan saja, setelah itu sah-sah saja untuk maksiat, sah-sah saja untuk tinggalkan shalat dan ibadah wajib lainnya. Akibat ucapan keliru, berujung pada amalan yang keliru.

Satu hal lagi yang mesti dipahami, makna “Minal ‘Aidin wal Faizin” adalah sebagaimana yang kami sebutkan di atas. Dan bukan maknanya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Setiap kali ada yang ucapkan “Minal ‘Aidin wal Faizin” lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Dikira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh keliru. Ini pemahaman orang yang tidak paham bahasa Arab. Semestinya hal ini diluruskan. Makna kalimat “Minal ‘Aidin wal Faizin” adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”. Namun sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru. Sehingga sudah sepantasnya kita hindari. Ucapan yang lebih baik adalah sebagaimana telah dikemukakan di awal tulisan dan dicontohkan langsung oleh para sahabat, yakni “Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian)”.

Kami pun doakan pada para pembaca Muslim.Or.Id, taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amalan kita dan amalan kalian.

Diselesaikan menjelang shalat tarawih, 30 Ramadhan 1431 H (8 September 2010) di Panggang-Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
http://muslim.or.id/ramadhan/ucapan-selamat-pada-hari-raya-idul-fitri.html


[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.
[2] Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Darul Fikr, cetakan pertama, 1405, 2/250.
[3] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 24/253.
[4] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, Asy Syamilah, 16/129.
[5] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 16/128.

Fiqih: LAFADH-LAFADH TAKBIR HARI RAYA

Filed under: by: 3Mudilah

Secara umum, pada dasarnya lafadh takbir yang penting mengandung lafadh-lafadh pengagungan bagi Allah seperti : “ALLAHU AKBAR” atau lafadh-lafadh lainnya; hanya saja perlu diketahui bahwa lafadh-lafadh tersebut semestinya tidak menyimpang dari kaidah syar’iyyah.

Berkaitan dengan takbir hari raya (‘id), sebenarnya tidak ada satupun hadits shahih berstatus marfu’ dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bentuk  lafadh takbir untuk hari raya.[1]

Karena tidak ada hadits shahih marfu’ tentang lafadh takbir khusus maka diperlukan atsar/fatwa-fatwa ulama tentang bagaimana lafadh takbir hari raya tersebut yang tentunya tidak menyimpang dari kaidah yang telah diletakkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Adapun versi-versi lafadh takbir hari raya adalah sebagai berikut :

1). Lafadh takbir Umar, Ali, dan Abdullah bin Mas’ud :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , وَاللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah.”

Lafadh di atas dianggap sebagai riwayat dari Rasulullah dari Jalur Jabir yang diriwayatkan oleh ad Daruquthni, namun setelah diteliti para ulama, hadits tersebut sanadnya sangat lemah karena ada perawi bernama Jabir al Ja’fi yang dicela oleh Ibn Qaththan, dan Amr bin Syamr yang disebut sebagai pendusta oleh as Sa’di, dianggap lemah oleh al Fallas, dan disebut sebagai munkarul-hadits oleh al Bukhari dan Abu Hatim.[2]

Apabila lafadh di atas dianggap sebagai hadits maka itu adalah hadits yang sangat lemah, namun bila dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas’ud maka riwayat tersebut memiliki jalur periwayatan shahih mauquf yang di riwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Ibnul Mundzir juga menjelaskan bahwa lafadh tersebut berasal pula dari lafadh takbir Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib.[3] Di samping itu lafadh tersebut dipegang oleh sejumlah ulama di antaranya: an Nakhai, ats Tsauri, Ishaq, Sufyan.[4] Lafadh di atas merupakan lafadh takbir yang dipilih oleh Hanafiyah dan Hanabilah.[5]

2). Lafadh takbir Abdullah bin Mas’ud dalam riwayat lain :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , وَاللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah.”

Lafadh di atas dikatakan sebagai riwayat dari Nabi Muhammad dari Jalur Jabir dengan versi lain yang diriwayatkan oleh ad Daruquthni dan Al Khathib, namun setelah diteliti para ulama, hadits tersebut sanadnya juga sangat lemah karena ada perawi bernama Jabir al Ja’fi yang dicela oleh Ibn Qaththan, dan Amr bin Syamr yang disebut sebagai pendusta oleh as Sa’di, dianggap lemah oleh al Fallas, dan disebut sebagai munkarul-hadits oleh al Bukhari dan Abu Hatim.[6]

Lafadh takbir tersebut dikatakan juga diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dalam versi yang lain.[7]  Lafadh takbir tersebut merupakan pilihan dari Malikiyah dan Syafi’iyah.[8]

3). Menurut Syafi’iyah dan Hanafiyah dalam versi lain :

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَ هَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, aku mengagungkan Allah dengan seagung-agungnya, dan memuji Allah dengan sebanyak-banyaknya di waktu pagi dan petang, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah saja, yang mana Dia sendiri yang telah mememenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan menghancurkan pasukan musuh, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, kita hanya menyembah kepada-Nya saja dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak suka hal demikian ini.”[9]

Menurut Syafi’iyah ditambah dengan :

اَللَّهُمَّ صَلّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْصَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ذُرّيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَسَلّمْ تَسْلِيماً كثيراً”
Artinya : Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada junjungan kami Muhammad,  beserta keluarga , shahabat, pembela-pembela, dan keturunan beliau” .[10]

4). Lafadh di bawah ini juga dipegang oleh Malikiyah, dan Syafi’iyah, di samping itu dipegang pula oleh al Hasan al Bashri:

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”[11]

5). Lafadh takbir Ibn Umar   :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya lah seluruh kerajaan dan pujian, Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu”[12]

6). Lafadh takbir Abdullah bin Abbas riwayat al Baihaqi dengan sanad shahih:

 اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ وَ لِلَّهِ الْحَمْدُ , اَللهُ أَكْبَرُ وَ أَجَلُّ , اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas apa-apa yang yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita”[13]

7). Lafadh takbir Salman riwayat al Baihaqi dengan sanad shahih :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, aku mengagungkan-Nya dengan seagung-agungnya.” [14]

Kesimpulan versi takbir :

Versi lafadh takbir secara khusus untuk syi’ar hari raya tidak didapatkan dari hadits marfu’; maka, agar lafadh takbir yang digunakan tidak menyimpang dari sunnah, perlu kiranya mengambil versi-versi takbir yang memiliki sanad kuat dari para shahabat. Di antara versi-versi yang disampaikan penulis  di atas, versi lafadh yang memiliki sanad yang kuat dari shahabat ialah : versi 1 (pertama), versi 2 (kedua), versi 6 (keenam), dan versi 7 (ketujuh).

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab
Penulis : Abu Hasan Saif, S.Pd.I
https://assiwak.wordpress.com/2013/09/25/fiqih-lafadh-lafadh-takbir-hari-raya/___________________________________________________________
FOOTNOTE:
  1. Abu Malik Kamal, shahih fiqh as Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah I/603, Maktabah Taufiqiyah
  2. Muhammad Nashiruddin al Albani, Irwa’ al Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar as Sabil , Juz III , cet. 2, Beirut: al Maktab al Islami, th. 1985, hal. 124.
  3. Ibn al Mundzir, al Iqna’ , tahqiq Abdullah al Jibrin, juz I  cet. 1 th. 1408 H, hal. 110,  juga kitabnya al Ausath fi as Sunan wa al Ijma’ wa al Ikhtilaf, Juz IV (Cet. 1, Riyadh: Dar ath Thayyibah, th.  1985), hal. 303.
  4. Ibn al Mundzir, al Ausath fi as Sunan wa al Ijma’ wa al Ikhtilaf, Juz IV , cet. 1, Riyadh: Dar ath Thayyibah, th.  1985, hal. 304.
  5. Abd ar Rahman al Jaziri, Fiqh ‘ala Madzahib al Arba’ah,juz I, cet. 2, Beirut : Dārul Kutub al Ilmiyyah, 2003,  hal. 323.
  6. Muhammad Nashiruddin al Albani, Loc.Cit.
  7. Ibid., hal. 125.
  8. Kementerian Agama dan Wakaf Kuwait, al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah,  Juz  XXVII, cet. 1, Mesir : Dārush Shafwah, hal. 249.
  9. Abd ar Rahman al Jaziri, Op.Cit, hal. 324.
  10. Kementerian Agama dan Wakaf Kuwait, Op.Cit., hal. 270.
  11. Ibn al Mundzir, Loc.Cit.
  12. Ibid., hal 305.
  13. Abu Malik Kamal, op.cit., hal. 603-604.
  14. Ibid.