Ada Apa di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah?

Filed under: by: 3Mudilah

Adakah keutamaan sepuluh hari pertam bulan Dzulhijjah dibanding dengan hari-hari lainnya? Amalan apakah yang disunnahkan untuk di kerjakan diwaktu-waktu tersebut?

Ahamdulillah,

Diantara waktu-waktu yang agung adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dimana Allah Ta’ala mengutamakannya diantara hari-hari yang lain. Dari Ibnu Abbas radhiallahu”anhuma dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
 

ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﻤﻞ
ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺎﻡ
ﺍﻟﻌﺸﺮ . ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ !! ﻗﺎﻝ : ﻭﻻ
ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ
ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ ( ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ
2/457

“Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan di sepuluh hari ini (hari-hari pertama bulan Dzulhijjah). Maka para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah? ” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya namun tidak ada satupun yang kembali.” (HR. Bukhari 2/457)

Juga dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺃﺯﻛﻰ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﻭﻻ ﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮﺍ ﻣﻦ ﺧﻴﺮ ﻳﻌﻤﻠﻪ ﻓﻲ ﻋﺸﺮ
ﺍﻷﺿﺤﻰ . ﻗﻴﻞ : ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ :
ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ
ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ، ﻓﻠﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ ( ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ 1/357 ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻹﺭﻭﺍﺀ
3/398

“Tidak ada satupun amalan yang lebih bagus dan lebih besar pahalanya disisi Allah ‘azza Wa Jalla daripada amalan kebaikan yang dikerjakan di sepuluh hari bulan berkurban (Dzulhijjah).” Beliau ditanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah?” beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya dan tidak ada satupun yang kembali darinya.” (Diriwayatkan Ad-Darimy 1/357 dengan sanad hasan sebagaimana tercantum dalam Irwa’ 3/398)

Dalil-dalil diatas dan dalil yang lainnya menunjukkan akan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dibandingkan dengan hari-hari lainnya tanpa terkecuali sekalipun sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam hari di sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan dengan sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Karena dimalam itu diturunkan Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 5/412)

Oleh karena itu, seorang muslim sudah sepantasnya membuka amalan di hari pertama bulan Dzuhijjah dengan taubat yang murni kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Kemudian memperbanyak amalan-amalan shalih apapun bentuknya (tanpa mengkhususkan amal tertentu- terj) dan memusatkan konsentrasinya pada amalan berikut:

1. Puasa

Seorang muslim disunahkan berpuasa di sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam memberi dorogan untuk beramal di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sementara puasa adalah salah satu amalan yang utama. Dan sungguh Allah Ta’ala telah memilih ibadah puasa untuk diri-Nya. Sebagaimana dalam hadist qudsi Allah Ta’ala berfirman, “Semua amalan Bani Adam untuk dirinya kecuali puasa. Karena amalan ini untuk-Ku, dan aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari 1805)

Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga berpuasa di sembilan hari pertama bulan dzulhijjah. Dari Hunaidah bin Khalid dari istrinya, dari sebagian istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Ia berkata,

ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺼﻮﻡ ﺗﺴﻊ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻭﻳﻮﻡ
ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻭﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ . ﺃﻭﻝ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﻦ
ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﺧﻤﻴﺴﻴﻦ ” ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ 4/205 ﻭﺃﺑﻮ
ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ 2/462

“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam berpuasa di sembilan hari pertama bulan dzulhijjah, hari ‘Asyura, tiga hari setiap bulan dan hari senin pertama pada setiap bulan dan di dua kamis.” (Dikeluarkan oleh An-Nasai 4/205 dan Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 2/462)

2. Memperbanyak tahmid, tahlil dan takbir (takbiran)

Disunnah membaca tahmid, takbir, tahlil dan tasbih di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan mengeraskan bacaannya tatkala di masjid, di rumah, di jalan-jalan dan setiap tempat yang dibperbolehkan untuk berdzikir kepada Allah. Demikian ini dilakukan untuk menampakkan syiar ibadah, sekaligus pengumuman (bagi orang lain yang belum tahu keutamaan bulan Dzulhijjah -penj) mengagungkan Allah Ta’ala.

Mengeraskan bacaan ini hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, sementara perempuan, cukup dengan suara yang lirih.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻟﻴﺸﻬﺪﻭﺍ ﻣﻨﺎﻓﻊ ﻟﻬﻢ ﻭﻳﺬﻛﺮﻭﺍ ﺍﺳﻢ
ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻌﻠﻮﻣﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺭﺯﻗﻬﻢ ﻣﻦ ﺑﻬﻴﻤﺔ
ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ ( ﺍﻟﺤﺞ. 28/

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al Hajj: 28)

Jumhur berpendapat makna kalimat, al ayyamul ma’lumat adalah sepuluh hari pertama bulan Dzuhijjah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, “ l Ayyam Al ma’lumat yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Dalil lainnya hadits yang dibawkan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, ”Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari yang sepuluh ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir dan tahmid.” (Diriwayatkan Ahmad 7/224 dengan sanad hasan menurut Ahmad Syakir)

Adapun bacaan takbiran diantaranya kalimat: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah, wallahu Akbar walillahil hamd. Atau kalimat takbiran bacaan lainnya.

Di zaman sekarang ini membaca takbir menjadi amalan yang ditinggalkan, terutama di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, hampir tidak pernah kita dengar, kecuali dari segelintir orang. Karena itu, hendaknya takbiran ini dibaca dengan suara keras demi menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus mengingatkan orang-orang yang lalai.

Terdapat riwayat yang shahih bahwasanya Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu’anhuma mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzulhijah. Keduanya bertakbir hingga orang-pun ikut bertakbir sebagaimana beliau berdua bertakbir. Dan yang dimaksudkan “orang-orang bertakbir dengan bacaan takbir ” adalah membaca takbir secara sendirian tidak berjama’ah dengan satu suara karena takbir jama’ah ini bukan termasuk ajaran syari’at.

Sesungguhnya menghidupkan sunnah yang hampi-hampir saja dilupakan orang termasuk amalan yang mendatangkan pahala yang besar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

“ﻣﻦ ﺃﺣﻴﺎ
ﺳﻨﺔ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻲ ﻗﺪ ﺃﻣﻴﺘﺖ ﺑﻌﺪﻱ ﻓﺈﻥ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﺮ ﻣﺜﻞ
ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌﺎ (
ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ 7/443 ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﻟﺸﻮﺍﻫﺪﻩ

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku yang telah hilang sepeninggalku maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang megikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.” [Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi 7/443, hadist tersebut hadits hasan dengan syawahid (hadits penguat)]

3. Menunaikan haji dan umrah

Sesungguhnya amalan yang paling utama yang dilakukan selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah haji di Baitullah. Siapa yang Allah beri taufiq untuk menunaikan ibadah haji di rumah-Nya dan melakukan syarat-syarat serta rukun-rukun haji sebagaimana yang dituntunkan syariat maka insyaallah dia termasuk orang yang disebutkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits berikut, “Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuai surga”.

4. Berkurban

Diantara amalan shalih selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai bentuk taqarrub kepada Allah adalah dengan menyembelih hewan kurban yang baik dan yang gemuk serta menginfakkan harta dijalan Allah.

Untuk itu, bersegeralah memanfaatkan waktu dihari-hari yang agung tersebut sebelum menyesal seperti penyesalan orang lalai atas apa yang ia lakukan dan sebelum ia diminta pulang sementara belum terjawab apa yang ia tanyakan.

Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/49042
Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits

***
Artikel muslimah.or.id 

10 Awal Dzulhijjah Dan 10 Akhir Ramadhan

Filed under: by: 3Mudilah

Jika Allah bersumpah dengan nama makhluk ciptaannya, ini menunjukkan bahwa makhluk tersebut memiliki keutamaan. Ulama berselisih pendapat mengenai 10 hari yang Allah gunakan untuk bersumpah dalam surat Al-Fajr, yang dimaksud dalam ayat ini apakah 10 awal Dzulhijjah atau 10 Akhir Ramadhan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar. Dan (demi) hari yang sepuluh” (Al-Fajr: 1-2).

Pendapat pertama: 10 hari awal Dzulhijjah

Ibnu Katsir rahimahullah termasuk yang berpendapat maksud ayat adalah 10 awal bulan Dzulhijjah, beliau berkata,

والليالي العشر : المراد بها عشر ذي الحجة ، كما قاله ابن عباسٍ وابن الزبير ومُجاهد وغير واحدٍ من السلف والخلف

Yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu az-Zubair, Mujahid, dan lainnya dari kalangan kaum Salaf dan Khalaf” 1.

Memang kata-kata “malam” dalam ayat, dalam bahasa Arab bisa dimaksudnya sebagai siang hari. Karena kebiasaan orang Arab mengungkapkan hari dengan malam.
Ibnul Arabi rahimahullah berkata,

أنه أطلق على الأيام ( ليالي) لأن اللغة العربية واسعة ، قد تطلق الليالي ويراد بها الأيام ، والأيام يراد بها الليالي
Makna malam bisa dimaksudkan siang hari, karena bahasa Arab luas pemaknaannya. Terkadang disebutkan malam padahal maksudnya siang dan sebaliknya disebutkan siang maksudnya malam” 2.

Pendapat kedua: 10 hari akhir Ramadhan

Syaikh Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

وإنما يرجح القول الثاني أنها الليالي العشر الأواخر من رمضان، وأقسم الله بها لشرفها، ولأن فيها ليلة القدر
yang Rajih adalah pendapat kedua yaitu 10 akhir Ramadhan. Allah telah bersumpah dengan kemualiaannya karena padanya terdapat malam Lailatul Qadar” 3.

Pendapat ketiga: menjamak dua pendapat

Pendapat ketiga dari para ulama yaitu yang menjamak dua pendapat sebelumnya, mereka menyatakan bahwa jika siang hari awal 10 bulan Dzulhijjah lebih mulia dari pada siang hari 10 akhir ramadhan. Dan sebaliknya, 10 akhir malam Ramadhan lebih baik dari 10 awal malam Dzulhijjah. Sehingga tafsir ayat tersebut mencakup bulan Dzulhijjah dan bulan Ramadhan, yaitu 10 siang awal Dzulhijjah dan 10 malam akhir Ramadhan

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan hal ini, beliau berkata

:ليالي العشر اﻷخير من رمضان ، أفضل من ليالي عشر ذي الحجة ، و أيام عشر ذي الحجة أفضل من أيام عشر رمضان ، وبهذا التفصيل يزول اﻹشتباه ، ويدل عليه أن ليالي العشر من رمضان إنما فضلت بإعتبار ليلة القدر ، وهي من الليالي ، و عشر ذي الحجة إنما فضل بإعتبار أيامه، إذ فيه يوم النحر ، و يوم عرفة ،و يوم التروية

Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah)”4.

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafidzahullah berkata,

أنّ العشر الأيام الأوّل من شهر ذي الحجة هي خير أيام السنة على الإطلاق ، والعشر الليالي الأخيرة من شهر رمضان هي خير ليالي السنة على الإطلاق.
Sepuluh siang hari pertama bulan Dzulhijjah lebih baik dari hari-hari setahun secara mutlak dan sepuluh malam akhir bulan Ramadhan lebih baik dari malam setahun secara mutlak” 5.

Hendaknya kita bersemangat beribadah dan melakukan hal-hal bermanfaat bagi diri dan masyarakat pada waktu-waktu yang mulia ini.

***

@Desa Pungka, Sumbawa Besar
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Karya Fenomenal HAMKA , Sejarah Umat Islam

Filed under: by: 3Mudilah


Sejarah umat islam, merupakan buku yang mengupas secara detail bagaimana sejarah umat islam di negeri indonesia dan seluruh dunia, buku sejarah umat islam ini merupakan buku yang ditulis langsung oleh seorang ulama kharismatik yaitu Prof. Dr Buya Hamka, puluhan bahkan ratusan buku sudah ia tulis, dan buku sejarah umat islam ini merupakan buku karya emas karya Buya Hamka yang saat ini tidak banyak beredar di Indonesia dan buku ini dicetak di Singapura.

Buku ini juga membicarakan sejarah perkembangan umat Islam mulai dari zaman jahiliyah dan memberi penelitian menyeluruh , bermula dari zaman pra Islam, terus ke perutusan Nabi Muhammad SAW, zaman Khulafa’ Rashidun, pemerintahan Bani Umaiyah dan Abasiyah.

Buku sejarah umat islam ini kami sediakan dengan stok yang  terbatas.

Judul  Buku               : Sejarah Umat Islam
Penulis                          : Prof. Dr. Hamka
Sampul                         : Hard Cover
Harga                           : Rp 220.000 (belum termasuk ongkos kirim)

http://www.eramuslim.com/resensi-buku/resensi-buku-karya-fenomenal-hamka-sejarah-umat-islam.htm#.V8oXI6KYQo7

Kafirkah Kedua Orang Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan)

Filed under: by: 3Mudilah

Pro kontra masalah status kedua orang tua Nabi akhir-akhir ini menjadi buah bibir media sosial. Sebagai seorang muslim, mari kita semua menimbangnya dengan dalil bukan dengan perasaan semata. Mari cermati dua hadits yang merupakan landasan dasar masalah ini:

Dalil pertama:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR. Imam Muslim dalam Shahîh-nya (203).

Dalil Kedua:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ a قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ n قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِيْ أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِيْ وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِيْ أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِيْ فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Dari Abu Hurairah berkata, “Nabi pernah menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat orang yang berada di sampingnya juga turut menangis kemudian beliau bersabda, ‘Saya tadi meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun baginya (ibunya) tetapi saya tidak diberi izin, dan saya meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya (ibunya) kemudian Allah memberiku izin. Berziarahlah karena (ziarah kubur) dapat mengingatkan kematian.’” (HR. Imam Muslim dalam Shahîh-nya (976–977).

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata mengomentari hadits ini:
“Ketahuilah wahai saudaraku seislam bahwa sebagian manusia sekarang dan sebelumnya juga, mereka tidak siap menerima hadits shahih ini dan tidak mengimani kandungannya yang menegaskan kufurnya kedua orangtua Nabi. Bahkan sebagian kalangan yang dianggap sebagai tokoh Islam mengingkari hadits ini berikut kandungannya yang sangat jelas.
Menurut saya, pengingkaran seperti ini pada hakikatnya juga tertuju kepada Rasulullah yang telah mengabarkan demikian, atau minimal kepada para imam yang meriwayatkan hadits tersebut dan menshahihkannya. Dan ini merupakan pintu kefasikan dan kekufuran yang nyata karena berkonsekuensi meragukan kaum muslimin terhadap agama mereka, sebab tidak ada jalan untuk mengenal dan memahami agama ini kecuali dari jalur Nabi sebagaimana tidak samar bagi setiap muslim.
Jika mereka sudah tidak mempercayainya hanya karena tidak sesuai dengan perasaan dan hawa nafsu mereka maka ini merupakan pintu yang lebar untuk menolak hadits-hadits shahih dari Nabi. Sebagaimana hal ini terbukti nyata pada kebanyakan penulis yang buku-buku mereka tersebar di tengah kaum muslimin seperti al-Ghazali, al-Huwaidi, Bulaiq, Ibnu Abdil Mannan, dan sejenisnya yang tidak memiliki pedoman dalam menshahihkan dan melemahkan hadits kecuali hawa nafsu mereka semata.
Dan ketahuilah wahai saudaraku muslim yang sayang terhadap agamanya bahwa hadits-hadits ini yang mengabarkan tentang keimanan dan kekufuran seseorang adalah termasuk perkara ghoib yang wajib untuk diimani dan diterima dengan bulat. Allah berfirman:
الٓمٓ ﴿١﴾ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْكِتَـٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾
Alif lâm mîm. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (QS. al-Baqarah [2]: 1–3)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَـٰلًۭا مُّبِينًۭا ﴿٣٦﴾
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. al-Ahzâb [33]: 36)
Maka berpaling darinya dan tidak mengimaninya berkonsekuensi dua hal yang sama-sama pahit rasanya. Pertama: Mendustakan Nabi. Kedua: Mendustakan para perawi hadits yang terpercaya.
Dan tatkala menulis ini, saya tahu betul bahwa sebagian orang yang mengingkari hadits ini atau memalingkan maknanya dengan maka yang batil seperti as-Suyuthi—semoga Allah mengampuninya—adalah karena terbawa oleh sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan dan mencintai Nabi, sehingga mereka tidak terima bila kedua orangtua Nabi seperti yang dikabarkan oleh Nabi, seakan-akan mereka lebih sayang kepada orangtua Nabi daripada Nabi sendiri!!!” (Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah no. 2592)
Sebenarnya ucapan para ulama salaf tentang aqidah ini banyak sekali. Namun, cukuplah kami nukil di sini ucapan al-Allamah Ali bin Sulthan Ali al-Qari,
“Telah bersepakat para ulama salaf dan khalaf dari kalangan sahabat, tabi’in, imam empat, dan seluruh ahli ijtihaj akan hal itu (kedua orangtua Nabi di neraka) tanpa ada perselisihan orang setelah mereka. Adapun perselisihan orang setelah mereka tidaklah mengubah kesepakatan ulama salaf.” (Adillah Mu’taqad Abi Hanifah fi Abawai Rasul, hlm. 84).
Kalau ada yang mengatakan bahwa keyakinan/aqidah bahwa kedua orangtua Nabi di neraka termasuk kurang adab terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Kita jawab:

Beradab terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang sebenarnya adalah mengikuti perintahnya dan membenarkan haditsnya, sedang kurang adab terhadap Rasulullah adalah apabila menyelisihi petunjuknya dan menentang haditsnya. Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ ﴿١﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Hujurât: 1)

Alangkah bagusnya perkataan Syaikh Abdurrahman al-Yamani tatkala mengomentari hadits ini, “Seringkali kecintaan seseorang tak dapat dikendalikan sehingga dia menerjang hujjah serta memeranginya. Padahal orang yang diberi taufik mengetahui bahwa hal itu berlawanan dengan mahabbah (cinta) yang disyari’atkan. Wallahul Musta’an”.

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini berkata, “Termasuk kegilaan, bila orang yang berpegang teguh dengan hadits-hadits shahih disifati dengan kurang adab. Demi Allah, seandainya hadits tentang Islamnya kedua orangtua Nabi shahih, maka kami adalah orang yang paling berbahagia dengannya.

Bagaimana tidak, sedangkan mereka adalah orang yang paling dekat dengan Nabi yang lebih saya cintai daripada diriku ini. Allah menjadi saksi atas apa yang saya ucapkan. Tetapi kita tidaklah membangun suatu ucapan yang tidak ada dalilnya yang shahih. Sayangnya, banyak manusia yang melangkahi dalil shahih dan menerjang hujjah. Wallahul Musta’an” (Lihat Majalah at-Tauhîd, Mesir, edisi 3/Rabi’ul Awal 1421 hlm. 37).

***
Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi
Artikel Muslim.or.id

Api Sejarah Ungkap Kebenaran Sejarah Indonesia

Filed under: by: 3Mudilah


Sejarah memang sarat dengan kepentingan. Itu sebabnya, kesadaran sejarah dikalangan umat islam sangat rendah. Padahal, dahulu kita memiliki sejarawan-sejarawan unggul: Thabari, Mas’udi, Ibnu Hisyam, Ibnu al-Atsir, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi. Karena itu, buku yang ditulis Ahad Mansur Suryanegara ini sangat berharga untuk menjernihkan sejarah. Semoga banyak lagi sejarahwan islam yang memiliki kepedulian seperti beliau.

Benarkah Kapitan Pattimura dan Sisingamangaraja XII adalah seorang Muslim yang berjuang atas nama jihad fi sabilillah? Apakah benar RA Kartini berjuang mengatasnamakan perempuan Muslimah dengan spirit Al-Qur’an? Tepatkah hari lahir Ki Hadjar Dewantoro dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional? Apakah benar Boedi Oetomo tidak menghendaki persatuan bangsa Indonesia dan tidak mencita-citakan kemerdekaan Indonesia? Benarkah bukti yang menyatakan bahwa para petinggi Boedi Oetomo kerap menghina dan melecehkan Rasulullah saw dalam pertemuan-pertemuan mereka?

Kita perlu membaca sejarah dan belajar dari sejarah. Buku API SEJARAH karya Mansur Suryanegara sarat dengan informasi dan keteladanan dari para pejuang Muslim yang terdahulu. Buku ini baik sekali untuk dibaca dan sejarah para pejuang didalamnya sangat bermanfaat untuk diteladani oleh mereka yang masih memiliki “API” perjuangan.

Dengan membaca buku ini, Anda akan sadar bahwa sejarah Islam Indonesia telah dihilangkan dari buku-buku pelajaran sejarah.

Bila ingin memiliki, silahkan membaca di bawah ini…
Penerbit : Salamadani
Harga   Buku 1 : Rp. 120.000 (di luar ongkir)
Harga Buku 2 : Rp 140.000 (diluar ongkir)
Harga 1 Set (Buku 1 dan 2) : Rp 250,000,- (diluar ongkir)

 http://www.eramuslim.com/resensi-buku/resensi-buku-api-sejarah-ungkap-kebenaran-sejarah-indonesia.htm#.V8oLrqKYQo5

Hukum Perkataan “Aku Bergantung Padamu”

Filed under: by: 3Mudilah

Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus

Soal:

Tawakal adalah salah satu bentuk ibadah. Lalu bolehkah seseorang mengatakan “aku bergantung padamu” pada orang lain?

Jawab:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمّا بعد
Seseorang tidak boleh mengatakan “aku bergantung padamu” pada orang lain. Yang sebaiknya dikatakan adalah: “saya percayakan hal ini padamu, dan dalam urusan ini saya bertawakkal kepada Allah“. Karena tawakkal yang benar adalah menggantungkan hati pada Allah dalam menggapai suatu manfaat atau mencegah suatu mudharat, dengan kepercayaan yang penuh kepada Allah dan disertai dengan mengusahakan sebab (ikhtiar). Tawakkal dengan pengertian ini, khusus hanya ditujukan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَلُوا إِن كُنتُمْ مُؤْمِنِين﴾ [المائدة:23]
Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al Maidah: 23).

Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lain:

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْم إِن كُنتُم آمَنتُم بِاللهِ فَعَلَيهِ تَوَكَّلوُا إِن كُنتُمْ مُسلِمِين﴾ [يونس: 84]
Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri’” (QS. Yunus: 84).

Dalam dua ayat di atas, Allah Ta’ala menjadikan tawakal sebagai syarat keimanan dan keislaman.

Adapun hal-hal yang mampu dilakukan oleh seseorang, maka boleh mempercayakan hal tersebut pada orang tadi. Semisal perihal jual beli atau semacamnya, karena jual beli ini termasuk mengusahakan sebab (ikhtiar). Namun hati tidak boleh bergantung pada orang yang dipercayakan tadi dalam hal hasil yang diperoleh. Karena hanyalah kepada Allah lah kita menggantungkan hati mengenai bagaimana hasil yang diperoleh, bagaimana kemudahan yang didapat dan keberhasilan perkara yang dipercayakan tadi.

Dengan demikian, wakalah (perwakilan) merupakan bentuk mengusahakan sebab, dan tentu kita tidak menggantungkan hati pada sebab. Sudah seharusnya hati kita bergantung pada Dzat yang mentakdirkan semua sebab, yang menciptakan sebab, serta menciptakan akibat dari sebab tersebut, yaitu Allah Jalla Wa ‘Alaa.

والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا

Mereka Yang Terlahir Sebagai Pemimpin

Filed under: by: 3Mudilah

Banyak peristiwa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, empat khalifah setelah beliau, dan sejarah-sejarah umat Islam setelah mereka yang tidak hanya berhenti pada kajian sejarah. Rekam jejak mereka mengajarkan nilai. Ada kajian keilmuan yang begitu luas yang bisa dirumuskan. Terlebih dengan berkembangnya metode penelitian modern.

Kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya bisa dikaji dalam ilmu psikologi, sosiologi, leadership, politik dan hubungan internasional, bahkan kebijakan-kebijakan strategis. Di antara pelajaran menarik dari kehidupan Nabi ﷺ adalah bagaimana beliau ﷺ begitu lihai melihat potensi sahabatnya.

Beliau ﷺ sangat advance dalam memahami karakter seseorang. Kemudian memberikan peranan yang tepat kepada mereka. Beliau sosok pemimpin cerdas yang mampu memimpin para leader.

Kepemimpinan Bukan Masalah Senioritas

Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya, kepemimpinan bukan masalah senioritas. Dan beliau ﷺ berhasil menransfer pemahaman ini dengan sangat baik ke para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Sehingga mereka memiliki cara pandang (paradigma) yang sama dengan Rasulullah ﷺ.

Pertama: Kepemimpinan Khalid bin al-Walid di Perang Mu’tah.
Contoh yang menarik adalah kisah diangkatnya Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu memimpin pasukan Perang Mu’tah. Peristiwa itu hanya berselang 4 bulan setelah Khalid memeluk Islam. Ketika tiga orang panglima perang yang ditunjuk Rasulullah ﷺ gugur: Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhum, panji pasukan dipegang oleh Tsabit bin Aqram radhiallahu ‘anhu. Tsabit adalah seorang sahabat senior. Ia turut serta dalam Perang Badar. Rasulullah ﷺ bersabda tentang para sahabat yang turut serta dalam pasukan Badar:

لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ
“Mudah-mudahan Allah telah memperhatikan ahli Badr (para sahabat yang ikut perang Badar) lalu berkata, ‘Lakukan semaumu, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu’.” (HR. Bukhari, no. 3007).

Kata Tsabit bin Aqram al-Anshary, “Wahai kaum muslimin, tunjuklah salah seorang di antara kalian (untuk jadi pemimpin)!”
“Engkau,” kata para sahabat.
 
Tsabit menanggapi, “Aku bukanlah orangnya”. Maka para sahabat memilih Khalid bin al-Walid.” (Ibnu Hisyam, 2009: 533).

Kemudian Tsabit bin Aqram menemui Khalid bin al-Walid. Ia berkata, “Peganglah bendera ini wahai Abu Sulaiman (kun-yah Khalid).”

“Aku tidak akan mengambilnya. Engkaulah orang yang lebih pantas untuk itu. Engkau seorang yang dituakan. Dan turut serta dalam Perang Badar,” jawab Khalid. Artinya Khalid tahu keutamaan dan ketokohan (senioritas) Tsabit. Ia menaruh respect padanya.

“Ambillah! Aku ambil bendera ini hanya untuk menyerahkannya padamu,” perintah Tsabit tegas. Khalid pun mengambil bendera tersebut dan menjadi panglima perang (Shalabi, 2007: 248).

Dari potongan kisah ini, kita melihat para sahabat Rasulullah ﷺ memahami betul bahwa kepemimpinan bukan masalah senioritas. Orang yang pantaslah yang layak memimpin. Para sahabat hilangkan ego kesukuan yang menjadi ciri bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Dan inilah didikan Rasulullah ﷺ kepada mereka.

Kedua: Kepemimpinan Amr bin al-Ash dalam Perang Dzatus Salasil
Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu ditunjuk Rasulullah ﷺ sebagai panglima pasukan Perang Dzatus Salasil, 5 bulan setelah ia memeluk Islam. Menariknya, dalam pasukan Dzatus Salasil ini terdapat Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhuma.

Rasulullah ﷺ memanggil Amr bin al-Ash dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku ingin mengirimmu memimpin sebuah pasukan dan Allah akan memenangkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap dengan harapan yang baik agar engkau mendapatkan harta”.

Kemudian Amr menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak masuk Islam demi harta. Aku masuk Islam karena kecintaan terhadap Islam dan agar aku bisa bersama-sama Rasulullah ﷺ.”

Kemudian Rasulullah ﷺ memuji Amr, menyebutnya sebagai orang yang baik, “Wahai Amr, sungguh alangkah indahnya jika harta yang baik berada di tangan orang yang baik pula.” (HR. al-Bukhari dalam bab Adab, No. 299).

Suatu hari, Umar bin al-Khattab melihat Amr bin al-Ash sedang berjalan. Kemudian Umar mengatakan,

مَا يَنْبَغِي لأَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَنْ يَمْشِيَ عَلَى الأَرْضِ إِلا أَمِيرًا . .
“Tidak pantas bagi Abu Abdillah (Amr bin al-Ash) berjalan di muka bumi ini kecuali sebagai seorang pemimpin.” (Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir).

Di zaman kekhalifahan Umar bin al-Khattab, ia mengangkat Amr bin al-Ash sebagai gubernur Mesir.

Kepemimpinan Bukan Masalah Knowledge (pengetahuan)

Sebagian orang mengangkat orang lain menjadi pemimpin karena gelar akademik tinggi yang disandangnya. Ada pula yang mengangkat pemimpin karena pengetahuannya yang luas tentang agama. Tanpa menimbang kapasitasnya dari sisi leadership. Yang dimaksud di sini adalah kepemimpinan dalam sebuah grup, kelompok, organisasi, dan sejenisnya. Bukan kepemimpinan agama seperti yang disebutkan Alquran:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS:As-Sajdah | Ayat: 24).

Rasulullah ﷺ membedakan antara Abu Dzar al-Ghifary dengan Amr bin al-Ash dan Khalid bin al-Walid. Padahal dari sisi ke-ulamaan tentu Abu Dzar jauh lebih unggul. Dari sisi ke-islaman, Abu Dzar lebih senior. Ia adalah orang yang pertama-tama menerima dakwah Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Artinya ia memeluk Islam kurang lebih 20 tahun sebelum Khalid dan Amr. 20 tahun! Bukan waktu yang singkat.

Rasulullah ﷺ bersabda memuji Abu Dzar radhiallahu ‘anhu,

مَا أَقَلَّتْ الْغَبْرَاءُ وَلَا أَظَلَّتْ الْخَضْرَاءُ مِنْ رَجُلٍ أَصْدَقَ لَهْجَةً مِنْ أَبِي ذَرٍّ
“Bumi tak akan diinjak dan langit tak akan menaungi seorang laki-laki yang lebih benar dialeknya daripada Abu Dzar.” (HR. Ibnu Majah No.152).

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata tentang Abu Dzar,

أَبُو ذر وعاء مليء علما.
“Abu Dzar bagai sebuah wadah yang penuh dengan pengetahuan…” (Tarikh Dimasq oleh Ibnu Asakir).

Tapi Abu Dzar tidak pernah diberikan kepemimpinan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau hidup di masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan wafat di masa pemerintahan Utsman. Tidak pernah sama sekali jadi pemimpin.

Pernah sekali Abu Dzar menawarkan diri kepada Rasulullah ﷺ untuk menjadi pemimpin. Bukan karena ia tamak kepemimpinan. Tapi ia ingin lebih bermanfaat, menolong, dan berbagi untuk orang lain. Abu Dzar mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا
“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825).

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيْفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لاَ تَأَمَّرَنَّ اثْنَينِ وَلاَ تَوَلَّيْنَ مَالَ يَتِيْمٍ
“Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no. 1826).

Rasulullah ﷺ sangat mencintai Abu Dzar. Tapi beliau memberikan pesan yang begitu jelas, jika ada dua orang, dia yang jadi pemimpin bukan engkau wahai Abu Dzar.

Pelajaran:
Pertama: Rasulullah ﷺ berada di antara para pemimpin.

Kedua: Rasulullah ﷺ sangat pandai membaca potensi para sahabatnya.

Ketiga: Orang yang berilmu agama memiliki kedudukan yang istimewa. Rasulullah tidak memberikan pujian kepada Khalid sebagaimana beliau memuji Abu Dzar, “aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku”.

Keempat: Kepemimpinan itu berat dan amanah.

Kelima: Leadership adalah bagaimana seseorang mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu mencapai tujuan bersama. Terkadang hal ini tidak berhubungan dengan pengetahuan dan tingkat pendidikan. Syaratnya dia seorang muslim kemudian modal utamanya adalah integritas (jujur dan amanah).

Keenam: Ada orang-orang yang terlahir sebagai pemimpin. Ada orang-orang yang bisa dilatih jadi pemimpin. Dan ada orang-orang yang tidak bisa dilatih jadi pemimpin walaupun memiliki mentor sekelas Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar.

Ketujuh: Banyak hal yang bisa digali dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum.

Daftar Pustaka:
– Ahmad, Mahdi Rizqullah. 2012. Terj: Sirah Nabawiyah. Jakarta: Perisai Qur’an.
– Hisyam, Ibnu. 2009. Sirah Nabawiyah. Beirut: Dar Ibnu Hazm.
– ash-Shalaby, 2007. Ghazawatu ar-Rasul. Kairo: Muas-sasah Iqra.
– islamweb.net

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Agar Ramadhan Bermakna Indah

Filed under: by: 3Mudilah

Mengingat datangnya bulan Ramadhan yang sebentar lagi, maka akan kami terangkan beberapa materi yang berkaitan erat dengan bulan suci ini, sebagai upaya untuk meneladani RasulullahShallallahu'alaihi Wasallam yang senantiasa memberikan nasehat dan petuah kepada para sahabat beliau

 
persiapan-ramadhan
   
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أتاكُم رَمضانُ شَهرٌ مبارَك ، فرَضَ اللَّهُ عزَّ وجَلَّ عليكُم صيامَه ، تُفَتَّحُ فيهِ أبوابُ السَّماءِ ، وتغَلَّقُ فيهِ أبوابُ الجحيمِ ، وتُغَلُّ فيهِ مَرَدَةُ الشَّياطينِ ، للَّهِ فيهِ ليلةٌ خيرٌ من ألفِ شَهرٍ ، مَن حُرِمَ خيرَها فقد حُرِمَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah Ta’ala wajibkan kalian untuk berpuasa padanya, dibukakan padanya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahim, dan dibelenggu setansetan yang membangkang. Pada bulan tersebut, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (seseorang beribadah selama itu). Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang terhalang (dari seluruh kebaikan)”.

Takhrij singkat hadits

Hadits ini shahih. Hadits yang mulia dengan lafazh seperti ini diriwayatkan oleh an-Nasa-i (2106) dan Ahmad (12/59). Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah (1644) dari hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu. Lihat Shahih al-Jami’ (55) dan Shahih atTarghib wat Tarhib (1/241 nomor 999 dan 1000). Dan sebagian lafazh dan makna hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari (1899 dan 3277), dan Muslim (2/758 nomor 1079).

Penjelasan hadits

Berkenaan dengan lafazh hadits di atas, berikut ini kami bawakan kepada segenap pembaca; untaian mutiara nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah, yang pernah beliau sampaikan pada malam Jumat, 27 Sya’ban 1423 H, di Masjid Dzunnurrain, kota Madinah, Saudi Arabia. Dengan beberapa penjelasan dari penulis pada catatan kaki, tanpa mengurangi sedikit pun maksud dari subtansi nasehat beliau ini.

Beliau menjelaskan:
Mengingat datangnya bulan Ramadhan yang sebentar lagi, maka akan kami terangkan beberapa materi yang berkaitan erat dengan bulan suci ini, sebagai upaya untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang senantiasa memberikan nasehat dan petuah kepada para sahabat beliau, terkhusus ketika bulan Ramadhan tiba. Bulan Ramadhan benar-benar bulan yang sangat agung, satu bulan yang amat istimewa, bulan yang menjanjikan banyak pahala hingga tidak terbatas besarnya bagi orang yang menggunakannya dengan ibadah puasa dan qiyamul lail (shalat malam).
Al-Imam Bukhari (2014) dan al-Imam Muslim (1/523 nomor 760) telah meriwayatkan dari Abi Hurairah radhiallahu’anhu dan para sahabat lainnya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melaksanakan qiyamullail pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau”.

Karena itulah, bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan emas dari sekian banyak kesempatan yang sarat dengan kebaikan dan sebuah masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia. Sebagian ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim limpahan kebaikan ini. Di antaranya:
  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, (728 H) mengingatkan bahwa dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah seorang hamba sangat memerlukan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah Ta’ala. Cara memperoleh hal tersebut adalah dengan bertawakal kepada Allahl. Salah satu teladan ulama salaf, sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba, mereka tekun berdoa dan memohon kepada Allah, agar dapat menjumpai bulan Ramadhan kembali dan meminta kepadaNya agar mereka dimudahkan dalam menggali keutamaannya. Dan ini merupakan bentuk cerminan berserah diri kepada Allah1.Beliau menambahkan, dalam melaksanakan sebuah ibadah, seorang Muslim harus memperhatikan beberapa hal; dalam menjelang dan menyongsong Ramadhan, pada saat berlangsungnya, serta pasca pelaksanaannya.
    1. Hal yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakkal kepada Allah dan sematamata berharap kepada-Nya, agar senantiasa membantu dan meluruskan amalannya 2. Ibnu Qayyim rahimahullah (751 H) memberitahukan, para ulama sepakat bahwa salah satu indikasi taufiq Allah kepada hamba-Nya adalah tatkala ia mengharapkan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya. Dan (sebaliknya), salah satu ciri dari kenistaan seorang hamba adalah tatkala ia hanya bersandar pada kepercayaan dan kemampuan dirinya semata, tanpa berharap sedikitpun kepada pertolongan dan bantuan Allah3.
      Mengokohkan tawakkal kepada Allah merupakan modal utama yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah, guna menumbuhkan sikap pengakuan atas ketidakberdayaan seorang hamba dalam menunaikan ibadahnya secara sempurna, dan guna menyelamatkan diri dari kemungkinan terjerumusnya hamba tersebut ke dalam lembah kehinaan dan kenistaan, apabila ia tidak mendapat taufiq dari Sang Pencipta dalam ibadahnya. Selanjutnya, ia pun harus berdoa dengan penuh harap, supaya dapat bersua kembali dengan Ramadhan pada kesempatan yang akan datang. Juga agar Allah berkenan menolong dan meluruskan amalannya. Langkah-langkah ini termasuk amalan paling agung yang dapat mendatangkan taufiq Allah dalam menghidupi bulan Ramadhan ini (dengan melakukan berbagai ibadah).
    2. Saat pelaksanaan ibadah hingga penyelesaiannya, hal terpenting yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah ikhlas dalam beramal dan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
    3. Usai pelaksanaan ibadah, yang harus dikerjakan adalah memperbanyak kuantitas istighfar (memohon ampunan Allah) atas kelalaian dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Di samping itu, harus meningkatkan intensitas hamdalah kepada Allah yang telah memberinya taufiq. Apabila seorang insan bisa memadukan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah Ta’ala amalan tersebut akan diterima oleh Allah. Hal-hal di atas harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik-detik terakhir hayatnya, bahkan setelah seorang rampung dalam ibadahnya sekalipun! Makhluk ini tak pernah berhenti mengganggu ibadah seorang Muslim, menghembuskan keraguan serta tipu dayanya, dengan membisikkan, “Hai Fulan, engkau telah berbuat begini dan begitu, engkau telah berpuasa Ramadhan, engkau telah shalat malam di bulan suci ini, engkau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…”. Dia terus mengungkit-ungkit seluruh amalan yang telah dilakukan, hingga tumbuhlah rasa ‘ujub (bangga dan takjub) yang dapat mengantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga berakibat terkikisnya tawadhu’ (rasa rendah diri) dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Maka, sudah seharusnya kita tidak terjebak dalam jaring-jaring perangkap ‘ujub ini. Orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri dan amal ibadahnya, pada hakikatnya telah menunjukkan kenistaan dan kehinaan serta kekurangan dalam amalannya.
  2. Sebelum Ramadhan tiba, hal lain yang harus dilakukan seorang hamba adalah bertaubat kepada Allah Ta’ala. Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat, sebab seorang Muslim pasti tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Dosa hanya akan mengasingkannya dari taufiq Allah sehingga tidak kuasa untuk beramal shalih. Ini semua merupakan dampak buruk dari dosa yang diperbuatnya. Namun, jika ia mau bertaubat kepada Allah Ta’ala, maka prahara ini akan sirna. Dan Allah Ta’ala akan menganugerahkan taufiq kembali untuknya. Taubat nashuha atau taubat yang sebenar-benarnya, pada hakikatnya adalah bertaubat kepada Allah dari segala dosa. Sebagian ulama menjabarkan, taubat yang sempurna adalah taubat dari segala jenis dosa, bertekad bulat dan berniat kuat untuk tidak kembali dan tidak mengulangi dosa tersebut. Jika dosa itu bersangkutan erat dengan manusia (seperti mencuri dan yang sejenisnya); maka dia harus mengembalikannya kepada si pemilik. Ada sebuah kekeliruan yang harus diwaspadai, sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja. Ini tentu saja merupakan kebodohan! Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri serta meninggalkan maksiat tadi, seharusnya tetap ada; baik di bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan selanjutnya. Tidak dinamakan taubat yang sejati apabila seseorang bertaubat di satu waktu, kemudian ia berencana untuk melanggarnya kembali di waktu-waktu lainnya. Model taubat seperti ini jelas tidak akan dikabulkan, sebab salah satu syarat terkabulnya taubat adalah bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi kembali perbuatan dosa tadi.
  3. Sisi lain yang harus mendapatkan perhatian ekstra, bagaimana kita berusaha membentengi ibadah puasa kita dari faktor-faktor yang dapat mengurangi keutuhan pahalanya? Seperti ghibah (membicarakan aib dan kekurangan orang lain) dan namimah (mengadu domba). Ini adalah dua penyakit kronis yang berbahaya, akan tetapi sedikit sekali insan yang selamat darinya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, niscaya Allah tidak berkepentingan dengan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (puasanya)4.Ahlul ilmi berbeda pandangan tentang makna hadits tersebut. Sebagian mereka melihat bahwasanya ghibah dan namimah membatalkan pahala puasa dan tidak menyisakan sedikitpun. Dan pendapat lainnya menyatakan, ghibah dan namimah mengurangi pahala puasa dan bahkan kadang-kadang hanya tersisa sedikit, artinya ibadah puasanya tidak bermanfaat5. Orang yang mengekang lidahnya dari ghibah dan namimah ketika berpuasa Ramadhan, tanpa diiringi dengan amalan-amalan sunnah lebih baik daripada orang yang berpuasa dengan menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun tetap melakukan dua kebiasaan buruk tadi! Inilah realita yang terjadi pada mayoritas masyarakat, ketaatan yang masih bercampur-baur dengan kemaksiatan.
    Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (101 H) pernah ditanya tentang arti takwa, beliau jelaskan, “Takwa itu melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”6.
    Para ulama menegaskan, “Inilah takwa yang sejati. Adapun mencampur-adukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, ini tidak masuk dalam hakikat takwa, meskipun diiringi dengan amalan-amalan sunnah”. Oleh sebab itu, para ulama merasa heran terhadap orang yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, sementara ia masih saja aktif berbuat dosa.
    Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) menjelaskan, “Kewajiban seorang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan larangan agama. Mengekang diri dari makanan, minuman, jima’, sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal yang yang dibolehkan. Sementara itu, ada larangan-larangan yang tidak boleh kita langgar, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci, larangan tersebut tentunya menjadi lebih tegas”. Maka, sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang (pada dasarnya) dibolehkan seperti makan dan minum, namun tidak merasa berat dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan pada sepanjang masa; seperti ghibah, namimah, mencaci, mencela, mengumpat. Semua ini tentunya menggugurkan ganjaran puasa.
  4. Hendaknya orang yang berpuasa memprioritaskan amalan faraidh (yang wajib-wajib). Aktifitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan ialah mendirikan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid (bagi laki-laki), dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertinggal takbiratul ihram. Dalam suatu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa melaksanakan shalat empat puluh hari secara berjamaah dan ia mendapati takbiratul ihram, ditulis baginya dua jaminan kebebasan, bebas dari api neraka dan bebas sifat nifaq (kemunafikan)”. Hadits ini shahih7.Seandainya kita ternyata termasuk orang-orang mufarrith (banyak menyia-nyiakan waktu untuk beramal shalih), amalannya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjamaah di masjid serta berusaha sesegera mungkin berangkat menuju masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga faraidh (kewajiban) di bulan Ramadhan adalah suatu ibadah dan taqarrub yang paling agung di sisi Allah.\ Namun, ada satu hal yang sangat memprihatinkan, ada orang yang berapi-api untuk melaksanakan shalat tarawih, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun amat disayangkan, ternyata ia tidak menjaga shalat lima waktunya dengan berjamaah. Bahkan ia mengutamakan tidur hingga melewatkan shalat wajib, dengan dalih sebagai persiapan fisik untuk shalat tarawih! Ini merupakan suatu kebodohan dan pelecehan terhadap kewajiban! Sungguh jika ia hanya mendirikan shalat lima waktu saja secara berjamaah bersama imam, tanpa ikut shalat tarawih dalam satu malam; hal itu jauh lebih baik daripada ia mengerjakan shalat tarawih, namun berdampak menyia-nyiakan kewajiban shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata terhadap shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang Muslim itu dapat menggabungkan antara keduanya, memberikan perhatian khusus terhadap kewajiban (shalat lima waktu), kemudian melangkah menuju amalan sunnah seperti shalat tarawih dan yang lainnya8.
  5. Setiap Muslim, di bulan berkah ini hendaknya berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan lailatul qodar. Sebagaimana tuntunan hadits Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qodar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan9.
    Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap Muslim menyingsingkan lengan bajunya untuk mencarinya dengan memperbanyak amal ibadah dengan sungguh-sungguh. As-Salafush Shalih berusaha meraih malam ini pada malam ke-21, sebagian yang lain malam ke-23, sebagian yang lain malam ke-27, sebagian yang lain mencari pada malam ke-24, dan hampir-hampir di semua malam-malam ini (pada 10 hari terakhir) ada pendapat ulama yang berkaitan dengan lailatul qodar10.
    Logis sekali jika kita berusaha dengan maksimal pada 10 hari ini menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah sehingga kita bisa meraih pahala dari-Nya. Dengan hanya sedikit amalan, kita bisa meraih pahala yang begitu besar! Lantaran orang yang beramal di malam lailatul qodar ini akan menyamai amalan ibadah selama 1000 bulan. Kalau ada orang tidak berusaha mencarinya kecuali pada satu malam tertentu saja dalam setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qodar jatuh pada tanggal ini atau itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan pernah sama sekali mendapatkan keutamaan tersebut. Dan selanjutnya, mungkin hanya penyesalan yang ada.
    Sekali lagi, sepantasnya setiap Muslim beramal dan beribadah di setiap malam sepuluh terakhir itu seraya berkata di dalam jiwanya, “Malam ini adalah malam lailatul qodar”. Andai dugaanya melesat, dia perlu mengingat bahwa sesungguhnya malam itu adalah termasuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, malam-malam yang paling utama dalam bulan Ramadhan. Sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (728 H) berpendapat bahwa 10 hari terakhir di bulan Ramadhan lebih afdhal (utama) dari sepuluh malam pertama di bulan Dzulhijjah11.
Wallahu A’lamu bish Shawab.
***
Penulis: Ust. Arief Budiman, Lc.
Artikel Muslim.or.id
  1. Dalam kitab Wazhaifu Ramadhan, karya Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim al-Hanbali (1392 H), pada halaman 11 dan 74; disebutkan bahwa Ma’la bin Fadhl rahimahullah dan sebagian ulama Salaf mengatakan: Mereka (para Salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah pertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa selama enam bulan (pula) agar Allah menerima amal ibadah mereka 
  2.  Lihat Majmu’ al-Fatawa (8/528), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) 
  3.  Lihat Madarijus Salikin Baina Manazili Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’in (8/528), karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H) 
  4. HR al-Bukhari (1903 dan 6057) dan lain-lain 
  5.  Lihat Minhatul ‘Allam Syarhu Bulughil Maram (5/38-39), karya Abdullah al-Fauzan hafizhahullah 
  6.  Lihat Jami’ al-Ulumi wal Hikam fi Syarhi Khamsina Haditsan min Jawami’il Kalim, halaman 296, karya Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) 
  7.  HR at-Tirmidzi (241), dan lain-lain. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al Jami’ (2/1089), Shahih at-Targhib (1/98), Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (4/628 nomor 1979) dan (6/314 nomor 2652) 
  8.  Hal yang demikian itu, karena dalam syariat Islam; ibadah yang wajib lebih diutamakan dan lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah yang sunnah, sehingga harus lebih didahulukan. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu dalam Shahih al-Bukhari (6502) dan lain-lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berkata, Barangsiapa yang mengadakan permusuhan terhadap wali-Ku, sungguh Aku telah nyatakan perang dengannya. Dan tidak ada sesuatu pun yang dijadikan oleh hamba-Ku untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku, yang lebih Aku cintai dari hal-hal yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hambaku senantiasa ber-taqarrub kepada-Ku dengan nawafil (ibadah-ibadah yang sunnah), hingga (akhirnya) Aku pun mencintainya. Maka, jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya yang ia berusaha dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan dia, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku lindungi dia” 
  9.  HR al-Bukhari (1782), Muslim (2/917 nomor 1256), dan lain-lain 
  10.  Lihat Tafsirul Qur-anil ‘Azhim (8/447), karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (774 H) 
  11.  Lihat Majmu’ al-Fatawa (25/287), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) 

Soal Kekayaan: Antara Yahudi dan Kita (1)

Filed under: by: 3Mudilah


meyer-amschel-rothschild112 

Dalam sebuah pertemuan di salah satu lantai atas gedung pencakar langit di kawasan segitiga emas Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu, seorang teman dengan kesal berkata jika umat Islam saat ini benar-benar tidak berdaya menghadapi perang informasi, di mana musuh—dalam hal ini kaum kafirin yang dimotori Zionis, telah begitu sukses menempelkan stigma teroris pada umat Islam.

“Coba lihat, kita tidak punya media massa yang besar yang sanggup menandingi mereka. Kita tidak punya stasiun teve, tidak punya jaringan suratkabar yang kuat, tidak punya majalah yang mendunia, kita benar-benar lumpuh!” ujarnya berapi-api.

Mantan presiden direktur sebuah perusahaan internasional yang berkedudukan di Jakarta ini dengan wajah yang dipenuhi kegeraman melanjutkan, “Sekarang ini, semua media massa elektronik, kabel, satelit, dan sebagainya dikuasai Yahudi. Kita mana?”

Aku tersenyum kecil dan bilang jika umat Islam juga banyak yang memiliki media massa termasuk stasiun teve. Di negeri ini, hampir semua stasiun teve, juga jaringan media massa cetak seperti suratkabar, dimiliki oleh orang Islam.

Sahabatku itu tertawa sedih, “Ya, mereka Islam cuma di KTP doang. Tapi kelakuannya Zionis semua…”

Kali ini senyum aku jadi lebih lebar. Aku tidak mau mendebat sahabatku ini. Dia memang kerap menggeneralisir, namun pergaulannya sudah mendunia, dan dia tahu betul siapa-siapa yang menjadi kaki tangan Zionis di negeri ini. Dia kemudian secara panjang lebar bercerita tentang perbedaan antara orang-orang Yahudi yang kaya raya dengan orang-orang Islam yang kaya raya.

“Setelah saya menceritakan semua ini, kamu akan bisa mengerti mengapa kegiatan misi mereka bisa melanglang buana ke seluruh pelosok dunia, ke tempat terpencil sekali pun, mengapa mereka bisa mendanai jutaan kegiatan riset ke seluruh tempat di dunia, mengapa dananya selah tak terbatas, dan mengapa orang-orang Islam di dunia tidak mampu melakukan itu semua sekarang ini,” ujarnya bersemangat. Aku hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. Siap mendengarkan apa yang hendak dia ceritakan.

Keluarga Rothschild

Sir Meyer Amschell Rothschild merupakan sesepuh gerakan Zionis Yahudi Dunia. Dialah pendiri dari Dinasti Rothschild yang sepanjang sejarah dunia bergerak di belakang layar namun amat sangat berkuasa atas segala sesuatunya.

 

Rothschild adalah sesepuh Zionis Yahudi yang juga sesepuh dari kelompok Yahudi Talmudian, di mana ritual-ritual sihir warisan Firaun bernama Kabbalah dipraktekkan sampai sekarang. Rothschild dalam bahasa Jerman mempunyai arti sebagai “Tameng Merah”. Bahasa Inggrisnya “Red Shield”.

Dinasti Rothschild yang melegenda dan sangat berkuasa ini berawal dari sejarah Eropa di abad ke-18, dengan kelahiran seorang bayi Yahudi Bavaria (Jerman) yang diberi nama Mayer Amshell Bauer.
Mayer Amshell Bauer lahir tahun 1743 di sebuah perkampungan Yahudi di Frankfurt, Bavaria.

Ayahnya bernama Moses Amschell Bauer, berprofesi sebagai lintah darat (rentenir) dan tukang emas yang berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari kota yang satu ke kota lainnya. Bakat Moses sebagai rentenir kelak akan diteruskan dan dikembangkan oleh anak-cucunya.

Kelahiran Mayer membuat Moses menghentikan bisnis ‘nomaden’nya dan menetap di sebuah rumah agak besar dipersimpangan Judenstrasse (Jalan Yahudi) kota Frankfurt. Di rumah itu, Moses membuka usaha simpan-pinjam uangnya. Di pintu masuk kedai renten-nya, Moses menggantungkan sebuah Tameng Merah sebagai merk dagangnya: Rothschild.

Anak pertamanya ini, Mayer Amshell, menunjukkan kecerdasan yang tinggi. Dengan tekun Moses mengajari Mayer segala pengetahuan tentang bisnis pinjam-meminjam uang. Moses juga sering menceritakan pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai sumber. Moses sebenarnya ingin menjadikan Mayer sebagai pendeta Yahudi. Namun ajal keburu menjemputnya sebelum sang anak tumbuh dewasa.

Sepeninggal ayahnya, Mayer sempat meneruskan usaha itu di rumah. Namun tidak lama kemudian Mayer ingin belajar lebih mendalam tentang bisnis uang. Akhirnya ia bekerja di sebuah bank milik keluarga Oppenheimer di Hanover. Di bank ini, Mayer dengan cepat menyerap semua aspek bisnis sistem perbankan modern. Kariernya pun melesat, bahkan sang pemilik bank yang terkesan dengan Mayer menjadikannya sebagai mitra muda dalam kepemilikian bank tersebut.

Setelah merasa cukup banyak menimba ilmu tentang bisnis perbankan, Mayer kembali ke Frankfurt untuk meneruskan usaha ayahnya yang sempat dilepaskannya untuk beberapa waktu. Mayer telah berketetapan hati, bisnis uang akan dijadikan sebagai bisnis inti keluarga ini.

Ia akan mendidik anak-anaknya kelak dengan segala pengetahuan tentang bisnis penting tersebut dan menjadikannya keluarga besar penguasa bisnis perbankan Eropa dan juga dunia. Salah satu langkah yang diambil Mayer adalah dengan mengganti nama keluarga ‘Bauer’ yang dalam bahasa Jerman berarti ‘Petani’ dengan merk dagang usahanya, yakni ‘Tameng Merah’ (Rothschild). Mayer sendiri memakai gelar Rothschild I.

Berkat kepiawaiannya, usaha rumahan ini berkembang pesat. Rotshchild I mulai melobi kalangan istana. Orang yang pertama ia dekati adalah Jenderal von Estorff, bekas salah satu pimpinannya ketika masih bekerja di Oppenheimer Bank di Hanover. Rothschild I mengetahui benar, sang jenderal memiliki hobi mengumpulkan koin-koin kuno dan langka. Dengan jeli Rothschild memanfaatkan celah ini untuk bisa dekat dengan sang jenderal. Cara ini kelak akan menjadi salah satu dasar lobi bisnis dalam ilmu marketing dunia yang juga disinggung oleh penulis-penulis motivasi dunia seperti Napolen Hill dan D.J. Schwartz dalam membina hubungan dengan orang lain.

Untuk menambah perbendaharaan koin-koin kuno dan langka, Rotshchild menghubungi sesama rekannya, orang Yahudi, yang dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan benda-benda tersebut. Sambil membawa barang yang sangat diminati Jenderal von Estorff, Rothschild I menemui sang jenderal di rumahnya dan menawarkan semua koin itu dengan harga sangat murah.

Jelas, kedatangan Rotshchild disambut gembira sang jenderal. Bukan itu saja, rekan-rekan dan teman bisnis sang jenderal pun tertarik dengan Rothschild dan kemudian jadilah Rotshchild diterima sepenuh hati dalam lingkaran pertemanan dengan Jenderal von Estorff.

Suatu hari, tanpa disangka-sangka, Rothschild I dipertemukan oleh Jenderal von Estorff kepada Pangeran Wilhelm secara pribadi. Pangeran ternyata memiliki hobi yang sama dengan sang jenderal.
Wilhelm membeli banyak medali dan koin langka dari Rotshchild dengan harga yang teramat murah. Inilah kali pertamanya seorang Rotshchild bertransaksi langsung secara pribadi dengan seorang kepala negara.

Dari perkenalannya dengan Wilhelm, terbukalah akses Rothschild untuk membuat jaringan dengan para pangeran lainnya. Untuk membuat pertemanan bisnis menjadi pertemanan pribadi, Rotshchild menulis banyak surat kepada para pangeran yang berisi puji-pujian dan penghormatan yang begitu tinggi atas kebangsawanan mereka.

Rothschild juga royal memberikan hadiah dalam berbagai kesempatan yang ada. Rothschild kemudian memohon agar mereka memberi perlindungan kepadanya. Pada tanggal 21 September 1769, upayanya membuahkan hasil. Pangeran Wilhelm dengan senang hati memberikan restu atas kedainya.

Rothschild pun memasang lambang principalitas Hess-Hanau di depan kedainya sebagai lambang restu dan perlindungan Sang Pangeran. Lambang itu bertuliskan huruf emas dengan kalimat, “M.A.Rothschild. Dengan limpahan karunia ditunjuk sebagai abdi istana dari Yang Mulia Pangeran Wilhelm von Hanau.” [bersambung/rz]

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/soal-kekayaan-antara-yahudi-dan-kita-1.htm#.Vzqf6uSYQo5

DUNIA LEBIH JELEK DARIPADA BANGKAI KAMBING

Filed under: by: 3Mudilah

Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara, fana, dan akan hancur. Kehidupan dunia ini hanyalah permainan, senda gurau, kesenangan yang memukau, mempesona dan menipu manusia.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam membuat perumpamaan bahwa dunia ini lebih jelek dan lebih hina daripada bangkai kambing. Dunia tidak ada harganya meskipun hanya seberat sayap nyamuk. Kesenangan dunia itu hanya sedikit dan sebentar, sedangkan akhirat itulah yang kekal Abadi.

 
http://www.pustakaattaqwa.com/product/dunia-lebih-jelek-daripada-bangkai-kambing/ 

Download Kitab Al-Kabair

Filed under: by: 3Mudilah


Kitab ini merupakan kitab karangan Imam Adz-Dzahabi yang memuat 70 dosa besar yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta penjabarannya. Dalam Kitab ini disebutkan judul bab, lalu firman Allah ta’ala, kemudian menyebutkan satu hadits atau lebih untuk membuktikan bahwa perbuatan ini adalah dosa besar, dan terkadang juga disebutkan ucapan sebagian salafus shalih.
70 dosa besar yang dibahas, beberapa diantaranya yaitu Menyekutukan Allah (syirik), Membunuh orang lain, Sihir, Meninggalkan sholat, Menolak membayar zakat, Durhaka kepada kedua orang tua, Memakan riba, dan sebagainya.
Jika anda tertarik untuk membacanya, silahkan DOWNLOAD DI SINI
 
http://annafidakwah.blogspot.co.id/2016/03/download-kitab-al-kabair.html
 

Ada Apa Dibalik Mundurnya PM Ahmet Davutuglo (Momentum 100 Tahun Kebangkitan Turki)

Filed under: by: 3Mudilah


turki leader 

Eramuslim.com – •Pada Kamis 5 Mei, Perdana Menteri Ahmed Davutoglu menyatakan mundur dari posisi kepala pemerintahan Turki atau PM Turki.

•Davutoglu menambahkan bahwa ia juga akan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum AKP dan tidak akan mencalonkan diri lagi dalam kongres AKP yang akan digelar pada tanggal 22 Mei.
•Di balik semua hiruk pikuk konstelasi politik di Turki saat ini dengan berbagai analisis yg muncul, sebenarnya ada masalah yang jauh lebih krusial yang menyebabkan Erdogan dan Davutoglu secara alamiah harus berpisah jalan.
•Sebab tujuh tahun lagi dari sekarang sudah tahun 2023.
•Sebagaimana selalu didengung-dengungkan dalam setiap kampanye AKP di setiap Pemilu Turki dalam jargon ‘TURKIYE HAZIR HEDEF 2023’.
•Dan tujuh tahun adalah fase krusial yang juga sangat pendek tenggang waktunya apalagi seraya terus berpacu dengan Zionis Yahudi.
•Sebagaimana 1923, Freemason Yahudi pula melalui Kemal Pasha, seorang Yahudi Dunamah, meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani.
•Maka tidak diragukan lagi mereka juga akan mencoba dgn segala cara untuk menggagalkan Kebangkitan Kembali Khilafah Turki Utsmani dalam paradigma modern.
•Sementara menurut Erdogan tahun-tahun menjelang 2023 adalah ‘crucial time’ menuju berakhirnya masa 100 tahun perjanjian Lausanne (1923).
•Perjanjian Lausanne tahun (1923) adalah perjanjian final mencakup Perang Dunia I. Perjanjian tersebut ditanda tangani oleh perwakilan Turki di satu sisi (yang menerima suksesi dari kekaisaran Ottoman)
•Dengan disisi lain, negara-negara sekutu pemenang PD I antara lain: Inggris, Perancis, Italia, Jepang, Yunani, Rumania, Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia (Yugoslavia).
•Perjanjian tersebut ditandatangani di Lausanne Swiss pada 24 Juli 1923 setelah sebelumnya berlangsung konferensi selama 7 bulan.
•Perjanjian tersebut menetapkan batas-batas negara modern Turki. Turki tidak lagi boleh mengklaim provinsi-provinsi Arab sebagai bagian dari wilayahnya.
•Kemudian mengakui kepemilikan Inggris atas Cyprus dan kepemilikan Italia atas Dodecanese.
•Pihak sekutu juga menuntut agar pemerintah Turki melindungi kaum Kurdistan Turki dan batas teritorial bagi warga Turki di Armenia.
•Dalam perjanjian Lausanne tersebut juga diabaikan klaim wilayah yang berada di bawah pengaruh Turki dan menetapkan pengawasan atas perekonomian Turki dan angkatan bersenjatanya.
•Selat Bosporus di Turki yang terletak di antara laut Aegea dan laut Hitam dinyatakan terbuka bebas bagi semua pelayaran. Jadi tidak ada otoritas penuh Turki atas selat Bosporus.
•Berakhirnya perjanjian Lausanne pada tahun 2023 jelas akan sangat berdampak bagi kebangkitan kembali 100 tahun Turki sejak keruntuhan di tahun 1923.
•Sebab Turki kemudian menjadi berdaulat penuh atas wilayah-wilayahnya, memiliki otoritas penuh atas selat Bosporus, memiliki otoritas pengelolaan sumber daya alam serta perekonomiannya dan juga militernya.
•Berakhirnya perjanjian Lausanne (1923-2023) adalah momentum kebangkitan kembali 100 tahun Turki yang didengung-dengungkan selama ini dengan kalimat: ‘TURKIYE HAZIR HEDEF 2023’.
•Selain itu berakhirnya perjanjian 100 tahun Lausanne jelas berdampak secara langsung pada cita cita menegakkan kembali ‘Khilafah Islamiyah in new paradigm” atau bahkan yang disebut Erdogan sebagai “The Crusade War in new paradigm”.

A masked member of Hamas stands in front of a banner depicting Turkey's Prime Minister Tayyip Erdogan during a protest in Central Gaza Strip June 4, 2010, against Israel's interception of Gaza-bound ships. Israeli marines stormed a  Turkish aid ship bound for Gaza on Monday and at least nine pro-Palestinian activists were killed, triggering a diplomatic crisis and an emergency session of the U.N. Security Council. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa (GAZA - Tags: POLITICS CIVIL UNREST)

•Mengingat jangka waktu yang semakin dekat dengan tahun kebangkitan 2023 itulah, persoalan perbedaan paradigma & derap langkah antara Erdogan dan Davutoglu menjadi sebuah masalah serius.
•Erdogan jg meyakini bahwa sistem presidensil adalah lebih kompatibel dengan Khilafah Turki versi modern.
•Selain itu Erdogan menganggap rakyat Turki harus memperlihatkan mental khilafah dan tdk gentar menghadapi konspirasi Barat & Zionis yg ingin menghadang kebangkitan kembali 100 thn Turki
•Presiden Erdogan menganggap ada intervensi asing yang kembali memicu pergolakan separatis suku Kurdi sehingga harus dihadapi dengan tegas.
•Berulang kali meledaknya bom-bom bunuh diri yang ditengarai dilakukan baik oleh ISIS maupun suku Kurdi separatis harus dihadapi dengan tegas melalu operasi militer karena dianggap dapat menghambat realisasi kebangkitan kembali 100 tahun Turki di 2023.
•Sebaliknya Erdogan juga tidak lagi segan-segan untuk menunjukkan pembelaannya pada Palestina dan Suriah dengan menampung 3 juta pengungsi Suriah, mengatasi krisis migrasi Eropa dengan imbalan rakyat Turki memperoleh bebas visa ke seluruh negara Uni Eropa.
•Presiden Turki juga dengan terang-terangan membangun poros Turki-Saudi dan Qatar dalam membela kepentingan Muslim Sunni yang mengalami pergolakan pasca gerakan kontra Arab Spring dari Barat dan juga Iran.
•Oleh karena itu terlalu dangkal bila melihat pecah kongsinya atau kemitraan Erdogan dan Davutoglu hanya karena dipicu sebuah tulisan provokatif di blog berupa upaya adu domba antara kedua tokoh terpenting di Turki saat ini.
•Terlalu sderhana pula bila mengira persoalan ini hanya semata-mata karena masalah pertarungan di parlemen untuk mengubah sistem pemerintahan Turki dari sistem parlementer ke sistem presidensil.
•Yakni bahwa Erdogan menekankan urgensi amandemen konstitusi untuk mengubah sistem parlementer menjadi sistem presidensil, sementara Davutoglu menyatakan hal tersebut tidak prioritas karena dapat menyebabkan gejolak politik.
•Demikian pula persoalan penyikapan terhadap pemberontakan separatis Kurdi, yakni bahwa Davutoglu menekankan negosiasi dan cara persuasif, sementara Erdogan menekankan sudah saatnya melakukan operasi militer terhadap pemberontak Kurdi.
•Begitu pula perbedaan pandangan dan cara penyikapan terhadap persoalan ISIS dan Krisis Imigrasi terkait 3 juta pengungsi Suriah yang berada di Turki. Davutoglu senantiasa mempertimbangkan diplomasi dan pencitraan Turki sebagai negara sekuler atau paling tdk Islam moderat sementara kecenderungan Erdogan justru smakin mnampakkan karakter islamisnya dan menunjukkan pembelaannya pada dunia Islam tanpa mempertimbangkan pandangan Barat.
•Oleh karena itu yang perlu dilihat adalah bahwa core problemnya atau masalah sesungguhnya terletak pada perbedaan paradigma dan tidak adanya shared vision antara Erdogan dan Davutoglu dalam melihat momentum kebangkitan 100 tahun Turki.
•Ternyata kebersamaan sebagai mitra antara Erdogan dan Davutoglu dalam arena politik yang bahkan Davutoglu memulai karir politiknya dengan menjadi kepala penasehat Erdogan tidak cukup untuk menyamakan masalah mental model dan paradigma yang sudah mendarah daging.
•Upaya Erdogan untuk mengkader dan mempromosikan Ahmed Davutoglu bahkan dipersiapkan menjadi penerusnya ternyata terbentur oleh perbedaan banyak hal yang mendasar.
•Davutoglu bukanlah kader inti gerakan dakwah yang melahirkan AKP. Beliau seorang Doktor politik lulusan universitas paling bergengsi di Turki yakni Bosporus University, akademisi, politisi dan birokrat
yang dengan sendirinya memiliki mental akademisi dan birokrat yang sedapat mungkin menghindari konflik.
•Sementara Erdogan adalah seorang lulusan madrasah, seorang sarjana kampus Islam ‘Marmara University’, mjd kader inti gerakan dakwah harakah islamiyah Milli Gorus yg didirikn oleh murabbinya Necmettin Erbakan. Sebuah gerakan yang terilhami oleh gerakan Islam ‘main stream’ Ikhwanul Muslimin.
•Erdogan memiliki agenda yang jelas sejak awal yakni memunculkan kembali Khilafah islamiyah di tempat di mana reruntuhan Khilafah itu berada.
•Erdogan adalah kader islamis militant di masa partai Refah yang dipenjara karena membaca puisi relijius.
•Ia juga berpidato lantang bahwa seorang Muslim tidak mungkin menjadi sekularis.
•Erdogan menganggap jalan demokratisasi di Turki selama ini adalah sebuah strategi dan tetap kuat cita cita mendirikan kembali khilafah islamiyah di Turki.
•Jelas Erdogan memiliki mental petarung, pejuang yang tidak mudah menyerah dan tidak bisa ditakut-takuti.
•Perbedaan starting point dan paradigm tersebut ternyata menyebabkan mereka berada di persimpangan jalan dalam penyikapan prospek kebangkitan 100 tahun Turki atau kelahiran kembali khilafah Turki.
•Erdogan maupun Davutoglu memiliki paradigma masing-masing tentang kejayaan Turki.
•Dengan kata lain Erdogan dan Davutoglu tidak memiliki shared vision tentang Kebangkitan 100 tahun Turki.
•Sifat dakwah yang ofensif dan progresif (Q.S 48: 28, 9:33, 61:9) yang dimiliki Erdogan sebagai seorang kader harakah tidak dimiliki oleh Davutoglu, seorang birokrat konservatif yang cenderung ‘safety player‘.
•Beda gaya kepemimpinan; Erdogan memiliki gaya kepemimpinan yang kuat tegas (dominant dan influence). Erdogan menganggap situasi yang berat saat ini harus dihadap dengan kepemimpinan yang kuat dan tegas.
•Oleh karena itu nampaknya di Kongres 22 Mei mendatang besar kemungkinannya Prof Nu’man Kurtulmus, Wakil PM Turki yang akan menggantikan Davutoglu.
•Kurtulmus, sama halnya dengan Erdogan adalah para mutarobbi almarhum Necmettin Erbakan. Keduanya adalah kader inti gerakan dakwah di Turki.
•Kebersamaan mereka berdua sudah sejak sebagai anggota gerakan Islam Milli Gorus, kader Milli Slamet Parti, Refah Parti dan Fazilet Parti.
•Kurtulmus dan Erdogan ‘berpisah’ karena menempuh strategi yang berbeda, namun pada hakikatnya tetap memiliki cita-cita dan hamasah yang sama.
•Erdogan bersama Abdullah Gull dan Huseyin Kansu mendirikan AKP, sementara Kurtulmus tetap di bawah bimbingan Erbakan mendirikan Saadet Parti yang kini nasib elektabilitasnya tinggal 0,8 % di Pemilu 2015.
•Kurtulmus kemudian di 2011 berpisah dengan Erbakan dan mendirikan HAS Parti yang hanya memperoleh 0,8% di Pemilu 2011 dan Saadet Parti 1,2%.
•Kurtulmus kemudian bergabung dengan AKP dan menjadi wakil PM pada 2014.
•Dan nampaknya Kurtulmus diprediksi akan menjadi PM Turki di 2016 ini menggantikan Davutoglu.
•Maka persoalan ‘gap’ paradigm dan mental model akibat tidak adanya ‘shared vision’ atau visi bersama segara teratasi, karena baik Erdogan maupun Kurtulmus lahir dari rahim harakah yg sama.
•Semoga Turki kembali mampu melewati turbulensi ini dan tetap focus pada pencapaian kelahiran kembali khilafah islamiyah dalam paradigma baru.
•Semoga Allah melindungi dan membimbing Turki untuk kembali meraih kejayaan Islam bagi umat Islam sedunia.
__
*Dari Twitter penulis @sitaresmi02
Oleh: Dr Sitaresmi S. Soekanto (Doktor Politik UI)
(Sumber: portalpiyungan)

http://www.eramuslim.com/berita/analisa/ada-apa-dibalik-mundurnya-pm-ahmet-davutuglo-momentum-100-tahun-kebangkitan-turki.htm#.VzqQ5uSYQo5

Wanita-wanita di Balik Layar Sejarah

Filed under: by: 3Mudilah

Jantung Buya Hamka terasa berdebar-debar menanti apa yang akan diucapkan istrinya, Ummi Siti Raham, ketika diminta berpidato. Ummi yang belum pernah naik mimbar menyanggupi permintaan pembawa acara untuk berpidato pada sebuah pengajian di suatu tempat di Makassar tahun 1967.

“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” dengan lancar Ummi membuka sambil tetap tersenyum.
“Saya diminta berpidato tapi sebenarnya ibu-ibu dan bapak-bapak sendiri memaklumi bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato, sejak dari memasakan makanan hingga menjaga kesehatannya. Oleh karena itu maafkan saya tidak bisa bicara lebih panjang. Wassalamu’alaikum warrahmatullah,” Ucapnya yang singkat lalu turun dari mimbar.

“Diluar dugaan, hadirin yang ribuan jumlanya bertepuk tangan riuh sekali.” tulis Rusydi yang menceritakan pengalaman ayahnya, Buya Hamka, dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka. Kejadian itu membuat Buya Hamka menitikkan air mata. Para hadirin pun berteriak, “Hidup Ummi, hidup Ummi!”

Apa yang diucapkan Ummi dalam “pidato” saat kejadian itu memang diakuinya sebuah kenyataan. Selama 43 tahun, dengan setia Ummi menemani perjuangan suaminya sebagai seorang penulis, pejuang, politikus hingga ulama. Tidak hanya menemani, pilihan jalan hidup Sang Ulama ini juga pernah diputuskan oleh Ummi.

Sejak tahun 1950, Buya Hamka bekerja sebagai pegawai tinggi Kementrian Agama sekaligus menjadi anggora konstituante dari fraksi Partai Masyumi. Selama sidang konstituante, Buya Hamka terbilang keras dan berani menentang konsepsi Presiden Soekarno. Sikap presiden yang semakin otoriter di tahun 1959 mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang menyebabkan Buya Hamka harus memilih, antara menjabat pegawai negeri atau anggota partai. “Apa pilihan kita Mi?” tanya Hamka minta pertimbangan Ummi.

Menurut Rusydi, tak ada tanda-tanda kecemasan pada wajah Ummi. Ummi tak takut kehilangan gaji suaminya sekian ribu rupiah. Begitu juga jatah beras yang biasa diterima tiap bulan. Dengan tenang Ummi menjawab, “Kita kan tak pernah menjadi orang kaya dengan kedudukan ayah.” Lalu dengan senyum Ummi menghibur suaminya, “Jadi Hamka sajalah!”

“Ayah menitikkan air mata menatap wajah Ummi yang seolah-olah tak sadar, ucapan-ucapannya telah menguatkan hati ayah sebagai seorang pejuang menentukan keputusan yang pasti.” Lanjut Rusydi mengisahkan. Memang benar, keputusan meninggalkan jabatan pegawai negeri membuat keluarga Hamka mengalami hari-hari yang sulit dan merubah jalannya sejarah kehidupan Hamka. Keputusan tetap menjadi jalur penentang Presiden Soekarno yang telah menerapkan Demokrasi Terpimpin saat itu membuatnya masuk daftar tahanan politik di kemudian hari.

Tak hanya Ummi Siti Raham, Nur Nahar juga punya sikap teladan yang selalu diingat suaminya, Mohammad Natsir. Pengalaman kehidupan mantan Perdana Mentri Republik Indonesia ini dengan Nur Nahar, yang juga dipanggil Ummi, dimulai ketika awal-awal pernikahannya. Sekolah Pendidikan Islam (Pendis) yang didirikan Natsir sebelum Indonesia Merdeka mengalami kesulitan keuangan setelah sang donatur utama, Haji Muhammad Yunus, meninggal. Berbagai cara Natsir lakukan untuk tetap menghidupi sekolah tersebut. Salah satunya menggadaikan gelang emas milik istrinya. Perhiasan ini bukan pemberian Natsir, tapi sudah dimiliki sang istri sebelum mereka menikah. Nur Nahar bersedia menggadaikannya.

“Gelang emas Ummi yang satu-satunya itu mempunyai riwayat. Kalau Pendis sudah dalam kesulitan, maka gelang emas itu berpindah tempat dari tangan istrinya ke lemari pajak gadai. Kalau keadaan agak senggang sedikit, ia tebus kembali.” tulis Tim Penyusun Muhammad Natsir 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan.

Seringnya gelang emas milik istrinya berpindah ke pegadaian menjadi kenangan terindah. Natsir pun lupa sudah berapa kali gelang itu berpindah ke pegadaian. Yang paling diingat Natsir adalah tidak pernah melihat wajah istrinya berubah atau mendung di waktu dia terpaksa harus menggadaikan gelang emas ke pegadaian. Semua itu dilakukannya untuk berbakti kepada Allah.

Sikap takjub Natsir kepada Nur Nahar sudah terlihat sejak ia bersedia mengajar di Sekolah Pendis yang baru berdiri. Pilihan Natsir untuk berkhidmad pada agama memutuskannya mendirikan sebuah sekolah Pendis. Keputusan ini membuat jalan hidupnya penuh liku terutama dalam harta dan penghidupan. Padahal, sebagai lulusan AMS ia bisa memilih menjadi pegawai pemerintah dengan gaji yang mapan, tapi ditolaknya.

Di saat mendirikan Pendis itu pula ia menemukan sosok Nur Nahar yang bersedia menjadi guru tingkat Taman Kanak-kanak. Sama seperti keputusan Natsir, Nur Nahar yang sebelumnya bekerja di sebuah sekolah yang didanai pemerintah dengan gaji yang terbilang besar, juga memutuskan untuk berhenti dan ikut bergabung ke Pendis dengan gaji seadaanya. Nur Nahar tidak melihat besarnya penghasilan, tapi tertarik dengan misi dan cita-cita yang dibawa oleh Natsir. Natsir jatuh hati dan menikahinya dalam kondisi pas-pasan dan seadanya.

Cerita pengorbanan sang istri juga dialami Sjafruddin Prawiranegara. Meski menjabat sebagai mentri, Sjafruddin bukanlah pejabat yang penuh denga kemewahan. “Keadaanya jauh lebih sederhana, malah dekat kepada melarat.” Kata Ajip Rosyidi dalam Sjafruddin Prawira Negara Lebih Takut Kepada Allah. Keadaan ini yang menjadi pengorbanan sang istri Sjafruddin, Teuku Halimah, berjuang mempertahankan kebutuhan keluarga. Berjualan sukun menjadi cara sang istri mentri, yang akrab dipanggil Lily, membantu suami memenuhi kebutuhan keluarganya.

http://islamstory.com/id/wanita-wanita-di-balik-layar-sejarah-1