Ironi Pesawat Kepresidenan Kita

Filed under: by: 3Mudilah

Ironi Pesawat  Kepresidenan Kita
merdeka.com
"Air Force One" RI seharga hampir I Trilyun

SEJAK hari Kamis (10/04/2014),  Pesawat kepresidenan Republik Indonesia /‘Air Force One’ RI mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia memiliki pesawat kepresidenan.

Hanya saja, Pesawat RI 1 jenis Boeing Bussiness Jet 2 Green Aircraft (BBJ2) tersebut dibeli Indonesia seharga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar (hampir 1 Trilyun), dengan rincian US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.

Sudah begitu, pesawat ini dibeli dari perusahaan Boeing Amerika. Sudah begitu, pemerintah masih mengatakan biaya sebesar itu masih efisiensi anggaran, sebab menyewa pesawat dari maskapai Garuda Indonesia ongkosnya lebih mahal.

Yang lebih ironis, Indonesia memiliki PT Dirgantara Indonesia (DI) yang telah memproduksi banyak pesawat, termasuk  CN-235 dna N 250. Di mana produknya justru digunakan Malaysia, Korea Selatan, dan Pakistan.

Direktur Aircraft Service PT DI Rudi Wuraskito belum lama ini mengatakan, Malaysia dan Korea Selatan menggunakan 2 unit CN-235 sebagai pesawat kepresidenan. Sedangkan Pakistan hanya 1 unit.

Sama dengan pesawat Boeing yang baru dibeli Sekretariat Negara untuk Presiden Republik Indonesia, CN-235 tersebut juga memiliki interior dan keamanan khusus.

Menurut Rudi, alasan 3 negara tersebut membeli CN-235 karena luas daerahnya yang kecil. Sehingga tidak perlu pesawat besar untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain. Lama terbang pesawat tersebut sekitar 8-9 jam dan dapat mendarat di bandara yang mempunyai landasan hanya 1.200 meter.

Lagi-lagi menurut  Rudi, ada sekitar 15 negara telah menggunakan pesawat CN-235. Di antaranya Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, Malaysia, Thailand, Turki, Brunei Darussalam, Pakistan, dan Arab Saudi. Total sudah ada 315 pesawat yang dibuat. Negara yang paling banyak menggunakan adalah Turki dengan 70 unit.

Kebanyakan pesawat-pesawat tersebut dipakai untuk transportasi militer seperti membawa barang dan orang.

Kita seharusnya bangga dengan produk anak-anak bangsa yang telah lama disiapkan oleh BJ Habibie. Sayang, kita sendiri tidak bangga dengan itu. Seharusnya presiden dan Negara bangga dan produk sendiri.

Saya ingat 1996 silam, ketika Presiden RI yang kedua, Soeharto, memutuskan menukar dua pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara, CN-235, dengan beras ketan Thailand. Kebijakan itu kemudian menjadi olok-olok, salah satu yang paling berhasrat “menjatuhkan” jika tak boleh disebut nyinyir produk anak bangsa ini adalah Majalah Tempo. Akibat liputannya, seolah kita (bangsa Indonesia) merasa terhina gara-gara ditukar beras-ketan.

Dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories” mengisahkan dibalik barter itu terungkap. “Sebenarnya saya meniru Indira Gandhi yang ketika menjual bus Damri kepada kita, ia tidak mau dibayar dengan dolar. Indira minta bus-bus itu dibarter saja dengan beras yang di negara kita saat itu surplus.”

Sama saja, jika barang kita dibarter dengan nilai yang sama, seharusnya tidak perlu ada yang merasa terhina. Namun begitulah cara kerja media-massa. Kini, orang sebaik BJ Habibie “disingkirkan” bahkan para pemuda-pemudinya yang bersama IPTN dan PT Dirgantara banyak lari ke perusahaan-perusahaan asing. Di saat yang sama, kita justru membeli dari orang asing. Innalillahi.

Mengapa jika ada produk kebanggaan milik negeri dan anak bangsa kita cela, tetapi kita justru bangga menggunakan buatan luar negeri? Sampai kapan pemerintah kita (termasuk media) bisa menjadi cerdas?*

Wassallam
Abdul Wahid-Malang

http://www.hidayatullah.com/redaksi/surat-pembaca/read/2014/04/14/19872/ironi-pesawat-kepresidenan-kita.html#.U0uQClcjXdk

Hijrah, Jihad Dan Shobar

Filed under: by: 3Mudilah

Petunjuk Al Quran

Bahwa sesungguhnya sebagai hamba Allah yang telah terbuka hatinya untuk menerima “Nur Islam” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 22 akan merupakan hal yang wajar kalau mempunyai “rasa keberfihakan terhadap Islam dan ummat Islam”, karena Allah telah memberikan petunjuk tentang betapa pentingnya mendudukan diri sebagai muttabi’urrasul secara baik dan benar sebagaimana dituntunkan dalam al Quran surah al Hujurot ayat 7. Dengan demikian akan berarti pula sebagai “Khoiru Ummat” yang harus teruji sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Ali Imrom ayat 110; Maka Allah memberikan suatu pembekalan penting yang menuntut pemahaman yang benar, sebagaimana difirmankanNya dalam surah an Nahl ayat 110, yaitu :

“Kemudian sesungguhnya Robb kamu (pasti menolong) kepada orang-orang yang berhijrah sesudah segala apa (yang membuat) mereka difitnah, kemudian mereka berjihad dan shobar. Sesungguhnya Robb kamu dari sesudah (mereka berupaya mengatasi ujian)nya sungguh Pengampun Penyayang”.-

Pentelaahan Dalil

Dengan melihat kebelakang dalam keterkaitan sebenarnya peristiwa “Hijratur Rasul” adalah harus difaham sebagai “Proses Pengkondisian Ummat Islam”, mengingat antara lain :

a. Memperhatikan gambaran sejarah Rasul, yaitu tindakan dan ancaman yang ditujukan terhadap Muhajirin oleh Quraisy bersama-sama musyrikin di semenanjung Arab dan para penyembah berhala di Madinah dan termasuk pula diantara kelompok Yahudi yang menyatukan dirinya untuk memerangi Muhammad saw bersama para Muhajirin. Dalam kenyataan memang demikian itu upaya kaum kafir dan musyrik terhadap keberadaan Islam dan Ummat Islam sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Anfal ayat 30.

b. Memperhatikan terhadap kenyataan tentang nafsu orang-orang yang gonjang-ganjing dalam ber’aqidah, sehingga nafsu ingin berkuasa seperti layaknya raja atau hartawan sangat menggelora dan gandrung serta mabuk kepayang (-euforia-). Dan bahkan ada yang senantiasa merindukan dan mendambakan perempuan-perempuan yang berwajah cantik, sehingga setiap hari dan setiap saat harus terseok-seok merangkak dibelakang perempuan untuk memperoleh kepuasan yang seolah-olah akan memperoleh ketenteraman dan ketenangan. Dan juga ada yang menghabiskan waktunya siang dan malam hanya untuk melihat angka-angka dalam buku catatannya dan mengincar untuk memperoleh lebih banyak lagi. Padahal hasilnya tergantung Kehendak Allah, sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al isro ayat 18, yaitu :

“Barang siapa ada menginginkan (keduniaan) yang segera, Kami segerakan baginya dalam dunia ini menurut apa yang Kami Kehendaki pada siapa yang Kami inginkan. Kemudian Kami jadikan untuknya Jahanam yang ia akan masuk kedalamnya secara hina dan terusir”.-

Dengan yang tersebut maka “Makna Hijrah” itu sendiri adalah membangun tekad dalam menghabiskan seluruh hidupnya untuk menegakkan keutamaan Di-nullah dengan tanpa membedakan waktu dan tempat, kemudian melaksanakan pengkondisian hati Ummat Islam untuk bertansiq sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Hujurot ayat 10 sampai dengan ayat 12 untuk mempersiapkan diri dengan satu pernyataan yaitu “Anshorulloh” sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah ash Shof ayat 14.

Kemudian langkah selanjutnya dalam keterkaitan “Jihad dan Shobar” adalah memberikan pengertian tentang azas pembangunan Ummat secara shoffan sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah ash Shof ayat 4, yaitu berkerja keras secara bersungguh-sungguh dalam “Meletakkan Dasar-Dasar Pokok” yang diperlukan untuk kepentingan li i’la-i kalimatillah yaitu mendalami tuntunan Islam dengan mengaktifkan majelis Ilmu sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah az Zumar ayat 17 dan ayat 18 dengan mentadabburi Kalamullah secara terus-menerus sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Mukminun ayat 68 agar kokoh dan sempurna bagi Ummat Islam dalam bertaqorrub sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah al Fath ayat 29 dan menyatukan hati sesama Mukmin untuk membangun “mawaddah fil qurba” sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah asy Syuro ayat 23. Kemudian membuat tapakan dasar, mengatur hubungan untuk menciptakan “kemitraan” dengan mereka yang tidak se-‘aqidah berdasarkan moral tauhid sebagaimana difirmankanNya dalam al Quran surah Fushilat ayat 34 yang telah dirintis oleh para Ulama pendulu.

http://www.al-ulama.net/component/content/article/505-hijrah-jihad-dan-shobar.html

Ciri-ciri Hati yang Unggul

Filed under: by: 3Mudilah


Untuk memperoleh hati yang unggul tidak hanya dengan duduk santai menunggu datangnya mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul, sungguh mustahil
Ciri-ciri Hati yang Unggul
Ilustrasi
Hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati

PERNAKAH kita merasakan malas saat mengerjakan sesuatu padahalfasilitas  yang  kita  miiki  sudah  lengkap  dan  apa  yang  sedang  kitalakukan sebenarnya suatu hal yang sangat penting dan bermanfaat?

Pernahkah  kita  merasakan  futur  (semangat menurun) saat  seseorang mengabaikan  kita,  tidak  memuji  serta  tidak  menghargai  hasil pekerjaan baik kita?

Di  sisi  lain,  pernahkah  kita  melihat  orang  yang  kehidupannya sederhana namun selalu nampak ceria, seolah-olah tidak pernah ada masalah  yang  melintas  dalam  hidupnya?  Fasilitas  belajar  ataupun kerjanya  yang  dimiliki  tidak  begitu  memadai  tapi  selalu  giat  dan berhasil?

Ia mendapat banyak teguran dan sindiran dari berbagai pihak namun dia tetap tegar. Semangat dan keikhlasaannya tidak sedikitpun tergoyahkan? Pernahkah?

Ketahulillah  bahwa  yang  membedakan  itu  semuanya  adalah  hati. Antara hati  yang sakit  dan hati  yang unggul.  Hati  yang sakit  selalu mengharapkan pemuasan segera, kekayaan yang segera dan pujian dari orang lain. Maka saat dia tidak memperoleh apa yang diharapkanakan mengalami depresi dan putus asa. Sedangkan hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati, Dzat yang memberikan hikmah di balik setiap ujian dan cobannya.

Semua pasti mendambakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup,namun perlu diketahui bahwa rasa bahagia dan damai itu letaknya di hati.

Maka  setiap  yang  menginginkannya  harus  memperhatikan bagaimana memiliki hati yang unggul.
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri hati yang unggul

Pertama adalah  hatinya  merdeka.  Artinya  hatinya  bebas dari  kekangan  hawa  nafsu  dan  syahwat.  Bisyr  bin  Harist pernah mengatakan: ”Seorang  hamba  tidak  akan  mampu  merasakan nikmatnya  ibadah  sebelum  ia  mampu  membuat  tembok penghalang  dari  besi  yang  memisahkan  antara  dirinya  dan syahwatnya.” (Hilyatul Aulia, jil. VIII, hal. 345)

Kedua,  hatinya  memiliki  rasa  “Yaqzhah”.  Yaitu  berupa kecemasan  hati  tatkala  memperhatikan  tidurnya  orang-orang lalai. Rasa yaqzhah ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, di antaranya:

a. Waspada  terhadap  melimpahnya  kenikmatan  yang  dapat menjerumuskannya kedalam kenistaan.
b. Selalu menghitung keburukannya, dan dikaitkan segala bentuk kerugian  yang  menimpanya  degan  dosa  yang  dilakukan.

Sebagaimana firman Allah :

 قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِينٍ
“Dan  apa  saja  musibah  yang  menimpa  kamu  Maka  adalah disebabkan  oleh  perbuatan  tanganmu  sendiri.”  (QS.  Asy-Syura [26]: 30)

Rasulullah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya :
بنذب لإ نيع لو قرع جلتحإ ام
“Tidaklah urat dan mata itu gemeter melainkan kerena sebuah dosa.” (HR. Thabrani)

c.  Mewaspadai setiap kebaikan dan ketaatan yang melahirkan kebanggaan  dan  kesombongan
Imam  as Syafi’I  memberikan arahaan agar  terhindar  dari  ujub  dalam ketaatan,  “Bila  Anda khawatir  muncul  penyakit  ujub  atas  amalan  Anda,  maka ingatlah keridhaan dari pihak yang hendak Anda cari, nikmat apakah yang hendak Anda inginkan? Siksaan apa yang Anda takuti. Barangsiapa yang berfikir ke arah situ maka dia akan menganggap kecil amalannya.” (dalam kitab Siyarul ‘Alamin Nubala’, jil. X,hal. 111)

d. Akan  timbul  rasa  hina  dan  bersalah  saat  melakukan  dosa.Orang yang melakukan dosa sedangkan dia biasa-biasa  saja  maka  ini  pertanda hatinya  sedang sakit.  Jangan-jangan Allah sudah mengunci hatinya.

e. Mengukur keuntungan dan kerugiaan dengan ukuran akhirat. Sebagaimana Rasulullah pernah menyembelih seekor kambing lalu  disedekahkan  dan  yang  tersisa  hanya  pahanya  saja, hingga ‘Aisyah berkata, “Hanya paha saja yang tersisa?” Rasulullah menjawab  sebaliknya dengan  timbangan  akhirat,  “Semuanya  masih tersisa kecuali pahanya saja.”

Yang ketiga, Hatinya selalu memusuhi kelalaian.

Ada  beberapa  ilustrasi  yang  mewanti-wanti  kita  terhadap kelalaian  dan  panjangnya  angan-angan.  Sebagaiamana  hal tersebut digambarkan oleh para ulama, di antaranya :

a.    Bisyr  bin  Harist  menceritakan  tentang  seekor  semut  yang sibuk mengumpulkan biji-bijian di musim panas dengan angan-angan agar dapat dimakan di musim dingin, tiba-tiba seeokor burung datang mematuknya dan biji tersebut. ( Lihat: Bisyr bin Harist  hal.  65)

b. Ibnu  Jauzi,  “Dunia  adalah  perangkap,  sedangkan  manusia adalah burungnya. Burung-burung itu menginginkan biji (yang ada  dalam  perangkap),  tapi  lupa  akan  jerat  perangkap.” (Dalam Shaidul Khathir, hal. 373)

c. Hasan  Al-Bashri,  “Wahai  anak  Adam,  pisau  tengah  diasah, perapian  tengah  dinyalakan,  sedangkan  domba  itu  tengah menikamati makanannya.” (Dalam Siyaru ‘alamin Nubala’, jil. IV, hal.586)

Maka dari itu hati yang unggul selalu waspada dan tidak terlena dengan kenikmatan yang sesaat dan menipu serta angan-angan dunia  yang  melenakan,  menipu,  dan  menjerat,  sehingga membuat dia lalai dari kehidupan yang abadi.

Keempat, hati yang senantiasa ingin membalas.

Maksudnya  adalah  membalas  kesalahan  dengan  kebaikan.Kerena  kebaikan  akan  menghapus  kesalahan,  sebagaimana firman Allah;

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
“Dan  dirikanlah  shalat  itu  pada  kedua  tepi  siang  (pagi  dan petang)  dan  pada  bahagian  permulaan  daripada  malam.Sesungguhnya  perbuatan-perbuatan  yang  baik  itumenghapuskan  (dosa)  perbuatan-perbuatan  yang  buruk.” (QS.Hud  [14]: 114)

Dalam hadis Rasulullah bersabda

اهحمت ةنسحلا ةئيسلا عبتاو
“Hendaklah ia mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscayakeburukan  itu  akan  menghapus  keeburukan.”  (HR.  Ahmad)

Sesungguhnya balasan kebaikan adalah kebaikan yang dating setelahnya,  sedangkan  balasan  keburukan  adalah  keburukan yang datang setelahnya, sebagaimana firman Allah.

Dengan  kata  lain,  barangsiapa  yang  melakukan  ketaatan  dan telah  paripurna,  maka  tanda-tanda  diterimanya  ketaatan tersebut  adalah diikuti  dengan ketaatan yang lain.  Sedangkan tanda  tidak  diterimanya  adalah  diikuti  dengan  kemaksiatan setelahnya. Na’uzdubillah.

Umar r.a  suatu ketika  pernah disibukkan dengan kebun senilai 200.000 dirham sehingga beliau terlambat shalat Ashar-nya, maka beliau  membalasnya  dengan  menyedekahkan  kebun  tersebut.
Hal  yang  senada  juga  pernah  dilakukan  oleh  Thalhah,  dia menyedekahkan kebunnya sebagai kafarah (pengganti) karena ketika shalat, hatinya  pernah  tersibukkan  dengan  burung  yang  hinggap  di kebunnya tersebut.

Kelima, hati yang tidak mengenal rasa malas

Orang  yang  malas  sering  menyepelekan  sesuatu  yang  kecil,dengan  kemalasannya  ia  selalu  menunda-nunda  sampai  tidak sempat  dilaksanakannya.  Padahal  hakekat daripada  sebuah gunung adalah kumpulan kerikil-kerikil dan hakekat banjir besar adalah  kumpulan  dari  sejumlah  tetesan  air.

Rasulullah  telah memotifasi  umatnya  agar  bersegera  melakukan  kebaikan,jangan menunda-nundanya walaupun waktu yang dimiliki sangatsempit.

اهسرغي ىتح موقي ل نأ عاطتسا نإف ةليسف مكدحأ دي يفو ةعاسلا ةماق نإاهسرغيلف
“Bila  kiamat  terjadi  sedang  di  tangan  salah  seorang  di antara kalian memegang bibit, maka bila ia mampu untuk tidak bangkit hingga  menanamnya,  maka  hendaklah  ia  menanamnya.”  (HR.Bukhrari)

Maka hati yang memiliki ciri-ciri sebagaimana tertera di atas lah yang akan selalu unggul,  tidak pernah depresi, tidak mengenal kata lelah dan  menyerah,  tidak  menggoyahkan  sedikitpun  tekadnya  dengan komentar-komentar  orang  lain.  Karena  yang  diharapkankan  bukan wajah manusia, tapi keridhaan dari Rabb Yang menciptakan manusia.

Namun  untuk  memperolehnya  tidak  hanya  dengan  duduk  santai menunggu mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul,  mustahil  bisa.  Tapi  butuh usaha semaksimal  mungkin  untuk dapat memilikinya.*/Nashihul Umam

http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2014/04/02/19300/ciri-ciri-hati-yang-unggul.html/2

Mereka Tidak Mundur dari Perjuangan

Filed under: by: 3Mudilah


 

(Kisah Syahidnya Tiga Panglima perang Mu’tah)

Bangunan Islam tegak pertama  kali melalui usaha Rasul yang mulia, dimulai dengan masuknya manusia pilihan  ke dalam dinul Islam satu demi satu, lalu mereka dihadapkan hidup di atas panasnya bara ujian dan di atas situasi yang sangat sulit. Dihadapannya batu penggiling yang menggiling dan melumat urat syaraf, dalam hidup dan nafas mereka. Mereka hidup di atas penderitaan dan kesulitan. Melalui situasi seperti inilah tergembleng mental elemen elemen pertama yang kuat yang menjadi penopang bagi tegaknya bangunan Islam yang pertama

Rasul sebagai pemimpin dakwah tegak berdiri menyeru manusia agar meyakini tauhid, tauhid dengan segala jenisnya. Dia mendidik dan menggembleng para pengikutnya  bukan dengan cara teori dan kajian belaka, tapi mendidik dan menggembleng mereka meyakini prinsip tauhid secara amal melalui berbagai kejadian dan peristiwa. Dimana kejadian dan peristiwa yang mereka hadapi itulah yang menjadi ajang  untuk membuktikan keyakinan mereka terhadap prinsip tauhid.  Tak mungkin bagi generasi pertama yang menjadi sentral berhimpunnya umat Islam, diberi kekuasaan di atas dunia jika tidak  di gembleng lebih dulu dengan berbagai kesulitan, ujian dan cobaan. Oleh karena itu, ketika Imam As Syafi’i ditanya , “mana yang lebih layak bagi seorang hamba diberi kekuasaaan atau diuji?” maka beliau menjawab, “tidak akan mungkin dia diberi kekuasaan hingga dia diuji lebih dahulu.”

Cobaan, kemiskinan, kesengsaraan pun menghampiri dan menghimpit dada golongan muslim dan pemimpinnya, Muhammad SAW , sehingga hati mereka naik menyesak sampai ke tenggorokan, sampai sampai Rasul SAW yang begitu tegar pun berkata , “Bilakah pertolongan Allah tiba?”
Ya Allah, cobaan cobaan demikian berat itu sampai mendorong nabi SAW berkata , “Kapankah pertolongan Allah itu tiba?” … bagaimana dengan kita…?

Begitulah kondisi pengemblengan Rasulullah dengan para sahabatnya, banyak kisah yang dapat diambil ibrahnya, guna membekali keimanan yang harus kita jaga sebaik mungkin di akhir zaman ini.

Pernah tercatat dalam sejarah layaknya sebuah dongeng kepahlawanan, tapi kisah ini benar benar terjadi. Ditunjukkan bagaimana hasilnya pembinaan berdampak akan kuatnya iman dan tauhid bersamaan dengan gemblengan akidah melalui amal perjuangan. Teguhnya keyakinan Tauhid yang terangkat oleh amal soleh menuju Rabb nya untuk menjawab ujian dan godaan syetan  yang mereka alami.  Kisah ini tercatat dalam sejarah perang mu’tah.


Saat itu Rasulullah SAW telah mengirimkan pasukannya ke Mu’tah dibawah komando Zaid bin Haritsah. Pesan beliau bila dia gugur hendaklah digantikan oleh Jafar bin Abu Thalib, dan kalau ia gugur maka diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah, pasukan ketika itu berjumlah 3.000 orang, dan pasukan romawi kala itu berkisar 100.000 prajurit , suatu jumlah yang tak berimbang. Suatu jumlah secara matematis pastilah pasukan kaum muslimin akan hancur luluh lantak  , bayangkan 1:33 , berarti kalaupun pertempuran dianggap imbang/seri berarti setiap prajurit mukmin yang terbunuh atau tidak terbunuh haruslah bisa membunuh 33 orang musuh !!!

Ketika tiba saat pelepasan pasukan untuk berangkat, salah satu dari ketiga panglima tersebut meneteskan air matanya sehingga orang orang bertanya,”mengapa engkau menangis, ya Abdullah bin Rawahah?”

Dia menjawab,” Demi Allah, aku meneteskan air mata bukan karena cintaku pada dunia dan bukan pula karena berat berpisah dengan kalian, melainkan karena aku telah mendengar Rasulullah membaca firman Allah tentang api neraka :

“Dan tak seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan “ (Maryam : 71)

Sedangkan aku tak tahu bagaimana nanti setelah aku melaluinya.”

Orang sekitarnya berkata,”Allah beserta kalian dan akan mengembalikan kalian dalam keadaan baik.”

Rasulullah sendiri membayangkan perang yang akan dihadapi akan menjadi luar biasa dasyat, karena itu beliau sendiri mengantarkan pasukannya hingga sejauh mungkin , seolah olah beliau hantarkan pasukan yang tak pernah kembali lagi dengan beliau, mengantarkan sesuatu yang akan terpisah di alam dunia, beliau antarkan sampai ke area Taniyah Al Wada…

Beberapa hari kemudian, ketika pasukan ini tiba di suatu dusun bernama Ma’an, mereka mendengar berita bahwa pasukan romawi telah berada di Ma’ab di daerah Al Balqa dengan 100.000 prajurit.

Mendengar itu semua, ada ketakutan dan keraguan di antara pasukan, sehingga pasukan  muslimin memaksa tinggal selama dua malam di Ma’an  , waktu persiapan tersebut digunakan untuk menyusun dan memikirkan langkah strategi  selanjutnya, karena lawan yang dihadapi sangat besar dan tangguh dalam jumlah dan peralatan perangnya.

Hingga diantara mereka ada yang mengusulkan, ”kita laporkan saja kepada Rasulullah SAW agar dikirimkan bantuan atau diturunkan perintah untuk kita laksanakan,”

Tapi melihat kondisi adanya indikasi keraguan akan kekuatan pasukan muslimin, berdirilah Abdullah bin Rawahah membangkitkan semangat pasukan , dan ia berujar ,

“Wahai kaumku, demi Allah , sesuatu yang tidak kalian senangi tapi saat ini kalian keluar untuknya hanyalah untuk mati syahid. Kita memerangi musuh bukan berdasarkan jumlah prajurit atau kekuatan senjata, kita tidak berperang kecuali demi agama , yang dengan ini Allah melimpahkan karuniaNya kepada kita. Oleh karena itu, mari kita hadapi mereka bersama sama. Perang ini akan memberi kita satu dari dua kebaikan, kemenangan atau kematian sebagai syuhada.”

Seruan Abdullah berhasil membakar semangat para prajurit muslim. Mereka berkata satu sama lain, ”Abdullah bin Rawahah benar.”

Maka mereka pun terus bergerak maju cepat diringi syair syair perjuangan yang dibacakan Abdullah bin Rawahah dengan lantang dan jelas , hingga hilanglah rasa takut akan banyaknya serdadu musuh yang akan dihadapi.

Tibalah di daerah Balqa di desa Masarif, mereka berjumpa dengan pasukan Heraklius yang terdiri dari gabungan orang orang Arab dan Romawi. Ketika musuh makin dekat, pasukan muslimin bergeser ke Mut’ah, sebuah desa yang dipandang lebih sesuai untuk menyusun strategi serangan. Dari sini pasukan muslimin bergegas mengatur barisan pasukannya. Pasukan sayap kanan dipimpin oleh Qutbah bin Qatadah, seorang dari Bani Udzrah. Sayap kiri di bawah komando seorang Anshar bernama Abayah bin Malik.

Menurut riwayat Bukhari dari Anas bin Malik, Rasulullah telah mengetahui bahwa para panglima yang ditunjuknya syahid sebelum berita mengenai itu tiba di Madinah. Beliau sangat berduka karenanya dan dikisahkannya kepada segenap muslimin madinah.


Ketika perang pecah di Mu’tah, Rasulullah sedang duduk di mimbar. Sementara mata beliau sembab tergenang air mata. Tergambar di mata beliau pertempuran sengit di Syam itu rupanya, sehingga beliau berkata,

“ Zaid sedang membawa panji panji kemudian setan datang merayunya agar cinta dunia dan takut mati. Dia memarahi dirinya,”sekarang, saat datang ujian atas iman, engkau hendak menyukai dunia?! Lalu ia maju bertempur dengan ganas sampai menemui ajalnya.

Rasulullah kemudian melakukan sholat ghaib untuk Zaid, setelah itu beliau melanjutkan ceritanya,

“beristighfarlah untuknya. Dia telah masuk surga sebagai syuhada.

Gemuruh takbir dari para sahabat ….Allahu Akbar……!!!

Kini panji panji dipegang oleh Jafar bin Abu Thalib, setan kembali menggoda dengan cinta dunia, senang hidup, dan benci mati, lalu dia berkata,”sekarang di saat iman diuji di hati mukminin, engkau datang pula merayu rayu!” dia maju sampai gugur sebagai syuhada.

Rasulullah melakukan sholat ghaib baginya dan berkata, “Doakanlah saudaramu ini, dia masuk surga dengan sepasang sayap.”

Kembali gemuruh takbir dari sahabat…Allahu Akbar…!!!

Beliau melanjutkan , “Panji panji itu sekarang beralih ke tangan Abdullah bin Rawahah. Dia pun akhirnya gugur, lalu pergi ke surga dengan mundur.” Golongan Anshar cemas mendengar itu dan bertanya, “Mengapa demikian , ya Rasulullah?

“pada saat dia cedera, ia menyalahkan dirinya dan sempat putus asa. Tapi kemudian semangat juangnya kembali berkobar dan berjuang sampai syahid dan masuk surga.”

Kembali gemuruh takbir dari para sahabat…Allahu Akbar…!!!

ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR  gemuruh menyambut kabar syahidnya para sahabat , saudara mereka sesama muslim memasuki surga tanpa hisab…. Suatu gambaran yang indah dan penuh haru, karena  para sahabat yang saat itu hadir didepan mimbar tersebut rindu sekali dan ingin sekali meraih surga seperti ketiga panglima perang yang dikabarkan oleh Rasul tercintanya.

Terukir pula dalam sejarah, syair Abdullah bin Rawahah menjelang syahidnya :

“ Aku bersumpah, Wahai jiwaku
Masuklah engkau, masuklah ke medan perang
Atau kupaksakan padamu
Bila semua orang telah berbaris berteriak , MAJU…!
Mengapa masih juga membenci surga?
Sudah lama hidupmu dalam ketenangan
Engkau tidaklah lebih dari setetes mani tua.”

Akhirnya diapun maju seraya berkata :

“Jiwa, oh jiwa
kalaupun tak terbunuh disini
dirimu pasti kan mati
inilah jalan keabadian paling sempurna
saat dinanti telah tiba
lakukanlah seperti keduanya (Zaid Bin Haritsah dan Jafar Abu Thalib yang telah syahid lebih dulu)
engkau tentu bahagia

Ketika hendak ia memulai serangan, seorang sepupunya mendekat sambil menyodorkan sepotong daging bakar seraya berucap,”makanlah ini agar lebih kuat.” Di cuwilnya sedikit,  ketika kemudian telinganya mendengar gemuruh pertempuran di sekitarnya, dia tersadar dan memarahi dirinya sendiri,”engkau masih di dunia!” segera dicampakkannya daging di tangannya dan tanpa menunda nunda lagi, ia  turun ke medan perang, bercampur dengan pedang berkelebat kesana kemari berkilauan tertimpa sinar mentari sampai syahidlah ia menyusul sahabat sahabatnya.

……..

Begitulah bila iman sudah meresap di dalam hati mereka, yang dihadapan mereka hanya indahnya surga, walau mereka masih didunia. Segala godaan dan ujian dunia mereka hempaskan, mereka buang jauh jauh godaan tersebut. Mereka tidak menimbang faktor dunia sebagai penentu langkah perjuangannya, dan mereka tidak mundur dan tidak berbalik melihat jumlah pasukan yang tidak imbang, atau bahkan karena disebabkan kurangnya dan habisnya logistik, mereka tidak lari kebelakang,  mereka tidak memikirkan kepentingan pribadi mereka sendiri, mereka bersatu kala ancaman datang kepada mereka. Mereka hanya ada satu harapan yaitu mereka ingin masuk surga.

Semoga kita semua yang telah mengaku ingin berjuang untuk Islam tidak terbuai dengan banyaknya dunia yang kita miliki  sehingga tujuan dakwah menjadi menyimpang atau sebaliknya merasa lemah karena kurangnya atau habisnya logistik perjuangan sehingga meninggalkan jalan dakwah…Semoga Allah berikan ketegaran dan kesabaran dalam menjalani pahit manisnya jalan dakwah ini yang penuh liku dan mengikuti jejak para Nabi, para sahabat, dan para mujahid dakwah hingga akhir zaman  menuju surgaNya Allah… Aamiin


(MM/Ref : Ibnu Hisham/manhaj Haraki)
http://www.eramuslim.com/peradaban/sirah-tematik/mereka-tidak-mundur-dari-perjuangan.htm#.U0drTlcjXdl

Peran Intelaktual dalam Peradaban Baru yang lebih Menjanjikan

Filed under: by: 3Mudilah

gagasan sebagaian kalangan akan syariat Islam atau juga Kekhilafahan Islam bukanlah suatu yang utopis. Allah Subhanahu Wata’ala telah menjanjikan dan Rasulullah telah memberikan kabar gembira akan tegaknya sistem yang membawa berkah ini
Peran Intelaktual dalam Peradaban Baru yang lebih Menjanjikan
Ilustrasi

Oleh: Kholila Ulin Ni’ma

INDONESIA memiliki jumlah pemuda yang cukup besar yaitu 40.8 juta atau 40% dari total jumlah pemilih. Artinya sangat besar pula peran politik pemuda dalam mempengaruhi arus pergerakan perubahan negeri ini. Suara komunitas pemuda yang  besar menjadi sasaran berharga dalam pemilu pada sistem demokrasi. Terlebih lagi, salah satu potensi pemilih muda terbesar ada di civitas akademika kampus. Sehingga kaum intelektual tersebut menjadi magnet tersendiri dalam rangkaian agenda politik jelang Pemilu 2014, sebab posisi strategisnya tidak hanya di lingkungan kampus, namun juga mampu mempengaruhi arah opini publik sekaligus menjadi pressure pengambil kebijakan.

Memang benar, para pemuda (dalam hal ini para mahasiswa) yang notabenenya kaum intelektual mempunyai peran strategis menuju perubahan.

Kontribusi mereka sangat berarti dalam meninggikan peradaban. Dengan akses informasi yang luas, daya nalar dan analisanya yang kuat serta kemandiriannya dalam bersikap semestinya mereka memiliki tanggung jawab untuk memberikan arah yang benar pada perubahan yang terjadi di tengah umat guna mewujudkan Indonesia yg lebih baik. Namun, jangan sampai kaum intelektual ini terjebak dalam sistem saat ini. Mereka sepatutnya mencari permasalah mendasar atas berbagai kerusakan multidimensi yang sedang terjadi. Dari akar masalah yang telah mereka pahami itu, maka mereka bisa melakukan perubahan revolusioner dan universal, bukan hanya perubahan yang bersifat parsial.

Sesungguhnya berbagai kekacauan yang ada sekarang bukan sekedar karena pemimpin negeri ini yang tidak amanah menjalankan tugas. Namun lebih dari itu, disebabkan oleh sistem demokrasi yang jelas-jelas rusak dan merusak negeri ini (dan juga berbagai negeri yang mengembannya). Adanya perbaikan kondisi bangsa melalui mekanisme pesta demokrasi adalah harapan semu belaka.

Hasil-hasil survey mereka terkait kondisi politik hanya mendukung politik pencitraan untuk menutup borok sistem yang ada. Sistem politik yang berbasis kebebasan ini telah melahirkan undang-undang  yang memfasilitasi kemaksiatan dan kejahatan, memberikan janji palsu kesejahteraan dan keadilan, serta melegalkan lepasnya tanggung jawab negara untuk memberikan hak-hak rakyat.

Lihat saja fakta negeri demokrasi saat ini. Bukan rahasia lagi, mulai dari para calon legeslatif maupun eksekutif, mereka mengobral janji kesejahteraan dan keadilan kepada rakyat. Uang dibagikan, kaos dan sembako digratiskan, stiker disebar, bahkan tak jarang mobil mewah diberikan dengan cuma-cuma. Mereka saling berebut kursi kekuasaan dan membayangkan hidup serba kecukupan.

Pada akhirnya, ketika benar-benar terpilih, mereka lupa dengan janji manis yang dulu diberikan. Hari-harinya dihabiskan untuk berupaya mengembalikan modal yang telah digunakan pada masa kampanye. Tak dapat dielakkan lagi, undang-undang yang menguntungkan para pengusaha pun dibuat.

Hal ini bukan suatu yang mengherankan, mereka melakukan itu karena politik balas budi kepada para pengusaha yang telah membantu mereka untuk bisa duduk di kursi parlemen. Dari mana mereka mendapatkan dana kampanye milyaran bahkan triliyunan rupiah jika bukan dari kalangan pengusaha yang memiliki modal? Dan tentu saja, tidak ada makan siang gratis di sistem kapitalisme saat ini.

Walhasil, banyak sumber daya alam Indonesia yang harusnya menjadi hak rakyat, justru saat ini dikuasai para kapitalis di bawah perlindungan undang-undang yang telah disahkan di parlemen. Apalagi kalau bukan sebagai imbalan atas jasanya membantu para calon itu duduk di kursi.

Demokrasi bukanlah hanya persoalan pemilihan pemimpin, demokrasi juga bukan hanya menghormati hak seseorang sebagai manusia, demokrasi pun bukan juga hanya persoalan menghormati perbedaan pendapat.

Namun, jika dilihat berdasarkan prinsipnya, maka demokrasi adalah: menjadikan setiap rakyat memiliki kedaulatan untuk membuat hukum, mengambil hak Tuhan sebagai pembuat hukum lalu menyerahkannya kepada manusia. Sebab demokrasi memberikan kepada semua rakyat untuk menikmati kebebasan secara universal.

Dalam sistem inilah, ilmu pengetahuan tidak dihargai. Orang pintar disamakan haknya dengan orang bodoh, seorang profesor ilmu politik memiliki hak suara yang sama dengan pemabuk dan penzina. Seorang yang taat beragama disamakan hak suaranya dengan seorang preman, pengangguran dan oportunis, sebab yang diambil adalah suara terbanyak.

Namun meski demikian, ternyata banyak ketidakkonsistenan dalam penerapan suara terbanyak ini.
Kita ambil contoh pada tahun 2011 di Indonesia, ‎”Hasil jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia, sebanyak 86,6 persen responden menyatakan menolak jika harga bahan bakar minyak bersubsidi dinaikkan pemerintah. Hanya 11,26 persen setuju kenaikan dan sisanya, yakni 2,14 persen, tidak menjawab”.

Hasil survei itu disampaikan oleh peneliti LSI, saat jumpa pers di Jakarta. Dan begitulah demokrasi? Saat itu pemerintah tetap menaikkan BBM. Tipuan belaka, dari dulu demokrasi adalah alat untuk mengambil hak Allah dalam menentukan halal-haram berdasar suara terbanyak, tapi bila berhadapan dengan kedzaliman penguasa, suara terbanyak hanya mimpi. Yang ada adalah suara penguasa dan pengusaha.

Kasus FIS di Aljazair atau Refah di Turki. Pada tahun 1991, FIS memenangkan 188 dari 231 kursi parlemen Aljazair, tetapi kemudian militer yang direstui Prancis menganulir Pemilu dan menangkapi para pemimpin FIS. Tahun 1996 partai Refah yang memenangkan Pemilu di Turki bahkan telah memerintah dengan Najmudin Erbakan sebagai perdana menteri.

Namun, pada 1997 terjadi kudeta militer dengan alasan Refah memiliki agenda Islam yang bertentangan dengan konstitusi. Pada 1998, Mahkamah Agung Turki menyatakan Refah menjadi partai terlarang. Dan yang terakhir di Mesir saat Presiden Mohammad Mursy yang meraih jabatan itu melalui Pemilu kemudian secara keji dikudeta oleh pihak militer dengan dukungan negara Barat.

Bukan hanya mengkudeta Mursi, militer Mesir juga membubarkan Al Ikhwan al Muslimun setelah sebelumnya membantai ribuan pendukung Mursy.

Sebenarnya kita tidak perlu menyerang sistem demokrasi, terlebih lagi di usianya sudah cukup tua, tidak perlu pula mencacinya dan menuduhnya sebagai sistem yang rusak. Sebab tanpa harus dituduh pun, demokrasi memang sudah rusak sejak dari awal diterapkannya.

Plato (429-347 SM) seorang Filsuf Yunani Kuno, telah mengingatkan mengenai kelemahan dan bahaya internal demokrasi, salah satunya pemimpin biasanya dipilih dan diikuti karena faktor-faktor non-esensial seperti kepintaran pidato, kekayaan, dan latar belakang keluarga.

Aristoteles (384-322 SM) murid Plato, juga menyebutkan demokrasi sebagai bentuk pemerintahan buruk, seperti tirani dan oligarkhi. Sebelum abad 18, demokrasi bukanlah sistem yang dipilih umat manusia. Sistem ini ditolak di era Yunani dan Romawi dan hampir semua filosof politik menolaknya.

Dari sini, masihkah mahasiswa sebagai kaum pemikir masih berpikiran untuk mempertahankan sistem ini? Bahkan pada kenyataannya demokrasi juga telah merampas hak politik para mahasiswa dengan jadwal perkualiahan yang padat sehingga mengakibatkan mahasiswa cuek terhadap permasalahan bangsa, kemudian pada saat pemilu mereka pun tidak mengerti tentang arah perubahan yang ditawarkan partai politik peserta Pemilu.

Akibatnya, mahasiswi pun jadi ikut-ikutan memilih atau golput karena apatis. Demokrasi telah mengakibatkan mahasiswa tidak mampu melihat adanya jalan yang shahih menuju perubahan.
Inilah saatnya mahasiswa harus mulai melek politik dan keluar dari kungkungan demokrasi yang telah membius ini. Perubahan ini tidak bisa tidak kecuali secara bersama-sama dalam sebuah jejaring (network).

Inilah dakwah berjama’ah, para intelektual akan saling mengisi, saling memperkuat dan saling mengoreksi. Kaum intelektual harus menyerukan kepada masyarakat untuk kembali pada sistem Islam yang berasal dari Dzat Yang Maha Pengatur.

Karenanya, gagasan sebagaian kalangan akan syariat Islam atau juga Kekhilafahan Islam bukanlah suatu yang utopis. Allah Subhanahu Wata’ala telah menjanjikan dan Rasulullah telah memberikan kabar gembira akan tegaknya sistem yang membawa berkah ini.

Sistem ini pulalah yang telah mampu mencetak para ilmuwan peninggi peradaban dunia. Saatnya mahasiswa berada di garda terdepan dalam memperjuangakan perubahan yang hakiki. Waallahu a’lam bish showaab.*

Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung semester IV

http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2014/04/04/19412/peran-intelaktual-dalam-peradaban-baru-yang-lebih-menjanjikan.html#.U0drLVcjXdk

Al Furqon Berarti Pembeda

Filed under: by: 3Mudilah

Petunjuk Firman

Bahwa Allah dengan petunjukNya yang tersurat dalam surah al Furqon ayat 1, yaitu :
“Maha Berkat Allah yang telah menurunkan al Furqon atas hambaNya (Muhammad) agar supaya menjadi ancaman bagi ummat seluruh alam”.-

Ayat tersebut sangat tegas dan lugas serta jelas dalam keterkaitannya masalah manusia dan kemanusiaan perihal perjalanan hidupnya, mengingat Allah telah menetapkan tentang keberadaan manusia bahwa mereka itu terdiri “manusia Kafir dan manusia Mukmin” dalam al Quran surah at Taghobun ayat 2. Dan peringatan tersebut wajib menjadi “dasar pemahaman bagi Mukmin” yang dengan itu sudah pasti terjadi “sifat dan sikap bertentangan atau antagonisme” dalam segala pola kehidupannya, baik secara istilah dan ataupun secara pembuktian sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Isro ayat 45 dan ayat 46.

Analisa Dalil

Bahwa sebenarnya penting sebagai pengajaran untuk ditelaah secara seksama, tentang pola dan arah dari dua golongan manusia, yaitu :

A. Golongan Kafir adalah mereka yang menjadi dasar pandangan hidupnya adalah hawa nafsu yang menjadi budak syaithon, sehingga mereka hanya menggunakan “ro’yun bathil” yang berpola dasar kepada “Hukum Sebab Akibat” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Jatsiyah ayat 23 dan ayat 24. Dengan yang tersebut maka :

a. Sikap kerinduan mereka hanya dikendalikan oleh al fikr yaitu fikiran, al wijdan yaitu perasaan, dan al irodah yaitu kemauan, sehingga akan memunculkan suatu kepercayaan yang hanya sebatas rekayasa hasil budi daya manusia yang disebut AGAMA (bahasa Jawa kawi yang berarti A adalah tidak dan GAMA adalah kocar-kacir maka menjadi tidak kocar-kacir) dan tidak ada hubungan dengan masalah Akherat kecuali hanya sebatas duga-duga sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Nuh ayat 21 sampai dengan ayat 24.

b. Pandangan hidupnya berkisar masalah kehidupan duniawiyah semata, sehingga kalaupun berfikir masalah keummatan juga pasti dikendalikan oleh hawa nafsunya dan pasti akan mengalami Dehumanisasi, dengan sebuah sistem dari hasil budidaya manusia yang telah muncul pada 400 tahun SM, yang menjadi pedoman hidup bagi bangsa-bangsa Barat dan dikenal dengan istilah Politea atau Politik, didalam al Quran Allah perkenalkan dengan sebutan “Jibti wa Thoghut” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nisa ayat 51 sampai dengan ayat 54; Inilah karya Plato yang oleh Dunia Barat dianggap sebagai bimbingan hidup. Dan penyerangan terhadap Plato dianggap sama dengan serangan terhadap basis kultur dan falsafah Barat.

B. Golongan Mukmin adalah orang-orang yang mendapatkan “Hidayah Iman” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Yunus ayat 100 dan hatinya sepenuhnya menerima “Nur Islam” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 22. Dengan itu maka senantiasa menyatakan “sami’na wa atho’na” terhadap segala seruan untuk mentho’ati Allah dan RasulNya sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nur ayat 51. Suatu kesadaran yang mutlaq tentang keberadaan ad Din kepunyaan dan dikirim Allah Yang Maha Mengatur sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Ali Imron ayat 19 dan ayat 85; Dengan yang tersebut maka :

a. Tuntutan yang paling utama dalam penerimaan ad Din adalah memelihara kebersihan ad Din itu sendiri, manakala telah berada dalam pelukan hambaNya, kemudian dalam seluruh aktifitas hidupnya wajib menjadikan ad Din sebagai pedoman dan pandangan utamanya, sehingga tidak melumuri ad Din dengan segala kotoran yang berasal dari rekayasa hasil budidaya manusia itu sendiri sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 3.

b. Dengan keberadaan perintah untuk menggelar Syari’at Dinullah bagi membangun ummat dalam segala jurusannya “dengan atas dasar risalah Allah”, semenjak zaman perutusan Nus as sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah asy Syuro ayat 13 dan ayat 14, maka sistem yang digunakan wajib berdasarkan hasil petunjuk dari Allah sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Furqon ayat 52 dan bukan berasal dari rekayasa hasil budidaya manusia. Maka inilah yang disebut “Sistem Siyasah”, yang tidak akan pernah sama dengan Sistem made in Plato sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Isro ayat 45 dan ayat 46 dan al Hadits shohih riwayat Thobrani dari jalan Ibnu Abbas dan al Hadits shohih riwayat al Hakim dari jalan Kholid bin ‘Urfathoh.

Dengan analisa sebagaimana tersebut maka wajarlah kalau lafadz pada akhir ayat di atas Allah menutup dengan lafadz nadzi-ron yaitu sebuah peringatan yang menentukan dalam pembangunan ummat sedunia, agar hambaNya yang beriman tidak terjadi tergelincir dalam Sistem yang menyalahi Sunatullah.

http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/tafseer/504-al-furqon-berarti-pembeda.html

Untaian Nasehat Sebelum Pemilu 2014

Filed under: by: 3Mudilah


Fatwa Pemilu 2014

Berikut ini beberapa untaian kata nasehat untuk kaum muslimin di Indonesia tentang bagaimana sebaiknya kaum muslimin Indonesia menyikapi Pemilu sesuai dengan kaidah Islam yang sudah dituntun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga nasehat ini menjadi nasehat yang Indah dan memberikan manfa’at untuk kita semua.

Nasehat Pemilu 2014

Mengingat hari Rabu tanggal 9 April nanti, negara Indonesia akan mengadakan hajatan besar yaitu Pemilu untuk memilih anggota dewan legislatif, yang akan disusul kemudian pemilu pada 9 Juli 2014 untuk memilih capres dan cawapres. Maka dengan bertawakkal kepada Allah, kami ingin menyampaikan beberapa point penting, yang  kita berdoa kepada Allah agar menjadikan untaian kata nasehat ini ikhlas mengharapkan pahala Allah dan menginginkan kemaslahatan bagi para hamba:

PERTAMA
Sesungguhnya sistem demokrasi bertentangan dengan hukum Islam, karena:
  • Hukum dan undang-undang adalah hak mutlak Allah. Manusia boleh membuat peraturan dan undang-undang selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
  • Demokrasi dibangun di atas partai politik yang merupakan sumber perpecahan dan permusuhan, sangat bertentangan dengan agama Islam yang menganjurkan persatuan dan melarang perpecahan.
  • Sistem demokrasi memiliki kebebasan yang seluas-luasnya tanpa kendali dan melampui batas dari jalur agama Islam.
  • Sistem demokrasi, standarnya adalah suara dan asiprasi mayoritas rakyat, bukan standarnya kebenaran Al-Qur’an dan As-Sunnah sekalipun minoritas.
  • Sistem demokrasi menyetarakan antara pria dan wanita, orang alim dan jahil, orang baik dan fasik, muslim dan kafir, padahal tentu tidak sama hukumnya. (catatan: Bacalah risalah Al-Adlu fi Syari’ah Islam wa Laisa fii Dimoqrotiyyah al-Maz’umah oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hlm. 36-44)
Namun karena di kebanyakan negeri Islam saat ini –termasuk Indonesia- menggunakan sistem demokrasi yang kepemimpinan negeri ditentukan melalui pemilu, maka dalam kondisi seperti ini apakah kita ikut coblos ataukah tidak? Masalah ini diperselisihkan para ulama yang mu’tabar tentang boleh tidaknya, karena mempertimbangkan kaidah maslahat dan mafsadat. Sebagian ulama berpendapat tidak boleh berpartisipasi secara mutlak seperti pendapat mayoritas ulama Yaman karena tidak ada maslahatnya bahkan ada madharatnya (catatan: Lihat Tanwir Zhulumat fi Kasyfi Mafasidi wa Subuhati Al-Intikhobat karya Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam). Dan sebagian ulama lainnya berpendapat boleh untuk menempuh madharat yang lebih ringan seperti pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin dan lain-lain (catatan: Lihat penjelasan tentang perbedaan pendapat ulama dan argumen masing-masing dalam masalah ini di kitab Al-Intikhobat wa Akamuha fil Fiqih Islami hlm. 86-96 karya Dr. Fahd bin Shalih al-’Ajlani, cet. Kunuz Isyibiliya, KSA), karena “Apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya” dan “rabun itu lebih baik daripada buta”.

Maka seyogyanya bagi kita semua untuk bersikap arif dan bijaksana serta berlapang dada dalam menyikapinya. Marilah kita menjaga ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama Islam) dan menghindari segala perpecahan, perselisihan serta percekcokan karena masalah ijtihadiyyah seperti ini (catatan: Perlu diketahui bahwa para ulama kita yang membolehkan ikut mencoblos di Pemilu bukan berarti mendukung sistem demokrasi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Sebagai contoh adalah Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad, beliau termasuk ulama yang membolehkan jika kemaslahatan menuntut demikian, sekalipun begitu beliau memiliki sebuah risalah khusus yang mengkritisi sistem demokrasi yaitu Al-Adlu fi Syari’ah Islam wa Laisa fii Dimoqrotiyyah al-Maz’umah, Keadilan itu Dalam Hukum Islam Bukan dalam Sistem Demokrasi).

Alangkah indahnya ungkapan Imam Syafi’i kepada Yunus ash-Shadafi:

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ‎ ‎يَسْتَقِيْمُ‎ ‎أَنْ‎ ‎نَكُوْنَ‎ ‎إِخْوَانًا وَإِنْ‎ ‎لَمْ‎ ‎نَتَّفِقْ‎ ‎فِيْ‎ ‎مَسْأَلَةٍ‎
Wahai Abu Musa, Apakah kita tidak bisa untuk tetap bersahabat sekalipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?!” (catatan: Dikeluarkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 3/3281, lalu berkomentar: “Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal imam Syafi’i dan kelonggaran hatinya, karena memang para ulama senantiasa berselisih pendapat.“)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga pernah mengatakan:

وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فِي ” الْأَحْكَامِ ” فَأَكْثَرُ مِنْ أَنْ يَنْضَبِطَ وَلَوْ كَانَ كُلَّمَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ ‏الْمُسْلِمِينَ عِصْمَةٌ وَلَا أُخُوَّةٌ وَلَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سَيِّدَا الْمُسْلِمِينَ يَتَنَازَعَانِ فِي أَشْيَاءَ لَا يَقْصِدَانِ إلَّا ‏الْخَيْرَ‎

Adapun perselisihan dalam masalah hukum maka banyak sekali jumlahnya. Seandainya setiap dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah harus saling bermusuhan, maka tidak akan ada persaudaraan pada setiap muslim. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan Umar radhiallahu ‘anhu saja—kedua orang yang paling mulia setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—mereka berdua berbeda pendapat dalam beberapa masalah, tetapi keduanya tidak menginginkan kecuali kebaikan.” (Majmu’ Fatawa 5/408. )

KEDUA

Bagi siapa yang memilih karena mempertimbangkan kaidah:

يُخْتَارُ‎ ‎أَهْوَنُ‎ ‎الشَّرَّيْنِ‎
“Menempuh mafsadat yang lebih ringan.” (catatan: Lihat kaidah ini dalam Al-Asybah wa Nadhoir hlm. 87 karya as-Suyuthi, Al-Asybah wa Nadhoir hlm. 89 karya Ibnu Nujaim, Al-Qowaid Al-Kulliyyah wa Dhowabith Al-Fiqhiyyah hlm. 183 oleh Dr. Muhammad Utsman Syubair, Al-Mufashol fi Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah hlm, 369 karya Dr. Ya’qub Ba Husain)

Maka hendaknya bertaqwa kepada Allah dan memilih partai yang paling mendingan daripada lainnya atau memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin yang ideal dalam Islam yaitu al-Qowwiyyu al-Amin, yaitu memiliki skill lagi amanah (catatan: Perhatikan QS. Al-Qoshos: 26. Lihat pula penjelasannya dalam Qowa’id Qur’aniyyah hlm. 109-113 karya Dr. Abdullah al-Muqbil  dan as-Siyasah Asy-Syar’iyyah hlm. 29-31 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah), juga tentunya yang memiliki perhatian agama Islam yang baik dan memberikan kemudahan bagi dakwah Ahli Sunnah wal Jama’ah.

KETIGA

Kami mengajak kepada segenap kaum muslimin di manapun untuk menyibukkan diri dengan amal shalih di saat-saat seperti ini serta memperbaiki amal perbuatan kita.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعِبَادَةُ‎ ‎فِى الْهَرَجِ‎ ‎كَهِجْرَةٍ‎ ‎إِلَيَّ
“Ibadah di saat fitnah seperti hijrah kepadaku.” (HR. Muslim: 2948)

Marilah kita memperbaiki diri dengan menuntut ilmu syar’i, meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena pemimpin sejati itu lahir dari rakyat yang sejati. Dahulu, dikatakan para ulama:

كَمَا تَكُوْنُوْنَ‎ ‎يُوَلَّى عَلَيْكُمْ
“Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.” (catatan: Ungkapan ini dijadikan sebagai judul sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi)

Al-Kisah ada seorang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak di kritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!” Sahabat Ali Menjawab, “Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!!” (Syarh Riyadhus Shalihin 2/36 oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

KEEMPAT 

Hendaknya kita semua tidak meremehkan peran dan kekuatan sebuah do’a kepada Allah pada saat seperti ini. Marilah kita semua bersimpuh dan munajat kepada Allah, agar Allah memilihkan kepada kita pemimpin yang ideal dambaan Islam yang bersemangat membela agama dan peduli kepada rakyat, bukan para pemimpin yang hanya berambisi dengan jabatan dan tidak bertaqwa kepada Allah.
Dahulu, Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan:

لَوْ‎ ‎كَانَتْ‎ ‎لِيْ‎ ‎دَعْوَةٌ‎ ‎مُسْتَجَابَةٌ‎ ‎مَا جَعَلْتُهَا إِلاَّ‎ ‎فِي السُّلْطَانِ
“Seandainya saya memiliki doa yang mustajab, maka saya tidak akan peruntukkan kecuali untuk pemimpin.” (Al-Barbahari dalam Syarhu Sunnah hlm. 116-117 dan Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 8/91-92)

Sebagaimana kita berdoa kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari fitnah yang menyambar agama dan akal pada saat-saat seperti ini. Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata: “Tatkala manusia banyak mencela Utsman, maka ayahku (sahabat Amir bin Rabi’ah) melakukan sholat malam seraya berdoa: “Ya Allah, jagalah diriku dari fitnah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang shalih.” Maka ayahku tidak keluar (karena sakit) kecuali ketika meninggal dunia”. (Dikeluarkan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/178-179 dan Al-Hakim 3/358.)

KELIMA

Hendaknya kita mewaspadai dan menjauhi percikan-percikan pemilu dan pelanggaran-pelanggaran terhadap agama; baik berupa perpecahan, fanatik partai dan golongan, menerima uang suap/sogok (catatan: Lihat penjelasan lebih rinci tentang masalah suap/sogok dalam Jarimah Risywah oleh Dr. Abdullah at-Thariqi), terutama “serangan fajar” karena hal itu diharamkan dalam agama dan terlaknat pelakunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ
Allah melaknat pemberi suap dan yang disuap.”

Komite tetap fatwa dan penelitian keislaman kerajaan Arab Saudi telah menfatwakan haram pemberian dan penerimaan hadiah dari calon yang akan ikut pemilihan legislatif, fatwa no. 7245, yang ditanda tangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz (ketua), yang berbunyi:

Soal: Apakah hukum Islam tentang seorang calon anggota legislatif dalam pemilihan yang memberikan harta kepada rakyat agar mereka memilihnya dalam pemilihan umum?

Jawab: Perbuatan calon anggota legislatif yang memberikan sejumlah harta kepada rakyat dengan tujuan agar mereka memilihnya termasuk risywah (suap) dan hukumnya haram. (Fatawa Lajnah Daimah, jilid XXIII, hlm 541.)

Demikian juga segala bentuk permusuhan dan perpecahan, sangat bertentangan dengan dalil-dalil agama Islam. Imam asy-Syaukani mengatakan: “Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah.” (Al-Fathur Robbani 6/2847-2848 oleh asy-Syaukani)

KEENAM

Apapun hasilnya pemilu nanti dan siapapun yang menang dan terpilih sebagai pemimpin, maka marilah kita laksanakan kewajiban kita sebagai rakyat yaitu mendengar dan taat kepadanya sebagaimana ajaran Al-Qur’an dan sunnah, selagi tidak memerintahkan kepada maksiat. Jika memerintahkan kemaksiatan maka tidak boleh untuk didengar dan ditaati namun tetap kita tidak boleh memberontak kepemimpinannya.

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَ اْلسَّمْعِ وَ اْلطَّاعَةِ وَ إِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا
“Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Allah  dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun dia adalah budak  Habsyi (orang hitam)” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/126-127, Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 42,43 dll, dishahihkan Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil 2455)

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.” (HR. Bukhari 13/121, Muslim 3/1469)

Marilah kita semua menjaga stabilitas keamanan negara dan menjaga emosi kita tatkala pilihan kita kalah, karena kemanan adalah sesuatu yang harus kita jaga bersama demi terjaganya nyawa, harta dan agama, lebih daripada hanya sekedar membela dan fanatik kepada pemimpin atau golongan tertentu. Para ulama mengatakan:

الْمَصْلَحَةُ‎ ‎الْعَامَّةُ‎ ‎مُقَدَّمَةٌ‎ ‎عَلَى‎ ‎الْمَصْلَحَةِ‎ ‎الْخَاصَّةِ
“Kemaslahatan umum lebih didahulukan daripada kemaslahatan pribadi.” (Al-Muwafaqot 6/123 karya asy-Syathibi)

Marilah kita ingat selalu pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita menghindari segala kekacauan dan tidak terlibat/berkecimpung di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى،‎ ‎مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ، فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه
“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung.” (HR. Bukhari 3601 dan Muslim 2776)

Demikianlah beberapa nasehat penting yang ingin kami sampaikan. Semoga Allah menjaga kita semua dari segala fitnah dan membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya. Ya Allah berikanlah kepada kami pemimpin yang engkau cintai dan ridhoi untuk menegakkan agama-Mu dan membela hamba-hamba-Mu dari segala bentuk kezhaliman. Amiin.

***

Penyusun: Ustadz Yusuf bin Mukhtar
(penulis adalah pemimpin redaksi Majalah Al-Furqon, Gresik) 

Dikoreksi dan setujui oleh
Al-Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc.                    Al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc.

http://www.konsultasisyariah.com/untaian-nasehat-sebelum-pemilu-2014/

Musibah itu membuatku tersenyum

Filed under: by: 3Mudilah

Ketika Allah Ta’ala menguji para hamba-Nya, ternyata di balik cobaan, ujian, musibah yang didapatkan oleh seorang ha

mba terdapat keutamaan yang luar biasa. Oleh sebab inilah, sebenarnya orang yang sedang diuji oleh Allah Ta’ala dengan berbagai macam cobaan, musibah, rasa sempit dan sebagaimana, harus tersenyum, gembira dan bersyukur. Ternyata mendapatkan ujian dari Allah Ta’ala itu indah dan kenikmatan, mari perhatikan beberapa hal-hal berikut.

Pertama, Shalawat Allah Ta’ala, rahmat dan petunjuk-Nya bagi yang sabar ketika mendapatkan ujian.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-BAqarah: 155-158)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang sabar ketika mendapatkan ujian maka dia akan mendapatkan tiga keutamaan sekaligus, shalawat Allah Ta’ala, rahmat dan petunjuk-Nya. Dan perlu diperhatikan, bahwa Allah Ta’ala tidak pernah mengumpulkan tiga keutamaan sekaligus dalam satu ayat, kecuali di dalam ayat ini yaitu keutamaan bagi orang yang bersabar ketika mendapatkan musibah. Makna shalawat Allah Ta’ala kepada orang yang bersabar ketika mendapatkan musibah adalah: Allah Ta’ala memuji orang tersebut di hadapan para malaikat-Nya yang suci, hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu Al ‘Aliyah Ar rayyahi rahimahullah. (Lihat Syarah Al Mumti’, karya Ibnu Utsaimin 3/163-164). 

Kedua, sebesar ujian sebesar itu pula pahala yang disediakan Allah Ta’ala.

Ketiga, Orang yang diuji Allah adalah bukti cinta-Nya kepada orang tersebut.

عن أنس رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ».

Artinya: “Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)."(Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2576) dan dishahihkan oleh Al Albani)

Kalau begini, kenapa harus terus masuk dalam kesedihan, sebesar ujian sebesar itu pula pahala yang disediakan Allah Ta’ala. Maka cobalah untuk tersenyum ketika mendapatkan ujian, cobaan atau musibah.

Dan betapa, seorang hamba sangat membutuhkan ampunan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, karena seorang manusia adalah yang sudah ditegaskan sering melakukan kesalahan dan dosa.

عنْ أَنَسٍ  رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»
Artinya: “Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shalallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak keturunan Adam adalah seorang yang selalu melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang selalu melakukan kesalahan adalah orang-orang yang selalu bertaubat.” ((Lihat Syarah Al Mumti’, karya Ibnu Utsaimin 3/163-164).

Keempat, Musibah menghapuskan dosa dan kesalahan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ ».
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ujian selalu bersama dengan orang beriman lelaki dan perempuan, baik di dalam diri, anak dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai satu kesalahanpun.” (Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2687) dan dishahihkan oleh Al Albani)

Kelima, Seorang yang mendapatkan cobaan berarti diinginkan kebaikan oleh Allah Ta’ala

عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - «مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ»
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikan maka Allah akan mengujinya.”
Demikianlah sebagian keutamaan yang disediakan bagi orang yang dirundung musibah, cobaan dan ujian. Semoga Anda yang lagi mendapat musibah bisa tersenyum setelah membacanya. Allahumma amin.

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Dammam KSA.
http://dakwahsunnah.com/artikel/targhibwatarhib/98-musibah-itu-membuatku-tersenyum

Tangisan Syeikh Mulla untuk Peminum Khamr

Filed under: by: 3Mudilah

Kini, di daerah yang dulunya terjangkit kebodohan dan maksiat itu berubah. Penduduk yang shalat semakin ramai bahkan selain menjadi tempat ibadah masjid itu juga menjadi tempat menimba ilmu
Tangisan Syeikh Mulla untuk Peminum Khamr
KMM
Syeikh al Buthy

SUATU ketika, tatkala Syeikh Mulla Ramadhan dan keluarganya menumpangi bus yang bertujuan ke Damaskus, mereka bertemu dengan seseorang yang berasal dari Kurdi. Lelaki itu bertanya kepada Mulla, apa yang menyebabkan beliau meninggalkan segala harta dan kampung halaman lalu hijrah ke Damaskus bersama seluruh keluarga?

Mulla Ramadhan hanya menjawab pertanyaan lelaki itu dengan singkat.

Akan tetapi si lelaki itu justru memperingatkan Mulla bahwa kehidupan di Damaskus tak semudah yang dibayangkan. Hanya orang-orang yang memiliki harta berlimpah dan punya kemampuan lebih yang mampu bertahan.

Istri Mulla sempat khawatir dengan peringatan si lelaki, bahkan mengamini kata-katanya tersebut dan memohon kepada Mulla agar mereka kembali ke kampung halaman. Namun Mulla berkata : “Bukankah Engkau telah berjanji bahwa kita tidak akan kembali walaupun kita akan mengahadapi kesulitan yang besar.”

Peringatan laki-laki tersebut sama sekali tidak menggoyahkan tekad Mulla Ramadhan untuk hijrah di jalan Allah. Beliau percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang hijrah dijalanNya.
Setelah tiba di Damaskus, Mulla dan keluarga menempati satu kamar kosong di wilayah Kurdi. Benar memang seperti yang dikatakan oleh lelaki yang beliau jumpai di bus, tak ada profesi lain yang dapat membantu beliau selain menjaja kitab-kitab bekas berbahasa Kurdi ke seluruh wilayah Suriah.

Di Damaskus Mulla tidak dikenal sebagai  alim ulama, akan tetapi beliau dikenal hanya sebagai pedagang. Namun seiring berjalannya waktu, beliau berkenalan dengan beberapa ulama di lingkungan Kurdi tersebut dalam berbagai kesempatan. Ketika mereka melakukan diskusi, Mulla sering menjawab soal-soal yang diutarakan kepada beliau. Akhirnya Mulla dikenal sebagai Faqihus Syafii (orang fakih dalam madzab Syafii) pertama di lingkungan Kurdi tersebut.

Lalu sedikit demi sedikit pelajar-pelajar Kurdi pun datang kepada beliau hendak berguru, diikuti oleh beberapa pelajar-pelajar  di beberapa Ma’had  Damaskus bahkan dari berbagai wilayah Suriah, baik Kurdi maupun Arab. Ketika masih di Bhoutan beliau telah menjalani profesi sebagai guru di sekolah-sekolah Kurdi. Dan atas izin Allah beliaupun kembali menjalani profesi tersebut disamping kegiatan sehari-harinya sebagai pedagang.

Ada cuplikan kisah tentang bagaimana dakwah Mullah.

“Aku memiliki tetangga seorang lelaki yang selalu berbuat berbagai jenis dosa besar. Ia adalah peminum khamr,  berlidah tajam sekaligus suka bertindak asusila. Di antara musibah yang paling besar, lelaki itu sering menyewa pelacur lalu mengundang teman-temannya untuk menggauli pelacur tersebut, setiap malam rumahnya dipenuhi suara dendang dan nyanyian. “

Mengahadapi kondisi seperti ini Mulla pun berunding dengan beberapa penduduk yang sholat di masjid untuk menasihati lelaki itu, walaupun hasilnya nihil.

Ternyata lelaki tersebut tahu bahwa Mulla berupaya mengahalang perbuatannya. Maka suatu hari sebelum menjelang shalat Shubuh lelaki itu datang kerumah Mulla dalam kondisi mabuk dan melempar batu ke pintu rumah beliau. Bahkan setelah itu ia juga melempari jendela mesjid dengan batu ketika para jamaah sedang menunaikan shalat.

Syeikh Mulla tau benar, bahwa dalam dakwah kita tidak hanya bergantung pada keindahan bahasa, dan kehikmatan tingkah, serta berapa banyak nasehat yang mampu kita berikan, akan tetapi di sana ada bagian lain yang sering dilupakan oleh kebanyakan para pendakwah hari ini. Bagian itu adalah doa.

Setelah berdakwah dengan lisan, seorang dai dituntut untuk menyerahkan hasil dakwahnya kepada Allah, agar Allah memberikan hidayah kepada orang tersebut. Karena sesungguhnya hidayah itu hanya ada disisi Allah.

Melihat hasil dakwahnya tidak membawa hasil, Syeikh Mulla pun bertwajjuh kepada Allah di waktu sahur dan memohon agar Allah memberi hidayah kepada lelaki itu.
Mulla berkata; “Entah berapa kali aku menangis dalam sujud memohon agar Allah memberi hidayah untuk lelaki itu.”

Selang beberapa hari kemudian, tiba-tiba lelaki tersebut mulai mengeluarkan pelacur-pelacur yang pernah disewa dari rumahnya, dan setelah itu ia berhenti minum khamar. Bahkan Mulla pernah bertemu dengannya di dalam masjid dan ia mencoba mencium tangan Mulla.
Ketika Mulla melaksanakan ibadah haji, beliau berwasiat agar tidak menghiasi rumah untuk menyambut beliau ketika pulang.

Namun setelah terdengar kabar bahwa Mulla hampir tiba dari ibadah haji, si lelaki itu justru menghiasi rumah Mulla dengan hiasan yang spesial. Walaupun keluarga Mulla sudah melarangnya namun ia tetap bersikeras. Dan ia meletakkan karpet merah di depan rumah untuk menyambut kepulangan Mulla. Dan ketika Mulla kembali, keluarga beliau langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mulla pun berdoa dan memuji Allah.

Seorang lelaki yang dulunya bergelimpangan maksiat dan benci kepada beliau kini menjadi orang yang sangat menghormati Mulla setelah beliau mendakwahi si lelaki dan memohon kepada Allah untuk menghidayahi lelaki itu.

Bahkan daerah yang dulunya terjangkit kebodohan dan maksiat itu semakin lama semakin berubah. Penduduk yang shalat di masjid semakin ramai bahkan selain menjadi tempat ibadah mesjid itu juga menjadi tempat menimba ilmu agama. Dan sekarang masjid itu dinamai Masjid Al-Rifai.*/Rizki Syahputra, diambil dari “Kitab Hadza Walidi” (inilah Ayahku) tulisan Syeikh Al-syahid Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi, di kmamesir.org

http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2014/03/27/18915/tangisan-syeikh-mulla-untuk-peminum-khamr.html#.U0JlU1cjXdl

Sikap Terhadap Nikmat dan Musibah

Filed under: by: 3Mudilah


jalan 

Tertulis dalam Al Qur’an Surah Al Hadid ayat 20-23 yang Mulia:
  • Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(20)
  • Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.(21)
  • Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(22)
  • (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (23)
Bagi yang belum pernah mengetahui ayat ini, mungkin akan tercengang betapa Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana telah Memberikan sebuah resep kehidupan yang sangat bermanfaat bagi hamba-hambaNya yang beruntung mendapatkan keimanan.

Ayat-ayat yang sangat indah jika dilantunkan oleh seorang Qari bersuara merdu yang faham cara membacanya.

Allah SWT Membuat MAKLUMAT dalam Al Qur’an dengan kata-kata ”I’lamu” (57:20), yang mana maklumat ini merupakan sebuah pernyataan resmi, serius dan berbobot atas sebuah informasi penting bagi manusia. Isi maklumat tersebut adalah penjelasan tentang hakekat kehidupan dunia bagi manusia. Yaitu bahwa ia (kehidupan dunia) hanyalah permainan. Sebagaimana yang namanya permainan, maka dunia tidaklah pantas disikapi dengan keseriusan dan kesungguhan dalam melayani tuntutannya. Allah Menjelaskan pula bahwa beberapa hal (sebagai contoh) dari apa-apa yang dianggap sebagai hal-hal penting dalam kehidupan dunia, sebenarnya semua itu hanyalah bagaikan fatamorgana.

Di ayat selanjutnya (57:21) Allah SWT langsung menganjurkan manusia untuk bersikap sebaliknya tehadap apa yang merupakan kebalikan/lawan dari kehidupan dunia, yaitu kehidupan akhirat. Jika terhadap kehidupan dunia manusia hendaknya mensikapinya hanya sebagai permainan dan selayaknya tanpa sikap serius apalagi berusaha keras, maka terhadap kehidupan akhirat yang merupakan kebalikan atau lawan dari kehidupan dunia, hendaknya manusia bersikap serius dan bahkan berkompetisi. Allah sekaligus juga Menjanjikan luasnya akhirat dan ampunan yang disediakan.

Ayat berikutnya (57:22) memberikan informasi penting lain yang terkait dengan dua ayat sebelumnya. Yaitu tentang takdir. Bahwa nasib manusia, baik atau buruk, bahkan setiap peristiwa yang terjadi di atas panggung dunia ini, pada hakekatnya sudah ditentukan sebelumnya. Keterangan ini memberikan perspektif yang jelas tentang kedudukan ujian hidup manusia, bahwa ujian hidup berupa senang maupun susah sudah ditentukan sebelumnya sehingga manusia tak perlu menyesali atau memaksakan kehendak. Sikap yang pas dalam menghadapi takdir memang bukan hal mudah. Terutama ketika menghadapi peristiwa yang sangat menyedihkan, atau sangat berat, manusia benar-benar harus menempatkan dirinya dengan se-tepat-tepatnya. Manusia harus mengambil sikap bersabar atas ujian dan tetap bersangka baik pada Allah padahal ia sedang susah atau gundah. Itulah ujian, semua ujian memang diadakan untuk menguji sampai ke titik-titik batas kesanggupan.


Manusia hidup tak pernah mengenal statis. Selalu saja ada dinamika hidup menyertainya. Tidak ada seorang manusia di dunia ini yang tak diuji dengan baik dan buruk di dunia ini, apakah ia suka atau tidak. Dalam berbagai ayat-ayatNya Allah SWT sudah Memaklumatkan bahwa setiap manusia akan diuji, hanya saja mungkin tidak semua manusia mensikapi musibah dan nikmat dengan sikap yang sama. Ada orang yang optimis yang cenderung menghadapi kesulitan hidup dengan optimisme, sehingga ia senantiasa berusaha mencari jalan keluar, bahkan menganggap kesulitan sebagai tantangan. Ada pula manusia pesimis yang cenderung bersikap negatif terhadap apa saja, selalu mengeluh dan merasa susah.

Sudah sifat manusia untuk berkeluh kesah jika menghadapi kesulitan. Bahkan manusia mudah sekali merasa berputus asa dan kehilangan akal maupun kesabaran. Rentang sikap manusia terhadap musibah dapat dimulai dari sekedar keluhan kecil hingga kehilangan kewarasan karena emosi sedih atau marah yang tak terkendali. Seorang yang merasa bahwa kesulitan atau musibah yang dihadapinya adalah hal kecil, ia akan mensikapinya dengan santai dan memiliki banyak kesempatan untuk berpikir guna mengatasi kesulitan tersebut. Orang ini memusatkan perhatiannya pada penyelesaian masalah, dan ia mengaktifkan otaknya untuk berusaha mencari jalan keluar. Lain halnya jika seseorang merasa musibah yang dihadapinya terlalu berat atau besar bagi dirinya, ia akan tenggelam dalam masalah, bertolak belakang dengan orang pertama tadi yang berusaha mengatasi masalahnya dengan menggunakan otaknya, orang kedua ini malah tenggelam di dalam masalah. Perasaannya-lah yang menenggelamkan dirinya.

Perasaan manusia, persepsi manusia atas sesuatu bukanlah alat ukur obyektif. Perasaan manusia dapat saja berlebihan, sedangkan persepsinya mungkin saja keliru. Dalam menghadapi musibah, ada orang yang merasa ujian itu tak sanggup ia hadapi. Ia menganggap ujian tersebut terlalu berat baginya. Ini persepsinya sendiri. Padahal Allah SWT sudah Menyatakan dalam Al Qur’an bahwa seseorang tak akan dibebani lebih dari kadar kesanggupannya (2:286). Allah Yang Maha Tahu telah Mengukur kadar kesanggupan orang tersebut dan ia sesungguhnya mampu menghadapinya, namun ia telah menyesatkan dirinya dengan mempersepsikan musibah tersebut terlalu besar atau berat bagi dirinya. Persepsi ini kemudian dilanjutkan dengan prasangka buruk terhadap Allah, menyangka bahwa Allah tidak adil, menyangka bahwa Allah telah menghukum dirinya dengan kehinaan dan musibah. Sekali lagi ini adalah persepsi manusia yang keliru.

Allah SWT memberi gambaran orang-orang yang salah persepsi terhadap musibah dan nikmat sebagai berikut:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. QS Al Fajr 15-16.

Inilah contoh gambaran persepsi manusia yang salah terhadap tindakan Allah ”Menguji” manusia. Ya, baik nikmat kesenangan maupun kesulitan statusnya adalah sama-sama ”ujian”. Yang disebut sebagai ”ujian” pastilah mengandung keharusan untuk manusia tersebut bersikap tertentu, dan tidak menghendaki manusia bersikap sebaliknya.

Secara implisit ayat-ayat tadi (89: 15-16) juga memberikan semacam sindiran bagi manusia-manusia yang telah menempatkan perhiasan dunia berupa rezki, kedudukan dan kesenangan sebagai tolok ukur ”baik” atau ”buruk”. Yaitu orang-orang yang mengukur keberuntungan atau kemalangan manusia hanya berdasarkan hal-hal duniawi atau matter oriented.

Allah SWT Menghendaki agar manusia bersikap pas atau tepat terhadap apa yang ia hadapi dan apa yang ia dapatkan di dunia ini. Allah Menghendaki kita sebagai manusia mensikapi semua itu dengan sikap tenang, stabil, tetap imbang dan tidak kehilangan orientasi hidup yang sesungguhnya yaitu orientasi menuju akhirat. Ini tercermin di ayat 23 Surah Al Hadid, yaitu: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.

Jangan berduka cita dan jangan terlalu gembira di dunia ini, baik dalam menghadapi susah maupun senang. Bersikaplah tetap stabil dan imbang (balance) karena pada hakekatnya dunia ini hanya fatamorgana. Segala kesulitan dunia hanyalah kesulitan yang menipu, karena jika disikapi dengan sabar maka kesulitan tersebut merupakan karunia Allah yang memberikan kita kesempatan untuk banyak-banyak bersabar dan bertaubat, yang mana itu baik bagi kita, baik bagi akhirat kita. Sedangkan segala kesenangan dan nikmat dunia juga hanya tipuan belaka, sebab boleh jadi mengandung fitnah atau bahaya besar bagi kita karena boleh jadi kita menjadi sombong atau berlebihan sehingga kita terjatuh ke dalam dosa dan kemurkaan Allah di akhirat kelak. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Manusia yang mampu bersikap sebagaimana tuntunan ayat ini hanyalah manusia-manusia yang sudah mampu memahami tiga ayat sebelum ini, yaitu ayat 20, 21 dan 22 dari Surah Al Hadid di atas.

Muslim disebut Muslim karena kelekatannya pada sikap penyerahan diri pada Allah SWT. Islam artinya ”berserah diri”. Islam adalah jalan hidup yang menuntut penganutnya untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk memiliki sikap atau pendapatnya sendiri dalam persoalan-persoalan penting dalam hidupnya. Jika non-Muslim (orang kafir) menganggap dirinya berhak memiliki sikap dan pendapatnya sendiri tentang hidup, musibah senang dan bahagia, Muslim harus bertanya kepada agamanya apakah arti itu semua. Oleh karena itulah ia dapat disebut ”Muslim” yang artinya berserah diri.

Seorang Musim harus memahami apakah hakekat dunia, maupun bagaimana mensikapinya menurut apa kata Allah, bukan apa kata nafsu dan keinginan manusia belaka. Berikut adalah sebagian dari poin-poin penting untuk difahami:
  1. Allah SWT pasti akan menurunkan ujian kepada setiap orang, oleh karena itu selama ia hidup di dunia hendaknya ia selalu bersiap menghadapi ujian-ujian Allah baik atau buruk.
  2. Allah Mengatakan dalam surat Al Fajr di atas dan banyak ayat-ayat lain baik dalam Al Qur’an maupun bimbingan Hadits Nabi SAW bahwa keadaan ”baik” maupun ”buruk” yang diberikan kepada manusia adalah sama-sama ujian. Nikmat maupun musibah adalah sama-sama alat uji keimanan bagi manusia yang mengaku beriman.
  3. Dalam mensikapi kedua jenis ujian tersebut manusia hendaknya selalu memasang sikap imbang, yang pada dasarnya kembali kepada acuan sikap untuk bersyukur dan bersabar. Bersyukur ketika merasakan nikmat dan bersabar ketika merasa sempit atau susah.
  4. Diantara mutiara kehidupan yang sangat berharga yang sepatutnya ita ambil sebagai sikap dalam menghadapi ujian hidup ada di ayat-ayat yang ditulis di awal tulisan ini, yang intinya adalah sikap netral terhadap dunia: supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Hendaknya perasaan kita tidak berlebihan, baik ketika mendapatkan musibah maupun ketika mendapatkan nikmat.
  5. Sikap imbang atau netral di atas dapat terbentuk ketika kita sudah terlebih dahulu memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah tipuan-tipuan fatamorgana belaka, dan bahwa akhiratlah kehidupan yang sesungguhnya.
Mudah-mudahan uraian singkat ini dapat memberikan gambaran bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi dunia fana ini. Wallahua’lam (SAN 22052009)

http://www.eramuslim.com/peradaban/benteng-terakhir/sikap-terhadap-nikmat-dan-musibah.htm#.U0JzFlcjXdl