Sunnah Tadafu’, Eksistensi Pertarungan antara Hak dan Batil

Filed under: by: 3Mudilah


Foto: Perang Salib sebagai salah satu bentuk sunnah tadafu''
 
Hidup di dunia ini kita mengenal yang namanya predator, yaitu binatang pemangsa dalam sebuah ekosistem. Untuk menjaga keseimbangan alam agar berada dalam kondisi ideal, keberadaan binatang predator menjadi sangat urgen. Namun akan berbahaya bagi lingkungan jika predatornya berjumlah banyak maka.

Sebagai contoh, mungkin sering menyaksikan ada tanaman diserang oleh ulat yang memakan dedaunan, maka Allah Ta’ala mendatangkan burung-burung kecil yang memakan ulat-ulat tersebut, sehingga tanaman yang daunnya dirusak ulat kembali tumbuh dengan baik. Atau contoh lainnya adalah keberadaan wereng yang dapat merusak tanaman. Ketika populasi meningkat dan tak terkendali, maka ia menjadi berbahaya. Untuk menjaganya, Allah pun menciptakan burung atau katak sebagai pemangsanya.

Dalam islam, ketetapan tersebut biasa dikenal dengan sunnah tadafu’, yaitu sebuah ketetapan Allah yang terjadi antar makhluk untuk saling bersaing, melawan, berebut dan saling memangsa. Ketetapan ini merupakan hukum alam yang tidak pernah berubah.  Dari dulu sampai sekarang, kajadian sama, atau dalam istilah umumnya disebut dengan sunnatullah atau ketetapan ilahi. Dalam al-Quran surat Al-fath ayat 23, Allah ta’ala menyebutkan:

“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.”(QS : Alfath : 23)

Pertarungan Abadi dan Ketetapan Ilahi

Di antara sunnatullah yang berlaku di muka bumi ini, selain ditetapkannya Sunnah Mudawalah (saling berkuasa), Allah juga menetapkan sebuah kehendak lain yang tidak bisa dihindarkan oleh makhluknya, yaitu sunnah tadafu’ (saling monolak dan melawan). Yaitu suatu ketetapan yang berlaku di antara makhluk untuk saling membela diri, berkonfrontasi dan saling melawan dan memperebutkan.

Tidak hanya terjadi pada ekosistem hewan, sunnah tadafu’ juga berlaku di antara manusia. Ketika orang-orang zalim berkuasa dan menghancurkan gerak hidup manusia yang ideal, maka Allah Ta’ala mengutus pasukan dari hamba yang dipilihNya untuk menghentikan kezaliman tersebut. Allah Ta’ala mengutus Nabi Ibrahim kepada Namrud yang tirani, mengirim Nabi Musa kepada Fir’aun yang sombong lagi menindas, menyuruh Thalut untuk melawan Jalut yang kejam, dan menghadirkan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam– di tengah-tengah masyarakat Quraisy yang musyrik dan suka membunuh.

Demikianlah hakitat sunnah tadafu’ yang terjadi di antara manusia. Perlawanan akan selalu ada di muka bumi ini. Sejak pertama kali Allah ciptakan manusia, perlawanan ahlu haq untuk menghancurkan kebatilan akan terus berlangsung. Pertarungan wali Allah sebagai representatsi ahlul haq melawan wali setan sebagai pengusung kebatilan itu tidak pernah ada ujungnya. Di antara mereka saling memenangkan pertarungan. Terkadang wali Allah yang tampil sebagai pemenang walaupun di waktu yang lain dia ditakdirkan kalah dan dikuasai oleh musuh.

Tentang perihal ini, Ibnul Qayyim menuturkan :

إنما يصيب المؤمن في هذه الدار من إدالة عدوه عليه، وغلبته له، وإذائه له في بعض الأحيان، أمر لازم لا بد منه
Artinya, “Orang mukmin hidup di dunia ini terkadang akan dikalahkan oleh musuhnya, dikuasai serta dilecehkan oleh mereka. Dan itu suatu keniscayaan yang pasti terjadi.” (Ighatsatul lahfan 2/189)

Lalu jika ada yang bertanya, “Kenapa kekuasaan itu terkadang ditakdirkan berada di tangan orang kafir dan mereka bisa mengalahkan orang Islam? Mengapa mereka bisa menguasai orang-orang islam?

Ibnul Qayyim memberikan jawaban, “Ini adalah tabiat hidup di dunia,” sebagaimana di dunia ini ada panas dan ada dingin, terkadang di satu sisi ia mengalami kesusahan dan di satu sisi yang lain ia mengalimi kemudahan. Ibnul Qayyim melanjutkan :

إنما يصيب المؤمن في هذه الدار من إدالة عدوه عليه، وغلبته له، أذاه له في بعض الأحيان أمر لازم لا بد منه، وهو كالحر الشديد، والبرد الشديد، والأمراض والهموم والغموم، فهذا أمر لازم للطبيعة والنشأة الإنسانية في هذه الدار

Artinya,“Apa yang menimpa orang beriman di dunia ini, berupa pengusaan musuh atas diri mereka, terkadang mereka dikalahkan dan dilecehkan. Ini bagian dari sesuatu yang pasti terjadi. Sama seperti adanya panas dan dingin, sakit demam dan sedih, semua itu adalah perkara yang biasa terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia di muka bumi ini.” (Ighatsatul lahfan 2/189)

Peperangan yang terjadi di antara manusia merupakan salah satu sunnah tadafu’ yang tak pernah ada ujungnya. Semenjak Allah menciptakan Adam, peperangan antara pembela al-haq dengan pembela kebatilan terus terjadi hingga sekarang.

Ibnu Khaldun berkata,

اعلم أن الحروب وأنواع المقاتلة لم تزل واقعة في الخليقة منذ برأها الله” قال: “وهو أمر طبيعي في البشر لا تخلو عنه أمة ولا جيل
Ketahuilah! Bahwasanya peperangan dengan segala macam bentuknya itu akan selalu terjadi di antara makhluk sejak Allah tempatkan pertama kali di muka bumi. Ini merupakan perkara yang pasti terjadi di antara manusia, tidak ada umat atau generasi yang bisa menghindarinya.” (Ibnu 
Khaldun, Muqaddimah, 145)

Maka siapa saja yang bermimpi agar perang itu berakhir, maka sama saja dia sedang berangan-angan. Sebab, perlawanan itu tidak akan ada habisnya. Hanya ada satu masa di mana seluruh manusia di muka bumi akan merasakan kedamaian dan tidak ada percecokan, yaitu ketika Nabi Isa as turun dan berhasil membunuh Dajjal. Setelah itu manusia hidup dalam keadaan nyaman. Namun hnya beberapa saat saja. Sangat pendek jika dibandingkan dengan umur dunia.

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)

Jika Sunnah Tadafu’ Tidak Ada, Apa yang Terjadi?

Dalam sebuah ayat, Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya,“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,” (Al-Hajj: 40)
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa hikmah dari ditetapkannya sunnah tadafu agar agama Islam terjaga dan dunia selamat dari kerusakan yang ditimbulkan orang zalim. Allah sebutkan bahwa jika tidak ada sunnah tadafu’, sementara orang-orang kafir itu terus berkuasa, maka tidak ada upaya dari umat Islam untuk melawan dan menghadang keganasan mereka. Tidak ada yang berjihad menghancurkan mereka, tidak ada yang mengalahkan mereka. Oleh karena itu di antara hikmah sunnah tadafu’ ini adalah menghapus segala bentuk pengrusakan di muka bumi ini.

Jadi, ini merupakan sunnah ilahiyah (ketetapan ilahi) agar kerusakan di muka bumi tidak meluas dan merajalela. Selain itu, agar orang-orang tidak diam melihat kerusakan tersebut dan tidak mau memperbaikinya. Sehingga maslahat hidup mereka hancur, tempat-tempat ibadah yang di  dalamnya banyak disebut-sebut nama Allah dihancurkan, masjid akan diratakan, gereja dan biara kaum Yahudi pun akan dirobohkan.

“Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.”

Hari ini kita bisa meyaksikan langsung apa yang terjadi di Suriah atau apa yang dilakukan oleh orang-orang yahudi di Palestina. Mereka menghancurkan masjid beserta menara-manaranya. Menyerang orang-orang yang berada di dalamnya, mengotorinya dan melecehkan kehormatannya. Kelakuan seperti ini, jika tidak ada upaya untuk melawan, maka kezaliman itu terus meluas. Pada akhirnya tidak ada lagi masjid di muka bumi ini yang dipakai untuk beribadah kepada Allah, tidak ada lagi al-quran yang dibaca oleh kaum muslimin. Tidak ada lagi azan yang berkumandang tengah-tengah masyarakat.

Jadi sunnah tadafu’ (melawan) itu menjadi upaya untuk menyelamatkan kemaslahatan hidup manusia dari semua kekejaman tersebut. Menghilangkan keganasan orang zalim dan menghapus segala bentuk penindasan yang dimainkan oleh musuh.

As-Sa’di berkata,

أي لولا أنه يدفع بمن يقاتل في سبيله كيد الفجار، وتكالب الكفار، لفسدت الأرض باستيلاء الكفار عليها، وإقامتهم شعائر الكفر، ومنعهم من عبادة الله، وإظهار دينه، ولذلك ختم الله الآية بقوله: وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

Artinya, “Maknanya jika bukan karena penolakan terhadap peperangan yang di mainkan oleh orang-orang fajir, konspirasi orang-orang kafir, maka bumi akan hancur dengan berkuasanya mereka di atasnya. Mereka akan mengangung-agunngkan syiar-syiar kufur, melarang hamba Allah untuk beribadah, karena itu Allah tutup ayat tersebut dengan firmannya, “Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Taisirul Karim Rahman, 108)

Ibnu Abbas dan Mujahid berkomentar tentang ayat di atas, “Seandainya Allah tidak menolak (kekejaman) dengan menghadirkan pasukannya dari kaum muslimin, ..maka orang-orang musyrik akan terus berada dalam posisi menang. Lalu mereka akan membunuh orang-orang mukmin dan menghancurkan dunia serta masjid-masjid yang berada di atasnya.” (Al-Kasyaf, 2/224)

Ayat di atas juga menjadi dalil yang cukup mendasar bahwa peperangan yang terjadi di muka bumi ini akan terus berlangsung, tidak ada ujungnya. Allah memilih hamba-Nya sebagai para syuhada yang akan menempati syurganya. Seandainya tidak ada sunnah tadaffu ini maka tidak ada wasilah bagi hamba-hambanya unutk mendapatkan gelar syuhada.

Sehingga orang-orang yang menghendaki kedamaian dan takut melawan atau menolak kekejaman ahlul batil, dalam kondisi yang sama mereka tidak akan selamat dari kekejaman tersebut. Bahkan kekejaman yang terjadi berikutnya jauh lebih parah. Sebab, orang-orang kafir jika menang dan berkuasa maka mereka akan mengusai segala-galanya.

Sehingga ketika ada orang-orang yang minta damai dan tidak mau melawan maka hal itu sama saja sia-sia. Harapan tersebut tidak bisa menyelamatkan mereka dari kekejaman orang kafir yang merampas hak-hak umat Islam. Maka memilih duduk-duduk dan tidak mau berperang itu sama sekali tidak menjamin keselamatan mereka dari konspirasi orang-orang kafir.

Di akhir, menarik merenungkan sebuah perkataan yang pernah penulis dengar, “Jika orang kafir berkata bahwa mereka tidak membenci Islam dan kaum muslimin. Berarti ada dua kemungkinan, mereka sedang berdusta atau anda tidak berada di atas Islam yang benar.” 

Wallahu a’lamu bissowab
Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

https://www.kiblat.net/2017/10/31/150283/2/

Belajar ‘Hakikat Taat’ kepada Abu Bakar

Filed under: by: 3Mudilah

Ketaatan butuh bukti nyata, bukan retorika. Ketaatan juga membutuhkan nyali keberanian
Belajar ‘Hakikat Taat’ kepada Abu Bakar

BAGI Ahlus Sunnah Wal Jama’aah, tidak ada perbedaan mengenai keagungan sosok ini. Beliau adalah figur yang paling paling disayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selama hidup nabi, Khalifah pertama ini selalu bersama beliau baik susah maupun duka; kaya maupun papa; bahagia maupun sengsara. Begitu banyak keagungan yang dimiliki oleh sahabat yang berjuluk Ash-Ashiddiq ini, sampai-sampai beliau adalah di antara orang yang memiliki keistimewaan bisa masuk surga dari berbagai pintu (HR. Bukhari, Muslim).

Sebenarnya, masih banyak kelebihan lain yang tak mungkin disebut semua. Hanya saja, kalau mau belajar pada Abu Bakar, maka yang patut diteladani, kata kuncinya adalah: taat.

Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu  mencegah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memerangi kaum yang murtad dan menolak membayar zakat, Abu Bakar dengan lantang menjawab, “Demi Allah! Seandainya mereka enggan membayar zakat walaupun hanya seutas tali onta, yang biasa mereka tunaikan pada Rasulullah, sungguh akan aku perangi mereka. Sesungguhnya zakat adalah hak harta, demi Allah! Akan aku perangi orang yang bembeda-bedakan antara shalat dan zakat.” (HR. Bukhari).

Peristiwa ini, merupakan di antara sekian peristiwa yang menggambarkan ketaatan Abu Bakar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.
Baca: Hidup Lebih Indah dengan Taat Beribadah
Menurutnya, zakat merupakan perkara wajib, dan merupakan rukun Islam, karenanya sebagai umat Islam wajib membayarnya jika mampu dan tidak boleh membedakan status hukumnya dengan rukun-rukun lain yang sudah final. Bila tidak maka pondasi Islam akan hancur, dan tentu ini sangat membahayakan bagi kekokohan umat Islam yang ketika itu baru saja kehilangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan pandangan dangkal dan tak teliti barangkali akan ada yang menganggap bapak Aisyah ini egois dan menolak nas yang sudah tetap berupa: larangan memerangi orang yang sudah bersyahadat dan shalat. Jika kita mempunyai pandangan demikian, perlu kiranya dipertimbangkan, diteliti kembali, bahkan dikoreksi. Abu Bakar radhilallahu ‘anhu  sama sekali tidak menolak nas yang sudah tetap; ia juga tidak egois apalagi berpikir pragmatis. Satu-satunya jawaban yang bisa menjelaskan sikap Abu Bakar ialah gelora ketaatan yang terjaga dengan baik di dalam jiwanya.

Sikap keras yang ditunjukkannya pada peristiwa ini, meski menyalahi karakter lemah lembut dan kasih sayang yang biasa ditampakkan, justru menggambarkan kapasitas ketaatan Abu Bakar kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada setiap jengkal dari kehidupan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, spirit ketaatan akan selalu dirasakan. Beliau adalah sahabat yang terdepan dalam ketaatan dan praktiknya. Karenanya, tak heran jika anak Abu Kuhafah ini meraih “tropi kehormatan” menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan laki-laki.
Baca: Haji Itu Tentang Ketaatan
Sebagai sahabat yang memiliki nalar kuat, saat itu Umar radhiyallahu ‘anhu memang sempat membantah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, karena Ia berlandaskan pada hadits: “Aku diperintah memerangi manusia, hingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku utusan Allah…., jika mereka melakukan itu, maka darah dan harta mereka akan dilindungi.” (HR. Bukhari, Muslim).

Bila mau digambarkan, kira-kira logika Umar radhiyallahu ‘anhu demikian: Orang yang sudah bersyahadat itu dilarang diperangi. Sedangkan orang yang diperangi Abu Bakar itu, adalah orang yang bersyahadat dan bahkan melaksanakan shalat. Dengan demikian, kesimpulannya, memerangi orang bersyahadat itu dilarang karena menyalahi hadits di atas.

Namun pada faktanya, Abu Bakar tetap bersih keras memerangi mereka, karena ini bukan sekadar masalah logis atau tidak, di sana ada hal yang sangat penting yang melampau nalar atau logika, yaitu “ketaatan”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya tidak pernah membeda-bedakan antara kewajiban shalat dan zakat. Karena itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah akan aku perangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dan zakat!” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dengan spirit ketaatan yang dimiliki, memandang bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam selama hidup tidak pernah membedakan antara shalat dan zakat, karena itu kita harus menaatinya, jadi siapa saja yang tidak taat dengan ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan membeda-bedakan tentang kewajibannya maka patut diperangi karena sama saja telah menolak masalah-masalah fundamental yang berkonsekuensi murtad dari agama. Lantaran mereka murtad, maka wajib diperangi.

Melalui dialog yang panjang akhirnya Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu berlapang dada bahwa pendapat yang benar adalah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pada realitanya, ketaatan ini berbuah kemenangan gemilang: negara kembali setabil dan persatuan semakin terjaga baik.
Dari peristiwa ini, kita bisa belajar kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bagaimana sejatinya ketaatan.

Pertama, selama itu adalah perintah dari Al-Qur`an dan Hadits shahih, maka tidak ada reserve di dalamnya. Kedua, ketika taat berhadapan dengan logika, maka taat didahulukan, meski bukan berarti menafikan nalar sama sekali. Ketiga, ketaatan butuh bukti nyata, bukan sekadar retorika. Keempat, ketaatan membutuhkan nyali keberanian. Kelima, ketaata berbuah keberuntungan. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/27/126593/belajar-hakikat-taat-kepada-abu-bakar.html

Harta Konglomerat, Rekening Gendut: Jangan Anggap Remeh Aset Ulama!

Filed under: by: 3Mudilah

Pesantren Tazakka di Batang, Jateng
Pesantren Tazakka di Batang, Jateng

Anda kagum dengan aset Djarum, Sampoerna, dan lain-lain? Izinkan saya menyampaikan sesuatu. Sekitar hampir  tujuh dasawarsa yang lalu, setelah Buya HAMKA bekerja sama dengan Yayasan Al-Azhar Indonesia, kini telah memiliki 150 cabang masjid di Indonesia, belum lagi aset sekolah-sekolahnya. Sekarang hampir di tiap provinsi ada Sekolah Al-Azhar. Siapa orang kaya di Indonesia, yang asetnya sebanyak dan semanfaat Al-Azhar?

Di tempat lain, sekitar 90 tahun yang lalu setelah sang kiai menyerahkan seluruh tanahnya, dirinya, bahkan anaknya yang masih dalam kandungan, diwakafkan untuk agamanya, 90 tahun kemudian Pondok Modern Gontor mempunyai 20 cabang dan 400 pondok alumni tersebar di seantero Nusantara bahkan ada yang di luar negeri. Saya tidak tahu berapa ratus triliun asetnya. Bermula dari tiga bersaudara yang para santrinya menyebutnya dengan sebutan Trimurti: KH Ahmad Sahal, KH Zaenuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Sebutkan, siapakah orang Indonesia yang asetnya sebanyak beliau? Baik secara nilai aset maupun secara manfaat.

Muhammadiyah? Jangan ditanya. 104 tahun yang lalu, KH Ahmad Dahlan pernah keluar rumah, mengumumkan kepada semua orang, siapa saja yang mau membeli seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya, karena beliau kekurangan dana untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah. 

Kini, 104 tahun kemudian, Muhammadiyah telah memiliki 10 ribu lebih sekolah mulai dari PAUD hingga SMA, 180 lebih universitas, 100 lebih rumah sakit, 300 klinik, 10 fakultas kedokteran, dan lebih dari 500 dokter dikeluarkan setiap tahunnya. Konon, hampir 1.000 Triliun nilai aset Muhammadiyah yang baru bisa terhitung dalam bentuk barang dan masih banyak lagi yang tidak terhitung. Maaf, saya belum update data terbaru amal usaha yang dimiliki ormas ini, akan tetapi seluruh anak bangsa ini bisa merasakannya di tiap kabupaten di seluruh Indonesia. 

NU? Ia sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin lebih dari jumlah itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektare. 

NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit, dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di Tanah Air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis. 

Ada satu contoh lagi yang perlu kusebutkan di sini: Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang moncer. Baru-baru ini, dalam rangka miladnya yang ke-54 ia kembali mewakafkan tanah seluas 602 hektare atau senilai Rp 1,6 Triliun. Sebutkan, siapa yang berani melepas asetnya sebesar 1,6 Triliun dan diwakafkan pada umat? Gila? Tidak! Aku bahkan menyebutkan sangat waras! Saat banyak orang kaya menghamburkan triliunan rupiah untuk judi dan politik, sebuah pesantren berusia 54 tahun kembali mewakafkan angka yang fantastis. 

Tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektare yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu, dan lain-lain. Seperti induknya, Gontor yang tanah wakafnya telah mencapai ribuan hektare, dan juga mengelola unit usaha yang beragam. 

Wow, pesantren seperti perusahaan ya? Asetnya fantastis. Bedanya, pesantren berasal dari wakaf, perusahaan dari modal. Jika begitu, berarti umat Islam ini umat yang besar dan kaya. Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, kiai pendiri, pengasuh, dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok. 

Maka, jangan underestimate (anggap remeh), bahwa pesantren tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi menafikan peran pesantren dan umat dalam pembangunan bangsa ini. Terlalu naif. Itu penilaian orang yang tidak paham, atau memang tidak mau paham.

Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah, enam tahun yang lalu hanyalah hamparan tanah kosong yang tak berpenghuni. Dahulu, ia adalah sebuah kebun cengkeh milik kakekku, hanya 1,6 ha luasnya yang setelah wafatnya pada 1988 nyaris tak terurus dengan baik. Tahun 2009, aku tekadkan untuk mengubahnya menjadi "kebun manusia"; bukan lagi cengkeh yang akan dipetik, tapi manusia-manusia masa depan yang akan dipanen: 10, 20, atau 30 tahun yang akan datang, bahkan, mungkin satu abad, atau 10 abad seperti Universitas Al-Azhar di Kairo, tempatku dan adik-adikku nyantri.

Kini, wakaf Tazakka terus berkembang,: tanah telah menjadi hampir 10 hektare, masjid, gedung-gedung asrama santri, ruang-ruang kelas, aula pertemuan, dapur umum santri, kamar mandi, lapangan olah raga, perpustakaan, dan lain sebagainya. Bisakah seperti Al-Azhar di Kairo atau Gontor di Ponorogo? Aku selalu berdoa seperti itu, agar keabadian aset wakafnya mengalirkan pahala kepada para arwah para pendiri dan pejuang-pejuangnya.

Buya HAMKA seandainya masih hidup, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari, dan juga Kiai Ahmad Sahal, Kiai Fannanie dan Kiai Imam Zarkasyi, saat ini mereka sedang tersenyum di sisi-Nya, karena simpanan di rekening gendut akhiratnya terus mengalir. Sementara yang punya rekening gendut di dunia, pusing di akhiratnya, pusing pula di dunianya. Mereka itu rela hidup sangat sederhana --untuk tidak mengatakan menderita-- demi memperjuangkan sebuah cita-cita dan memelihara amanah wakafnya.

Sebuah hadis Nabi SAW menyebutkan: "Ada malaikat Allah yang siap mendoakan orang-orang yang ikhlas di jalan Allah yang tak terhitung jumlahnya." Itulah jalan kemuliaan para ulama kita terdahulu. Mereka tidak saja mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan peradaban. Lalu, pertanyaannya, apa yang sedang dan akan wariskan kepada generasi yang akan datang?

Para ulama pendahulu kita, mereka abadi hingga kini. Setidaknya, nama, foto dan silsilahnya masih segar di ingatan seluruh umat dan bangsa ini. Dengan begitu, mereka selalu didoakan. Duh, nikmatnya mereka, tiap saat kuburnya basah dan lapang karena kiriman doa-doa umatnya yang terus-menerus tiada henti. Bisakah kita kelak seperti mereka? Ya Rabb!

Itulah jalan wakaf, membentang ke depan tak berujung. Wakaf itu seperti --meminjam istilah Taufiq Ismail-- "Sajadah Panjang", tempat kita menghamparkan diri berinvestasi untuk akhirat yang abadi. Harta yang kita wakafkan tidak hilang, tetapi tersimpan dalam rekening akhirat. Ibarat sebuah transaksi di bank, para malaikat itulah yang bertugas sebagai teller-teller-nya.

Aku hanya bisa berdoa, semoga kita semua ini menjadi batu-batu pondasi untuk sebuah peradaban masa depan yang Islami. Apa pun yang telah kita ikhlaskan dalam bentuk wakaf: aset, uang tunai, tenaga, pikiran, akses jaringan, keahlian, manfaat dan lain sebagainya, semoga itu semua menjadi catatan kebaikan dalam timbangan di akhirat kelak.

"Jika anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya." (Muttafaqun Alaih).

"Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Qs Ali Imran [3]: 92).

Wakaf memang mengagumkan! Sayang, belum banyak yang mengerti dan melakukannya!⁠⁠⁠⁠

Oleh: Anang Rikza Masyhadi*
* Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah.

Trikotomi Geertz, Kisah Piyungan: Siapa Bilang Jawa Belum Islam?

Filed under: by: 3Mudilah


  Ribuan umat Islam melaksanakan shalat Ied di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Ahad (19/8). (Aditya Pradana Putra/Republika)
Ribuan umat Islam melaksanakan shalat Ied di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Ahad (19/8). (Aditya Pradana Putra/Republika) 

''Muslim Jawa itu Muslim nominal!'' Pernyataan yang meragukan orang Jawa bisa menjadi Muslim yang sejati seperti ini telah berdengung minimal dalam kurun setengah abad terakhir. Ini dimulai ketika ilmuwan sosial asal Amerika Serikat, Clifford Geertz, pada ujung dekade 50-an mengemukakan hasil penelitiannya mengenai pengaruh agama di kalangan masyarakat Jawa. Saat itu, Geertz melakukan penelitian di kota yang disebutnya sebagai Mojokuto atau tepatnya Kota Pare, Kediri, Jawa Timur.

Hasil penelitian Geertz kemudian menelurkan tiga varian tentang orang-orang Jawa (Trikotomi), yakni santri, priayi, dan abangan. Santri adalah mereka yang taat pada ajaran Islam, priayi adalah kelompok sosial yang terpengaruh ajaran leluhur, yakni Hindu-Buddha, dan abangan adalah kelompok rakyat jelata yang tak terlalu taat pada Islam dan mempraktikkan agama secara sinkretis.

''Memang sudah lama sekali pengelompokan Geertz itu. Banyak pihak yang bertanya apakah masih berlaku sampai sekarang, yakni setelah lebih dari setengah abad. Jawabnya sudah berubah sama sekali. Keberagamaan orang Islam di Jawa kini tak bisa lagi dianggap nominal. Islam sudah begitu merasuk ke dalam masyarakat itu?'' kata DR Pipip Rifai Hasan, pengajar pada Universitas Paramadina, ketika ditanya soal isu Islam nominal di kalangan kaum Muslim di Jawa.
                                           
Adanya sinyalemen bahwa orang Jawa tidak bisa menjadi Islam yang kaffah yang itu kemudian dijawab oleh Pipip bahwa keadaannya sudah berubah, semakin membuat penasaran untuk melihat kenyataan yang terjadi di lapangan. Pada sebuah perjalanan yang khusus untuk melihat kenyataan berubahnya kondisi sosial keagamaan di Jawa itu terekam kuat ketika pergi mengunjungi sebuah kota kecamatan di wilayah Jawa 'pedalaman', yakni Piyungan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dan, memang Piyungan yang terletak di perbatasan tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunung Kidul, belakangan mencuri perhatian publik karena mendadak ada sebuah website yang sangat 'menggebu-gebu' mengabarkan berita yang terkait dengan isu umat Islam. Bagi publik yang selama ini kerap menganggap bahwa orang Jawa tak bisa berislam secara kaffah atau total jelas tercengang-cengang. Apalagi, semenjak dahulu wilayah ini kondang sebagai wilayah kaum abangan. ''Mana mungkin mereka kini bisa jadi santri seperti itu,'' begitu pertanyaan yang berkelebat di banyak benak orang.

Klaim bahwa 'pedalaman' Jawa tak bisa berubah semakin kuat bila melihat kenyataan bahwa di sana terdapat beberapa situs pemujaan peninggalan masyarakat Hindu. Dengan begitu, menjadi sangat tidak masuk akal bila wilayah itu menjadi berwajah begitu Islami.

''Memang banyak yang terheran-heran setelah datang langsung ke sini. Mereka berkata kok bisa ya, Piyungan jadi seperti ini, yakni begitu banyak sekolah Islam, majelis taklim, swalayan dan BMT syariah. Ini terjadi sebab pasti yang kini datang berkunjung ke Piyungan masih membayangkan situasi Piyungan seperti tahun 1970-an,'' kata Nugroho, warga Dusun Ngijo, Piyungan.

Piyungan adalah salah satu contoh dari sekian banyak tempat di Jawa yang dahulu disebut daerah abangan yang kemudian berubah menjadi 'santri'. 
  Ribuan umat Islam melaksanakan shalat Ied di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Ahad (19/8). (Aditya Pradana Putra/Republika)
Rapat Sarekat Islam di Kaliwungu, Jawa Tengah.
Dalam sebuah wawancara dengan Mantan Wakil Ketua MPR Hajiryanto Y Tohari ikut fenomena itu. Hajriyanto yang lahir, besar, dan berasal dari wilayah 'pedalaman Jawa' secara terbuka mengakuinya. Menurutnya, suasana Jawa yang semakin Islami kini sangat kuat terasa. Bila dulu di sebuah desa hanya terdiri dari satu surau, kini di dalam desa itu di setiap dusunnya berdiri banyak surau. Di tingkat desa kini berdiri sebuah masjid jami (raya) yang besar untuk melakukan shalat Jumat.

''Masyarakat Jawa kini tidak bisa lagi dilihat ala Trikotomi Clifford Geertz, adanya santri, abangan, priayi. Situasinya kini sangat berubah akibat dari meluasnya pembangunan,'' kata Hajriyanto. Menurut dia, situasi ini mau tidak mau muncul atas peran dari penguasa Orde Baru, Soeharto. 

Harus diketahui pula Islamisasi yang paling cepat itu terjadi pada masa Pak Harto itu. Jadi, daerah-daerah abangan menjadi santri terjadi pada kurun itu. Gerakan Yayasan Pak Harto dengan mendirikan masjid, Pak Harto naik haji, dan juga naiknya raja Yogyakarta pertama yang naik haji, Sultan Hamengku Bowono X dan Paku Alam, itu sebagai pertandanya,'' lanjut Hajriyanto.

Pendapat senada juga dinyatakan sosiolog UIN Yogyakarta, DR Mohammad Damami. Menurut dia, kini telah terjadi perubahan yang dahsyat dalam sisi keberagamaan masyarakat Jawa. Mereka kini semakin Islami atau kian menjadi santri. ''Yang mencengangkan lagi tingkat keberagamaan mereka pada Islam itu didapat melalui rasa kepercayaan diri yang kuat serta mandiri. Sebuah hal yang tak terbayangkan memang,'' ujar Damami.

Nah, pada tataran ilmiah dan seiring dengan diterbitkannya  buku karya sejarawan M.C Ricklefs, 'Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930', maka fenomena perkembangan Islam di kurun terakhir semakin menarik untuk dicermati.Dalam buku itu, Ricklefs membantah bahwa sebagian besar Muslim di Jawa kini masih tetap atau hanya terdiri dari kaum abangan atau menganut 'Islam KTP' saja.

Ricklefs menyatakan, kenyataan justru menunjukkan bahwa tanah Jawa semakin 'hijau' saja. Masyarakatnya semakin saleh atau malah kini sudah menjadi santri. Islamisasi semakin dalam dan sudah mencapai fase tak bisa dibalikkan.

''Kini, sulit untuk membayangkan bahwa pengaruh Islam yang semakin mendalam terhadap masyarakat Jawa dapat dihentikan atau dibalikkan arahnya oleh siapa pun yang menentangnya,'' ungkap Ricklefs dalam buku itu.

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/04/19/oomqdu385-trikotomi-geertz-kisah-piyungan-siapa-bilang-jawa-belum-islam-part1

Tuduhan Terhadap Kerajaan Arab Saudi

Filed under: by: 3Mudilah

Oleh Asy- Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul

“Arab Saudi asalnya adalah kelompok pemberontak (Khawarij), karena dulu mereka berada dibawah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani.”

Untuk membantah tuduhan itu, yang dari situ juga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Su’ud kemudian di anggap sebagai dua orang pemberontak terhadap turki Utsmani, saya katakan bahwa daerah Nejed sama sekali tidak pernah berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani secara langsung.(2) Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah pernah mengatakan.

“Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah memberontak kepada Turki Utsmani sesuai dengan apa yang saya ketahui dan yang saya yakini. Tidak ada di daerah Nejed kekuasaan dan kepemimpinan Turki Utsmani. Bahkan, di daerah Nejed itu yang ada hanya pemerintahan-pemerintahan kecil berikut daerah-daerah yang terpencar-pencar. Setiap daerah itu, sekecil apapun, ada seorang pemimpin yang berdiri sendiri. Karena itu, Nejed terdiri dari pemerintahan-pemerintahan kecil yang berdiri sendiri. Karena itu, Nejed terdiri dari pemerintahaan-pemerintahan kecil yang disana sering terjadi berbagai peperangan dan pertikaian antara mereka. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri tidak memberontak kepada Turki Utsmani. Yang beliau lakukan sekedar memerangi perbuatan-perbuatan hina dan rusak yang ada di negerinya. Beliau berjihad karena Allah dengan sebenar-benar jihad di jalanNya dan benar-benar bersabar serta tetap teguh di jalan itu sampai cahaya dakwahnya kemudian memancar ke negeri-negeri yang lain. (3)

Demikianlah keadaan yang sebenarnya. Selain itu, ditambah keterangan yang ada dalam sejarah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhad adalah orang yang memuliakan pemerintahan para syarif yang ada di Hijaz.(4)

Doktor Shalih bin Abdillah Al-‘Abud juga pernah menulis,

“Apa yang dikatakan orang-orang baik dulu maupun sekarang bawah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pemimpin Dinasti Saudi (periode pertama) telah memberontak kepada pemerintahan kaum muslimin (Turki Utsmani),maka itu tidak benar. Sebab, sebenarnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pemimpin Dinasti Saudi, Muhammad bin Su’ud, serta orang-orang yang membantu mereka mendapatkan ada orang yang berjuang dalam rangka menegakkan kalimat syahadat la ilaha illallah dan Muhammad rasulullah. Bukan selain itu. Seandainya mereka mendapatkan ada orang yang berjuang dalam rangka menegakkan kalimat itu dibawah naungan pemerintahan Turki Utsmani, niscaya mereka akan tunduk dan taat kepadanya. Sungguh, Abdul Aziz bin Muhammad penakluk mekkah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meminta Syarif mekkah berjuang menolong agama kakeknya, Nabi Muhammad shalallahu’alaiwasalam. Dalam pidatonya, Abdul Aziz menggelari Syarif Mekkah dengan gelar Al-Khadim dan akan kami sebutkan satu contoh akan hal itu. Syaikh Husain bin Ghanam menyebutkan di dalam Tariknya pada tahun 1185,(5) bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Abdul Aziz telah mengirim beberapa hadiah kepada salah seorang Syarif mekkah, Ahmad bin Sa’id. Tidak dapat ditolak bahwa sebelumnya Syarif Mekkah itu melakukan surat –menyurat dan meminta kepada mereka agar mengirim seorang yang paham dan berilmu terhadap agama dari kelompok mereka yang akan menjelaskan kepada penduduk mekkah tentang hakekat dakwah yang mereka serukan sekaligus mendampingi ulama-ulama mekkah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Abdul Aziz mengutus kepada Syarif mekkah Syaikh Abdul Aziz Al-Hushain. Bersamanya dibawahkan sepucuk surat untuk Syarif mekkah yang tertulis.

‘Bismillahirahmanirrahim.

Surat ini ditujukan kepadamu, Syarif Ahmad bin Syarif said yang mudah-mudahan Allah Subhanallahuwata’ala melanggengkan keutamaan nikmat-nikmatNya untuk mu dan mudah-mudahan juga melalui perantaraanya Allah Subhanallahuwata’ala muliakan agama kakeknya pemimpin jin dan manusia.

Sungguh, ketika surat ini sampai kepada Al-Khadim kemudian ia perhatikan apa yang ada di dalamnya berupa kalimat yang baik, niscaya ia akan angkat kedua tangannya berdoa kepada Allah Subhanallahuwata’ala agar Dia menguatkan Al-Khadim ketika tujuannya adalah menolong syariat Nabi Muhammad Sholallahualaiwasalam serta orang-orang yang mengikutinya, memusuhi orang-orang yang keluar darinya, dan ini adalah wajib bagi para penguasa. Ketika kalian meminta kami seorang yang berilmu, maka kami pun melaksanakan perintah tersebut. Dan orang yang dimaksud telah sampai kepada kalian. Mudah-mudahan Allah muliakan Syarif mekkah dan para ulamanya. Jika mereka telah sepakat, maka segala puji hanya bagi Allah atas hal itu. Jika mereka berbeda pendapat, maka aku akan hadirkan kepada paduka, Syarif mekkah, kitab-kitab hukum mereka dan kitab-kitab hukum mazhab Hanbali. Wajib bagi masing-masing kita untuk menolong rasulNya sebagaimana yang Allah Azza wajalla firmankan,

وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلنَّبِيِّۦنَ لَمَآ ءَاتَيْتُكُم مِّن كِتَٰبٍۢ وَحِكْمَةٍۢ ثُمَّ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مُّصَدِّقٌ
مَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِۦ وَلَتَنصُرُنَّهُ

‘Dan ingatlah,ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepada kalian seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ (QS.Ali’Imran :81)

karena itu, jika Allah Azza Wajalla telah mengambil perjanjian kepada para nabi bahwa jika mereka menjumpai Nabi Muhammad shalallahu’alaiwasalam agar beriman kepadanya dan menolongnya,maka bagaimana dengan kitra, wahai umatnya? Wajib bagi kita mengimaninya. Wajib pula menolongnya. Tidak cukup hanya salah satu. Orang-orang yang paling berhak dan utama akan hal itu adalah ahlul bait yang Allah telah memilih utusaNya dari tengah mereka dan Allah telah memuliakan mereka di atas penduduk bumi yang lain. Mereka itu adalah keturunan Rasulullah shalallahu’alaiwasalam orang-orang yang diketahui sebagai syarif, termasuk juga anak –keturunan mereka. Mudah-mudahan Allah Azza Wajalla selalu memuliakan mereka dan menjadikan mereka tergolong sebagai al-khadim al-haramyn serta mendapat penjagaan dan pengawasan Allah’.’’

Ibnu Ghanam Rahimahullah pernah menulis,

“Ketika sampai kepada mereka Syaikh Abdul Aziz Al-Husain yang disebutkan tadi, maka ia pun dating kepada Syarif mekkah yang bergekar Al Fa’r. Bertemulah Syaikh Abdul Aziz dengan sebagian ulama mekkah. Di antara memreka adalah Yahya bin Shalih Al-Hanafi, Abdul Wahhab bin Hasan At-Turki seorang mufti penguasa, dan Abdul Ghani bin Hilal. Mereka kemudian berdiskusi tentang (1) bahwa kami dituduh mengkafirkan orang, (2) bahwa kami menghancurkan kubah-kubah yang ada di atas kuburan, dan (3) bahwa kami mengingkari bolehnya meminta syafaat kepada orang-orang shalih yang telah meninggal dunia. Syaikh Abdul Aziz pun menjelaskan kepada mereka bahwa tuduhan pengkafiran secara umum kepada kami adalah kedustaan dan kebohongan atas kami. Adapun penghancuran kubah-kubah, maka itu betul. Perkara tersebut adalah sesuatu yang benar, sebagaimana yang tertulis dalam kitab-kitab para ulama, dan tidak ada keraguan ataupun kebimbangan sedikit pun di tengah para ulama dalam permasalahan itu. Adapun berdoa kepada orang-orang shaleh yang telah meninggal dunia dan meminta syafaat kepada mereka serta beristighasah kepada mereka ketika banyak musibah datang, maka sungguh para imam mazhab telah menegaskan dan menetapkan bahwa hal itu termasuk kesyirikan yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin dulu. Tidak ada yang mendebat hal itu kecuali setiap orang menyimpang dan bodoh. Syaikh Abdul Aziz dan ulam-ulama mekkah akhirnya mendatangkan kitab-kitab mazhab hanbali, seperti Al-Iqna. Di dalamnya mereka mereka mendapatkan istilah Al-Wasa’ith dan keterangan ijma’ tentangnya. Dengan itulah kemudian mereka puas. Mereka pun membuat kesepakatan bahwa itu (larangan meminta syafaat kepada orang-orang saleh yang telah meninggal dunia-penerj.) adalah agama Allah yang telah diketahui dan di umumkan oleh banyak orang. Ulama-ulama mekkah yang bersama Syaikh Abdul Aziz mengakui, ini adalah mazhab imam yang agung. Dengan penghormatan dan pemuliaan dari para ulama mekkah, Syaikh Abdul Aziz pulang meninggalkan mereka.”(6)
---------
(1) Kitab Tarikh Mamlakah Al-‘Arabiyah As-su’udiyyah karya Doktor Abdullah Shalih Al-Utsaimin hal (38-39)
(2)Lihat Aqidah As-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alamil Islami (1/27) karya Dr. Shalih Al-Abud dan Kitab Muhammad bin Abdil Wahhab wa Fikruh (hal.11)
(3) Nadwah Musajjalah ‘alllal Asyrithah dengan perantara “Da’awal Munawi’in (hl.237)
(4) Lihat :Markiz Al-Fatwa dengan bimbingan/pengawasan Dr. Abdullah Al-Faqih. www.islamweb.net
http://islamweb.net/php/php_arabic/PintFatwa.php?lang=AId=38667
(5) (2/80 -81)
(6) “Al-Murad Asy-Syar’I bil Jama’ah wa Atsaru Haqiqatihi fi Itsbatil Hawiyyah Al-Islamiyyah Amama ‘Uulamatil Irhab wal Fitnah” dicetak dari Fa’aliyyat Hamalatit Tadhamun Al-Wathani Dhidd Al-Irhab, cetakan kedua tahun 1426 H di Al-Jami’ah Al-Islamiyyah di Al-Madinah An-Nabawiyyah (hal.45-46

 http://www.salamdakwah.com/baca-forum/tuduhan-terhadap-kerajaan-arab-saudi.html

Kelompok Teroris Assassins

Filed under: by: 3Mudilah

Hasyasyun atau Hasyasyin atau yang lebih populer dengan Assassin adalah sekolompok pembunuh yang berideologi Syiah Ismailiyah an-Nizariyah. Kelompok ini didirikan oleh al-Hasan ash-Shabah yang berafiliasi pada Nizar, putra raja Kerajaan Famitiyah, Mustanshir Billah.

Raghib as-Sirjani menyatakan kelompok Syiah itu banyak sekali. Di mereka adalah kelompok Bathiniyah Ismailiyah. Kelompok ini terpecah lagi menjadi dua: al-Musta’liyah dan an-Nizariyah. Nisbat kepada dua orang putra Khalifah Daulah Fatimiyah Mustanshir Billah: al-Musta’li dan Nizar.
Setelah Mustanshir Billah wafat, terjadi perselisihan siapakah yang lebih berhak menggantikannya sebagai khalifah Daulah Fatimiyah yang baru. Perdana Mentri Fatimiyah saat itu, Badr Al-Jamali, mengangkat Musta’li sebagai khalifah menyisihkan sang kakak, Nizar. Sedangkan mentri senior lainnya, al-Hasan ash-Shabah, lebih memilih keimaman Nizar.

Karena tidak memiliki kekuatan politik di Mesir, al-Hasan ash-Shabah mengajak Nizar hijrah, dari Mesir menuju Syam. Di sinilah lahir sekte Syiah Ismailiyah an-Nizariyah. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syiah Bathiniyah. Akidah mereka adalah setiap ayat Alquran memiliki makna-makna zahir yang bisa dipahami orang-orang awam. Adapun makna batin (tersembunyi), hanya mereka yang bisa memahaminya.

Al-Hasan ash-Shabah –sang pendiri ajaran ini- mencekoki pengikutnya dengan ‘bius’ yang disebut al-Hasyisy (semacam ganja). Pengikutnya pun teler tak maksimal daya pikirnya. Mereka menjadi tunduk dan hilang kesadaran. Hasan pun ditaati secara penuh.

Hasan juga sediakan duniawi yang lebih memabukkan lagi. Kebun yang dinamainya al-Jannah (surga). Wanita-wanita muda jelita dimasukkan sebagai bidadari surga buatannya. Menggoda dan menghibur para pengikut yang memang sudah linglung dan bingung. Mabuk Hasyisy pun kian berlipat dengan mabuk dunia. Saat sadar dari pengaruh Hasyisy, mereka mengatakan, “Supaya kembali ke surga, harus menaati asy-Syaikh (al-Hasan ash-Shabah).” Tidak heran mereka mudah diperintah dan dipengaruhi. Hingga disuruh membunuh dan membantai agar bisa terus tinggal di surga.

Akhirnya mereka menjadi pecandu Hasyisy dan dikenal sejarah dengan Hasyasyin atau Assassin.
Dalam perjalannya, kelompok ini menjadikan Benteng Alamut sebagai markas. Dari sana juga penyebran ajaran dan asas kerajaan ditetapkan.

Siapakah al-Hasan ash-Shabah?

Al-Hasan ash-Shabah lahir di Kota Ray tahun 430 H. Ia tumbuh di lingkungan masyarakat Syiah. Saat berusia 17 tahun, Hasan memilih sekte Syiah Ismailiyah yang dibawa oleh Daulah Faimiyah sebagai ideologinya. Tahun 471 H/1078 M, ia pergi ‘berhaji’ menemui imamnya, al-Mustanshir Billah. Sekembalinya dari sana, ia menyebarkan ajaran itu di negeri Persia. Banyak benteng telah berhasil ia pengarhui. Dan yang paling strategis adalah Benteng Alamut. Yang berhasil ia dakwahi dengan pemikiran Syiah Ismailiyah pada tahun 483 H.

Pada saat Imamnya, al-Mustanshir Billah, wafat pada tahun 487 H/1094 M, mentri Badr Jamali melakukan percobaan pembunuhan pada putra tertua al-Mustanshir Billah, Nizar. Ia lebih menginginkan sang adik tiri, al-Musta’li, yang naik tahta. Karena al-Musta’li adalah anak dari saudarinya. Terpecahlah Ismailiyah menjadi dua. Barat dan timur. Timur memilih Nizar sebagai imamnya. Dan barat mengangkat Musta’li sebagai imam pengganti Mustanshir Billah.

Hasan hijrah menuju Syam kemudian menetap di Benteng Alamut. Di sanalah ia menyebarkan doktrin al-Ismailiyah an-Nizariyah. Pada tahun 518 H/1124 M, Hasan wafat tanpa meninggalkan keturunan.

Assassin di Syam

Assassin muncul di Syam dengan beberapa orang pucuk pimpinan. Di antarnya Bahram al-Istirabadi dan Ismail al-Farisi. Pamor mereka menanjak tatkala pemimpin Aleppo, Ridwan bin Tatusy, menjadi seorang penganut Ismailiyah. Orang-orang Ismailiyah dari Persia pun berdatangan ke negeri Syam.
Tokoh utama mereka di Syam adalah Sinan bin Sulaiman bin Mahmud. Yang lebih dikenal dengan Rasyiduddin. Ia berasal dari Basrah. Sinan adalah seorang pengajar di Benteng Alamut. Para penganut Ismailiyah sangat menghormati dan tunduk padanya.

Benteng-benteng lain yang dikuasai oleh Ismailiyah di Syam adalah Benteng Baniyas, al-Qadmus, Masyaf, al-Kahf, al-Khawabi, al-Maniqeh, dan Al-Qleiah.

Dari tanah Syam ini pula mereka bekerja sama dengan Pasukan Salib. Di antaranya dengan memerangi pasukan bantuan Dinasti Seljuk yang datang dari Mosul untuk membantu pasukan Islam di Syam dalam memerangi Pasukan Salib. Mereka menyerahkan Baniyas kepada Pasukan Salib. 

Bergabung dengan Pasukan Salib yang berada di Antakya untuk memerang Nuruddin Zanki di Aleppo. Termasuk juga melakukan beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap Shalahuddin al-Ayyubi.

Membunuh Tokoh-Tokoh Islam

Pertama: pembunuhan terhadap Mentri Agung Nizham al-Mulk. Salah seorang mentri dari Alp Arselan, penguasa Dinasti Seljuk. Nizham al-Mulk adalah seorang yang dikenal dengan gagasannya membangun madrasah-madrasah nizhamiyah.

Nizham al-Mulk dibunuh di Kota Asfahan, pada 10 Ramadhan 485 H bertepatan dengan 14 Oktober 1092 M. Salah seorang anggota Assasin menyamar sebagai seorang pengemis. Kemudian mendekat kepada Nizham al-Mulk. Saat itulah ia cabut pisau yang ia sembunyikan. Dan menikam sang mentri.

Kedua: pembunuhan terhadap pemimpin Mosul, al-Amir Maudud bin at-Tuniktikin. Ia merupakan panglima jihad melawan Pasukan Salib. Saat di Damaskus, al-Amir Maudud menyiapkan pasukan untuk menghadapi Pasukan Salib.

Hari Jumat, bulan Rabiul Akhir 507 H atau Oktober 1113 M, adalah hari wafatnya. Ia ditikam seoarang Assassin seusai menunaikan shalat Jumat di Masjid Damaskus al-Kabir. Saat berjalan di teras masjid, dengan pengecut seorang Assassin menikamnya dengan sebilah khanjar. Hingga al-Amir Maudud pun tewas.

Ketiga: pembunuhan terhadap al-Amir Aq Sunqur al-Hajib. Seorang pemimpin Mosul dan panglima jihad melawan Batiniyah dan Pasukan Salib.

Pada hari Jumat 8 Dzul Qa’dah 520 H bertepatan dengan 26 November 1126 M, al-Amir Aq Sunqur al-Hajib menunaikan shalat Jumat di Masjid Jami’ Mosul. Ia shalat di shaf pertama. 12 orang Assassin menyerangnya tanpa ampun. Mereka menghujamkan khanjar padanya. Beliau pun syahid –insya Allah– karena serangan tersebut.

Keempat: pembunuhan terhadap pemimpin besar, penakluk Pasukan Salib, dan pembebas negeri Syam, Imaduddin Zanki.

Pasukan Salib merasakan betapa sulitnya mengalahkan Imaduddin Zanki. Mereka membuat makar, bagaimana caranya menyingkirkan Imaduddin. Digunakanlah para penghianat Assasin untuk menghabisi nyawanya.

Pada tanggal 6 Rabiul Awal 541 H bertepatan dengan 12 November 1146 M, Imaduddin Zanki mengepung Benteng Ja’bar di Kota Raqqah, Suriah sekarang. Para Assassin bergerak, bersepakat dengan Pasukan Salib menyelinap ke kamp pasukan Islam. Malam harinya, mereka berhasil masuk ke kemah Imaduddin yang sedang tertidur. Lalu membunuhnya.

Kelima: percobaan pembunuhan terhadap Shalahuddin al-Ayyubi.
Percobaan pembunuhan terhadap Shalahuddin adalah yang terbanyak dilakukan. Tapi semuanya berbuah kegagalan. Pada tahun 570 H/1174 M, Raja Shaleh Ismail datang menemui pimpinan Assassin, Rasyiduddin Sinan. Raja Shaleh Ismail menawarkan harta yang banyak untuk membeli nyawa Shalahuddin al-Ayyubi. Tanpa menunggu lama, Sinan mengumpulkan anak buahnya dan memerintahkan mereka mengendap masuk ke kamp pasukan Shalahuddin. Rencana ini berhasil diketahui. Para Assassin ini pun hanya datang mengantarkan nyawa.

Pada tahun 571 H/ 1176 M, Rasyiduddin Sinan kembali mengirim sejumlah Assassin untuk menghabisi Shalhuddin al-Ayyubi. Salah seorang Assassin berhasil menghujakan pisau di kepala Shalahuddin. Namun Shalahuddin memakai pelindung besi di kepalanya. Assassin itu kembali mengayunkan pisaunya dan berhasil melukai pipi Shalahuddin. Percobaan kedua telah memakan waktu. Para Assassin itu sudah dikepung oleh pasukan Shalahuddin. Mereka semua tewas ditumpas.

Penutup

Assassin adalah kelompok sayap Ismailiyah. Mereka adalah segerombolan teroris pembunuh bayaran. Target pembunuhan mereka adalah raja-raja dan para pemimpin yang memusuhi dan menghalangi pergerakan sekte Ismailiyah. Aksi dan pengkhianatan mereka begitu dikenal sejarah. Sampai-sampai kata Assassination dijadikan padanan untuk menyebut aksi pembunuh bayaran yang disewa untuk membunuh pimpinan politik atau kepala negara karena alasan politik.

Sumber:
– http://lite.islamstory.com/من-هم-الحشاشون؟/
– http://lite.islamstory.com/أشهر-5-اغتيالات-نفذها-الحشاشون-في-قادة-ا/
– http://www.saaid.net/feraq/mthahb/37.htm
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Khilafah – Kerajaan dan Orientasi Utama Dakwah Kaum Muslimin

Filed under: by: 3Mudilah

Tanya : Saya baca dalam sebuah bulletin beberapa minggu lalu bahwasannya Khilafah Islam telah runtuh tanggal 3 Maret 1924. Maka konsekuensinya, seluruh dakwah Islam yang ada sekarang harus mempunyai orientasi/tujuan utama untuk mengembalikan kekhilafahan yang telah hilang. Bagaimana pendapat Saudara mengenai hal ini ? 
 
Jawab :
  1. Ada hal yang perlu dikoreksi tentang pertanyaan Saudara. Khilafah Islamiyyah tidaklah runtuh pada tanggal 3 Maret 1924. Betul bahwasannya segolongan orang memakai dan mempopulerkan istilah ini. Namun sebaik-baik istilah dan pemahaman adalah yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah. Akan kami bawakan beberapa riwayat yang terkait. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
     
    الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك
    ”Kekhilafahan umatku selama 30 tahun, kemudian setelah itu adalah masa kerajaan” [HR. Abu Dawud no. 4646,4647; At-Tirmidzi no. 2226, Ath-Thayalisi no. 1107; dan yang lainnya; shahih].
     
    Menurut ahli tarikh, masa 30 tahun setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ini masuk dalam kepemimpinan Al-Hasan bin ‘Ali sebelum beliau menyerahkannya kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada Tahun Jama’ah (disebut tahun jama’ah karena pada tahun tersebut kaum muslimin antara pihak ‘Ali bin Abi Thalib/Al-Hasan bin ‘Ali dan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan mengakhiri perselisihan) [’Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud 2/397-399]. Dalam riwayat Ath-Thayalisi terdapat tambahan lafadh :
     
    قلت فمعاوية قال كان أول الملوك
    ”Aku (yaitu rawi : Sa’id bin Jumhaan) bertanya : ’Bagaimana dengan Mu’awiyyah ?’. Maka Safiinah menjawab : ‘Ia adalah raja pertama dari raja-raja (dalam sejarah Islam)”.
    Mengenai kalimat { ثم ملك بعد ذلك} ”kemudian setelah itu adalah masa kerajaan” ; maka berkata Al-Munawi : ”yaitu setelah berakhirnya masa kekhilafahan nubuwwah, maka akan muncul kerajaan”. Dan bahkan secara tegas Ath-Thibi yang disitir oleh Al-’Adhim ’Abadiy dalam ’Aunul-Ma’bud (2/388) mengatakan bahwa masa setelah ’Ali radliyallaahu ’anhu adalah masa ’mulkan ’adluudlan’ (مُلْكاً عَضُوضاً = Kerajaan yang dhalim). Hal ini sangat sesuai dengan sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam yang lain :
     
    تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت
    Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah kehendaki, Allah mengangkat/menghilangkannya kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj Nubuwwah selama yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yang sangat kuat (ada kedhaliman) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan (tirani) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [HR. Ahmad 4/273, Ath-Thayalisi no. 438, dan Al-Bazzar no. 2796; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5].
     
    Akhir kalimat yang ingin disampaikan pada point ini adalah bahwa yang runtuh pada tanggal 3 Maret 1924 adalah Daulah ’Utsmaniyyah yang notabene bukan merupakan bentuk Khilafah Islamiyyah, tapi bentuk kerajaan (mulk).[1]
     
  2. Tentang orientasi/tujuan utama dakwah yang harus dilakukan, maka tentu kitapun harus mencontoh dakwah para Nabi dan Rasul sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dakwah para Nabi dan Rasul adalah dakwah yang terbaik yang merupakan implementasi dari kehendak syar’iyyah Allah ta’ala. Dakwah mereka adalah sama. Mereka memulai dan memprioritaskan dengan sesuatu yang paling utama (paling penting). Prioritas tersebut adalah mengajak umat untuk mentauhidkan Allah ta’ala dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun selain-Nya
     
    Mari kita simak orientasi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Nuh ’alaihis-salaam
     
    إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ * قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ * أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ * يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلا وَنَهَارًا * فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلا فِرَارًا * وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا * ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا * ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا * فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا * مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا * وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا * أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا * وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا * وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا * ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا * وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا * لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا * قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلا خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا * وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا ضَلالا * مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا
    Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih". Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu". Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr". Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah [QS. Nuh : 1-25].
     
    Dan inilah orientasi dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam :
     
    وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ * إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ * قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ * قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ * قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاعِبِينَ * قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ * وَتَاللَّهِ لأكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ * فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ * قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ * قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ * قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ * قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ * قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ * فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ * ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلاءِ يَنْطِقُونَ * قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ * أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ * قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ * قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ * وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ
    Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?". Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim". Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?". Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?. Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. [QS. Al-Anbiyaa’ : 51-70].
     
    Dan inilah prioritas dakwah Nabi Musa ’alaihis-salaam yang ia lakukan kepada Fir’aun, sang raja negara adidaya sekaligus poros kejahatan dan kedhaliman di masanya :
     
    فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ * أَنْ أَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ * قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ * وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ * قَالَ فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ * فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ * وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ أَنْ عَبَّدْتَ بَنِي إِسْرَائِيلَ * قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ * قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ * قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلا تَسْتَمِعُونَ * قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ * قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ * قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ * قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لأجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ
    Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah olehmu: "Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israel (pergi) beserta kami". Firaun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna". Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israel". Firaun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?". Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". Berkata Firaun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?". Musa berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu". Firaun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila". Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal". Firaun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan" [QS. Asy-Syu’araa’ : 16-29].
     
    Dan inilah orientasi dakwah yang dilakukan Nabi kita Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam :
     
    قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * وَأُمِرْتُ لأنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ * قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ * قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي
    Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri". Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku". Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku" [QS. Az-Zumar : 11-14].
     
    قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
    Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk" [QS. Al-A’raf : 158].
     
    Inilah dakwah para Nabi dan Rasul, dan ini pulalah misi utama diutusnya mereka semua kepada umat manusia. Allah berfirman :
     
    وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
    “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul-pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” [QS. Al-Anbiyaa’ : 25].
     
    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul untuk tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu”. Maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” [QS. An-Nahl : 36].
     
    Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam terus menegakkan panji-panji ketauhidan, baik pada periode Makkah maupun Madinah, hingga beliau diwafatkan Allah ta’ala pada tahun 13 H. Contoh-contoh kongkrit pelaksanaan dakwah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dapat kita temukan dalam banyak hadits. Diantaranya adalah perkataan beliau ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radliyallaahu 'anhu untuk berdakwah kepada penduduk negeri Yaman :
     
    إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحدوا الله تعالى فإذا عرفوا ذلك فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم فإذا صلوا فأخبرهم أن الله افترض عليهم زكاة في أموالهم تؤخذ من غنيهم فترد على فقيرهم فإذا أقروا بذلك فخذ منهم وتوق كرائم أموال الناس
    "Sesungguhnya kamu mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka jadikanlah awal dari seruanmu kepada mereka adalah untuk mentauhidkan Allah ta’ala. Apabila mereka telah mengetahuinya, maka khabarkanlah kepada bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Apabila mereka telah mengerjakannya, maka khabarkanlah kepada mereka bahwasannya Allah telah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang faqir di antara mereka. Apabila mereka telah mengikrarkannya (untuk mentaatinya), maka jagalah dirimu dari kemuliaan harta-harta mereka.” [HR. Al-Bukhari no. 7372].
     
    Juga saat beliau shallallaahu ’alaihi wasallam mengambil baiat manusia, maka yang pertama kali beliau minta adalah ketaatan mereka untuk mentauhidkan Allah ta’ala (tanpa mensyirikkan-Nya dengan sesuatupun juga).
     
    عن عبادة بن الصامت قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في مجلس، فقال: بايعوني على أن لا تشركوا بالله شيئا ولا تسرقوا ولا تزنوا ولا تقتلوا أولادكم ولا تأتوا ببهتان تفترونه بين أيديكم وأرجلكم ولا تعصوا في معروف فمن وفي منكم فأجره على الله ومن أصاب من ذلك شيئا فعوقب في الدنيا فهو كفارة له ومن أصاب من ذلك شيئا ثم ستره الله فهو إلى الله إن شاء عفا عنه وإن شاء عاقبه فبايعناه على ذلك
    Dari ’Ubadah bin Ash-Shaamit radliyallaahu ’anhu ia berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berada di dalam sebuah majelis, beliau bersabda : ”Berbaiatlah kamu sekalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun juga, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berkata dusta, dan tidak berhenti menganjurkan kebaikan. Barangsiapa di antara kalian memenuhi janjinya dalam hal tersebut, maka Allah lah yang menanggung pahalanya. Barangsiapa yang berdosa (dengan melanggar perjanjian tersebut), lalu ia disiksa di dunia, maka siksanya itu sebagai pelebur dosanya. Dan barangsiapa yang berdosa (dengan melanggar perjanjian tersebut), kemudian Allah menutupi dosanya di dunia, maka kelak di akhirat terserah kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan memaafkannya; dan jika Allah berkehendak, maka Allah akan menyiksanya”. ’Ubadah berkata : ”Maka kami pun berbaiat kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam atas hal tersebut” [HR. Al-Bukhari no. 18].
     
    Bahkan, penerimaan dakwah tauhid ini menjadi tolok ukur diperangi atau tidaknya satu kaum sebagaimana sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam :
    أمرت أن أقاتل النـاس حتى يقولــوا: لا إلـه إلا الله، فمــن قــال: لا إله إلا الله، عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه، وحسابه على الله
    ”Aku diperintahkan (Allah) untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan : ‘Tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah’. Barangsiapa yang mengatakan ‘Tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah’, maka harta dan jiwanya terlindungi dariku kecuali karena haknya; dan oleh Allah lah hisab baginya”.
     
    Orientasi dakwah inilah yang harus kita jalankan di masa sekarang. Adapun Daulah/Khilafah, maka itu merupakan janji/anugrah Allah yang akan Allah tunaikan jikalau kaum muslimin merealisasikan tujuan mereka diciptakan; yaitu beribadah kepada-Nya semata dan meninggalkan aneka macam kesyirikan, serta beramal shalih sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Allah ta’ala telah berfirman :
     
    وَعَدَ اللّهُ الّذِينَ آمَنُواْ مِنْكُمْ وَعَمِلُواْ الصّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكّنَنّ لَهُمْ دِينَهُمُ الّذِي ارْتَضَىَ لَهُمْ وَلَيُبَدّلَنّهُمْ مّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
    ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." [QS. An-Nuur : 55].
     
    Dicabutnya kekuasaan kaum muslimin oleh Allah dengan keruntuhan Daulah ’Utsmaniyyah pada tahun 1924 adalah merupakan musibah yang diakibatkan oleh kesalahan kaum muslimin sendiri ketika mereka mulai jauh dari syari’at Allah. Allah berfirman :
     
    وَمَآ أَصَابَكُمْ مّن مّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُواْ عَن كَثِيرٍ
    “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [QS. Asy-Syuuraa : 30].
     
    Bisa kita lihat di masa itu (bahkan hingga sekarang) aneka kesyirikan dan bid’ah merajalela. Budaya taqlid terhadap kuffar sudah bukan hal yang aneh jadi pemandangan.
     
    Oleh karena itu, sangat ironis jika ada sekelompok orang yang mendengung-dengungkan pengembalian khilafah sementara di kanan-kiri dan depan-belakang mereka orang-orang ramai melakukan praktek penyembahan kubur, perdukunan, sihir (juga : sulap), mengundi nasib, ber-zodiak ria, sinetron-sinetron mistik, dan yang semisal tanpa ada pengingkaran yang berarti. Bagaimana mungkin khilafah bisa ditegakkan dalam keadaan kondisi ini ? Diperparah lagi dengan kondisi banyaknya kaum muslimin yang meninggalkan shalat, zakat, puasa, dan haji yang notabene menjadi kewajiban pokok ’amaliy mereka. Jadi, janganlah heran jika penolakan konsepsi syar’i Khilafah Islamiyyah itu justru datang dari kaum muslimin sendiri. Ya,.... kaum muslimin yang fasiq nan bodoh.
    Jika kita (kaum muslimin) ingin mendapatkan kembali kekuasaan di muka bumi, maka kita harus mulai dengan apa yang dimulai oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam sebagaimana yang telah disampaikan di atas. Memulai dari yang paling dasar, paling pokok, paling penting, dan paling mendesak (urgen) untuk dilaksanakan. Tentu saja tanpa menafikkan hal-hal lain yang merupakan bagian dari syari’at Islam. Jika kita telah menempuh sarana yang dipersyaratkan oleh Allah – sebagaimana tertera dalam QS. An-Nuur : 55 (yaitu ketauhidan, keimanan, dan amal shalih) – maka bukan mustahil kekhilafahan itu dikembalikan ke tangan kaum muslimin. Dan kalau pun misalnya kita dalam menegakkan dakwah tauhid ini Allah belum mentaqdirkan kita merasakan masa kekhilafahan Islam sebagaimana yang dijanjikan, maka kita tidak perlu putus asa dan isti’jal (tergesa-gesa) dalam berdakwah. Kita harus yakin bahwa janji Allah itu akan tiba jika kita melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kesimpulan : Orientasi yang harus dilakukan oleh semua komponen dakwah Islam adalah menegakkan Dakwah Tauhid dan juga dakwah kepada (Al-Qur’an dan) As-Sunnah. Di sini kami tidak mengatakan bahwa penegakan khilafah tidak penting.[2] Segala sesuatu hendaknya diletakkan secara proporsional, sehingga melahirkan pemahaman dan pengamalan sesuai yang diinginkan syari’at.  
 
Wallaahu a’lam.
Abul-Jauzaa' - Dzulqa'dah 1429 [ditulis di Perum Ciomas Permai].
=============
 
Catatan kaki :
[1] Namun, boleh memutlakkan nama khalifah setelah era Khulafaur-Rasyidin dan Al-Hasan bin ’Ali ketika tidak ada tuntutan pembedaan dengan istilah malik (raja) atau mulk (kerajaan), seperti menyebut Khalifah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziz, Khalifah Harun Al-Rasyid, dan sebagainya. Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah :
 
ويجوز تسمية من بعد الخلفاء الراشدين ‏[‏خلفاء‏]‏ وإن كانوا ملوكا، ولم يكونوا خلفاء الأنبياء بدليل ما رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏(‏كانت بنو إسرائيل يسوسهم الأنبياء كلما هلك نبي خلفه نبي وإنه لا نبي بعدي وستكون خلفاء فتكثر، قالوا فما تأمرنا ‏؟‏ قال‏:‏ فوا ببيعةالأول فالأول، ثم أعطوهم حقهم، فإن الله سائلهم عما استرعاهم‏)‏‏.‏ فقوله‏:‏‏(‏فتكثر‏)‏ دليل على من سوى الراشدين فإنهم لم يكونوا كثيرا‏.‏ وأيضا قوله‏:‏‏(‏فوا ببيعة الأول فالأول‏)‏ دل على أنهم يختلفون، والراشدون لم يختلفوا‏
”Bolehnya menyebut khalifah terhadap orang-orang yang memimpin setelah era Khulafaur-Rasyidin, walaupun mereka sebenarnya adalah raja dan bukan pula sebagai pengganti para Nabi. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda : <<”Adalah Bani Israail dibimbing oleh banyak nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, maka digantikan oleh Nabi yang lain. Tidak ada Nabi lagi setelahku. Dan kelak akan ada beberapa khalifah yang kemudian menjadi banyak”. Mereka (para shahabat) bertanya : ”Apa yang engkau perintahkan kepada kami ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Patuhilah khalifah yang mendapatkan baiat yang pertama, dan penuhilah hak mereka. Karena Allah kelak akan meminta pertangungjawaban atas kepemimpinan mereka”>>. Sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : fataktsuru (فتكثر) adalah sebagai dalil bahwasannya yang beliau maksudkan adalah selain Al-Khulafaur-Rasyidin, sebab Al-Khulafaaur-Raasyidiin tidaklah banyak jumlahnya. Dan juga sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : fuu bi-bai’atil-ula fal-ulaa (فوا ببيعة الأول فالأول); menunjukkan bahwasannya mereka berselisih, padahal Khulafaur-Rasyidin itu tidaklah berselisih” [selesai perkataan Ibnu Taimiyyah – Lihat Majmu’ Al-Fataawaa 35/20]. 
 
[2] Daulah/Khilafah hanya merupakan wasilah untuk melaksanakan kesempurnaan sebagian syari’at Allah. Seandainya ada orang yang berpendapat bahwa penegakan Daulah/Khilafah ini adalah wajib sebagaimana kaidah fiqhiyyah : Maa laa yatimmul-waajibu illaa bihi fahuwa waajib (Apa-apa yang tidak sempurna suatu kewajiban melainkan dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib); maka kewajiban ini tidaklah menunjukkan prioritas (utama). Sebagaimana telah ma’ruf bagi orang yang berilmu bahwa tidak setiap kewajiban berada dalam kedudukan yang sama, sebagaimana kita pahami dalam hadits Mu’adz bin Jabal. Dalam hadits Mu’adz dijelaskan kedudukan masing-masing kewajiban yang terkait dalam rukun Islam. Dan penegakan khilafah tidak termasuk dalam rukun Islam, apalagi rukun iman. Oleh karena itu, kaidah fiqhiyyah tersebut juga dipahami bersama kaidah lain yang menyatakan bahwa kewajiban itu dilaksanakan menurut kemampuan (al-wujuub yata’allaqu bil-istitha’ah – kaidah ke-4, Al-Qawaaidu wal-Ushuulul-Jaami’ah karya ’Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy, ta’liq : Ibnu ’Utsaimin) yang didasarkan oleh firman Allah ta’ala :
 
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
”Bertaqwallah kalian kepada Allah semampu kalian” [QS. At-Taghaabun : 16].
Juga sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam :
 
إذا أمرتكم بأمر فائتوا منه ما استطعتم
”Apabila aku memerintah kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah ia semampu kalian” [HR. Al-Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337].
 
http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/11/khilafah-kerajaan-dan-orientasi-utama.html