22 Poin Ringkasan Fikih Safar

Filed under: by: 3Mudilah


safar-mudik-1
Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul
  1. Safar adalah keluar dari tempat tinggal yang jelas dan nyata bentuknya, untuk menempuk suatu jarak tertentu. Dan ini adalah hal yang disepakati ulama.
  2. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan jarak safar.
    • Sebagian ulama mengatakan: sekadar jarak antara Mekkah dan Mina. Karena Rasulullah menganggap penduduk Mekkah sebagai musafir, dan beliau meng-qashar shalat bersama mereka dan tidak memerintahkan untuk menyempurnakan rakaat shalat. Dan perlu digaris-bawahi bahwa Mina bukanlah tujuannya, karena tujuannya adalah Arafah. Dan jaraknya adalah sekitar 30 kilometer.
    • Sebagian ulama mengatakan: sejauh satu hari perjalanan (Al Istidzkkar, 2/233). Abu Umar bin Abdil Barr berkata: “jarak safar adalah jarak perjalanan sehari semalam dengan perjalanan yang cepat, yaitu sekitar 4 barid”. Dan 1 barid itu sama dengan 4 farsakh, maka jaraknya adalah sekitar 16 farsakh. Satu farsakh sama dengan 3 mil. Sehingga jaraknya menjadi 48 mil atau 77,232 kilometer. Dan ini adalah jarak antara Jeddah dan Mekkah. Terdapat riwayat: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ كَانَ «يَقْصُرُ الصَّلَاةَ فِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَالطَّائِفِ، وَفِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَعُسْفَانَ، وَفِي مِثْلِ مَا بَيْنَ مَكَّةَ وَجُدَّةَ»
      Abdullah bin Abbas pernah meng-qashar shalat dalam perjalanan yang semisal antara Mekkah ke Thaif, atau antara Mekkah ke Usfan, atau antara Mekkah ke Jeddah“.
    • Sebagian ulama mengatakan: batasannya kembali pada ‘urf (kebiasaan setempat). Jarak yang dianggap oleh penduduk setempat sebagai safar, maka itulah batasan safar. Inilah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu dan dipegang oleh jumhur ulama, dan ini yang lebih adhbath (paling baik kaidahnya).
  3. Orang yang safar tidak boleh meng-qashar shalat hingga ia meninggalkan rumah terakhir yang ada di daerah dimana ia menjadi penduduk di sana. Dan tidaklah ia menyempurnakan rakaat shalat hingga ia menemui rumah pertama di daerah dimana ia menjadi penduduk di sana.
  4. Para ulama bersepakat bahwa seorang Muslim yang berada di daerahnya sendiri atau di tempat ia bertempat tinggal di sana, ia bukanlah musafir.
  5. Para ulama bersepakat bahwa seorang Muslim yang berada di perjalanan safar, baik jauh ataupun dekat, atau berapapun jaraknya (selama masih termasuk jarak safar, pent.), maka ia musafir.
  6. Para ulama berbeda pendapat mengenai seorang Muslim yang telah sampai di tempat atua daerah tujuan, lalu ia bermaksud untuk menetap di sana dalam jangka waktu tertentu, apakah ia keluar dari batasan safar dari sejak ia sampai hingga selesai menetapnya?
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus sebagai musafir sampai ia kembali ke daerah tempat tinggalnya. Berapapun lamanya ia menetap di daerah tujuan.
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus musafir jika berencana tinggal selama 4 hari atau kurang dari itu. Dan ia berstatus sebagai muqim sejak sampai di daerah tujuan jika ia berencana tinggal lebih dari 4 hari.
    Pendapat yang rajih menurut pandanganku adalah pendapat kedua, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika datang ke Mekkah untuk haji beliau tidak menetap di Mekkah kecuali selama 4 hari beliau meng-qashar shalat. Kemudian beliau keluar menuju Mina. Selain itu Rasulullah melarang kaum Muhajirin menetap di Mekkah lebih dari 3 hari agar hijrah mereka tidak batal. Ini menunjukkan bahwa menetap lebih dari 4 hari mengeluarkan seorang Muslim dari batasan safar menjadi iqamah (menetap).
  7. Jika seorang Muslim musafir sampai di daerah yang menjadi tujuannya, namun ia tidak berencana menetap di sana, dan ia masih bimbang dan belum tahu kapan akan pulang.
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus sebagai musafir sampai ia kembali ke daerah tempat tinggalnya.
    • Sebagian ulama mengatakan: ia berstatus musafir selama 19 hari, namun setelahnya ia berstatus muqim.
    Pendapat yang rajih adalah pendapat kedua. Terdapat hadits yang diriwayatkan Al Bukhari (1080), dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata:
    أَقَامَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ، فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا، وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا
    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menetap selama 19 hari dengan meng-qashar shalat. Dan kami jika menetap selama 19 hari kami meng-qashar shalat, jika lebih dari itu kami menyempurnakan shalat
  8. Meng-qashar (meringkas rakaat) shalat ketika safar hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Namun jika menyempurnakan rakaat, shalatnya tetap sah.
  9. Seorang musafir jika shalat menjadi makmum dari imam yang berstatus muqim, maka musafir tersebut tidak boleh meng-qashar.
  10. Boleh menjamak (menggabungkan) shalat ketika safar. Zhuhur dijamak dengan ashar, maghrib dengan isya. Shalat subuh dikerjakan pada waktunya dan tidak dijamak dengan shalat sebelumnya atau sesudahnya.
    Menjamak shalat dengan shalat sebelumnya dinamakan jamak taqdim. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Arafah ketika haji Wada’, beliau menggabungkan shalat ashar dengan zhuhur.
    Menjamak shalat dengan shalat sesudahnya dinamakan jamak ta’khir. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Muzdalifah pada malam hari, beliau menggabungkan shalat Maghrib dan Isya.
  11. Shalat maghrib tidak boleh diringkas menjadi 2 rakaat, demikian juga shalat subuh tetap dikerjakan 2 rakaat. Yang bisa di-qashar adalah shalat ruba’iyyah, yaitu shalat zhuhur, shalat ashar, dan shalat isya.
  12. Menjamak shalat adalah rukhshah safar, baik perjalanannya terus-menerus atau tidak. Dan yang lebih utama adalah shalat pada waktunya (tidak dijamak), kecuali jika perjalanannya terus-menerus.
  13. Ketika menjamak shalat, hendaknya adzan sebelum shalat yang pertama saja, dan iqamat pada setiap shalat. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
  14. Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir, yang dilakukan adalah shalat zhuhur. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hajinya. Karena ketika itu bertepatan dengan hari Jum’at, dan beliau tidak shalat Jum’at dan shalat zhuhur dijamak dengan shalat ashar.
  15. Jika seorang musafir shalat Jum’at, tidak boleh menjamaknya dengan shalat ashar. Karena hal itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
  16. Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan shalat qabliyah shubuh, shalat witir, shalat lail dan shalat dhuha ketika safar. Dan ini semua adalah shalat tathawwu’.
  17. Safar adalah kesulitan dan adzab. Maka ketika seorang Muslim sudah menunaikan hajatnya, segeralah ia kembali kepada keluarganya dan daerahnya.
  18. Status safar tidak menghalangi keabsahan akad nikah dan akad jual-beli.
  19. Waliyul amr tidak disyariatkan untuk menegakkan had dalam keadaan safar. Imam Ahmad mengeluarkan hadits dalam Musnad-nya (17626, 17627), dan Abu Daud (4408), dan At Tirmidzi (1450) dari Junadah bin Abi Umayyah, ia berkata: كنا مع بُسْرِ بنِ أبي أرطاةَ في البحرِ، فأتي بسارقٍ يقال له: مِصْدَرٌ، قد سرقَ بُخْتِيَّةً، فقال: «سمعتُ رسولَ الله -صلَّى الله عليه وسلم- يقول: «لا تُقطَعُ الأيدي في السَّفر» ولولا ذلك لقطعتُه
    “kami pernah bersama Busr bin Abi Artha’ah di laut, ia bersama seorang pencuri bernama Mishdar. Ia mencuri sebuah Bukhtiyyah. Busr berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘tidak dipotong tangan pencuri ketika safar‘. Andaikan bukan karena hadits ini, maka telah aku potong tangannya” (Dishahihkan Al Albani dan Al Arnaut)
  20. Seorang Muslim dimakruhkan bersafar sendirian. Imam Malik meriwayatkan hadits dalam Al Muwatha dalam kitab Al Isti’dzan, bab Maa ja’a bil wahdah fis safar, dan juga Abu Daud (2607), dan At Tirmidzi (1674), dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ
    orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar“.
    Hadits ini hasan.
  21. Jika seorang Muslim menjadi warga negara sebuah negara, kemudian ia meninggalkan negara tersebut dan menjadi warga negara dari negara lain. Kemudian ia kembali ke negara yang awal tanpa mengganti kewarganegaraannya. Maka ia berstatus safar dengan ketentuan-ketentuan yang telah disebut pada poin sebelumnya. Kecuali jika ia memiliki rumah di sana. Jika demikian, maka ia tidak boleh meng-qashar shalat. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika kembali ke Mekkah setelah Fathul Mekkah beliau tidak menyempurnakan rakaat shalat, beliau meng-qashar. Namun ketika beliau ditanya mengenai rumahnya, beliau menjawab: “apakah masih ada bagiku rumah walau hanya satu petak?“. Ini menunjukkan bahwa beliau dan kaum Muhajirin yang bersama beliau adalah musafir.
  22. Jika seorang Muslim bertempat tinggal di suatu kota, sedangkan ia bekerja di kota lainnya, maka ia boleh meng-qashar shalat dalam safarnya antara dua kota tersebut. Namun ketika ia sudah masuk ke kota dimana rumahnya berada, maka tidak boleh meng-qashar shalat.
***

Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.or.id

Fiqih Ular, Hukum-Hukum Syari’at Seputar Ular

Filed under: by: 3Mudilah

Negri Indonesia raya tercinta tempat lahir beta ini terkenal dengan negri zamrud khatulistiwa. Konon menurut pelajaran geografi semasa sekolah, daerah yang dilewati garis khatulistiwa cenderung beriklim tropis serta memiliki tingkat curah hujan yang tinggi.

Karena beriklim tropis maka negri kita ini menjadi surga tersendiri bagi populasi ular. Kita seringkali mendapati keberadaan binatang unik ini diberbagai kesempatan, pada lokasi yang berbeda-beda. Di sawah, di kebun, di halaman, di sungai, di pesantren bahkan rumah sekalipun tidak luput dari  keberadaannya.

Data maupun fakta serta cerita unik dan aneh seputar ular pun banyak beredar di masyarakat kita. Mulai dari cerita yang masuk akal maupun tidak masuk akal, yang ilmiyyah maupun yang khurafat. Berikut adalah beberapa informasi yang penulis kumpulkan seputar ular dan seluk beluknya.

.:: Kisah Ular Dalam Al Qur’an

Allah mengabarkankan di dalam Al Qur’an surat Toha ayat : 65-71 kisah pertempuran antara nabi Musa ‘alaihissalam melawan para tukang sihir Fir’aun. Dan kisah ini sudah sangat masyhur.
Al Imam Abu Ja’far Ath Thabary ketika menafsirkan kisah tersebut, beliau menukil sebuah riwayat sebagai berikut:
Fiqih Ular 01Sebagaimana yang dikabarkan kepadaku oleh Ibnu Humaid, mengabarkan kepadaku Salamah dari Abu Ishaq. Ia berkata Aku diberi kabar oleh Wahb bin Munabbih beliau berkata ketika membaca firman Allah ta’ala: “Mereka berkata wahai Musa kamu duluan yang melemparkan atau kami duluan yang melemparkan ? (QS. Taha : 65). Musa berkata: Silahkan kalian melemparkan duluan”. (QS. Taha : 66)

Yang pertama kali terkena dampak sihir mereka adalah matanya Musa, kemudian matanya Fir’aun, kemudian matanya manusia yang hadir disana kala itu.

Lantas masing-masing dari para tukang sihir itu melemparkan apa yang mereka pegang berupa tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Tiba-tiba tongkat dan tali tersebut seolah berubah menjadi ular seperti gunung yang memenuhi lembah. Dan ular-ular itu saling tumpang tindih satu sama lain”. (Tafsir Ath-Thabary ; 16/109).

Lantas Al Imam Abu Ja’far Ath Thabary kembali menukilkan riwayat berikut:

Fiqih Ular 02Mengabarkan kepadaku Ibnu Humaid, mengabarkan kepadaku Ya’qub dari Ja’far dari Sa’id ia berkata: Ketika mereka telah berkumpul dan melemparkan apa yang ada di tangan mereka berupa sihir yag dikhayalkan pada Musa seolah ia adalah ular yang merayap. (Lantas Musa terkejut dan merasakan takut di dalam dirinya (QS. Taha : 67). KAMI katakan wahai Musa janganlah engkau takut karena engkau adalah orang yang menang (QS. Taha : 68). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, ia akan menelan apa yang mereka perbuat) (QS. Taha : 69).

Musa lantas melemparkan tongkatnya. Tiba-tiba tongkat tersebut berubah menjadi ular yang sangat nyata. Ia (Said) berkata: Ular tersebut membuka mulutnya seperti lubang yang sangat besar. Ia meletakkan bibir bawah di bumi dan mengangkat bibir atasnya ke atas, kemudian menelan semua sihir yang dilemparkan oleh para tukang sihir. Lantas Musa mendatangi ular tersebut dan menangkapnya tiba-tiba ia berubah menjadi tongkat kembali.

Maka para tukang sihir pun jatuh tersungkur seraya bersujud (Mereka berkata kami beriman terhadap Tuhannya Musa dan Harun (QS. Taha : 70). Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik) (QS. Taha : 71).

Ia (Said) berkata: Orang pertama yang memotong tangan dan kaki secara silang adalah fir’aun (Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik) (QS. Taha : 71).

Dan orang yang pertama kali menyalip manusia pada batang pohon kurma adalah Fir’aun. (Tafsir Ath-Thabary : 16/113).

.:: Siluman Ular
Fiqih Ular 03Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyany berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jin itu ada tiga jenis, jin yang memiliki sayap dan bisa terbang diudara, jin yang berupa ular dan kalajengking, serta jin yang suka berpindah-pindah”. (HR. Thabrany, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 3114).

.:: Ular Berkepala Sembilan ::.Fiqih Ular 04Dari Abul Haitsam dari Abu Sa’id Al-Khudzriy radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: Sesungguhnya penghidupan yang sempit maksudnya adalah diutusnya 99 Tanin (ular yang sangat besar) untuk mencabik-cabiknya di alam kubur. (HR. Baihaqiy dalam kitab Itsbatu ‘Adzabil Qabri Hal. 60 Riwayat No. 61 oleh Imam Al-Baihaqiy).
Dalam riwayat yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Fiqih Ular 05“Tahukah kalian apa itu Tanin? Tanin adalah 99 ekor ular, setiap ular memiliki 9 kepala. Mereka akan menyembur pada mayit, menggigit serta mencabik-cabiknya hingga hari kiamat”. (HR. Baihaqiy dalam kitab Itsbatu ‘Adzabil Qabri Hal. 62 Riwayat No. 68 oleh Imam AlBaihaqiy).
 
.:: Perintah Membunuh Ular

Secara umum ular adalah binatang yang diperintahkan untuk dibunuh berdasarkan riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas mimbar bersabda; “Bunuhlah Ular”. (HR Muslim ; 2223).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا
“Ada lima jenis binatang fasik yang boleh dibunuh baik di tanah haram ataupun di luar tanah haram: Ular, gagak yang di punggung atau perutnya ada warna putih, tikus, anjing gila, dan elang.” (HR. Muslim no. 1198).

Selain memerintahkan untuk membunuh ular secara umum Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan untuk membunuh beberapa jenis ular tertentu. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar dengan berkata:

اُقْتُلُوا الْحَيَّاتِ وَاقْتُلُوْا ذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَالأَبْتَرَ فَإِنَّهُمَا يَطْمِسَانِ الْبَصَرَ وَيَسْتَسْقِطَانِ الْحَبَلَ. (أخرجه مسلم ص ٢٢٣٣
“Bunuhlah ular-ular dan bunuhlah dza ath-thufyatain dan alabtar (nama dari dua jenis ular berbisa) karena keduanya membutakan pandangan dan menggugurkan kandungan.” (HR. Muslim hadits no. 2233).

Al-Hafizh Ibnu Hajar membawakan perkataan Ibnu ‘Abdil Barr: “Bahwasanya Dza ath-thufyatain adalah sejenis ular yang di punggungnya terdapat dua buah garis berwarna putih.

Adapun “Al-Abtar” kata Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalaniy adalah: Ular yang terpotong ekornya (seolah-olah ekornya terpotong karena pendeknya).”. An-Nadhr bin Syumail menambahkan bahwasanya ular itu berwarna biru dan tatapan matanya dapat menggugurkan kandungan wanita yang hamil. (Fathul Bari : 6/401)

.:: Larangan Membunuh Ular

Perintah Nabi untuk membunuh ular tersebut di atas tidak diberlakukan secara mutlak. Khusus bagi ular-ular yang masuk rumah, mereka tidak boleh langsung dibunuh. Akan tetapi diusir dan dikasih tenggang waktu selama tiga hari berdasarkan riwayat berikut ini:

Dari Abus Sa’ib, maula Hisyam bin Zahrah bahwa ia menjenguk Abu Sa’id Al-Khudry di rumahnya. Aku dapati ia sedang shalat. Maka aku pun duduk menunggunya. Setelah selesai shalat aku mendengar suara di salah satu tiang di atap rumah. Aku melihatnya ternyata seekor ular. Maka aku pun bangkit hendak membunuhnya.

Abu Sa’id mengisyaratkan agar aku duduk kembali. Aku pun duduk. Setelah keluar beliau menunjuk sebuah rumah. Beliau bertanya, “Apakah engkau melihat rumah itu?” “Ya!” jawabku.

Beliau bercerita, “Dahulu di rumah itu tinggallah seorang pemuda yang baru saja menikah. Maka kami pun berangkat bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ke peperangan Khandaq. Pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah untuk kembali ke rumah pada tengah hari.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya dan berkata kepadanya, Bawalah senjatamu, aku takut engkau dihadang oleh Yahudi Bani Quraizhah. Maka pemuda itu pun membawa senjatanya. Kemudian ia kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia dapati isterinya berdiri di depan pintu rumahnya.

Maka ia pun menyerbu ke arah isterinya untuk memukulnya dengan tombaknya. Ia telah terbakar rasa cemburu. Si isteri berkata kepadanya, Tahan dulu tombakmu terhadapku! Masuklah ke dalam rumah supaya engkau dapat melihat apa yang menyebabkan aku keluar rumah. Maka pemuda itu pun masuk ke dalam rumah ternyata ia dapati ular besar melingkar di atas tempat tidurnya. Maka ia pun menyerangnya dengan menusukkan tombaknya.

Kemudian ia keluar dan menancapkan ular itu pada tombaknya lalu ular itu menggeliat dari ujung tombak dan menyerangnya, tidak diketahui siapakah yang lebih dahulu mati apakah ular itu atau pemuda tadi. Kami pun menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, kami berkata, Mintalah kepada Allah agar Dia menghidupkannya kembali untuk kami. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata: Mintakanlah ampunan untuk Sahabat kalian ini.

Kemudian beliau bersabda, ; Sesungguhnya kota Madinah ini dihuni oleh jin-jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat ular, maka usirlah selama tiga hari. Jika masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syaitan.” (HR. Muslim ; 2236).

Dari uraian di atas kita mengambil kesimpulan seputar hukum membunuh ular, bahwa:
  1. Ular adalah salah satu binatang yang diperintahkan untuk dibunuh.
  2. Apabila kita mendapati ular yang masuk ke dalam rumah. Kita tidak boleh langsung membunuhnya. Akan tetapi mengusirnya dan memberi tangguh waktu selama tiga hari. Jika setelah itu ia masih menampakkan diri kembali, maka kita boleh membunuhnya.
  3. Nabi juga memerintahkan untuk membunuh dua jenis ular yang memiliki dua garis putih di punggung dan ular yang pendek yang seolah-olah ekornya terputus. Karena jenis ular seperti ini bisa membutakan mata dan menggugurkan janin dalam kandungan wallahu a’lam.
Dari sini menjadi jelas bahwa larangan membunuh ular secara mutlak hanya berlaku jika ular tersebut berada di luar rumah. Namun jika ular tersebut berada di dalam rumah maka ada perbedaan hukum sebagaimana telah dijelaskan. Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam Berkata:Fiqih Ular 06
Masalah: Apakah seorang muslim boleh membunuh ular yang ia temui di luar rumah?
Jawab: Ular yang berada di luar rumah dibunuh dengan tanpa diberi peringatan. Dalil akan hal tersebut adalah apa yang datang dari hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah ular semuanya, Karen akita tidak akan pernah berdamai dengan mereka semenjak kita memerangi mereka”. Hadis ini diriwayatkan oleh Tabrany dan ia adalah hadis yang hasan.

Dan dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah ular semuanya, barangsiapa takut terhadap pembalasan dendam mereka, maka ia bukan golongan kami”. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud 5249. Dan lafadz ini adalah milik Abu Dawud. Dan hadis ini pada Tabrani ada melalui jalur Jarir radhiyallahu ‘anhu hadis no. 2396.)

Tambahan yang menegaskan hukum membunuh ular datang dari riwayat Abu Hurairah pada Abu Dawud 921, Tirmidzi 290, Ibnu Majah 1245, Thayalisy 2539, Al Baihaqy 2/266, Ibnul Jarud 213, Ibnu Hibban 2352 dan yang lain bahwa rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah dua hitam ketika shalat yaitu ular dan kalajengking.

Maka menjadi jelaslah bahwa ular yang ada di luar rumah boleh dibunuh dengan tanpa memberi peringatan. Lebih-lebih lagi dzu ath-thufyatain dan al-abtar. Al-Imam Al-Bukhari 3297, Muslim 2233 meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bunuhlah dzu-thufyatain dan al-abtar karena keduanya bisa membutakan mata dan menggugurkan kandungan”.

Dan datang juga dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam shahih Bukhari dan yang lain dengan lafadz: “Bunuhlah dzu-thufyatain karena ia membutakan mata dan menggugurkan kandungan”.

Dan datang dari hadis Abu Lubabah radhiyallahu ‘anhu pada Bukhari 3311, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian membunuh jin melainkan ular yang abtar dan dzu-thufyatain. Karena keduanya menggugurkan janin dan membutakan mata, maka bunuhlah ia”.

Al-Abtar adalah yang terpotong ekornya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Atsir di dalam kitab An Nihayah. Sedangkan Dzu Thufyatain adalah setiap ular yang memiliki dua garis pada punggungnya”. (Ahkamut Ta’amul Ma’al Jin : 55-56 Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam).

.:: Merasa Sial Karena Melihat Ular

Sebagian masyarakat kita tatkala melihat ular menyebarangi jalan/ melintang di tengah jalan. Atau melihat burung gagak, atau mendengar suara tertentu atau menjumpai hari tertentu, ia akan merasa sial. Dan mengurungkan niatnya untuk melakukan suatu pekerjaan karena penglihatannya tersebut. Fenomena seperti ini masuk ke dalam definisi tathayyur yang dilarang oleh syari’at islam. Al-Imam Ibnu Utsaimin menuturkan ketika menjelaskan definisi tathayyur ini :
 Fiqih Ular 07“Dan jika engkau ingin maka katakanlah : Tathayyur adalah merasa sial karena melihat sesuatu atau mendengar sesuatu atau mengetahui/ menjumpai sesuatu yang sudah maklum.
  • Melihat, contohnya : Seseorang yang melihat keberadaan burung tertentu lantas ia merasa sial.
  • Mendengar, contohnya: Seseorang ingin melakukan sesuatu. Lantas ia mendengar seseorang berkata: aduh celaka, aduh sial. Lantas ia merasa sial karenanya.
  • Mengetahui/menjumpai sesuatu, contohnya: Merasa sial karena menjumpai beberapa hari tertentu atau bulan tertentu atau tahun tertentu. Semua hal ini tidak terlihat dan tidak terdengar naun bisa diketahui”. (Al-Qaulul Mufid : 1/259).
Diantara dalil haramnya tathayyur adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Thiyarah adalah syirik”. (Hadits riwayat Ahmad, 1/ 389, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahihul Jami’ no: 3955.)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Fiqih Ular 08Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik”.  Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?”.  Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau”. (HR. Ahmad : 2/220), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad no. 7045.  Dan Al-Imam Al-Albany dalam Silsilah Shahihah no. 1065).

.:: Hukum Makan Ular
قال النووي رحمه الله :
” مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي حَشَرَاتِ الْأَرْضِ كَالْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ وَالْجِعْلَانِ وَبَنَاتِ وَرْدَانَ وَالْفَأْرَةِ وَنَحْوِهَا : مَذْهَبُنَا أَنَّهَا حَرَامٌ , وَبِهِ قَالَ  أَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ وَدَاوُد , وَقَالَ مَالِكٌ : حلاَل ” .

Al-Imam An-Nawawy berkata: Madzhab para ulama tentang bnatang melata yag ada di bumi seperti ular, kalajengking, bonthe, kecoak, tikus dan lain-lain madzhab kami binatang tersebut adalah haram. Dan pendapat ini dikatakan pula oleh Abu Hanifah, Ahmad, Abu Dawud, dan apaun Malik berkata ia adalah binatang yang haram. (Lihat Majmu’ Syarh Muhadzdzab : 9 : 16-17 Oleh Imam An-Nawawy).

Dari sini kita memahami bahwa para ulama berselisih akan hukum mengkonsumsi ular. Mayoritas ulama mengatakan haram adapun Imam Malik bin Anas berpendapat akan halalnya ular. Namun demikian pendapat yang rajih dan yang benar adalah pendapatnya jumhur/mayoritas dengan beberapa alasan sebagai berikut:

1- Ular termasuk katagori binatang buas yang memiliki taring.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Setiap binatang buas yang bertaring haram dimakan” (HR. Muslim : 1933).
2- Ular termasik binatang fasik yang diperintahkan untuk dibunuh sebagaimana telah berlalu penyebutan hadis tentang hal ini.
3- Ular termasuk binatang yang kotor

Allah subhanahu wata’ala berfirman : Dan Allah menghalalkan bagi mereka makanan yang suci dan mengharamkan atas mereka makanan yang kotor”. (QS. Al-A’raf ; 157).

.:: Berobat Dengan Minyak Ular

Penulis pernah mendapati seorang lelaki yang berdagang minyak yang terambil dari cairan ular serta kalajengking. Konon minyak ini sangat manjur untuk mengobati berbagai penyakit kulit. Disamping juga digunakan untuk mencegah kerontokan rambut.
 وسئل علماء اللجنة الدائمة :
فيه رجل يستعمل الحيات للطب ، ويزعم أن ذلك مباح للظروف والضرورة ، وطريقة استعماله في الحية : يمسكها ويضعها في قدر سمن وهي لم تمت ، والقدر يغلي على النار ، وبعد ذلك يعالج بالسمن الذي طبخ فيه الحية ، والذي يستعمله يسكر سكرا خفيفا ، هل يجوز التداوي بهذا السمن ، إذا ثبت أنه مفيد للمرض ؟ وهل يجوز وضع الحية بالسمن وهو يغلي على النار ؟
فأجاب علماء اللجنة :
” أولا : لا يجوز وضع الحيوان وهو حي في سائل يغلي ؛ لما في ذلك من تعذيب الحيوان ، وهو منهي عنه بقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( إذا قتلتم فأحسنوا القتلة ) .. الحديث .
ثانيا : لا يجوز التداوي بالحيات ولا بالسمن الذي طبخت فيه ؛ لأنها لا يجوز أكلها على الصحيح من قولي العلماء ، وميتتها نجسة ، والتداوي بالمحرم حرام ” انتهى .
“فتاوى اللجنة الدائمة” (25 / 25-26)
Para ulama besar yang tergabung di dalam Lajnah Daimah pernah ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut:
Ada seorang lelaki menggunakan ular sebagai obat. Dan ia menyangka bahwa hal tersebut diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Cara penggunaannya adalah; Ia menangkap ular lalu meletakkannya di atas wajan padahal ular tersebut belum mati.

Kemudian ia memasak ular tersebut dan menggunakan minyak yang keluar dari ular tersebut. Orang yang menggunakan minyak ini akan mabuk sedikit. Apabila penggunaan obat seperti ini memang member manfaat, apakah diperbolehkan yang seperti itu???

Para ulama yang tergabung di dalam Lajnah Da’imah menjawab: Yang pertama tidak boleh merebus ular dalam cairan mendidih keadaan hidup. Karena ini merupakan salah satu bentuk penyiksaan. Yang seperti ini dilarang sebagaimana yang tersebut di dalam hadis: Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik.

Yang kedua tidak boleh berobat dengan ular ataupun dengan minyak rebusan ular. Karena ular adalah binatang yang tidak boleh dimakan menurut pendapat yang shahih dari para ulama. Dan bangkainya najis dan karena berobat dengan sesuatu yang haram juga haram hukumnya. (Fatawa Lajnah Da’imah ; 25/25-26).
Fiqih Ular 09Fiqih Ular 09
Namun demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang seorang lelaki yang ditunjukkan kepadanya minyak babi sebagai obat, apakah hal itu diperbolehkan bagi dia ataukah tidak ???

Beliau menjawab: “Berobat dengan memakan minyak babi tidak diperbolehkan. Adapun berobat dengan cara dioleskan kemudian dibersihkan kembali setelah itu, maka ini terbangun di atas hukum bolehnya menyentuh benda najis diluar shalat. Dan hal ini diperselisihkan para ulama. Pendapat yang benar hal tersebut diperbolehkan jika memang ada keperluan.

Sebagaimana seseorang diperbolehkan cebok dan menghilangkan benda najis dengan menyentuhnya menggunakan tangan. Dan apa yang diperbolehkan ketika memang hal tersebut dibutuhkan, maka boleh berobat dengannya.

Sebagaimana bolehnya berobat dengan memakai sutra menurut pendapat yang paling benar dari para ulama’. Dan apaapa yang diperbolehkan dalam kondisi darurat, maka tidak boleh berobat dengannya, seperti misalnya berobat dengan khomr”. (Al-Fatawa Al-Kubro : 3/8 Oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

.:: Hukum Memakai Barang Yang Terbuat Dari Kulit Ular

Hukum memakai sepatu, atau dompet, atau ikat pinggang dan lain-lain yang terbuat dari kulit ular ini juga diperselisihkan para ulama akan kebolehannya. Perselisihan ini muncul karena mereka berbeda pendapat tentang apakah proses penyamakan kulit itu bisa membuat suci semua jenis kulit atau hanya sebagian kulit saja.

Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah (lembaga riset dan fatwa Saudi Arabia) memfatwakan ketidakbolehan memakai barang-barang tersebut. Karena samak hanya bisa mensucikan kulit yang diperintahkan untuk disembelih. Demikian pula Al-Imam Ibnu Baz dan Al-Imam Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmati mereka semua-.

Yang benar (wallahu a’lam) adalah proses samak itu bisa membuat suci semua jenis kulit sebagaimana yang dikuatkan oleh Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Muslim. Setelah beliau menyebutkan semua pendapat beserta dalil-dalinya, beliau berkata:

“Pendapat yang benar adalah pendapat pertama yang mengatakan proses samak itu bisa membuat suci semua jenis kulit. Karena pendapat ini sangat kuat dalil keumumannya. Dan sebaliknya, dalil-dalil pendapat yang menyelisihinya lemah baik dari sisi makna maupun lemah dari sisi sanad”. (Tathirun Najasat Wal Intifa’ Biha : 172 Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Muslim).

Dan berikut ini adalah hadis tentang samak yang beliau maksudkan:
أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kulit apa saja apabila telah disamak maka ia telah menjadi suci”. (HR. Tirmidzy 1728, Nasa’y 4241, Ibnu Majah 3609, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahihul Jami’ : 2711).

Adapun hadis yang dijadikan argument bahwa kulit yang bisa suci dengan proses samak hanya kulit hewan yang diperintahkan untuk disembelih saja adalah sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:
دباغها ذكاتها
“Penyamakan kulit itu adalah seperti penyembelihannya”. (HR. An Nasa’y : 4243).

Sebagian orang memahami dari hadis ini bahwa kulit yang bisa menjadi suci adalah kulit hewan yang diperintahkan untuk disembelih. Adapun selainnya tidak bisa menjadi suci meski sudah disamak. Ini kurang tepat karena yang dimaksud adalah bahwa proses penyembelihan menyebabkan hewan menjadi suci sebagaimana proses penyamakan menjadikan suci. Jadi yang diserupakan di sini adalah atsar (pengaruh) dan bukan muta’atsar (obyek yang dipengaruhi). Dan hadis ini sama sekali tidak menunjukkan adanya pembatasan pada kulit tertentu.

Disamping itu dalil sucinya kulit dengan proses samak menyebutkan kulit dengan redaksi umum yang mencakup semua jenis kulit wallahu a’lam.

Lantas sebagian yang lain melarang pemanfaatan kulit binatang buas berdalil dengan riwayat Al-Miqdam ketika beliau bertanya kepada Mu’awiyyah –semoga Allah meridhai mereka semua- : Aku peringatkan kamu atas nama Allah, apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakai kulit binatang buas dan berkendara di atasnya ? Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhu menjawab : Iya”. (HR. Abu Dawud : 4131).

Hadis ini hendaknya difahami bahwa pemanfaatan kulit binatang buas yang dilarang adalah kulit yang belum disamak. Jadi ia dilarang karena kenajisannya, sehingga apabila telh disamak laranganpun sudah tidak berlaku lagi karena sudah menjadi suci. Dengan demikian tidak ada lagi pertentangan antara riwayat ini dengan keumuman riwayat pada hadis samak yang telah berlalu. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Al-Imam Asy-Syaukany rahimahullah, beliau berkata :

يحتمل أن النهي عما لم يدبغ منها لأجل النجاسة, أو أن النهي لأجل أنها مراكب أهل السرف والخيلاء
“Hadis ini memiliki kemungkinan bahwa larangan yang dimaksud adalah untuk kulit yang belum disamak karena ia najis. Atau larangan tersebut disampaikan karena hal tersebut merupakan kebiasaan orang-orang yang suka glamour dan sombong”. (Nailul Authar : 1/71 Asy Syaukany).

Pendapat bahwa proses samak mensucikan segala jenis kulit juga dipilih oleh Al-Imam Al-Albany rahimahullah. Seperti yang beliau ungkapkan sendiri ketika beliau ditanya tentang seorang lelaki yang membeli barang terbuat dari kulit babi, apakah sah shalat dengan menggunakan barang tersebut?. Dan inilah jawaban beliau:

“Pertanyaan ini memiliki dua sisi.
Yang pertama : Apakah sah shalat dengan menggunakan kulit ini ataukah tidak?
Yang kedua    : Dan jika haram, apakah boleh memberikannya kepada orang nasrani atau orang musyrik sebagai hadiah?

Aku katakan, kedua-duanya diperbolehkan. Shalatnya sah dan boleh juga menyimpan/ memakai kulit ini. Karena rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kaidah yang umum. Beliau bersabda: 

“Setiap kulit yang disamak maka ia telah suci”. Dan dalam riwayat yang lain: “Kulit apa saja yang telah disamak telah menjadi suci.”

Termasuk ke dalam hadis ini juga -ini adalah masalah yang diperselisihkan- kulit babi. Demikian juga (lebih-lebih lagi) kulit anjing, musang, harimau, singa dan yang lainnya. Selama kulit-kulit ini telah disamak maka ia telah menjadi suci.

Terlebih lagi seni samak pada masa ini jauh lebih maju, lebih modern, lebih suci dan lebih canggih jika dibandingkan samak dengan menggunakan qard dan garam atau cara zaman dulu yang klasik. Maka dari itu kulit yang dibuat menjadi jaket, atau barang lainnya ia adalah sesuatu yang suci. Boleh dipakai, dan sah shalat dengan menggunakannya, boleh juga dijadikan hadiah untuk orang kafir”. (Silsilah Huda Wan Nur, kaset no. 231, lihat transkrip dari fatwa ini di sini : http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=43919).

.:: Hukum Memelihara Ular

Ibnu Qudamah Al-Maqdisy menetapkan sebuah kaidah:
وما وجب قتله حرم اقتناؤه
”Binatang yang wajib dibunuh, haram untuk dipelihara.” (Al-Mughni : 9/373 Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy).

Demikian pula Az-Zamakhsyary mengatakan:

يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ اقْتِنَاءُ أُمُورٍ: مِنْهَا: الْكَلْبُ لِمَنْ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، وَكَذَلِكَ ” بَقِيَّةُ ” الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ، الْحَدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْحَيَّةُ
“Haram bagi mukallaf (orang yang mendapat beban syariat) untuk memelihara beberapa binatang, diantaranya : anjing bagi yang tidak membutuhkannya, demikian pula lima binatang pengganggu lainnya, seperti elang, kalajengking, tikus, gagak bercorak putih, dan ular”. (Al Mantsur fil Qawaid : 3/80).

.:: Cara Menangkal Bisa Ular

Cara menangkal bisa ular ini secara global dibagi menjadi dua:
  • Upaya Pencegahan.
Upaya pencegahan maksudnya adalah upaya yang kita lakukan sebelum kita terkena sengatan ular. Pencegahan inipun dibagi lagi menjadi dua:

1- Pencegahan Duniawiyyah: Dengan cara menjauhi lokasi-lokasi yang banyak terdapat populasi ular di dalamnya. Karena ular adalah binatang berdarah panas, maka ia cenderung memilih lokasi yang lembab untuk tinggal seperti di muara sungai, rerimbunan pohon dan yang lainnya.
2- Pencegahan Diniyyah: Dengan cara bertaqwa pada Allah dan senantiasa menjaga aturan-aturan Allah serta tidak melanggar larang-larangan-Nya. Sebagaimana hal ini diisyaratkan oleh Allah ta’ala :
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ [٢٢:٣٨]
Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat”. (QS. Al Haj : 38).
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan:

Fiqih Ular 10“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy : 2635 dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahih Sunan Tirmidzy : 2/309).

Kemudian kita juga bisa membiasakan berdzikir dengan dzikir yang diajarkan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjauhkan diri kita dari berbagai marabahaya termasuk sengatan ular.
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Fiqih Ular 11Barangsiapa mengucapkan di awal harinya atau di awal malamnya ‘Bismillahi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fis sama’ (dengan menyebut nama Allah yang dengan nama tersebut tidak akan ada apapun di langit dan di bumi mampu mebenimpakan madharat) sebanyak tiga kali. Maka tidak aka nada apapun yang mampu menimpakan kemadharatan pada dirinya di hari dan malam itu”. (HR. Abu Dawud : 5066, Ibnu Majah : 3869 dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah : 2/332 hadits no. 3120).
Penulis pernah bertanya pada seorang teman yang katanya pernah membunuh ular berbisa: “Mas kok antum berani membunuh ular, apa tidak takut digigit?”.
Beliau menjawab dengan jawaban yang membuat saya terkagum: “Saya sebenarnya juga takut ular. Tapi saya membiasakan diri mengucapkan dzikir (seperti yang tersebut dalam hadis di atas) pada pagi dan sore hari. Jadi saya yakin Allah akan menjaga saya dari sengatan ular”.
  • Upaya Pengobatan.
Upaya pengobatan terhadap orang yang terkena bisa ular juga dibagi menjadi dua:

1- Pengobatan Duniawiyyah: Upaya pengobatan maksudnya adalah upaya menangkal bisa ular yang kita lakukan setelah kita terkena sengatan ular.
Dilakukan dengan cara menyuntikkan serum yang sesuai dengan jenis ular yang menggigit. Tentunya hal ini diserahkan kepada tenaga medis yang memang mengetahui seluk-beluk serum yang dimaksud.
Bisa juga dengan menggunakan air yang dicampur garam kemudian digunakan untuk merendam bagian tubuh yang terkena gigitan ular. Akan datang dalil dari hadis Nabi tentang  air garam ini pada point kedua insya’Allah. Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menerangkan manfaat air garam ini:
Fiqih Ular 12“Di dalam garam terdapat daya tawar yang mencaharkan, yang bisa menawarkan racun serta mencaharkannya. Ketika sebuah racun itu mengandung daya panas, maka ia butuh untuk didinginkan, ditawarkan serta dikeluarkan. Jadi nabi menggabungkan antara air yang berfungsi untuk mendinginkan panasnya racun, dan garam yang berfungsi untuk menawarkan dan mengeluarkan racun. Dan ini adalah pengobatan yang paling mudah untuk ditempuh”. (At-Thibbun Nabawy : 178, lihat pula Al-Ahkam Al-Fiqhiyyah Fir Ruqyah Asy-Syar’iyyah : 245 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Jiza’).
2- Pengobatan Diniyyah
Pengobatan diniyyah ini minimalnya terbagi menjadi tiga (dengan tidak ada maksud membatasi):
  • Dengan membaca surat Al-Fatihah.
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah mendatangi seorang pemimpin kabilah yang terkena sengatan binatang berbisa. Lantas salah seorag dari mereka meruqyahnya dengan membacakan surat al fatihah. Ketika sembuh pemimpin kabilah tersebut memberikan hadiah seekor kambing. Nabi lantas bersabda : “Tidakkah kalian tahu bahwa itu adalah ruqyah. Dan kalian telah bertindak benar. Bagilah kambing itu dan berilah aku bagian”. Kemudian nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tertawa. (HR. Bukhari : 2276, Muslim : 2201).
  • Dengan air garam dan surat Al Kafirun, Al-Falaq serta An-Nas.
Fiqih Ular 13Dari hadits Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam disengat kala jengking ketika sedang shalat. Ketika sudah selesai beliau bersabda : Semoga Allah melaknat kalajengking ia tidak membiarkan orang yang shalat maupun orang lain kecuali disengatnya.
Kemudian beliau meminta air dan garam lalu mengusapnya sembari membaca Qul Ya Ayyuhal kafirun, Qul A’udzubirabbil Falaq dan Qul A’udzubirabbin Nas. (Hadis ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Silsilah Shahihah no. 48, Lihat Ahkamut Ta’amul Ma’al Jinn : 158-159 Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam).
  • Dengan air garam dan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq serta An-Nas.
Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan air garam dan membaca surat al ikhlash, al falaq dan an nas. (Lihat HR. Bukhari : 3646 dihasankan oleh Al-Imam Al-Albany dalam Shahih Sunan Tirmidzy : 3/128 hadis no. 2829, lihat pula Al-Ahkam Al-Fiqhiyyah Fir Ruqyah : 245 Syaikh  Muhammad bin Shalih Al-Jiza’).
Wallahu ta’ala a’lam bish shawab, hanya ini saja yang bisa penulis kumpulkan semoga bermanfaat dan akhir dari seruan kami adalah anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Purworejo, 08 rabi’ul akhir 1435H/ 08 februari 2014M

(Disampaikan pada pengajian umum di masjid As-Sakinah Loano, Purworejo. Diselenggarakan oleh takmir masjid As-Sakinah dan majelis ta’lim Al-Atsari Purworejo pada hari Sabtu, 08 rabi’ul akhir 1435H/ 8 februari 2014M.)

https://assiwak.wordpress.com/2014/02/10/fiqih-ular-hukum-hukum-syariat-seputar-ular/



Ucapan Selamat pada Hari Raya Idul Fitri

Filed under: by: 3Mudilah

Apa yang mesti kita ucapkan ketika bertemu saudara kita di hari raya Idul Fitri? Adakah ucapan khusus yang diajarkan?

Taqobbalallahu minna wa minkum

Perlu diketahui bahwa telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat di hari raya di antara mereka dengan ucapan

Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).
فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh

Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.[1]
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.

وَقَالَ حَرْبٌ : سُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ قَوْلِ النَّاسِ فِي الْعِيدَيْنِ تَقَبَّلَ اللَّهُ وَمِنْكُمْ .قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، يَرْوِيه أَهْلُ الشَّامِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قِيلَ : وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ ؟ قَالَ : نَعَمْ .قِيلَ : فَلَا تُكْرَهُ أَنْ يُقَالَ هَذَا يَوْمَ الْعِيدِ .قَالَ : لَا .
Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di hari raya ‘ied (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha), apakah dengan ucapan, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak mengapa mengucapkan seperti itu.” Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.

Ada pula yang mengatakan, “Apakah Watsilah bin Al Asqo’ juga berpendapat demikian?” Imam Ahmad berkata, “Betul demikian.” Ada pula yang mengatakan, “Mengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada hari raya ‘ied.” Imam Ahmad mengatakan, “Iya betul sekali, tidak dimakruhkan.”

وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي تَهْنِئَةِ الْعِيدِ أَحَادِيثَ ، مِنْهَا ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ زِيَادٍ ، قَالَ : كُنْت مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .وَقَالَ أَحْمَدُ : إسْنَادُ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ إسْنَادٌ جَيِّدٌ .
Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya ‘ied. Di antara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari ‘ied (yakni shalat ‘ied, pen), satu sama lain di antara mereka mengucapkan, ‘Taqobbalallahu minna wa minka” Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid.
‘Ali bin Tsabit berkata, “Aku pernah menanyakan pada Malik bin Anas sejak 35 tahun yang lalu.” Ia berkata, “Ucapan selamat semacam ini tidak dikenal di Madinah.”

Diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak mendahului dalam mengucapkan selamat (hari raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang mengucapkan selamat padaku, aku pun akan membalasnya.” Demikian berbagai nukilan riwayat sebagaimana kami kutip dari Al Mughni[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”[3]

Selamat Hari Raya

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya ‘ied dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”[4]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum jabat tangan, saling berpelukan dan saling mengucapkann selamat setelah shalat ‘ied?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Perbuatan itu semua dibolehkan. Karena orang-orang tidaklah menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk pendekatan diri pada Allah. Ini hanyalah dilakukan dalam rangka ‘adat (kebiasaan), memuliakan dan penghormatan. Selama itu hanyalah adat (kebiasaan) yang tidak ada dalil yang melarangnya, maka itu asalnya boleh. Sebagaimana para ulama katakan, ‘Hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Sedangkan ibadah itu terlarang dilakukan kecuali jika sudah ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya’”[5]

Dari penjelasan di atas, berarti ucapan selamat hari raya itu bebas, bisa dengan ucapan “Selamat Hari Raya”, “Taqobbalallahu minna wa minkum” dan lainnya. Ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” pun tidak dikhususkan saat Idul Fithri, ketika Idul Adha dianjurkan ucapan semacam ini sebagaimana kita dapat melihat dalam penjelasan berbagai riwayat di atas.

Mohon Maaf Lahir Batin

Satu catatan pula yang mesti diperhatikan, tidak ada pengkhususan di Idul Fithri untuk saling maaf memaafkan. Semacam sering kita dengar tersebar ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” saat Idul Fithri. Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus dengan ucapan semacam itu. Ini sungguh salah kaprah. Idul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Waktu untuk saling memohon maaf itu luas. Ketika berbuat salah, langsung meminta maaf, itulah yang tepat. Tidak mesti di saat Idul Fithri. Karena jika dikhususkan seperti ini harus butuh dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits. Buktinya, tidak ada satu dalil yang menunjukkan seperti ini.

Minal ‘Aidin wal Faizin

Satu ucapan lagi yang keliru saat Idul Fithri, yakni ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin”. Ucapan ini dari segi makna kurang bagus. Arti dari ucapan tersebut adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”.

Ini suatu kalimat yang rancu. Kita mau kembali ke mana? Apa pada ketaatan atau maksiat? Jika mengandung dua makna seperti ini hendaknya ditinggalkan. Karena bisa jadi orang memahami yang dimaksud adalah kita kembali pada maksiat. Artinya, ibadah hanya di bulan Ramadhan saja, setelah itu sah-sah saja untuk maksiat, sah-sah saja untuk tinggalkan shalat dan ibadah wajib lainnya. Akibat ucapan keliru, berujung pada amalan yang keliru.

Satu hal lagi yang mesti dipahami, makna “Minal ‘Aidin wal Faizin” adalah sebagaimana yang kami sebutkan di atas. Dan bukan maknanya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Setiap kali ada yang ucapkan “Minal ‘Aidin wal Faizin” lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Dikira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh keliru. Ini pemahaman orang yang tidak paham bahasa Arab. Semestinya hal ini diluruskan. Makna kalimat “Minal ‘Aidin wal Faizin” adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”. Namun sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru. Sehingga sudah sepantasnya kita hindari. Ucapan yang lebih baik adalah sebagaimana telah dikemukakan di awal tulisan dan dicontohkan langsung oleh para sahabat, yakni “Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian)”.

Kami pun doakan pada para pembaca Muslim.Or.Id, taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amalan kita dan amalan kalian.

Diselesaikan menjelang shalat tarawih, 30 Ramadhan 1431 H (8 September 2010) di Panggang-Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
http://muslim.or.id/ramadhan/ucapan-selamat-pada-hari-raya-idul-fitri.html


[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.
[2] Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Darul Fikr, cetakan pertama, 1405, 2/250.
[3] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 24/253.
[4] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, Asy Syamilah, 16/129.
[5] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 16/128.

Fiqih: LAFADH-LAFADH TAKBIR HARI RAYA

Filed under: by: 3Mudilah

Secara umum, pada dasarnya lafadh takbir yang penting mengandung lafadh-lafadh pengagungan bagi Allah seperti : “ALLAHU AKBAR” atau lafadh-lafadh lainnya; hanya saja perlu diketahui bahwa lafadh-lafadh tersebut semestinya tidak menyimpang dari kaidah syar’iyyah.

Berkaitan dengan takbir hari raya (‘id), sebenarnya tidak ada satupun hadits shahih berstatus marfu’ dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bentuk  lafadh takbir untuk hari raya.[1]

Karena tidak ada hadits shahih marfu’ tentang lafadh takbir khusus maka diperlukan atsar/fatwa-fatwa ulama tentang bagaimana lafadh takbir hari raya tersebut yang tentunya tidak menyimpang dari kaidah yang telah diletakkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Adapun versi-versi lafadh takbir hari raya adalah sebagai berikut :

1). Lafadh takbir Umar, Ali, dan Abdullah bin Mas’ud :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , وَاللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah.”

Lafadh di atas dianggap sebagai riwayat dari Rasulullah dari Jalur Jabir yang diriwayatkan oleh ad Daruquthni, namun setelah diteliti para ulama, hadits tersebut sanadnya sangat lemah karena ada perawi bernama Jabir al Ja’fi yang dicela oleh Ibn Qaththan, dan Amr bin Syamr yang disebut sebagai pendusta oleh as Sa’di, dianggap lemah oleh al Fallas, dan disebut sebagai munkarul-hadits oleh al Bukhari dan Abu Hatim.[2]

Apabila lafadh di atas dianggap sebagai hadits maka itu adalah hadits yang sangat lemah, namun bila dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas’ud maka riwayat tersebut memiliki jalur periwayatan shahih mauquf yang di riwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Ibnul Mundzir juga menjelaskan bahwa lafadh tersebut berasal pula dari lafadh takbir Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib.[3] Di samping itu lafadh tersebut dipegang oleh sejumlah ulama di antaranya: an Nakhai, ats Tsauri, Ishaq, Sufyan.[4] Lafadh di atas merupakan lafadh takbir yang dipilih oleh Hanafiyah dan Hanabilah.[5]

2). Lafadh takbir Abdullah bin Mas’ud dalam riwayat lain :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , وَاللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah.”

Lafadh di atas dikatakan sebagai riwayat dari Nabi Muhammad dari Jalur Jabir dengan versi lain yang diriwayatkan oleh ad Daruquthni dan Al Khathib, namun setelah diteliti para ulama, hadits tersebut sanadnya juga sangat lemah karena ada perawi bernama Jabir al Ja’fi yang dicela oleh Ibn Qaththan, dan Amr bin Syamr yang disebut sebagai pendusta oleh as Sa’di, dianggap lemah oleh al Fallas, dan disebut sebagai munkarul-hadits oleh al Bukhari dan Abu Hatim.[6]

Lafadh takbir tersebut dikatakan juga diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dalam versi yang lain.[7]  Lafadh takbir tersebut merupakan pilihan dari Malikiyah dan Syafi’iyah.[8]

3). Menurut Syafi’iyah dan Hanafiyah dalam versi lain :

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَ هَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, aku mengagungkan Allah dengan seagung-agungnya, dan memuji Allah dengan sebanyak-banyaknya di waktu pagi dan petang, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah saja, yang mana Dia sendiri yang telah mememenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan menghancurkan pasukan musuh, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, kita hanya menyembah kepada-Nya saja dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak suka hal demikian ini.”[9]

Menurut Syafi’iyah ditambah dengan :

اَللَّهُمَّ صَلّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْصَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ذُرّيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَسَلّمْ تَسْلِيماً كثيراً”
Artinya : Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada junjungan kami Muhammad,  beserta keluarga , shahabat, pembela-pembela, dan keturunan beliau” .[10]

4). Lafadh di bawah ini juga dipegang oleh Malikiyah, dan Syafi’iyah, di samping itu dipegang pula oleh al Hasan al Bashri:

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”[11]

5). Lafadh takbir Ibn Umar   :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya lah seluruh kerajaan dan pujian, Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu”[12]

6). Lafadh takbir Abdullah bin Abbas riwayat al Baihaqi dengan sanad shahih:

 اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ وَ لِلَّهِ الْحَمْدُ , اَللهُ أَكْبَرُ وَ أَجَلُّ , اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas apa-apa yang yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita”[13]

7). Lafadh takbir Salman riwayat al Baihaqi dengan sanad shahih :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, aku mengagungkan-Nya dengan seagung-agungnya.” [14]

Kesimpulan versi takbir :

Versi lafadh takbir secara khusus untuk syi’ar hari raya tidak didapatkan dari hadits marfu’; maka, agar lafadh takbir yang digunakan tidak menyimpang dari sunnah, perlu kiranya mengambil versi-versi takbir yang memiliki sanad kuat dari para shahabat. Di antara versi-versi yang disampaikan penulis  di atas, versi lafadh yang memiliki sanad yang kuat dari shahabat ialah : versi 1 (pertama), versi 2 (kedua), versi 6 (keenam), dan versi 7 (ketujuh).

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab
Penulis : Abu Hasan Saif, S.Pd.I
https://assiwak.wordpress.com/2013/09/25/fiqih-lafadh-lafadh-takbir-hari-raya/___________________________________________________________
FOOTNOTE:
  1. Abu Malik Kamal, shahih fiqh as Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah I/603, Maktabah Taufiqiyah
  2. Muhammad Nashiruddin al Albani, Irwa’ al Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar as Sabil , Juz III , cet. 2, Beirut: al Maktab al Islami, th. 1985, hal. 124.
  3. Ibn al Mundzir, al Iqna’ , tahqiq Abdullah al Jibrin, juz I  cet. 1 th. 1408 H, hal. 110,  juga kitabnya al Ausath fi as Sunan wa al Ijma’ wa al Ikhtilaf, Juz IV (Cet. 1, Riyadh: Dar ath Thayyibah, th.  1985), hal. 303.
  4. Ibn al Mundzir, al Ausath fi as Sunan wa al Ijma’ wa al Ikhtilaf, Juz IV , cet. 1, Riyadh: Dar ath Thayyibah, th.  1985, hal. 304.
  5. Abd ar Rahman al Jaziri, Fiqh ‘ala Madzahib al Arba’ah,juz I, cet. 2, Beirut : Dārul Kutub al Ilmiyyah, 2003,  hal. 323.
  6. Muhammad Nashiruddin al Albani, Loc.Cit.
  7. Ibid., hal. 125.
  8. Kementerian Agama dan Wakaf Kuwait, al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah,  Juz  XXVII, cet. 1, Mesir : Dārush Shafwah, hal. 249.
  9. Abd ar Rahman al Jaziri, Op.Cit, hal. 324.
  10. Kementerian Agama dan Wakaf Kuwait, Op.Cit., hal. 270.
  11. Ibn al Mundzir, Loc.Cit.
  12. Ibid., hal 305.
  13. Abu Malik Kamal, op.cit., hal. 603-604.
  14. Ibid.

Fatawa Ramadhan: Amalan Apa Yang Harus Dilakukan di Malam Lailatul Qadar

Filed under: by: 3Mudilah

Bulan puasa 1436 Hijriyah telah memasuki fase-fase final dimana umat Muslim diseluruh dunia menggelar I’tikaf untuk dapat meraih malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, di 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan.

Akan tetapi tahukah kita apa saja sunnah yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad untuk menghidupkan malam-malam di 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan?

Berikut Darul Ifta Mesir mengulas sejumlah amalan yang dilakukan Rasulullah Sallallahu alaihi Wasallam di bulan ini.

Pertama: Di 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan para sahabat menyaksikan bahwa Rasulullah lebih rajin dan giat beribadah seperti shalat, membaca Al Qur’an, dan berdoa, jika dibandingkan dengan malam-malam lain di luar bulan Ramadhan.

Seperti diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radiyallahu Anha;

 عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم: كان إذا دخل العشر الأواخر أحيا الليل وأيقظ أهله وشد المئزر

Dari Aisyah berkata: “Adalah Rasulullah saw jika masuk sepuluh malam terakhir Ramadlan beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya.” (H.R. Muslim)

Selain itu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah mengatakan bahwa rasul menyerukan umatnya untuk mendirikan shalat malam di 10 hari terkahir bulan suci Ramadhan agar mendapatkan ampunan Allah Subhanahu Wata’ala.

Ini berdasarkan hadits;

  فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: من قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا غفر له ما تقدم من ذنبه رواه الجماعة إلا ابن ماجه
“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760).

Lalu apakah sebaik-baiknya perkataan di malam Lailatul Qadar?

Dari Ummul Mu’minin Aisyah Radiyallahu Anhu mengatakan;

 فروى الترمذي وصححه عن عائشة رضي الله عنها قالت: (قلت: يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها؟) قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706. (Almasryalyoum/Ram)

http://www.eramuslim.com/ramadhan/fatawa-ramadhan-amalan-apa-yang-harus-dilakukan-di-malam-lailatul-qadar.htm#.VaLsNUaYSGw

HAL-HAL YANG MENAKUTKAN DI ALAM KUBUR

Filed under: by: 3Mudilah



Apabila kita mengamati nash-nash yang shahîh dari al-Qur‘ân dan Sunnah serta ditopang oleh pemahaman dan pandangan para Ulama dalam memahami nash-nash tersebut, maka diketahui bahwa manusia akan melewati empat alam kehidupan, yaitu: alam rahim, alam dunia, alam barzakh (kubur), alam akhirat. Semua proses kehidupan setiap alam tersebut memiliki kekhususan masing-masing, tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya. Misalnya alam rahim, mungkin saja bisa diketahui sebagian proses kehidupan di sana melalui peralatan kedokteran yang canggih, tapi di balik itu semua, masih banyak keajaiban yang tidak terungkap dengan jalan bagaimana pun. Semua itu merupakan rahasia yang sengaja Allah Azza wa Jalla tutup dari ilmu dan pandangan umat manusia. Allah Azza wa Jalla telah menerangkan dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja. [al-Isrâ‘/17:85]

Apalagi bila kita hendak berbicara tentang kehidupan alam kubur dan alam akhirat, tiada pintu yang bisa kita buka kecuali pintu keimanan terhadap yang ghaib, melalui teropong nash-nash al-Qur‘ân dan Sunnah. Beriman dengan hal yang ghaib adalah barometer pembeda antara seorang Mukmin dengan seorang kafir, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Azza wa Jalla :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ 

Kitab (al-Qur‘ân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib”. [al-Baqarah/2:2-3]

Banyak nash dari al-Qur‘ân dan Sunnah yang mengukuhkan persoalan ini, yang tidak mungkin diuraikan dalam tulisan yang singkat ini.

KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan melewati alam kubur. Alam ini disebut pula alam barzakh yang artinya perantara antara alam dunia dengan alam akhirat, sebagaimana firman Allah k yang artinya, “Apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekalikali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan. [al-Mukminûn/23:100]

Para ahli tafsir dari Ulama Salaf sepakat mengatakan, “Barzakh adalah perantara antara dunia dan akhirat, atau perantara antara masa setelah mati dan hari kebangkitan. [1].

Alam Barzakh dinamakan dengan alam kubur adalah karena keadaan yang umum terjadi. Karena pada umumnya jika manusia meninggal dunia, dia dikubur dalam tanah. Namun, bukan berarti orang yang tidak dikubur terlepas dari peristiwa-peristiwa alam barzakh. Seperti orang yang dimakan binatang buas, tenggelam di lautan, dibakar ataupun terbakar. Sebab Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seperti yang diceritakan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُر َيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّه صَلى اللَّهِ عَلَيْهِ وَ سَلَمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَل خَيْرًاقَطُّ فَإِذَا مَاتَ فَحَرِّقُوْهُ وَاذْرُوْانِصفَهُ فِي البَرِّ وَنِصفَهُ فِي الْبَحْرِ فَوَ اللَِّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِ بَنَّهُ عَذَابًا لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنْ العَالَمِيْنَ فَأَمَرَ اللّهُ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَافِيْهِ وَأَمَرَ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيْهِ ثُمَّ قَالَ لِمَ فَعَلْتَ قَالَ مِنْ خَشْيَتِكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ فَغَفَرَلَهُِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang tidak pernah beramal baik sedikit pun berkata kepada keluarganya: apabila ia meninggal maka bakarlah dia, lalu tumbuk tulangnya sehalus-halusnya. Kemudian sebarkan saat angin kencang bertiup, sebagian di daratan dan sebagian lagi di lautan. Lalu ia berkata, ‘Demi Allah, jika Allah mampu untuk menghidupkannya, tentu Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak diazab dengannya seorang pun dari penduduk alam. Maka Allah memerintahkan lautan dan daratan untuk mengumpulkan abunya yang terdapat didalamnya. Maka tiba-tiba ia berdiri tegak. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut? Ia menjawab, “karena takut kepada-Mu dan Engkau lebih mengetahui (isi hatiku)”. Kemudian Allah mengampuninya. [2]

Dari kisah di atas dapat kita lihat bagaimana seseorang tersebut berusaha untuk lari dari azab Allah Azza wa Jalla dengan cara yang menurut akal pikirannya dapat membuatnya lolos dan lepas dari azab Allah Azza wa Jalla. Tetapi hal tersebut tidak dapat melemahkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla . Bila seandainya ada seseorang mau melakukan tipuan terhadap Allah Azza wa Jalla agar ia terlepas dari azab kubur, sesungguhnya kekuasaan Allah Azza wa Jalla jauh lebih kuat daripada tipuannya. Pada hakikatnya yang ditipu adalah dirinya sendiri. 

Di alam kubur manusia akan mengalami kehidupan barzakh sampai terompet sangkakala ditiup oleh malaikat Israfil. Di sana, ada yang bersukacita dan ada pula yang berdukacita, ada yang bahagia dan ada pula yang menderita. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Barâ’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila akan menjumpai kehidupan akhirat dan berpisah dengan kehidupan dunia, para malaikat turun mendatanginya, wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan minyak harum dari surga. Para malaikat tersebut duduk dengan jarak sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut mendatanginya dan duduk dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.” Maka keluarlah ruh itu bagaikan air yang mengalir dari mulut wadah air minum. Maka malaikat maut mengambil ruhnya. Bila ruh itu telah diambil, para malaikat (yang membawa kafan dan minyak harum) tidak membiarkan berada di tangannya walaupun sekejap mata hingga mengambilnya. Lalu mereka bungkus ruh itu dengan kafan dan minyak harum tersebut. Maka keluarlah darinya aroma, bagaikan aroma minyak kasturi yang paling harum di muka bumi. Mereka membawa ruh itu naik menuju (ke langit). Mereka melewati para malaikat yang bertanya, “Siapa bau harum yang wangi ini?” Maka mereka menyebutnya dengan panggilan yang paling baik di dunia. Sampai naik ke langit, lalu mereka meminta dibukakan pintu langit, maka lalu dibukalah untuknya. Malaikat penghuni setiap langit mengiringinya sampai pada langit berikutnya. Dan mereka berakhir pada langit ketujuh. Allah berkata, ‘Tulislah kitab hamba-Ku pada ‘Illiyyin (tempat yang tinggi) dan kembalikan ia ke bumi, sesungguhnya Aku menciptakan mereka dari bumi, kemudian di sanalah mereka dikembalikan dan akan dibangkitkan kelak. Selanjutnya, ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datanglah kepadanya dua malaikat,keduanya menyuruhnya untuk duduk. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ Ia menjawab, “Rabbku adalah Allah”. ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab,agamaku Islam’. ‘Siapa orang yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Ia adalah Rasulullâh. ‘Apa ilmumu?’ Ia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah dan beriman dengannya’. Lalu diserukan dari langit, ‘Sungguh benar hambaku’. Maka bentangkanlah untuknya tikar dari surga-Ku. Dan bukakan baginya pintu surga. Maka datanglah kepadanya wangi surga dan dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Selanjutnya, datang kepadanya orang yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum mewangi. Ia (orang berwajah tampan) berkata, “Bergembiralah dengan semua yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu.” Maka ia (mayat) pun bertanya, “Siapa anda, wajahmu yang membawa kebaikan?” Maka ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shaleh”. Ia bertanya lagi, “Ya Allah, segerakanlah Kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.” 

Dan bila seorang kafir, ia berpindah dari dunia dan menuju ke alam akhirat. Dan para malaikat turun dari langit menuju kepadanya dengan wajah yang hitam. Mereka membawa kain rami yang kasar, mereka duduk dengan jarak dari mayat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut duduk di dekat kepalanya. Ia berkata, “Wahai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan Allah.” Selanjutnya, ruhnya pun menyebar ke seluruh tubuhnya dan malaikat maut mencabut ruhnya dengan kuat seperti mencaput sisir besi dari ijuk yang basah. Bila ruh itu telah diambil, para malaikat itu tidak membiarkannya sekejap mata di tangan malaikat maut, sampai para malaikat meletakkannya pada kain rami yang kasar tersebut. Kemudian ia mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Selanjutnya para malaikat membawa naik ruh tersebut. Tiada malaikat yang mereka lewati kecuali mereka mengatakan, ‘Bau apa yang sangat keji ini?’ ia dipanggil dengan namanya yang paling jelek waktu di dunia. ketika arwahnya sampai pada langit dunia dan malaikat meminta pintunya dibuka, akan tetapi tidak diizinkan. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Tidak dibukakan untuk mereka pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta masuk ke dalam lubang jarum”. [al-A‘râf/7:40]

Setelah itu, Allah Azza wa Jalla berkata, “Tulislah catatan amalnya di Sijjîn pada lapisan bumi yang paling bawah”.Dan ruhnya dilemparkan jauh-jauh. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: 

وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka seolah-olah ia telah terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh [al-Hajj/22:31]

Setelah itu ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dan datang kepadanya dua orang malaikat yang menyuruhnya duduk. Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapa Rabbmu? ia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu’. Mereka bertanya lagi, “Siapakah orang yang diutus kepadamu ini?” Ia menjawab, “Ha ha, aku tidak tahu.” Maka seseorang menyeru dari langit, “Sungguh ia telah berdusta.” Bentangkan tikar untuknya dari api neraka dan bukakan salah satu pinti neraka untuknya. Maka datanglah kepadanya angin panas neraka. Lalu kuburnya disempitkan sehingga tulang-tulang rusuknya saling berdempet. Kemudian datang kepadanya seorang yang berwajah jelek, berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata,“Berbahagialah dengan apa yang menyakitimu, inilah hari yang dijanjikan padamu.” Lalu ia (mayat) bertanya, “Siapa engkau yang berwajah jelek?” Ia menjawab, “Aku adalah amalanmu yang keji.” Lalu mayat itu mengatakan, “Rabb ku janganlah engkau datangkan Kiamat.” [3]

Jika seorang Muslim mau merenung sejenak bagaimana keadaan dan kondisi kehidupannya nanti di alam kubur, niscaya ia akan menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. Bayangkan, bagaimana keadaan kita ketika berada dalam sebuah lubang yang sempit lagi gelap, serta tidak ada cahaya sedikit pun. Betapa mencekam suasana gelap itu dan menimbulkan rasa takut yang dalam, napas terasa sesak, semakin lama semakin sulit untuk bernapas, rasa haus, lapar, panas, mau berteriak tidak seorang pun yang mendengar.

Akan tetapi alam kubur jauh berbeda dari semua itu. Tidak hanya sebatas apa yang tergambar ketika kita berada dalam sebuah lubang sempit dan gelap. Suasana di sana akan ditentukan oleh amalan kita sewaktu di dunia. Orang yang beramal shaleh waktu di dunia, ia akan lulus dalam menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari surga, ditemani oleh orang berbau wangi dan berwajah tampan. Kemudian senantiasa mencium bau harum hembusan angin surga.

Adapun orang yang ketika hidup di dunia bergelimang dosa dan maksiat, apalagi melakukan perbuatan syirik. Ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari api neraka, di temani oleh orang berbau busuk dan berwajah buruk. Kemudian ia senantiasa mencium bau busuk hembusan panas api neraka. Bahkan setiap manusia akan diperlihatkan tempat tinggalnya saat di alam kubur pada waktu pagi dan sore. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهِلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهلِ الجَنَّةَ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْل النَّار يُقَالُ هََِذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَشَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apabila seseorang telah mati, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan tempatnya di surga. Dan jika ia dari penghuni neraka maka diperlihatkan tempatnya di neraka. Kemudian dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu yang akan engkau tempati pada hari Kiamat”. [HR Muslim no. 5110, Ahmad no. 5656, Mâlik no. 502]

Di antara hikmah diperlihatkannya tempat seseorang di akherat kelak ketika berada di alam kubur adalah agar semakin menimbulkan rasa syukur dalam diri orang yang beramal shaleh. Ini adalah salah satu bentuk nikmat yang dirasakannya dalam alam kubur. Adapun bagi orang berbuat dosa, maka itu akan semakin menambah rasa kekecewaan dan penyesalan dalam dirinya. Ini adalah salah satu bentuk azab yang dialaminya dalam alam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

لاَ يَدْ خُلُ أَحَدٌ الْجَنَّةَ إِلاَّ أُرِيَ مٌَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْ دَادَ شُكرْرًا وَلاَ يَدْ خُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ لَوْ أحْسَنَ لِيَكُوْن عَلَيْهِ حَسْرَةً

Tidak seorang pun masuk ke dalam surga kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka,seandainya ia berbuat jelek, agar bertambah rasa syukurnya. Dan tidaklah seorang pun masuk ke dalam neraka kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, seandainya ia berbuat baik, agar semakin bertambah atasnya rasa penyesalannya”. [HR al-Bukhâri no. 6084 dan Ahmad]

Dalam riwayat lain disebutkan: “Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, dan para pelayatnya pergi meninggalkannya, sesungguhnya ia mendengar derap terompah mereka. Kemudian datanglah kepadanya dua orang malaikat dan menyuruhnya duduk. Mereka bertanya kepadanya, ‘Apa perkataanmu tentang orang ini?’ Adapun orang Mukmin, maka ia akan menjawab, Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di neraka. Sungguh, Allah telah menukarnya dengan surga, maka ia melihat keduanya. berkata Qatâdah, ‘Disebutkan kepada kami bahwa kuburnya di luaskan tujuh puluh hasta, yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau sampai hari mereka dibangkitkan.” [HR al-Bukhâri no. 1285, Muslim no. 5115, Ahmad no. 11823]

KESIMPULAN:
1. Azab kubur bersifat umum bagi seluruh manusia,tidak khusus bagi umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
2. Di antara azab atau nikmat kubur ada yang berhubungan dengan ruh dan jasad secara bersamaan dan ada pula yang khusus berhubungan dengan ruh saja.
3. Semua ruh orang yang telah meninggal dunia berada di alam Barzakh, sekalipun ia dimakan binatang buas ataupun dibakar.
4. Seseorang tidak akan masuk surga atau neraka kecuali setelah terjadinya hari Kiamat dan dibangkitnya seluruh manusia dari kuburnya.

PELAJARAN DI BALIK KEIMANAN KEPADA AZAB KUBUR
1. Menanamkan dalam diri seseorang sikap mawas diri dalam meninggalkan perintah-perintah agama.
2. Memiliki kemauan yang tinggi dalam melakukan amal shaleh, agar mendapat keberuntungan di alam kubur.
3. Menimbulkan rasa takut dalam diri seseorang untuk melakukan maksiat, agar terhindar dari azab kubur.
Wallâhu a‘lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Lihat tafsir at-Thabari 18/53.
[2]. Kisah ini terdapat dalam Shahîh al-Bukhâri no.7067 dan Shahîh Muslim: no. 7157
[3]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Jâmi’ ash Shaghîr no 1676.